• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KONSEP TINDAK PIDANA DALAM HUKUM ISLAM DAN

B. Tindak Pidana dalam Hukum Positif

2. Jenis-jenis Tindak Pidana dalam Hukum Positif

Tindak pidana dapat dibeda-bedakan dengan pembagian sebagai berikut:

1. Delik atau tindak pidana kejahatan dan pelanggaran (misdrijven en

overtredingen).64

Penggolongan jenis-jenis delik di dalam KUHP, terdiri atas kejahatan

(misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Penggolongan untuk kejahatan

60

Sudarto, Hukum Pidana I, Semarang: Fakultas Hukum UNDIP, 1990, hlm. 38.

61

Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, Bandung PT Eresco, 1986, hlm. 55.

62

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, hlm. 54.

63

R. Tresna, Azas-Azas Hukum Pidana Disertai Pembahasan Beberapa Perbuatan Pidana Yang Penting, Jakarta: PT Tiara, tth, hlm. 27

64

Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994, hlm. 96.

disusun di dalam Buku II KUHP dan pelanggaran disusun di dalam Buku III

KUHP. Undang-undang hanya memberikan penggolongan kejahatan dan

pelanggaran, akan tetapi tidak memberikan arti yang jelas. Risalah penjelasan

undang-undang (Mvt) yang terdapat di negeri Belanda membuat ukuran

kejahatan dan pelanggaran itu atas dasar teoritis bahwa kejahatan adalah

"rechtdelicten", sedangkan pelanggaran adalah "wetsdelicten." Ilmu

pengetahuan kemudian menjelaskan bahwa rechtsdelicten merupakan

perbuatan dalam keinsyafan batin manusia yang dirasakan sebagai perbuatan

tidak adil dan di samping itu juga sebagai perbuatan tidak adil menurut

undang-undang, sedangkan wetsdelicten merupakan perbuatan yang menurut

keinsyafan batin manusia tidak dirasakan sebagai perbuatan tidak adil, tetapi

baru dirasakan sebagai perbuatan terlarang karena undang-undang

mengancam dengan pidana.65

Andaikata belum dilarang oleh Undang-undang, akan tetapi oleh masyarakat

telah dirasakan sebagai suatu perbuatan yang "onrecht" maka di situ terdapat

rechtdelicten sebagai kejahatan, misalnya pembunuhan, pencurian, dan lain sebagainya. Sebaliknya bagi perbuatan yang oleh karena dilarang dan

diancam dengan pidana menurut ketentuan undang-undang itu, barulah

perbuatan itu bertentangan dengan "wet", karena masyarakat sebelumnya

tidak menganggap demikian, misalnya larangan dengan rambu-rambu lalu

65

Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, Yogyakarta: Ghalia Indonesia, 1983, hlm. 95

lintas, peraturan lalu lintas untuk memakai jalan di jalur sebelah kiri bagi

pengendara dan lain sebagainya.66

2. Menurut cara merumuskannya, dibedakan antara tindak pidana formil

(formeel delicten) dan tindak pidana materiil (materieel delicten);

3. Berdasarkan bentuk kesalahannya, dibedakan antara tindak pidana sengaja

(doleus delicten) dan tindak pidana tidak dengan sengaja (culpose

delicten);

4. Berdasarkan macam perbuatannya, dapat dibedakan antara tindak pidana

aktif/positif dapat juga disebut tindak pidana komisi (delicta

commissionis) dan tindak pidana pasif/negatif, disebut juga tindak pidana omisi (delicta omissionis);

5. Berdasarkan saat dan jangka waktu terjadinya, maka dapat dibedakan

antara tindak pidana terjadi seketika dan tindak pidana terjadi dalam

waktu lama atau berlangsung lama/berlangsung terus;

6. Berdasarkan sumbernya, dapat dibedakan antara tindak pidana umum dan

tindak pidana khusus;

7. Dilihat dari sudut subjek hukumnya, dapat dibedakan antara tindak pidana

communia (delicta communia, yang dapat dilakukan oleh siapa saja), dan

66

tindak pidana propria (dapat dilakukan hanya oleh orang memiliki

kualitas pribadi tertentu);

8. Berdasarkan perlu tidaknya pengaduan dalam hal penuntutan, maka

dibedakan antara tindak pidana biasa (gewone delicten) dan tindak pidana

aduan (klacht delicten);

9. Berdasarkan berat-ringannya pidana yang diancamkan, maka dapat

dibedakan antara tindak pidana bentuk pokok (eenvoudige delicten),

tindak pidana yang diperberat (gequalificeerde delicten) dan tindak

pidana yang diperingan (gepriviligieerde delicten);

10. Berdasarkan kepentingan hukum yang dilindungi, maka tindak pidana

tidak terbatas macamnya bergantung dari kepentingan hukum yang

dilindungi, seperti tindak pidana terhadap nyawa dan tubuh, terhadap

harta benda, tindak pidana pemalsuan, tindak pidana terhadap nama baik,

terhadap kesusilaan dan lain sebagainya;

11. Dari sudut berapa kali perbuatan untuk menjadi suatu larangan, dibedakan

antara tindak pidana tunggal (enkelvoudige delicten) dan tindak pidana

berangkai (samengestelde delicten);67

Delik formil itu adalah delik yang perumusannya dititik beratkan kepada

perbuatan yang dilarang. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya

67

perbuatan seperti tercantum dalam rumusan delik. Misal : penghasutan (Pasal

160 KUHP), dimuka umum menyatakan perasaan kebencian, permusuhan

atau penghinaan terhadap kepada satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia

(Pasal 156 KUHP); penyuapan (Pasal 209, 210 KUHP); sumpah palsu (Pasal

242 KUHP); pemalsuan surat (Pasal 263 KUHP); pencurian (Pasal 362

KUHP). Delik materiil itu adalah delik yang perumusannya dititik beratkan

kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). Delik ini baru selesai

apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Kalau belum, maka

paling banyak hanya ada percobaan. Misal : pembakaran (Pasal 187 KUHP),

penipuan (Pasal 378 KUHP), pembunuhan (Pasal 338 KUHP). Batas antara

delik formil dan delik materiil tidak tajam misalnya Pasal 362.

Delik omissionis dan delik comnussionis peromissionem commissa. Delik

commissionis: delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan, ialah berbuat sesuatu yang dilarang, pencurian, penggelapan. penipuan. Delik omissionis:

delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah, ialah tidak melakukan

sesuatu yang diperintahkan yang diharuskan, misal: tidak menghadap sebagai

saksi di muka pengadilan (Pasal 22 KUHP), tidak menolong orang yang

memerlukan pertolongan (Pasal 531).

Delik commissionis per omissionen commissa: delik yang berupa pelanggaran

larangan (dus delik commissionis, akan tetapi dapat dilakukan dengan cara

memberi air susu (Pasal 338, 340 KUHP), seorang penjaga wissel yang

menyebabkan kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan

wissel (Pasal 194 KUHP).

Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten). Delik dolus; delik

yang memuat unsur kesengajaan. misal: Pasal-Pasal 187, 197, 245,

263,310,338 KUHP. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah

satu unsur misal : Pasal-Pasal 195, 197, 201, 203, 231 ayat 4 dan Pasal 359,

360 KUHP. Delik tunggal dan delik berganda (enkelvoudige en

samengestelde delicten). Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. Delik berganda : delik yang bani merupakan delik,

apabila dilakukan beberapa kali perbuatan, misal : Pasal 481 (penadahan

sebagai kebiasaan).68

Delik yang berlangsung terus dan delik yang tidak berlangsung terus

(voordurende en niet voortdurende/aflopende delicten). Delik yang

berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri, bahwa keadaan terlarang itu

berlangsung terus, misal; merampas kemerdekaan seseorang (Pasal 333

KUHP). Delik aduan dan, bukan delik aduan : (klachtdelicten en niet klacht

delicten). Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij). Misal

penghinaan (Pasal 310 dst. yo. 319 KUHP), perzinahan (Pasal 284 KUHP),

68

chantage (pemerasan dengan ancaman pencemaran, Pasal 335 ayat 1 sub 2 KUHP yo. ayat 2). Delik aduan dibedakan menurut sifatnya sebagai: delik

aduan yang absolut, ialah mis: Pasal 284, 310, 332. Delik.-delik ini menurut

sifatnya hanya dapat dituntut berdasar kan pengaduan. Delik aduan yang

relatif ialah mis. : Pasal 367. Disebut relatif, karena dalam delik-delik ini ada

hubungan istimewa antara si pembuat dan orang yang terkena.

Perlu dibedakan antara aduan dan gugatan dan laporan. Gugatan dipakai

dalam acara perdata, misal. : A menggugat B di muka Pengadilan, karena B

tidak membayar hutangnya kepada A Laporan hanya pemberitahuan belaka

tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada polisi atau Jaksa.

Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya (eenvoudige dan

gequalificeerde delicten). Delik yang ada pemberatannya, misal. :

penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (Pasal 351

ayat 2, 3 KUHP), pencurian pada waktu malam hari dsb. (Pasal 363). Ada

delik yang ancaman pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan

tertentu, misal. : pembunuhan kanak-kanak (Pasal 341 KUHP) Delik ini

disebut "geprivilegeerd delict". Delik sederhana; misal. : penganiayaan (Pasal

351 KUHP), pencurian (Pasal 362 KUHP).69

3. Hukuman dalam Hukum Positif

69

Terdapat berbagai teori yang membahas alasan-alasan yang membenarkan

(justification) penjatuhan hukuman (sanksi). Di antaranya adalah teori absolut

dan teori relatif.

1. Teori Absolut (Vergeldingstheorie)

Menurut teori ini, hukuman itu dijatuhkan sebagai pembalasan

terhadap para pelaku karena telah melakukan kejahatan yang

mengakibatkan kesengsaraan terhadap orang lain atau anggota masyarakat.

2. Teori Relatif (Doeltheorie)

Teori ini dilandasi oleh tujuan (doel) sebagai berikut.

a. Menjerakan

Dengan penjatuhan hukuman, diharapkan si pelaku atau terpidana

menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya {speciale

preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana, mereka akan mengalami

hukuman yang serupa (generale preventie).70

b. Memperbaiki pribadi terpidana

Berdasarkan perlakuan dan pendidikan yang diberikan selama

menjalani hukuman, terpidana merasa menyesal sehingga ia tidak akan

70

Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm. 4

mengulangi perbuatannya dan kembali kepada masyarakat sebagai

orang yang baik dan berguna,

c. Membinasakan atau membuat terpidana tidak berdaya.

Membinasakan berarti menjatuhkan hukuman mati, sedangkan

membuat terpidana tidak berdaya dilakukan dengan menjatuhkan

hukuman seumur hidup.

Akhir-akhir ini, banyak yang tidak setuju dengan adanya hukuman mati.

Mereka mengajukan pendapat bahwa hanya Allah yang berhak mencabut

nyawa orang dan agar hukuman mati dihapuskan. Pendapat tersebut bukan

tanpa resiko. Misalnya di Sulawesi Selatan (Bugis); jika seseorang

keluarganya dibunuh, semua keluarga besar berkewajiban untuk

membalaskannya. Pembalasan yang dimaksud adalah dengan membunuh si

pembunuh. Demikianlah, tindak pidana pembunuhan akan sangat sulit

dihindarkan jika orang yang mau melakukan pembunuhan mengetahui bahwa

ia tidak akan dihukum mati. Kecermatan dengan akal jernih diperlukan untuk

mempertimbangkan penghapusan hukuman mati.

Tujuan penjatuhan hukuman dalam hukum pidana adalah untuk melindungi

dan memelihara ketertiban hukum guna mempertahankan keamanan dan

ketertiban masyarakat sebagai satu kesatuan (for the public as a whole).

terpidana (not only for the person injured), tetapi melihat ketenteraman

masyarakat sebagai suatu kesatuan yang utuh.71

Sistem hukuman yang tercantum dalam Pasal 10 KUHP menyatakan bahwa

hukuman yang dapat dikenakan kepada seseorang pelaku tindak pidana terdiri

dari :

a. Hukuman Pokok (hoofdstraffen).

1). Hukuman mati.

2). Hukuman penjara.

3). Hukuman kurungan.

4). Hukuman denda.

5). Pidana tutupan (berdasarkan Undang-undang RI No. 20 Tahun 1946

Berita Negara RI tahun kedua No. 24 tanggal 1 dan 15 November

1946)

b. Hukuman Tambahan (bijkomende straffen)

1). Pencabutan beberapa hak tertentu.

2). Perampasan barang-barang tertentu.

3). Pengumuman putusan Hakim.72

71

Dalam bahasa Indonesia, hukuman diartikan sebagai "siksa dan sebagainya",

atau "keputusan yang dijatuhkan oleh hakim".73 Pengertian yang

dikemukakan oleh Anton M. Moeliono dan kawan-kawan dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tersebut sudah mendekati pengertian menurut istilah, bahkan mungkin itu sudah merupakan pengertian menurut

istilah yang nanti akan dijelaskan selanjutnya dalam skripsi ini.

Dalam hukum positif di Indonesia, istilah hukuman hampir sama dengan

pidana. Walaupun sebenarnya seperti apa yang dikatakan oleh Wirjono

Projodikoro, kata hukuman sebagai istilah tidak dapat menggantikan kata

pidana, oleh karena ada istilah hukuman pidana dan hukuman perdata seperti

misalnya ganti kerugian ...,74 Sedangkan menurut Mulyatno, sebagaimana

dikutip oleh Mustafa Abdullah, istilah pidana lebih tepat daripada hukuman

sebagai terjemahan kata straf. Karena, kalau straf diterjemahkan dengan

hukuman maka straf recht harus diterjemahkan hukum hukuman.75

Menurut Sudarto seperti yang dikutip oleh Mustafa Abdullah dan Ruben

Ahmad, pengertian pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan

kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat

72

Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1993, hlm. 34.

73 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976, hlm. 364.

74

Wirjono Projodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Jakarta: PT. Eresco, 1981, hlm. 1.

75

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002, hlm. 1 – 12.

tertentu. Sedangkan menurut Roeslan Saleh yang juga dikutip oleh Mustafa

Abdullah, pidana adalah reaksi atas delik dan ini berwujud suatu nestapa yang

dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik itu.76 Wirjono

Prodjodikoro mengemukakan bahwa pidana berarti hal yang dipidanakan,

yaitu yang oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seorang oknum

sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak sehari-hari

dilimpahkan.77

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas dapat diambil intisari

bahwa hukuman atau pidana adalah suatu penderitaan atau nestapa, atau

akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan.

76

Ibid., hlm. 48.

77

BAB III

TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

A. Tindak Pidana Pembunuhan dalam Hukum Islam

1. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan dalam Hukum Islam

Pembunuhan secara etimologi, merupakan bentuk masdar , dari

fi‟il madhi yang artinya membunuh.78 Adapun secara terminologi,

sebagaimana dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili, pembunuhan

didefinisikan sebagai suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang

yang dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan.79 Sedangkan menurut

Abdul Qadir „Audah, pembunuhan didefinisikan sebagai suatu tindakan

seseorang untuk menghilangkan nyawa; menghilangkan ruh atau jiwa orang

lain.80

Dalam hukum pidana Islam, pembunuhan termasuk ke dalam jarimah

qisas (tindakan pidana yang bersanksikan hukum qisas), yaitu tindakan

78

Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, cet. ke-1, (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1992), hlm. 172.

79

Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, cet. ke-3 ( Damaskus: Dar al-Fikr, 1989 ), VI: 217.

80

Abdul Qadir „Audah, at-Tasyri‟i al-Jina‟i al-Islami ( Beirut: Dar al-Kitab al-„Arabi, t.t.), II : 6.

kejahatan yang membuat jiwa atau bukan jiwa menderita musibah dalam

bentuk hilangnya nyawa, atau terpotong organ tubuhnya.81

2. Klasifikasi Tindak Pidana Pembunuhan dalam Hukum Islam

Pada dasarnya delik pembunuhan terklasifikasi menjadi dua golongan,

yaitu:

a. Pembunuhan yang diharamkan; setiap pembunuhan karena ada unsur

permusuhan dan penganiayaan

b. Pembunuhan yang dibenarkan; setiap pembunuhan yang tidak

dilatarbelakangi oleh permusuhan, misalnya pembunuhan yang dilakukan

oleh algojo dalam melaksanakan hukuman qisas.82

Adapun secara spesifik mayoritas ulama berpendapat bahwa tindak

pidana pembunuhan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Pembunuhan sengaja (qatl al-„amd)

Yaitu menyengaja suatu pembunuhan karena adanya permusuhan

terhadap orang lain dengan menggunakan alat yang pada umumnya

mematikan, melukai, atau benda-benda yang berat, secara langsung atau

tidak langsung (sebagai akibat dari suatu perbuatan), seperti menggunakan

besi, pedang, kayu besar, suntikan pada organ tubuh yang vital maupun

tidak vital (paha dan pantat) yang jika terkena jarum menjadi bengkak dan

81

Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, cet. ke-2 ( Kairo: Dar ad-Diyan li at-Turas, 1990 ), II : 263.

82

sakit terus menerus sampai mati, atau dengan memotong jari-jari

seseorang sehingga menjadi luka dan membawa pada kematian

2. Pembunuhan menyerupai sengaja (qatl syibh al-„amd)

Yaitu menyengaja suatu perbuatan aniaya terhadap orang lain,

dengan alat yang pada umumnya tidak mematikan, seperti memukul

dengan batu kecil, tangan, cemeti, atau tongkat yang ringan, dan antara

pukulan yang satu dengan yang lainnya tidak saling membantu,

pukulannya bukan pada tempat yang vital (mematikan), yang dipukul

bukan anak kecil atau orang yang lemah, cuacanya tidak terlalu

panas/dingin yang dapat mempercepat kematian, sakitnya tidak berat dan

menahun sehingga membawa pada kematian, jika tidak terjadi kematian,

maka tidak dinamakan qatl al-„amd, karena umumnya keadaan seperti itu

dapat mematikan

3. Pembunuhan Karena Kesalahan (qatl al-khata‟)

Yaitu pembunuhan yang terjadi dengan tanpa adanya maksud

seseorang melempari pohon atau binatang tetapi mengenai manusia (orang

lain), kemudian mati.83

Sedangkan menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud pembunuhan

sengaja adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang mukallaf

kepada orang lain yang darahnya terlindungi, dengan memakai alat yang

pada umumnya dapat menyebabkan mati.84 Menurut Abdul Qadir „Audah,

pembunuhan sengaja adalah perbuatan menghilangkan nyawa orang lain

yang disertai dengan niat membunuh, artinya bahwa seseorang dapat

dikatakan sebagai pembunuh jika orang itu mempunyai kesempurnaan

untuk melakukan pembunuhan. Jika seseorang tidak bermaksud

membunuh, semata-mata hanya menyengaja menyiksa, maka tidak

dinamakan dengan pembunuhan sengaja, walaupun pada akhirnya orang

itu mati. Hal ini sama dengan pukulan yang menyebabkan mati (masuk

dalam katagori syibh „amd).85

Mengenai perbuatan-perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai

tindak pidana pembunuhan yaitu86 :

a. Pembunuhan dengan muhaddad, yaitu seperti alat yang tajam, melukai,

dan menusuk badan yang dapat mencabik-cabik anggota badan.

83

Ibn Qudamah, al-Mugni, cet. ke-1 (Riyad: Maktabah ar-Riyad al-Hadisah, t.t.) VIII : 636-640, lihat juga Haliman, Hukum Pidana Syari‟at Islam Menurut Ahlus Sunnah, cet.1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1972 ), hlm. 152-153.

84

Sayyid Sabiq, Fiqh., II : 435.

85Abdul Qadir „Audah, at-Tasyri‟i., II : 10.

86

Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid, cet. ke-2 ( Beirut: Dar al-Fikr, 1981 ) II : 232.

b. Pembunuhan dengan musaqqal, yaitu alat yang tidak tajam, seperti

tongkat dan batu. Mengenai alat ini fuqaha berbeda pendapat apakah

termasuk pembunuhan sengaja yang mewajibkan qisas atau syibh „amd

yang sengaja mewajibkan diyat.

c. Pembunuhan secara langsung, yaitu pelaku melakukan suatu perbuatan

yang menyebabkan matinya orang lain secara langsung (tanpa

perantaraan), seperti menyembelih dengan pisau, menembak dengan

pistol, dan lain-lain.

d. Pembunuhan secara tidak langsung (dengan melakukan sebab-sebab yang

dapat mematikan). Artinya dengan melakukan suatu perbuatan yang pada

hakikatnya (zatnya) tidak mematikan tetapi dapat menjadikan perantara

atau sebab kematian.

Adapun sebab-sebab yang mematikan itu ada tiga macam,87 yaitu :

1) Sebab Hissiy (perasaan/psikis) seperti paksaan untuk membunuh.

2) Sebab Syar‟iy, seperti persaksian palsu yang membuat terdakwa

terbunuh, keputusan hakim untuk membuat seseorang yang diadilinya

dengan kebohongan atau kelicikan (bukan karena keadilan) untuk

menganiaya secara sengaja.

87

Muhammad Ibnu Ahmad al-Khatib asy-Syarbaini, Mugni al-Muhtaj ( Mesir: Mustafa al-Bab al-Halabi wa Aulad, 1958), IV : 6.

3) Sebab „Urfiy, seperti menyuguhkan makanan beracun terhadap orang

lain yang sedang makan atau menggali sumur dan menutupinya

sehingga ada orang terperosok dan mati.

e. Pembunuhan dengan cara menjatuhkan ke tempat yang membinasakan,

seperti dengan melemparkan atau memasukkan ke kandang srigala,

harimau, ular dan lain sebagainya.

f. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan dan membakar.

g. Pembunuhan dengan cara mencekik.

h. Pembunuhan dengan cara meninggalkan atau menahannya tanpa

memberinya makanan dan minuman.

i. Pembunuhan dengan cara menakut-nakuti atau mengintimidasi.

Pembunuhan tidak hanya terjadi dengan suatu perbuatan fisik, karena terjadi juga melalui perbuatan ma‟nawi yang berpengaruh pada psikis

seseorang, seperti menakut-nakti, mengintimidasi dan lain sebagainya. Dalam syari‟at Islam, pembunuhan diatur di dalam al-Qur‟an maupun

Artinya: "Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min, kecuali karena tersalah, dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya, kecuali jika mereka bersedekah. Jika ia dari kaum yang ada perjanjian antara mereka dengan kamu, maka membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. an-Nisa ayat 92).

Juga firman Allah SWT;

Artinya: "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya" (QS. an-Nisa ayat 93)

88

Artinya; "Telah mengabarkan kepada kami dari Abu Bakr bin Abu Ayaibah dari Hafs bin Giyas dan Abu Muawiyah dan Waki' dari al-A'masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah berkata: telah bersabda Rasulullah saw.: Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya saya Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara: (1) duda yang berzina (zina muhshan), (2) membunuh jiwa, dan (3) orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jama'ah". (HR. Muslim).

3. Sanksi Tindak Pidana Pembunuhan dalam Hukum Islam

Sebagaimana telah diutarakan bahwa pembunuhan dibagi kepada tiga

bagian, yaitu pembunuhan sengaja, pembunuhan menyerupai sengaja, dan

pembunuhan karena kesalahan :

a. Hukuman Untuk Pembunuhan Sengaja

Pembunuhan sengaja dalam syariat Islam diancam dengan beberapa

macam hukuman, sebagian merupakan hukuman pokok dan pengganti, dan

sebagian lagi merupakan hukuman tambahan. Hukuman pokok untuk

pembunuhan sengaja adalah qisâs dan kifarat, sedangkan penggantinya adalah

diat dan ta'zir. Adapun hukuman tambahannya adalah penghapusan hak waris

dan hak wasiat.

88

Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahîh Muslim, Juz. III, Mesir: Tijariah Kubra, tth. hlm. 106.

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qisâs berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, baginya siksa yang sangat pedih". (QS. Al-Baqarah: 178).89

(1) Hukuman Qisâs

Dalam al-Mu'jam al-Mufahras li Alfâz Al-Qur'ân al-Karîm, kata qisâs

disebutkan dalam dua surat sebanyak empat ayat yaitu al-Baqarah ayat 178,

179, 194; dan dalam surat al-Ma'idah ayat 45.90 Secara harfiah, kata qisâs

dalam Kamus Al-Munawwir diartikan pidana qisâs.91 Pengertian tersebut

digunakan untuk arti hukuman, karena orang yang berhak atas qisâs

mengikuti dan menelusuri jejak tindak pidana dari pelaku. Qisâs juga

89

Ibid., hlm. 70.

90

Muhammad Fuâd Abdul Bâqy, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfâz Al-Qur'ân al-Karîm, Beirut: Dâr al-Fikr, 1981, hlm. 546.

91

Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 1126.

diartikan: , yaitu keseimbangan dan kesepadanan.92 Dari pengertian

Dokumen terkait