• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN SUMBER DAN KEBUTUHAN INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN SUMBER DAN KEBUTUHAN INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN SUMBER

DAN KEBUTUHAN INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN

AGRIBISNIS

Studi Kasus Petani Padi di Desa Padahurip Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut

SKRIPSI

CEP HILMAN A 14102027

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

CEP HILMAN. Hubungan Karakteristik Petani dengan Sumber dan Kebutuhan Informasi untuk Pengembangan Agribisnis (Studi Kasus Petani Padi di Desa Padahurip Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut). Skripsi. Di bawah bimbingan WAHYU BUDI PRIATNA.

Karakteristik petani merupakan suatu hal menarik untuk dikaji karena keberagaman dan kekhasannya masing-masing. Keberagaman karakteristik petani sepeti di Desa Padahurip adalah salah satu contoh dari sekian banyak daerah pertanian yang ada di Indonesia. Karakteristik petani perlu diteliti hubungannya dengan berbagai hal dalam agribisnis harapan outputnya agar diperoleh satu model pendekatan kepada petani yang sesuai dengan karakteristiknya sehingga tercipta masyarakat pertanian dan petani yang kompetitif.

Karakteristik individu petani yang diteliti adalah umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan keikutsertaan pada pelatihan. Sumber informasi yang diteliti berjumlah sembilan sumber yaitu penyuluh, suplier, orang tua, teman, surat kabar, majalah pertanian, brosur, radio, dan televisi. Setelah melalui penelitian sembilan sumber informasi di atas, hanya lima sumber informasi yang diakses oleh petani yaitu penyuluh, suplier, orang tua, teman, dan brosur. Sumber informasi lainnya belum dapat diakses oleh petani setempat, yaitu surat kabar, majalah pertanian, radio, dan televisi. Konten informasi yang diteliti adalah informasi pemilihan komoditas, pemilihan benih, teknis penanaman, hama dan penyakit, dan informasi pasar.

Penelitian dilakukan dengan wawancara terhadap petani yang dijadikan responden di Desa Padahurip, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian ini menelaah hubungan antara karakteristik petani dengan sumber dan kebutuhan informasi petani setempat. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman.

Karakteristik individu petani di desa Padahurip yang dikaji adalah umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan keikutsertaan dalam pelatihan. Petani di desa Padahurip 37 persen usia I, dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 90 persen, kepemilikian lahan cukup luas 86,7 persen, dan 86,7 persen petaninya pernah mengikuti pelatihan.

Sumber informasi yang dapat diakses sekaligus digunakan oleh petani di desa Padahurip adalah penyuluh, suplier, orang tua, teman, dan brosur. Adapun sumber informasi yang paling dominan digunakan oleh petani adalah penyuluh pertanian.

Informasi agribisnis yang dibutuhkan oleh petani untuk mendukung keberhasilan ushataninya adalah informasi pemilihan benih, teknis penanaman, hama dan penyakit, dan informasi pasar. Sedangkan informasi agribisnis yang masih minim diterima oleh petani dan sangat dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan-keputusan strategis petani adalah informasi pasar.

Karakteristik individu yang berhubungan nyata dengan sumber informasi dan kebutuhan informasi adalah usia dan keikutsertaan dalam pelatihan. Kedua karakteristik individu tersebut berhubungan positif dengan sumber informasi dan kebutuhan informasi petani.

(3)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN SUMBER

DAN KEBUTUHAN INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN

AGRIBISNIS

Studi Kasus Petani Padi di Desa Padahurip Kecamatan

Banjarwangi Kabupaten Garut

CEP HILMAN A14102027

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(4)

Judul Skripsi : Hubungan Karakteristik Petani dengan Sumber dan Kebutuhan Informasi untuk Pengembangan Agribisnis.

(Studi Kasus Petani Padi di Desa Padahurip Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut)

Nama : Cep Hilman

NRP : A 14102027

Disetujui, Pembimbing

Ir. Wahyu Budi Priatna, M.Si NIP 19670410 199103 1 001

Diketahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP 19571222 198203 1 002

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Hubungan Karakteristik Petani dengan Sumber dan Kebutuhan Informasi untuk Pengembangan Agribisnis” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2010

Cep Hilman A14102027

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat pada tanggal 1 Januari 1984. Penulis adalah anak ke-lima dari enam bersaudara, dari pasangan Bapak Ibad Badrudin dan Ibu Iting.

Pada tahun 1996 penulis lulus dari SDN Padahurip I, lalu melanjutkan ke SLTPN I Banjarwangi dan lulus pada tahun 1999. Setelah lulus dari SMUN 2 Tarogong tahun 2002, penulis masuk IPB tanpa tes melalui jalur PMDK pada tahun 2002 di Program Studi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian dan lulus pada tanggal 29 Desember 2009. Selama menjadi mahasiswa penulis pernah menjadi asisten dosen Pendidikan Agama Islam tahun 2005, selain itu penulis juga aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan maupun non kemahasiswaan. Kegiatan kemahasiswaan diantaranya sebagai Menteri Budaya Olahraga dan Seni Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) IPB, Ketua Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) IPB, Bagian Infokom Perhimpunan Organisasi Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI), Ketua Departeman Wirausaha MISETA, Ketua Biro Pengembangan Sumberdaya Anggota Koperasi Mahasiswa (KOPMA) IPB. Kegiatan diluar kemahasiswaan diantaranya sebagai sekretaris eksekutif Cendekia Muda Bogor (CMB), trainer yayasan Quantum Generation (Q-Gen), trainer lembaga pendidikan dan pelatihan ILNA Bogor.

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Allah swt. berkat rahmat dan hidayah-Nya, dan sholawat salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw. Pada kesempatan yang baik ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan tugas akhir ini, yaitu:

1. Ibu, Ayah, kakak-kakak, dan adik tercinta yang telah memberikan dukungan dan do’anya.

2. Ir. Wahyu Budi Priatna, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi.

3. Dr. Ir. H. Arif Imam Suroso, M.Sc.CS selaku dosen pembimbing akademik. 4. Ir. Lukman M. Baga, MAEc selaku dosen penguji utama, dan Ibu Etriya, SP.

MM selaku dosen penguji wakil departemen.

5. Segenap staf, karyawan, dan dosen program studi Manajemen Agribisnis yang telah membantu dalam pembelajaran di IPB.

6. Seluruh petani responden di desa Padahurip, kepala desa dan segenap petugas desa yang telah membantu penelitian saya hingga akhir.

7. Suranto Wahyu selaku pembahas seminar, dan seluruh peserta seminar. 8. drh. Achamad Ruyat, M.Si (wakil walikota Bogor) yang selalu mengevaluasi

dan memberikan motivasi hingga selesainya skripsi ini.

9. Saudara-saudara tercinta yang selalu membantu Budi B, Haidir, Arif R, Dody K, Budi S, Irpan BJ, Wahyu BW, Deni K, Pa Atang T, Pa Rahmat Y, Pa Asep S, Yohan B, Syamsu R, Jaya, Dedi M, Yuri H, Reizky RH, Duan B.

10.Sahabat-sahabat yang saya cintai di BEM KM IPB Kabinet Pembaharu, MISETA IPB, KOPMA IPB, CMB, DKM Al Hurriyyah IPB, DPD PKS Kota Bogor, Yayasan Q-Gen, ILNA Learning/Training Center.

11.Seluruh kawan-kawan yang telah membantu dan memberikan motivasi serta do’a-do’a terbaiknya.

Bogor, Januari 2010 Cep Hilman

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat rahmat Allah swt. akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungnan Karakteristik Petani dengan Sumber dan Kebutuhan Informasi untuk Pengembangan Agribisnis” dengan mengambil studi kasus petani padi di desa Padahurip, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut. Karya ini merupakan syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana pertanian.

Karakteristik petani merupakan hal yang menarik untuk dikaji karena keberagamannya sehingga hasilnya diharapkan akan membantu untuk mengetahui karakteristik mereka. Sumber dan kebutuhan informasi dikaji untuk mengetahui kebutuhan informasi petani untuk menunjang pengambilan keputusannya dalam rangka pengembangan agribisnis. Hubungan antara karakteristik petani dan sumber informasi dan kebutuhan informasi adalah muara dari penelitian ini. Harapan penulis dengan hasil penelitian ini bisa memberikan manfaat untuk semua pihak yang terkait khsususnya petani sebagai aktor utamanya.

Bogor, Januari 2010 Cep Hilman

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ……… ii

DAFTAR GAMBAR ………... iii

DAFTAR LAMPIRAN ……… … iv I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ………. 1 1.2.Perumusan Masalah ………. 4 1.3.Tujuan Penelitian ………. 5 1.4.Kegunaan Penelitian ……… 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Petani ………... 7

2.2.Sumber Informasi dan Manajemen Agribisnis ……… 7

2.3.Informasi Agribisnis ……… 8

2.4.Gambaran Umum Padi ……… 9

2.5.Penelitian Terdahulu ……… 18

III. KERANGKA PEMIKIRAN ………. 20

IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1.Waktu dan Lokasi Penelitian ……….. 22

4.2.Jenis dan Sumber Data ……… 22

4.3.Populasi dan Sampel ……… 22

4.4.Metode Pengumpulan Data ……… 24

4.5.Metode Pengolahan dan Analisis Data ……… ... 24

4.6.Definisi Operasional ……… 24

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1.Kondisi Fisik Desa Padahurip ………. 27

5.2.Keadaan Sosial Ekonomi ……… 28

5.3.Perkembangan Pertanian Padi Desa Padahurip ………….. 29

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1.Karakteristik Individu ……… 30

6.2.Jenis Sumber Informasi ……….. 33

6.3.Informasi Agribisnis yang Dibutuhkan Petani Padi …… .. 38

6.4.Hubungan Karakteristik Individu dengan Sumber Informasi ……… 39

6.5.Hubungan Karakteristik Individu dengan Kebutuhan Informasi ………. 41

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1.Kesimpulan ………. 44

7.2.Saran ……… .. 44

(10)
(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Kapasitas Produksi Pertanian Tanaman Pangan 2006 ………… 3 2. Daftar Nama Responden dan Karakteristiknya ... 23 3. Tata Guna Lahan untuk Tanaman Pangan

Desa Padahurip tahun 2008 ……… 27 4. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Umur ……….. 30 5. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan

Tingkat Pendidikan ………. 31

6. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Luas Lahan …. 31 7. Jumlah dan Persentase Responden dalam Keikutsertaannya

pada Pelatihan ………. 32

8. Jumlah dan Persentase Responden Pengguna Brosur ………… 34 9. Jumlah dan Persentase Responden Pengguna Penyuluh ……… 35 10.Jumlah dan Persentase Responden Pengguna Suplier ………… 36 11.Persentase Responden Pengguna

Sumber Informasi Orang Tua ………. 36 12.Persentase Responden Pengguna Sumber Informasi Teman ….. 37 13.Sumber Informasi dan Informasi yang Diakses Petani ………... 37 14.Hubungan antara Karakteristik Individu

dengan Sumber Informasi ………... 39 15.Hubungan antara Karakteristik Individu dengan Kebutuhan

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Hasil Output Uji Korelasi Rank Spearman ……….. 47 2. Kuesioner Petani ……….. 51

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Berubahnya orientasi usahatani dapat dimaklumi karena tujuan untuk meningkatkan pendapatan merupakan konsekuensi dari semakin meningkatnya kebutuhan usahatani dan kebutuhan hidup petani bersama keluarganya. Harga-harga kebutuhan sehari-hari peningkatannya lebih cepat dibandingkan dengan harga-harga hasil pertanian. Di samping itu, nilai tukar komoditas pertanian semakin memburuk dibandingkan dengan komoditas industri dan jasa. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila petani cenderung memilih jenis tanaman yang laku di pasar sehingga dapat memberikan penghasilan dan keuntungan yang lebih tinggi. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Hadisapoetro (1979) dalam Marjuni Ma’mir mengemukakan usaha peningkatan pendapatan pada dasarnya diarahkan untuk memberi kesempatan kepada petani untuk memilih jenis usahatani yang sekiranya memberikan pendapatan yang paling tinggi baginya. Untuk itu, pemilihan cabang usahatani harus mempertimbangkan penggunaan sumberdaya, seperti: lahan, modal, dan tenaga kerja. Pemilihan jenis usahatani akan mempengaruhi pola tanam yang diterapkan sesuai dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki.

Salah satu program Departemen Pertanian adalah membangun usaha dan sistem agribisnis. Petani merupakan salah satu pelaku usaha dan sistem agribisnis baik sebagai pelaku pada subsistem on farm, maupun pada subsistem off farm hulu dan off farm hilir. Salah satu faktor yang menetukan keberhasilan program tersebut adalah ketersediaan inovasi teknologi spesifik lokasi yang bermutu pada setiap subsistem agribisnis. Sai’d (2001) mengatakan teknologi perannya sangat strategis dalam mentransformasi input menjadi output pada subsistem on-farm, off-farm hulu maupun pada off-farm hilir. Keunggulan kompetitif produk-produk pertanian sangat ditentukan oleh kadar teknologi produk tersebut.

Fakta menunjukkan hasil penelitian belum terlihat jelas kontribusi yang bersifat langsung dan signifikan untuk mengatasi berbagai persoalan-persoalan

(15)

besar pembangunan pertanian di Indonesia (Saragih, 2004). Hal itu disebabkan oleh kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang hasil penelitian cenderung melambat, bahkan menurun (Badan Litbang Pertanian, 2004).

Program sektor pertanian diarahkan untuk menghubungkan agribisnis yang mengakar kuat di pedesaan serta mendukung pengembangan wilayah. Pembangunan sektor pertanian didasarkan atas keterpaduan dalam suatu sistem, berorientasi pasar, memanfaatkan sumberdaya secara optimal, dikelola secara profesional dengan didukung oleh sumberdaya yang berkualitas, teknologi tepat, berwawasan lingkungan dan kelembagaan yang kokoh. Dengan dikembangkannya sistem agribisnis secara sehat (ekonomi, sosial, kelembagaan, lingkungan), maka sumberdaya alam dan ekosistem pertanian setempat bisa dijadikan penggerak perekonomian masyarakat setempat yaitu melalui dihasilkannya produk pertanian yang berdaya saing tinggi di pasaran lokal, domestik maupun global. Agribisnis berperan penting dalam pembangunan nasional karena sifat alam Indonesia sebagai negara agraris.

Diyakini bahwa kekuatan usahatani yang dominan berada di pedesaan telah membangkitkan dan meningkatkan perekonomian. Tanpa usahatani yang kuat dan efisien, menurut Pranadji (2000), mustahil akan dapat dibangun suatu sistem agribisnis atau proses peningkatan nilai tambah sumberdaya pertanian yang kuat. Tenologi yang digunakan untuk itu tidak hanya mencakup bidang teknis usahatani, namun juga mencakup teknologi pengolahan dan distribusi, sehingga menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing tinggi di pasaran dan berdampak positif terhadap perekonomian mayarakat (pedesaan) setempat.

Namun demikian, kehadiran berbagai pihak yang terlibat dalam sistem agribisnis di Desa Padahurip belum memberikan hasil yang menggembirakan. Ditingkat petani, informasi yang diperoleh tentang hasil penelitian rekayasa teknologi pertanian guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, kebijaksanaan pemerintah, pemasaran dan dunia swasta, masih terjadi split information. Padahal, apabila informasi tersebut dapat diperoleh petani secara utuh, cepat dan tepat, sangat dimungkinkan untuk memacu peningkatan produksi pertanian (kualitas dan kuantitas) yang berdaya saing tinggi, baik di pasar domestik maupun ekspor. Guna menjamin pemanfaatan informasi yang

(16)

diperlukan oleh petani, maka peranan sumber informasi sangat penting dan strategis sehingga proses transfer informasi dapat berjalan dengan baik.

Disamping itu saluran informasi, keringkasan dan kelengkapan informasi yang digunakannya pun harus sesuai dengan kemampuan penerimaan petani agar informasi yang disampaikan dapat dimanfaatkan oleh petani secara optimal. Kadangkala informasi yang terlalu detail tidak memberikan hasil yang lebih baik, tetapi malah sebaliknya, karena informasi semakin sulit untuk diserap dan dipahami. Selain itu, penerima informasi mungkin tidak punya waktu banyak untuk melakukan interpretasi. Istilah information overload atau informasi yang berlebihan merupakan istilah yang ditujukan untuk menyatakan adanya informasi yang terlalu melimpah-ruah dan membingungkan (Abdul Kadir, 2003).

Puspadi (2002) menemukan relatif rendahnya adopsi hasil penelitian pertanian berhubungan dengan: (1) hasil-hasil penelitian tidak sampai kepada para petani atau hasil-hasil penelitian tersebut sampai kepada yang bersangkutan, tetapi tidak tepat waktu; (2) hasil-hasil penelitian tidak sesuai dengan kebutuhan petani untuk memecahkan permasalahan dalam berusahatani; (3) metodologi diseminasi hasil penelitian/pengkajian tidak sesuai dengan cara petani belajar. (4) petaninya tidak memiliki modal untuk menerapkan teknologi; dan (5) tidak ada insentif menarik bagi petani mengadopsi teknologi yang diintroduksi.

Struktur ekonomi Kabupaten Garut dari tahun ke tahun selalu didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman pangan. Dengan komposisi ini Garut tergolong kabupaten yang berbasis pertanian. Sektor pertanian yang menjadi andalan Kabupaten Garut, pada dasarnya berpeluang dapat lebih mendorong roda perekonomian Garut khususnya, bahkan lebih memberi andil terhadap perekonomian Jawa Barat.

Tabel. 1. Kapasitas Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Garut tahun 2006

No Komoditi Produksi (Ton) Luas (Ha) 1. Padi Sawah 586.343 55.83 2. Padi Gogo 59.886 28,10 Jumlah Padi 642.229 51,15

(17)

Berkaitan dengan hal di atas, dengan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis tanaman padi, penelitian ini mencoba menelaah sejauh mana hubungan antara karakteristik petani dengan sumber dan kebutuhan informasi untuk pengembangan agribisnis.

1.2Perumusan Masalah

Guna memacu dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian yang mengakar di pedesaan, maka perlu dilakukan upaya konkrit oleh pihak pemerintah dan pihak terkait lainnya sebagai wujud konsistensi keberpihakan mereka dalam melindungi masyarakat di pesedaan, khususnya petani. Beberapa wujud keberpihakan tersebut adalah memberikan perlindungan harga komoditas pertanian, menyediakan lembaga keuangan, sarana produksi pertanian yang cukup tersedia, dan transformasi informasi yang lebih terbuka, serta distribusi dan pemasaran hasil produksi. Petani memiliki keleluasaan dalam mengakses kegiatan agribisnis baik hulu maupun hilir.

Hal ini berimplikasi bahwa apabila hal tersebut mampu dikuasi oleh petani, maka semangat untuk berproduksi akan tetap kuat. Banyak kasus sektor pertanian yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa ketika musim panen tiba menjadi murah, sudah menjadi fenomena yang biasa, petani terjebak oleh tengkulak yang seenaknya mempermainkan harga, petani merasa kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya. Sebabnya adalah pengelolaan usahatani yang kurang berorientasi pasar akibat terbatasnya informasi yang dipoeroleh petani mengenai keadaan dan perkembangan pasar.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pengelolaan informasi oleh petani dari sumber informasi yang diperolehnya. Tahapan kesadaran ketika petani mulai belajar tentang suatu ide baru, maka sumber informasi yang paling relevan adalah yang menyajikan atau menyampaikan informasi tentang hasil pertanian dan potensi pemasarannya. Sehingga dengan demikian petani dapat menetukan kapan dan dimana memperoleh sarana produksi dan menjual hasil produksi.

Suatu informasi yang disampaikan akan lebih diperhatikan oleh petani jika informasi tersebut tepat guna, tepat waktu dan tepat sasaran. Selain itu, petani akan lebih rasional jika pertimbangan-pertimbangan bisnis menjadi acuan utama

(18)

dalam mengelola usahataninya. Aktivitas untuk mencari informasi, teknologi dan pengetahuan baru akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya pendidikan petani.

Petani diharapkan memiliki informasi tataniaga hasil pertanian yang jelas dan akurat, agar ketika petani memulai atau memutuskan suatu jenis tanaman tertentu yang akan diusahakannya, petani telah mengetahui bahwa usaha yang akan dilaksanakannya layak atau menguntungkan. Pengambilan keputusan dan berbagai kegiatan seperti pemasaran hasil produksi akan sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kinerja sumber informsi yang dibutuhkan petani, karakteristik petani dan sifat dari informasi. Informasi agribisnis tanaman padi yang dibutuhkan oleh petani harus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik dalam pengeolaannya maupun akurasi informasi. Berbagai sumber informsi yang dapat menjadi rujukan bagi petani di pedesaan, seperti media massa dan saluran interpersonal melalui penyuluh, sesama petani, pedagang pengumpul, tokoh masyarakat dan sebagainya.

Berdasarkan pada uraian pemikiran yang telah disajikan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini mengacu pada pertanyaan:

1. Bagaimanakah karakteristik individu petani padi yang ada di desa Padahurip?

2. Apakah jenis sumber informasi yang digunakan oleh petani padi di Desa Padahurip dalam memperoleh informasi agribisnis padi?

3. Apa informasi yang dibutuhkan oleh petani padi di Desa Padahurip? 4. Bagaimanakah hubungan karakteristik individu dengan sumber dan

kebutuhan informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip? 1.3 Tujuan Penelitian

Mengacu pada pertanyaan dalam rumusan masalah di atas, penelitian bertujuan mengetahui:

1. Mengetahui karakteristik petani padi yang ada di desa Padahurip.

2. Mengetahui jenis sumber-sumber informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip.

(19)

3. Mengetahui informasi agribisnis yang dibutuhkan oleh petani tanaman padi di Desa Padahurip.

4. Menganalisis hubungan karakteristik individu dengan sumber dan kebutuhan informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitain diharapkan dapat berguna untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam berbagai hal berikut:

1. Perkembangan informasi pembangunan pertanian dan pedesaan

2. Serbagai sumber informasi untuk pemerintah guna mendukung sektor pertanian dan penyediaan sarana informasi bagi petani di pedesaan, khususnya di Desa Padahurip.

3. Salah satu acuan untuk menentukan jenis saluran informasi yang akan digunakan pemerintah dalam menyampaikan informasi-informasi kebijakan pertaniannya kepada petani khususnya di Desa Padahurip.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Petani

Konsep mengenai petani dalam sosiologi barat ada dua, yaitu peasant dan

farmers. Peasant (subsistance farmers) adalah petani yang memiliki lahan sempit dan memanfaatkan sebagian besar dari hasil pertanian yang diperoleh untuk kepentingan mereka sendiri. Farmers adalah orang-orang yang hidup dari pertanian dan memanfaatkan sebagian besar hasil pertanian yang diperoleh untuk dijual. Berbeda dengan peasant, farmers telah akrab dengan pemanfaatan teknologi pertanian modern, misalnya perbankan. Farmers adalah petani-petani yang hidup dalam dunia pertanian di Inggris dan Amerika. Para sosiolog pertanian Indonesia memperoleh kesulitan dalam mengaplikasikan dua konsep tersebut, karena dalam kosa kata bahasa Indonesia, semua orang yang hidup dari pertanian disebut dengan satu kata, yaitu petani (Soetrisno,2002). Petani di desa Padahurip Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut ternyata memiliki karakteristik farmers

dan peasant.

Petani sebagai pelaku usaha agribisnis umumnya memiliki karakteristik tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, kemampuan manajerial, akses terhadap modal dan informasi rendah. Hal ini melatarbelakangi berbagai masalah potensial sebagai penghambat tercapainya tujuan program kerja sama. Sebagai contoh, tingkat pendapatan yang rendah memungkinkan petani tidak memanfaatkan kredit modal kerja untuk usahataninya tetapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain yang tidak produktif seperti konsumsi (Krisnamurthi, 2001).

2.2 Sumber Informasi dan Manajemen Agribisnis

Soekartawi (1988) dalam Ma’mur (2001) mengemukakan bahwa sumber informasi sangat berpengaruh terhadap proses adopsi inovasi. Sumber informasi dapat berasal dari media massa, tetangga, teman, petugas penyuluh pertanian, pedagang, pejabat desa atau informan lainnya. Proses penyebaran informasi pertanian dapat melalui empat tahap, yaitu melalui penelitian, pengujian lokal, penyebaran informasi dan bimbingan kepada petani. Sumber informasi dapat

(21)

berupa individu atau lembaga yang menciptakan informasi sebagai esan dalam proses komunikasi.

Donohew dan Tipton dalam Ma’mur (2001) menyebutakan bahwa sumber informasi dapat berbentuk saluran seperti buku dan media massa lainnya serta perorangan, baik atas nama sendiri maupum membawahi nama lembaga yang mewakilinya. Selain itu, menurut Rogers (1960) dalam Ma’mur (2001) informasi baru tentang pertanian yang dikomunikasi melalui berbagi macam saluran, secara umum dapat diklasifikasikan yaitu : (1) Media massa, terdiri dari majalah pertanian, surat kabar, siaran pertanian melalui radio dan televisi, dan surat; (2) Sumber informal, terdiri dari tetangga petani dan teman; (3) Sumber komersial, terdiri dari hubungan petani dengan pedagang dan dealer, demostrator dan buletin komersial; dan (4) Sumber agen pemerintah, terdiri dari buletin, pertemuan, dan hubungan petani dengan penyuluh dan ahli konservasi tanah.

Manajemen agribisnis pada dasarnya adalah ilmu dan seni manajemen yang diterapkan pada agribisnis. Manajemen agribisnis memiliki unsur dan fungsi yang sama dengan manajemen bisnis pada umumnya, seperti pemasaran, produksi dan operasi, keuangan, sumberdaya manusia, informasi, dan strategi. Hanya saja unsur dan fungsi tersebut disesuaikan dengan karakteristik agribisnis (Krisnamurthi, 2001).

Lebih lanjut dikatakan bahwa agribisnis merupakan sesuatu yang unik. Seorang manajer agribisnis juga harus mengetahui berbagai masalah dan tantangan serta kekhususan yang hanya ada di agribisnis, seperti masalah ketidakpastian cuaca,hama dan penyakit, perubahan teknologi, perubahan peraturan pemerintah, aspek sosial ekonomi produk dan kegiatan produksi agribisnis.

2.3 Informasi Agribisnis

Informasi agribisnis adalah informasi yang berupa sistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness), subsistem budidaya atau subsistem agribisnis pertanian primer (on-farm agribusiness), subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) dan subsistem penunjang. Soekartawi (1988) dalam Ma’mur (2001) mengemukakan bahwa sumber informasi sangat berpengaruh terhadap proses adopsi inovasi. Sumber informasi dapat berasal dari media massa, tetangga,

(22)

teman, petugas penyuluh pertanian, pedagang, pejabat desa, atau informan lainnya.

2.4 Gambaran Umum Padi

Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat.

Dewasa ini padi merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.

Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.

Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 kalori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

2.5.1 Syarat Tumbuh

Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau

(23)

lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0-1500 m dpl.

Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4-7. 2.5.2 Teknis Budidaya

Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka, tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan clan perkembangannya tidak terhambat, entah oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan.

Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi.

A. Persemaian

Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai.

a. Penggunaan Benih − Benih unggul − Bersertifikat

(24)

b. Persiapan lahan untuk persemaian - Tanah harus subur

- Cahaya matahari - Pengairan - Pengawasan

c. Pengolahan tanah calon persemaian a. Persemaian kering

Persemaian kering biasanya dilakukan pada tanah-tanah remah, banyak terdapat didaerah sawah tadah hujan. Persemaian tanah kering harus dilakukan dengan baik yaitu :

− Tanah dibersihkan dari rumput clan sisa -sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit.

− Tanah dibajak atau dicangkul lebih dalam dari pada apa yang dilakukan pada persemaian basah, agar akar bibit bisa dapat memasuki tanah lebih dalam, sehingga dapat menyerap hara lebih banyak.

− Selanjutnya tanah digaru

Areal persemaian yang tanahnya sempit dapat dikerjakan dengan cangkul, yang pada dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, agar tanah menjadi gembur.

Ukuran bedengan persemaian :

− Panjang bedengan : 500 -600 cm atau menurut kebutuhan, akan tetapi perlu diupayakan agar bedengan tersebut tidak terlalu panjang

− Lebar bedengan : 100 -150 cm − Tinggi bedengan : 20 -30 cm

Diantara kedua bedengan yang berdekatan selokan, dengan ukuran lebar 30-40 cm. Pembuatan selokan ini dimaksud untuk mempermudah penaburan benih dan pencabutan bibit, pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi :

− Penyiangan − Pengairan − Pemupukan

(25)

− Persemaian diupayakan lebih dari 1/25 luas sawah yang akan ditanami, penggunaan benih pada persemaian kering lebih banyak dari persemaian basah.

b. Persemaian Basah

Perbedaan antara persemaian kering dan basah terletak pada penggunaan air. Persemaian basah, sejak awal pengolahan tanah telah membutuhkan genangan air. Fungsi genangan air:

- Air akan melunakan tanah

- Air dapat mematikan tanaman pengganggu ( rumput )

- Air dapat dipergunakan untuk memberantas serangga perusak bibit

Tanah yang telah cukup memperoleh genangan air akan menjadi lunak, tanah yang sudah lunak ini diolah dengan bajak dan garu masing-masing 2 kali. Namun sebelum pengolahan tanah harus dilakukan perbaikan pematang terlebih dahulu, kemudian petak sawah dibagi menurut keperluan. Luas persemaian yang digunakan 1/20 dari areal pertanaman yang akan ditanami.

c. Sistem Dapog

Di Filipina telah dikenal cara penyemaian dengan sistem dapog, sistem tersebut di Kabupaten Bantul telah dipraktekan di Desa Pendowoharjo, Sewon. Cara penyemaian dengan sistem dapog :

− Persiapan persemaian seperti pada persemaian basah − Petak yang akan ditebari benih ditutup dengan daun pisang

− Kemudian benih ditebarkan diatas daun pisang, sehingga pertumbuhan benih dapat menyerap makanan dari putik lembaga

− Setiap hari daun pisang ditekan sedikit demi sedikit kebawah − Air dimasukan sedikit demi sedikit hingga cukup sampai hari ke 4 − Pada umur 10 hari daun pisang digulung dan dipindahkan kepersemaian

yang baru atau tempat penanaman disawah d. Penaburan benih

Sebelum dilakukan penaburan, benih terlebih dahulu direndam dalam air dengan maksud sebagai seleksi terhadap benih yang kurang baik, terapung, melayang harus dibuang, dan agar terjadi proses tisiologis. Proses tisiologis berarti terjadinya perubahan didalam benih yang akhimya benih cepat

(26)

berkecambah. Terserap atau masuknya air kedalam benih akan mempercepat proses tisiologis. Benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diperam (sebelumnya ditiriskan atau dietus). Benih diperam selama 48 jam, agar didalam pemeraman tersebut benih berkecambah.

Setelah benih berkecambah kemudian dilakuakn penaburan pada lahan yang telah disediakan. Hal- hal yang harus diperhatikan dalam menebar benih adalah benih telah berkecambah dengan panjang kurang lebih 1 mm, benih tersebar rata, kerapatan benih harus sama.

e. Pemeliharaan persemaian 1) Pengairan

Pada pesemaian secara kering

Pengairan pada pesemaian kering dilakukan dengan cara mengalirkan air keselokan yang berada diantara bedengan, agar terjadi perembesan sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung, meskipun dalam hal ini sering kali ditumbuhi oleh tumbuhan pengganggu atau rumput. Air berperan menghambat atau bahkan menghentikan pertumbuhan tanaman pengganggu / rumput. Perlu diketahui bahwa banyaknya air dan kedalamanya merupakan faktor yang memperngaruhi perkembangan semai, terutama pada pesemaian yang dilakukan secara basah.

Pada pesemaian basah

Pengairan pada pesemaian basah dilakukan dengan cara bedengan digenangi air selama 24 jam, setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurangi hingga keadakan macak-macak ( nyemek-nyemek ), kemudian benih mulai bisa disebar. Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macak-macak ini dimaksudkan agar :

− Benih yang disebar dapat merata dan mudah melekat ditanah sehingga akar mudah masuk kedalam tanah.

− Benih tidak busuk akibat genagan air

− Memudahkan benih bernafas/mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses perkecambahan lebih cepat

(27)

Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar benih tidak hanyut. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan bibit dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan.

2) Pemupukan dipersemaian

Biasanya unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar ialah unsur hara makro. Sedangkan pupuk buatan / anorganik seperti Urea, TSP dll diberikan menjelang penyebaran benih dipesemaian, bila perlu diberi zat pengatur tumbuh. Pemberian zat pengatur tumbuh pada benih dilakukan menjelang benih disebar.

B. Persiapan dan Pengolahan Tanah Sawah

Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah ( struktur tanah ) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap : a. Pembersihan

− Selokan-selokan perlu dibersihkan

− Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos b. Pencangkulan

Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak c. Membajak

− Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah

− Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput ( jerami ) sehingga akhirnya membusuk.

− Proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah

d. Menggaru

− Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah − Pada saat menggaru sebaiknya sawah dalam keaadan basah

− Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar

(28)

− Permukaan tanah menjadi rata

− Air yang merembes kebawah menjadi berkurang − Sisa tanaman atau rumput akan terbenam

− Penanaman menjadi mudah

− Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam C. Penanaman

Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah persiapan lahan, umur bibit, dan tahap penanaman.

a. Persiapan lahan

Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi.

b. Umur bibit

Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bibit tersebut segera dapat dipindahkan dengan cara mencabut bibit.

c. Tahap penanaman

Tahap penanaman dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu memindahkan bibit dan menanam. Kedua tahap tersebut akan dijelaskan semuanya dalam uraian di bawah ini.

1) Memindahkan bibit

Bibit dipesemaian yang telah berumur 17-25 hari ( tergantung jenis padinya, genjah / dalam ) dapat segera dipindahkan kelahan yang telah disiapkan. Syarat -syarat bibit yang siap dipindahkan ke sawah :

− Bibit telah berumur 17 -25 hari − Bibit berdaun 5 -7 helai

− Batang bagian bawah besar, dan kuat

− Pertumbuhan bibit seragam ( pada jenis padi yang sama) − Bibit tidak terserang hama dan penyakit

− Bibit yang berumur lebih dari 25 hari kurang baik, bahkan mungkin telah ada yang mempunyai anakan

(29)

2) Menanam

Dalam menanam bibit padi, hal- hal yang harus diperhatikan adalah sistim larikan ( cara tanam ), jarak tanam, hubungan tanaman, jumlah tanaman tiap lobang, kedalam menanam bibit, cara menanam.

a. Sistim larikan ( cara tanam ) − Akan kelihatan rapi

− Memudahkan pemeliharaan terutama dalam penyiangan

− Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit akan lebih baik dan cepat

− Dan perlakuan-perlakuan lainnya

− Kebutuhan bibit / pemakaian benih bisa diketahui dengan mudah b. Jarak tanam

Faktor yang ikut menentukan jarak tanam pada tanaman padi, tergantung pada jenis tanaman, kesuburan tanah, dan ketinggian tempat/musim. − Jenis tanaman

Jenis padi tertentu dapat menghasilkan banyak anakan. Jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih besar, sebaliknya jenis padi yang memiliki jumlah anakan sedikit memerlukan jarak tanam yang lebih sempit.

− Kesuburan tanah

Penyerapan hara oleh akar tanaman padi akan mempengaruhi penentuan jarak tanam, sebab perkembangan akar atau tanaman itu sendiri pada tanah yang subur lebih baik daripada perkembangan akar / tanaman pada tanah yang kurang subur. Oleh karena itu jarak tanam yang dibutuhkan pada tanah yang suburpun akan lebih lebar daripada jarak tanam padah tanah yang kurang subur.

− Ketinggian tempat.

Daerah yang mempunyai ketinggian tertentu seperti daerah pegunungan akan memerlikan jarakn tanam yang lebih rapat dari pada jarak tanam didataran rendah, hal ini berhubungan erat dengan penyediaan air. Tanaman padi varietas unggul memerlukan jarak tanam 20 x 20 cm pada musim kemarau, dan 25 x 25 cm pada musim hujan.

(30)

c. Hubungan tanaman

Hubungan tanaman berkaitan dengan jarak tanam. Hubungan tanaman yang sering diterapkan ialah :

− Hubungan tanaman bujur sangkar ( segi empat ) − Hubungan tanaman empat persegi panjang − Hubungan tanaman 2 baris.

d. Jumlah tanaman ( bibit ) tiap lobang.

Bibit tanaman yang baik sangat menentukan penggunaannya pada setiap lubang. Pemakian bibit tiap lubang antara 2 -3 batang

e. Kedalaman penanaman bibit

Bibit yang ditanam terlalu dalam / dangkal menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik, kedalam tanaman yang baik 3 -4 cm.

f. Cara menanam

Penanaman bibit padi diawali dengan menggaris tanah / menggunakan tali pengukur untuk menentukan jarak tanam. Setelah pengukuran jarak tanam selesai dilakukan penanaman padi secara serentak.

D. Pemeliharaan

a. Penyulaman dan Penyiangan

Yang harus diperhatikan dalam penyulaman : − Bibit yang digunakan harus jenis yang sama

− Bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu − Penyulaman tidak boleh melampoi 10 hari setelah tanam

− Selain tanaman pokok ( tanaman pengganggu ) supaya dihilangkan. b. Pengairan

Pengairan disawah dapat dibedakan : − Pengairan secara terus menerus − Pengairan secara periodik c. Pemupukan

Tujuan pemupukan adalah untuk mencukupi kebutuhan unsur hara yang belum tersedia dalam tanah yang berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses pertumbuhan atau pada proses produksi. Pemupukan harus dilakukan dengan benar yaitu sesuai dengan dosis yang diperlukan tanaman.

(31)

Pupuk yang sering digunakan oleh petani berupa : − Pupuk alam ( organik )

− Pupuk buatan ( an organik ) Dosis pupuk yang digunakan : - Pupuk Urea 250 -300 kg / ha - Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha - Pupuk KCI 50 -100 kg / ha

- Atau disesuaikan dengan analisa tanah 2.5.Penelitian Terdahulu

Penelitian Ma’mir (2001) menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan sumber informasi agribisnis tanaman sayuran yang paling tingi baik persentase jumlah petani dan intensitas keterdedahan informasi tanaman sayuran maupun pemanfaatan informasi adalah melalui saluran interpersonal (tetangga dan teman), disusul kemudian oleh media elektronik dan media cetak.

Informasi yang paling dibutuhkan oleh petani adalah informasi subsistem hilir (informasi harga hasil produksi). Urutan selanjutnya adalah informasi subsistem hulu (obat-obatan, jenis dan harga sarana produksi), informasi subsistem budidaya (memilih benih, perawatan dan obat-obatan), dan informasi subsistem penunjang (mencari dan menggunakan modal).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemanfaatan sumber informasi adalah kebutuhan informasi dan motivasi kognitif. Karakteristik demografis tidak berhubungan perilaku pemanfatan sumber informasiagribisnis tanaman sayuran di Kabupaten Kendari.

Hasil penelitian Purnaningsih (1999) menunjukkan bahwa persepsi terhadap sumber informasi berhubungan nyata dengan pemanfaatan sumber informasi. Semakin banyak petani menilai positif terhadap peranan dan keuntungan memenfaatkan sumber informasi semakin banyak petani yang memanfaatkan sumber informasi tersebut.

Karakteristik petani yang berhubungan nyata dengan kebiasaan memanfaatkan sumber informasi interpersonal adalah umur, tingkat pendidikan, skala usaha, dan pengalaman bertani. Sumber informasi interpersonal dimanfaatkan secara efektif oleh petani untuk membantu mengambil keputusan

(32)

dalam kegiatanproduksi maupun pemasaran, sedangkan sumber informasi komunikasi media massa belum dapat dimanfaatkan secara efektif karena sebagian besar masih sulit dimengerti dan belum sesuai kebutuhan petani.

(33)

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran

Perilaku pemanfaatan sumber informasi agrbisnis tanaman padi oleh petani dapat diartikan sebagai tindak tanduk, ucapan maupun perbuatan seorang petani dalam mencari, menerapkan, memafaatkan dan menyebarkan informasi agribisnis tanaman padi. Perilaku pemanfaatan sumber informasi agrbisnis adalah perilaku petani dalam menggunakan sumber informasi agribisnis tanaman padi yang ditunjukkan oleh jumlah petani yang menggunakan jenis sumber informasi dalam hal : pemanfaatan benih, teknis penanaman, hama dan penyakit, informasi pasar dan harga, serta pengelolaan usaha. Jenis sumber informasi yang ingin diketahui adalah sumber informasi interpersonal (kontak dengan penyuluh, suplier, teman, kerabat atau orang tua), media cetak (surat kabar, majalah pertanian, brosur), dan media elektronik (radio dan televisi).

Petani tanaman padi adalah orang yang bermata pencaharian pokok bercocok tanam padi yang dikerjakan sendiri atau bersama keluarganya atau mengupah orang lain di lahannya sendiri atau di lahan orang lain dengan cara menyewa atau sistem bagi hasil.

Petani dalam upaya mencari, menerapkan, memanfaatkan informasi agribisnis tanaman padi sangat berhubungan dengan kebutuhan informasi yang diperlukan untuk pengembangan agribisnis tanaman padi. Informasi yang diperlukan tersebut dapat berupa cara pembudidayaan tanaman padi, harga sarana produksi pertanian yang digunakan dan harga jual padi yang dihasilkannya, waktu dan tempat penjualan sarana produksi pertanian tanaman padi dan hasil pertaniannya serta lembaga/sumber pendanaan/pembiayaan atau perkreditan yang dapat membantu permodalan agribisnis tanaman padinya.

Selain kebutuhan informasi, pemanfaatan sumber informasi agribisnis tanaman padi juga dapat dipengaruhi oleh saluran atau sumber informasi yang ada. Petani membutuhkan informasi agribisnis yang dapat dipercaya, relevan dan dapat dipahami dalam jumlah yang memadai. Memperoleh informasi tersebut

(34)

diusahakan melalui pencarian sumber informasi yang dapat memenuhi kebutuhannya. Sumber informasi tersebut dapat diperoleh petani melalui media massa dan saluran interpersonal.

Kedua hal tersebut, yaitu kebutuhan informasi petani dan sumber informasi agribisnis tanaman padi yang tersedia dianalisis korelasinya dengan karakteristik individu petani. Karakteristik demografis yang mempengaruhi kebutuhan informasi petani adalah umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan keikutsertaan pada pelatihan.

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian Karakteristik Petani: • Umur • Tingkat pendidikan • Luas lahan • Keikutsertaan pada pelatihan Sumber Informasi: • Brosur • Penyuluh • Suplier • Orang tua • Teman

Informasi yang dibutuhkan petani:

• Pemilihan benih • Pemeliharaan tanaman • Hama dan penyakit • Informasi pasar

Pengembangan usaha agribisnis padi

(35)

BAB IV

METODE PENELITIAN 4.1.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Padahurip, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai dengan bulan Januari 2009.

4.2.Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data sekunder didapat dari data monografis desa dan sumber kepustakaan lain yang terkait dengan kebutuhan data penelitian ini. Sedangkan data primer didapat dari hasil pengamatan langsung (observasi) dan melalui wawancara dengan petani yang berada di lokasi penelitian. Data primer yang akan diambil antara lain :

a. Karakteristik demografis petani • Umur

• Tingkat pendidikan • Luas lahan

• Keikutsertaan pada pelatihan

b. Jenis sumber informasi yang ada di desa tersebut 4.3.Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah seluruh petani padi yang berada di Desa Padahurip. Populasi tersebut kemudian diambil 30 responden sebagai sampel yang mewakili petani yang ada di desa Padahurip. Gay dalam Hasan (2002) mengatakan bahwa ukuran minimum sampel untuk metode deskriptif korelasional minimal 30 obyek. Metode pemilihan petani yang dijadikan responden adalah dengan menggunakan prosedur acak sederhana (simple random sampling) design.

(36)

Tabel 2. Daftar Nama Responden dan Karakteristiknya No Nama Umur (tahun) Pendidikan Luas Lahan (Ha) 1 Muhidin 41 SD 2 2 Aleh 56 SD 1,25 3 Syuhada 56 SD 1,5 4 Ade Ruhiyat 42 SD 0,75 5 Amir 65 SR 1 6 Sahda 49 SD 1,25 7 Abdul. K 40 SMP 0,75 8 Juhaya 40 SMP 1 9 Oon 62 SMA 1 10 Mudin 58 SD 0,4 11 Ato 60 SD 0,6 12 Omod 62 SD 0,5 13 Mustofa 52 SD 1 14 Adin 60 SD 2 15 Yayan 50 SD 1 16 Oji 52 SD 0,75 17 Momon 48 SD 0,6 18 Ade 47 SD 0,5 19 Ahdan 51 SD 3 20 Komar 40 SD 0,75 21 Jali 57 SD 0,75 22 Undang 67 SR 1 23 Tajidin 60 SD 1,25 24 Hamim 62 SR 1 25 Rohadin 50 SD 1 26 Emed 63 SD 0,5 27 Sujana 59 SD 0,5 28 Ibad. B 64 SR 1 29 Abdul. R 49 SD 0,6 30 Enang 52 SD 0,7 Rata- rata 53,8 0,997

(37)

4.4.Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data responden diperoleh langsung dari petani yang menjadi sampel dari seluruh petani yang berada di desa Padahurip. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan panduan kuesioner. Format pertanyaan kuesioner penelitian ini merupakan gabungnan dari bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

4.5.Metode Pengolahan dan Analisis Data

Setelah data penelitian yang diperlukan diperoleh secara lengkap, kemudian peneliti mengolah data dengan proses pemeriksaan konsistensi dan kelengkapan data. Selanjutnya dilakukan pengklasifikasian jawaban responden berdasarkan kategori yang ada, yaitu karakteristik petani, kebutuhan informasi, dan sumber informasi agribisnis padi di Desa Padahurip. Selanjutnya dilakuka uji korelasi dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman proses pengolahan data hasil dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS. 13.0.

4.6.Definisi Operasional

Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tersebut (Nazir, 2003). Kesimpulan yang dapat diambil tentang definisi operasional adalah penjelasan atau pengertian dari peubah-peubah dengan maksud membatasi lingkungan mana peubah agar lebih mengarah pada objek pengamatan atau penelitian sehingga dapat dilakukan pengukuran. Definisi operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Petani adalah individu yang menguasai dan mempunyai hak untuk membuat keputusan terhadap lahannya dan memiliki mata pencaharian bertani.

2. Karakteristik individu adalah sifat-sifat yang melekat pada diri petani yang mencakup umur, pendidikan, pengalaman usahatani, luas lahan, dan keikutsertaan pada pelatihan.

a. Umur adalah usia petani yang dihiting dari tahun kelahiran sampai saat wawancara/penelitian berlangsung. Umur dikategorikan menjadi:

(38)

• Usia II : 50 – 59 tahun • Usia III : > 59 tahun

b. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang dicapai oleh responden. Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi:

• Rendah : Tidak tamat/tamat SD • Menengah : Tamat SMP/sederajat

• Tinggi : Tamat SMA/sederajat/akademi/pergururan tinggi

c. Luas lahan adalah total luas lahan yang digunakan untuk bertani padi. Luas lahan dikategorikan menjadi :

• Luas : > 2 ha • Cukup luas : 0,5 – 1,9 ha • Sempit : > 0,5 ha

d. Keikutsertaan pada pelatihan pertanian yang diselenggaran oleh penyuluh atau dinas pertanian, yang dikategorikan menjadi:

• Pernah ikut • Tidak pernah ikut

3. Sumber informasi yaitu jenis sumber informasi yang tersedia, yang terdiri dari:

a. Media massa adalah media sumber informasi yang digunakan oleh petani padi yang berada di desa Padahurip, baik media cetak (surat kabar, majalah, brosur, atau folder) maupun media elektronik (radio dan televisi). b. Saluran interpersonal adalah sumber informasi melalui saluran atau

hubungan antar pribadi yang dilakukan oleh petani terhadap orang yang berada di sekitarnya seperti penyuluh, teman, kerabat/orang tua, pedagang/supplier dalam memperoleh informasi.

4. Kebutuhan informasi adalah jenis atau ragam informasi yang dibutuhkan oleh petani yang terdiri atas budidaya pertanian, hama dan penyakit, dan ingormasi pasar dan harga. Kategori: Sangat bermanfaat, Bermanfaat, Kurang bermanfaat, dan tidak bermanfaat.

5. Ketersediaan informasi adalah pendapat petani yang diukur berdasarkan penyediaan informasi oleh sumber informasi mengenai informasi agribisnis

(39)

tanaman padi. Dikategorikan menjadi sangat tersedia, tersedia, kurang tersedia, tidak tersedia.

6. Intensitas pemanfaatan sumber informasi adalah lamanya pemanfaatan suatu sumber informasi, baik media massa maupun interpersonal, diukur berdasarkan jam per minggu.

(40)

BAB V

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1.Kondisi Fisik Desa Padahurip

5.1.1. Letak Geografis dan Iklim

Desa Padahurip adalah salah satu desa di Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut. Sesuai dengan perda nomor 32, Desa Padahurip berbatasan langsung dengan Kabupaten Tasikmalaya di sebelah utara, di sebelah selatan dan barat berbatasan dengan desa Kadongdong, dan di sebelah timur desa padahurip berbatasan dengan desa Talagasari.

Jarak desa ini dengan pusat pemerintahan kecamatan Banjarwangi kurang lebih 5 km. Desa Padahurip berada pada ketinggian 700-900 meter di atas permukaan laut, yang meliputi areal seluas 2.792 ha, dengan tekstur tanah lampungan dan tingkat kemiringan rata-rata 24 derajat. Desa Padahurip merupakan desa yang berada di dataran tinggi dengan suhu rata-rata harian 20-26

o

C serta curah hujan 1500 mm/tahun. 5.1.2. Tata Guna Lahan

Areal desa Padahurip seluas 2.792 Ha yang digunakan untuk tanaman pangan adalah 442,91 Ha dengan uraian sebagai berikut:

Tabel 3. Tata Guna Lahan untuk Tanaman Pangan Desa Padahurip

No Keterangan Jumlah (Ha)

1 Padi sawah 441,21

2 Ubi kayu 0,5

3 Ubi jalar 0,6

4 Pisang 0,6

Sumber: Data Monograf Desa Padahurip 2008

Padi merupakan tanaman pangan yang sudah lama diusahakan di desa Padahurip, sehingga jumlahnya lebih banyak dibanding tanaman pangan lainnya. Walaupun presentasi lahan kering atau tegalan lebih besar dibandingkan dengan lahan sawah tetapi mayoritas usahatani penduduknya tetap padi sawah. Kondisi

(41)

demikian karena beberapa alasan, pengalaman bertani padi, dan tingkat kemudahan ushatani padi jika dibandingkan dengan usahatani komoditas lainnya. Iklim di desa Padahurip yang cocok untuk budidaya tanaman padi juga menjadi salah satu alasan petani melakukan usahatani padi. Disamping itu bercocok tanam padi juga relatif mudah dalam pemeliharaannya, karena mereka sudah terbiasa dengan budidaya tanaman tersebut.

5.2.Keadaan Sosial Ekonomi 5.2.1. Keadaan Penduduk

Penduduk desa Padahurip sampai dengan bulan Agustus tahun 2008 berjumlah 7.484 jiwa yang terdiri dari 3.445 jiwa laki-laki dan 4.039 jiwa perempuan. Agama yang dianut oleh warga desa Padahurip adalah agama Islam yaitu 7.484 orang atau 100 persen menganut agama Islam. Persebaran usia penduduk di desa Padahurip hampir merata pada setiap tingkatan umur, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, hanya saja prosentase penduduk tua di atas 70 tahun paling sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan rentang usia lainnya. Penduduk desa Padahurip yang berjumlah 7.484 jiwa 100 persen berkewarganegaraan Indonesia, dan beretnis Sunda. Sementara itu jika dilihat dari sebaran usianya, penduduk desa Padahurip didominasi oleh usia muda.

5.2.2. Mata Pencaharian Penduduk

Penduduk desa Padahurip mempunyai beragam mata pencaharian. Buruh tani merupakan mata pencaharian pokok terbesar penduduk desa yaitu 1.266 orang, atau 42,68 persen dari penduduk usia kerja. Sementara sisanya bermatapencaharian sebagai petani, pedagang keliling, pengrajin industri rumah tangga, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan swasta, TNI/POLRI, dan pengusaha kecil dan menengah. Pada era orde baru lalu desa Padahurip masih tergolong sebagai desa tertinggal sehingga termasuk ke dalam rogram inpres desa tertinggal (IDT), sekarang sedang berbenah untuk terbebas dari predikat tersebut.

5.2.3. Tingkat Pendidikan Penduduk

Penduduk desa Padahurip banyak yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar. Porsi terbesar yaitu tingkat sekolah dasar berjumlah 62,80 persen, SLTP/sederajat berjumlah 18,10 persen, SLTA/sederajat berjumlah 7,10 persen,

(42)

diploma berjumlah 0,87 persen, dan sarjana berjumlah 0,07 persen. Masih minimnya tingkat pendidikan penduduk desa Padahurip diantaranya disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan sarana pendidikan lanjut, dan masih minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.

5.3.Perkembangan Pertanian Padi di Desa Padahurip

Padi adalah tanaman tropis sehingga akan cocok ditanam di daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1500 m di atas permukaan laut. Tanaman padi di Kabupaten Garut tersebar hampir di semua kecamatan kecuali kecamatan Cikajang dan sebagian kecamatan Cisurupan. Desa Padahurip merupakan salah satu desa di kecamatan Banjarwangi yang penduduknya bermatapencaharian petani dan buruh tani terbanyak. Pada proses usahatani padi di desa Padahurip salah satunya didukung oleh adanya penyuluh pertanian yang membantu proses transformasi informasi pertanian ke petani.

Pada tahun 1990 merupakan tahun pertama masuknya penyuluh pertanian ke desa Padahurip, dengan programya yang sangat terkenal yaitu Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Diakui masyarakat setempat dengan adanya program SLPHT telah membawa banyak perubahan terhadap cara bertani mereka, terutama cara penanaman dan cara penanggulangan hama. Setelah SLPHT berhasil dengan berbagai macam programnya, baru-baru ini adalagi program dari dinas pertanian yaitu Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Sama halnya dengan SLPHT, SLPTT pun mendapatkan respon yang baik dari petani.

Petani di desa Padahurip sekarang sudah lebih bisa menerima inovasi, terutama petani tanaman padi, jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Walaupun masih ada kendala yaitu terbatasnya kepemilikan lahan pertanian, inprastuktur penunjang yang masih minim, dan akses informasi yang minim terutama informasi agribisnis hilir (informasi harga pasar dan tempat pemasaran produk).

(43)

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1.Karakteristik Individu

6.1.1. Umur

Responden yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 30 orang dan berada pada rentang usia 40 sampai 67 tahun. Sebaran responden hampir merata pada ketiga rentang usia tersebut, tetapi pada rentang usia 50-59 tahun merupakan usia terbanyak yaitu 36,7 persen, seperti ditunjukkan pada Tabel 4 di bawah. Sementara itu dilihat dari jumlah penduduk desa Padahurip secara keseluruhan maka jumlah penduduk kategori usia II menempati jumlah terbesar jika dibandingkan dengan penduduk usia I dan usia III. Dengan demikian yang berprofesi sebagai petani terpusat pada penduduk yang berusia II dan usia III yaitu usia di atas 50 tahun. Hal ini terjadi karena penduduk yang tergolong usia I lebih memilih untuk berdagang di luar desa Padahurip dibandingkan dengan bertani di desanya.

Bertani di mata genrasi muda penduduk desa masih dianggap kurang menjanjikan keuntungan jika dibandingkan dengan berdagang di kota. Oleh karena itu penduduk usia muda Desa Padahurip lebih memilih berjualan atau menjadi buruh bangunan di kota.

Tabel 4. Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur

Umur (tahun) Jumlah Persentase (%)

Usia I (< 50) 9 30,0

Usia II (50 - 59) 11 36,7

Usia III (> 59) 10 33,3

Jumlah 30 100,0

6.1.2. Tingkat Pendidikan

Sebanyak 90 persen responden mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, yaitu hanya sampai tingkat sekolah dasar atau sederajat yaitu sekolah rakyat (SR). Hal ini menunjukkan bahwa bertani padi dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk oleh petani dengan kategori pendidikan formal rendah. Responden

(44)

berpendidikan menengah dan tinggi jumlahnya sangat sedikit yaitu hanya 10 persen. Sedangkan fakta ini bisa memberikan isyarat bahwa masyarakat di desa Padahurip dengan pendidikan formal yang tinggi enggan untuk mengambil profesi sebagai petani. Seperti dtunjukkan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah dan Persentase Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

Rendah (SD/SR) 27 90,0

Menengah (SMP) 2 6,7

Tinggi (SMA) 1 3,3

Jumlah 30 100,0

Jika memperhatikan tingkat pendidikan responden di desa Padahurip ini maka dapat disimpulkan bahwa responden minimal telah mampu membaca dan menulis sebagai modal dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Menurut Soekartawi (2005) pendidikan mungkin bisa menciptakan dorongan mental untuk menerima inovasi yang menguntungkan dapat diciptakan.

6.1.3. Luas Lahan

Sebagian besar responden (86,7 persen) termasuk kategori pemilik lahan cukup luas, yaitu antara 0,5 ha sampai dengan 1,9 ha. Responden yang memiliki lahan sempit berjumlah 3,3 persen. Sebagian besar responden menyatakan kurangnya modal untuk lebih mengintensifkan usahataninya dan kekurangan informasi tentang usahatani padi sebagai faktor pendukung dalam pengambilan keputusan strategisnya.

Tabel 6. Jumlah dan Persentase Responden berdasarkan Luas Lahan

Luas Lahan Jumlah Persentase (%)

Sempit (< 0,5 ha) 1 3,3

Cukup Luas (0,5 – 1,9 ha) 26 86,7

Luas (> 2 ha) 3 10,0

Jumlah 30 100,0

Kepemilikan lahan pertanian di Desa Padahurip masih tergolong rendah untuk ukuran usahatani komersial yang diharapkan mampu bersaing dengan

(45)

petani lainnya. Terbatasnya kepemilikan lahan ini salah satunya diakibatkan karena sistem pembagian lahan yang turun temurun berdasarkan jumlah anggota keluarga, jadi makin panjang generasi dan makin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin kecil jumlah bagian lahan yang diterima generasi berikutnya. Disamping adanya sistem budaya petani setempat yang unik, hal lain yang terkait dengan kondisi lahan pertanian di Desa Padahurip adalah adanya beberapa lahan yang masih belum jelas kepemilikannya. Persengketaan yang sering terjadi adalah lahan yang berkepemilikan ganda dengan perhutani.

6.1.4. Keikutsertaan pada Pelatihan

Mayoritas responden dalam penelitian ini pernah mengikuti pelatihan yang pernah diadakan di desa Padahurip. Responden yang pernah mengikuti pelatihan berjumlah 86,7 persen sedangkan yang belum pernah mengkuti pelatihan hanya 13,3 persen. Fakta ini dapat diartikan bahwa dengan adanya pelatihan dapat memberikan manfaat yang dirasakan oleh para petani dalam menunjang keberhasilan usahatani mereka sehingga mereka tertarik untuk mengikuti pelatihan. Selain alasan itu, rendahnya tingkat pendidikan formal petani di Desa Padahurip menjadi salah satu motivasi mereka untuk mengikuti pelatihan dengan harapan dapat menambah pengetahuan mereka di bidang pertanian.

Tabel 7. Jumlah dan persentase responden dalam keikutsertaannya pada pelatihan Keikutsertaan Pelatihan Jumlah Persentase (100%)

Pernah 26 86,7

Tidak pernah 4 13,3

Jumlah 30 100,0

Pelatihan yang pernah diikuti oleh responden adalah SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) dan SLPTT (Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu) keduanya diselenggarakan oleh penyuluh pertanian dari dinas pertanian kabupaten dan pelaksana lapangan dari dinas pertanian kecamatan. SLPHT merupakan pelatihan yang paling awal diselenggarakan di desa Padahurip sekitar tahun 1990, kemudian sekitar tahun 2007 diselenggarakan SLPTT. Petani di desa Padahurip merespon positif dengan

(46)

hadirnya penyuluh di desanya, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keikutsertaan petani dalam program penyuluhan seperti SLPHT dan SLPTT yang dominan. 6.2.Jenis Sumber Informasi

Sumber informasi yang dikaji dalam penelitian ini berjumlah sembilan sumber yaitu penyuluh, suplier, orang tua/kerabat, teman, surat kabar, majalah pertanian, brosur, radio, dan televisi. Walaupun setelah melalui penelitian tidak semua sumber informasi tersebut dapat diakses dan digunakan atau dimanfaatkan oleh petani padi di lokasi penelitian yaitu desa Padahurip. Dari sembilan sumber informasi di atas, empat sumber informasi belum dapat diakses oleh petani setempat, yaitu surat kabar, majalah pertanian, radio, dan televisi.

Surat kabar dan majalah pertanian tidak menjadi sumber informasi agribisnis bagi petani di desa Padahurip karena surat kabar dan majalah pertanian belum bisa diakses oleh petani setempat. Dari 30 responden dalam penelitian ini tidak ada yang menggunakan surat kabar dan majalah pertanian sebagai sumber informasinya. Hal ini sesuai dengan informasi monograf desa Padahurip yang menyatakan bahwa penduduk desa belum ada yang menggunakan atau berlangganan surat kabar dan majalah pertanian.

Selain surat kabar dan majalah pertanian, sumber informasi lainnya yang belum dijadikan sumber informasi oleh petani di desa Padahurip adalah radio dan televisi. Radio belum dijadikan sumber informasi oleh petani karena belum ada stasiun radio pertanian atau stasiun radio yang menyajikan informasi pertanian yang dapat diakses oleh petani di desa Padahurip. Stasiun radio yang dapat diakses di desa Padahurip hanya stasiun radio dengan gelombang dan frekwensi yang kuat. Hal itu terjadi karena pengaruh dari kondisi geografis desa Padahurip yang dikelilingi oleh pegunungan dan bukit.

Sama halnya dengan radio, televisi juga masih belum menjadi sumber informasi bagi petani di desa Padahurip karena rata-rata stasiun televisi yang dapat diakses hanya ada empat stasiun televisi, yaitu RCTI, TransTV, Indosiar, dan ANTV. Sementara stasiun televisi tersebut jarang sekali menyajikan informasi seputar pertanian, berbeda dengan TVRI dan beberapa stasiun televisi swasta lain seperti TPI yang memiliki program khsuus pertanian. Sedangkan

Gambar

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian Karakteristik Petani: •  Umur  •  Tingkat pendidikan •  Luas lahan •  Keikutsertaan pada pelatihan Sumber Informasi: •  Brosur •  Penyuluh •  Suplier •  Orang tua •  Teman
Tabel 2.  Daftar Nama Responden dan Karakteristiknya
Tabel 3.  Tata Guna Lahan untuk Tanaman Pangan Desa Padahurip
Tabel 4.  Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur
+7

Referensi

Dokumen terkait

USU Repository © 2008.. Petani kopi arabika dengan petani kopi robusta mendapatkan informasi dari sumber yang berbeda. Sumber informasi tersebut adalah dari keluarga, dari

Penelitian Pengembangan Sistem Diseminasi Inovasi Pertanian Berbasis Teknologi Informasi (TI) bertujuan untuk menganalisis peran penyuluh pertanian dan kelembagaan

Menjadi masukan bagi Kementerian Pertanian, Pemerintah Kota Batu, Penyuluh Pendamping, Gapoktan dan petani yang terlibat langsung maupun tidak langsung terhadap

Karakter seorang komunikator merupakan salah satu sumber kredibilitas dari seorang penyuluh pertanian agar petani dapat menilai apakah penyuluh pertanian

interpersonal, terutama teman sesama penyuluh, kontak tani/peternak maju, dan Kepala Dinas. Sumber informasi yang tingkat penggunaannya rendah antara lain konsultasi

Sumber informasi pertanian online, Simluhtan, Tabloid Sinar Tani, dan Cybext merupakan sumber informasi yang dimanfaatkan oleh sebagian besar penyuluh.. Semua sumber informasi

Petani padi di Kota Salatiga memiliki akses informasi dari sumber informasi seperti kelompok tani, penyuluh (SLPTT, SLPHT, demplot, dan dembul), radio, pamflet, toko

Dinas pertanian, penyuluh, LSM dan koperasi turut memberi dukungan kepada kelompok petani dalam agribisnis beras organik; (2) Ketersediaan informasi mengenai budidaya padi organik