HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
1. Jenis-Jenis Sawah
Status aktif atau tidak aktif dan jenis sawah yang ada di kecamatan
Sangasanga sebagai berikut:
a. Sawah Tadah Hujan
Berdasarkan hasil penelitian sawah tadah hujan hanya berada di
Kelurahan Pendingin biasanya berada di daerah yang berbukit dan jauh
dari sungai. Menurut keterangan warga sawah tadah hujan ini
dimanfaatkan petani hanya satu kali setahun untuk ditanami padi.
Penanaman padi ini dilakukan petani ketika memasuki musim penghujan.
Sebab pada saat itu pasokan air cukup melimpah, sehingga padi yang
ditanam bisa tumbuh subur. Hal itu didukung oleh Prihasto (2013) yang
menyatakan bahwa sawah tadah hujan merupakan sawah alternatif
Gambar 6. Kondisi
Tadah
Bila musim panen pada telah usai, lahan ini tidak dibiarkan
menggangur oleh petani. Tetapi digunakan untuk ditanami palawija,
singkong, jagung dan pisang.
bahwa sebagian besar petani di Pulau Jawa menggunakan lahan kosong
pada lahan sawah tadah hujan milik mereka untuk ditanami sawo, pisang,
kelapa kopyor, matoa, jambu dan belimbing. Hal ini dimaksudkan untuk
menambah penghasilan para pet
Kondisi Padi di Kelurahan Pendingin pada adah Hujan
Bila musim panen pada telah usai, lahan ini tidak dibiarkan
menggangur oleh petani. Tetapi digunakan untuk ditanami palawija,
singkong, jagung dan pisang. Prihasto (2013) juga mengungkapkan
bahwa sebagian besar petani di Pulau Jawa menggunakan lahan kosong
pada lahan sawah tadah hujan milik mereka untuk ditanami sawo, pisang,
kelapa kopyor, matoa, jambu dan belimbing. Hal ini dimaksudkan untuk
menambah penghasilan para petani.
pada Jenis Sawah
Bila musim panen pada telah usai, lahan ini tidak dibiarkan
menggangur oleh petani. Tetapi digunakan untuk ditanami palawija,
juga mengungkapkan
bahwa sebagian besar petani di Pulau Jawa menggunakan lahan kosong
pada lahan sawah tadah hujan milik mereka untuk ditanami sawo, pisang,
Gambar 7. Diagram Luas Jenis-Jenis Sawah Per Kelurahan
Sawah tadah hujan adalah jenis sawah paling luas di Kecamatan
Sangasanga. Luas sawah tadah hujan di Kecamatan Sangasanga adalah
64 persen dari total luas sawah yang ada di Kecamatan Sangasanga. Hal
ini menunjukan bahwa sawah yang ada di Kecamatan Sangasanga tidak
memiliki saluran irigasi yang memadai. Sebab para petani masih
mengandalkan air hujan untuk mengairi sawahnya. Walaupun di
Kecamatan Sangasanga memiliki anak sungai Mahakam yang cukup
panjang namun belum bisa dimanfaatkan warga untuk mengairi
sawahnya. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tampaknya belum
memperhatikan sektor pertanian di daerah ini.
b. Sawah Bencah
Sawah bencah adalah sawah yang terletak di daerah rawa-rawa
pantai yang telah kering atau sering pula di daerah muara sungai yang
besar. Pertanian sawah pasang surut ini banyak diusahakan di muara
2 9 16 80 17 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Kel. Jawa Kel. Sarijaya Kel.
Pendingin Kel. Sangasanga Dalam Kel. Sangasanga Muara
Luas Jenis-Jenis Sawah Per Kelurahan (Ha)
Bencah Tadah Hujan Irigasi
sungai besar dan rawa pasang surut. Sawah bencah adalah saw
pengairan sawahnya berasal dari air pasang surut sungai, secara tidak
langsung sawah bencah terletak dekat dengan sungai.
Gamba
Luas sawah bencah di Sangasanga adalah 22 persen dari luas
sawah yang ada di k
sawah bencah kurang di manfaatkan dengan baik di Kecamatan
Sangasanga.
sesuai dengan pendapat
lahan rawa di Indoen
palawija seperti kedelai, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kopi, kelapa, sayur
dan buah-buahan serta temu
berpotensi sebagai sawah bencah di Kecamatan Sangasanga masih
sangat luas. Hal ini disebabkan oleh minat masyarakat yang minim di
bidang pertanian.
sungai besar dan rawa pasang surut. Sawah bencah adalah saw
pengairan sawahnya berasal dari air pasang surut sungai, secara tidak
langsung sawah bencah terletak dekat dengan sungai.
Gambar 8. Sawah Bencah di Kelurahan Sarijaya
Luas sawah bencah di Sangasanga adalah 22 persen dari luas
sawah yang ada di kecamatan Sangasanga. Hal ini menunjukan bahwa
sawah bencah kurang di manfaatkan dengan baik di Kecamatan
Sangasanga. Sejauh ini baru dimanfaatkan untuk tanaman padi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sittadewi (2008) yang menyatakan bahwa
lahan rawa di Indoensia sebagian besar hanya cocok ditanami padi dan
palawija seperti kedelai, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kopi, kelapa, sayur
buahan serta temu-temuan. Padahal areal lahan yang
berpotensi sebagai sawah bencah di Kecamatan Sangasanga masih
s. Hal ini disebabkan oleh minat masyarakat yang minim di
bidang pertanian. Apalagi, menurut Sittadewi (2008), pengelolaan lahan sungai besar dan rawa pasang surut. Sawah bencah adalah sawah yang
pengairan sawahnya berasal dari air pasang surut sungai, secara tidak
di Kelurahan Sarijaya
Luas sawah bencah di Sangasanga adalah 22 persen dari luas
ecamatan Sangasanga. Hal ini menunjukan bahwa
sawah bencah kurang di manfaatkan dengan baik di Kecamatan
Sejauh ini baru dimanfaatkan untuk tanaman padi. Hal ini
yang menyatakan bahwa
sia sebagian besar hanya cocok ditanami padi dan
palawija seperti kedelai, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kopi, kelapa, sayur
Padahal areal lahan yang
berpotensi sebagai sawah bencah di Kecamatan Sangasanga masih
s. Hal ini disebabkan oleh minat masyarakat yang minim di
pasang surut sangat tergantung dari pengolahan tanah dan air yang
khusus. Sebab dua faktor ini merupakan kunci keberhasilan tanaman
pangan di tanah rawa.
Petani di Kecamatan Sangasanga hanya mampu memanfaatkan
lahan sawah bencahnya hanya sekali setahun untuk ditanami padi. Bila
musim hujan datang, maka masyarakat akan memanfaatkan lahannya
untuk tanaman padi. Namun bila musim panas tiba, lahan sawah bencah
tidak bisa dimanfaatkan petani. Sebab sawah dimasuki air asin dan
tanaman tidak bisa tumbuh. Hal ini didukung oleh Sittadewi (2008) yang
menyatakan bahwa rata-rata lahan pasang surut hanya dapat ditanami
sekali dalam setahun, selebihnya dibiarkan karena tergenang air.
c. Sawah irigasi
Sawah irigasi adalah sawah yang sistem pengairanya teratur,
sumber air jenis sawah ini berasal dari aliran sungai anakan mahakam.
Pengisian air pada model sawah ini dilakukan pada saat air pasang
secara teratur. Bila air pasang maka saluran irigasi dibuka untuk
memasukkan air. Sebaliknya, jika air mulai surut maka pintu air akan
ditutup. Dengan pengaturan sederhana tersebut pasokan air untuk sawah
Gambar 9. Sawah
Penanaman padi pada jenis sawah ini dapat dilakukan
sepanjang tahun dan tidak lagi bergantung pada curah hujan tahunan.
Untuk jenis padi, sawah irigasi
kali panen. Selebihnya dimanfaakan petani untuk menanam sayuran dan
palawija. Namun berdasarkan hasil pengamatan penulis sebagian lahan
sawah irigasi ada yang tidak digarap petani secara maksimal.
Luas sawah irigasi di
dari luas keseluruhan sawah yang ada di Kecamatan sangasanga yaitu
124 ha. Jumlah luasan ini belum mengalami peningkatan dalam satu
dasawarsa terakhir. Pemerintah atau masyarakat belum ada mencetak
sawah baru untuk je
sawah-sawah di Sangasanga terus mengalami penyusutan.
didukung oleh
Sawah Irigasi di Kelurahan Jawa yang Belum
Penanaman padi pada jenis sawah ini dapat dilakukan
sepanjang tahun dan tidak lagi bergantung pada curah hujan tahunan.
Untuk jenis padi, sawah irigasi bisa dimanfaatkan petani sebanyak dua
kali panen. Selebihnya dimanfaakan petani untuk menanam sayuran dan
palawija. Namun berdasarkan hasil pengamatan penulis sebagian lahan
sawah irigasi ada yang tidak digarap petani secara maksimal.
Luas sawah irigasi di Kecamatan Sangasanga adalah 14 persen
dari luas keseluruhan sawah yang ada di Kecamatan sangasanga yaitu
ha. Jumlah luasan ini belum mengalami peningkatan dalam satu
dasawarsa terakhir. Pemerintah atau masyarakat belum ada mencetak
sawah baru untuk jenis ini. Bahkan menurut pengamatan selama ini,
sawah di Sangasanga terus mengalami penyusutan.
didukung oleh Barus B. dkk (2009) yang menyatakan bahwa lahan ang Belum Tergarap Petani
Penanaman padi pada jenis sawah ini dapat dilakukan
sepanjang tahun dan tidak lagi bergantung pada curah hujan tahunan.
bisa dimanfaatkan petani sebanyak dua
kali panen. Selebihnya dimanfaakan petani untuk menanam sayuran dan
palawija. Namun berdasarkan hasil pengamatan penulis sebagian lahan
sawah irigasi ada yang tidak digarap petani secara maksimal.
Kecamatan Sangasanga adalah 14 persen
dari luas keseluruhan sawah yang ada di Kecamatan sangasanga yaitu
ha. Jumlah luasan ini belum mengalami peningkatan dalam satu
dasawarsa terakhir. Pemerintah atau masyarakat belum ada mencetak
nis ini. Bahkan menurut pengamatan selama ini,
sawah di Sangasanga terus mengalami penyusutan. Hal ini
pertanian di Indonesia sebagian besar mengalami perubahan status.
Lahan kering berubah menjadi perumahan, lahan untuk industri dan lahan
untuk jasa sementara lahan basah dipergunakan untuk area
pertambangan dan lain-lain.
Gambar 10. Diagram Persentase Keaktifan Sawah Per Kelurahan
d. Sawah Aktif dan Tidak Aktif
Sawah aktif adalah suatu lahan pertanian yang masih dirawat
dan ditanami padi atau pun tanaman palawija. Hanya beberapa petani
yang bertahan untuk menanam padi, di karenakan mereka tidak ingin
sawah mereka warisan dari leluhur ataupun orang tua mereka rusak di
karenakan tambang batu bara.
Umumnya sawah yang tergolong aktif adalah sawah yang masih
di tanami selama satu tahun terakhir. Di Kecamatan Sangasanga masih
ada delapan petak sawah yang masih aktif, luasnya adalah 105 ha.
0.3 89.5 15.8 16.8 1.9 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Kel. Jawa Kel. Sarijaya Kel.
Pendingin Kel. Sangasanga Dalam Kel. Sangasanga Muara P e rs e n ta se
Persentase Keaktifan Sawah
Aktif Tidak Aktif
Gambar 11
Sawah tidak aktif adalah suatu lahan pertanian yang sudah tidak
di tanami padi atau tanaman palawija dan sawah ini biasanya di tumbuhi
oleh semak belukar dan rerumputan karena sudah tidak di rawat lagi
oleh pemiliknya. Kebanyakan sawah tidak aktif karena pemiliknya lebih
memilih pekerjaan lain yang hasil lebih besar, seperti bekerja di
pertambangan
tidak aktif di Kecamatan Sangasanga dan luasnya adalah sekitar