• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKAWINAN DAN PERCERAIAN DALAM HUKUM

B. Perceraian

4. Jenis-jenis Putusan Hakim dalam Hukum Acara Perdata

32

Put\usnya perkawinan karena keputusan Pengadilan ini disebut juga dengan istilah cerai gugat.25

4. Jenis-Jenis Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Perdata26 a. Putusan Declaratoir (Pernyataan)

Ialah putusan yang hanya menegaskan atau menyatakan suatu keadaan hukum semata-mata. Misalnya putusan tentang ahli waris yang sah, keabsahan anak angkat menurut hukum.

b. Putusan Constitutief (Pengaturan)

Ialah putusan yang dapat meniadakan suatu keadaan hukum atau menimbulkan suatu keadaan hukum yang baru. Misalnya putusan tentang perceraian.

c. Putusan Condemnatoir (Menghukum)

Ialah putusan yang bersifat menghukum pihak yang dikalahkan dalam persidangan untuk memenuhi prestasi.

d. Putusan Preparatoir

Ialah putusan sela yang dipergunakan untuk mempersiapkan putusan akhir.

e. Putusan Interlocutoir

Ialah putusan sela yang berisi tentang perintah untuk mengadakan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap bukti-bukti yang

25

Ibid., 26

33

ada pada para pihak yang sedang berperkara dan para saksi yang dipergunakan untuk menentukan putusan akhir.

f. Putusan Insidentil

Ialah putusan sela yang berhubungan dengan insident atau yang dapat menghentikan proses peradilan biasa untuk sementara. g. Putusan Provisionil

Ialah putusan sela yang dijatuhkan sebelum putusan akhir sehubungan dengan pokok perkara, agar untuk sementara sambil menunggu putusan akhir dilaksanakan terlebih dahulu dengan alasan sangat mendesak demi kepentingan salah satu pihak.

h. Putusan Contradictoir

Ialah putusan yang menyatakan bahwa tergugat atau para tergugat pernah hadir dalam persidangan, tetapi dalam persidangan selanjutnya tergugat atau salah satu tergugat tidak pernah hadir walaupun telah dipanggil dengan patut.

i. Putusan Verstek atau In Absensia 1) Pengertian

Ialah putusan tidak hadirnya tergugat dalam suatu perkara setelah dipanggil oleh pengadilan dengan patut tidak pernah hadir dalam persidangan dan tidak menyuruh wakilnya atau kuasa

34

hukumnya untuk menghadiri dalam persidangan.27 Hal ini tercantum dalam ketentuan Pasal 124 HIR (Pasal 77 Rv) dan Pasal 125 ayat (1) HIR (Pasal 73 Rv).

2) Tujuan Verstek

Ialah untuk mendorong para pihak menaati tata tertib beracara, sehingga proses pemeriksaan penyelesaian perkara terhindar dari anarki atau kesewenangan.

3) Syarat Acara Verstek

Penerapan acara verstek kepada tergugat merujuk kepada ketentuan Pasal 125 ayat (1) HIR atau Pasal 78 Rv, dapat dikemukakan syarat-syarat sebagai berikut:

a) Tergugat telah dipanggil dengan sah dan patut. b) Tidak hadir tanpa alasan yang sah

Apabila tergugat atau wakilnya tidak hadir memenuhi panggilan pemeriksaan di sidang pengadilan yang ditentukan, padahal telah dipanggil dengan patut, kepada tergugat dapat dikenakan hukuman berupa penjatuhan putusan verstek. c) Tergugat tidak mengajukan Eksepsi Kompetensi

Berdasarkan Pasal 125 ayat (2) jo. Pasal 121 HIR, hukum acara memberi hak kepada tergugat mengajukan

27

35

eksepsi kompetensi, baik absolut berdasarkan Pasal 134 HIR atau relatif berdasarkan Pasal 133 HIR. Apabila tergugat tidak mengajukan eksepsi, kemudian tergugat tidak menghadiri panggilan sidang berdasarkan alasan yang sah, hakim dapat langsung menyelesaikan perkara berdasarkan acara verstek.28 d) Penerapan Acara Verstek Tidak Imperatif

Undang-undang mendudukkan kehadiran tergugat di sidang sebagai hak, bukan kewajiban yang bersifat imperatif. Hukum menyerahkan sepenuhnya apakah tergugat mempergunakan hak itu untuk membela kepentingannya.29 Undang-undang tidak memaksakan penerapan acara verstek secara imperatif. Hakim tidak mesti menjatuhkan putusan verstek terhadap tergugat yang tidak hadir memnuhi panggilan. Penerapannya bersifat fakultatif, dengan artian hakim bebas menerapkan ataupun tidak tentang ketentuan tersebut.

Sifat penerapan yang fakultatif tersebut diatur dalam Pasal 126 HIR sebagai berikut: pertama, ketidakhadiran Tergugat pada sidang pertama, langsung memberi wewenang

28

Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Garafika,2012), 383-388. 29

36

kepada hakim menjatuhkan putusan verstek. Kedua, mengundurkan sidang dan memanggil Tergugat sekali lagi dengan ketentuan pemanggilan minimal dua kali dan maksimal tiga kali.30

g. Putusan Akhir 5. Alasan Perceraian

Perceraian di mata hukum tidak dapat terjadi begitu saja. Artinya harus ada alasan yang dibenarkan oleh hukum untuk melakukan suatu perceraian. Dalam Pasla 39 ayat (2) UU No. 1 tahun 1974 yang telah dijabarkan dalam Pasal 19 PP No. 9 tahun 1975, yaitu:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;

30

37

e. Salah satu pihak mendapatkan cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri; f. Antara suami istri terus-menerus terjadi perselisihan dan

pertengkarang dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.31

Adapun alasan perceraian dalam Burgerlijk Wetboek (BW) dijelaslan dalam Pasal 209, yaitu: (1) Zinah; (2) meninggalkan tempat kediaman bersama secara itikad buruk; (3) dijatuhi pidana penjara 5 tahun atau lebih, sesudah perkawinan; (4) pelukaan atau penganiayaan berat oleh yang satu terhadap yang lain, atau sebaliknya, yang bisa membahayakan jiwa atau mengakibatkan luka-luka yang berbahaya.

Dalam Kompilasi Hukum Islam, Perceraian dapat terjadi karena alasan:32

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemaddat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

31

Muhammad Syaifuddin, Hukum..., 181. 32

38

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sbagai suami atau istri.

f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

g. Suami melanggar taklik talak.

h. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

BAB III

GAMBARAN UMUM TENTANG KASUS PERKARA CERAI GUGAT KARENA ISTRI TIDAK MAU TINGGAL BERSAMA SUAMI DI RUMAH ORANG TUA

SUAMI

(Putusan Nomor 1001/Pdt.G/2015/PA.Pmk) A. Deskripsi Pengadilan Agama Pamekasan

1. Tupoksi Pengadilan Agama

Pengadilan agama merupakan Pengadilan Tingaka Pertama yang bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama di bidang perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah serta waqaf, zakat, infaq dan shadaqah serta ekonomi syariah sebagaimana di atur dalam Pasal 49 UU Nomor 50 Tahun 2009.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, pengadilan Agama mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Memberikan pelayanan Tekhnis Yustisial dan Administrasi Kepaniteraan bagi perkara Tingkat Pertama serta Penyitaan dan Eksekusi.

b. Memberikan pelayanan dibidang Administrasi Perkara banding, kasasi, dan peninjauan kembali serta Administrasi Peradilan lainnya.

c. Memberikan pelayanan administrasi umum pada semua unsur di Lingkungan Pengadilan Agama

d. Memberikan keterangan, pertimbangan dan nasihat tentang Hukum Islam pada instansi pemerintah di daerah Hukum nya apabila diminta.

40

e. Memberikan pelayanan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar sengketa antar orang-orang yang beragama Islam. f. Waarmerking Akta keahliwarisan dibawah tangan untuk pengambilan

deposito/tabungan dan sebagainya

g. Melaksanakan tugas-tugas pelayanan lainnya seperti penyuluhan hukum, memberikan pertimbangan hukum agama, pelayanan riset/penelitian, pengawasan terhadap advokat/penasehat hukum dan sebagainya

2. Visi dan Misi Pengadilan Agama Pamekasan Visi:

Terwujudnya Kesatuan Hukum dan Aparatur Pengadilan Agama yang Profesional, Efektif, Efesien, dan Akuntabel Menuju Badan Peradilan Indonesia yang Agung.

Misi:

a. Menjaga kemandirian Aparatur Pengadilan Agama

b. Meningkatkan kualitas pelayanan hukum yang berkeadilan, kredibel, dan transparan

c. Meningkatkan pengawasan dan pembinaan

d. Mewujudkan kesatuan hukum sehingga diperoleh kepastian hukum bagi masyarakat.1

41

B. Kronologi Perkara Cerai Gugat Karena Istri Tidak Mau Ikut Tinggal Bersama Suami di Rumah Orang Tua Suami

Menurut pemaparan dari seorang Hakim Pengadilan Agama Pamekasan mengatakan bahwa perceraian dengan alasan tempat tinggal di sini sangat sering terjadi, bahkan sudah biasa. Meskipun pada perjanjian sebelum menikah tempat tinggal sudah di tentukan, tidak menutup kemungkinan setelah menikah masalah tempat tinggal menjadi bahan percekcokan atau pertengkaran. Seperti halnya dalam penelitian ini, pe

?rceraian dengan alasan tempat tinggal yang disebabkan oleh adanya intervensi atau adanya pihak ketiga juga sudah biasa terjadi, tapi permasalahan yang sudah masuk keranah pengadilan menandakan bahwa permasalahannya sudah mencapai puncaknya sehingga memang perkawinannya benar-benar tidak dapat dipertahankan kembali.2

Pernyataan ini hampir mirip dengan pemaparan seorang Panitera di Pengadilan Agama Pamekasan yang mengatakan bahwa perceraian karena alasan tempat tinggal merupakan sesuatu yang sangat sepele untuk dijadikan sebuah pertimbangan dalam alasan perceraian, namun tidak bisa di pungkiri bahwa pada kenyataannya alasan seperti ini memang sudah biasa terjadi, hal ini disebabkan oleh banyak hal, seperti karena masing-masing adalah anak tunggal, sehingga masing-masing orang tua bersikukuh menginginkan anaknya untuk tetap tinggal bersama mereka yang pada akhirnya tidak bisa di temukan jalan

42

keluarnya yang berujung sebuah perceraian. Dalam hal ini keluarga tidak sepenuhnya bisa di salahkan, terkadang kematangan dan kedewasan dalam pola pikir pasangan sangat dibutuhkan sehingga mampu menghadapi hal-hal sepele seperti ini dan mampu mempertahankan rumah tangganya.3

Dengan adanya realita semacam ini, penggugat kemudian megajukan surat gugatan tertanggal 07 Oktober 2015 dengan nomor perkara 1001/Pdt.G/2015/PA Pmk. Alasan-alasan yang tercantum dalam surat gugatan tersebut sebagai berikut: 1. Bahwa pada tanggal 15 Desember 2015, Penggugat (Istri) dengan Tergugat (Suami) melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kabupaten Pamekasan dalam Duplikasi Kutipan Akta Nikah Nomor 623/15/XII/2014 tanggal 15 Desember 2014.4

Setelah pernikahan tersebut berlangsung Penggugat (Istri) dan Tergugat (Suami) bertempat tinggal di rumah Orang Tua Penggugat (Istri) selama 8 bulan dan telah berhubungan layaknya suami isteri dan belum dikaruniai anak, pada awalnya rumah tangga Penggugat (Istri) dan Tergugat (Suami) hidup rukun dan harmonis, namun sejak bulan Oktober rumah tangga Penggugat (Istri) dan Tergugat (Suami) mulai goyah dan mengalami keretakan karena terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan masalah tempat tinggal di mana Tergugat (Suami) tidak kerasan di rumah Penggugat (Istri) tanpa alasan yang

3 Syafiuddin, Wawancara, Pamekasan pada tanggal 10 November 2016.

43

jelas, sedangkan Penggugat (Istri) tidak kerasan di rumah Tergugat (Suami) karena orang tua Penggugat (Istri) keberatan karena setatus anak tunggal.5

Akibat perselisihan dan pertengkarangan tersebut, Penggugat (Istri) dan Tergugat (Suami) telah pisah rumah selama 2 bulan, Tergugat (Suami) pulang kerumah orangtua Tergugat (Suami). Keadaan demikian itu, menyebabkan Penggugat (Istri) merasa tidak sanggup lagi melanjutkan hubungan rumah tangganya dengan Tergugat (Suami) dan bermaksud mengakhiri dengan perceraian.6

Dimana dalam perselisihan ini sebenarnya terdapat unsur intervensi dari orang tua Tergugat yang menginginkan tergugat tinggal bersama orang tuanya. Yang mana perselisihan ini berawal dari datangnya mertua Penggugat dari Malaysia. Hal ini sebagaimana pemaparan Penggugat sebagai berikut:

“sebenarnya dalam rumah tangga kami tidak ada masalah apapun sebelumnya, namun hal ini terjadi ketika mertua saya datang dari Malaysia

dan meminta suami saya untuk tinggal bersamanya di rumah mertua saya.”7

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan dari bapak Penggugat

Sebenarnya pernikahan mereka baik-baik saja, bahkan tidak pernah ada percekcokan. Tetangga-tetangga disini kaget, ternyata yang mau cerai itu anak saya, anggapan mereka yang ingin bercerai itu adalah sepupunya, melihat percekcokan yang sering terjadi dalam rumah tangga sepupunya itu. Tapi mau gimana lagi, suaminya tidak mau tinggal disini karena disuruh tinggal dirumah orang tuanya oleh ibunya, sedangkan anakku juga tidak mau tinggal disana. Kalau emang kayak gini yasudah cerai saja. Tapi

5 Nur, Wawancara, Pamekasan pada tanggal 10 November 2016.

6 Ibid.

7Istri (Penggugat dalam putusan No. 101/Pdt.G/2015/PA Pmk.), Wawancara, Pamekasan pada

44

meskipun mereka sudah cerai, suami anak saya masih sering telepon dan kadang main-main kerumah, ya memang pada dasarnya percerain mereka sebenarnya tidak ada masalah secara langsung dari anak saya dan suaminya, ya cuman karena ibu mertuanya itu. Sebelum ibu mertua datang kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja, suaminya setelah menikah tinggal disini.8

Penggugat (Istri) sanggup membayar seluruh biaya yang timbul akibat perkara ini. Dimana dalam perkara sebenarnya semua biaya yang disanggupi oleh Penggugat dalam pembayaran persidangan perkara ini berasal dari Tergugata yaitu suami Penggugat. Hal ini sebagimana pernyataan berikut:

Ketika masalah itu sudah tidak bisa kita persatukan kembali karena mertua saya bersikukuh menginginkan kita bercerai, atas perintah ibunya suami saya membeli surat cerai dan meminta saya untuk mendaftarkan ke Pengadilan agama Pamekasan, dengan biaya sepenuhnya berasal dari suami saya.9

Berdasarkan alasan-alasan di atas, Penggugat (Istri) mohon agar Ketua Pengadilan Agama Pamekasan segera memeriksa dan mengadili perkara ini, selanjutnya menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi: 1. Mengabulkan gugatan Penggugat (Istri); 2. Menjatuhkan talak satu bain sughro Tergugat (Suami) terhadap Penggugat (Istri); 3. Membebankan biaya perkara kepada Penggugat (Istri) sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku. Subsidair menjatuhkan putusan seadil-adilnya.10

8 Bapak Penggugat (saksi I dalam putusan No. 101/Pdt.G/2015/PA Pmk.), Wawancara, Pamekasan

pada tanggal 3 November 2016.

9Istri (Penggugat dalam putusan No. 101/Pdt.G/2015/PA Pmk.), Wawancara...,

45

Pada hari dan tanggal persidangan yang telah ditetapkan, Penggugat (Istri) telah hadir di persidangan, sedangkan Tergugat (Suami) tidak hadir dan tidak pula mengutus kuasanya, meskipun Tergugat (Suami) telah dipanggil dengan patut, dan ketidak hadirannya tersebut disebabkan oleh suatu halangan yang sah, maka pemeriksaan berlanjut tanpa hadirnya Tergugat (Suami) yang mana hal ini mengakibatkan adanya putusan verstek.

Ketidak hadiran Tergugat sebenarnya terdapat sebuah kesengajaan, dimana dengan tidak hadirnya Tergugat maka proses persidangan akan berjalan dengan cepat, hal ini disebabkan karena keinginan dari ibu Tergugat yang benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi, karena alasan istri tergugat tidak mau diajak tinggal bersama tergugat di rumah orang tua Tergugat. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagai berikut:

Suami saya tidak pernah menghadiri persidangan, karena mertuanya melarangnya untuk menghadiri persidangan itu, agar persidangan perkara perceraian ini bisa cepat diputus.11

Dalam persidangan, Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan akan tetapi upaya tersebut tidak berhasil, selanjutnya Penggugat (Istri) membacakan surat gugatannya yang isinya tetap dipertahankan oleh Penggugat (Istri). Dalam persidangannya Penggugat (Istri) meneguhkan dalil-dalil gugatannya dengan menyerahkan alat bukti surat di persidangan berupa Fotokopi Kutipan Akta Nikah dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Batumarmar kabupaten

46

Pamekasan Nomor 623/15/XII/2014 Tanggap 15 Desember 2014 yang sudah bermaterai cukup dan sudah dicocokan dengan aslinya, diberi tanda P.12

Selain itu Penggugat (Istri) telah menghadirkan saksi-saksi atau keluarganya untuk memberikan keterangan di depan sidang pengadilan, masing-masing bernama; Saksi I, umur 40 tahun, agama Islam, pekerjaan tani, tempat kediaman di Kabupaten Pamekasan, selaku bapak dari Penggugat (Istri); Saksi II, umur 29 tahun, agama Islam, pekerjaan tani, tempat kediaman di Kabupaten Pamekasan, selaku sepupu dari Tergugat (Suami). Dimana kedua saksi tersebut telah memberikan keterangannya dibawah sumpah yang pada pokoknya sebagai berikut, bahwa Tergugat (Suami) tidak kerasan tinggal di rumah Penggugat (Istri) sedangkan Penggugat (Istri) juga tidak mau diajak tinggal dirumah Orang Tua Tergugat (Suami) yang pada akhirnya memilih untuk hidup sendiri-sendiri.13

C. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Pengadilan Agama Pamekasan Nomor 1001/ Pdt.G/2015/PA.Pmk Tentang Cerai Gugat Karena Istri Tidak Mau Ikut Tinggal Bersama Suami di Rumah Orang Tua Suami

Berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan di dalam posita maka permohonan Penggugat (Istri) dalam Putusan Pengadilan Agama Pamekasan Nomor 1001/Pdt.G/2015/PA.Pmk. tentang Cerai Gugat Karena Istri Tidak Mau

12 Surat gugatan dengan nomor perkara 1001/Pdt.G/2015/PA Pmk.

47

Tinggal Bersama Tergugat (Suami) di Rumah Orang Tua Tergugat (Suami) di pertimbangkan dan di putuskan gugatan Penggugat (Istri) dikabulkan tanpa adanya kehadiran Tergugat (Suami) berdasarkan bukti-bukti yang telah diajukan oleh Penggugat (Istri).14 Dengan kata lain, dalam perkara ini hakim memberikan putusan verstek, karena Tergugat tidak hadir dan tidak pula mengutus kuasanya, meskipun telah dipanggil dengan patut, tetapi tidak menghiraukan dan menaati panggilan tanpa alasan yang sah.15

Adapun pertimbangan-pertimbangan yang digunakan Hakim dalam memutuskan perkara Nomor 1001/Pdt.G/2015/PA.Pmk. tentang Cerai Gugat Karena Istri Tidak Mau Tinggal Bersama Tergugat (Suami) di Rumah Orang Tua Tergugat (Suami) adalah sebagai berikut:

1. Dalil gugatan dalam surat gugatan Penggugat (Istri) yang mengatakan bahwa sejak 2 bulan yang lalu rumah tangga Penggugat (Istri) dan Tergugat (Suami) mulai goyah dan tidak harmonis, yang disebabkan karena perselisihan tempat tinggal di mana Tergugat (Suami) tidak kerasan di rumah Penggugat (Istri) tanpa alasan yang jelas, sedangkan Penggugat (Istri) tidak kerasan di rumah Tergugat (Suami) karena orang tua Penggugat (Istri) keberatan karena statusnya anak tunggal.16 Yang menjadi pertimbangan hakim yaitu apakah rumah tangga tersebut memang

14 Putusan Pengadilan Agama Pamekasan Nomor: 1001/Pdt.G/2015/PA Pmk.

15 Ibid.,

48

benar tidak bisa disatukan atau tidak, terlepas dari siapa yang salah dalam hal ini.

Dalam perkara pada penelitian ini hakim juga mempertimbangkan dengan melihat siapa yang datang untuk mendaftarkan perkara perceraian tersebut. Seperti halnya dalam masalah tempat tinggal itu adalah masalah yang sangat sepele apalagi ada unsur pihak ketiga namun jika masalah ini sudah masuk ranah hukum maka hakim sudah tidak melihat kronologis permasalahan itu diluar persidangan, karena yang dilihat itu siapa yang datang mendaftarkan dan mendengarkan keterangan-keterangannya di depan persidangan, apabila didalam persidangan pihak yang bersangkutan tidak memberikan keterangan mengenai kronologis permasalahnnya seperti adanya intervensi dari pihak ketiga maka itu sudah bukan ranah hakim lagi, jadi hakim hanya mendengarkan keterangan-keterangan di depan persidangan, kecuali dalam persidangan terdapat bukti-bukti bahwa benar-benar terjadi ikut campur pihak ketiga, maka bukan tidak mungkin hakim akan menolak permohonan penggugat tersebut. Karena dalam hal ini, hakim hanya bersifat pasif dan terpaku pada keterangan-keterangan pihak yang bersangkutan di depan persidangan hal ini yang akan dijadikan bukti pengakuan,sehingga kronologis yang terjadi dalam permasalahan tersebut tidak bisa menjadi tolak ukur hakim dalam memutus. Misalnya seperti salah satu pihak dipaksa untuk bercerai, namun ketika di tanya di depan

49

persidangan dia memberikan keterangan yang mengarah bahwa dia benar-benar ingin bercerai, namun ketika diluar persidangan dia mengatakan bahwa sebenarnya dia masih sayang tapi ketika di persidangan tadi dia terpaksa memberikan keterangan secara tidak benar karena takut kepada orang tuanya maka keterangan yang disampaikan di luar persidangan, tidak

bisa di terima.”17

Dalam memutuskan suatu perkara di Pengadilan hakim melihat dari bukti-bukti yang diajukan oleh kedua belah pihak, salah satunya yaitu dalil gugatan yang diberikan oleh Penggugat. Sehingga dari dalil gugatan tersebut sudah bisa dianggap sebagai bukti pengakuan.

2. Mempertimbangkan bukti surat (P) serta keterangan saksi di persidangan. serta mempertimbangan dari bukti-bukti yang diajukan oleh Penggugat seperti keterangan saksi yang telah dihadirkan dan biasanya saksi masih ada hubungan keluarga dari kedua belah pihak. Dan sebatas pengetahuan saksi, meskipun tidak terlalu jelas apa yang menyebabkan perselisihan tersebut, saksi hanya sebatas mengetahui secara dhohirnya saja. Saksi mengetahui adanya pisah rumah itu sudah bisa menunjukkan adanya perselisihan meskipun saksi tersebut tidak terlalu banyak tau tentang perselisihan tersebut, hal itu sudah bisa dianggap sebagai bukti dari keterangan saksi.

3. Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam, dengan alasan tidak ada ketentuan atau batasan pertengkaran yang dimuat dalam dalam Undang-Undang ini, sehingga 70% kasus perceraian yang terjadi pasti merujuk pada Pasal ini,

50

hal ini sebagaimana yang telah dipaparkan oleh hakim Pengadilan Agama yang mengatakan:

Tidak ada batasan pertengakaran dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam, setiap permasalahan yang mengakibatkan pertengkaran itu bisa dijadikan alasan karena itu tergantung, terkadang permasalahan sepele dibesar-besarkan yang berujung perceraian. Karena segala permasalahan pasti larinya kepada Pasal itu, mengingat Pasal tersebut masih bersifat universal dan tidak ada ketentuan pertengkaran seperti apa yang bisa dijadikan rujukan untuk Pasal ini. Bahkan kasus kekerasan dalam rumah tangga, juga bisa menggunakan Pasal ini juga. Karena memang kan, Pasal ini pasti di jadikan rujukan karena alasan lain yang tercantum pada Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam sangat jarang terjadi.18

Hal ini juga ditambahkan oleh pernyataan bapak panitera Pengadilan Agama Pamekasan yang mengatakan:

Hakim tidak terpaku pada teks Undang-Undang, semua alasan yang menimbulkan perselisihan itu bisa dijadikan alasan perceraian. Karena pada logikanya tidak ada seseorang yang bertengkar secara terus-menerus itu, tidak mungkin pasti ada baikannya. Dalam hal ini, hakim juga melihat kepada situasi yang ada, yang memang terjadi dalam kalangan masyarakat madura dimana penentuan tempat tinggal sangatlah lumrah terjadi sebagai sebuah alasan suatu perceraian. Alasan lain yang ada dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun

Dokumen terkait