BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan wawancara atau interviw langsung kepada responden yang disajikan dalam bentuk pertanyaan secara langsung kepada pihak yang bersangkutan.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di SMP Muhammadiyah Buakkang yang terletak di Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa. Dengan pertimbangan bahwa SMP ini adalah salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang mendidik siswa untuk memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan takwa sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam.
Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Guru dan siswa SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab.
Gowa.
C. Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. (Suharsimi Arikunto, 2013:160).
Skripsi yang berjudul “Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab.Gowa”.Menyimak judul ini maka yang menjadi variabelnya adalah:
1. Strategi Pengembangan yang di simbolkan sebagai variabel X (bebas)
2. Pendidikan Agama Islam yang di simbolkan sebagai variabel Y (terikat)
D. Definisi Operasional Variabel
Maksud ditetapkannya definisi penelitian adalah agar proses penelitian ini dapat berjalan sesuai dengan alur penelitian dan menghindari kesalah pahaman dalam memahami pembahasan lebih lanjut, Maka penulis akan menegaskan beberapa batasan yang akan diteliti oleh penulis sebagai berikut:
Penerapan Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab.
Gowa.
Adapan yang dijadikan objek pada penelitian ini adalah guru-guru dan siswa-siswi yang ada di sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa.
Jadi strategi pengembangan pendidikan agama Islam adalah salah satu cara guru menilai sejauh mana keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang di inginkan.
E. Populasi dan Sampel a. Populasi
Sebelum menetapkan populasi dalam penelitian ini, terlebih dahulu akan dikemukakan apa yang dimaksud dengan populasi itu sendiri. Menurut Suharsimi Arikunto bahwa”Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”.
Artinya yang menjadi subyek penelitian adalah semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian. maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus.
Definisi lain dikemukakan oleh Sugiyono (2010:177) bahwa
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.
Populasi dalam hal ini adalah seluruh guru yang berada di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa yang berjumlah 15 orang terutama guru pendidikan agama Islam dan Kepala sekolah.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru,dan siswa SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec.Bungaya Kab. Gowa yang berjumlah 15 guru dan siswa yang berjumlah 101 orang. Jumlah Guru dan siswa SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec.Bungaya Kab.
Gowa dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1.
Populasi Siswa kelas VII,VIII,IX SMP Muhammadiyah Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa
NO Kelas LK2 PR Jumlah
1 VII 12 23 35
2 VIII 14 19 33
3 IX 11 22 33
Jumlah 40 60 101
Sumber Data:Guru SMP Muhammadiyah Buakkang Kec.Bungaya Kab.Gowa.
Tabel II
Populasi Guru SMP Muhammadiyah Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa
No Nama Bidang Studi
1 Nunuk Agus S. S.Pd IPS
2 Muh. Basri S.Pd Bhs. Daerah
3 Amiruddin S.Pd.I PAI
4 Sutriani S.Pd Bhs. Indonesia
5 Mahyuddin S.Pd Kemuhammadiyaan
6 Situju L S.Pd Bhs. Inggris
7 Nurliah S.Pd.I Bhs. Arab
8 Masita S.Pd Seni Budaya
9 Mardiana S.Pd Kewarganegaraam
10 Abd. Rahman S.Pd Penjaskes
11 Muh Ali S.Pd IPA
12 Haniah S.Pd Sejarah
13 Nurjannah S.Pd Keterampilan
14 Munawir S.Pd Matematika
15 Nurmawati S.Pd Geografi
Sumber Data:Guru SMP Muhammadiyah Buakkang Kec.
Bungaya Kab. Gowa.
b. Sampel
Dalam penelitian diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniartur dari populasi yang dijadikan sebagai contoh, Sujana, (1994:101) mengemukakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat yamg sama dengan populasi.
Pendapat lain tentang sampel dapat dilihat dari apa yang dikemukakan oleh M. Ali (1993: 49) bahwa sampel adalah bagian dari kelompok kecil yang mewakili kelompok besar. Lain halnya yang diungkapkan oleh Mardalis (1993:55) bahwa yang dimaksud sampel adalah sebagian dari individu yang menjadi objek penelitian. Sedangkan menurut Arikunto, 1998: 117 mengemungkakan bahwa sampel dalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Jadi yang menjadi sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil tentang Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah yaitu dapat dilihat dari tabel yang tercantum dibawah ini.
TABEL III
SAMPEL PENELITIAN
No Nama Jabatan
1 Nunuk Agus S. S.Pd Kepala Sekolah
2 Nurliah S.Pd.I Guru
3 Amiruddin S.Pd.I Guru
4 Mahyuddin S.Pd Guru
Jumlah 4
Sumber Data:Guru SMP Muhammadiyah Buakkang Kec.Bungaya Kab.Gowa.
Dengan melihat beberapa pendapat di atas tentang sampel, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan sasaran penelitian yang dianggap dapat mewakil yang lainnya. Adapun teknik pengambilan sampel yaitu teknik proposive sampel atau sampel bertujuan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, rondom atau daerah didasarkan atas adanya tujuan tertentu.
F. Insrumen Penelitian
Penelitian menggunakan beberapa instrument penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkn data atau informasi yang dapat dipertanggun jawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, instrument yang dimaksukan dalam penelitian ini adalah alat ukur, sehingga dengan menggunakan instrument tersebut akan berguna sebagai alat, baik untuk mengumpulkan data taau pengukurannya.
Adapun instrumen yang penulis akan dipergunakan dalam penelitian untuk mengetahui Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec.Bungaya kab. Gowa tersebut terdiri dari atas tiga metode yaitu:
1. Pedoman Wawancara
Wawancara dilakukan dengan melakukan tanya jawab langsung untuk mengetahu pengaruh kepemimpina kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan agama islam dengan membuat sejumlah daftar pertanyaan untuk menjawab responden.
2. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pendekatan sistematis fonemena-fonemena atau gejala-gejala yang akan diselidiki.
Atau cara pengumpulan data dengan mengamati langsung kelapangan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan salah satu instrument yang penulis pergunakan dalam memperoleh data dilapangan dengan mencatat dokumen-dokumen yang ada di sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya kab. Gowa. Yang dianggap penting atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dengan tujuan agar dokumen-dokumen tersebut dapat membantu memecahkan masalah yang ada hubungannya dengan pembahasanan dengan penelitian ini.
G. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pendekatan sistematis fonemena-fonemena atau gejala-gejala yang akan diselidiki.
Atau cara pengumpulan data dengan mengamati langsung kelap angan.
Hal ini sejalan dengan yang dikemungkakan oleh Sudjana,1992: 8 instrumen ini pergunakan dalam pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan terhadap masal-maslah yang diperlikan untuk dicatat secara sistematis agar diperoleh gambaran yang jelas dan memberikan petunjuk untuk memecahkan masalah yang diteliti.
2 Wawancara
Wawancara adalah salah satu bentuk instrumen yang sering digunakan dalam dalam penelitian yang tujuannya untuk memperoleh data atau keterangan secara langsung dari respondem. Wawancara sering pula disebut kuensoner lisan, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dan respondem.
Arikunto 1998: 196 berpendapat, ditinjau dari pelaksanaannya, maka interview dapat dibedakan atas beberapa macam yaitu:
a). Interview bebas, inguided interview dimana pewawancara bebes apa yang akan dikumpulkan. Dalam pelakasanaannya pewawancara tidak membawa pedoman yang akan ditanyakannya.
b). Interview terpimpin, yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederatan pertanyaan pertanyaan lengkap dan terperinci
c). Interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi anatara interview terpimpin.
Dalam melaksanakan interview, pewawancara membawa pedoman yang hanya garis besar yang akan dinyatakan. Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara dengan membuat sejumlah daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden yaitu guru-guru yang ada di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa.
3 Dokumentasi
Dokumentasi merupakan salah satu instrument yang penulis pergunakan dalam memperoleh data dilapangan dengan mencatat dokumen-dokumen yang ada di sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec.Bungaya kab. Gowa. Yang dianggap penting atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dengan tujuan agar dokumen-dokumen tersebut dapat membantu memecahkan masalah yang ada hubungannya dengan pembahasanan dengan penelitian ini.
H. Teknik Analisis Data
Setelaha bagian data ditelaah satu demi satu dengan menjawab pertanyaan, apa, mengapa, dan bagaimana. Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa.
Arikunto 1998: 104 mengemunggakan bahwa:
Data yang diperoleh (berupa kata-kata, gambar dan perilaku) melainkan tetap dalam bentuk kuantitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekedar angka atau prokuensi. Peneliti segerah melakukan analisis data dengan member pemaparan gambaran mengenai situasi yang di teliti dalam bentuk uraian naratif.
Dengan demikian, metode analisis data yang dipergunakan dalam proposal ini adalah analisis kualitatif, yaitu sumber dari hasil, interview, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh sesuatu kesimpulan yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Sekilas Tentang SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa.
1. Sejarah Berdirinya
Dengan adanya kebutuhan yang semakin banyak dan mendesak dari masyarakat akan pendidikan, sebagai wadah bagi anak- anak mereka menuntut ilmu, sehingga melahirkan ide dari para tokoh masyarakat untuk mendirirkan sebuah sekolah, ide dari para tokoh masyarakat ini di ajukan kepada pemerintah agar dapat menindaklanjuti keadaan tersebut. Akhirnya pada tahun 2006 di dirikan sebuah sekolah yang diberi nama SMP Muhammadiyah Buakkang yang terletak di Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa. Dan yang menjadi kepala sekolah pada saat itu Muh Ramli S.Pd dan dilanjutkan oleh Nunuk Agus S. S.Pd sampai sekarang.
SMP Muhammadiyah Buakkang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bercorak Islam di samping lembaga yang lain yang ada di Kec. Bungaya SMP ini masih berstatus swasta akan tetapi kedudukan sekolah ini di pemerintahan sudah disamakan dengan sekolah negeri.
Dengan demikian Sekolah ini sudah dapat menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran tanpa menginduk kepada sekolah negeri.
Keberadaan sekolah ini diharapkan dapat menampung kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan pengajaran. SMP Muhammadiyah
sebagai sebagai lembaga pendidikan Islam berusaha membawa dan mengarahkan anak didik menuju tujuan hidup yang hakiki yaitu yang dapat membawa kebahagiaan di dunia lebih-lebih kebahagiaan di akhirat kelak.
Dengan adanya sekolah ini diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan ajaran agama Islam dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
2. Keadaan Guru dan Pegawai
Guru dan pegawai merupakan salah satu komponen yang sangat penting pula dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Guru sebagai anggota masyarakat yang mengembang suatu tugas profesional mempunyai syarat-syarat profesional yang dipercayakan untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik sebagai suatu jawaban profesional yang dilaksanakan atas dasar kode etik keguruan yang di dalamnya tercakup suatu kedudukan fungsional yang melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengajar, pemimpin dan sebagai orang tua.
Untuk mengetahui keadaan guru dan pegawai yang ada di SMP Muhammadiyah Buakkang dapat diliat pada tabel berikut:
TABEL IV
KEADAAN GURU/PEGAWAI DI SMP MUHAMMADIYAH BUAKKANG TAHUN AJARAN 2015/2016
No Nama Jabatan
1 Nunuk Agus S S.Pd Kepala Sekolah
2 Muh. Basri S.Pd Guru
3 Nurjannah S.Pd Guru
4 Nurliah S.Pd.I Guru
5 Surtiani S.Pd Guru
6 Amiruddin S.Pd.I Guru
7 Munawir S.Pd Guru
8 Mardiana S.Pd Guru
9 Mahyuddin S.Pd Guru
10 Abd. Rahman S.Pd Guru
11 Situju L S.Pd Guru
12 Nurmawati S.Pd Guru
13 Haniah S.Pd Guru
14 Muh. Ali S.Pd Guru
15 Masita S.Pd Guru
Sumber Data: Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa.
3. Keadaan Siswa
Siswa merupakan komponen yan sangat penting dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi sasaran atau objek sekaligus sebagai subyek atau pelaksana dalam kegiatan belajar mengajar, karena kelanjutan dari suatu lembaga pendidikan ataupun dalam usaha untuk menarik minat masyarakat, juga tergantung adanya jumlah siswa yang hadir di sekolah tersebut. Dengan kata lain siswa adalah sebagai daya tarik dalam menentukan jumlah siswa yang masuk di tahun-tahun berikutnya. Siswa atau anak didik yang dimaksud di sini adalah anak yang belum dewasa, yang masih memerlukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain yang telah dewasa guna melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah SWT, sebagai khalifah di muka bumi, juga sebagai anggota masyarakat.
Dalam kaitannya dengan uraian-uraian tersebut di atas, maka berikut ini akan mengetengahkan tentang data siswa SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa berdasarkan jumlah dan jenis kelamin secara keseluruhan, sebagaimana tabel berikut:
TABEL V
KEADAAN SISWA DI SMP MUHAMMADIYAH BUAKKANG DESA BUAKKANG KEC. BUNGAYA KAB. GOWA
TAHUN AJARAN 2015/2016
NO Kelas LK2 PR Jumlah
1 VII 12 23 35
2 VIII 14 19 33
3 IX 11 22 33
Jumlah 40 60 101
Sumber Data: Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang.
Dari data di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan siswa SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa berjumlah 101 siswa. Dari 101 siswa tersebut, jumlah siswa kelas VIII merupakan jumlah yang paling banyak, dibanding dengan kelas VII dan IX.
Hal ini menandakan bahwa SMP Muhammadiyah Buakkang mengalami penurunan dari segi kuantitasnya.
4. Keadaan Sarana dan Prasarana
SMP Muhammadiyah Buakkang berdiri pada tahun 2006 yang terletak di Buakkang Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Sedangkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah Buakkang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
TABEL VI
KEADAAN SARANA DAN PRASARANA SMP MUHAMMADIYAH BUAKKANG
No Jenis Fisik Jumlah Ket
1 Ruang Belajar 3 Ada
2 Ruang Kantor - Belum Ada
3 Ruang Guru 1 Ada
4 Ruang Kepala Sekolah - Belum Ada
5 Laboratorium 1 Ada
6 Ruang Perpustakaan - Belum Ada
7 Ruang Tata Usaha 1 Ada
8 Mushollah 1 Ada
9 Kantin 1 Ada
10 Wc 2 Ada
Sumber Data: Tata Usaha SMP Muhammadiyah Buakkang Desa Buakkang Kec. Bungaya Kab. Gowa
B. Strategi Pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang
Sebelum penulis mengemukakan tentang strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang terlebih akan dikemukakan tentang profesionalisme guru pendidikan agama Islam.
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengarang dapat digantikan oleh mesin, radio ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Akan tetapi masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem, misi
motivasi kebiasaan dan lainnya yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.
Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara atau aktor. Artinya gurulah yang brertugas dan bertanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut, guru di tuntut untuk mempunyai kemampuan profesional.
Pekerjaan yang profesional adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena dapat atau tidak memperoleh pekerjaan. Dalam melaksanakan tugas tersebut guru di tuntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknik mengajar, di samping menguasai ilmu atau bahan yang akan di ajarkan.
Oleh karena itu guru dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam rangka melaksanakan tugas profesinya.
Demikian pula halnya dengan guru pendidikan agama islam dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab diperlukan kemampuan khusus yang profesional dalam bidangnya untuk merealisasikan cita-cita umat Islam yang menginginkan agar anak-anaknya dididik menjadi manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan dalam rangka upaya meraih hidup sejahtera duniawi dan kebahagiaan hidup di akhirat.
Untuk merealisasikan tugas di atas, guru pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang menempuh langkah-langkah sebagai
upaya peningkatan profesionalisme guru pendidikan agama Islam melalui berbagai kegiatan, sebagaimana di kemukakan oleh Kepala sekolah SMP Muhammadiyah Buakkang, bahwa:
Upaya peningkatan profesionalisme guru pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang dilakukan dengan melalui beberapa kegiatan, diantaranya adalah melalui kegiatan supervisi dari Departemen Agama dan juga kepala sekolah yang berfungsi sebagai supervisor yang memberikan pembinaan kepada guru tentang cara mengajar mengaktifkan kelompok kerja guru yang merupakan wadah kerja sama dan untuk menjalin hubungan yang harmonis dikalangan guru-guru, serta mengikutsertakan sebagian guru di SMP Muhammadiyah Buakkang pada program penyetaraan guru pendidikan agama islam yang diadakan oleh pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas, secara umum dapat isimpulkan bahwa guru-guru SMP Muhammadiyah Buakkang sudah sebagian besar mengupayakan pengembangan profesionalisme bagi dirinya dalam melaksanakan tugas sebagai guru pendidikan agama Islam. Dan hal ini perlu lebih di tingkatkan lagi agar dapat berkembang dengan baik dan maksimal serta dapat merealisasikannya dalam kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efesien.
Setelah penulis mengemukakan profesional guru pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang, maka berikut ini penulis akan mengemukakan tentang strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang, maka berikut disajikan hasil interviw langsung kepada responden.
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa Strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang yakni sudah banyak kemajuan, karena pemerintah selalu
memperhatikan utamanya memberikan buku-buku pendidikan agama Islam dan buku-buku pelajaran umum dan adanya tatatertib kedisiplinan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar akhirnya tercerminlah pengembangan strategi belajar mengajar.
Sedangkan strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang menurut Nurliah S.Pd.I bahwa:
Strategi pengembangan pendidikan agama Islam dilihat dari segi akhlak dan perilaku sehari-hari sangat menggembirakan karena mereka berjalan sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah menurut Amiruddin S.Pd.I yaitu:
Melanjutkan pendidikan, mengikuti penataran dan lokakarya, mengembangkan kreativitas diri dalam mengajar utamanya pelajaran pendidikan agama Islam. Sehingga proses belajar mengajar yang dilakukannya berjalan dengan baik dan lancar.
Dari uraian-uraian tersebut di atas, penulis berpendapat bahwasanya strategi pengembangan pendidikan agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang yakni cukup strategis dimana dalam pengembangannya itu kepala sekolah selaku pemimpin sekolah tersebut memotivator guru-guru yang ada di sekolah tersebut khususnya guru pendidikan agama Islam agar senantiasa meningkatkan strategi pengembangan pendidikan agama Islam, karena dengan adanya pendidikan agama Islam, karena dengan adanya pendidikan agama Islam tersebut, si anak mengetahui mana perbuatan yang baik dan yang mana yang tidak baik.
C. Keberhasilan pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Buakkang.
Mendidik adalah kegiatan guru dalam memberi contoh tuntunan.
Petunjuk dan keteladanannya yang dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Adapun aspek yang dominan untuk dikembangkan dalam proses pendidikan ini adalah aspek efektif dalam hal ini sikap dan nilai. Di dalam pendidikan juga terdapat proses mengajar dan melatih, Agar proses pendidikan itu berjalan dengan baik maka guru agama dituntut untuk:
1. Mampu merumuskan tujuan yang ingin dicapai
2. Memahami dan menghayati tugas profesi sebagai guru.
3. Mampu menjadi teladan yang baik
4. Mampu menjadi orang tua kedua di sekolah
5. Memiliki sifat-sifat terpuji dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela.
Proses pendidikan merupakan proses yang panjang. Oleh sebab itu konsistensi sikap yang baik yang tampilkan seorang guru harus tetap terjaga, baik pada saat dia berada di sekolah maupun di luar sekolah.
Begitu pula halnya dengan melatih merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan guru dalam membimbing, memberi contoh dan petunjuk-petunjuk praktis yang berkaitan dengan gerakan, ucapan dan perbuatan lainnya dalam rangka mengembangkan aspek psikomotorik (keterampilan) siswa, Dalam kegiatan melatih ini juga terdapat proses mengajar dan mendidik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam kegiatan pelatihan ini adalah:
1. Mampu merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
2. Mampu dalam melakukan gerakan-gerakan shalat yang benar.
3. Mampu memberi contoh gerakan wudhu yang benar.
4. Mampu melafalkan ayat-ayat Al-quran dengan fasih dan benar 5. Mampu menuliskan ayat-ayat Al-quran dengan baik dan benar 6. Mampu menjadi khotib Jum’at dan imam.
7. Dan keterampilan keagamaan lainnya.
Olehnya itu setiap guru pendidikan agama Islam di tuntut memiliki kualitas sebagai pelatih dari berbagai kegiatan keagamaan. Bukan hanya memiliki segudang teori tapi tidak pernah mempraktekannya.
Berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan, masih banyak guru termasuk guru pendidikan agama Islam yang hanya melaksanakan proses belajar mengajar dalam arti pengajaran, belum menyentuh pendidikan dan
Berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan, masih banyak guru termasuk guru pendidikan agama Islam yang hanya melaksanakan proses belajar mengajar dalam arti pengajaran, belum menyentuh pendidikan dan