• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Obyek Pajak Terkait Harta

Implikasi PPh Pelaporan Harta Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP)

1. LANDASAR TEORI Konsep Penghasilan

3.2. Jenis Obyek Pajak Terkait Harta

Sistem self assessment di Indonesia mewajibkan setiap Wajib Pajak untuk melaporkan SPT secara benar, lengkap dan jelas sesuai dengan kondisi sebenarnya. SPT merupakan pertangungjawaban atas perhitungan dan pembayaran pajak bagi WP dan kesalahan dalam pengisiannya dapat dikenakan sanksi administrasi maupun sanksi pidana perpajakan.

Pasal 4 ayat 1 UU PPh tentang obyek pajak adalah penghasilan dalam arti luas dan mencakup kemampuan membayar dari Wajib Pajak yang ditunjukkan penghasilan, pengeluaran, kekayaan dan transfer kekayaan Gunadi, (2013). Khususnya berkaitan dengan harta yang dilaporkan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP), berikut jenis penghasilan yang terkait harta yaitu:

1. Tambahan kekayaan yang belum dikenakan PPh

Kekayaan atau harta yang dimiliki oleh WPOP merupakan kumpulan dari hasil usaha, pekerjaan dan penghasilan lain setelah dikurangi konsumsi dan pembayaran PPh. Jadi tambahan harta WPOP dalam

satu periode (tahun pajak) mencerminkan total akumulasi penghasilan setelah dikurangi konsumsi dan pembayaran PPh. Tambahan harta bersih adalah jumlah saldo akhir harta bersih (Harta – utang) dikurangi jumlah saldo awal harta bersih (harta-utang).

Selanjutnya total penghasilan adalah jumlah tambahan harta bersih ditambah nilai konsumsi dan pajak yang sudah dibayar. Seluruh penghasilan dapat meliputi Penghasilan yang dikenakan PPh (final dan non final) dan penghasilan bukan obyek pajak (bebas pajak). Oleh karena itu atas tambahan harta bersih yang lebih besar dari total penghasilan maka merupakan obyek pajak yang dikenakan PPh.

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

174

(dalam jutaan rupiah)

Andi Budi Cici Deni Eko

1 PPh yang dibayar +/+ 75.20 40.00 23.35 28.77 131.15 8 Penghasilan yang bukan obyek pajak dan

dikenakan PPh Final -/- (200.00) 9 Tambahan Harta yang belum dikenakan

Pajak 605.20 190.00 (1.65) (46.23) (443.85) tambahan harta yang belum dikenakan pajak. Kondisi ini terjadi karena Andi tidak melaporkan harta berupa lahan garapan yang dibeli dengan perjanjian bawah tangan,. Selanjutnya pada tahun 2018 lahan tersebut dijual kepada pengmbang tetapi tidak membayar PPh Final karena transaksi pengalihan dilakukan atas lahan dengan status lahan garapan untuk selanjutnya ditingkatkan hanya menjadi hak milik.

Berbeda dengan Budi, pada tahun 2019 menerima surat himbauan membetulkan SPT Tahun 2017 karena belum melaporkan harta berupa ruko pada SPT. Budi tidak melaporkan pembelian ruko karena tidak paham dan khawatir akan dikenakan pajak lebih besar. Disamping itu ruko tersebut belum lunas dan masih menjadi jaminan di bank. Atas harga pembelian ruko dikurangi fasilitas utang KPR merupakan obyek pajak.

Selanjutnya untuk WPOP lainnya tidak terdapat penambahan harta menjadi obyek pajak. Jadi dalam hal terdapat penambahan harta yang belum dikenakan pajak akan dikenakan PPh dengan tarif progresif pada saat harta tersebut ditemukan.

2. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta

WPOP yang melakukan penjualan atau pengalihan harta, dikenakan PPh atas keuntungan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan bentuk apapun. Khusus penjualan atau pengalihan harta tanah dan/atau

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

175

bangunan dikenakan PPh bersifat final (PPh pasal 4 ayat 2) dan atas penjualan atau pengalihan harta lainnya akan dikenakan PPh dengan tarif progresif. Termasuk keuntungan dari penjualan dan pengalihan harta : a. Keuntungan atas pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan

atau badan lainnya yang digunakan untuk pengganti saham atau setoran modal.

b. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, hadiah dan sumbangan kecuali yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat

Dari WPOP yang dilakukan wawancara, tidak ada yang melaporkan adanya keuntungan atas penjualan / pengalihan harta. Wajib pajak Eko melakukan penjualan kendaraan namun tidak melaporkan laba atas pengalihan harta dengan alasan kendaraan dijual dengan harta lebih rendah dari nilai pembelian. Demikian juga WP Cici menyerahkan truk untuk setoran modal namun tidak mengakui adanya laba atas pengalihan truk tersebut. Atas penjualan mobil & truk ini tidak dilaporkan pada SPT karena tidak paham cara menghitung laba atau rugi dan pembelian mobil menggunakan uang tabungan yang sudah dikenakan PPh.

3. PPh final atas Pengalihan tanah dan bangunan

Harta berupa tanah dan/atau bangunan dikenakan PPh final sesuai karakteristiknya. Pada accretion concept harta milik WPOP dilaporkan setiap akhir tahun dengan menggunakan harga pasar, namun hal ini belum bisa diterapkan mengingat tambahan nilai harta ini ditunda pembayarannya sampai dengan realisasi yaitu penjualan atau pengalihan harta terjadi. (Gunadi, 2013). Besarnya Tarif PPh Final pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sesuai Peraturan Pemerintah (PP) 34 Tahun 2016 adalah 2,5% dari nilai transaksi atau Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) mana yang lebih tinggi. Dalam hal WPOP melakukan perjanjian bangun guna serah maka atas penyerahan bangunan pada saat perjanjian berakhir dikenakan PPh berdasarkan pasal 15 UU PPh dengan tarif 5%

bersifat final.

Wajib pajak Deni belum melaporkan hasil penjualan lahan dengan hak garap dan tidak membayar PPh final. Deni tidak melaporkan penghasilan ini karena Deni kurang paham dan uang yang hasil penjualan sudah

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

176

digunakan untuk keperluan lain. Jadi penghasilan yang diterima Deni dari penggantian hak garap tetap merupakan obyek PPh yang dikenakan PPh Final berupa pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan.

4. Penghasilan terkait harta

Harta merupakan akumulasi dari penghasilan yang tersisa pada akhir periode pajak. Terdapat beberapa tujuan kepemilikan harta, yaitu harta untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan sendiri atau harta yang merupakan bagian dari investasi sehingga pemilik harta mengharapkan imbalan atau penghasilan dari harta tersebut. Bentuk penghasilan dari kepemilikan harta berupa :

a. Bunga

WPOP akan menerima penghasilan berupa bunga dari harta berupa kas dan setara kas yang dimiliki yang diinvestasikan dalam bentuk tabungan, deposito dan lain-lain.

Termasuk pengertian bunga adalah premium, diskonto dan jaminan pengembalian Utang, sehingga dimungkinkan adanya penghasilan bunga atas harta berupa piutang yang dimilik oleh WP OP

b. Sewa harta khusus tanah dan /atau bangunan

Penghasilan Sewa diterima atas penyerahan hak untuk menggunakan harta berupa tanah dan atau bangunan dalam jangka waktu tertentu. Atas penghasilan sewa terkait tanah dan/atau bangunan, pada Peraturan Pemerintah (PP) 34 Tahun 2017 dikenakan PPh Final dengan tarif 10%

c. Sewa harta selain bangunan

Setiap sewa atau imbalan lain atas penggunaan harta yang dimiliki WPOP merupakan penghasilan yang menjadi obyek PPh. Dan untuk sewa atas penggunaan harta selain tanah dan/atau bangunan dikenakan PPh dengan tarif progresif.

d. Dividen

Dividen adalah penghasilan dari harta berupa saham milik WPOP. Atas penghasilan Dividen saat dikenakan PPh Final (tarif pasal 17 ayat 2c UU PPh) dan menjadi bukan obyek pajak apabila diinvestasikan di Indonesia.

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

177

Meskipun wajib pajak yang menjadi obyek penelitian melaporkan harta berupa investasi saham dan deposito, namun belum ada penghasilan berupa bunga dan dividen yang dilaporkan pada SPT.

e. Royalti

Penghasilan dari kepemilikan aset tidak berwujud oleh WPOP. Dalam pasal 4 ayat 1 UU PPh dijelaskan bahwa imbalan terkit royalti meliputi : 1) Imbalan dari penggunaan atau hak menggunakan hak atas kekayaan

intelektual (HAKI), peralatan / perlengkapan industrial , komersial dan ilmiah, Pemberian pengetahuan atau informasi dibidang ilmiah, teknikal, industrial dan komersial beserta bantuan tambahannya 2) Penggunaan hak atau hak menggunakan fiml gambar hidup dan yang

serupa

3) Pelepasan hak penggunaan atau pemberian hak.

Penghasilain royalti ini dikenakan PPh dengan tarif progresif dan bersifat tidak final, sehingga pemotongan PPh pasal 23 oleh pihak lain merupakan pembayaran dimuka PPh dan bersifat sementara sehingga wajib digabungkan dengan penghasilan lainnya untuk dilakukan perhitungan secara gabungan.

Dalam penelitian terhadap lima Wajib Pajak, semuanya tidak ada yang menerima atau memperoleh penghasilan berupa royalti karena tidak mempunyai harta tidak berwujud.

f. Bagian laba / Bagi hasil

WPOP dapat melakukan investasi dalam berbagai bentuk. Kerjasama usaha juga merupakan bentuk investasi yang hasilnya dapat menjadi obyek pajak.

5. Keuntungan karena pembebasan utang

Prinsip taxable-deductible terkait pembebasan utang diberlakukan dalam upaya menerapkan keadilan. Dalam akuntansi sering dibahas kreditur dapat membebankan piutang tak tertagih (bad debt expense atau write off) dan pihak lawan transaksi (debitur) merupakan penghasilan berupa pembebasan utang. Bagi WPOP pembebasan utang artinya debitur tidak perlu melunasi utangnya sehingga debitur dianggap menerima

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

178

penghasilan sebesar saldo utang yang dibebaskan/dihapuskan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 130 Tahun 2000, pemerintah memberikan batasan jumlah pembebasan utang untuk debitur kecil dan UMKM sehingga pembebasan utang ini termasuk bukan obyek pajak sehingga tidak dikenakan PPh.

4.2. Pengawasan dan Pemeriksaan pajak atas Harta

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berwenang melakukan pemeriksaan pajak dan apabila terdapat bukti valid dan cukup dapat menetapkan jumlah pajak terhutang atau mengusulkan pemeriksaan bukti

permulaan apabila ada indikasi tindak pidana dibidang perpajakan. DJP telah melakukan banyak upaya meningkatkan kepatuhan melalui program CRM (Compliance Risk Management) pada pengawasan dan pemeriksan secara nasional. Data pemicu juga bertujuan untuk melakukan pengawasan atas transaksi Wajib Pajak dan perbedaan data akan diminta penjelasan kepada Wajib Pajak melalui SP2DK.

Terkait daftar harta, kebenaran jumlah harta yang dilaporkan oleh WPOP pada SPT Tahunan PPh, DJP dapat melakukan pengawasan / pemeriksaan dengan tindakan berupa :

a. Kebenaran fisik harta dengan datang ke lokasi b. Keabsahan kepemilikan harta

c. Konfirmasi data dari daftar harta yang dilaporkan pada SPT

d. Metode tidak langsung dengan pendekatan biaya hidup kenaikan kekayaan bersih.

e. Pemanfaatan data setoran PPh Final atas pengalihan tanah dan/atau bangunan

f. Pemanfaatan data fasilitas kredit dari pembiayaan dan perbankkan berupa fasilitas kredit perubahan, kredit usaha, kartu kredit atau fasilitas pembiayaan lainnya.

Langkah pengawasan saat ini belum optimal karena terbatasnya sumber daya dan data. Terbukti masih ditemukan wajib pajak yang belum melaporkan harta dan terhadap harta yang dilaporkan masih perlu dilakukan pengujian untuk menghitung potensi pajak secara optimal.

Dengan demikian dengan semakin terbukanya informasi dan upaya terus menerus DJP dalam meningkatkan kepatuhan material, diharapkan DJP

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

179

mampu melakukan edukasi secara turus menerus sehingga tingkat kepatuhan formal dan material wajib pajak akan dapat meningkat dimasa yang akan datang.

5. PENUTUP

Wajib Pajak Orang Pribadi mempunyai kewajiban melaporkan daftar harta. Penghasilan dari harta yang merupakan obyek pajak: 1)Tambahan kekayaan bersih yang belum dikenakan pajak 2) keuntungan penjualan/pengalihan harta 3) penghasilan dari harta/investasi 4) keuntungan karena pembebasan utang.

DJP dapat membandingkan kepemilikan harta Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) dengan daftar harta yang dilaporkan pada SPT, dalam hal terdapat selisih lebih antara penambahan harta dengan jumlah penghasilan dalam satu tahun pajak maka terdapat potensi pajak.

Selanjutnya agar masyarakat mampu memahami dan dapat meningkatkan kepatuhan material dalam melaporkan harta maka DJP perlu memfokus untuk melakukan edukasi, pengawasan dan penegakan hukum kepada wajib pajak.

REFERENSI

Chairil Anwar Pohan, 2011. Optimalisasi Corporate Tax Manajement.

Jakarta: Bumi Aksara

Gunadi, 2013. Panduan Komprehensif Pajak Penghasilan. Jakarta : Bee Media Indonesia

Haris Herdiansyah, 2019. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Jakarta : Salemba Humanika

Indrawati, 2018. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Refika Aditama

Iman Santoso & Ning Rahayu, 2019. Corporate Tax Management. Jakarta : Ortax

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang perubahan keempat atas undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

180

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2016 tentang Pajak Penghasilan atas penghaslan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan atau Bangunan dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli atas tanah dan atau bangunan beserta perubaannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2017 tentang Pajak Penghasilan atas penghaslan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 130 Tahun 2000 tentang pengecualian sebagai obyek pajak atas keuntungan karena pembebasan utang debitur kecil

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/KMK.04/1995 tentang Pajak Penghasilan terhadap pihak-pihak yang melakukan kerjasama dalam bentuk perjanjian Bangun Guna Serah (Built Operate and Transfer).

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan.

Menteri keuangan nomor PMK-18/PMK.03/2021 tentang Cipta Kerja dibidang PPh, PPN dan PPnBM dan KUP

Ariesta, R. P. (2017). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Perpajakan, Sistem Administrasi Perpajakan Modern, Pengetahuan

Korupsi, dan Tax Amnesty terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Semarang Candisari (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).

Arianty, F. (2017). Tinjauan Atas Asas Keadilan dan Kemudahan Administrasi Pajak dalam Pengenaan Pajak Penghasilan Final 1%

Terhadap Wajib Pajak UMKM. Jurnal Vokasi Indonesia. Jan-Jun, 5(1).

Dewi, N. P. D. A., & Diatmika, I. P. G. (2020). Pengaruh Tingkat Kepercayaan, Persepsi Tax Amnesty, Akuntabilitas Pelayanan

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

181

Publik, dan Lingkungan Sosial terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika, 10(2), 245-254.

Kusumawardhani, I., & Gunadi, G. (2021). Analisis Administrasi Pajak Penghasilan Atas Cashback pada Industri Teknologi Keuangan Dompet Elektronik Di Indonesia. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 6(2), 802-822.

Mustika, C. (2012). Pajak penghasilan di Indonesia (Peraturan, Perhitungan dan Upaya Peningkatan Potensi Penerimaan Pajak Penghasilan) dan kaitannya dengan Investasi di Indonesia. Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan, 1(3), 227-238.

Putri, A., & Wibowo, D. (2021). Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi (JIRA), 10(2).

Rahayu, N. (2017). Pengaruh pengetahuan perpajakan, ketegasan sanksi pajak, dan Tax amnesty terhadap kepatuhan wajib pajak. Jurnal Online Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, 1(1), 15-30.

Utama, A., & Wahyudi, D. (2016). Pengaruh Religiusitas terhadap Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Provinsi DKI Jakarta. Jurnal Lingkar Widyaiswara, 3(2), 1-13.

Utami, C. K. (2020). Persepsi Terhadap Penegakan Hukum Pajak dan Kepatuhan Wajib Pajak. EKUBIS, 2(1), 53-67.

Widyaningtyas, N. S. (2020). Hubungan Antara Perilaku Wajib Pajak dan Kebijakan Pajak Berdasarkan Sudut Pandang Behavioral Accounting. E-Jurnal Akuntansi, 30(1), 14-27.

Widorini, S. G., & Nugroho, J. P. (2014). Pengaruh Pengetahuan, Persepsi Tentang Tarif Pajak Dan Penegakan Hukum Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kpp Pratama Yogyakarta. Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi, 5(1).

Bunga Rampai | KEUANGAN NEGARA 2021

182