BAB II KAJIAN TEOR
2.2 Tataran Sintaksis 1 Kelas kata
2.2.1.2 Jenis Josh
Pengelompokkan joshi oleh beberapa pakar berbeda-beda. Hirai (1982:161 dalam Sudjianto, 2004:181) membagi joshi ke dalam empat jenis, yaitu
a. Kakujoshi 格助詞
Kakujoshi pada umumnya dipakai setelah nomina untuk menunjukkan hubungan antara nomina tersebut dengan kata lain. Yang termasuk ke dalam kakujoshi adalah Ga, No, O, Ni, E, To, Yori, Kara, De, dan Ya.
b. Setsuzokujoshi 接続助詞
Setsuzokujoshi dipakai setelah yoogen (doushi/kata kerja, i-keiyoushi/kata sifat i, dan na- keiyoushi/kata sifat na) atau setelah jodoushi untuk melanjutkan kata-kata yang ada sebelumnya terhadap kata-kata yang ada pada bagian berikutnya, diantaranya: -ba, to, keredo, -temo, -nagara, -tari, dan lain-lain.
c. Fukujoshi 副助詞
Fukujoshi dipakai setelah berbagai macam kata. Seperti adverbia, fukujoshi berkaitan erat dengan bagian kata berikutnya. Joshi yang termasuk jenis ini adalah wa, mo, ka, koso, sae, demo, shika, dan lain-lain.
d. Shuujoshi 終助詞
Shuujoshi pada umumnya dipakai setelah berbagai macam kata pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan suatu pertanyaan, larangan, seruan, rasa haru, dan sebagainya. Joshi yang termasuk pada jenis ini adalah Ka, Kashira, Na, Naa, Zo, Ne, Yo, dan sebagainya.
Sementara itu, Tanaka (1990:27) membagi joshi/partikel ke dalam enam kelompok, yaitu menambahkan dua kelompok dari pembagian joshi menurut Hirai di atas, yakni:
e. Kakarijoshi 係助詞
Partikel ini berfungsi untuk menerangkan kata tertentu sebagai penekanan dalam kalimat. Partikel yang termasuk golongan ini adalah Wa, Mo, Koso, dan Shika.
f. Kantoujoshi 冠等助詞
Partikel ini berfungsi untuk memberikan penekanan pada suatu kata dan memisahkan kata tersebut dengan kata lain dalam kalimat. Partikel yang termasuk golongan ini, yaitu: Ne, Sa, Yo
Sedangkan, dalam buku referensi yang diterbitkan The National Research Institute, joshi terbagi ke dalam 8 jenis, diantaranya: kakujoshi 格助詞, fukujoshi 副助詞, kakarijoshi
係助詞, setsuzokujoshi 接続助詞, heiritsujoshi 並立助詞, juntaijoshi 準体助詞, shuujoshi 終助詞, toitoujoshi 問投助詞.
2.2.2 Frase
Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook, 1971:91; Elson dan Pickett, 1969:73 dalam Putrayasa, 2010:2). Sementara itu, Ramlan (1981:151) menyatakan bahwa frase ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur
klausa. Yang dimaksud dengan batas fungsi di sini adalah fungsi subjek (S) dan fungsi predikat (P). oleh sebab itu, frase tidak bersifat predikatif.
Berdasarkan kategorinya frase terbagi atas:
a. Frase nominal yaitu frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal, misalnya: baju baru, mahasiswa lama, yang akan pergi, dll. Frase nominal bisa terdiri atas:
b. Frase Verbal ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal, misalnya: dua orang mahasiswa sedang membaca
c. Frase Bilangan yaitu frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan, misalnya: dua buah, tiga ekor
d. Frase Keterangan yaitu frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan, misalnya: tadi malam, kemarin pagi
e. Frase Depan yaitu frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti frase atau kata sebagai aksinya, misalnya: di sebuah rumah, dengan sangat tenang, sejak tadi pagi.
Dilihat dari hubungan kedua unsurnya, frase terbagi atas:
- Frase endosentrik yaitu frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semuanya maupun salah satu unsurnya. Frase endosentrik dapat dibagi atas:
a. Frase endosentrik yang koordinatif yaitu frase yang unsur-unsurnya setara dan dapat dihubungkan dengan kata penghubung seperti dan, atau, misalnya: suami istri = suami dan istri, belajat atau bekerja
b. Frase endosentrik yang atributif yaitu terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara, sehingga tidak bisa dihubungkan dengan konjungsi seprti dan, atau, misalnya: mala mini, sekolah Inpres
c. Frase endosentrik yang apositif yaitu frase yang berbeda dengan frase-frase sebelumnya. Dalam frase ini sebuah kata merupakan penjelas dari kata sebelumya, sehingga secara makna sama dan dapat saling menggantikan, misalnya: Yogya, kota pelajar Indonesia, tanah airku.
- Frase Eksosentrik adalah frase yang tidak memiliki distrubusi yang sama dengan semua unsurnya.
2.2.3 Klausa
Klausa merupakan frase yang mengandung satu unsur predikat (Cook, 1971 dalam Suhardi, 2013:41). Ramlan (1981:89) mendefinisikan frase sebagai satuan gramatik yang terdiri dari predikat (P), baik disertai unsur lain yang berfungsi sebagai subjek (S), objek (O), pelengkap (O), keterangan (Ket) atau tidak. Klausa dapat dibedakan berdasarkan kategori dan tipe kategori yang menjadi predikatnya, yaitu:
a. Klausa Nominal yaitu klausa yang predikatnya berkategori nomina, misalnya: kakeknya orang batak.
b. Klausa Verbal yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba, dan dapat dibagi berdasarkan beberapa tipe verbanya, yaitu: Klausa verbal transitif, Klausa verbal intransitif. Misalnya, Polisi menangkap pencuri
c. Klausa Ajektifal yaitu klausa yang predikatnya berkategori ajektifa, misalnya: Nenekku masih cantik.
d. Klausa Preposisional yaitu klausa yang predikatnya berkategori preposisi, misalnya: Nenek ke Jakarta.
e. Klausa Numeral yaitu klausa yang predikatnya berkategori numeralia, misalnya: Simpanannya lima juta.
Sementara itu, tipe klausa dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya unsur negatif pada predikatnya yang terbagi atas klausa positif dan klausa negatif (Suhardi, 2013:44). Klausa positif adalah klausa yang tidak memiliki kata negasi atau pengingkaran pada predikatnya, sedangkan klausa negatif adalah klausa yang mengandung kata negasi atau pengingkaran pad predikatnya. Dalam bahasa Indonesia contoh kata negasi, diantaranya: tidak, bukan, tak, tiada, jangan, serta non. Sedangkan berdasarkan distribusinya, klausa dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu:
- Klausa bebas adalah klausa yang telah mampu berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna. Artinya, klausa tersebut tidak bergantung atau tidak menjadi bagian yang terikat dari kontruksi yang lebih besar.
- Klausa terikat adalah klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna. Klausa ini biasanya bergantung atau merupakan bagian yang terikat dengan kontruksi yang lebih besar.
Kalimat adalah suatu kumpulan atau rangkaian kata yang mengandung pengertian dan menyatakan pikiran lengkap (Alijasbana, 1949). Sebuah kontruksi disebut kalimat jika kontruksi tersebut memiliki intonasi final. Bila belum diberi intonasi final, maka susunan kata itu masih berupa klausa.
Berdasarkan kategori klausanya, kalimat dibedakan atas:
a. Kalimat verbal yaitu kalimat yang predikatnya berupa verba/frase verbal. b. Kalimat ajektifal yaitu kalimat yang predikatnya ajektifa/frase ajektifal. c. Kalimat nominal yaitu kalimat yang predikatnya nomina/frase nominal.
d. Kalimat preposisional yaitu kalimat yang predikatnya berupa frase preposisional. e. Kalimat numeral yaitu kalimat yang predikatnya berupa numeralia/frase numeral. f. Kalimat adverbial yaitu kalimat yang predikatnya berupa adverbial/frase adverbial
Sementara itu, berdasarkan jumlah klausanya dibedakan atas: a. Kalimat sederhana yaitu kalimat yang dibangun oleh sebuah klausa.
b. Kalimat bersisipan yaitu kalimat yang pada salah satu fungsinya disisipkan sebuah klausa sebagai penjelasnya.
c. Kalimat majemuk rapatan yaitu kalimat majemuk yang terdiri dari dua klausa atau lebih dimana ada fungsi-fungsi klausa yang dirapatkan karena merupakan substansi yang sama.
d. Kalimat majemuk setara yaitu kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih dan memiliki kedudukan yang setara.
e. Kalimat majemuk beertingkat yaitu kalimat yang terididari dua klausa atau lebih yang kedudukannya tidak setara.
f. Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yang tersiri dari dua atau lebi klausa yang didalamnya terdapat hubungan setara dan bertingkat.
Selain itu, berdasarkan modusnya, kalimat terbagi atas: a. Kalimat Berita (deklaratif)
Kalimat berita tidak bermarkah khusus bila dibandingkan dengan kalimat yang lain. Bentuk ini digunakan pembicara untuk atau penulis untuk membuat pernyataan, sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Dalam bentuk tulisan, jenis kalimat ini diakhiri dengan titik dan intonasi datar/turun.
b. Kalimat Tanya (interogatif)
Alwi et al. (2000:357-362) menyatakan bahwa kalimat interogatif dihadiri oleh pronominal penanya, seperti apa, siapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Dalam bentuk tulis, kalimat ini ditandai oleh tanda Tanya (?), sedangkan dalam bentuk lisan digunakan intonasi naik. Bentuk ini berfungsi untuk meminta jawaban ya atau tidak, serta meminta informasi mengenai sesuatu hal pada lawan bicara.
Ramlan (2001:39-43) menyatakan bahwa kalimat suruh mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak bicara. Sementara, Alwi et al. (2000:353-357) menyatakan bahwa kalimat imperatif ditandai dengan intonasi nada rendah di akhir kalimat, adanya pemakaian partikel penegas, penghalus, atau partikel yang mengandung ajakan, harapan, atau permohonan, umumnya bersususnan inversi, serta pelaku tidak selalu terungkap.
d. Kalimat Seruan (interjektif)
Kalimat interjektif atau ada juga yang menyatakan sebagai kalimat ekslamatif merupakan kalimat yang digunakan untuk menyatakan perasaan kagum dan heran. Secara formal kalimat ini ditandai dengan kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat ajektival.