BAB IV PEMBAHASAN
A. Etnis Tionghoa Kota Kediri dalam Kajian Budaya
3. Pola Pemukiman etnis Tionghoa di Kota Kediri
Selepas kedatangan etnis Tionghoa ke Kota Kediri secara
berombongan yang diakomodir oleh Hindia Belanda, teijadilah suatu
jaringan di antara etnis Tionghoa di Kota Kediri itu sendiri. Pada awalnya,
etnis Tionghoa berdatangan ke Nusantara hanya untuk berdagang.
Sebagaimana di belahan Nusantara lainnya, di Kediri etnis Tionghoa sudah
ada sejak adanya interaksi manusia di Nusantara dengan etnis lainnya.
Kedatangan etnis Cina ke Kediri sebagai teman dalam berbisnis dan
saling menjaga satu sama lain. Teijadinya hubungan diplomatik yang dirintis
sejak jaman dahulu kala membuat banyak berdatangan etnis Tionghoa ke
Kediri sebagai pedagang sehingga dalam ungkapan filosofi kehidupan orang
Kediri disebut Cina Toke atau Cina sebagai Towfe.Artinya, etnis Tionghoa
yang senang berdagang dan merantau tersebut tidak dibenci dan juga tidak
dimusuhi karena mereka adalah saudagar.Dengan adanya Toke, masyarakat
dapat bekeija pada mereka.
Toke dalam artian selain dapat membeli barang-barang hasil dari
kerajinan sekaligus sejak dahulu etnis Tionghoa memang sudah menjalin
keijasama dengan etnis Jawa (Kediri), entah itu dalam hubungan kerja dalam
bidang perdagangan dimana biasanya Toke Cina memiliki usaha sembako
dan bahan pangan lainnya. Sehubungan dengan hai tersebut, terciptalah
suatu pemukiman yang terletak di tengah-tengah kota. Berkaitan dengan
commit to user
Coppel menyebutkannya sebagai berikut: banyak orang, baik orang
luar maupun orang Indonesia sendiri, menggambarkan orang Tionghoa
sebagai kelompok daerah kota yang paling menonjol. Berbicara tentang
Indonesia secara keseluruhan, barangkali akan lebih tepat mengatakan
bahwa golongan pribumi Indonesia lebih banyak terpusat di daerah pedesaan
dan golongan penduduk Tionghoa tampaknya merupakan penduduk kota
daripada yang sebenarnya. Namun tahun 1930 bukanlah tahun yang khas.
Sejak pemukiman paling awal dari pedagang Tionghoa di kota-kota
pelabuhan yang terletak di pantai utara itu, orang Tionghoa di Jawa selalu
cenderung berkumpul dan berkelompok sendiri di kota-kota. Bagi orang
Tionghoa hal ini tidaklah aneh (Coppel, 1994: 27-28).
Kasus yang teijadi di Kota Kediri bisa dibilang sama dengan apa
yang telah diulas di atas. Tatanan kota pada tahun 1900-1930an terletak di
Pecinan Kediri bagian barat yang kini bernamakan jalan Yos Sudarso
dimana bisa kita temukan Kelenteng di sana. Menurut wawancara yang saya
lakukan dengan pak Slamet Riyanto seorang pensiunan BUMN yang pernah
tinggal di sekitar daerah "kota" tersebut dipaparkan sebagai berikut:
"Kalau dulu sebelum Agresi yang disebut kota itu ya situ mbak, Pecinan yang ada Kelentengnya (sambil menunjuk ke arah jalan Yos Sudarso). Mereka memang suka hidup bergerombol dan di belakang rumahnya sudah berbatasan dengan bantaran Sungai Brantas." (Wawancara tanggal 3
commit to user
Banyak etnis Tionghoa yang memilih tinggal di pusat kota atau di
tempat yang banyak orang. Disamping itu sebelum kemerdekaan banyak
etnis Tionghoa yang tinggal di pelabuhan-pelabuhan karena lebih mudah
mencari informasi dan pelabuhan merupakan tempat untuk melakukan
transaksi perdagangan sehingga memudahkan mereka dalam berbisnis.
Kebutuhan untuk berdagang dan tuntutan menghasilkan uang
sebanyak-banyaknya membuat etnis Tionghoa cenderung bertempat tinggal dengan
kelompoknya sekaligus dapat dengan leluasa membuka usahanya.
Demikian halnya ketika kita memandang sebuah tatanan kota yang
pernah ada di Kediri, disebutkan bahwa struktur pusat kota memang dahulu
terletak pada suatu daerah yang terdapat banyak kegiatan ekonomi terutama
transaksi bahan-bahan pangan. Sejalan dengan itu, tipe-tipe pemukiman
etnis Tionghoa memang banyak ditemukan di daerah pinggir pelabuhan dan
bantaran sungai. Ada dua alasan yang bisa penulis sajikan untuk
menganalisis mengapa mereka lebih memilih untuk bermukim di daerah
seperti di atas.
Pertama, filosofi dari negeri moyang mereka yang pernah tinggal di
bantaran Sungai Kuning, dimana sebuah realitas sejarah akan peijuangan,
kehidupan untuk menuju peradaban dibangun. Realitas ini tertaruh pada
sendi-sendi kehidupan mereka hingga arti tentang aliran air yang membawa
keberuntungan dan berkah melekat pada budaya mereka di manapun
commit to user
Kedua yaitu mengenai faktor di luar etnis Tionghoa itu sendiri,
misalnya adanya ketentuan pemerintah Kolonial Belanda pada saat itu
untuk mengatur etnis Tionghoa guna memudahkan pemerintah dalam
mengatur dan mengorganisir etnis Tionghoa sendiri di Nusantara.
Perbedaan etnis antara Tionghoa dan pribumi merupakan salag satu
sebab terpisahnya kelompok etais Tionghoa. Namun tidak kalah pentingnya
adalah kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda, misalnya sistem
Opsir (Kapitan Cina), sistem pemukiman dan pas jalan yang membuat
orang Tionghoa tidak membaur (Suryadinata, 2002: 73).
Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, etnis Tionghoa
yang didatangkan dari daratan Tiongkok dikoordinir oleh seorang Ketua
Cina (Kapten Cina), sehingga mereka mudah untuk diakomodir dan
dikontrol. Demikian halnya jika etnis Tionghoa bepergian diharuskan
memiliki pas jalan. Adanya kebijakan tersebut membuat etnis Tionghoa
berbeda dengan etnis yang lainnya di Nusantara. Di samping itu, etnis
Tionghoa dijadikan pedagang eceran sekaligus dimasukkan dalam strata
menengah seperti etnis Arab, sedangkan kelas bawah adalah bangsa
Pribumi.Sebaliknya bangsa Eropa dimasukkan dalam strata kelas tinggi
(Usman, 2009: 248).
Adanya strata dalam masyarakat sehingga terjadinya spesifikasi dan
terjadinya kesenjangan dan akhirnya muncul persepsi bahwa bangsa Eropa
commit to user
dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda agar masyarakat lainnya merasa
rendah diri, sedangkan bangsa Eropa lah yang dianggap ada dalam
kebudayaan yang tinggi. Kelas menengah sebagai pedagang tidak boleh
berpartisipasi dalam politik. Jika bangsa Timur Asing seperti Arab, India
dan Cina berbaur dan tidak dibedakan dengan pribumi, maka akan
dikhawatirkan akan menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda.
Sehingga, kebijakan pemerintah yang dibuat oleh rezim Hindia Belanda
bisa dikatakan menjadi kekuatan besar yang berpotensi untuk menentang
mereka sendiri. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap etnis
Tionghoa sifatnya berbentuk Opsir, yakni sistem pemukiman dan Pas Jalan
yang disebutkan dalam Suryadinata di bawah ini.
Pertama, kebijakan ini memudahkan secara administratif. Orang
Tionghoa di Jawa cenderung memilih hidup dengan kelompoknya sendiri.
Karena itu memudahkan bagi pemerintah Hindia Belanda untuk menunjuk
kepada kelompok ras itu sendiri. Kedua, kebijakan ini dirasa
menguntungkan secara ekonomis, sebab hai tersebut akan menjamin
stabilitas sosial yang ada. Di bawah sistem ini, nonpribumi digambarkan
berdomisili di perkotaan, sedangkan bagi mereka kaum pribumi hidup di
pedesaan. Dilarangnya nonpribumi tinggal di pedesaan diharapkan agar
mereka tidak akan mempengaruhi penduduk desa sehingga menghindarkan
kemungkinan terjadinya kogoncangan sosial bisa diminimalisir. Ketiga,
kebijakan ini diinginkan secara politis, bahwasannya pemerintah Hindia
commit to user
bergabung untuk melawan mereka. Karena politik pemisahan ini dirasa
signifikan, maka penting untuk diperiksa dengan teliti (Suryadinata, 2002:
73).
Sistem Opsir adalah suatu cara untuk mengatur orang Tionghoa
supaya berpisah dengan bangsa pribumi, sehingga untuk memudahkan
bangsa Belanda mengatur maka diangkatlah seseorang untuk mengurus
mereka terutama yang berhubungan dengan pemerintah sipil. Namun
kegiatan yang bersifat keamanan masih diatur oleh pemerintah Hindia
Belanda. Artinya, pemerintah Belanda akan dibantu oleh Opsir Tionghoa
tersebut, sehingga urusan yang berkaitan dengan sipil telah diambil alih
sedikitnya olehnya sendiri. Sistem ini juga membuat etnis Tionghoa
memiliki perbedaan perlakuan dengan orang pribumi lainnya. Sejak saat itu
pemerintah Hindia Belanda menanamkan suatu bibit perebedaan kepada
masyarakat Tionghoa di Jawa. Pada tahun 1619, Souw Beng Kong dipilih
oleh JP Coen dari 400 penduduk Tionghoa di Batavia serta diberi kuasa
memerintah rasnya sendiri dalam urusan sipil. Namun untuk hal-hal yang
penting harus masih diserahkan kepada penguasa Hindia Belanda.
Sistem pemukiman (Wijken Stelsel) berhubungan erat dengan sistem
Opsir dalam arti bahwa orang Tionghoa diurus oleh kepala kelompok ras
mereka dan diwajibkan tinggal di daerah tertentu jauh dari ras lain. Setelah
itu, pemukiman ini mula-mula diterapkan pada tahun 1835 di pulau Jawa.
commit to user
Belanda, sadapat mungkin dikumpulkan di daerah-daerah terpisah di bawah
pimpinan kepala mereka masing-masing (Suryadinata, 2002: 75).
Dengan adanya sistem seperti ini etnis Tionghoa terpisah dengan
etnis pribumi sehingga mereka tidak dapat lagi dengan sembrangan dan
sesuka hati berinteraksi dengan orang lain di lingkungan mereka. Dengan
kata lain, etnis Tionghoa telah ditempatkan dalam satu kelompok tertentu
yaitu dengan hidup di kompleks-kompleks dimana komposisi penduduk
didominasi oleh mereka sendiri. Adanya sistem pemukiman yang
terstruktur tersebut membuat etnis Tionghoa bergauk, berteman dan
bermain dengan etnisnya sehingga dengan sistem pemukiman tersebut
membuat mereka semaki terpisah dengan pribumi lainnya. Keterpisahan
lingkungan hidup dengan masyarakat Nusantara liannya ini seakan
membentuk suatu gagasan ekslusif atas realitas sosial yang mendukung
saudagar dan kelas menengah ini menganggap dirinya sebagai orang yang
gila hormat bila dibandingkan dengan penduduk Nusantara yang lainnya.
Dengan demikian terbatasnya interaksi dengan lingkungan di luar etnisnya
membentuk mereka hidup di lingkungan yang terisolasi dengan masyarakat
pribumi.
Sejalan dengan itu, jarak sosial dan budaya etnis Tionghoa dalam
masyarakat Indonesia juga dibarengi dengan adanya surat jalan jika hendak
keluar dari komunitasnya. Sistem pemukiman mewajibkan orang Tionghoa
commit to user
bilamana terdapat kartu "pas jalan". Suryadinata (2002) memaparkan,
sistem pas jalan (Passen Stelsel) ini secara resmi dilaksanakan pada tahun
1863. Penduduk Timur Asing yang tinggal di Jawa dan Madura diharuskan
memperoleh pas jalan yang berlaku selama setahun.Seorang penulis
berpendapat bahwa sistem tersebut sudah dilaksanakan pada tahun
1816.Pada tahun ini ada sebuah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur
Jenderal yang mirip dengan sistem pas jalan.
Sistem pas jalan ini dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda
adalah untuk kepentingan perdagangan, industri dan usaha lainnya. Pas
jalan ini digunakan untuk kepentingan bisnis dan jika tidak diperlukan lagi
akan segera dicabut. Oleh karena itu, pas jalan ini merupakan simbol
identitas etnis Tionghoa dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan
pemerintah Hindia Belanda maupun dengan bangsa pribumi.
Untuk memaksimumkan eksploitasi mereka terhadap Indonesia,
Belanda melaksanakan suatu kebijakan kolonial yang disebut Kultur
Stelsel. Pada dasarnya, orang Tionghoa ditempatkan dalam posisi antara di
bawah seluruh struktur kasta kolonial, yang terpisah dari elite penguasa
maupun penduduk pribumi. Sementara orang Tionghoa dilarang memasuki
aktivitas sector modern seperti perkebunan, pertambangan, keuangan dan
perdagangan ekspor yang dikuasai oleh Belanda, mereka juga dilarang
memiliki dan menanami tanah. Lowongan yang tinggal terbuka bagi orang
commit to user
uasha-usaha lain yang tidak mendekatkan mereka kemudian kepada
nasionalis Indonesia. Dengan cara ini alienasi ekonomis dan sosial dari
penduduk lokal membuat kaum Tionghoa ini politis rawan dan membuat
mereka tampak di mata pribumi sebagai orang asing pemeras atau kaki
tangan Belanda. Sejalan dengan hai tersebut, lama sebelum Indonesia
merdeka, kebijakan kolonial Belanda telah menanamkan bibit-bibit
pertentangan antara orang Tionghoa dengan penduduk pribumi (Wong,
1987: 51-52).
Pemisahan pemukiman, penempatan kasta, posisi di bawah struktur
belanda dan pembatasan-pembatasan kiprah dalam perdaganagn membuat
etnis Tionghoa di Indonesia menjadi berbeda serta terpisah secara
psikologis ekonomi maupun secara hukum. Adanya perlakuan dan
kebijakan Belanda terhadap etnis Tionghoa yang akhirnya membentuk
karakter etnis Tionghoa yang senag hidup berkelompok dan membuat
mereka benar-benar menjaga jarak dengan pribumi. Demikian juga
terbatasnya kegiatan ekonomi membuat mereka juga menjadi tertekan
karena etnis Tionghoa tidak dibenarkn masuk ke dalam wilayah
pertambangan dan ekspor-impor. Padahal secara ekonomi etnis Tionghoa di
Nusantara sangat menguasai sistem pasar yang berlaku, di Nusantara
maupun perdagangan internasional.Adanya kebijakan tersebut dari
pemerintah Hindia Belanda menimbulkan kesan bahwa etnis Tionghoa
ialah kaum pemeras. Wong menyebutkannya sebagai berikut: terpisahnya
commit to user
bagian-bagiann lain di Asia Tenggara adalah juga disebabkan oleh sikap
tradisional mereka sendiri yang terlalu taat pada kebijaksanaan pada
umumnya yang mereka kenakan sendiri (self-imposed) untuk tidak terlibat
(non-involvement) dalam gerakan-gerakan politik lokal dan berusaha
mempertahankan dengan kuat identitas kebudayaan mereka (Wong, 1987:
52).
Pola pemukiman etnis Tionghoa yang telah berbentuk ratusan tahun
itu secara generasi diturunkan kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka.
Etnis tionghoa yang telah terbiasa hidup dengan budayanya sendiri
membentuk suatu kesenjangan budaya dengan masyarakat
lainnya.Demikian juga pola pemukiman yang telah teorganisir sedemikian
rupa oleh kelompoknya membuat etnis Tionghoa enggan tinggal terpisah
dengan etnisnya. Di samping itu, kesamaan budaya serta kesamaan rasnya
membentuk suatu msyarakat yang teralienasi dengan masyarakat lainnya.
Kebisaan tinggal sesama kelompok etnis selain dapat mempertahankan
identitas etnisnya sekaligus identitas budaya mereka juga dapat terpelihara.
Sehubungan dengan etnis Tionghoa di kota Kediri yang telah hidup
ratusan tahun, mereka terbiasa tinggal di daerah yang mayoritas beragama
Islam. Akan tetapi kehidupan etnis Tionghoa berlangsung sebagaimana di
daerah lainnya. Dengan kata lain, pola pemukiman yang telah biasa hidup
berkelompok tersebut terkonsentrasi di Jalan Yos Sudarso hingga lanjut kea
commit to user
Kecamatan Kota, Kota Kediri. Pola pemukiman yang terkonstrasi di tempat
keramaian dan tempat orang-orang berbisnis, terutama dalam bidang
pangan dan oleh-oleh khas Kota Kediri.Jalan Yos Sudarso lanjut ke timur
Jalan Pattimura merupakan perkampungan etnis Tionghoa. Di sepanjang
jalan Yos Sudarso dan Pattimura bisa dikatakan sebagai pusat transaksi
bisnis yang sudah berdiri sejak pemerintahan Hindia Belanda dan hampir
semua pertokoannya dimiliki oleh etnis Tionghoa itu sendiri.