• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4. Analisis Multivariat

Untuk melihat variabel yang paling dominan hubungannya dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi digunakan Regresi Logistik Ganda. Model yang digunakan

adalah model prediksi yang bertujuan memperoleh model variabel independen yang dianggap terbaik untuk memprediksi kejadian variabel dependen. Variabel yang diikutkan pada regresi logistik adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,25 ( peran petugas kesehatan, pekerjaan, pengetahuan, waktu pemberian ASI pertama kali), seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.21

Hasil Uji Regresi Logistik Pengaruh Variabel Bebas dengan Pemberian MP-ASI Dini Pada Bayi di Kelurahan Pematang Kandis Bangko, Kabupaten Merangin,

Jambi.

Variabel Bebas B P wald OR 95% CI

Pengetahuan 1.117 0.019 3.637 1.202 - 7.765 Waktu Pemberian ASI 1.136 0.015 2.982 1.244 - 7.801 Peran Petugas 0.464 0.296 1.591 0.666 - 3.798 Pekerjaan 0.266 0.323 .766 0.452 - 1.300 Constanta -1.268 0.017 0,281

Berdasarkan hasil analisis regresi tersebut diketahui bahwa : Ada 2 variabel bebas yang berpengaruh terhadap variabel terikat (pemberian MP-ASI dini) karena nilai signifikan p di bawah 0,05 yaitu pengetahuan dengan p = 0,019 dan waktu pemberian ASI pertama kali dengan p = 0,015. Kemudian dilakukan lagi uji regresi logistik kedua sehingga diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 5.22

Hasil Analisis Model Akhir Regresi Logistik Pengaruh Variabel Bebas dengan Pemberian MP-ASI Dini Pada Bayi di Kelurahan Pematang Kandis Bangko,

Jambi.

Variabel Bebas B P wald OR 95% CI

Waktu

Pemberian ASI

1.176 0.011 3.241 1.302 - 8,066

Constanta -1.402 0.001 0.246

Dari keseluruhan proses analisis multivariat yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari 6 variabel independen yang diduga berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di Kelurahan Pematang Kandis Bangko, Jambi ternyata hanya 2 yang secara bermakna berhubungan yaitu variabel Pengetahuan tentang MP-ASI dan pemberian ASI pertama. Responden yang berpengetahuan baik berpeluang untuk tidak memberi MP-ASI dini pada bayinya 3,847 kali (95% CI : 1,627 – 9,094) dibanding responden dengan pengetahuan kurang. Responden yang menyusui pertama kali kurang dari 30 menit berpeluang untuk tidak memberikan MP-ASI dini pada bayinya 3,241 kali (95% CI : 1,302 – 8,066) dibanding responden yang menyusui pertama kali setelah lebih dari 1 jam. Dari kedua variabel tersebut, variabel pengetahuan mengenai MP-ASI merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dnegan pemberian MP-ASI dini pada bayi di Kelurahan Pematang Kandis Bangko, Jambi.

5.5. Pembahasan

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian MP-ASI dini pada bayi sebesar 48% , lebih rendah (walaupun hanya berbeda sedikit) dari kelompok responden yang tidak diberi makanan prelakteal dan minuman selain ASI sebelum berusia ≥ 6 bulan yaitu sebesar 52% (Tabel 5.15). Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Mahyuni (2001) di Medan, Elvayanie (2004) di Kalimantan Barat serta Soetjinigsih (1999) yang menemukan angka pemberian MP-ASI dini yang cukup tinggi yaitu diatas 60%. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan responden mengenai MP-ASI di Kelurahan Pematang Kandis Bangko, Jambi yang sudah cukup baik, sehingga pemberian MP-ASI dini dapat di hindari.

Sebanyak 48% bayi sudah diberi makanan/minuman selain ASI pada usia < 6 bulan dan 60,7% diantaranya diberikan sejak lahir hingga usia 2 bulan (Tabel 5.16).

Hal ini mungkin terjadi karena pemberian ASI yang lambat, yaitu lebih dari 1 jam setelah bayi lahir, sehingga mempengaruhi proses produksi ASI Ibu di kemudian hari. Dari jenis MP-ASI yang diberikan sebanyak 58% bayi diberikan biskuit/bubur, sedangkan susu formula hanya 37,7% (Tabel 5.17). Sedangkan Mahyuni (2001) dalam penelitiannya di Kota Medan menemukan sebanyak 66,7% Bayi < 6 bulan telah diberi MP-ASI dini dan 72,2% nya diberikan susu formula. Dalam hal ini terdapat perbedaan proporsi pemberian MP-ASI dini serta jenis MP-ASI yang diberikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Hal ini selaras dengan penemuan Soetjiningsih (1999) bahwa 100% Ibu dari daerah rural yang diteliti dan 89,6% dari daerah urban menyusui bayinya sejak lahir, dari responden yang menyusui tersebut sebanyak 50% dari daerah urban menambahkan susu formula, sedangkan responden dari daerah rural 9,8% menambahkan susu formula.

Alasan responden untuk memberikan MP-ASI yang paling banyak adalah bayi kelihatan masih lapar yaitu sebesar 61,3% dan anjuran keluarga sebanyak 23,6% (Tabel 5.18). Hal ini mencerminkan bahwa persepsi responden yang menganggap bahwa dalam keadaan apapun bayi harus tetap di beri ASI masih kurang, padahal jika bayi menangis seharusnya Ibu lebih menggiatkan lagi pemberian ASI pada bayinya. Seperti salah satu program pemberian ASI Eksklusif oleh Rumah Sakit Banyumas yang membuat Slogan ”Ngeeek..Jel” dipakai untuk menggambarkan bayi yang tengah ”ngeek” (menangis) langsung di ”jel” (dimasuki) puting susu Ibunya. Slogan tersebut yang mengantar Rumah Sakit tersebut yang meraih penghargaan berskala internasional dari Jhon Hopkins University (AS) dalam rangka Pekan Air Susu Ibu sedunia (Kompas, 2001). Selain itu, hal lain yang harus ditekankan adalah dukungan keluarga. Dukungan keluarga berperan dalam memberi motivasi untuk menyusui sehingga bayi dapat dihindari dari pemberian MP-ASI dini. Seperti penelitian Padang (2007) di Tapanuli Tengah dan Manik (2007) di Kabupaten Dairi yang menunjukkan dukungan keluarga sangatlah penting terhadap pola pemberian makanan pada anak balita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58% responden yang tidak bekerja memberikan MP-ASI dini pada bayinya, sedangkan responden yang bekerja dirumah,

hanya 50% lebih tinggi dibandingkan responden yang bekerja meninggalkan rumah 31,5% (Tabel 5.8). Pembagian ini berdasarkan hasil penelitian Winikoff dalam Simanjuntak (2002) yang menemukan bahwa status Ibu bekerja dan tidak bekerja saja tidak dapat dipakai untuk menduga pemberian MP-ASI dini pada bayi, sebab Ibu yang bekerja harus meninggalkan rumah, 4 kali lebih besar kemungkinannya untuk memberikan MP-ASI dini pada bayinya dibanding Ibu yang tidak bekerja dan 2 kali lebih besar dibanding Ibu yang bekerja meninggalkan rumah. Pemberian MP-ASI dini pada responden yang bekerja cukup tinggi, yaitu 58% lebih tinggi dari responden yang bekerja meninggalkan rumah, hal ini mungkin disebabkan tingkat pendidikan responden yang tidak bekerja sudah cukup tinggi sehingga lebih mudah menerima pesan-pesan produsen susu formula yang jauh lebih unggul dari promosi ASI (Sukmaningsih, 2003). Selain itu pada Ibu yang bekerja diluar rumah mungkin memiliki kelonggaran waktu yang lebih banyak, sehingga mereka dapat menyusui bayinya, sehingga Ibu bekerja sebenarnya tidak sulit untuk menunda pemberian MP-ASI dini pada bayinya ( Asmijati, 2003).

Zamri Amin (2001) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pada kelompok Ibu yang tidak bekerja keinginan untuk memberikan ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan pada Ibu yang bekerja. Hal ini disebabkan karena adanya faktor yang lebih dominan yang bisa mempengaruhi Ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya diantaranya faktor lingkungan dan adanya anggapan beberapa ibu bahwa dengan memberikan ASI saja maka anak lambat pertumbuhannya dan menjadi manja sehingga responden lebih berpikir untuk memberikan susu formula karena disamping gizinya yang lengkap juga karena praktis penyiapannya.

Pada analisis bivariat ditemukan hubungan yang tidak bermakna antara pekerjaan dan pemberian MP-ASI dini pada bayi (p 0,060) (Tabel 5.19). Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Faraswati (2000) bahwa tidak ada hubungan bermakna antar pekerjaan dan pemberian MP-ASI dini. Untuk itu perlu penelitian yang lebih khusus lagi untuk mengetahui faktor penyebab pemberian MP-ASI dini pada bayi di kalangan Ibu bekerja.

Dari analisis univariat didapatkan, responden dengan pendidikan sedang ( SLTP-SLTA) adalah kelompok responden tertinggi yaitu 52,3% , kemudian 5,6% responden berpendidikan rendah (SD/Tidak Sekolah), dan responden dengan pendidikan tinggi sebanyak 41,1%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden cukup tinggi (Tabel 5.6) Pendidikan menjadi dasar yang penting bagi seseorang karena dengan pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan untuk lebih beradaptasi dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi. Dengan tingkat pendidikan Ibu yang lebih tinggi, meningkatkan kemampuan Ibu untuk menerima cara-cara pemberian MP-ASI yang baik, menghilangkan praktek pemberian MP-ASI yang buruk, penyimpanan dan penyajian makanan yang higienis sehingga terhindar dari pencemaran zat kima, binatang, atau penyebab penyakit lainnya (WHO,1999). Hasil penelitian ternyata sesuai yakni responden dengan tingkat pendidikan sedang adalah kelompok yang paling banyak memberikan MP-ASI dini yaitu 55,3%, walaupun tidak jauh berbeda dengan kelompok berpendidikan rendah yang sebanyak 50% memberikan MP-ASI dini pada bayi mereka, lebih jauh lagi dibandingkan responden yang berpendidikan tinggi, hanya 38,7% dari mereka yang memberi MP-ASI dini (Tabel 5.7). Bertentangan dengan penelitian Simanjuntak (2002), yang menemukan bahwa Ibu dengan pendidikan lebih tinggi yang cenderung memberikan MP-ASI dini pada bayinya.

Dari analisis bivariat tidak ditemukan hubungan antara pendidikan dan pemberian MP-ASI dini (p 0,251), senada dengan Utomo (2000) yang menemukan tidak ada hubungan pendidikan Ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi, dimana pemberian makanan prelakteal kecenderungannya sama antara Ibu yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan. Hal ini mungkin informasi makanan pengganti ASI yang memapari Ibu-ibu tanpa mengenal tingkat pendidikan. Sumber Informasi dari media massa misalnya yang sudah tidak sulit lagi ditemukan pada semua golongan masyarakat.

Pada bab terdahulu sudah dijelaskan bahwa yang diukur dalam pengetahuan ialah mengenai pemberian MP-ASI, cara pemberian dan dampak pemberian. Dimana hasil akhir adalah hasil perkalian antara bobot dan nilai yang semuanya berjumlah 27.

Hasil analisis univariat menggambarkan pengetahuan responden tentang pemberian MP-ASI cukup tinggi. Terbukti nilai rata-rata adalah 23,60, median 24 dan modus 25. Sebanyak 60,37 % responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik mengenai MP-ASI dan 42% responden yang berpengetahuan kurang (Tabel 5.8). Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai pemberian MP-ASI yang tergolong baik.

Berbeda dengan penelitian Afifah (2007), Simanjuntak (2002), Amiruddin (2006) yang menemukan pengetahuan Ibu mngenai MP-ASI yang rendah. Hal ini mungkin disebabakn luasnya sebaran media informasi mengenai MP-ASI dan penggalakan ASI eksklusif selain dari tenaga medis, terbukti responden memperoleh informasi mengenai MP-ASI lebih banyak dari media massa, keluraga, atau tetangga sebesar 50%, artinya media-media tersebut dapat dikatakan turut andil dalam keberhasilan pemberian MP-ASI sesuai waktunya.

Pengetahuan ternyata berhubungan secara signifikan dengan pemberian MP-ASI dini, dari hasil analisis bivariat ternyata ditemukan p < 0,001 (Tabel 5.9) begitu pulu hal yang sama ditemukan oleh Asmijati (2001), dan Simanjuntak (2002). Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula pengetahuannya. Selain itu, pengetahuan responden juga tidak terlepas dari penyebaran informasi baik itu oleh tenaga medis atau non medis, pada penelitian ini peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi sudah cukup baik, sehingga praktek pemberian MP-ASI dini pun dapat dicegah.

Dari analisis multivariat ditemukan bahwa variabel independen yang paling dominan pengaruhnya dengan variabel dependen adalah variabel pengetahuan dengan nilai p Wald sebesar 0,002 dan odds ratio 3,847 confidence interval 1.627 – 9,094 (Tabel 5.23). Ini berarti bahwa responden dengan pengetahuan tentang pemberian MP-ASI pada bayi yang tergolong kategori baik berpeluang 3,847 kali untuk tidak memberikan MP-ASI dini pada bayinya dibanding responden dengan pengetahuan kurang baik. Ini membuktikan pendapat Notoatmodjo (1994) bahwa pengetahuan (daam hal ini pemberian MP-ASI) merupakan domain yang sngat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (dalam hal ini memberikan atau tidak memberikan MP-ASI dini pada bayi).

Salah satu keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi segera setelah bayi dilahirkan. Pemberian ASI pertama kali diukur dari jarak waktu kelahiran bayi dengan saat pertama kali bayi disusui atau diberi ASI. Pada analisis univariat ditemukan jumlah bayi yang disusui pada jam pertama sesudah lahir sebanyak 34% dan 66% bayi disusui lebih dari satu jam setelah bayi lahir (Tabel 5.13). Hal ini menunjukkan bahwa proses inisiasi menyusui pada bayi masih rendah. Sebanyak 28% responden yang memberikan ASI sebelum 1 jam setelah kelahiran memberikan MP-ASI dini, dan 58,5% bayi diberikan MP-ASI dini oleh ibu yang menyusui ≥ 1 jam setelah lahir (Tabel 5.14). Hal ini merupakan bukti dari penemuan terdahulu yang mengatakan bahwa pengenalan ASI pertama yang terlambat pada bayi sering mnyebabakan proses menyusui menjadi gagal dan pengenalan pada jam pertama akan memudahkan Ibu untuk menyusui (Roesli, 2001). Serta tidak diragukan lagi pengaruh positifnya terhadap keberhasilan upaya memuali laktasi (Akre dalam Simanjuntak 2002).

Sedangkan dari analisis multivariat ditemukan bahwa variabel yang paling kuat hubungannya dengan pemberian MP-ASI dini adalah pemberian ASI pertama dengan p Wald 0.011, odds ratio 3.241 dan 95% Confidence Interval 1.302 - 8,066 (Tabel 5.23). Berarti responden yang menyusui bayinya pertama kali pada 1 jam pertama setelah lahir berpeluang untuk tidak memberikan MP-ASI dini pada bayinya 3,241 kali, dibandingkan responden yang menyusui bayinya setelah lebih dari 1 jam pertama sesudah dilahirkan. Seperti halnya penelitian Kaizen et al (2002) di Polandia yang menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan siginifikan apabila bayi segera disusukan. Bayi yang segera disusukan setelah dilahirkan akan menyusu 1,35 bulan lebih lama dibandingkan bayi yang 2 jam kemudian disusukan setelah dilahirkan.

Peran petugas kesehatan yang sangat penting dalam melindungi, meningkatkan, dan mendukung usaha menyusui harus dapat dilihat dalam segi keterlibatannya yang luas dalam aspek sosial. Sebagai individu yang bertanggung jawab dalam gizi bayi dan perawatan kesehatan, petugas kesehatan mempunyai posisi

unik yang dapat mempengaruhi organisasi dan fungsi pelayanan kesehatan Ibu, baik sebelum, selama maupun setelah kehamilan dan persalinan (Afifah, 2007).

Peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi mengenai MP-ASI pada penelitian ini dinilai cukup baik. Dari analisis univariat 61% peran petugas kesehatan baik, dan 40,4% peran petugas kurang baik (Tabel 5.10). Sebanyak 50% responden mendapatkan informasi mengenai pemberian MP-ASI melalui tenaga medais dan 35,8% responden mendapatkan informasi terutama dari bidan, sedangkan 50% lainnya mendapatkan informasi melalui tenaga non medis (keluarga, tetangga, media massa). Hal ini menunjukkan bahwa saat ini, informasi mengenai pemberian MP-ASI sendiri telah banyak didapatkan baik dari tenaga medis ataupun non medis. Di dalam penelitian ini, tenaga medis terbanyak yang memberikan informasi mengenai pemberian MP-ASI menurut persepsi responden adalah bidan, yaitu 38,5%. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga medis terutama bidan sebagai penggerak pemberian ASI eksklusif harus semakin ditingkatkan agar pemberian MP-ASI dini dapat semakin ditekan.

Sebanyak 39% responden yang menurut persepsi mereka peran petugas kesehatan baik, memberikan MP-ASI dini, dan sebanyak 40% (walaupun perbedaan proporsi hanya sedikit) dari responden yang menurut persepsi mereka peran petugas kesehatan kurang memberikan MP-ASI dini. Dengan analisis bivariat didapatkan nilai p 0,035 (Tabel 5.13), artinya ditemukananya hubungan yang bermakna antara peran petugas kesehatan dengan pemberian MP-ASI dini, berbeda dengan penelitian Padang (2007) dimana tidak ditemukan hubungan antara peran petugas dan pemberian MP-ASI dini. Proporsi responden yang memberikan dan tidak memberikan MP-ASI dini antara peran petugas kesehatan baik dan kurang adalah sama. Rendahnya pemberian MP-ASI dini pada penelitian ini, menunjukkan bahwa peran petugas sebagai sumber informasi terbanyak ke dua berperan dalam meningkatkan pengetahuan responden mengenai pemberian MP-ASI. Namun pada analisis multivariat nilai p Wald 0,220 , Confidence Interval 1,708, dan 95% CI 0,726 - 4,020. Nilai p Wald > 0,005 (Tabel 5.22) menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara variabel independen dan dependen. Perbedaan hasil uji

variabel peran petugas kesehatan pada analisis bivariat dan multivariat disebabkan pada uji bivariat variabel peran petugas hanya diinteraksikan dengan pemberian MP-ASI dini saja, sedangkan pada analisis multivariat variabel peran petugas kesehatan dikontrol oleh variabel independen lainnya yang sama-sama berinteraksi melalui proses yang berbeda.

BAB 6

Dokumen terkait