Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya yang disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi dan anak. Tahapan tersebut adalah :
1. Makanan bayi berumur 0-4 bulan a. Hanya ASI saja (ASI Eksklusif)
b. Hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama pada 30 menit pertama setelah melahirkan.
c. Dengan menyusui akan terbina hubungan kasih saying antara ibu dan anak
d. Berikan kolostrum, karena mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang dibutuhkan bayi.
e. Berikan ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi. 2. Makanan bayi berumur 4-6 bulan
a. Pemberian ASI tetap diteruskan sesuai keinginan anak.
b. Bentuk makanan lumat, halus, aktivitas bayi sudah mempunyai reflex mengunyah
c. Contoh makanan lumat antara lain psang yang dilumatkan, papaya yang dilumatkan, biscuit yang ditambahkan air susu, bubur susu. d. Diberikan 2 kali sehari, setiap kali pemberian 2 sendok makan
sedikit demi sedikit.
e. Diberikan sambil mengajak bicara kepada bayi untuk menimbulkan sentuhan kasih saying.
f. Jangan sekali-kali MP-ASI diberikan dengan dot sambil tiduran karena dapat menyebabkan infeksi telinga.
3. Makanan bayi berumur 6-9 bulan a. Pemberian ASI tetap diteruskan
b. Bentuk makanan lumat karena alat cerna bayi sudah lebih berfungsi, contoh : nasi tim, bubur susu.
c. Berikan 2 kali sehari setelah diberikan ASI. d. Porsi tiap pemberian sebagai berikut :
• Pada umur 6 bulan : 6 sendok makan
• Pada umur 7 bulan : 7 sendok makan
• Pada umur 8 bulan : 8 sendok makan
• Untuk menambah nilai gizi, nasi tim dapat ditambah sumber zat lemak sedikit demi sedikit, seperti santan, margarine, minyak kelapa.
• Bila bayi masih lapar, ibu dapat menambahnya. 4. Makanan bayi umur 9-12 bulan
a. Pemberian ASI tetap diberikan
b. Pada umur ini bayi diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap dengan takaran yang cukup.
c. Bentuk makanan lunak.
d. Berikan makanan selingan satu kali sehari.
e. Makanan selingan usahakan bernilai tinggi seperti bubur kacang hijau, bubur sumsum.
f. Biasakan mencampurkan berbagai lauk pauk dan sayuran kedalam makanan lunak secara berganti-ganti.
g. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini berpengaruh baik dalam kebiasaan makan.
5. Makanan bayi umur 12-24 bulan :
a. Frekuensi pemberian ASI dikurangi sedikit demi sedikit.
b. Susunan makanan terdiri dari makanan pokok lauk-pauk sayuran dan buah.
c. Besar porsi adalah separuh dari makanan orang dewasa. d. Gunakan angka ragam bahan makanan setiap harinya. e. Diberikan sekurang-kurangnya tiga kali sehari. f. Berikan makanan selingan dua kali sehari.
g. Anak dilatih untuk makan dan cuci tangan sendiri.
h. Biasakan anak mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan. i. Biasakan anak makan bersama-sama keluarga (Nadesul, 2007) 2.1.3 Kerugian-kerugian yang potensial dari pengenalan Makanan
Menurut Suhardjo (1992) ada beberapa akibat kurang baik dari pengenalan makanan dini yaitu : gangguan menyusui, beban ginjal yang terlalu berat sehingga mengakibatkan hyperosmolaritas plasma, alergi terhadap makanan, dan mungkin gangguan terhadap pengaturan selera makan. Makanan alamiah, bahan makanan tambahan dan pencemaran makanan tertentu juga dapat dirugikan.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai akibat-akibat yang disebabkannya : 1. Gangguan penyusuan
Suatu hubungan sebab akibat antara pengenalan/ pemberian makanan tambahan yang dini dan penghentian penyusuan, belum dibuktikan. Pada umumnya bayi-bayi yang menyusui mendapat makanan tambahan pada umur yang lebih kemudian, dan dalam jumlah yang lebih kecil dari pada bayi-bayi yang mendapat susu formula.
2. Beban ginjal yang berlebihan dan hyperosmolaritas
Makanan padat, baik yang dibuat sendiri di pabrik, cenderung untuk mengandung kadar natrium klorida (NaCl) tinggi, yang akan menambah beban ginjal. Beban tersebut masih ditambah oleh makanan tambahan yang mengandung daging.
Bayi-bayi yang mendapat makanan padat pada umur yang dini, mempunyai osmolalitas plasma yang lebih tinggi dari pada bayi-bayi yang 100% mendapat air susu ibu dank arena itu mudah mendapat hyperosmolaritas dehidrasi. Hyperosmolaritas penyebab haus yang berlebihan. Meskipun hubungan antara penggunaan natrium klorida (NaCl) dan tingkat tekanan darah belum dibuktikan pada masa bayi, tetapi pengamatan epidemiologis dan data eksperimen pada tikus menyatakan bahwa penggunaan garam pada umur dini dapat dihubungkan dengan perkembangan tekanan darah tinggi yang timbul.
3. Alergi terhadap makanan
Belum matangnya sistem kekebalan dari susu pada umur yang dini, dapat menyebabkan banyak terjadinya alergi terhadap makanan pada masa
kanak-kanak. Alergi pada susu sapi dapat terjadi sebanyak 7,5% dan telah diingatkan bahwa alergi terhadap makanan lainnya seperti jeruk, tomat, ikan, telur, dan serealia bahkan mungkin lebih sering terjadi. Air susu ibu kadang-kadang dapat menularkan penyebab-penyebab alergi dalam jumlah yang cukup banyak untuk menyebabkan gejala-gejala klinis, tetapi pemberian susu sapi atau makanan tambahan yang dini menambah terjadinya alergi terhadap makanan.
Pada bayi yang mendapat air susu ibu (atau susu dari kacang kedelai) telah dilaporkan adanya pengurangan dalam timbulnyaperwujudan-perwujudan alergis, bahkan sampai umur sepuluh tahun, oleh beberapa orang peneliti. Sedangkan peneliti lainnya telah menemukan tidak adanya perbedaan. Suatu perbandingan yang sistematis antara pengaruh dari pemberian makanan tambahan yang dini dan kemudian hari belum dilaporkan. Hasil dari penelitian-penelitian dengan aturan makanan dapat menghindari alergi ternyata berbeda-beda. Walaupun Pada studi prospektif yang dilakukan oleh Anne Zutaver et al yang berjudul “ Timing of Solid Food Introduction in Relation eczema, Asthma, Allergic, Rhinitis, and Food and Inhalant Sensitization at the ge of 6 years” (2006) tidak ditemukannya perbedaan penundaan pemberian MP-ASI pada bayi berumur 4-6 bulan dengan bayi berumur 6 bulan dengan kejadian asma, rhinitis allergic, serta eczema setelah mereka berumur 6 bulan (American Academy of Pediatrics, 2006). Dan bayi yang di berikan makanan pendamping ASI terlalu dini, akan lebih mudah terserang diare (Pediatri, 2008).
4. Gangguan pengaturan selera makan
Makanan padat telah dianggap sebagai penyebab kegemukan pada bayi-bayi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi –bayi yag diberi susu formula adalah lebih berat dari pada bayi-bayi yang mendapat air susu ibu, tetapi apakah perbedaan itu disebabkan karena bayi-bayi yang diberikan susu formula mendapat makanan padat lebih dini, belumlah jelas.
5. Bahan-bahan makanan tambahan yang merugikan
Makanan tambahan mungkin mengandung komponen-komponen alamiah yang jika diberikan pada waktu dini dapat merugikan. Suatu bahan yang lazim adalah sukrosa. Gula ini adalah penyebab kebusukan pada gigi, dan telah dikemukakan bahwa penggunaan gula ini pada umur yang dini dapat membuat anak terbiasa akan makanan yang rasanya manis. Dalam beberapa sayuran seperti bayam dan wortel. Kepekatan yang tinggi dan nitrat dapat terjadi dan menimbulkan bahaya pada bayi-bayi dibawah umur 3-4 tahun, yang mekanisme dalam badan untuk melawan racun belum diketahui.
Banyak dari serealia yang mengandung glutein dapat menambah risiko penyakit perut pada umur yang muda, mungkin juga timbul kesulitan-kesulitan diagnostic, karena sifat tidak mau menerima protein dari susu sapi dapat menyajikan suatu gambaran klinis yang sama dengan gejala-gejala penyakit perut. Juga ada kemungkinan bahwa sensitifitas terhadap glutein dapat ditimbulkan secara lebih mudah pada umur dini. Sekurang-kurangnya pada bayi-bayi yang mendapat susu formula (Suhardjo,1995).
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI dini pada bayi Menurut Lawrence (1994) dan (jelliffe & Jelliffe, 1978:219) dalam Dahlia Simanjuntak (2002) beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku meyusui dan pemberian MP-ASI pada waktu dini adalah faktor :
1. Biologi 2. Sosial budaya 3. Faktor ekonomi 1. Faktor Biologi
Berdasarkan studi tentang pemberian makanan bayi (Ebrahim, 1986 &Winikoff, 1998 & Suharyono, 1994 dalam Dahlia Simanjuntak (2002)), faktor
biologi yang berpengaruh pada keberhasilan menyusui dan pemberian MP-ASI adalah usia ibu, paritas, pemakaian kontrasepsi serta kesehatan bayi dan ibu.
Usia ibu dan paritas berpengaruh pada kelangsungan hidup anak usia satu tahun ke bawah (Moesly & Chen, 1984:32). Pada umumnya kemampuan untuk menyusui pada perempuan yang lebih muda lebih baik dari yang lebih tua. Salah satu faktor penyebab mungkin semacam disuse atrophy (Ebrahim, 1986).
Pada penelitian Winikoff et al di Semarang ditemukan bahwa ibu yang berusia < 20 tahun dan 35 tahun ke atas, lebih banyak yang sudah memberikan susu botol kepada bayinya di usia 4 bulan dibandingkan dengan ibu berusia 20 tahun sampai 34 tahun (Winikoff et al, 198 : 184). Ibu yang menyusui anak ke dua dan selanjutnya cenderung lebih baik dibanding ibu yang mempunyai anak pertama. Ini menunjukkan bahwa untuk menyusui juga diperlukan trial runs (latihan) sebelum dicapai kemampuan yang optimal. Ibu dengan paritas lebih tinggi lebih sedikit memperkenalkan botol pada waktu dini dibandingkan ibu dengan paritas rendah. Demikian juga penemuan Budi Utomo, ibu dengan anak pertama cenderung menggunakan botol dan kempeng disbanding ibu yang mempunyai anak dua orang atau lebih (Utomo, 1996 : 175). Pemakaian pil kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen dapat menekan produksi ASI, jadi kurang tepat bila diberikan kepada ibu menyusui terutama hingga usia 6 bulan pertama (Suharyono, 1994 : 25).
2. Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang mempengaruhi kegagalan menyusui (pemberian makanan selain ASI) pada usia dini di negara berkembang terutama di daerah perkotaan antara lain adalah :
a. Pengaruh langsung budaya barat b. Urbanisasi
c. Sikap terhadap payudara d. Pengaruh Iklan
e. Pengaruh petugas kesehatan f. Tingkat pendidikan ibu
g. Pekerjaan ibu (Jeliffe & Jellife, 1978 : 221).
Laukaran et al menambahkan perilaku makan sebelumnya, pengetahuan dan sikap terhadap makanan bayi berperan dalam praktek pemberian makanan pada bayi (Laukaran et al, 1996 : 1236). Selain faktor di atas, waktu pemberian ASI pertama kali juga turut mempengaruhi keberhasilan menyusui (Roesli, 2001 : 47).
a. Pengaruh Langsung Budaya Barat
Masuknya budaya barat di bidang industri, kesehatan, gizi dan lain-lain dirasakan manfaatnya oleh negara berkembang khususnya negara bekas jajahan. Keberhasilan dalam memecahkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit beri-beri, gondok riketsia melalui fortifikasi vitamin ke dalam makanan diraskan langsung oleh masyarakat luas. Teknologi Barat dianggap lebih tinggi nilainya dibanding cara-cara tradisional. Pandangan ini juga berpengaruh pada pemberian makanan bayi termasuk susu botol (Jelliffe & Jelliffe, 1978 : 221 dalam Dahlia Simanjuntak, 2002)).
b. Urbanisasi
Perpindahan penduduk dalam jumlah besar ke kota seperti Jakarta misalnya, menyebabkan masalah seperti : fasilitas sosial yang terbatas, kebersihan lingkungan terutama air dan sarana pembuangan kotoran yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Ibu yang pindah ke kota terpaksa harus bekerja untuk menambah penghasilan. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dalam situasi yang serba terbatas. Keadaan ini akan berpengaruh pada pola pengasuhan dan perawatan bayinya termasuk dalam perilaku menyusui. Ibu ikut-ikutan memberikan susu botol dalam situasi ekonomi yang kurang, pengetahuan yang kurang dan status gizi serta kesehatan ibu yang kurang (Sri Mahyuni, 2003).
Selain itu, menurut Dodi Briawan (2004), pada kebanyakan wanita di perkotaan, sudah terbiasa menggunakan susu formula dengan pertimbangan lebih modern dan praktis, dan juga karena mereka tidak pernah melihat model menyusui ASI dari lingkungannya (Briawan, 2004). Menurut Valdes and
Schooley (1996), wanita yang berada dalam lingkungan modern di perkotaan, tidak pernah melihat ibu dan kerabatnya menyusui (Valdes and Schooley, 1996). Bahkan yang dilihat di sekelilingnya adalah ibu-ibu kebanyakan menggunakan susu formula. Pada waktu kecil kebiasaan main bagi anak perempuan adalah boneka bayi dan susu botol. Saat remaja dan dewasa mereka juga terbiasa terekspose susu formula melalui berbagai poster, tv, radio, majalah dan berbagai media massa lainnya (Perinasia, 1994).
c. Sikap terhadap payudara
Beberapa mitos tentang menyusui ASI yang terjadi di masyarakat menurut Roesli (2001) adalah: Menyusui akan merubah bentuk payudara ibu, menyusui sulit untuk menurunkan berat badan ibu, ASI tidak cukup pada hari-hari pertama, sehingga bayi perlu makanan tambahan, ibu bekerja tidak dapat memberikan ASI eksklusif, payudara ibu yang kecil tidak dapat menghasilkan ASI, dan ASI dari ibu kekurangan gizi, kualitasnya tidak baik (Roesli, 2001). Selain itu menurut Jelliffe & Jelliffe, 1978 : 225 Pada budaya tradisional payudara perempuan terutama dihubungkan dengan sikap keibuan, merupakan pengorbanan, cinta, kesuburan dan pertolongan serta mempunyai fungsi pemeliharaan, asuhan dan sebagai sumber makanan bergizi untuk bayi. Pada budaya Eropa dan Amerika Utara, peran dan simbol payudara perempuan lebih menekankan pada fungsi keindahan. Ibu-ibu berorientasi pada bintang film, iklan dan model pakaian dirancang sedemikian rupa sehingga sulit untuk menyusui. Pandangan ini meluas ke negara berkembang terutama pada ibu dari kalangan atas. Menyusui menjadi sesuatu yang tabu pada ibu di perkotaan dan pasti tidak dilakukan di tengah orang banyak (Jelliffe & Jelliffe, 1978 : 225)
Pada penelitian Castle et al (1988) di Semarang, 99% responden setuju atas ajaran Islam yang menganjurkan untuk menyusui anak sampai usia 2 tahun, tetapi sepertiga mengatakan tidak dapat dilaksanakan. Ibu yang tidak menyusui bayinya bersikap negative terhadap efek menyusui pada ukuran dan bentuk payudara (Castle, 1988 : 101 & 103).
d. Pengaruh iklan
Promosi ASI tidak cukup kuat menandingi promosi pengganti ASI (Sukmaningsih 2001). Promosi susu formula dilakukan sangat gencar di berbagai media massa. Produsen susu formula juga mulai mengalihkan promosi produknya dari iklan langsung ke konsumen, di lingkungan kesehatan dan institusi pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit (RS),Rumah Bersalin, dan tempat praktik bidan. Selain memasang poster dan kalender, juga dilakukan pemberian sampel gratis kepada ibu yang baru melahirkan. Semua praktik ini jelas melanggar Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu (PASI) maupun peraturan pemerintah yang berlaku. Tahun 1981 World Health Assembly (WHA) dan UNICEF menerbitkan sebuah kode (international code) untuk mengatur promosi makanan untuk bayi. Kode yang disetujui 118 negara tersebut bertujuan untuk melindungi bayi dan ibu dari tindakan pemasaran agresif produsen susu bayi. Di Indonesia kode tersebut diatur dalam SK Menteri Kesehatan Nomor 273/1997 (sebelumnya SK No 240/1985) tentang Pemasaran Susu Pengganti ASI (PASI) (Briawan, 2004). Selain itu diketahui pula, ada sebagian petugas kesehatan secara halus mendorong ibu untuk tidak member ASI melainkan susu formula kepada bayinya (Siswono, 2001a).
Pada beberapa penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ditemukan bahwa pada tahun 1997, dari 41 kasus yang diteliti di 10 kota, ditemukan sebanyak 27% memberikan sampel gratis susu formula bayi, 29% sampel gratis susu formula lanjutan dan 44% sampel gratis MP-ASI dan pada tahun 1998, 8,7% Rumah Sakit Bersalin memberikan susu formula gratis ketika pasien hendak pulang (Sukmaningsih, 2001). Penelitian Zumrotin SH, 1990 terhadap 4 rumah sakit dan 3 rumah sakit bersalin menunjukkan bahwa sebelum memberi ASI, 2 rumah sakit dan 1 rumah sakit bersalin memberi PASI sepenuhnya, 2 rumah sakit bersalin memberi air mineral. Diantara yang memberi PASI penuh ada yang memberikan susu formula dengan satu merek tertentu dan ada yang memberi banyak merek. Yang menjadi perhatian adalah
bahwa semuanya mengatakan menerima PASI secara gratis dan rutin sementara rumah sakit yang hanya memberikan PASI bila ada kontra indikasi menyusui harus membeli (Zumrotin, 1991 : 5).
Pada tahun 1997, ditemukan beberapa produsen yang memberikan sumbangan uang kepada institusi kesehatan (Suksmaningsih, 2001) dan Bidan merupakan key persons yang didekati oleh produsen secara intensif (Winikoff, 1988 : 115).
Penelitian Rulina Suradi yang dilaporkan oleh Suharyono menunjukkan 16% ibu-ibu berhenti menyusui karena pengaruh iklan (Suharyono, 91 : 17) dan ibu yang menerima sampel susu formula cenderung memberi susu botol lebih dini dibanding yang tidak menerimanya (Winikoff, 1988 : 144).
e. Pengaruh Pelayanan Kesehatan
Kurikulum pendidikan kedokteran dan pendidikan kesehatan lainnya masih berorientasi ke Barat disamping banyak petugas yang memperoleh kesempatan menuntut ilmu di Eropa atau Amerika Utara menyebabkan petugas kurang menyadari bahaya pemberian MP-ASI dini di negara berkembang dengan tingkat pendidikan ibu yang relatif masih rendah dan kesehatan lingkungan yang masih jauh dari memadai. Penelitian Suyatno et al menunjukkan, 70,9% orang tua mengaku bahwa yang menganjurkan pemberian susu formula pada bayinya adalah dokter dan peran bidan untuk meningkatkan pemberian ASI secara eksklusif masih kurang (Suyatno, 1977 : 20& 42 dalam Dahlia Simanjuntak (2002)). Pada penelitian Mary Ann Castle et al di Semarang menunjukkan 90% ibu menjalani perawatan sebelum bersalin. Seperempat di antaranya sudah mendiskusikan tentang makanan formula, 6% dianjurkan oleh dokter hanya memberikan susu botol, 39% kombinasi susu botol dan ASI. Hanya 2% dari pasien yang dianjurkan oleh bidan untuk memberi ASI secara eksklusif dan 21% dianjurkan memberi susu botol (Winikoff, 1988: 111). Sebanyak 79% bayi yang lahir di rumah sakit diberi makanan pralakteal berupa susu formula selama dirawat. Hal ini akan
memperkuat anggapan bahwa kolostrum tidak baik bagi kesehatan bayi (Winikoff, 1988 : 104). Pemberian makanan pralakteal ini berhubungan positif dengan pemberian MP-ASI dini. Sebanyak 32,5% bayi yang lahir di rumah sakit swasta dan 15,9% bayi yang lahir di rumah sakit pemerintah sudah diperkenalkan dengan botol. Berdasarkan tenaga penolong persalinan 41% bayi yang lahir dengan pertolongan dokter dan 18,6% bayi yang lahir ditolong oleh bidan terlatih sudah diperkenalkan dengan botol pada usia dua bulan (Castle & Winikoff, 1988 : 152). Keadaan ini memperkuat pendapat : Bahwa petugas kesehatan dapat dikatakan belum atau masih kurang mendukung perlindungan dan peningkatan menyusui (Jelliffe & Jelliffe, 1978 : 108 dalam Dahlia Simanjuntak (2002)).
f. Pendidikan Ibu
Pada beberapa hasil penelitian (Behm, 1976-78; Haines & Avery, 1978; Caldwell, 1979, Farah & Preston, 1982; Cochrane, 1980; Caldwell & Mc. Donald, 1981) yang dikutip oleh Ware (1984, 193) ditemukan hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kelangsungan hidup anak walaupun berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku. Selanjutnya dikatakan bahwa untuk mengukur tingkat pendidikan ibu dapat dibagi dalam dua kategori yaitu Pendidikan Dasar dan Pendidikan Lanjutan (Ware, 1984 : 193-196 dalam Dahlia Simanjuntak).
Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memberikan susu botol lebih dini (Castle et al, 188 : 107) dan ibu yang mempunyai pendidikan formal lebih banyak memberikan susu botol pada usia 2 minggu disbanding ibu tanpa pendidikan formal (Davies & Adetugbo & Ojofeitimi, 1996 : 115). Ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih sering terlambat memulai menyusui dan membuang kolostrum tetapi praktek memberikan makanan pralakteal kecenderungannya serupa antara ibu yang berpendidikan dan tidak berpendidikan (Utomo, 1996 : 171). Pada penelitian
Sulistiorini (1994, 70) tidak ditemukan hubungan tingkat pendidikan dengan pemberian MP-ASI dini.
g. Pekerjaan Ibu
Pada penelitian Winikoff et al di empat negara menunjukkan bahwa status ibu bekerja saja tidak dapat dipakai sebagai ukuran untuk menduga penggunaan susu formula dan lamanya bayi disusui. Karakteristik pekerjaan, apakah harus meninggalkan rumah atau tanpa meninggalkan rumah perlu dipertimbangkan. Ibu yang bekerja meninggalkan rumah berhubungan positif dengan penggunaan susu botol dan penyapihan dini (Winikoff, 1988 dalam Asnan Padang, 2007). Praktek pemberian makan pada bayi dari ibu bekerja di rumah sama dengan pada ibu yang tidak bekerja. Ibu yang bekerja dengan meninggalkan rumah 2 kali lebih besar kemungkinannya memperkenalkan susu botol pada bayinya dalam waktu dini dibanding yang bekerja tanpa meninggalkan rumah dan 4 kali dibanding ibu yang tidak bekerja. Pertukaran jam kerja yang kaku, tidak tersedianya tempat penitipan anak, jarak lokasi bekerja yang jauh dan kebijakan cuti melahirkan yang kurang mendukung menyebabkan ibu harus meninggalkan bayinya selama beberapa jam sehingga sulit untuk menyusui on demand (Edmond, 2006).
h. Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian MP-ASI
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan dipengaruhi oleh berbagai factor seperti pengalaman, keyakinan, fasilitas dan sosio budaya. (Notoatmodjo, 1993 : 94 & 101). Penelitian tentang pengetahuan, sikap dan praktek ibu dan anak balita terhadap kesehatannya di 7 propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar ibu belum mengetahui ASI. Alasan kebiasaan tersebut adalah karena sudah merupakan tradisi. Sebagian besar ibu juga belum memahami makanan pendamping ASI (MP-ASI), sehingga makanan tersebut diberikan sejak usia 2-3 bulan (Depkes, 2005).
Dalam penelitian Ragil Marini (2001), ibu dengan pengetahuan yang baik tentang ASI 70% memberikan kolostrum pada bayinya sedangkan yang
berpengetahuan kurang baik, hanya 21,7% yang memberikan kolostrum. Angka yang lebih tinggi (72%) terdapat pada ibu dengan pengetahuan baik tentang kolostrum (Marini, 2001).
Penelitian Depkes 1992 di sepuluh kota menunjukan kebanyakan ibu pada kehamilan pertama tidak diberi informasi tentang manfaat ASI dan kolostrum. Ibu-ibu tidak mengetahui manfaat pemberian ASI eksklusif. Para ibu percaya bahwa campuran susu formula dengan ASI baik untuk bayinya. MP-ASI sudah mulai diberikan pada bulan kedua/ketiga dengan alas an bayi menangis dan menuruti nasehat keluarga (Briawan, 2004).
Menurut Diana Nur Afifah (2007), pengetahuan yang dimiliki ibu tentang ASI Eksklusif sebatas pada tingkat “tahu bahwa” sehingga tidak begitu mendalam dan tidak memiliki keterampilan untu mempraktekkannya. Jika pengetahuan ibu lebih luas dan mempunyai pengalaman tentang ASI Eksklusif baik yang dialami sendiri maupun dilihat dari teman, tetangga atau keluarga, maka subjek akan lebih terinspirasi untuk mempraktekkannya (Afifah,2007).
i. Pemberian ASI Pertama
Roesli (2001 : 47) mengatakan bahwa pemberian ASI pertama pada usia 20-30 menti, menyebabkan ibu lebih mudah menyusui bayinya untuk jangka waktu yang lebih lama. Bila terjadi keterlambatan walaupun hanya beberapa jam, proses menyusui lebih sering menjadi gagal. Pemberian ASI pertama pada 20-30 menti merupakan saat terbaik karena :
1) Pada 20-30 menit sesudah kelahiran reflex isap bayi sangat kuat dan merupakan saat terbaik untuk belajar mengisap. Menyusui pada saat ini bukan untuk pemberian makan awal, tetapi untuk pengenalan.
2) Isapan bayi akan merangsang produksi hormone oksitosin melalui let down reflex yang menyebabkan pengerutan otot rahim sehingga akan