HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Penggunaan Obat per Pasien
4.2.2 Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, persentase jumlah penggunaan obat berdasarkan jenis kelamin pada pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini:
Tabel 4.4 Karakteristik jumlah penggunaan obat berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin Jumlah pasien Jumlah obat Rata-rata obat per
pasien
Laki-laki 175 862 4,92
Perempuan 188 1053 5,60
Total 363 1.915 5,27
Berdasarkan Tabel 4.4, dapat dilihat bahwa total penggunaan obat pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan jenis kelamin sebanyak 1.915 obat dengan rata-rata penggunaan obat adalah 5,27 dengan mayoritas penggunaan obat adalah berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 188 pasien sebanyak 1.053 obat (5,6%). Nilai rata-rata jumlah obat per lembar resep pada penelitian ini tidak sesuai dengan nilai standar yang ditetapkan oleh
41
WHO yaitu antara 1,6-1,8 per lembar resepnya. Hal ini menunjukkan adanya peresepan polifarmasi pada pasien geriatri rawat jalan baik laki-laki maupun perempuan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.
4.2.3 Usia
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, persentase jumlah penggunaan obat berdasarkan usia pada pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 4.5 di bawah ini:
Tabel 4.5 Karakteristik jumlah penggunaan obat berdasarkan usia Usia Jumlah pasien Jumlah obat Rata-rata obat
per pasien
60-69 tahun 197 1020 5,17
70-79 tahun 138 750 5,43
≥ 80 tahun 28 145 5,17
Total 363 1.915 5,27
Berdasarkan Tabel 4.5, dapat dilihat bahwa total penggunaan obat pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan usia sebanyak 1.915 obat dengan rata-rata penggunaan obat adalah 5,27 dengan mayoritas penggunaan obat adalah berusia 60-69 tahun yang berjumlah 197 pasien sebanyak 1.020 obat (5,17%). Rerata penggunaan obat per pasien berdasarkan usia juga tidak memenuhi nilai standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu sebesar 1,6-1,8. Berdasarkan rerata penggunaan obat per resepnya didapatkan bahwa mayoritas pasien geriatri menerima peresepan polifarmasi.
4.3 Hubungan antara Karakteristik Pasien dengan Jumlah Penggunaan Obat Berdasarkan Tabel 4.6 didapatkan bahwa jumlah item yang digunakan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap karakteristik pasien geriatri yaitu
42
diagnosis. Hal ini ditunjukkan dari nilai p variabel faktor karakteristik pasien yaitu diagnosis adalah 0,000 (sig < 0,05).
Tabel 4.6 Hubungan antara karakteristik pasien dengan jumlah penggunaan obat Karakteristik geriatri tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap jumlah item obat yang digunakan. Hal ini didasari oleh nilai p dari variabel karakteristik pasien yaitu jenis kelamin dan usia lebih besar dari 0,05.
Berdasarkan Tabel 4.6 didapatkan bahwa jumlah diagnosis pasien memiliki hubungan yang signifikan terhadap jumlah item obat yang digunakan. Hal ini didasari oleh nilai p dari variabel karakteristik pasien yaitu diagnosis lebih kecil dari 0,05. Menurut Anorital (2015), kelompok populasi lansia umumnya menderita
≥ 2 penyakit. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Dasopang dkk.
(2015) yang menyatakan bahwa jumlah penggunaan obat pada pasien geriatri
43
dipengaruhi oleh diagnosis yang dialami. Hal ini disebabkan karena seiring bertambahnya usia terjadi penurunan fungsi fisiologis yang menyebabkan banyaknya penyakit yang dideritanya sehingga meningkatkan jumlah penggunaan obat atau terjadi peresepan polifarmasi untuk mengobati masing-masing penyakit yang dialami oleh pasien geriatri. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pasien geriatri mengalami multipenyakit yang beragam sehingga memerlukan banyak obat. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa sebanyak 15 pasien melakukan kunjungan ke 2 poliklinik sehingga meningkatkan jumlah obat yang diterimanya (Zulkarnaini dan Martini, 2019).
4.4 Persentase Penggunaan Obat Pasien Geriatri Berdasarkan Golongan Obat Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap pola penggunaan obat pada pasien geriatri jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan obat yang paling banyak digunakan merupakan simvastatin (golongan antihiperlipidemia) sebanyak 140 obat (7,31%). Data lengkap penggunaan obat pada pasien geriatri rawat jalan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini:
Tabel 4.7 Persentase penggunaan obat pada pasien geriatri
No. Nama obat Jumlah obat Persentase (%)
1. Simvastatin 140 7,31
2. Candesartan 130 6,78
3. Amlodipin 123 6,42
4. Bisoprolol 112 5,84
5. Asam asetilsalisilat 88 4,59
6. Nitrogliserin 81 4,22
7. Omeprazole 81 4,22
8. Vitamin B kompleks 81 4,22
9. Gabapentin 69 3,60
10. Furosemide 57 2,97
11. Insulin 53 2,76
12. Metformin 53 2,76
13. Spironolactone 53 2,76
44
27. Budenoside + formoterol fumarat
47. Salmeterol maleat + flutikason propionat
45
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap pola penggunaan obat pada pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan golongan obat didapatkan total penggunaan obat pada pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara sebanyak 1.915 jenis obat dengan rata-rata jumlah obat yang diresepkan per resep adalah 5,27 (5) obat. Golongan obat yang paling banyak digunakan adalah golongan antihipertensi sebesar 557 obat (29,02%) diikuti oleh obat golongan antasida/antitukak 159 obat (8,27%), antidiabetes 157 obat (8,16%), dan antihiperlipidemia 155 obat (8,08%). Data lengkap penggunaan obat berdasarkan golongan obat dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini:
Tabel 4.8 Karakteristik penggunaan obat berdasarkan golongan obat No. Golongan
c. β-blocker - Bisoprolol - Propranolol
d. Diuretik - Diuretik loop (Furosemide)
46
a. Statin - Simvastatin - Atorvastatin
47
48
a. β-agonist - Salbutamol - Fenoterol
c. Metilxantin - Teofilin (Retaphyl SR®)
9 0,46
49
a. Mukolitik - Ambroksol - Asetilsistein
15. Antimikroba a. Antibiotik - Makrolida (Azitromicin)
50
b. Antijamur - Ketoconazole - Itraconazole
Jumlah seluruh obat 1.915 100
Berdasarkan Tabel 4.8, didapatkan bahwa obat golongan antihipertensi merupakan golongan obat yang paling banyak diresepkan yaitu sebesar 557 obat (29,02%) dengan rata-rata penggunaan obat golongan antihipertensi per pasien adalah 1,53 obat. Hal ini sejalan dengan hasil diagnosis dimana pasien geriatri hipertensi memiliki persentase tertinggi yaitu sebanyak 104 pasien (28,65%).
Resiko hipertensi yang tinggi pada geriatri berkaitan dengan pertambahan usia
51
dimana terjadi perubahan pada fisiologis jantung dan pembuluh darah. Elastisitas pembuluh arteri dan sensitifitas baroreseptor menurun seiring bertambahnya usia sehingga akan berkontribusi dalam meningkatkan tekanan darah. Salah satu tanda hipertensi pada geriatri adalah peningkatan resistensi pada pembuluh darah (Fajar dkk., 2020; Nishandar dkk., 2017).
Golongan antihipertensi yang paling banyak diresepkan merupakan calcium channel blocker (CCB) yaitu sebanyak 160 obat (8,35%) dimana amlodipin merupakan obat golongan CCB yang paling banyak diresepkan yaitu sebesar 123 obat (6,42%) diikuti dengan obat nifedipin sebanyak 37 obat (1,93%). Hasil ini serupa dengan penelitian sebelumnya di salah satu RSUD di Lampung dimana obat golongan CCB seperti amlodipin merupakan obat yang paling banyak diresepkan (13,72%) untuk pasien geriatri. Menurut JNC VIII (2014), obat antihipertensi lini pertama yang digunakan pada pasien geriatri adalah golongan CCB dihidropiridin kerja lama (Herawati dkk., 2021). Penggunaan obat CCB dapat merelaksasi otot jantung dan otot polos sehingga saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan akan terhambat. Hal ini akan menurunkan masuknya kalsium ekstraseluler ke dalam sel menjadi berkurang sehingga tekanan darah akan menurun (Alaydrus dan Toding, 2019). Amlodipin dipilih sebagai terapi lini pertama karena resiko efek samping seperti vasodilatasi lebih kecil dibanding golongan CCB lain. Amlodipin juga memiliki waktu paruh yang panjang sehingga dapat diberikan dosis sekali sehari. Hal ini dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan (Utami dkk., 2020). Selain itu, obat antihipertensi seperti golongan angiotensin II receptor blockers (ARB) (7,96%) dan β-blocker (5,89%) juga banyak diresepkan
52
pada penelitian ini dimana candesartan dan bisoprolol merupakan obat golongan β-blocker yang paling banyak diresepkan dalam penelitian ini.
Obat gangguan pencernaan seperti antasida dan antitukak juga memiliki prevalensi penggunaan yang tinggi meskipun diagnosis gangguan pencernaan memiliki prevalensi yang rendah pada penelitian ini. Pada penelitian ini penggunaan obat antasida dan antitukak memiliki persentase sebesar 159 obat (8,27%) dimana omeprazole (golongan proton pump inhibitor) merupakan obat golongan antasida/antitukak yang paling banyak digunakan. Hal ini serupa dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa obat gangguan pencernaan (obat penekan asam lambung) memiliki prevalensi yang tinggi pada geriatri yaitu 24,4%
meskipun prevalensi geriatri yang menderita gangguan pencernaan seperti tukak rendah (Sumithira dkk., 2019). Penggunaan obat golongan antasida/antitukak umumnya diindikasikan sebagai terapi profilaksis tukak lambung akibat penggunaan obat golongan NSAID seperti aspirin yang dapat menginduksi tukak.
Namun, terapi profilaksis ini tidak perlu diberikan pada geriatri yang menggunakan NSAID jangka pendek ataupun pasien geriatri yang tidak memiliki riwayat tukak lambung. Hal ini dapat mengindikasikan adanya penggunaan obat yang tidak rasional (Desai dan Sattigeri, 2019).
Mekanisme obat golongan PPI dalam menghambat sekresi asam lambung adalah dengan memblok proton pump atau H+, K+-ATPase di sel parietal lambung.
Berdasarkan literatur, obat antasida/antitukak golongan PPI lebih efektif dalam mencegah terjadinya tukak lambung. Selain itu, obat antasida/antitukak golongan pelindung mukosa seperti sukralfat (1,82%) juga banyak digunakan dalam penelitian. Sukralfat dapat meningkatkan sintesis prostaglandin, merangsang
53
sekresi mukus dan bikarbonat serta meningkatkan mekanisme pertahanan mukosa (Widyaningrum, 2017).
Obat yang banyak diresepkan berikutnya adalah golongan antidiabetes sebanyak 157 obat (8,16%) dimana insulin dan metformin merupakan golongan antidiabetes yang paling banyak diresepkan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang meyatakan bahwa obat antidiabetes yang paling sering digunakan oleh lansia adalah golongan biguanida (metformin) sebesar 39% (Sugiyanto dan Hasana, 2020). Kondisi pasien dan tingkat keparahan penyakit merupakan faktor yang mempengaruhi pemilihan obat antidiabetes. Pengobatan lini pertama untuk pasien diabetes melitus merupakan obat golongan biguanida yaitu metformin. Hal ini disebabkan karena metformin efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah tanpa meningkatkan berat badan pasien terutama pada pasien diabetes yang obesitas serta efek hipoglikemik dan biaya pengobatan dengan metformin lebih rendah dibandingkan dengan golongan antidiabetes lain (Maulidya dan Oktianti, 2021).
Selain itu, insulin juga memiliki prevalensi penggunaan yang tinggi pada penelitian ini. Insulin dianggap efektif dalam menjaga kadar glukosa darah tetap dalam ambang normal dengan onset kerja yang cepat dan menjaga fungsi sel β pankreas pada pasien diabetes melitus tipe 2 tetapi bukan terapi lini pertama diabetes melitus.
Insulin dibutuhkan apabila antidiabetes oral tunggal ataupun kombinasi tidak dapat mengontrol kadar glukosa darah pasien diabetes melitus secara efektif. Selain itu, insulin juga digunakan pada pasien yang mengalami hiperglikemia berat disertai ketosis (Mulyani, 2016).
Obat antihiperlipidemia juga merupakan obat yang banyak digunakan berikutnya pada pasien geriatri rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Sumatera
54
Utara sebanyak 155 obat (8,08%) dimana penggunaan obat golongan statin (simvastatin) merupakan yang paling banyak digunakan sebanyak 143 obat (7,46%). Hasil ini serupa dengan penelitian sebelumnya di RSUD Dr. Pirngadi Medan dimana obat golongan statin adalah obat antihiperlipidemia yang paling sering digunakan. Statin merupakan terapi lini pertama hiperlipidemia karena paling efektif dan memiliki toleransi yang baik bagi pasien (Hasibuan, 2018).
Hiperlipidemia atau hiperkolesterolemia adalah kondisi dimana terjadi peningkatan kadar lemak (kolesterol total, kolesterol LDL) dan penurunan kadar kolesterol HDL di dalam darah di atas ambang normal (Prastiwi dkk., 2021). Pasien geriatri beresiko lebih tinggi mengalami hiperlipidemia karena terjadi akumulasi lemak di dalam tubuh seiring bertambahnya usia dan didukung oleh gaya hidup kurang gerak, konsumsi makanan tinggi lemak, dan merokok (Nur dkk., 2021).
Pasien geriatri berpotensi terjadi penggunaan obat yang tidak tepat. Menurut American Geriatrics Assosiation (2019), terdapat 3 kategori obat yang penggunaannya harus diperhatikan pada pasien geriatri. Kategori 1 adalah obat yang harus dihindari oleh pasien geriatri. Kategori 2 adalah obat yang harus dihindari penggunaanya pada pasien geriatri yang menderita penyakit tertentu.
Kategori 3 adalah obat yang dapat diberikan kepada pasien geriatri tetapi dengan perhatian khusus (Negara dkk., 2016).
Amitriptilin merupakan salah satu obat yang berpotensi tidak tepat digunakan pada pasien geriatri dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan adanya efek antikolinergik kuat, sedasi, dan hipotensi ortostatik. Efek antikolinergik tersebut akan menyebabkan pasien geriatri kebingungan (linglung), halusinasi, dan delirium. Selain itu, obat nifedipin juga harus diperhatikan penggunaannya pada
55
pasien geriatri karena dapat menyebabkan hipotensi ortostatik pada pasien geriatri (AGS, 2019).
Penggunaan obat golongan NSAID dalam penelitian ini tergolong tinggi baik sebagai analgesik (2,61%) maupun sebagai antiplatelet (4,59%). Indikasi penggunaan analgesik golongan NSAID pada pasien geriatri umumnya untuk megurangi nyeri sendi akibat osteoarthritis dimana penyakit ini berkembang dengan lambat. Osteoarthritis banyak terjadi pada pasien geriatri akibat adanya perubahan kolagen dan penurunan sintesis proteoglikan sehingga tulang dan sendi menjadi kurang elastis, menipis, dan rusak sehingga pasien akan merasakan nyeri dan kaku pada sendi (Anggriani dkk., 2016). Selain itu, penggunaan obat golongan NSAID sebagai antiplatelet seperti asam asetilsalisilat juga cukup tinggi dalam penelitian ini. Pengggunaan jangka panjang obat golongan NSAID meningkatkan resiko stress ulcer pada pasien geriatri karena pada seiring bertambahnya usia terjadi perubahan faktor protektif dari mukosa lambung dan usus sehingga meningkatkan resiko ulcer bleeding. Perdarahan saluran cerna ini dapat terjadi saat mengkonsumsi aspirin dosis rendah (75-325 mg). Namun resiko tersebut dapat diminimalisir dengan peresepan obat golongan PPI, ARH2, ataupun sukralfat (Togu dkk., 2021).
Penggunaan NSAID juga harus dihindari pada pasien geriatri yang mengalami gagal jantung. Hal ini karena pada pasien geriatri gagal jantung terjadi vasokonstriksi vaskular dan pengaktifan sistem simpatis sehingga tubuh melakukan mekanisme untuk vasodilatasi dengan melepaskan prostaglandin. Namun, penggunaan NSAID akan menyebabkan pelepasan prostaglandin menjadi terhambat sehingga memperburuk kondisi gagal jantung pada pasien geriatri. Selain itu, penggunaan obat antipsikotik seperti diazepam harus diperhatikan
56
penggunaannya karena berpotensi menyebabkan hiponatremia. Oleh karena itu, perlu pemantauan kadar natrium saat memulai atau mengubah regimen dosis terutama pada pasien geriatri (Negara dkk., 2016).
4.5 Persentase Penggunaan Obat Pasien Geriatri Berdasarkan Bentuk