B. Saran
7. Jenis Uqubat
Perlu adanya jenis uqubat sebagai alternative tidak hanya cambutk dalam penerapan jinayat.
Hasil penelitian lapangan sebagai penelitian sekunder menunjukkan bahwa ketiga daerah penelitian tidak melakukan eksekusi yang telah diputuskan oleh hakim. Pada Mahkamah Syar”iyah Biureun sejak tahun 2011 tidak terdapat perkara jinayat yang dilimpahkan ke Mahkamah Syar”iyah, bahkan perkara yang diputuskan pada tahun 2011 sampai sekarang belum di eksekusi.
Pada Mahkamah Syar’iyah Meureudu (Pidie Jaya) ada sejumlah perkara yang diputuskan di tahun 2013 dan 2014, tetapi untuk tahun tersebut sampai sekarang juga belum dieksekusi.
Ada berbagai hambatan yang terjadi di lapangan tidak hanya hambatan klasik yaitu berupa dana, tetapi juga masih banyaknya konsep hukum pidana yang belum diterapkan dalam pelaksanaan jinayat. Hal ini diakui oleh para responden bahwa diperlukan penerapan konsep hukum pidana konvensional sepanjang tidak bertentangan dengan aturan-aturan yang ada dalam hukum Pidana Islam.
Ruang lingkup dalam draft qanun ini mengatur tentang jarimah dan
‘uqubat khamar, maisir, khalwat, ikhtilath, zina, pelecehan seksual, pemerkosaan, qadzaf, liwath, dan musahaqah.
Qanun ini berlaku untuk setiap orang:
a. yang beragama Islam melakukan jarimah di Aceh;
b. yang bukan beragama Islam melakukan jarimah di Aceh bersama-sama dengan orang Islam serta memilih dan menundukkan diri secara sukarela pada hukum jinayat; dan
c. yang beragama bukan Islam melakukan jarimah di Aceh yang tidak diatur dalam KUHP atau ketentuan pidana diluar KUHP tetapi diatur dalam qanun ini.
Menyangkut dengan penyertaan diatur dalam Pasal 5 yang berbunyi : (1) Setiap orang yang turut serta, membantu atau menyuruh melakukan jarimah
dikenakan ‘uqubat paling banyak sama dengan ‘uqubat yang diancamkan kepada pelaku jarimah.
(2) Setiap orang yang memaksa melakukan jarimah dikenakan ‘uqubat paling banyak 2 (dua) kali ‘uqubat yang diancamkan kepada pelaku jarimah.
(3) Setiap orang yang membiarkan terjadinya jarimah dikenakan ‘uqubat paling banyak 1/2 (satu per dua) ‘uqubat yang diancamkan kepada pelaku jarimah.
Dalam upaya ini juga telah dilakukan penyempurnaan dengan memasukkan alasan pembenar dan pemaaf sebagai berikut :
1. Alasan Pembenar
Pasal 7
Tidak dikenakan ‘uqubat setiap orang yang melakukan jarimah karena melaksanakan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
Tidak dikenakan ‘uqubat setiap orang yang melakukan jarimah karena melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh pejabat yang berwenang.
2. Alasan pemaaf
Pasal 9
Tidak dikenakan ‘uqubat, seseorang yang melakukan jarimah karena:
a. dipaksa oleh adanya ancaman, tekanan, kekuasaan atau kekuatan yang tidak dapat dihindari, kecuali perbuatan tersebut merugikan orang lain; dan
b. pada waktu melakukan jarimah menderita gangguan jiwa, penyakit jiwa atau keterbelakangan mental.
Pasal 10
Perintah jabatan yang diberikan tanpa wewenang tidak mengakibatkan hapusnya ‘uqubat, kecuali jika orang yang diperintahkan dengan i’tikad baik mengira bahwa perintah tersebut diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya.
Pasal 11
(2) Setiap orang yang melakukan pekerjaan di tempat kerja dan pada waktu kerja tidak dapat dituduh melakukan khalwat dengan sesama pekerja.
(3) Setiap orang yang menjadi penghuni sebuah rumah tidak dapat dituduh melakukan khalwat dengan sesama penghuni rumah tersebut.
Pasal 12
(1) Setiap orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain yang berbeda jenis kelamin dalam keadaan darurat, tidak dapat dituduh melakukan khalwat atau Ikhtilath.
Mengenai gabungan perbuatan jarimah juga telah dimasukkan yaitu : 1. Dalam hal suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan jinayat, maka yang dikenakan hanya salah satu diantara aturan-aturan itu, dalam hal ‘uqubatnya berbeda maka yang dikenakan ‘uqubat yang paling berat.
2. Dalam hal satu atau lebih perbuatan jarimah yang mempunyai hubungan, dan dilakukan sebagai perbuatan jarimah secara berturut-turut, maka dikenakan ‘uqubat yang paling berat.
3. Dalam hal terdapat gabungan perbuatan yang masing-masing merupakan jarimah yang berdiri sendiri, maka dikenakan satu ‘uqubat saja.
4. Maksimum ‘uqubat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ialah ‘uqubat yang paling berat ditambah sepertiganya.
Dengan demikian upaya penyempurnaan qanun-qanun jinayat telah dilakukan dengan memasukkan ketentuan umum pidana konvensional dan melakukan perumusan yang lebih jelas dan lebih menjamin kepastian hukum.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Pelaksanaan qanun jinayat (khamar, maisir dan khalwat) menemui hambatan karena disebabkan rumusan qanun mengandung multi tafsir, tidak adanya kepastian hukum dalam penerapannya, asas yang dianut tidak sesuai lagi dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, aturan penahanan yang tidak jelas, dan penerapan uqubat yang tidak efektif. Rumusan ketentuan umum pidana konvensional (KUHP) yang dapat diterapkan adalah ajaran penyertaaan (delneming), hapusnya pertanggungjawaban pidana (straafuitsluitingsgronden), pembarengan (concursus), percobaan (poging), dan pengulangan tindak pidana. Upaya-upaya yang ditempuh adalah dengan menyatukan ketiga qanun yang ada ke dalam satu qanun hukum jinayat, melakukan penyempurnaan ketiga qanun dengan kekurangan yang ada dan membuat aturan-aturan jarimah lainnya dan ketentuan umum yang lengkap.
B. Saran
Disarankan kepada Pemerintah Aceh untuk terus melakukan penyempurnaan kepada ketentuan-ketentuan umum qanun hukum jinayat dan membuat Kitab Jinayat dengan ketentuan umum dan jarimah-jarimah yang lebih lengkap. Disamping itu perlu juga dibuat qanun yang mengatur tentang Hukum Formil (Hukum Acara Jinayat) yang khusus tidak bertentangan dengan KUHAP. Oleh sebab itu disarankan perlu adanya konsep hukum
pidana konvensional dalam pelaksanaan qanun jinayat untuk mengatasi hambatan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abd Al-Qadir Audah, tt, At-Tusyi’ Al- Jinalu al-Islamy, Dar Al-Kitab Al- Arabi, Beirut.
Abdullah Ahmed an-Naim, 2001, Dekonstruksi Syariat, Lembaga Kajian Islam dan Sosial, Jogyakarta.
Adami Chazawi. 2002. Pelajaran Hukum Pidana (Bagian I), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ahmad Hanafi,1967, Azas-azas Hukum Pidana Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
Ahmad Wardi Muslich, 2005, Pengantar dan Azas Hukum Pidana Islam, Sinar Grafika, Jakarta.
Mawardi, 1969, At-Tazir fi Asy-Syariah Islamiyah, Dar Fikri Al-Arabi.
Al-Yasa’Abubakar, 2006, Syariat Islam di Provinsi NAD Paradigma Kebijakan dan Kegiatan, Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, Banda Aceh.
---, 2005, Bunga Rampai Pelaksanaan Syariat Islam (Pendukung Qanun Pelaksanaan Syariat Islam), Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, Banda Aceh.
Jonkers, J.E. 1987.Hukum Pidana Hindia Belanda, (Judul Asli: Handbook van het Nederlandsch Indische Strafrecht), Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Bina Aksara, PT Bina Aksara, Jakarta
Lamintang, P.A.F.1990. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung.
Moeljatno. 1983. Asas-asas Hukum Pidana, PT Bina Aksara, Jakarta.
Rahmad Hakim, 2000, Hukum Pidana Islam, Pustaka Setia, Bandung.