• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Resin Akrilik Polimerisasi Panas

2.5.1 Jenis Teh

Teh dibagi menjadi empat kelompok, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.17

2.5.1.1 Teh Hitam

Teh hitam atau yang lebih dikenal dengan teh merah karena air seduhannya berwarna merah. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di dunia. Teh hitam dibagi menjadi dua jenis berdasarkan cara pengolahannya yaitu ortodoks atau CTC. Ortodoks adalah teh yang diolah dengan cara tradisional, sedangkan CTC merupakan singkatan dari crush, tear, curl yang telah berkembang sejak tahun 1932. Teh hitam yang belum diramu (unblended) dikelompokkan berdasarkan asal perkebunan, tahun produksi, dan periode pemetikan.17 Teh hitam mengandung lebih sedikit katekin dibandingkan dengan teh hijau karena dalam proses pengolahannya, teh hitam dirancang agar katekin mengalami oksidasi untuk memperbaiki rasa, warna, dan aromanya.22 Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia, sedangkan teh hijau diproduksi kurang lebih 25% negara di dunia.15,17 Teh hitam merupakan jenis teh yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

2.5.1.2 Teh Hijau

Teh hijau merupakan teh yang mengalami proses oksidasi dalam jumlah minimal sehingga memiliki kadar katekin yang lebih besar daripada teh hitam.22 Proses oksidasi dihentikan dengan dipanaskan menurut cara tradisional Jepang atau digongseng menurut cara tradisional Cina.15 Jenis teh hijau awalnya dikeringkan untuk keperluan sendiri di Cina, Jepang, dan Indonesia. Sejak beberapa tahun lalu, jenis teh ini digemari juga di Eropa.17

Gambar 4. Teh Hijau

2.5.1.3 Teh Putih

Teh putih merupakan teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan jenis teh lain sehingga harganya menjadi lebih mahal.15

2.5.1.4 Teh Oolong

Teh oolong merupakan teh yang proses oksidasinya dihentikan di tengah-tengah antara teh hitam dan teh hijau yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.15

Gambar 6. Teh Oolong

2.5.2 Komposisi

Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung katekin yang lebih sedikit.15,17 Teh juga mengandung kafein sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir, teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.15 Katekin (C6H6O2) dalam teh merupakan komponen utama yang mendominasi sekitar 30% berat kering teh. Katekin merupakan kerabat tanin terkondensasi yang sering disebut polifenol karena banyaknya gugus fungsi hidroksil yang dimilikinya. Katekin merupakan senyawa utama yang menentukan mutu, baik cita rasa, tampilan, maupun warna air seduhan.22

Total katekin dalam teh adalah 16-30%. Komposisi katekin dalam daun teh segar adalah sebagai berikut:22

1. Katekin : 1-2% 2. Epikatekin : 1-3% 3. Epikatekin Galat : 3-6% 4. Gallokatekin : 1-3% 5. Epigallokatekin : 3-6% 6. Epigallokatekin Galat : 1-13%

2.5.3 Pengolahan

Teh dikelompokkan berdasarkan cara pengolahan. Daun teh Camelia sinensis

akan segera layu dan mengalami oksidasi apabila tidak segera dikeringkan setelah dipetik. Proses pengeringan membuat daun menjadi berwarna gelap, karena terjadi pemecahan klorofil dan terlepasnya unsur tanin. Proses selanjutnya berupa pemanasan basah dengan uap panas agar kandungan air pada daun menguap dan proses oksidasi bisa dihentikan pada tahap yang sudah ditentukan. Pengolahan daun teh yang tidak benar memang bisa menyebabkan teh ditumbuhi jamur yang mengakibatkan terjadinya proses fermentasi. Teh yang sudah mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung unsur racun dan unsur yang bersifat kariogenik.15,17

Teh hitam dibuat dengan proses pelayuan, penggulungan, fermentasi, pengeringan, dan penyaringan atau penyortiran. Pertama-tama, daun-daun teh ini disimpan dalam keadaan kering selama 8 sampai 12 jam untuk proses pelayuan. Saat proses pelayuan ini, daun-daun teh tersebut akan kehilangan kandungan air sebesar 40%. Pada saat penggulungan, kerangka-kerangka daunnya akan hilang dengan bantuan silinder penggulung. Cairan sel akan muncul lewat bantuan kandungan asam di udara dan dimulailah proses fermentasi. Proses fermentasi ini berlangsung selama 2 sampai 3 jam. Daun-daun ini kemudian disebarkan diatas meja dan dilembabkan. Kualitas teh yang akan dihasilkan kemudian tergantung pada proses fermentasi ini. Akhir dari proses fermentasi ini dikenali lewat wangi dan warna daun teh yang berubah menjadi merah perunggu. Kemudian teh ini dikeringkan dengan suhu sekitar 85°C sampai berwarna gelap, selanjutnya disortir berdasarkan jenis daunnya. Dari proses penyortiran ini dikenal teh jenis Flowery Orange Pekoe (hanya pucuk daun),

Orange Pekoe (pucuk dan daun teratas), Pekoe Souchong (daun kedua), dan

Souchong (hasil dari penyortiran daun terkasar).17

Teh hijau diolah dengan proses penguapan atau pemasakan, penggulungan dan pengeringan. Setelah dipetik, daun-daun teh ini diuapkan sebentar dengan cara

steaming (pemberian uap panas) dan cara panning (penggarangan). Proses ini dibuat untuk menghindari fermentasi dan untuk mempertahankan warna daun. Selama ini

cara inaktivasi enzim polifenol oksidase yang digunakan untuk pengolahan teh hijau Indonesia adalah dengan cara panning. Proses ini menungkinkan terjadinya reaksi oksidasi katekin oleh enzim polifenol oksidase karena penetrasi panas tidak mampu menginaktifkan enzim polifenol oksidase secara keseluruhan. Kerugian lain dari cara ini adalah dihasilkannya warna teh yang kehitaman. Warna teh yang demikian menunjukkan terdegradasinya klorofil menjadi feofitin.17,22

2.5.4 Keuntungan

Efek menyehatkan pada teh terletak pada senyawa katekin yang dikandungnya. Penelitian dengan teh hijau Jepang menunjukkan bahwa katekin dapat mengurangi resiko terjangkit berbagai penyakit, seperti mengurangi resiko kanker, menjaga kesehatan jantung, memiliki sifat anti oksidan yang akan menghalau radikal bebas, serta antimikroba. Katekin pada daun teh Indonesia juga lebih banyak daripada katekin daun teh Jepang. Selain itu, teh juga dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral.22

2.5.5 Kerugian

Selain efek yang menguntungkan, mengkonsumsi teh juga memiliki efek samping. Efek samping ini lebih dispesifikkan kepada pengguna gigitiruan dengan basis RAPP. Sewaktu mengkonsumsi teh, plat akrilik akan terpapar terutama pada seseorang yang mengkonsumsi setiap hari dengan frekuensi per hari yang tidak sedikit. Orang yang mengkonsumsi teh pada saat sarapan maka kandungan zat polifenol dalam teh dapat menempel pada basis dalam jangka waktu yang cukup lama karena banyaknya senyawa polifenol yang dikandung dalam teh, yaitu katekin sebesar 16-30%. Sama seperti senyawa polifenol yang terdapat pada kopi, senyawa polifenol pada teh apabila terpapar dengan resin akrilik juga akan bereaksi dengan ester dari polimetil metakrilat dalam lempeng resin akrilik. Ikatan rantai polimer dari resin akrilik menjadi terganggu mengakibatkan terjadinya crazing sehingga sifat fisis resin akrilik melemah.14,26,33 Sama seperti kopi, minuman teh juga dapat menyebabkan perubahan warna pada basis gigitiruan RAPP.18,19

2.6 Polifenol

Polifenol (polyphenol) adalah kelompok bahan kimia dengan lebih dari satu unit fenol per molekul. Polifenol ditemukan secara alami pada tumbuhan. Jenis polifenol yang paling sering ditemukan pada tanaman adalah flavonoid, asam fenolat, katekin, anthocyanin, isoflavon, quercetin, dan resveratrol.Selain itu, sejumlah besar polifenol dapat ditemukan dalam anggur merah, kopi, teh, cokelat, minyak zaitun, kacang-kacangan, kenari, almond, hazelnut, pistachio, pecan, dan kacang tanah. Polifenol memiliki sifat antioksidan sehingga mampu menetralkan radikal bebas yang memiliki efek merusak terhadap sel-sel tubuh dan jaringan tubuh. Polifenol tertentu seperti resveratrol menunjukkan sifat anti-tumor sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan kanker.20

Dokumen terkait