BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk Study comparative Analitik dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda kejadian infeksi perinatalogi di Rumah Sakit (Sudigdo dan Sofyan, 2002)
3.2. Lokasi Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan dengan pertimbangan merupakan daerah dimana penulis bekerja serta belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di lokasi ini.
3.2.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai dengan pengusulan judul penelitian, penelusuran daftar pustaka, persiapan proposal penelitian, konsultasi dengan pembimbing, pelaksanaan penelitian sampai dengan laporan akhir yang dimulai dari bulan Januari 2013 dan selesai pada bulan September 2013.
3.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang lahir dan dirawat di ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan baik sebelum dan sesudah dilakukan pemisahan ruang perinatologi.
Sampel adalah data populasi yang dipilih atas dasar kemampuan mewakilinya (Danim, 2003). Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Budiarto, 2004) dengan kriteria
- Inklusi : Semua data bayi yang lahir dan dirawat dirumah Sakit RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan.
- Eksklusi : Data Bayi dengan kelainan bawaan.
Jumlah sampel diambil dengan menggunakan rumus :
2
Dari rumus di atas nilai-nilai variabel diperoleh:
• Nilai zα
• Proporsi efek standar P = 1,96
1
• Proporsi efek yang diteliti P
sebesar 0,50
2
• Beda klinis yang dianggap penting 0,20
(clinic judgement) sebesar 0,70
• Tingkat kemaknaan α (2 arah) = 0,05
Berdasarkan rumus dan nilai-nilai variabel di atas maka diperoleh jumlah sampel sebelum pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai berikut:
09
Selanjutnya, dengan rumus yang sama diperoleh jumlah sampel untuk responden sesudah pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan diperoleh:
09
Sampel diambil secara comparative analitik yakni data bayi yang dirawat sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 27 bayi sebelum dilakukan pemisahan dan 27 bayi sesudah dilakukan pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dimana data primer yang diperoleh dari laporan petugas yang merawat bayi dan dari ibu bayi serta observasi yang dilakukan oleh peneliti dan data sekunder diperoleh dari catatan rekam medik di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan, data profil rumah sakit. Pengumpulan data dalam penelitian ini dibantu oleh tenaga bidan atau perawat yang bertugas bagian perinatalogi.
3.4.1. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi dua tahapan, yaitu :
1. Tahap Persiapan
Mempersiapkan sarana dan prasarana yang akan mendukung kegiatan ini seperti izin penelitian, koordinasi dengan bidan atau perawat di rumah sakit.
2. Tahap Pelaksanaan
Semua data bayi yang dikumpulkan dari tiga bulan sebelum adanya pemisahan ruang perinatalogi pada tanggal 20 Maret 2013 diambil sebanyak 27 bayi dan tiga bulan sesudah adanya pemisahan ruang perinatalogi jumlah bayi diambil sebanyak 27 bayi yakni yang lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diukur yaitu:
a. Variabel Independen (X) adalah pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
b. Variabel Dependen (Y) adalah kejadian infeksi perinatal diare, hipotermi, hipertermi, kemauan menghisap, pemutusan tali pusat, lama rawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
3.5.2. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian.
Tabel 3.1 Observasi Pemanfaatan Alat Ukur
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Diare Tinja cair dan frekuensi
lebih dari tiga kali dalam sehari
Hipotermi Keadaan suhu tubuh <
36,5o
Hipertermi Keadaan suhu tubuh bayi mengalami basah dan berbau pada pangkal tali pusat Lama rawat Bayi dari masuk sampai
dengan keluar dari
3.6. Metode Analisa Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan dengan mendiskripsikan besarnya persentase pada seluruh variabel penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
b. Analisa Bivariat
Analisis bivariat merupakan kelanjutan dari analisis univariat dengan cara melakukan tabulasi silang antara variabel dependen pada kelompok sebelum dilakukan pemisahan ruang perinatologi dan sesudah pemisahan ruang Perinatologi.
c. Uji X
Uji Chi Square (X
2
2) berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya (C = Coeficient of contingency) dengan rumus:
yang mana X2
= frekuensi yang diperoleh/diamati
Dasar pengukuran adalah distribusi binominal yakni sebaran fakta atau kejadian yang sifatnya berpasangan yaitu fakta tentang keberhasilan penurunan angka infeksi perinatal pada saat sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan
Pada Tahun 1937 Zending Belanda mendirikan Rumah Sakit Pembantu di Sipirok, kemudian pada tahun 1954 di masa kemerdekaan Republik Indonesia oleh Zending Belanda Rumah Sakit Pembantu di Sipirok diserahkan kepada HKBP (organisasi gereja yang berpusat di Tarutung-Tapanuli Utara) dan selanjutnya HKBP menyerahkan kepada Pemerintah Daerah Tapanuli Selatan pada tahun 1973, dan RS Pembantu di Sipirok berubah status menjadi Puskesmas Perawatan Tapanuli Selatan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tingkat II Tapanuli Selatan No. 12 Tahun 1999 tentang Penyerahan Puskesmas Tapanuli Selatan milik Pemerintah Daerah Tingkat II Tapanuli Selatan kepada Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara.
Pada tanggal 28 Mei 1998 Rumah Sakit Umum Sipirok diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara Bapak H.Raja Inal Siregar yang pada awalnya merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Pada tahun 1999 diterbitkan Perda Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pembentukan Organisasi Rumah Sakit Umum Sipirok dan Surat Keputusan Gubernur Nomor 188.34/2594/K/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Propinsi
Sumatera Utara Nomor 9 Tahun 1999. Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah (implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah), Rumah Sakit Umum Sipirok menjadi milik Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dalam hal ini UPT Dinas Kesehatan Kabupaten berdasarkan Keputusan Bupati Tapanuli Selatan Nomor : 061/926/K/2002 tentang Pembentukan Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Gunung Tua Kabupaten Tapanuli Selatan pada tanggal 27 Desember 2002.
Pada tanggal 14 April 2008 Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan ditetapkan sebagai Lembaga Teknis Daerah melalui Keputusan Bupati Tapanuli Selatan Nomor 07/Pr/2008 tanggal 28 April 2008 serta persetujuan DPRD Tapanuli Selatan Nomor 061/370/2008 tentang Persetujuan Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan adalah milik Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan merupakan status Rumah Sakit Pemerintah dengan jenis Rumah Sakit Umum Tipe Kelas C. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan beralamat di Jln. Rumah Sakit No. 1 Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara. Berdiri di atas luas tanah dan bangunan seluas ± 2,4 hektar dan memiliki 113 tempat tidur.
4.1.2. Visi, Misi dan Motto
Visi RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan adalah Mewujudkan RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan BERIMAN (Bersih, Ramah, Indah dan Nyaman) dengan memberikan pelayanan PRIMA (Profesional, Rasional, Inovatif, Manusiawi dan Akurat) yang MEMUKAU (Merata, Murah dan Terjangkau)”.
Misi RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan adalah : 1. Meningkatkan mutu Pelayanan Medis yang PRIMA.
2. Memperbaiki citra rumah sakit menjadi RSUD yang BERIMAN, pelayanan prima dan memuaskan.
3. Menjalin hubungan antar manusia yang saling memuaskan dan MEMUKAU.
Motto RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan dikenal dengan istilah “SIPIROK”
yang merupakan singkatan dari Segera, Intensif, Peduli, Ikhlas, Ramah, Optimal dan Kualitas.
4.1.3. Struktur Organisasi
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 25 Nopember 2010 tentang Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan seperti tampak pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Struktur Organisasi RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan 4.1.4. Sarana dan Prasarana
Adapun sarana dan prasarana yang ada di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan adalah sebagai berikut :
1. Instalasi Rawat Jalan dan Rehabilitasi Medis.
RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki 8 (delapan) poli pelayanan yaitu poli umum, poli penyakit dalam, poli anak, poli gigi dan mulut, poli syaraf, poli paru, poli bedah dan poli kebidanan dan penyakit kandungan.
2. Instalasi Gawat Darurat
Pelayanan 24 jam dengan dokter dan perawat yang bersertifikat. Dilengkapi sarana DC shock dan syring pump.
DIREKTUR SEKSI PENUNJANG MEDIS
DAN BINA SARANA BIDANG PENUNJANG MEDIS
DAN REKAM MEDIS
SUB BAGIAN KEUANGAN DAN PELAPORAN
3. Instalasi Rawat Inap
RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki 8 (delapan) ruang rawat inap yaitu VIP 4 tempat tidur, IRNA I 23 tempat tidur, IRNA II 23 tempat tidur, IRNA III 24 tempat tidur, IRNA IV 16 tempat tidur, Ruang Rawat Inap Kebidanan 14 tempat tidur, Ruang Rawat Inap Bedah 9 tempat tidur dan ICU 6 tempat tidur.
4. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan.
Pelayanan 24 jam ditangani oleh Dokter dan Bidan berpengalaman serta memiliki seorang Peserta Program Studi Dokter Spesialis (PPDS) dan seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginecology.
5. Instalasi Bedah Sentral.
Pelayanan 24 jam dan mempunyai 2 ruang operasi serta memiliki memiliki seorang Peserta Program Studi Dokter Spesialis (PPDS) dan seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginecology.
6. Instalasi Radiologi.
Pelayanan 24 jam, ditangani 1 orang Dokter Radiologi (PPDS) dan penata rontgen yang telah berpengalaman. Rontgen dengan kapasitas 500 KVA dan CT Scan.
7. Instalasi Laboratorium
Pelayanan 24 jam, ditangani 1 orang Dokter Patologi Klinik dan penata rontgen yang telah berpengalaman. Rontgen dengan kapasitas 500 KVA dan CT Scan.
8. Instalasi Gizi.
10. Instalasi Farmasi
11. Instalasi Pusat Steril (CSSD) 12. Ruang Administrasi
13. Insenerator 14. Genset
15. Ruang Hemodialisa 16. Musholla
17. Rumah Dinas Medis 4 Unit 18. Asrama Perawat / Bidan
4.1.5. Ketenagaan RSUD Tapanuli Selatan
Ketenagaan RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan terdiri dari dokter spesialis (3 orang PNS, 3 orang PPDS, 3 orang Kontrak), dokter umum 11 orang, dokter gigi 4 orang, SKM 6 orang, perawat 88 orang, bidan 43 orang, ahli gizi 4 orang, rekam medis 1 orang, perawat gigi 2 orang, petugas radiologi 4 orang, laboran 4 orang, farmasi 4 orang, kesehatan lingkungan 1 orang, sarjana 4 orang, SMA 17 orang, SMP 3 orang dengan jumlah keseluruhan 205 orang.
4.2. Hasil Penelitian 4.2.1. Analisis Univariat
Sampel penelitian adalah pasien penderita Sepsis yang dirawat di instalasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tapanuli Selatan. Sebanyak 27 data rekam medis pasien bayi sebelum pemisahan ruang perinatal dan sebanyak 27 data rekam
medis pasien bayi sesudah pemisahan ruang perinatal yang diperoleh dari catatan pasien selama melaksanakan penelitian.
Distribusi karakteristik berdasarkan tanda kejadian infeksi dalam penelitian ini didasarkan pada catatan medis yang diperoleh.
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Sampel berdasarkan Tanda Kejadian Infeksi Faktor Ukur Sebelum Pemisahan Sesudah Pemisahan Total
n % n % n %
Berdasarkan tanda infeksi diare menunjukkan bahwa yang mengalami diare sebelum pemisahan ruangan lebih banyak dari pada yang tidak diare yakni 16 orang (59,3%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang tidak diare lebih banyak dari pada yang diare yakni 20 orang (74,1%).
Berdasarkan tanda infeksi hipotermi menunjukkan bahwa yang mengalami hipotermi sebelum pemisahan ruangan lebih banyak dari pada yang tidak hipotermi yakni 15 orang (55,6%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang tidak hipotermi lebih banyak dari pada yang hipotermi yakni 20 orang (74,1%).
Berdasarkan tanda infeksi hipertemi menunjukkan bahwa yang mengalami hipertermi sebelum pemisahan ruangan lebih banyak dari pada yang tidak hipertermi yakni 15 orang (55,6%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang tidak hipertermi lebih banyak dari pada yang hipertermi yakni 20 orang (74,1%).
Berdasarkan tanda infeksi tali pusat menunjukkan bahwa yang mengalami tali pusat bernanah sebelum pemisahan ruangan lebih banyak dari pada yang tidak bernanah yakni 14 orang (51,9%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang tidak bernanah lebih banyak dari pada yang bernanah yakni 21 orang (77,8%).
Berdasarkan tanda infeksi kemauan menghisap saat menyusui menunjukkan bahwa yang mengalami tidak mau menghisap sebelum pemisahan ruangan lebih banyak dari pada yang mau menghisap yakni 15 orang (55,6%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang mau menghisap jauh lebih banyak dari pada yang tidak mau menghisap yakni 20 orang (74,1%).
Berdasarkan tanda infeksi lama rawat menunjukkan bahwa yang lama rawat sebelum pemisahan ruangan lebih banyak pada 5 sampai 10 hari yakni 14 orang (48,1%) sedangkan setelah pemisahan ruangan sampel yang lama rawat lebih banyak di bawah 5 hari yakni 21 orang (77,8%).
4.2.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat untuk melihat perbedaan tanda infeksi sebelum dilakukan pemisahan ruang perinatologi dan sesudah pemisahan ruang perinatologi.
Tabel 4.2. Tabulasi Silang Kejadian Diare sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.3 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian diare sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.3. Tabulasi Silang Kejadian Hipotermi sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.4 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi hipotermi sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.4. Tabulasi Silang Kejadian Hipertermi sebelum dan sesudah
Dari Tabel 4.5 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi hipertermi sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.5. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Tali Pusat sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.6 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi tali pusat sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.6. Tabulasi Silang Kejadian Kemauan Menghisap sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Kejadian
Dari Tabel 4.7 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian kemauan menghisap sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.7. Tabulasi Silang Kejadian Lama Rawat sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Kejadian Lama Rawat
Sebelum Pemisahan
Sesudah
Pemisahan Total
Signifikansi
n % n % n %
≤ 5 hari 12 36,4 21 63,6 33 100 χ2
p = 0,003
= 37,752
5 – 10 hari 14 70,0 6 30,0 20 100
> 10 – 28 hari 1 100,0 0 0,0 1 100
Dari Tabel 4.8 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian lama rawat sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
BAB 5 PEMBAHASAN
Rumah sakit merupakan tempat di mana pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk sembuh secara efektif dan efisien tetapi selain mendapat kesembuhan juga merupakan tempat dari berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita yang dirawat. Kuman penyakit dapat berkembang di lingkungan rumah sakit, dapat berupa medis dan non medis. Terjadinya infeksi menimbulkan kerugian diantaranya lama hari rawatan semakin panjang, biaya yang meningkat dan penderitaan yang bertambah. Dugaan terjadinya kejadian infeksi pada ruang perawatan bayi baru lahir yang tinggi di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan diketahui dari 2 atau lebih bayi yang menderita infeksi yang sama pada saat yang sama sehingga menjadikan masa rawatan bayi yang seharusnya tidak panjang menjadi lebih panjang.
Pencegahan infeksi merupakan bagian yang terpenting dari setiap komponen perawatan bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi karena sistem imunitasnya masih sangat kurang sempurna. Konsekuensi akibat tidak mengingat prinsip pencegahan infeksi akan sangat merugikan baik bagi pasien maupun keluarga. Tindakan pencegahan infeksi adalah untuk melindungi bayi dari penyebaran infeksi dengan melakukan tindakan yaitu mengisolasi bayi di dalam ruangan yang khusus untuk bayi yang terinfeksi. Pencegahan yang lain adalah ikut
menjaga dan mematuhi aturan yang telah dibuat oleh manajemen rumah sakit agar keselarasan perawatan dapat terlaksana dengan baik.
Pencegahan sebelum pemisahan ruangan perinatologi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tapanuli Selatan dilakukan sesuai dengan aturan dan prosedur yaitu waktu dan aturan kunjungan pasien, perawat dan aturan yang diterapkan di rumah sakit dan perawatan serta kebersihan ruang perinatalogi yang telah dijadikan ketetapan rumah sakit dan ditanda tangani oleh pihak manajemen. Namun kendala dalam pelaksanaan sebelum pemisahan ruangan selalu dikarenakan hubungan kekerabatan atau budaya yang selama ini sangat kental baik mengenai hubungan kekeluargaan dan kebiasaan yang menjadi tradisi sehingga susahnya dijalankan aturan yang telah ditentukan oleh pihak rumah sakit, dijumpai keadaan bukan hanya dari tamu yang berkunjung, tetapi dijumpai juga dari pihak petugas di ruang perinatal itu sendiri yang juga adalah kebanyakan merupakan kerabat pasien atau memiliki hubungan kekeluargaan. Sebelum adanya pemisahan ruangan sering ditemui tamu yang berkunjung keluar masuk ruang perinatologi tanpa menghiraukan aturan sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi di peroleh dari keluarga pasien maupun tamu yang datang berkunjung.
Dalam kebersihan ruang perinatalogi sendiri juga sudah ada aturan yang telah ditandatangani dan disepakati yang diatur sedemikian oleh rumah sakit, baju, laken dan inkubator dalam perawatannya mempunyai aturan kebersihan sendiri, untuk mengurangi kemungkinan faktor infeksi nosokomial. Kendala yang dijumpai adalah
mengurangi kemungkinan infeksi nosokomial, ditambah lagi dengan kesadaran yang rendah pada petugas untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi perinatalogi, hal terkecil yang sering dijumpai enggannya petugas mengganti baju atau sandal ketika masuk ruang perinatologi dan enggannya petugas menegur tamu yang berkunjung untuk tidak langsung menganti pakaian atau perlengkapan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit dengan pakaian atau perlengkapan yang dibawa oleh keluarga atau tamu. Kejadian ini terjadi oleh karena evaluasi yang kurang tegas dan kontrol yang tidak berjalan.
Sesudah adanya pemisahan ruangan perinatologi, tanda kejadian infeksi di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan menurun, diperoleh dari hasil penelitian yang terbukti menurun secara signifikan, namun masih ditemukan tanda kejadian infeksi daripada masing-masing penyebab, hal ini disebabkan karena adanya faktor yang mempengaruhi kejadian infeksi tersebut. Dugaan kejadian infeksi yang masih tetap ada perlu ditinjau dari kemungkinan penyebab lain karena rumah sakit sebagai sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan paripurna, dalam mengembangkan peran serta perilaku yang positif bagi pasien dan petugas rumah sakit memerlukan berbagai upaya kesehatan. Upaya kesehatan yang belum optimal dan pencegahan penularan penyakit, keterbatasan jumlah dan sarana mungkin sebagai penyebab dari masih adanya tanda kejadian infeksi setelah pemisahan ruangan.
Pelaksanaan penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit adalah penyuluhan kesehatan yang khusus dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya dalam menangani kesehatannya, hal ini merupakan tanggung jawab bersama yang
berkesinambungan antara dokter dan pasien atau petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Penyuluhan kesehatan tersebut dimulai dari sejak pasien masuk rumah sakit atau sejak ia berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Karena itu penyuluhan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pelayanan rumah sakit. Untuk mengembangkan penyuluhan kesehatan ini banyak cara yang bisa ditempuh diantaranya pendekatan dalam penyuluhan berupa informasi yang cukup dari rumah sakit mengenai lingkungan dan gedung, pendekatan berikut adalah dari petugasnya dengan berpakaian bersih dan rapi, bersikap simpatik dan yang terpenting adalah berperilaku sehat dalam arti sesuai dengan aturan, pendekatan penyuluhan ketiga melalui media berupa poster, kaset atau video, dan pendekatan keempat merupakan pendekatan yang terpenting adalah penyuluhan melalui interaksi langsung antara petugas dan pasien. Keberadaan ruang perinatalogi tersendiri membatasi tingkat kunjungan keluarga pasien maupun kerabat karena lebih mudah untuk diawasi dan dibatasi sesuai dengan jam kunjungan dan keluarga dapat melihat bayi cukup dari kaca ruang yang sedemikian rupa. Ruang perinatologi sendiri memudahkan petugas untuk perawatan dan perhatian yang khusus kepada bayi, ternyata hal ini juga dapat melindungi bayi yang sehat dari penyebaran bayi yang terinfeksi. Pelaksanaan ini menyebabkan tingkat penyembuhan yang lebih cepat dan tingkat pemulangan bayi rawat gabung menjadi lebih cepat.
Ruang perawatan bayi dilengkapi dengan perlengkapan yang sesuai dengan standart dalam penanganan bayi diruang perinatal. Petugas dan tamu wajib mematuhi
pergantian dan perawatan bayi hanya boleh dilakukan oleh petugas yang telah mendapatkan pelatihan khusus dan untuk bayi rawat gabung dilakukan bila bayi sudah stabil dan telah diajurkan oleh dokter yang menangani.
Berdasarkan hasil penelitian untuk tanda kejadian infeksi sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan diperoleh bahwa ada perbedaan kejadian diare sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi (p<0,05) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan artinya ada penurunan signifikan kejadian infeksi diare setelah adanya pemisahan ruang perinatologi.
Hal tersebut sesuai dengan laporan WHO yang dikutip dari State of the world’s mother 2007 berdasarkan data tahun 2000-2003 dikemukakan bahwa 36%
dari kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi, diantaranya sepsis, pneumonia, tetanus dan diare (WHO, 2007).
WHO juga melaporkan bahwa setiap tahun diare menyebabkan > 500.000 kematian usia balita di seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di negara berkembang. Di negara maju mortalitas diare rotavirus rendah oleh karna sarana pelayanan yang lebih baik namun diare rotavirus tetap menjadi penyebab morbiditas utama dan menjadi alasan tersering untuk berobat ke unit gawat darurat, poliklinik dan rawat inap (Titis, dkk, 2012).
Ken Shinta, dkk. (2011) menuliskan bahwa di Indonesia diperkirakan terdapat 200-400 kejadian diare per 1.000 penduduk dan diare merupakan penyebab kedua kematian balita setelah infeksi saluran pernapasan akut dengan 300.000-500.000