Dilihat dari perkembangan, fundamentalisme dibagi menjadi dua macam, yaitu fundamentalisme yang sifatnya positif dan
E. Jihad dan terorisme
Jihad dan terorisme merupakan dua kata yang sangat berbeda, keduanya selalu sangat berbeda, namun keduanya sering disalahartikan oleh sebagian kelompo Islam. Jihad dianggap terorisme dan terorisme pun dianggap jihad. Oleh karena itu, pemahaman akan keduanya sangat perlu di ketahui dalam rangka mencegah segala tindakan yang mengarah pada salah penafsiran mengenai dua hal tersebut.
1. Jihad
Jihad secara etimologi berasak dari kata jahada yang berarti kesungguhan, kemampuan, kemampuan, kekuatan, dan keteguhan. Secara terminologi berarti memerangi orang yang tidak dijamin keselamatannya oleh Islam dan orang-orang yang memerangi umat Islam. Kata jihad menurut Ibnu Faris diambil dari kata
Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari kata jihd yang berarti
kemamampuan.[21[14]]
Pemahaman akan jihad dalam era kontemporer ini jelas sangat keliru dalam pemakaiannya. Pemahaman tentang jihad secara terminologis seringkali disalah pahami oleh pemakai istilah tersebut. Istilah jihad secara semantik mempunyai makna yang luas, mencakup semua usaha yang dilakukan dengan kesungguhan yang sangat untuk mendapatkan sesuatu atau menghindarkan diri dari sesuatu yang tidak diinginkan. Sehingga jihad sebagai salah satu ajarn Islam dapat dipahami dengan benar, dan tidak hanya dimaknai dalam cakupan yang sempit atau dalam arti perang.
Makna jihad yang diartikan hanya pada tataran perang jelas bertentangan dengan salah satu sabda Rosulullah yang secara eksplisit menyatakan bahwa jihad dimulai semenjak nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosul. Hal ini jelas kontradiktif jika jihad hanya bermakna perang, karena waktu awal pengangkatan Rosulullah jelas makna jihad bukan berarti makna perang, melainkan lebih kepada pengendalian hawa nafsu.
Azyumardi azra, menyitir tulisan Rudolph Peter yang mengutip tesis Al-Bana tentang jihad, dimana Al-Bana membagi kategorisasi jihad pada dua tataran, yakni:pertama, jihad yang bernuansa revolusioner sebagai metode yang absah untuk mencapai cita-cita Islam. Kedua, jihad yang secara apologetik bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan dan perang. Al-Bana memberikan kritik terhadap pandangan yang mengartikan jihad sebagai perjuangan spiritual, yakni bahwa perjuangan melawan hawa nafsu lebih utama dibandingkan dengan perjuangan melawan musuh-musuh Islam. Menurut Al-Bana, pemaknaan jihad yang demikian tidak saja didasarkan pada hadist yang tidak otentik, namun oleh para musuh Islam lebih dimaksudkan untuk memperlemah daya semangat
kaum muslimin dari berjuang melawan penjajahan.[22[15]]
Satu ciri keunikan Islam adalah bahwa semua kelompok yang sangat berbeda sekalipun masing-masing tidak pernah lari dari rujukan sumber ajaran Islam (Al-quran dan Hadist). Ada sebagian kelompok Islam yang memaknai jihad sebagai perbuatan untuk melawan barat terutama Amerika yang begitu arogan 21[[14] ]. H.Hasbiyallah, M.Ag., Masail Fiqhiyah (Jakarta:Dirjen Pendidikan Islam Depag Republik Indonesia, 2009) hal.307
22[[15] ]. Azyumardi Azra, “Jihad dan Terorisme:Konsep dan Perkembangan Historis”, Islamika ( NO. 4, April 1994) hal 80-81
melakukan kekerasan kepada sebagian umat Islam. Dengan konsep jihad yang telah mereka maknai sebagai perang, maka dengan segala upaya kelompok ini mencoba melakukan perlawanan, baik dalam bentuk aksi bom bunuh diri maupun aksi terorisme. Tidak sulit menemukan ayat-ayat provokatif yang ada dalam Al-quran yang seakan-akan melegitimasi gerakan-gerakan yang melawan musuh Islam, misalnya adalah (Q.S AL-BAQARAH;120).
Hukum jihad sendiri menurut mayoritas ulama adalah fardhu kifayah, yang berarti jika sebagian dari kaum muslimin sudah menegakkannya maka gugur kewajiban ini. Sebagian ulama yang lain menghukumi jihad sebagai fardhu a’in apabila terjadi tiga kondisi berikut:
1. Apabila dua pasukan sudah saling berhadapan, diharamkan bagi setiap yang ada dalam kondisi seperti itu untuk melarikan diri dan wajib a’in bgi setiap mereka untuk tetap ditempat itu
2. Apabila orang-orang kafir telah menduduki suatu negeri maka wajib A’in bagi setiap penduduknya untuk memerangi dan mengusir mereka
3. Apabila hakim telah memerintahkan sekelompok orang, maka wajib bagi setiap
mereka untuk berangkat bersamanya.[23[16]]
Para ulama berpendapat bahwa jihad tidak selamanya menggunakan senjata
(jihad qitaliy) tetapi ia bisa menggunakan hati, lisan atau harta dengan tetap
berniat meninggikan kalimat Allah swt.
Jihad adalah sesuatu yang harus dilakukan karena jihad memiliki tujuan utama yaitu mengembalikan manusia kepada pokok pangkalnya, fitrah yang hanif yaitu yang mengharuskan mereka tunduk dan patuh kepada Allah swt. Disamping itu juga untuk menghilangkan fitnah terhadap kaum muslimin, melindungi wilayah Islam dari serbuan orang-orang kafir dan membunuh mereka yang melanggar perjanjian. Seperti perjuangan masyarakat Palestina melawan zionis Israel.
2 . Terorisme
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan untuk melahirkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Terorisme merupakan gejala yang timbul karena ketidakpuasan sebagian dari kelompok Islam melihat kondisi umat Islam yang diberlakukan tidak semena-mena oleh musuh-musuh Islam. Dengan ketidakpuasan inilah mereka melakukan serangkaian teror dan aksi bom bunuh diri kepada mereka yang dianggap antek-antek kafir.
Kegiatan terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok, 23[[16] ]Ibid, H. Hasbiyallah, M.ag. Hal.309
atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psychologis untuk mencipatakan suasana panik, tidak tidak mementu serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah memaksa masayarakat untuk tunduk atau mentaati kehendak pelaku
teror.[24[17]]
Aksi terorisme yang kian marak di Indonesia memang sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Terorisme menjadi momok yang sangat mengancam kedaulatan bangsa Indonesia dan menimbulkan citra buruk bagi agama Islam. Kelompok ini benar telah menganggap orang-orang yang tidak sepaham dengan dia adalah kafir dan harus diperangi.
Adanya terorisme dalam kontek nasional menurut Zuhairi Misrawi timbul
karena adanya hal-hal sebagai berikut; [25[18]]
Pertama, ambisi kekuasaan. Dalam banyak pengalaman, terorisme atau kekerasan biasnya muncul dalam sebuah masyarakat yang memahami kekuasaan sebagai perebutan hidup-mati serta sempitnya wawasan kebangsaan kita.
Kedua, munculnya terorisme juga dikaitkan dengan ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Bertambahnya jumlah pengangguran, meminjam istilah Todung Mulya Lubis munculnya “disintegrasi sosial” akan membentuk sebuah kenekatan-kenekatan yang bermetamorfosa bagi terciptanya terorisme. Seorang warga negara tidak hadir sebagai “warga”, tetapi hadir sebagai “pribadi yang hampa”. Di sinilah nasionalisme akah dikalahkan terorisme. Penghargaan terhadap lain dan apresiasi terhadap kehidupan yang damai akan lenyap dalam pikiran warga yang hampa tadi. Karena itu terorisme bisa dipahami sebagai kegagalan dalam mendesain konsep kewarganegaraan. Selama ini, warga negara tidak hadir secara utuh. Seorang warga hanya dihadirkan dengan sejumlah kewajiban, tetapi hak mereka untuk hidup secara layak cenderung diabaikan para elite kita. Di sini, nasionalisme sejatinya dapat menyentuh kesejaheraan.
Ketiga, munculnya terorisme juga bisa dianalisis dari ketidakmampuan kita untuk melahirkan alternatif pandangan yang lebih mengakomodasi pluralitas, keadaban dan kemanusiaan. Dalam banyak hal, kita masih menemui cara pandang keagamaan yang hanya berhenti pada tataran “saya” dan “aku”. Gejala disintegrai 24[[17]]. Loeby Lukman, Analisis Hukum dan Perundang-undangan kejahatan terhadap Keamanan Negara
Indonesia, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1997) hal. 98
dan formalisasi syariat yang berkembang belakangan ini secara diam-diam ingin menampilkan egoisme dan keakuan. Padahal, sebagai bangsa yang dibangun di atas kebhinekaan, kita mesti melihat keberagaman sebagai rahmat Tuhan yang mesti diakomodasi dan diperkaya menjadi perekat bersama.
Aksi Terorisme biasanya dilakukan dengan cara melakukan aksi bunuh diri. Aksi bunuh diri dianggap mereka sebagai sebuah pelabelan mati syahid. Hal ini jelas tidak dibenarkan dalam agama Islam. Bom bunuh diri jelas merupakan perbuatan yang dikutuk Allah swt dan diluar ajaran Islam. Sebab bom bunuh diri mengakibatkan pada kemudharatan daripada membawa kemaslahatan. Bom bunuh diri telah menyebabkan anak- anak, kalangan perempuan dan orang tua kehilangan nyawa. Padahal dalam pandangan Islam tidak diperbolehkan membunuh orang-orang lemah seperti anak kecil, perempuan dan orang-orang yang terluka.
Aksi terorisme di Indonesia jika diamati terlihat banyak kejanggalan. Aksi teroris di Indonesia menurut hemat penulis terlihat membingungkan, lucu dan menggelikan. Sudah saatnya negara dan agama saling bahu membahu memberantas tindakan terorisme. Ketidaktegasan pemerintah dalam menindak pelaku terorisme merupakan momok yang harus diperhatikan. Dialog intern umat beragama mutlak harus diadakan untuk tetap menjaga Ukhuwah Islamiyah.
Pendekatan militeristik terhadap terorisme dipelbagai negara sejauh ini belum bisa di katakan berhasil. Pendekatan itu berhasil dalam hal menangkap
pelaku yang terlibat langsung atau diduga sebagai dalang terorisme. Tetapi soal d
ideologi dan gagasan besar tentang terorisme tentu tidak mudah dihancurkan. Ideologi terorisme senantiasa hidup, bahkan tumbuh subur di tengah gejolak politik global yang tidak adil dan kondisi obyektif sosial ekonomi yang kian
karut-marut.[26[19]]
Pemerintah sudah saatnya serius menangani terorisme yang benar-benar mengancam kerukunan dan kedamaian umat Islam. Yang amat mengecewakan, perhatian pemerintah terhadap terorisme hanya sekedar isapan jempol. Seperti biasanya, bila terjadi aksi terorisme pelbagai elite politik hanya mengecam dan mengutuk. Hanya sekedar retorika politik. Dalam praktiknya, pemerintah tidak mempunyai kebijakan yang mujarab untuk keluar dari hantu terorisme.
III. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah bahwa dinamika Islam yang kontemporer ini telah melahirkan gerakan Islam yang liberal, fundamental dan dan radikal. Masing-masing dari gerakan ini mempunyai pola pikir dan karakteristik yang berbeda-beda.
Gerakan liberalisme yang cenderung menggunakan akal untuk melakukan interprestasi terhadap Al-quran. Gerakan liberalisme lebih banyak mengakomodir dan memihak pada kaum minoritas Islam. JIL yang merupakan penggagas gerakan liberal pun dianggap sesat oleh sebagian kelompok Islam. Berbanding terbalik dengan gerakan liberalisme, gerakan fundamentalisme lebih menginginkan kepada adanya pemurnian terhadap agama Islam. Tetapi gerakan fundamen tidak segan-segan melakukan aksi kekerasan jika terdapat sebuah indikasi perbuatan yang dianggap menyimpang dari norma agama. Tidak jauh berbeda dengan fundamen yang sering melakukan kekerasan, gerakan radikalisme juga melegitimasi gerakan mereka dengan dalih pembelaan terhadap agama.
Terlepas dari semua gerakan itu, juga muncul sebuah pemahaman dan penghayatan akan Islam. Salah satunya adalah munculnya sebutan Islam kultural dan Islam Stuktural. Islam kultural lebih mengedepankan budaya sebagai media untuk melakukan ritual keagaman, sedangkan Islam struktural lebih memilih jalur yang sudah struktur dengan baik, salah satunya adalah dengan memilih jalur politik dalam melakukan syiar Islam.
Pemahaman akan sebuah makna jihad di era kontemporer ini juga mengalami makna distorsi yang mengkhawatirkan. Jihad dimaknai dengan aksi peperangan dan aksi bom bunuh diri. Mereka menganggap semua ini sebagai
bentuk pelabelan mati syahid. Jelas perbuatan tidak pernah diajarkan oleh agama Islam. Gerakan jihad berubah menjadi aksi terorisme. Gerakan terorisme jelas menciderai agama Islam dan mengancam kedaulatan bangsa Indonesia.
IV. PENUTUP
Demikian makalah dari kami, semoga bisa memberikan sedikit gambaran dan pengetahuan tentang fenomena keislaman di era kontemporer ini. Dan semoga makalah ini bisa menimbulkan rasa kecintaan kepada agama Islam, dan kecintaan kepada bangsa Indonesia. Makalah ini memang masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapakan demi sempurnanya makalah ini.
V. DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abdul, Dari Neomodermisme ke Islam liberal, Jakarta: Paramadina, 2003.
Ali, Muhamad, TEOLOGI PLURALIS-MULTIKULTURAL: menghargai kemajemukan menjalin
kebersamaan, Jakarta: Buku Kompas, 2003.
Al-jawi, Shidiq, ”Akar Sejarah Pemikiran Islam Yang Menyesatkan “ dalam
http://iskud.wordpress.co m, diakses 15 November 2012
Azra, Azyumardi,.”Jihad dan Terorisme: Konsep dan Perkembangan Historis “ dalam
Islamika (NO. 4, April 1994).
Hasbiyallah, Masail Fiqhiyah. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Depag Republik Indonesia, 2009.
Kasdi, Abdurrahmn, Fundamentalisme Islam Timur Tengah: Akar Teologi, Kritik Wacana
dan Politisasi Agama” dalam Taswirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan , Edisi No. 13. Jakarta: LAKPESDAM, 2002.
Lukman, Loeby, Analisis Hukum dan Perundang-undangan kejahatan terhadap
Keamanan Negara Indonesia, Jakarta: Universitas Indonesia, 1997.
Misrawi, Zuhairi, PANDANGAN ISLAM MODERAT: Toleransi, Terorisme, dan OASE
Perdamaian, Jakarta: Buku Kompas, 2010.
---, “Terorisme dan ‘Lack of Nasionalism’ ”, dalam Kompas, 07 Agustus 2003.
Rahman, “Pengertian Liberalisme” dalam http://www.itsfetriyannorrahman.co.c c e.html,
diakses 03 November 2012.
Singh, Bilvee dan Abdul Munir Mulkhan, Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia, Jogjakarta: Jogja Bangkit Pubhliser, 2012.
“Tentang Islam Liberal” dalam http://Islamlib.com. Diakses tanggal 13 November 2012.