• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.7 Pergeseran dalam Penerjemahan

2.8.2 Jenis Makna

Leech (1974:26) menggolongkan jenis makna ke dalam, yakni (1) makna konseptual, (2) makna asosiatif yang di dalamnya termasuk makna konotatif, stilistika, afektif, reflektif, dan kolokatif, dan (3) makna tematik. Jenis makna yang dikemukakan oleh Leech (1974:26) digambarkan dalam Figura 2.6.

1. Conceptual meaning or sense Logical, cognitive, or denotative content Associative meaning 2. Connotative meaning

What is communicated by virtue of what language refers to

3. Stylistic meaning

What is communicated of the social circumstances of language use 4. Affective

meaning

What is communicated of the feelings and attitudes of the speaker /writer

5. Reflected meaning

What is communicated through association with another sense of the same expression

6. Collocative meaning

What is communicated through association with words which tend to occur in the environment of another words

7. Thematic meaning

What is communicated by the way in which the message is organized interms of order and emphasis Figura 2.6 Jenis Makna

Makna konseptual adalah makna yang bersifat logis, kognitif atau denotatif yakni makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (apa adanya). Makna konseptual tidak hanya terbatas pada kata-kata yang merujuk pada benda-benda nyata, tetapi juga pada makna yang konseptualnya khusus, seperti deitik (ini, itu), numerelia (satu, dua), dan partikel yang mengandung makna relasional (dan, tetapi)

Makna konotatif adalah makna yang muncul dikarenakan asosiasi perasaan pengguna bahasa terhadap apa yang diucapkan atau didengar yang bersifat negatif. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna konseptual yang ditambahkan komponen makan lain yang bersifat negatif. Contohnya, kata perempuan dalam kalimat (1) Perempuan itu guru saya, dan (2) Ah, dasar perempuan. Makna (1) adalah makna konseptual yang mengandung sifat keibuan,

mengandung makna suka bersolek, egoistis, dan lainnya yang bersifat negatif. Makna stilistika adalah makna berkaitan dengan situasi sosial pengguna bahasa yang menimbulkan variasi dialek berdasarkan lokasi geografis atau regional, tingkat sosial, dan kurun waktu (temporal). Makna stilistika tidak hanya terdapat dalam kajian linguistik, tetapi juga dalam sastra yang dikenal dengan majas (figures of speech). Majas diklasifikasikan dalam figura berikut:

Majas

Perbandingan : Pertentangan : Pertautan : - perumpamaan - hiperbola - metonimia - kiasan - litotes - sinekdoke - personafikasi - ironi - kiasan(allusion) - eufemisme

Figura 2.7 Majas

Perempamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berbeda dan dengan sengaja dianggap sama. Perbandingan ini secara ekplisit dijelaskan dengan kata seperti, sebagai, umpama, ibarat, lakasana, bak. Kiasan atau metafora adalah perbandingan yang implisit di antara dua hal yang berbeda, tetapi tidak menggunakan kata-kata seperti pada perumpamaan. Personafikasi adalah majas yang menggabungkan sifat-sifat manusia yang bernyawa (animasi) ke dalam benda yang tidak bernyawa (nonanimasi) dan gagasan yang abstrak.

Hiperbola adalah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya yang terjadi apakah tentang jumlah, ukuran, atau sifat seseorang atau sesuatu. Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang

positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang berlawanan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernytaan yang sebenarnya. Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan dengan tujuan berolok-olok. Maksud itu dapat tercapai dengan mengemukakan (1) makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya, (2) ketaksesuaian antara harapan dan kenyataan, dan (3) ketaksesuaian antara suasana yang dikemukakan dan kenyataan yang mendasarinya.

Metonimia adalah pemakaian nama cirri atau nama hal yang dihubungkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut pencipta atau pembuatnya jika yang kita maksudkan ciptaan atau buatannya, atau kita menyebut bahannya jika yang kita maksudkan barangnya. Sinekdoke adalah majas yang menyebut nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya atau sebaliknya. Kiasan (alusi) adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan praanggapan adanya pengetahuan bersama (shared knowledge) yang dimilki oleh pengarang dan pembaca, pembicara dengan lawan bicara dan adanya kemampuan pembaca dan lawan bicara untuk mengrti pengacuan itu. Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, tidak sopan, atau tabu yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan.

Makna afektif adalah makna yang melibatkan perasaan dan sikap pengguna bahasa ke arah yang positif. Makna afektif menunjuk pada sesuatu yang lain yang tidak sepenuhnya sama dengan yang terdapat dalam dunia kenyataan (denotatif). Sama halnya dengan makna konotatif, makna afektif dapat muncul dikarenakan perubahan tatanilai masyarakt bahasa. Yang membedakan antara makna konotatif

dengan makna afektif adalah makna konotatif bersifat negatif sementara makna afektif bersifat positif. Contohnya, kata bunga dalam (1) Kakak memetik bunga di taman, (2) Kakak bunga di kampus, dan (3) Bunga bank naik. Pada (1) kata bunga adalah makna denotatif, sementara pada (2) kata bunga adalah makna afektif, dan pada (3) kata bunga mungkin dapat bersifat positif dan negative bergantung siapa yang mengatakan apakah seoarng kreditor atau debitor.

Makna reflektif adalah makna yang otomatis muncul karena adanya hubungan lain atau adanya refksi makna lain terhadap kata yang digunakan oleh pengguna bahasa. Misalnya, kata tabu dan seks. Jika kata tabu digunakan, maka secara otomatis terefleksi makna larangan, dan jika kata seks digunakan, maka secara otomatis terefleksi kata ejakulasi.

Makna kolokatif adalah makna yang muncul disebabkan kata dimaksud muncul berpasangan melekat dengan kata lainnya. Misalnya, kata cantik berkolokasi dengan perempuan menjadi perempuan cantik. Tidak pernah dikatakan perempuan ganteng karena kata ganteng berkolokasi dengan laki-laki- tidak pernah dengan perempuan.

Makna tematik adalah yang muncul dikarenakan urutan dan penekanannya dalam kalimat. Urutan kata dalam kalimat memberikan penekanan makna. Misalnya, kalimat (1) Pamanku datang besok dengan kalimat (2) Besok pamanku datang. Pada (1) penekanannya pada kata pamanku sebagai temanya, sementara pada (2) penekannnya pada kata besok sebagai temanya.

Dokumen terkait