BAB IV ANALISIS DATA
B. Jenis Metafora
Stephen Ullmann membagi metafora menjadi empat, yakni metafora antropomorfis, metafora binatang, metafora hubungan abstrak-konkret dan metafora sinaestetik. Pengelompokan ini akan diterapkan pada tuturan metafora yang dikutip dari rubrik Opini majalah Tempo, seperti dipaparkan sebagai berikut.
1. Metafora Antropomorfis
Pada metafora antropomorfis terdapat relasi kata dengan bagian tubuh manusia. Metafora ini memanfaatkan fitur tubuh manusia sebagai alat perbandingan. Metafora seperti ini dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.
(32) Ini penting lantaran ditengarai keteledoran terjadi akibat pengeboran dilakukan tanpa casing ketika mata bor menembus kedalaman tertentu (56/kal/ant/7/Jan/08).
(33) Mudah dibayangkan, seandainya kelak para kroni diseret ke pengadilan, mereka pasti buang badan dan berdalih hanya menjalankan instruksi Soeharto (106/kal/ant/21/Jan/08).
Tuturan mata secara denotatif bermakna indra untuk melihat atau indra penglihat. Pada kalimat (25) tersebut makna ini tidak bisa diterapkan. Mata pada kalimat di atas dipasangkan dengan bor. Bor sendiri berarti perkakas untuk menggerek kayu atau besi atau untuk menggali lubang. Mata bor bermakna
bagian ujung yang tajam pada benda atau alat pemotong, pada kalimat di atas yang dimaksud adalah bor. Mata bor menembus ke kedalaman tertentu untuk mendapatkan minyak dari perut bumi. Akan tetapi, karena pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas disinyalir lalai, sehingga mengakibatkan munculnya lumpur panas di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.
Metafora antropomorfis pada kalimat (26) juga memanfaatkan organ tubuh manusia yakni badan. Badan secara denotatif berarti tubuh (jasad manusia secara keseluruhan), jasmani, raga. Pada tuturan kalimat (26) buang badan berarti mengelak atau berdalih tidak mau ikut bertanggung jawab. Dalam kasus ini, mereka para kroni Soeharto yang diseret ke pengadilan mengelak ikut campur kejahatan orde baru dengan alasan hanya menjalankan instruksi sang presiden yang berkuasa saat itu.
2. Metafora Binatang
Metafora binatang menggunakan dunia binatang sebagai sumber imajinasi perbandingan. Metafora binatang diterapkan sebagai wahana dari tenor manusia dan nonmanusia. Pada jenis yang pertama, manusia diperbandingkan dengan berbagai jenis binatang seperti anjing, kucing, babi, keledai, angsa, singa, serigala dan sebagainya. Metafora jenis ini dapat disimak pada contoh-contoh berikut. (34) Perang melawan korupsi harus dilakukan tanpa pandang bulu dan tanpa
kompromi (77/kom/bin/14/Jan/08).
(35) Mulai bekerja sebulan lalu, Komisi sudah ditantang menyelesaikan kasus ”kakap” yang menyangkut 11 pejabat penting Departemen Dalam Negeri (126/kal/bin/21/Jan/08).
yang membentuk penutup tubuh bangsa unggas, kumpulan rambut banyak dan bertangkai seperti pada unggas. Pada tuturan tanpa pandang bulu bermakna pemerintah dalam hal membasmi korupsi tidak boleh membedakan status dan pangkat warga negaranya. Ketika para pamong desa terbukti korupsi, dia berhak dicopot dari jabatannya. Begitu juga para anggota dewan seperti DPR.
Tuturan kakap pada kalimat (28) dapat dikategorikan ke dalam metafora binatang karena menggunakan wahana jenis binatang yakni kakap. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilantik akhir 2007 tersebut sudah disambut dengan berbagai kasus korupsi. Salah satunya kasus kakap, bermakna kasus korupsi besar yaitu menyangukut 11 pejabat penting dalam Departemen Dalam Negeri. Disebut besar, sebab ikan Kakap dianggap mewakili kelas ikan air tawar yang lumayan besar sedang yang kecil-kecil biasa dianggap sebagai kelas teri.
3. Metafora Relasi Abstrak-Konkret
Pada metafora ini Ullman memberikan contoh ungkapan-ungkapan yang yang memiliki referen objek abstrak digunakan untuk menyatakan referen objek yang konkret atau sebaliknya. Contoh-contoh metafora jenis ini seperti dikutip pada kalimat-kalimat berikut.
(36) Absennya Presiden memang tidak mencederai hukum (90/pre/RAK/14/Jan/08).
(37) Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya Selasa Hitam (158/kom/RAK/28/Jan/08).
Metafora RAK pada kalimat (29) adalah mencederai. Kata mencederai biasanya diikuti objek konkret, seperti pada mencederai lengannya, mencederai kepala, mencederai kedua kakinya. Kata mencederai berarti menyebabkan cedera
atau melukai. Pada kalimat (29) terjadi konkretisasi. Absennya presiden dalam sidang yang menyangkut masalah pribadinya yaitu kasus pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Zainal Ma’arif, memang tidak mencederai atau melukai hukum. Tetapi, sang presiden dari awal bertekad akan mengurus persidangan sebagai warga negara biasa. Alhasil, orang nomor satu ini absen dengan melayangkan surat berstempel kabinet negara serta mengutus juru bicaranya untuk mewakili.
Kalimat (30) mengandung metafora RAK Selasa Hitam. Selasa adalah hari ke tiga dalam jangka waktu satu minggu pada kalender masehi yang mendasarkan hitungan pada matahari. Selasa biasa disebut, jika bertepatan dengan peringatan hari-hari tertentu yang berkaitan dengan tanggal serta bulan yang penting. Misalnya, Selasa, 17 Agustus akan diadakan upacara perayaan kemerdekaan RI. Akhir 2007, terjadi krisis ekonomi besar-besaran yang melanda dunia. Kredit macet atau subprime mortage menjadi salah satu penyebab krisis yang mendera Amerika. Kekacauan itu memuncak ketika sejumlah bank Eropa mengalami kerugian parah. Kemudian menyusul kekacauan-kekacauan lain di berbagai negara. Dan itu terjadi secara serentak pada sebuah hari Selasa. Maka Selasa saat itu merupakan Selasa Hitam. Warna hitam biasa dikaitkan dengan keadaan bencana, suram serta menyakitkan.
4. Metafora Sinaestetik
Metafora Sinaestetik merupakan pemindahan asosiasi, yakni dari persepsi yang sebenarnya cocok salah satu panca indera dipindahkan ke pancaindera lainnya. Ungkapan bisa diciptakan dengan pengalihan stimulus dari organ
pancaindera yang satu ke organ lainnya. Metafora jenis ini banyak ditemukan seperti pada kutipan berikut.
(38) Pakistan akan terguncang keras. Sesuatu yang tak pernah terjadi. (6/kal/sin/7/Jan/08).
(39) Dengan melihat perincian kasus mobil pemadam kebakaran ini, tercium aroma kolusi dan korupsi yang pekat di atas selembar edaran Departemen Dalam Negeri itu (134/kom/sin/21/Jan/08).
Tuturan Pakistan akan terguncang keras pada kalimat (31) termasuk metafora jenis sinaestetik. Terguncang keras berarti terganggu keseimbangannya. Misalnya saja terguncang keras akibat mobil menabrak truk. Ini dapat dirasakan oleh seluruh indera kita. Benturan badan kita sebagai salah satu penumpang dalam mobil tersebut begitu terasa. Dalam hal ini, Pakistan, sebuah negara di kawasan Asia tengah kacau. Kekacauan semakin menjadi tatkala pemilu di negeri itu akan digelar, sang perdana menteri, Benazir Bhutto tewas. Kejadian beruntun yang belum menemui ujungnya bagai guncangan keras yang bukan tidak mungkin akan menghancurkan negara itu.
Aroma kolusi dan korupsi pada kalimat (32) merupakan metafora sinaestetik, karena digunakan kata aroma untuk menerangkan kolusi dan korupsi. Kata aroma biasanya diikuti oleh jenis bau-bauan yang dapat dicium oleh hidung sebagai indera pencium. Kolusi dan korupsi bukanlah benda yang berbau seperti halnya parfum atau ikan. Tindakan kejahatan tersebut ditutupi serapat apapun pasti akan terbongkar. Seperti sifat bau yang menguap kemana-mana. Pengalihan dari indera penglihat ke indera pencium terjadi pada kalimat ini.