Gambar 2.5 : Saluran distribusi produk industrial.
(0) Rantai saluran distribusi jenjang 0 : dipergunakan sebagaian besar untuk produk industrial peralatan dan mesin utama, jasa dan pesanan dalam jumlah besar.
(1)(2) Rantai saluran distribusi jenjang 1 atau 2 : pada umumnya dipergunakan untuk produk industrial supplies, sebagian kecil peralatan dan pesanan dalam jumlah sedikit atau sering.
2.16. Proses Pendistr ibusian.
Proses pendistribusian merupakan kegiatan pemasaran yang mampu : (1). Menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi – fungsi pemasaran (marketing function),dan.
(2). Memperlancar arus saluran pemasaran (marketing – channel flow) secara fisik dan non fisik.
Fungsi yang dijalankan oleh kegiatan pemasaran mampu menciptakan kegunaan bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikan.
Gambar 2.6 : Fungsi pemasaran dan penciptaan kegunaan. Arus pemasaran meliputi :
Kegiatan proses pendistribusian :
Secara fungsional, maka proses pendistribusian dapat dibedakan menjadi 3 kegiatan yaitu:
Kegiatan pemilihan Kegiatan pertemuan,dan. Kegiatan pertukaran.
Gambar 2.7 : kegiatan dalam proses pendistribusian. 1. Kegiatan pemilihan, meliputi :
a. Fungsi akumulasi merupakan kegiatan pengumpulan dan penyimpanan persediaan dari beberapa pemasok barang untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar.
b. Fungsi klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan (grading) produk – produk kedalam beberapa tingkatan kualitas atau kriteria lain yang berbeda – beda.
c. Fungsi alokasi adalah kegiatan penguraian (breaking – bulk) besaran atau jumlah unit persediaan yang homogen menjadi besaran jumlah yang lebih kecil.
d. Fungsi gabungan adalah kegiatan pengumpulan (product assortment) beberapa jenis produk menjadi kelompok produk untuk penggunaan yang berkaitan.
2. Kegiatan pertemuan merupakan usaha mempertemukan produsen dengan konsumen. Kegiatannya meliputi usaha mencari informasi tentang Produsen Pem ilihan Pert emuan Pertukaran Konsumen
permintaan produk dan informasi pasar yang lain serta mencari pelanggan melalui kegiatan promosi.
3. Kegiatan pertukaran merupakan kegiatan negoisasi dan transaksi yang meliputi pertukaran produk beserta kepemilikannya hingga kegiatan pembayaran dan pengiriman barang. Pertukaran meliputi keputusan – keputusan pembelian tentang jumlah, jenis, saat atau waktu, dan syarat – syarat pembayarannya dengan memperhatikan syarat atau kondisi pertukaran yang wajar (elearning.gunadarma.ac.id).
2.1.7 Intensitas Saluran Distribusi.
Penetapan jumlah atau banyaknya penyalur bagi masing – masing jenis produk atau perusahaan mempunyai intensitas yang berbeda. Perbedaan intensitas tersebut didasarkan pada perbedaan jenis produk yang akan disalurkan, perilaku pembeli, karakter penyalur, kapasitas maupun strategi produsen Intensitas saluran distribusi dibedakan sebagai distribusi intensif, distribusi selektif dan distribusi eksklusif.
Distribusi intensif adalah penjualan produk melalui segala kemungkinan saluran distribusi secara intensif. Umumnya dipergunakan untuk Convenience Products dan Industrial Suppliers. Pelanggan memerlukan produk – produk tersebut dengan segera dari tempat atau toko yang familiar dengan kebiasaan pembelian sehari – hari.
Distribusi selektif adalah penjualan produk melalui saluran distribusi yang mempunyai perhatian khusus terhadap produk tersebut. Untuk itu produsen perlu melakukan seleksi terhadap penyalur yang benar –benar baik. Distribusi selektif
umumnya diperlukan untuk Shopping goods dan Material products, tetapi dapat juga digunakan untuk seluruh kategori produk. Pemilihan penyalur memperhatikan beberpa kriteria misalnya reputasi, kapasitas, dan kolateral penyalur.
Distribusi Eksklusif adalah penjualan produk melalui satu penyalur pada wilayah atau daerah tertentu. Sehingga pengendalian harga maupun pelayanan yang diberikan produsen kepada pelanggan akan lebih baik. Umumnya diperlukan perjanjian tertulis atau lesan agar hubungan yang eksklusif tersebut dapat dipertahankan. Specialty goods dan Capatical goods seringkali menggunkan distribusi eksklusif (elearning.gunadarma.ac.id).
Secara ringkas, intensitas untuk masing – masing klasifikasi produk – produk konsumen dan produk – produk industrial dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.8 : Intensitas saluran distribusi dan produk yang disalurkan.
2.2. Manajemen Distribusi.
Distribusi berkenaan dengan penentuan dan pengelolaan saluran distribusi yang digunakan oleh produsen atau distributor untuk memasarkan barang dan jasanya sehingga produk tersebut dapat sampai di tangan konsumen sasaran dalam
jumlah dan jenis yang dibutuhkan, pada saat diperlukan, dan ditempat yang sesuai dengan yang dijanjikan. Pada prinsipnya kebijakan manajemen distribusi dapat dikelompokan menjadi 7 kategori, yaitu struktur saluran distribusi, cakupan distribusi, saluran distribusi ganda, modifikasi saluran distribusi, strategi distribusi, pengendalian saluran distribusi dan manajemen konflik dalam saluran distribusi (Kodrat, David Sukardi. 2009.Manajemen Distribusi).
2.3. Manajemen Pakan pada Kucing
Kucing sampai saat ini tetap merupakan hewan kesayangan yang paling banyak dipelihara di Indonesia. Baik yang sekedar hidup dan berkembang biak di lingkungan rumah ataupun memang dipelihara secara khusus dengan perhatian yang lebih. Seiring meningkatnya kesadaran pemilik akan pentingnya kesehatan kucing, keberadaan ICA (International Cat Assosiation) sebagai wadah komunitas pecinta dan pemilik kucing, sudah barang tentu menjadikannya ikut bertanggung jawab dalam usaha peningkatan mutu dan kualitas hidup kucing di Indonesia, baik yang ras maupun lokal.
Dalam pemeliharaan kucing baik hanya sebagai hewan kesayangan di rumah maupun untuk dikembangbiakkan (Cattery), masalah nutrisi seringkali masih menjadi persoalan yang merepotkan.Banyak keluhan pemilik yang menyatakan kucingnya mudah bosan dan pilih – pilih makanannya, mudah diare, bulu jadi rontok, sulit bunting, anaknya sedikit, susunya sedikit dan sebagainya. Persoalan tersebut seringkali memang dapat terselesaikan hanya dengan penanganan nutrisi yang tepat.
Dasar pemilihan pakan kucing dapat kita sederhanakan sebagai berikut :
1. Kandungan nutrisinya lengkap dan seimbang.
2. Disukai rasanya, kecenderungan menunjukkan bahwa semakin tinggi protein dan lemaknya akan lebih disukai.
3. Mudah dicerna.
4. Cukup kandungan energinya.
5. Dari produsen yang memiliki reputasi.
6. Memiliki informasi produk yang lengkap dan jelas. 7. Ekonomis.
Lengkap berarti mengandung semua komponen nutrisi yang dibutuhkan, secara umum mengandung : Energi, Karbohidrat, lemak, Protein dan asam amino, Vitamin dan mineral. Seimbang artinya masing – masing komponen sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk tumbuh normal dan memelihara kesehatan ketika dewasa.
Kucing sebagai hewan kesayangan bersifat karnivora sejati, soliter dan memiliki spesifik anomali, harus diusahakan untuk memperoleh kesehatan yang maksimal, agar berumur panjang dengan kualitas hidup yang baik. Untuk mencapai hal tersebut, pemberian pakan harus benar – benar diperhatikan.
1. Berikan selalu pakan yang berkualitas dan mudah terkontrol.
2. Pilihlah pakan yang sesuai dengan umur, status reproduksi dan status kesehatannya.
3. Pemberian food supplement dapat merupakan tindakan yang sia – sia dan bahkan mungkin menjadi sangat berbahaya.
4. Jangan sekali - kali memberikan pakan dalam jangka panjang.
5. Usahakan untuk selalu konsisten menggunakan pakan yang sudah terbukti tepat. Sering merubah atau mengganti pakan yang sudah terbukti tepat. Sering merubah atau mengganti pakan dapat berakibat langsung pada kesehatan kucing.
6. Jangan membatasi pemberian pakan kucing, walaupun obesitas dapat menjadi problem dikemudian hari.
Akhirnya kesadaran dan tanggung jawab melekat pada diri pemilik kucing untuk merawat dan menyediakan pakan yang tepat serta di satu pihak dokter hewan berkompeten secara benar dalam memberikan solusi pemilihan pakan, diharapkan menjadi bagian dalam mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi dari ICA (Perdanawinata. 2005. ICA (International Cat Association)) .
2.4. Perencanaan Distributor dan Agen.
Strategi distribusi tidak terlepas dari peran distributor dan agen. Distributor dan agen perlu diberdayakan, agar bisa memperluas area distribusi. Masalahnya adalah prinsipal dapat memperoleh distributor dan agen yang handal. Tanpa distributor dan agen yang andal, produk tidak dapat didistribusikan dengan baik. Akibatnya, produsen akan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan omsetnya sementara ia juga harus mempertahankan produknya berhadapan dengan banyak kompetitor. Dalam perencanaan distribusi, produsen harus mempertimbangkan masak – masak untuk mendapatkan distributor dan agen yang andal.
Pertimbangan dalam mencari distributor dan agen adalah kapabilitas distributor atau agen. Ada beberapa kriteria untuk distributor dan agen yang bonafid dan andal (Bradley, 1995 dan Royan, 2005) adalah :
• Memiliki jaringan distribusi yang luas, menguasai toko eceran, grosir, minimarket, supermarket, hypermarket maupun horeka (hotel, restoran, dan kantin / koperasi). Produsen akan mendapat keuntungan yang cukup besar, jika distributornya memiliki jaringan distribusi yang kuat. Sebab, pemilik brand yakin bahwa dengan nama besar dan tingkat pelayanan yang diberikan distributor akan sangat mempengaruhi pendistribusian produk.
• Memiliki kapasitas keuangan yang memadai. Setiap distributor dituntut untuk menyediakan “ bank garansi “ dalam jumlah tertentu. Inilah salah satu syarat yang sering dituntut produsen terhadap distributor yang mengoperasikan pendistribusian produk.
• Memiliki sarana transportasi atau armada pengiriman yang memadai. Bagaimanapun sarana transportasi sangatlah vital dalam pelaksanaan distribusi. Armada pengiriman juga merupakan alat yang mutlak diperlukan dalam pendistribusian.
• Memiliki cakupan area yang luas. Distributor yang menguasai cakupan area yang luas memiliki keunggulan tersendiri, sehingga produk dapat terdistribusi secara merata.
• Memiliki pengalaman yang memadai dalam mendistribusikan produk sejenis. Syarat ini penting, agar jangan sampai terjadi distributor berminat
terhadap suatu produk, namun tidak berpengalaman dalam produk yang sama atau komplementer.
• Memiliki tingkat pelayanan yang baik di mata pelanggan. Produsen perlu menyelidiki dan menganalisis hal ini, sebab tingkat pelayanan sangat penting untuk meningkatkan awareness terhadap brand corporate. Produsen sengaja mendompleng distributor yang memiliki nama besar untuk membuka pasar baru. Banyak sekali produsen yang menggunakan cara ini, sebab menguntungkan sekali. Selain produk dapat terdistribusi dengan baik, produsen dengan sendirinya juga membangun jaringan distribusi lewat jaringan yang telah dibangun oleh distributor. Pendistribusian produk memang lebih baik menggunakan jalur aliansi dengan distributor yang sudah mapan, lebih – lebih jika produk yang dimiliki adalah produk baru.
• Mempunyai kemampuan, reputasi dan sejarah prestasi perantara yang baik.
Agen diperlukan dalam jaringan distribusi karena ada dua alasan. Pertama, produk dapat terdistribusi dengan baik karena terfokus pada produk yang ada. Kedua, sistem keagenan memberi kinerja yang penuh komitmen karena agen harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh produsen yaitu hanya menjual produk dari suatu produsen. Kalau dalam praktik ada agen yang tidak hanya menjual satu produk , ia telah melanggar sistem keagenan (Kodrat, David Sukardi. 2009.Manajemen Distribusi).
2.5. Konsep Kebijakan Distribusi Fisik.
Perubahan dalam arah strategis perusahaan tidak timbul secara otomatis. Dalam kenyataan sehari-hari, kebijakan dibutuhkan untuk membuat strategi bekerja. Kebijakan menjembatani pemecahan masalah dan memandu implementasi strategi. Definisi Umum kebijakan menurut David (2006: 343) yaitu : Kebijakan mengacu pada panduan spesifik, metode, prosedur, aturan, formulir, dan praktik administrasi yang dibuat untuk mendukung dan mendorong pekerjaan melalui tujuan yang ditetapkan.Kebijakan dapat diterapkan disetiap divisi dan departemen. Apapun ruang lingkup dan bentuknya, kebijakan digunakan sebagai mekanisme utuk menerapkan strategi untuk mencapai tujuan. Kebijakan harus dinyatakan secara tertulis jika dimungkinkan. Kebijakan mewakili cara untuk mengambil keputusan strategis (Gartustiadi, Teddy. 2011).
2.5.1. Pengertian Distribusi Fisik.
Secara tradisional distribusi fisik sama dengan proses meyampaikan barang kepada konsumen namun sekarang ini distribusi fisik telah berkembang menjadi konsep yang lebih luas lagi. Sehingga perusahaan mencari cara bagaimana mendistribusikan barang-barang tersebut kepada konsumen secara cepat dan tepat, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem distribusi fisik yang dimiliki oleh perusahaan. Penentuan lokasi gudang, jenis pengangkutan, volume sarana pengangkutan dan sarana gudang mempengaruhi tingkat pemberian jumlah pesanan pelanggan bisnis. Sudah selayaknya perusahaan memulai memikirkan pelanggannya, lokasi langganan, kebutuhan dan ketersediaan barang. Perencanaan suatu distribusi fisik sebenarnya bertitik tolak dari apa yang diinginkan pelanggan
dan apa yang ditawarkan pesaing. Jika kegiatan distribusi fisik dijalankan secara efektif dengan memberikan pelayanan penuh bagi pelanggan maka dapat memungkinkan perusahaan untuk memperkuat posisinya sehingga diharapkan mampu bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis dan mampu merebut pangsa pasar yang luas sehingga perusahaan tersebut mampu mengembangkan perusahaannya. Distribusi fisik telah dikembangkan menjadi konsep manajemen rantai pemasaran yang lebih luas. Manajemen rantai penawaran dimulai sebelum distribusi. Manajemen tersebut meliputi pembelian masukan yang tepat (bahan mentah, komponen, dan peralatan modal), mengubahnya dengan efisien menjadi produk jadi dan mengirimkannya ke tujuan terakhir. Sudut pandang yang lebih luas lagi memerlukan studi tentang bagaimana pemasok perusahaan itu memperoleh masukannya. Perspektif rantai penawaran dapat membantu perusahaan mengidentifikasi pemasok dan distributor yang lebih unggul dan membantu keduanya meningkatkan produktifitas, yang akhirnya menurunkan biaya perusahaan tersebut (Kotler dan Keller (2006:233)). Adapun pengertian distribusi fisik menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
Menurut (Kotler dan Keller (2006:485)) menjelaskan :Distribusi Fisik Melibatkan perencanaan, penerapan, dan pengendalian arus fisik bahan dan produk akhir dari titik asal ke titik penggunaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada titik yang menguntungkan.
Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan perencanaan arus fisik, penerapan arus fisik, pengendalian arus fisik, dan perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain, sehingga konsumen terpenuhi kebutuhannya.
Menurut (Bowersox (2006:13)) menjelaskan : Distribusi fisik adalah proses pengolahan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.
Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan, pengolahan arus fisik yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para supplier, sehingga konsumen terpenuhi kebutuhannya.
Menurut (Fandy Tjiptono (2008:204)) menjelaskan : Segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam kuantitas tertentu, ke suatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu tertentu, perpindahan fisik ini dapat berupa perpindahan barang jadi dari jalur produksi ke konsumen akhir dan perpindahan mentah dari sumber ke jalur produksi.
Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan, perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain, dalam jangka waktu tertentu, ini adalah suatu perpindahan fisik dari jalur produksi suatu perusahaan ke konsumen, sehingga konsumen akan terpenuhi kebutuhannya.
Menurut Frank Woodward dalam bukunya managing the transport service function yang dikutip (M. Nasuttion (2008:21)) menjelaskan : In industry distribution has been accepted as the performance of all business activities involved in moving the goods from the point of processing of manufacture to the point sala to the custumer and would include, warehousing, inventory, contol of finished goods, materials handling and packaging,
documentation and dispatch, traffic and transportation, and after sales services to custumers.
Dalam distribusi industri telah diterima sebagai kinerja dari semua kegiatan usaha yang terlibat dalam pemindahan barang dari titik pengolahan manufaktur ke sala menunjuk ke custumers dan akan termasuk, pergudangan, persediaan, control barang jadi, penanganan bahan dan kemasan,dokumentasi dan pengiriman, lalu lintas dan transportasi, dan pelayanan purna jual untuk custumers.
Menurut (Gundlach, Bolumole, Eltantawy and Frankel (2006)) dalam jurnalnya menjelaskan :
Logistics refers the inbound and outbound flow and storage of goods, services, and information within and between organizations.
Logistik mengacu aliran inbound dan outbound dan penyimpanan barang, jasa, dan informasi dalam dan di antara organisasi.
Kotler dan Keller (2006 :485) Distribusi fisik melibatkan perencanaan, penerapan, dan pengendalian arus fisik bahan dan produk akhir dari titik asal ke titik penggunaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada titik yang menguntungkan.
Bowersox (2006 : 485) Distribusi fisik adalah proses pengolahan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.
Fandy Tjiptono (2008 : 204) Segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam kuantitas tertentu, kesuatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu
tertentu, perpindahan fisik ini dapat berupa perpindahan barang jadi dari jalur produksi ke konsumen akhir dan pepindahan mentah dari sumber ke jalur produksi.
Frank Woodward yang dikutip M.NNasuttion (2008:21) Dalam distribusi industri telah diterima sebagai kinerja dari semua kegiatan usaha yang terlibat dalam pemindahan barang dari titik pengolahan manufaktur ke sala menunjuk ke custumers dan akan termasuk, pergudangan, persediaan, control barang jadi, penanganan bahan dan kemasan,dokumentasi dan pengiriman, lalu lintas dan transportasi, dan pelayanan purna jual untuk custumers. Gundlach, Bolumole, Eltantawy and Frankel Logistik mengacu aliran inbound dan outbound dan penyimpanan barang, jasa, dan informasi dalam dan diantara organisasi
Dari berbagai definisi–definisi distribusi fisik dan tabel indikator distribusi fisik, dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi fisik adalah segala upaya untuk menggerakkan arus bahan dan produk juga dengan suatu perencanaan arus fisik, pengendalian arus fisik, penerapan arus fisik, dan perpindahan barang dari satu tempat ke tempat lainnya, dan pengendalian dalam jumlah, waktu, dan pemikiran dengan cara-cara yang efisien. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan/distributor, sehinggan memperoleh suatu keuntungan bagi suatu perusahaan.
Distribusi fisik meningkatkan nilai form utility dengan menjamin nilai produk yang dikirimkan berada dalam kuantitas yang tepat serta utuh (undamaged ) serta memainkan instrument role, baik time utility maupun place utility, dengan cara menjamin produk datang, sesuai dengan waktu dan
tempat yang diminta (Bowersox, 1992). Bienstock et.al. 1997 berpendapat bahwa memahami persepsi layanan distribusi fisik dari sudut pandang pelanggan merupakan masukan yang penting untuk kepentingan manajemen pemasaran. Adapun persepsi pelanggan tersebut dapat diklasifikasikan sesuai dengan dimensi PDSQ, yakni timeliness, availability, dan quality. Quality dalam hal ini mengacu pada bentuk dan komposisi delivered order, yakni kondisi dari produk yang dikirimkan (Gartustiadi, Teddy. 2011).
2.5.2. Tujuan Distribusi Fisik.
Perusahaan pada akhirnya harus menetapkan tujuan distribusi fisik untuk membimbing perencanaan perusahaan. Dengan adanya tujuan distribusi fisik. Perusahaan dapat merancang sistem distribusi yang dapat meningkatkan jumlah pesanan distributor. Menurut Kotler dan Keller (2006:539) tujuan distribusi fisik adalah :
1. Untuk mengelola jaringan pasokan, yaitu arus nilai tombak dari pemasok ke pengguna akhir.
2. Banyak perusahaan menyatakan tujuan distribusi fisik adalah menyampaikan barang yang tepat ke konsumen yang tepat, pada waktu yang tepat dengan biaya terendah.
Menurut Bowersox (2006:13) tujuan distribusi fisik adalah : “Menyampaikan barang-barang jadi dan bermacam-macam material dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi dimana ia butuhkan, dan dengan biaya total yang terendah.” Tidak ada sistem distribusi yang bisa secara serentak dari tiap bagian untu
meningkatkan pelayanan dan mengurangi biaya seminimal mungkin. Dalam merancang seperangkat tujuan dari distribusi fisik, perusahaan siap membangun sistem distribusi fisik yang akan meningkatkan pelayanan sehingga memberikan kepuasan kepada pelanggan sebagai pedoman dalam perencanaan pmasaran produknya (Gartustiadi, Teddy. 2011)..
2.5.3. Manfaat Sistem Distribusi Fisik.
Sistem distribusi fisik menawarkan lebih banyak manfaat daripada menurunkan biaya. Sistem distribusi yang efektif dapat menghasilkan inventory optimal dan pada operasi multipabrik, kapasitas produk yang optimal. Keduanya dapat memaksimalkan penggunaan model pada keputusan menentukan lokasi pabrik. Perusahaan yang mempunyai sistem distribusi fisik yang baik dapat mengevaluasi biaya operasional berbagai lokasi untuk melayani berbagai pasar.
Sistem distribusi fisik dapat menghasilkan jasa pengiriman yang lebih baik, jika produksi terjadi di berbagai lokasi berbeda, perusahaan dapat menentukan dengan cepat sumber ekonomi untuk konsumen tertentu. Seiring perusahaan mengembangkan usahanya ke pasar multinasional dan menyuplai pasar tersebut dari fasilitas produksi multinasional, mereka akan semakin sering berhadapan dengan berbagai biaya variabel. Hal tersebut mendorong digunakannya pendekatan sistem menyeluruh untuk mengelola proses distribusi dalam rangka mencapai operasi yang efisien. Akhirnya, sistem distribusi fisik dapat mengatasi hambatan alam yang diciptakan oleh faktor geografi untuk mengurangi kritik ekonomi untuk pemasar internasional. Mengantarkan produk ke pasar dapat berarti menggunakan berbagai alat transportasi seperti produk kanal di
Cina, sepeda di Vietnam dan menggunakan kereta seperti di Jepang atau Eropa (Kodrat, David Sukardi. 2009.Manajemen Distribusi).
2.6. Physical Distribution Service Quality.
Salah satu area kritis yang berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan guna meningkatkan keunggulan kompetitif yaitu PDSQ (Physical Distribution Service Quality). Walaupun secara fisik memerlukan pengiriman, penyimpanan, dan mempresentasikan barang-barang merupakan basis perdagangan, pentingnya distribusi dan jenis jasa-jasa yang diharapkan oleh pembeli yang terlibat dalam lingkungan bisnis tersebut (Mentzer et al; 1989). Seperti yang dikutip oleh Kennedy (2011), Ceung, et al; (2006) menegaskan bahwa efektifitas management layanan logistik yaitu menurunkan biaya dan meningkatkan service value yang secara positif berdampak pada kepuasan pelanggan. PDSQ merupakan bagian dari logistic yang lebih luas yang mencakup marketing, layanan kostumer, hingga pengiriman produk ke tangan konsumen (Friday et al; 2011).
PDSQ terkait dengan ketepatan waktu dan flow of goods yang mampu dipertanggungjawabkan mulai dari penerimaan order hingga barang-barang tersebut sampai ke tangan konsumen (Rabinovich and Bailey, 2004; Rabinovich, et al; 2006).
Tujuan yang melingkupi fungsi dari PDSQ adalah untuk mengirim produk secara efisien dan efektif ke tangan para konsumen dengan mengeliminasi waktu, usaha, dan limbah inventaris didalam sistem manufactur- distribusi (Mentzer et al. 2004). (Friday Derek, Benjamin R Tukamuhabwa and Sarah Eyaa, 2011).
Penekanan pada PDSQ berasal dari fakta bahwa produksi sampai saat ini telah melampaui sebagian besar permintaan konsumen didalam market dan oleh karena itu harus meningkatkan kinerja distribusi guna meningkatkan layanan konsumen (mentzer, et al, 1989).
Sistem saluran distribusi secara umum melibatkan pabrikan, distributor, dan konsumen distributor. Pabrikan menjual produk pada distributor, terkadang disebut wholesaller (waralaba), yang menjual produk pada konsumen bisnis, atau riteler (Maltz dan Maltz 1998).
Kualitas layanan dalam logistik distribusi menarik banyak peneliti (Fung dan Wong 1998; Seth dkk 2006; Rahman 2006; Collins dkk 2001; Rafele 2004; Bienstock dkk 1997; Mentzer dkk 1989; Mentzer dkk 1999; Mehta dan Durvasula 1998; Chow dkk 1994; Stank dkk 2003) dan banyak arikel dalam literatur memberikan alat berbeda untuk mengukur kualitas layanan dalam logistic.
KLDF (Kualitas Layanan Distribusi Fisik) oleh Bienstock dkk (1997) yang mengembangkan skala pengukuran kualitas layanan khusus pada layanan distribusi fisik. Menurut Bienstock dkk (1997) keseluruhan kemampuan saluran seperti keterbukaan dapat diukur didasarkan pada persepsi, dan menggunakan