• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.2. Jenis Sumber Informasi

Sumber informasi yang dikaji dalam penelitian ini berjumlah sembilan sumber yaitu penyuluh, suplier, orang tua/kerabat, teman, surat kabar, majalah pertanian, brosur, radio, dan televisi. Walaupun setelah melalui penelitian tidak semua sumber informasi tersebut dapat diakses dan digunakan atau dimanfaatkan oleh petani padi di lokasi penelitian yaitu desa Padahurip. Dari sembilan sumber informasi di atas, empat sumber informasi belum dapat diakses oleh petani setempat, yaitu surat kabar, majalah pertanian, radio, dan televisi.

Surat kabar dan majalah pertanian tidak menjadi sumber informasi agribisnis bagi petani di desa Padahurip karena surat kabar dan majalah pertanian belum bisa diakses oleh petani setempat. Dari 30 responden dalam penelitian ini tidak ada yang menggunakan surat kabar dan majalah pertanian sebagai sumber informasinya. Hal ini sesuai dengan informasi monograf desa Padahurip yang menyatakan bahwa penduduk desa belum ada yang menggunakan atau berlangganan surat kabar dan majalah pertanian.

Selain surat kabar dan majalah pertanian, sumber informasi lainnya yang belum dijadikan sumber informasi oleh petani di desa Padahurip adalah radio dan televisi. Radio belum dijadikan sumber informasi oleh petani karena belum ada stasiun radio pertanian atau stasiun radio yang menyajikan informasi pertanian yang dapat diakses oleh petani di desa Padahurip. Stasiun radio yang dapat diakses di desa Padahurip hanya stasiun radio dengan gelombang dan frekwensi yang kuat. Hal itu terjadi karena pengaruh dari kondisi geografis desa Padahurip yang dikelilingi oleh pegunungan dan bukit.

Sama halnya dengan radio, televisi juga masih belum menjadi sumber informasi bagi petani di desa Padahurip karena rata-rata stasiun televisi yang dapat diakses hanya ada empat stasiun televisi, yaitu RCTI, TransTV, Indosiar, dan ANTV. Sementara stasiun televisi tersebut jarang sekali menyajikan informasi seputar pertanian, berbeda dengan TVRI dan beberapa stasiun televisi swasta lain seperti TPI yang memiliki program khsuus pertanian. Sedangkan

sumber informasi yang digunakan oleh petani padi di desa Padahurip adalah brosur, penyuluh, suplier, orang tua/kerabat, dan teman.

6.2.1. Brosur

Brosur merupakan salah satu sumber informasi yang diakses oleh petani di desa Padahurip. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap responden menunjukkan bahwa 23,3 persen responden memperoleh informasi agribisnis tanaman padinya dari brosur, sedangkan sisanya yaitu 76,7 persen menyatakan tidak memperoleh informasi melalui brosur, seperti ditunjukkan dalam Tabel 8. Brosur-brosur tersebut diperoleh petani melalui pembagian oleh perusahaan swasta, ikut membaca dirumah teman, dan diberi oleh penyuluh. Adapun menurut urutan persentase terbesarnya untuk memperoleh informasi dari brosur tersebut dilakukan petani dengan cara ikut membaca di rumah teman sesama petani. Sedangkan intensitas membaca brosur yang dilakukan oleh petani rata-rata satu jam dalam seminggu.

Tabel 8. Jumlah dan persentase responden pengguna Brosur

Responden Jumlah Persentase (%)

Pengguna 7 23,3

Bukan pengguna 23 76,7

Jumlah 30 100,0

6.2.2. Penyuluh Pertanian

Perhatian masyarakat petani di desa Padahurip terhadap penyuluh pertanian dalam kaitannya sebagai sumber informasi agribisnis untuk usahatani mereka cukup besar. Hal ini bisa diperhatikan dalam Tabel 9, responden pada penelitian ini 86,7 persen menyatakan bahwa mereka memperoleh informasi agribisnis tanaman padi mereka dari penyuluh. Informasi-informasi agribisnis tanaman padi dan informasi pendukung lainnya disampaikan penyuluh melalui dua kegiatan yaitu SLPHT dan SLPTT. Petani memilih penyuluh sebagai sumber informasinya karena penyuluh memiliki kelebihan dibandingkan dengan sumber informasi lainnya, seperti relatif lebih mudah mengaksesnya dan murah biaya untuk memperolehnya.

Informasi dari penyuluh pertanian lebih mudah untuk diakses karena penyuluh petanian di loksai penelitian ini yaitu desa Padahurip telah memiliki jadwal rutin bertemu dengan masyarakat petani di kelompok tani. Petani dan penyuluh dapat berinteraksi rata-rata 2 jam setiap minggunya. Dengan intensitas pertemuan yang relatif singkat tersebut tetapi petani merasa puas karena melalui penyuluh dapat dilakukan komunikasi dua arah. Disamping mudah diakses informasi dari penyuluh juga relatif lebih mudah dipahami karena ada kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya. Penyuluh juga akan berusaha agar seefektif mungkin dalam melaksanakan tigasnya di lapangan. Akan lebih efektif jika penyuluh menciptakan situasi yang dapat meyakinkan petani mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman mereka, misalnya pupuk, pestisida, dan lain-lain (A.W. van den Ban, 1999).

Tabel 9. Jumlah dan persentase responden pengguna Penyuluh

Responden Jumlah Persentase (%)

Pengguna 26 86,7

Bukan pengguna 4 13,3

Jumlah 30 100,0

Selain kemudahan dalam mengakses informasinya, penyuluh juga merupakan sumber informasi yang berbiaya relatif murah karena dalam proses transformasi informasinya tanpa harus mengeluarkan biaya kepada para penyuluh tersebut. Sehingga petani dapat dengan leluasa menggali informasi tentang usahatani padi dari penyuluh pada waktu yang telah ditentukan bersama tersebut.

6.2.3. Suplier

Pada Tabel 10 berikut dapat kita perhatikan bahwa masih terdapat responden yang memanfaatkan suplier sebagai salah satu sumber informasi agribisnis mereka. Dari seluruh resonden yang berjumlah 30 orang, 20 persen dari mereka mendapakan informasi agribisnisnya dari suplier. Hal ini dapat diartikan bahwa responden lebih memilih komunikasi langsung secara personal untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkannya, dibandingkan dengan membaca atau yang lainnya.

Tabel 10. Jumlah dan persentase responden pengguna Suplier

Responden Jumlah Persentase (%)

Pengguna 6 20,0

Bukan pengguna 24 80,0

Jumlah 30 100,0

Responden biasanya bertemu sekaligus berkomunikasi dengan suplier di toko sarana produksi pertanian, dan di warung. Sedangkan frekwensi interaksinya dalam rentang sepekan responden berkomunikasi sekaligus mendapatkan informasi dari suplier rata-rata selama 1 jam. Petani di Desa Padahurip memang masih menggunakan informasi dari suplier tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusannya, karena menganggap bahwa suplier memiliki informasi-informasi terkini karena sering ke kota.

6.2.4. Orang Tua

Pada Tabel 11 ditunjukkan bahwa petani di desa Padahurip masih menjadikan orang tua mereka sebagai sumber informasi agribisnis mereka, bahkan masih cukup dominan sampai 73,3 persen. Artinya dalam setiap pengambilan keputusan strategis mereka terkait dengan usahatani padinya masih memerlukan bantuan informasi dari orang tuanya. Hal ini terjadi karena mereka menganggap bahwa orang tua memiliki pengalaman bertani yang lebih lama dibandingkan mereka sehingga pendapat dan informasinya dianggap cukup akurat utuk dijadikan salah satu pertimbangannya.

Tabel 11. Persentase responden pengguna sumber informasi Orang Tua

Responden Jumlah Persentase (%)

Pengguna 22 73,3

Bukan pengguna 8 26,7

Jumlah 30 100,0

Petani di Desa Padahurip yang didominasi oleh petani golongan tua yaitu petani dengan usia di atas 50 tahun memiliki kecenderungan untuk mencari informasi dari sumber yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan mencari ke sumber lain yang mereka rasa sulit. Orang tua cenderung tidak terlalu suka

dengan resiko atau tantangan dibandingkan dengan anak muda, itulah yang terjadi dengan petani di Desa Padahurip.

6.2.5. Teman

Pada Tabel 12 di bawah dapat dijelaskan bahwa teman sesama petani yang berada di desa Padahurip masih menjadi salah satu sumber informasi bagi petani, bahkan mencapai 83 persen dari responden petani mendapatkan informasinya dari teman sesama petani. Hal ini bisa diartikan bahwa komunikasi antar petani masih berjalan normal, antar petani tidak menggap sebagai kompetitor tetapi sebagai saudara, sehingga diatara mereka masih terbuka dalam berkomunikasi termasuk dalam hal usahataninya. Komunikasi antar petani yang terbuka seperti inilah yang membuat penguasaan informasi agribisnis antar mereka sama.

Tabel 12. Persentase responden pengguna sumber informasi Teman

Responden Jumlah Persentase (%)

Pengguna 25 83,3

Bukan pengguna 5 16,7

Jumlah 30 100,0

Sumber-sumber informasi yang telah dibahas sebelumnya yang merupakan sumber informasi petani di desa Padahurip adalah brosur, penyuluh, suplier, orang tua, dan teman. Diantara sumber-sumber informasi tersebut ada sumber informasi selalu diakses oleh petani untuk setiap informasi yang dibutuhkannya, seperti ditunjukkan pada Tabel 13 dibawah.

Tabel 13. Sumber Informasi dan Informasi yang Diakses Petani

Informasi Sumber Informasi Pemilihan Benih (%) Teknis Penanaman(%) Hama dan Penyakit (%) Informasi Pasar (%) Penyuluh 56,7 53,3 56,3 16,7 Suplier 6,7 10,0 - - Orang Tua 3,3 16,7 - 53,3 Teman 23,3 20,0 43,7 30,0 Brosur 10,0 - - -

Tabel 13 juga dapat dijelaskan bahwa penyuluh sebagai salah satu sumber informasi yang digunakan oleh petani di desa Padahurip merupakan sumber informasi dominan yang dimanfaatkan oleh patani. Hal itu dapat dilihat dari persentase informasi yang diakses dari penyuluh terutama pada informasi pemilihan benih, teknis penanaman, dan hama dan penyakit dengan persentase melebihi 50 persen. Seperti telah dijelaskan sebelumnya petani lebih memilih penyuluh sebagai sumber informasinya karena penyuluh memiliki kelebihan dibandingkan sumber informasi lainnya seperti kemudahan akses, kelengkapan informasi, dan murah biayanya.

Petani di Desa Padahurip lebih banyak menggunakan penyuluh pertanian sebagai sumber informasinya karena informasi yang berasal dari penyuluh pertanian dianggap petani lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan informasi dari sumber lainnya. Selain hal itu dilihat dari segi biayapun informasi dari penyuluh petani menganggap sangat murah karena tidak harus mengeluarkan biaya dalam setiap pertemuan dengan penyuluh pertanian.

Dokumen terkait