BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
B. Kepribadian
2. Jenis-jenis prestasi belajar
Mengetahui jenis-jenis prestasi belajar harus diketahui perubahan- perubahan apa yang diperoleh oleh siswa sendiri, ada beberapa perubahan antara lain dari segi pengetahuan, sikap dan ketrampilan pada segi
kognitif, afektif dan psikomotor. Prestasi belajar pada dasamya meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Prestasi belajar aspek kognitif
Aspek kognitif merupakan aspek yang berkaitan dengan pengetahuan anak didik dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik. Kemampuan-kemampuan kognitif merupakan faktor-faktor yang penting dalam kegiatan belajar para
35 Roestiyah N.K., D ikdaktik M etodik, Jakarta, Bina Aksara, 1989, him. 8.
" Oedin Syarifudin Winataputra, Rustana Ardiwinata, P erencanaan Pengajaran, Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, 1998, him. 2.
siswa dan mahasiswa.37 38 Aspek kognitif ini berupa pengetahuan dan pemahaman terhadap materi pelajaran dalam proses belajar-mengajar.
Hasil belajar aspek kognitif, sebagai hasil perubahan pada anak yang semula tidak tahu menjadi bisa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan.
b. Prestasi belajar aspek afektif
Sasaran pokok aspek afektif adalah perubahan batiniah atau rohaniah anak didik yang menyangkut pada bidang nilai sikap dan keyakinan terhadap pengetahuan yang telah mereka terima dari pendidik.
Afektif meliputi aspek kejiwaan/Psikologis dan mencakup berbagai jenis ragam kehidupan/kawasan dan melekat pada perorangan rnaupun
kolektif serta dalam sifat nilai riil-intrinsik, dan lain-lain.j8
Diharapkan setelah siswa mengikuti pelajaran dan memahaminya yang diajarkan adalah menentukan sikap dan perubahan sehari-hari di lingkungan tempat siswa berada.
c. Prestasi belajar aspek psikomotor
Aspek psikomotor berupa hasil belajar yang bisa di lihat secara langsung dalam kehidupan anak didik, sebab hasil belajar pada aspek psikomotor berupa ketrampilan (skill) yang nyata diperlihatkan anak didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
37 Moehi Nasution, Psikologi Pendidikan, Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama <slam dan Universitas Terbuka, 1994, him. 10.
38 A. Koesasih Jahiri dkk, Seri M etodologi dan PBM, Bandung Jurusan IPS FKIS IKIP, 1982, him. 19.
27
Pada aspek psikomotorik ini, Nana Sudjana memberikan pendapat
bahwa hasil belajar pada bidang psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan atau skill yaitu kemampuan dalam dalam bertindak dan bersikap individu.39 Diperoleh pemahaman bahwa hasil belajar atau prestasi belajar yang diharapkan dari aspek psikomotor ini adalah hasil belajar yang dapat di lihat dan dinyatakan secara langsung dan jelas oleh anak didik dalam kehidupan setelah mereka mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar aspek psikomotorik pada akhimya anak didik dapat melakukan apa yang telah terima dan mereka pelajari dari seorang pendidik yang selanjutnya mandiri sebagai suatu ketrampilan yang merupakan kreativitas.
Tolak ukur keberhasilan atau prestasi belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dikaterogikan sebagai berikut:
1) Prestasi baik 2) Prestasi sedang 3) Prestasi cukup 4) Prestasi kurang baik
Tolak ukur prestasi ini penulis berpedoman pada kriteria dari angka- angka yang sudah biasa diterapkan dikalangan guru-guru yang dikemukakan oleh Sukardi dkk., sebagai berikut:
1) . Angka 10 = istimewa 2) . Angka 9 = baik sekali
39 Nana Sudjana, D a sar-dasar P roses B elajar M engajar, Rusda Karya, Bandung, 1989, him. 54.
3) . Angka 8 = baik
4) . Angka 7 = lebih dari cukup
5) . Angka 6 = cukup
6) . Angka 5 = kurang satu angka 7) . Angka 4 = kurang dua angka, dst40
Dari kriteria tersebut, dapat dijadikan pedoman untuk memberikan penilaian kualitatif terhadap hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Lebih lanjut penulis dapat memberikan penilaian- penilaian terhadap penyajian program bahan pelajaran oleh seorang guru dan keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Adapun tujuan tes adalah:
a. Menentukan telah tercapai/tidaknya ketuntasan belajar baik perorangan maupun klasikal.
b. Menentukan program perbaikan dan pengayaan. c. Menentukan nilai kemajuan belajar siswa. Dengan keterangan sebagai berikut:
a. Daya serap perorangan
Seorang siswa dapat disebut telah tuntas belajar bila ia telah mencapai skor 65% atau nilai 6,5.
b. Daya serap klasikal
c. Suatu kelas disebut telah tuntas belajar bila di kelas tersebut telah terdapat skor 85% siswa telah mencapai daya serap >65%.41
29
Dari penafsiran di atas dapat di buat pedoman untuk mengukur
keberhasilan pengajaran dan hasil atau prestasi belajar dalam rangka proses belajar mengajar.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
Pada prinsipnya belajar merupakan suatu aktifitas yang berlangsung melalui proses yang tidak lepas dari pengaruh, demikian halnya dengan prestasi belajar yang merupakan hasil proses atau aktifitas belajar juga tidak lepas dari pengaruh dari dalam diri anak itu sendiri. Dalam hal ini Sumadi Suryabrata mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain sebagai berikut:
a. Faktor yang berasal dari luar diri anak, yang dibedakan menjadi: 1) . Faktor non sosial
2) . Faktor sosial
b. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak, antara lain: 1) . Faktor fisiologis
2) . Faktor psikologis.41 42
a. Faktor yang berasal dari luar diri anak 1). Faktor non sosial
Faktor non sosial di sini meliputi faktor-faktor sebagai berikut:
41 Departemen Agama RI, Petunjuk Pelaksanaan P roses B elajar M engajar, Jakarta, Direktorat Jenderaj Pembinaan Kelembagaan Islam, 2000, him 31*.
42 Sumadi Suryabrata, P sikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1989, him 249.
a. Faktor lingkungan alami
Faktor ini adalah seperti suhu udara, belajar pada kondisi udara yang segar akan berbeda hasilnya dengan belajar pada kondisi yang tidak segar, Misalnya udar panas atau terlalu dingin.
b. Faktor instrumental
Yaitu faktor yang adanya dan penggunaannya sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor ini berupa gedung, alat perlengkapan belajar dan sebagainya.
c. Faktor sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial adalah faktor manusiawi, yakni adanya interaksi antar sesama manusia yaitu lingkungan di tempat anak itu berada. Lingkungan pendidikan terdiri dari: a) , lingkungan keluarga
b) . lingkungan sekolah
c) . lingkungan masyarakat43 a). Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang dikenal dan digeluti oleh anak didik sehingga pada lingkungan ini banyak imitasi dan identifikasinya yang diperoleh oleh anak, baik yang berupa bimbingan maupun pendidikan secara informal yang diberikan kepada anak-anak dalam kaitannya dengan pendidikan yang kaitannya dengan pendidikan di sekolah,
43
31
sehingga keluarga sebagai lingkungan yang juga banyak ikut
menentukan berhasil ataupun tidaknya pendidikan pada anak. Arifin menjelaskan ...bahwa hubungan antar sekolah dan rumah merupakan faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya pendidikan anak. 44Keluarga dalam proses pertumbuhan usaha dan perkembangan terhadap pendidikan anak mempunyai pengaruh cukup besar dan bahkan lingkungan keluarga ikut menentukan keberhasilan pendidikan anak. Mengingat besamya tugas dan tanggung jawab keluarga terhadap masa depan pendidikan anak sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6:
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, pelihara dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka 45
b). Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah lingkungan belajar secara sistematis dan terpimpin, terarah serta terkontrol sehingga boleh dikatakan bahwa di sekolah inilah tempat belajar yang sangat efektif. Untuk memikul tugas dan tanggung jawab tersebut sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan dalam pendidikan anak.
44 Arifm, Hubungan Timbal Balik Pendidikan A gam a d i Lingkungan Sekolah dan Keluarga, Jakarta, Bulan Bintang, 1976, him. 113.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menerima fungsi pendidikan berdasarkan asas-asas tanggung jawab meliputi:
1. Tanggung jawab formal Kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan menurut ketentuan yang berlaku (Undang-Undang Pendidikan)
2. Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan, dan Tingkat pendidikan yang dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan Negara.
3. Tanggung jawab fungsional ialah tanggung jawab professional pengelola dan pelaksana pendidikan yang menerima ketetapan Berdasarkan ketentuan-ketentuan jabatannya.46
Jelaslah bahwa tugas sekolah dalam proses pendidikan anak sangat menentukan terhadap pembentukan pribadi anak terutama dalam aktifitas belajar anak.
Lingkungan amat efektif dalam pendidikan anak untuk mencapai kesuksesan maka lebih lanjut Syeh Ibrahim bin Ismail mengatakan syarat-syarat mencapai keberhasilan dalam belajar mengatakan sebagai berikut:
46 Tim Dosen FIP IKIP Malang, Pengantar D a sa r-D a sa r Kependidikan, Surabaya, Usaha
33
u j j j r j o a v v i
jU i j I j #
A i l j j l iK .^ l j
e l S i
^
jU
j j«uUjll U jtj iE J
Artinya: Ingatlah sesungguhnya kami tidak akan dapat menghasilkan suatu ilmu kecuali dengan enam syarat: sungguh-sungguh, cerdas, sabar, ada bekal, petunjuk guru dan lama masa belajar.
Besamya sekolah dalam mempengaruhi dan membentuk pribadi anak didik maka sudah barang tentu harus ada hubungan yang harmonis antara sekolah dan keluarga, dan antara guru dengan orang tua sisv.a sebab hal inilah yang membawa dan menentukan kecenderungan anak untuk belajar lebih baik, sehingga mereka merasa diperhatikan dan dibimbing di lingkungan sekolah dan keluarga.
c). Lingkungan Masyarakat
Yang dimaksud dengan lingkungan masyarakat adalah lingkungan tempat anak didik berada di luar sekolah dan keluarga, yaitu tempat dia berada dan bergaul dengan masyarakat luas.
Keterkaitan masyarakat dengan pendidikan anak sangat erat sekali, sehingga di lingkungan masyarakat anak didik harus 47
47 Syeh Ibrahim bin Ismail, Petunjuk M enjadi Cendikiaw an Muslim, Semarang, Karya Thoha Putra, 2000, him. 25.
lebih mendapatkan perhatian yang cukup serius. Di lingkungan
ini anak akan lebih mengenal berbagai corak dan ragam pengalaman berikut pengetahuan yang mereka peroleh dari masyarakat.
b. Faktor yang berasal dari dalam diri anak.
1. Faktor fisiologis
Faktor ini umumnya memiliki pengaruh terhadap aktifitas seseorang, Misalnya kondisi jasmani yang segar akan berbeda dengan kondisi jasmani yang tidak segar pada saat belajar. Disamping itu, kondisi secara umum, maka kondisi fisiologis tertentu yang tidak kalah pentingnya yaitu kondisi panca indera.
2. Faktor Psikologis
Faktor ini juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil belajar. Adapun proses psikologis pada dasamya dibedakan menjadi dua:
a). Faktor psikologis yang mendorong aktifitas dalam belajar.
Faktor ini menurut Drs. Sumadi Suryabrata adalah sebagai berikut:
1) Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
35
2) Adanya sifat yang kreatif dan keinginan untuk
mendapatkan simpatik orang tua, guru, dan teman. 3) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan
yang lalu dengan usaha baru.
4) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila sudah menguasahi pelajaran.48
Berpijak pada pendapat di atas maka faktor psikologis yang positif ini akan banyak mempengaruhi terhadap keberhasilan belajar pada anak.
b). Faktor Psikologis yang menghambat belajar anak.
Adapun faktor yang menghambat belajar anak antara lain :
1) Tuj uan belajar yang tidak jelas
Tujuan belajar tidak jelas akan mengakibatkan siswa malas dan tidak memiliki minat yang kuat dalam belajar yang lebih baik dan memperoleh hasil baik pula.
2) Kurangnya minat siswa terhadap pelajaran.
Hal ini timbul sikap siswa yang kurang baik yang menyebabkan siswa tidak minat belajar dalam suatu materi pelajaran atau yang lainnya.
48
M. Athiyah al-Brasyi mengungkapkan : Murid lari
meninggalkan pelajaran dikarenakan tidak senang terhadap guru yang mengajamya, dan sebaliknya senang pada gurunya yang mengajar tersebut. 49 Bermula dari pendapat tersebut maka dapat dipahami bahwa supaya siswa mempunyai minat terhadap mata pelajaran, sudah barang tentu seorang guru harus pandai menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
49 Ny. Martensi K.DJ. Mungkin Eddy Wibowo, Identifikasi K esulilan Belajar, IKIP Semarang, 1980, him. 20.