BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam khazanah ilmu-ilmu sosial, manusia menjadi subjek sekaligus
objeknya. Manusia mempelajari manusia lainnya, bahkan manusia
memperlajari dirinya sendiri.Sudah lebih dari berabad-abad lamanya, manusia
serta keunikan dan kekhasannya menjadi suatu yang dibahas dan dikupas
melalui ilmu pengetahuan yang menyikap tabir rahasia ras yang bernama
manusia hingga ke inti yang terdalam.Pernyataan di atas sangat terkait sekali
dengan istilah yang Weber sebut sebagai verstehen, yakni memahami. Dan
inilah yang menjadi esensi dari penelitian kualitatif yang hendak peneliti
gunakan untuk memahami fenomena yang hendak diteliti, karena dengan
menggunakan penelitian kualitatif peneliti akan mampu memahami pola pikir
dan sudut pandang orang lain serta sekelompok komunitas tertentu dalam
setting ilmiah.
Menurut Denzin dan Lincoln (1994) definisi penelitian kualitatif itu
sendiri dikatakan sebagai berikut:
Qualitative research is multi-method in focus, involving an interpretive naturalistic approach to its subject matter. This means that qualitative researches study things in their natural setting, attempting to make sense of or interpret phenomenon in
commit to user
terms of the meanings people bring to them. Qualitative research involves the studied use and collection of a variety of
empirical materials-case study, personal experience
introspective, life story, interview, observational, historical, interactional and visual text that describe routine and problematic moments and meaning in individual lives.
Bila kita mengartikan definisi di atas bahwa penelitian kualitatif lebih
ditujukan untuk mencapai pemahaman mendalam mengenai organisasi atau
peristiwa khusus daripada mendeskripsikan bagian permukaan dari sampel
besar dari sebuah populasi.Penelitian ini juga bertujuan untuk menyediakan
penjelasan tersirat mengenai struktur, tatanan dan pola yang luas yang
terdapat dalam suatu kelompok partisipan. Penelitian kualitatif juga disebut
field research atau penelitian kancah. Penelitian ini juga menghasilkan data
mengenai kelompok manusia dalam ruang atau latar sosial.
Lebih lanjut, Denzin dan Lincoln menegaskan bahwa penelitian
kualitatif ditujukan untuk mendapatkan pemahaman yang mendasar melalui
pengalaman first-hand dari peneliti yang langsung berproses dan melebur
menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dengan subjek dan latar yang akan
diteliti berupa laporan yang sebenar-benarnya, apa adanya dan catatan-catatan
lapangan yang aktual. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami
bagaimana para subjek penelitian mengambil makna dari lingkungan sekitar
dan bagaimana makna-makna tersebut mempengaruhi perilaku subjek sendiri.
Karena merupakan first-hand, maka dalam melakukan penelitian
kualitatif harus terjun langsung dan mengenal subjek penelitian yang
bersangkutan secara personal dan tanpa perantara.Semaksimal mungkin
commit to user
dihilangkan atau diminimalisasi agar peneliti dengan subjek yang dapat
diteliti benar-benar memahami sudut pandang dan perasaan subjek penelitian
dengan optimal dan secara mendalam.Ini pula yang menjadi ciri khas dari
penelitian kualitatif.
Sejalan dengan Denzin dan Lincoln, Moleong (2005) mendefinisikan
penelitian kualitatif sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami subjek, misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan dan lain sebagainya. Secara holistik dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Masih banyak lagi definisi mengenai penelitian kualitatif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli metodologi penelitian kualitatif yang tidak
bisa disebutkan satu per satu di sini, namun terdapat kesamaan pola dan
adanya benang merah dari setiap definisi yang dikemukakan. Bedasarkan
serangkaian karakteristik, pendekatan masalah, dan paradigma yang
mengkonstruksikan penelitian kualitatif maka peneliti mendefinisikan
penelitian kualitatif sebagai berikut:
Penelitian kualitatif ialah suatu bentuk penelitian ilmiah yang mempunyai tujuan untuk memahami suatu gejala dalam konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi serta komunikasi yang mendaam anatara peneliti dengan gejala yang diteliti dan kemudian menarik kesimpulan bedasarkan prinsip-prinsip umum.
commit to user
Penelitian kualitatif yang hendak dilakukan oleh peneliti kali ini
menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi digolongkan ke
dalam pendekatan penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian
kuantitatif. Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan
dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi obyek studi. Paragidma itu
sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu, atau
pandangan terhdap sesuatu. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu
cara memahami realita. Dalam penelitian, hal ini mencakup keyakinan
terhadap sifat dasar dari realitas (yang diamati), hubungan antara orang yang
mencoba mengetahui sesuatu (peneliti) dan hal yang mereka coba ketahui
(yang diteliti), peranan atau pengaruh dari nilai-nilai (yang dianut peneliti)
dan variabel-variabel lainnya yang serupa itu.
1. Seputar Fenomenologi
fenomenologi (phenomenology) merupakan suatu model penelitian
kualitatif yang dikembangkan oleh ilmuan Eropa bernama Edmund
Husserl pada awal ke-20 (sekitar tahun 1935-an). Model ini berkaitan
dengan suatu fenomena. Pada awalnya Husserl melihat adanya titik temu
antara ilmu filsafat dengan ilmu sosial terapan, seperti psikologi,
antropologi dan sosiologi. Menurut Husserl dalam setiap hal, manusia
memiliki pemahaman dan penghayatan terhadap setiap fenomena yang
dilaluinya dan pemahaman dan penghayatannya tersebut sangat
berpengaruh terhadap perilakunya (Giorgi dan Giorgi dalam Smith, 2003).
commit to user
dengan suatu pertanyaan, ”bagaimana suatu objek dan suatu kejadian
muncul bersamaan dan mempengaruhi kesadaran manusia, dan apakah
suatu fenomena yang terjadi dapat dipisahkan dari kesadaran manusia?”.
Itulah pertanyaan pertama yang menggelitik Husserl untuk meneliti dan
mengembangkan fenomenologi (Herdiansyah, 2010:66).
Model fenonemologi lebih ditunjukkan untuk mendapatkan
kejelasan dari fenomena dalam situasi natural yang dialami oleh individu
setiap harinya daripada melakukan reduksi suatu fenomena dengan
mencari keterkaitan atau hubungan sebab akibat dari variabel.
Fenomenologi berusaha untuk mengungkap dan mempelajari serta
memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang
dialami oleh individu hingga tataran keyakinan indivdu yang
bersangkutan. Dengan demikian, dalam mempelajari dan memahaminya,
haruslah bedasarkan sdudut pandang paradigma dan keyakinan langsusng
dari individu yang bersangkutan sebagai subjek yang mengalami langsung
(first-hand experiences) (Herdiansyah, 2010). Dengan kata lain, penelitian
fenomenologi berusaha untuk mencari arti secara sosiologis dari suatu
pengalaman individu terhadap suatu fenomena melalui penelitian yang
mendalam dalam konteks kehidupan sehari-hari subjek yang diteliti.
Disamping itu, dalam memahami dan mempelajarinya haruslah didukung
oleh persiapan yang matang dan komprehensif dari peneliti untuk
mendapatkan kepercayaan penuh dari subjek yang diteliti, sehingga
commit to user
Secara sederhana, fenomenologi lebih memfokuskan diri pada
konsep suatu fenomena tertentu dan bentuk dari studinya adalah untuk
melihat dan memahami arti dari suatu pengalaman individual yang
berkaitan dengan suatu fenomena tertentu. Polkinghorne (1989)
mendefinisikan fenomenologi sebagai sebuah studi untuk memberikan
gambaran tentang arti dari pengalaman-pengalaman beberapa individu
mengenai suatu konsep tertentu. Dengan penjelasan yang telah diberikan,
kita dapat melihat bahwa suatu fenomena tertentu dapat mempengaruhi
dan memberikan suatu pengalaman yang unik, baik bagi seorang individu
maupun sekelompok individu.
Pengalaman seseorang yang luar biasa dan fenomenal secara
umum akan terjadi suatu perubahan sikap, sudut pandang ataupun perilaku
pada orang yang mengalami pengalaman tersebut. Terjadinya perubahan
perilaku, sikap dan sudut pandang yang diakibatkan oleh suatu peristiwa
yang tidak biasa atau fenomena tersebut menggelitik peneliti kualitatif
untuk mengangkatnya sebagai bahasan dalam penelitian kualitatif dengan
model fenomenologi. Pengalaman yang disebut di atas bukan sekadar
pengalaman yang biasa, namun pengalaman yang terjadi tersebut berkaitan
dengan ruang dan waktu yang mempengaruhi kesadaran individu secara
langsung maupun tak langsung. Karena model fenomenologi
memfokuskan pada pengalaman pribadi individu, maka subjek
penelitiannya adalah orang yang mengalami langsung kejadian atau
commit to user
fenomena secara tak langsung atau melalui media tertentu yang
meliputinya.
Creswell (1998) mengemukakan beberapa prosedur dalam
melakukan studi fenomenologi:
a. Prosedur pertama, peneliti harus memahami perspektif dan filosofi
yang ada di belakang pendekatan yang digunakan, khususnya
mengenai konsep studi bagaimana individu mengalami suatu
fenomena yang terjadi. Konsep epoche1merupakan inti ketika
peneliti mulai menggali dan mengumpulkan ide-ide mereka
mengenai fenomena dan mencoba memahami fenomena yang
terjadi menurut sudut pandang subjek yang bersangkutan.
b. Prosedur kedua, peneliti membuat pertanyaan penelitian yang
mengeksplorasi serta menggali arti pengalaman subjek dan
meminta subjek untuk menjelaskan pengalamannya tersebut.
c. Prosedur selanjutnya adalah peneliti mencari, menggali dan
mengumpulkan data dari subjek yang terlibat secara langsung
dengan fenomena yang terjadi.
d. Setelah data terkumpul, peneliti mulai melakukan analisis data
yang terdiri atas tahapan-tahapan analisis.
e. Prosedur yang terakhir, laporan penelitian fenomenologi diakhiri
dengan diperolehnya pemahaman yang lebih esensial denga
1Epoche ialah mengesampingkan atau menghilangkan semua prasangka peneliti pada suatu fenomena.Artinya sudut pandang yang digunakan benar-benar bukan merupakan sudut pandang peneliti, melainkan murni sudut pandang dari subjek penelitian.
commit to user
struktur yang invariant dari suatu pengalaman individu, mengenali
setiap unit kecil dari arti yang diperolehya bedasarkan pengalaman
individu tersebut.