II. TINJAUAN PUSTAKA
3.3 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini jenis dan sumber data yang dikumpulkan adalah :
1. Data primer adalah data yang dikumpul lansung dari petani melalui wawancara responden dan pertanyaan dengan menggunakan kusioner
2. Data sekunder adalah data yang sudah ada kemudian dikumpulkan dari instansi yang ada hubungannya dengan penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari responden maupun data dari sekunder kemudian di sederhanakan dalam bentuk tabulasi, selanjutnya di lakukan penyajian data. Data yang di peroleh kemudian ditabulasi untuk selanjutnya dilakukan analisis diskriptif dan kuantitatif. Analisis data untuk mencapai tujuan penelitian adalah pengukuran terhadap indakator pengamatan dengan menggunakan ‘’Ratin Scale”
atau skala nilai (Singarimbun dan Sofian Efendi,1999) dengan ketentuan jawaban nilai 3 : nilai 2 dan nilai 1 Dengan kategoripengukuran yaitu:
Berperan = 2,34-3,00
Kurang Berperan = 1,67-2,33
Tidak Berperan = 1,00-1,66 3.5 Defenisi Operasional
1. Peranan kelompok tani di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa adalah memberikan motivasi kepada petani agar petani lebih berkeinginan untuk lebih mengembangkan tanaman markisa.
2. kelompok tani di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa adalah kelompok yang tumbuh berdasarkan keakraban dan keserasian, serta kesamaan kepentingan para petani dalam pemanfaatan sumber daya pertanian yang mereka miliki.
3. Petani markisa adalah petani yang menanam dan mengusahakan pengembangan markisa.
4. Kelas Belajar Mengajar di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa merupakan wadah bagi setiap anggotanya untuk berintraksi guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dalam berusahatani yang lebih baik mandiri untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.
5. Unit Produksi Usahatani di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa merupakan satu kesatuan unit usaha tani untuk mewujudkan kerjasama dalam mencapai skala ekonomi yang yang lebih menguntungkan.
6. Wahana Kerjasama di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesame petani dalam kelompok dan antar kelompok lain untuk menghadapi beberapa ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak Batas Wilayah
Luas wilayah Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa adalah
± 26.000 ha yang terbagi 5 dusun, yaitu Dusun Buakkang, Parang-parang, Kampung Beru, Sapakeke. Batas Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, yaitu sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Manggempang - Sebelah Timur berbatasan dengan Keluruhan Sapaya - Sebelah Setelah berbatasan dengan Desa Rannaloe - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bissoloro
Desa Buakkang berada 200 km dari Ibu kota Kabupaten, terdiri dataran tinggi yang diminasi dengan lahan sawah dan lahan kering yang sangat potensial untuk pengembangan komuditas pangan, hurtikultur, perkebunan, dan ternak unggas.
4.2 Keadaan Topografi
Kedaan tofografi Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa merupakan dataran tinggi tempat 400 meter di atas permukaan laut.
4.3 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Desa Buakkang sebagaian besar di peruntukkan untuk tanah pertanian sawah sedangkan sisanya untuk tanah kering yang merupakan daerah pemukiman dan fasilitas-fasilitas lainnya merupakan kantor Desa ,Sekolah,
Tabel. 1 Luas Areal Tanah Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa
Buak-Pertanian 1.100,7 1012 1.827,8 2..521 kang854 7.315,5 28,14
Bangunan 564,0 587 753,0 1.000 505 3.409 13,11
Perkebu-nan 798,6 804 951,7 1.050 553 4.157,3 15,99
LindungHut. 966,10 864 1.251,2 1.625 734 5.448,3 20,96 Lahan
Tidur 857,3 973 1.752,6 1.324 763 5.669,9 21,80
Jumlah 4.288 4.240 6.542 7.542 3.410 26.000 100,00 Sumber : Monografi Desa Buakkang 2015
Dari Tabel 1dapat dilihat bahwa lahan pertanian merupakan areal lahan yang paling luas penggunaanya di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa yakni 7.315,5 ha dengan presentase 28,14%. Sedangkan lahan yang paling sempit13,11%.
Iklim Desa Buakkang sebagai desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujang. Tersebut mempunyai pengaruh langsung terhdap pengembangan tanam yang ada di Desa Buakkang Kecamatan Buangaya Kabupatenn Gowa.
4.4 Keadaan Penduduk
Penduduk merupakan subjek sekaligus objek pembangunan apabila dimanfaatkan secara maksimal akan menjadi potensi sangat strategi untuk
perkembangan dalam skala nasional. Untuk mengetahui keadaan penduduk Desa Buakkang dapat di lihat dari segi umur, jenis kelamin, dan jenis mata pencarian.
4.3.1 Jumlah PendudukBerdasarkan Jenis Kelamin
Desa Buakkang merupakan daerah pedesaan, sebuah daerah untuk pemukiman yang ditempati oleh banyak penduduk baik laki-laki maupun perempuan . Untuk mengetahui penyebaran penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2 yaitu:
Tabel. 2 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Tahun 2015.
Jenis
Kelamin Penyebaran Penduduk Jumlah Persent
(%)ase
Jumlah 410 470 627 719 558 2.784 100.00
Sumber :Monografi Desa Buakkang. 2015
Tabel 2 menunjukkan jumlah penduduk Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dimana memiliki jumlah penduduk 2.784 jiwa,yang terdiri atas laki-laki 1357 de4ngan 48,4% dan perempuan 1357 jiwa dengan presentase 51,36%
4.3.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Umur
Sama halnya dengan Desa yang lain atau daerah lain, jumlah penduduk Desa Buakkang juga bervariasi berdasarkan tingkat umur mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa serta usia lanjut . Untuk lebih jelasnya dapat di lihat di table 3 yaitu:
Tabel. 3 Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Umur Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Tahun 2015.
(Tahun)Umur Penyebaran penduduk (jiwa) Jaum
lah Persent
Jumlah 949 462 565 619 550 2.78 100.00
Sumber : Monografi Desa Buakkang .2015
Tabel 3 menunjukan penyebaran jumlah penduduk menurut tingkat umur yang mendominasi usia antara 46-55 dengan jumlah 1.026 jiwa atau 36,86% dari usia tersebut masih termasuk produktif atau masih kuat bekerja. Sedangkan jumlah penduduk terendah yakni usia antara 36-45 dengan jumlah 236 jiwa atau 8,54%.
4.4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Bedasarkan registrasi penduduk Desa buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa bahwa jumlah penduduk Deesa Buakkang dapat pula kita lihat dari segi tingkat pendidikaanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 4 KomposisiPenduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Buakkang Kecamatan Buangaya Kabupaten Gowa 2015.
Jenis Kelamin
Sekola-Pra
h SD SMP SMA
Sarjan-a
Jumlah 220 260 260 227 61 2.430 100.00
Sumber monografi Desa Buakkang 2013
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah pendidikan berdasarkan data yang tercatat pada tahun 2015, menunjukkan yang paling banyak adalah tingkat pendidikan SD dengan 1.662 jiw, dan juga masih banyak penduduk yang sama sekali tidak perna sekolah dengan jumlah 220 jiwa.Sedangkan jumlah penduduk tingkat pendidikan DIII/SI (Sarjana) sangat rendah hanya berjumlah 61 orang Hal tersebut dapat diartikan Desa Buakkang tingkat pendidikannya masih tergolong rendah.
4.4.4 Jumlah Penduduk
Beserta Mata Pencarian Desa Buakkang merupakan desa pertanian dan sebagian besar penduduk bermata pencarian sebagai petani sedangkan sebagai berikut:
Tabel.5 Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Tahun 2015
No. Mata Pencarian Jumlah -Sumber Monografi Desa Buakkang 2015.
Tabel 5 dapat dilihat bahwa penduduk Desa Buakkang dominan berprofesi atau mata pencariannya adalah sebagai petani . Hanya sedikit dari mereka yang memiliki mata pencarian lain, seperti pedagang yang hanya berjumlah 10 orang sedangkan PNS berjumlah 31 orang saja.
4.4.5 Sarana dan Prasarana
Salah satu faktor pelancar pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat Desa Buakkang Kecamatan Bungaya yaitu dengan tersedianya sarana dan prasarana, namun sarana dan prasarana tersebut kurang yaitu jalan tani dan irigasi yang belum ada tetapi kegiatan pertanian masyarakat Desa Buakkang tetap
Tabel. 6 Sarana dan Prasarana Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten
Sumber :Monografi Desa Buakkang 2015
Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah prasarana lebih banyak di bandingkan jumlah sarana. Dimana jumlah prasarana seperti sepeda motor sebanyak 105,
masih sangat kurang. Padahaljika dipikikir lebih matang lagi sarana lebih penting dari pada prasarana.
4.5 Keadaan Pertanian
Berdasar kan penelitian yang dilakukan di Desa Buakkang bahwa dengan luas tanah 26.000 ha, dengan kondisi wilayah dataran tinggi dengan PH tanah 5-6 berpotensial untuk dilakukan usaha pertanian, perkebunan, hutang lindung.
Untuk usaha pertanian biasanya ditanam jagung, padi, kacang, cabe, ubi jalar, ganyu, dan markisa. Belakangan ini tanaman markisa mulai ditanam karena mempunyai kelebihan dan cocok untuk daerah tersebut. Masyarakat Desa Buakkang masih banyak yang tidak mengikuti teknologi yang di terapkan oleh pemerintah, sebagian mereka hanya memakai kebiasaanya sendiri karena sumber daya manusianya yang masih rendah (pendidikan rendah). Keadaan pertanian Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa sebagai berikut :
a. Petani sulit mendapatkan bibit unggul.
b. Petani sulit mendapatkan sarana dan prasarana teknologi pertanian.
c. Petani susah mendapatkan saprodi.
d. Masih ada lahan kosong belum dimanfaatkan.
e. Petani kesulitan mengangkut hasil panen f. Lahan pertanian rawan terjadi erosi.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Identitas responden dari sampel penelitian adalah identitas petani yang menjadi anggota dari kelompok tani yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan pengalaman responden.
5.1.1 Umur Responden
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi petani responden dalam menjalankan kegiatan usahataninya adalah faktor umur , dimana umur relatif muda dan sehat kemampuan fisiknya lebih tinggi dengan berusia lanjut, klasifikasi tingkat usia petani dapat dilihat pada tabel 7 berikut:
Tabel. 7 Jumlah Penduduk berdasaran Usia dan Jenis Kelamin di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa 2015.
No. Tingkat Usia
Sumber :Data yang di peroleh di olah 2015
Tabel 7 menunjukkan bahwa klasifikasi responden berdasarkan tingkat umur 25-29 tahun sebesar 20% dan tingkat usia 33-39 tahun sebesar 40%. Dimana umur responden berada pada tingkat umur antara 40-45 tahun 40% yang
responden merupakan petani markisa yang mempunyai kemampuan fisik yang kuat dalam melakukan proses budidaya termasuk mencari informasi melalui kelompok tani sebagai lembaga sosial petani berperan sebagai kelas belajar mengajar, wahana kerja sama, dan unit produksi. Selain itu apabila dihubungkan dengan tingkat produktivitas tenaga kerja di daerah ini maka, kondisi usia responden berhubungan dengan produktivitas maka dalam mengelola usaha tani markisa.
5.1.2 Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang perna dilalui petani responden. Tingkat pendidikan yang dialami erat hubungannya dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.
Tabel. 8 Tingkat Pendidikan Petani Responden Anggota Kelompok Tani Timpurung di Desa Bukkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa 2015.
Sumber: Data Primer yang telah diolah
Tabel 8 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani terbanyak adalah SD Yakni 11 orang (44%) dan paling sedikit adalah tingkat pendidikan SMP 7 orang (28%) dan SMA yaitu 6 orang (24%) Sarjana (SI) yaitu 1 orang (4%). Hal ini
masih berada pada tingkat sekolah dasar. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap terhadap tingkat pengetahuan petani tentang pengembangan suatu usahatani yang berhubungan dengan tanaman markisa.
5.1.3 Tanggungan Keluarga
Besarnya tanggungan keluarga dapat mempengaruhi besar kecilnya kegiatan usaha yang di kelola. Semakin banyak jumlah anggota keluarga semakin tersedianya tenaga kerja, namun di pihak lain dapat mempertinggi biaya hidup, apabila banyak anggota keluarga yang tidak bekerja.
Secara tidak langsung banyaknya keluarga dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga, karena dapat mendorong efektivitas dan produktivitas pengelolaan usahatani, sehingga dapat mengembangkan usahanya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang selalu meningkat. Adapun rata-rata tanggungan keluarga responden dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel. 9 Rata-rata Tanggungan Keluarga Anggota Kelompok Tani Timpurung di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa 2015.
No Tanggungan Keluarga
Sumber :Data Primer yang telah diolah
Tabel 9 menunjukkan bahwa responden yang mempunyai jumlah tanggungan
orang sebanyak 11 orang atau 44%, dan jumlah tanggungan keluarga 5-6 orang sebanyak 2 orang atau 8%. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan responden,namun disisi lain jumlah tanggungan keluarga merupakan sumber tenaga kerja bagi petani dalam mengelola usahataninya.
5.1.4 Pengalaman Berusahatani
Keberhasilan usahatani tergantung dari pengalaman berusaha, semakin lama seseorang mengelola usahanya semakin bertambah banyak pengalaman yang diperoleh petani yang telah lama berusahatani di banding dengan petani yang pengalamannya lebih sedikit. Untuk jelasny rata-rata pengalaman petani dapat dilihat tabel 10.
Tabel 10. Pengalaman Petani Responden Anggota Kelompok Tani Timpurung di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa,2015
No Pengalaman Petani
Sumber :Data Primer yang telah diolah,2015
Tabel 10 menunjukkan bahwa rata-rata pengalaman petani 5-11 tahun sebanyak 9 orang dengan 39% dan 12-18 orang dengan 32% kemudian 19-24 sebanyak 8 orang dengan 20%. Lama pengalaman berusahatani akan berhubungan
mengusahakan usahatani semakin bijaksana dan semakin terampil dalam merapkan teknologi yang berhubungan dengan peningkatan produksi, termasuk usaha markisa.
5.2 Peranan Kelompok Tani Timpurung
Kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara non formal atas dasar keserasian, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya), keakraban, kepentingan bersama dan saling mempercayai serta mempunyai pimpinan untuk mencapai tujuan bersama.
Pembinaan kelompok tani timpurung meliputi, sebagai kelas belajar bagi petani, sebagai unit produksi, dan sebagai wahana kerjasama. Berdasarkan peranannya tersebut tabel 11 berikut ini menunjukkan rata-rata atau persentase responden tentang peranan kelompok tani dalam pengembangan markisa.
Tabel 11. Persentase Responden Berdasarkan Peranan Kelompok Tani Timpurung dalam pengembangan markisa 2015.
No Peranan Kelompok Tani Rata-rata Keterangan 1 Sumber:Data primer yang telah diolah 2015
Tabel 11 menunjukkan bahwa penilain responden terhdap peranan kelompok tani timpurung dalam pengembangan tanaman markisa sebagai kelas belajar mengajar di nilai kurang berperan dengan nilai skor rata-rata 2,21 Unit Produksi
wahana kerjasama 2,49. Sehingga secara keseluruhan , peranan kelompok tani timpurung dalam kegiatan pengembangan markisa dinilai berperan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani responden dalam pengembangan tanaman markisa.
Hal ini menunjukkan bahwa umumnya responden meenilai kelompok tani Timpurung berperan dalam pengembangan markisa sebagai kelas belajar mengajar, unit produksi, dan wahana keja sama. Hal ini di sebabkan karena dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kelompok tani khususnya dalam pengembangan komoditi pertanian termasuk tanaman markisa, peranan kelompok tani sebagai kelas belajar mengajar, unit produksi dan wahana kerjasama adalah sangat penting. Secara rinci pembahasan hasil penelitian dijelaskan sebagai berikut:
1. Sebagai Kelas belajar mengajar bagi petani
Kelas belajar mengajar kelompok tani merupakan wadah bagi setiap anggotanya untuk berinteraksi guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dalam berusahatani yang lebih baik mandiri untuk mencapai kehidupanyang lebih sejahtera. Sedangkan kelas belajar mengajar bagi petani, peranan kelompok tani dalam pengembangan markisa berdasarkan hasil penelitian berhubungan dengan perananya sebagai media informasi dan forum komunikasi dalam penerapan teknologi, wadah untuk bertanya dan menyampaikan keluhan serta sebagai tempat menerima penyuluhan yang berhubungan dengan pengembangan markisa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka secararinci peranan kelompok
menunjukkan rata-rataskor sebesar 2,21 yang tergolong dalam kategori kurang berperan. Hal ini menunjukkan bahwa umumnya responden menyatakan dalam pengembangan komoditi markisa khususnya berhubungan dengan pengembangan, kelompok tani timpurung kurang berperan dalam kelas belajar mengajar bagi petani. Penilain responden sebagai kelas belajar mengajar dalam pengembangan markisa pada dasarnya adalah responden tentang peran kelompok tani mengajarkan proses tani niaga dalam pengembangan markisa yang menguntungkan mereka. Artinya bahwa proses pengembangan mulai dari persiapan lahan, bibit, pemeliharaan, pasca panen dan diketahui melalui informasi yang diperoleh dari kelompok tani yang menjalankan perannya sebagai kelas belajar mengajar
Namun hasil penelitian responden terhadap peranan kelompok tani tersebut, dinilai kurang berperan berarti bahwa kelompok tani sebagai wadah belajar bagi petani, kurang berperan sebagai media informasi dan forum komunikasi dalam pengembangan markisa. Kurang berperan sebagai wadah untuk bertanya dan menyampaikan keluhan serta tempat untuk menerima penyuluhan tentang proses pengembangan yang menguntungkan. Hal ini berdasarkan wawancara disebabkan karena melalui kelompok tani, responden seharusnya dapat menerima informasi, namun karena sumber informasi bukan hanya melalui kelompok tani, sehingga informasi itu biasa saja mereka dapat melalui sumber-sumber lain tersebut.
2. Sebagai unit produksi usahatani
Sebagai unit produksi usahatani, Kelompok tani merupakan satu kesatuan unit
lebih menguntungkan. Oleh karena itu dalam dalam pengembangan markisa peranan kelompok tani timpurung meliputi perananya sebagai mitra usaha dalam pengembangan, tempat untuk memperoleh informasi tentang harga dan konsumen markisa sebagai tempat menampung produksi hasil jika tidak terjual.
Berdasrkan perananya tersebut penilaian responden berdasarkan tentang peranan kelompok tani sebagai unit produksi dinilai berperan dengan rata-rata skor 2,34. Hal ini menunjukkan lebih dari setengah jumlah responden berpendapat bahwa kelompok tani berperan sebagai unit produksi dan pengembangan markisa, dengan alasan bahwa responden tidak mengalami kesulitan dalam hal mencari mitra usaha, tidak kesulitan dalam mengetahui informasi harga dan konsumen tidak kesulitan jika hasil produksi melimpah dan tidak mampu terjual karena akan ditampung oleh kelompok tani untuk kemudian diberikan solusi pemasaran hasil ataupun upaya melakukan pengolahan hasil produksi.
3. Sebagai wahana kerjasama
Sebagai wahana kerjasama, kelompok tani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompok dan antar kelompok lain untuk menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.
Peranan kelompok tani Timpurung dalam pengembangan markisa sebagai wahana kerjasama meliputi perananya sebagai wadah kerjasama dalam pemenuhan kebutuhan sarana produksi, tempat memperoleh informasi tentang ketersediaan sarana produksi dan tempat untuk meminta sarana produksi program
responden berada pada kisaran berperan dengan nilai 2,49. Hasil tersebut menunjukkan bahwa petani responden umumnya menilai bahwa kelompok tani sebagai wahana kerjasama dalam pengembangan markisa berperan dengan dengan alasan bahwa melalui kelompok tani mereka mudah untuk mendapatkan kebutuhan sarana produksi, mudah memperoleh informasi ketersediaan sarana produksi dan mudah mengakses program bantuan pemerintah berupa sarana produksi.
V1. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah Peranan Kelompok Tani Timpurung sebagai kelas belajar mengajar dinilai kurang berperan sedangkan unit produksi dan wahana kerjasama dalam pengembangan markisa nilai berperan, kelompok tani timpurung dalam pengembangan markisa sebagai kelas belajar mengajar kurang berperan dengan nilai skor rata-rata 2,21 Unit Produksi dinilai berperan dengan rata-rata skor masing-masing sebesar 2,43 dan terhadap wahana kerjasama 2,49. Sehingga secara keseluruhan, peranan kelompok tani timpurung dalam kegiatan pengembangan markisa dinilai berperan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani responden dalam pengembangan tanaman markisa.
6.2 Saran
Dalam usaha pengembangan komoditi tanaman markisa di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, maka disarankan agar supaya pemberdayaan kelembagaan kelompok tani sebagai lembaga sosial ekonomi bukan cuma dijalankan fungsi dan perannya sebagai kelas belajar mengajar, unit produksi dan wahana kerjasama, tetapi melaksanakan berbagai peran dalam hal pengembangan tanaman markia.
DAFTAR PUSTAKAN
Anonim.2009.budidaya Tanaman Buah-buahan . PTCitra Aji Parama Yogyakarta Anonimous, 2009. Kelompok Tani
Bosuno,E.2003. Kebijakan Sistem Desiminasi Teknologi Pertanian Puslitbang sosek Pertanian. Bogor
Derajak, S. 2011 Kelompok Tani Ujung Tombak Pertanian Masa Depan. Bogor Djawandi,1994.Pengaruh Dinamika Kelompok Tani Terhadap Kecepatan Adopsi
Usahatani di Kabupaten Sukaharjo Prosiding Laporan Penelitian.
Hermanto.2007. Rencana Kelembagaan Tani dalam implementasi Prima Tani di Sumetra Selatan
Nursyirawan dkk 2003.,Pengkajian Saistem Usaha Tani Markisa.lahan kering dan datarang tinggi.
Malayanti,dkk 1998. Pengkajian Sistim Usaha Tani Berbasis Markisa Solo,laporn penelitian
Mardikanto, 1997. Link an match (Pendidikan Luar Sekolah). Jakarta: Balai Pustaka
Rukmawan,H. Rahmat.2003. Usahatani Markisa,Edisi Ke-1 Yogyaakarta.
Syahyuti 2009. Lembaga dan Organisasi dalam Pengaruh Negara dan Pasar Forum Agro Ekonomi.
Syahyuti. 2007. Kebijakan Gabungan Kelompoktani sebagai kelembagaan Ekonomi Pedesaan
Simatupang,P .2004. Prima Tani sebagai Langkah Awal Pengembagan Sistem dan Usaha Agribisnis Industri
LAMPIRAN
PERANAN KELOMPOK TANI TIMPURUNG DALAM PENGEMBANGAN TANAMAN MARKISA DI DESA BUAKKANG
KECAMATAN BUNGAYA KABUPATEN GOWA 1. Identitasa Responden
Nama :
Umur :
Tingkat pendidikan :
Jumlah tanggungan keluarga :
Pengalaman usahatani :
2. Peranan Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar Mengajar
1. Apakah kelompok tani meningkatkan pengetahuan petani dalam proses belajar mengajar ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
2. Apakah kelompok tani memberikan informasi tentang teknik budidaya terhadap anggotanya ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
3. Apakah kelompok tani rutin melakukan pertemuan ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
3. Peranan Kelompok Tani Dalam Wahana Kerja Sama
1. Apakah kelompok tani kerjasama dengan petani dalam pengembanagan markisa?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
2. Apakah kelompok tani memberikan informasi tentang kerjasama antara kelompok ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
3. Apakah kelompok tani memfasilitasi tentang lembaga perbankan ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
4. Peranan Kelompok Tani Dalam Unit Produksi Markisa
1. Apakah kelompok tani memberikan informasi terhadap bibit markisa yang diinginkan pasar kepada anggotanya ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
2. Apakah kelompok tani memberikan informasi tentang teknik budidaya tanaman markisa kepada anggotanya?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
3. Apakah kelompok tani memberikan informasi tentang teknik panen dan pasca panen terhadap anggotanya ?
a. Ya (3)
b. Kadang-kadang (2)
c. Tidak (1)
Lampiran 5. Struktur Kelompok Tani Timpurung
KETUA
SEKERTARIS BENDAHARA
SEKSI EKONOMI SEKSI
SAPRODI
SEKSI PEMBERANTASAN HAMA/PENYAKITI
SEKSI PERALATAN
PRODUKSI DAN PEMASARAN
ANGGOTA
Lampiran 1. Identitas petani Responden Anggota Kelompok Tani Timpurung yang Mengembangkan Budidaya Mrkisa di Desa Buakkang Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa 2015
5 Mahyuddin 28 SMA 10 4
6 Dg.Lallo 40 SMP 20 4
7 Suhardi 27 SD 7 2
8 Dg. Rate 45 SD 25 1
9 Arifuddin 25 SMA 8 3
10 Tajuddin 27 SMA 10 3
11 Rahim 27 SMA 6 3
12 Mansyur 30 SMP 12 2
13 Amiruddin S.pd 35 S1 15 2
14 Dg. Suro 40 SD 21 1
Lampiran 2. Peranan Kelompok tani sebagai kelas belajar mengajar
No Peranan Dalam Proses Belajar Mengajar1 2 3 Rata-Rata
1 3 2 3 2,62
Jumlah 75 38 59 55,3
Rata-rata 3 1,52 2,36 2,21
Keterangan : Kategori :
Skor 1 = Jika menjawab tidak Berperan =2,34 -3,00 Skor 2 = Jika menjawab kadang – kadang Kurang Berperan =1,67 – 2,33 Skor 3 = Jika menjawab Ya Tidak Berperan =1,00 – 1,66
Lampiran 3. Peranan Kelompok Tani Sebagai Wahana Kerjasama
No Peranan Sebagai Wahana Kerjasama1 2 3 Rata- Rata
1 3 3 2 2,67
Rata-rata 2,84 2,76 1,8 2,49
Keterangan : Kategori :
Skor 1 = Jika menjawab tidak Berperan =2,34 -3,00 Skor 2 = Jika menjawab kadang – kadang Kurang Berperan =1,67 – 2,33
Lampiran 4. Peranan Kelompok Tani Sebagai Unit Produksi No Pernanan Dalam Unit Produksi
Rata – Rata
-Rata 2,8 1,52 2,88 2,34
Keterangan : Kategori :
Skor 1 = Jika menjawab tidak Berperan =2,34 -3,00 Skor 2 = Jika menjawab kadang – kadang Kurang Berperan =1,67 – 2,33 Skor 3 = Jika menjawab Ya Tidak Berperan =1,00 – 1,66