77.2 67.9 57.9 49.5 58.5 64 70.2
ra ta -ra ta ^ a_an9^a ini dapat kiranja diambil kesim pulan bahwa djumlah rena an. ^ ota k elu a rg a sekarang lebih rendah daripada dahulu, ka-ternjata l^k 3 kandingkan angka-angka dari kedua masa tadi, maka kedua aawa kelebihan kelahiran masa pertama lebih banjak dari jang
SurinenUrU.f: Pei'bandingan memang diantara orang-orang Indonesia di
anak H banjak terdapat keluarga-keluarga jang tidak mempunjai
1250 L- , n Pa lan9 mempunjai. P en jelidikan jan g kam i lakukan pada Sep e Uarga memberikan djumlah rata-rata 3 orang anak tiap keluarga,
1 ten ijata dari daftar dibawah ini :
K elua rga-kelua rga d enga n D jumlah
0 anak 3 6 5 1 anak 228 2 anak 142 3 anak 134 4 anak 127 5 anak 135 6 anak 47 7 anak 32 8 anak 2 1 9 anak 1 0 1 0 anak 7 1 1 anak 1 1 2 anak 1
anak pUn diar>tara 1250 keluarga ini keluarga-keluarga jang banjak
acja ada dipedalaman dan jang sedikit anaknja atau tidak beranak ada ? ta’ akan tetaPi ticIak boleh kita mengambil kesimpulan bahwa oran ^ aan Pendirian jang prinsipiil tentang punja keturunan antara ksluar ° i a ^an oran9 pedalaman. Kami telah menjelidiki lebih banjak djuga ce^uar9a dipedalaman daripada dikota. Ketjuali itu dikota ada keluarq & Uar9a_keluar9,a jang sedikit anaknja. Dipedalaman lebih banjak a jang tidak punja anak daripada jang punja anak. Kekurangan
anak ini tidak disebabkan oleh pendirian jang modern tentang penik3- tasan kelahiran, melainkan akibat daripada penggunaan p e n tje g a h -p en . tjegah kelahiran (anticonceptionele m iddelen). Sekarang hal itu tida ^ dipergunakan lagi. Dukun, jang dahulu dengan djalan mengurut dap31- membalik kandungan, sekarang tidak mempunjai penghasilan lagi dalan1 hal ini.
Menurut bekas-bekas orang kontrak hampir tidak ada k elu arg a ja^g banjak anaknja. Kebenaran daripada pernjataan ini dapat dibulctik311 oleh kenjataan, bahwa keluarga orang-orang Indonesia jang sudah t u a - t u a biasanja tidak punja atau sedikit anaknja. Keluarga-keluarga jang b an jak anaknja terdapat pada generasi muda jang lahir di Suriname.
Kami telah bertanja kepada bekas-bekas orang kontrak tadi m e n g a p a mereka pada umumnja sedikit anaknja, berlainan dengan k e lu a r g a -k e ' luarga sekarang. Dari djawaban-djawabannja ternjata bahwa s e b a b -s e ' babnja biasanja bersifat ekonomis dan sosial.
Suami isteri harus bekerdja disawah dari djam 7 pagi sampai djam malam atau lebih lama lagi. Mereka berkata : ,,Djika kami pada malam hari datang, kami sudah terlampau letih, sehingga terus tidur sa d ja -Bagaimana kami dapat memelihara anak-anak.”
Keadaan ini menurut pendapat kami djuga menjebabkan in a n d u ln ja orang-orang perempuan; djuga banjaknja kematian baji dan b a n ja k n ja baji jang dilahirkan mati menjebabkan djuga keluarga-keluarga s e d i k i t
anaknja. Penghidupan diperkebunan biasanja sangat kedjamnja ; m a k a n an jang diberikan djauh daripada mentjukupi. Keadaan-keadaan im sangat mempengaruhi kesehatan wanita-wanita sehingga m e n je b a b k a n berkurangnja tenaga pembiakan. Oleh karena itu djuga djumlah baji jan g dilahirkan mati demikian banjaknja. Menurut Lampe djumlahnja dalam tahun 1925 adalah 121,5 tiap 1000 kelahiran. Kurangnja p e m e lih a ra a n terhadap baji-baji, oleh karena orang-orang perempuan sehari-harian ada diluar rumah, menjebabkan banjaknja kematian diantara baji-baji. S e landjutnja buruknja keadaan perumahan-perumahan telah m e n g u ra n g i pula kesuburan kaum ibu, sedang kematian baji djuga mendjadi se b a b -Kurangnja kesuburan kaum wanita ini tentu disebabkan djuga karena penggunaan pentjegah-pentjegah kelahiran (anticonceptionele m id d e len ), diantara jang paling banjak digunakan jaitu pengurutan oleh d u k u n perempuan, sehingga orang-orang perempuan mendjadi mandul.
Alasan lain jang dikemukakan bagi kurangnja anak-anak orang-orang kontrak, ialah buruknja keadaan ekonominja. „Kami hanja orang-orang miskin, bagaimana dapat mempunjai anak.”
Sebab lain ialah perbandingan jang tidak sepadan antara djumlah laki-laki dan perempuan. Hal ini merupakan suatu rintangan untuk terd ja- dinja keluarga setjara teratur.
Sekarang rintangan-rintangan itu sebagian besar sudah tidak ada lagi. INDONESIA PADA PANTAI LAUTAN ATLANTIK
k e h i d u p a n s o s i a l
K eluarga-keluarga jan g tidak mempunjai anak sekarang ingin maSa
mempunjai anak. A kan tetapi usaha-usaha pentjegah kelahiran ° g
jang lalu telah d id j a l a n k a n demikian serapurnanja, sehingga oran g'
Perempuan tadi untuk selam a-lam anja tidak dapat mempunjai ^
rang-orang perem puan jan g bersangkutan, djika ditanja menga
feka tidak m em punjai anak, tidak pernah mendjawab bahwa mere ^
hu*u diurut. U n tu k m endapatkan keterangan djuga tentang per a
Perbuatan ini, sering kami berkata sambil bersenda gurau, -aj
barang siapa tidak suka kepada anak-anak djuga tidak akan me P anak. ,,K u lo n g g ih tresn o jo g a , n an g in g m b o ten d iparin gi Tuhan * d a n iel g c s a n g /' (T e n tu kami suka kepada anak-anak, akan tetap t>dak m em b erik an n ja). M erek a berkata : „D jik a kami tidak su ^
a n a k - k a n a k , sudah barang tentu kami tidak akan mengam 1 a ,aan
D i Surinam e m engam bil anak angkat ini ada a sua u jang
, 1a sa > i^ng m enurut pendapat kami menundjukkan ikatan e u : aitu ° n9g ar. M a tja m adopsi (mupu) ini dapat dilihat ari ua s rye n gan
dari pihak jang memupu dan dari pihak jang mem eri■ uoU anak
m engam bil anak pupon (an ak angkat) orang-orang jang , mereka
tadi ingin m em punjai orang jan g dapat memelihara mere 'a j anak
sudah tua. P ern ah dju ga terdjadi bahw a orang laki-laki meng
angkat untuk kemudian dikawini. , ketidak
D ari pihak jan g m emberikan anak jan g m endja i a asan ia j uajg a -
m a m p u a n . Jan g m em berikan anak-anak itu biasanja a a a diarang
kelu arga jan g tidak mampu akan tetapi b an jak ana nja. 1 fiianqan terd jad i bahw a anak itu diminta kembali. U ntuk m endjag J Sarnpai terd jad i dem ikian bapa angkat tadi melapur 'an ePa kemudian
lii k e S t a n d bahw a isterin ja telah m elahirkan seorang a n a k , jang ^ diam bilnja sebagai anak angkat. Sudah barang tentu ha ini u anak dilakukan d jika sudah sem ufakat untuk memberikan dan mem p jan g akan dilahirkan. D engan djalan demikian maka anak J a ^ d itja ta t dalam d a f t a r - d a f t a r B u r g e r lijk e S ta n d sebagai anakJ orang-dari ibu b ap a angkat, sehingga tidak mungkin terdjadi ban\
orang tua jan g seb en arn ja akan memintanja kembali. terdapat
Sebagaim an a sudah kami katakan pada generasi mu a an
ber-kelu arga-ber-kelu arga jang b a n ja k anaknja. Penghidupan j an9 ® kajj untuk pengaruh b en ar kepada keadaan ini. T id ak ada alasan sa sekaranq
m em batasi kelahiran. Inilah sebabnja maka koefisien pem ia lebih tinggi dari dahulu (lihat halaman 91)
C . 3 . P E R K A W IN A N D A N K E S E T IA A N D A L A M P E R K A W IN A N
a. A r ti P e r k a w in a n , , ,
Sep erti dim ana-m ana djuga orang-orang Indonesia meman an p e rk a w in a n s e b a g a i d a s a r m en ju su n k elu arg a. D jik a d ita n ja m e
-INDONESIA PADA PANTAI LAUTAN ATLA N TIK
ngapa orang kawin, maka djawabnja selalu bahwa kawin adalah suatu kewadjiban, suatu keharusan alam. Akan tetapi djika kami kemu- kakan, bahwa hadjat tadi dapat djuga dipenuhi dengan tidak usah kawin. maka djawabnja dalam 9 antara 10 orang ialah : ,,Akan tetapi didalam perkaw.nan suami isteri dapat bantu membantu dan membesarkan anak."
Keinginan mempunjai keturunan, sebagai jang sudah kami katakan diatas, adalah besar sekali. Apa sebabnja maka mereka ingin mempu njai keturunan biasanja tidak dapat mereka mengatakannja. Ada jang mendjawab : „Ja, itu adalah akibat perkawinan,” atau „Itu karunia T u
an. kan tetapi tidak seorangpun mempunjai pengertian jang djelas tentang soal mengapa orang ingin mempunjai anak. Tiap-tiap baji jang a lr isam ut dengan gembira, dan orang tidak memusingkan kepalanja engan pertanjaan apa faedah anak-anak. Djika tidak mampu memeli- aranja, tentu ada orang lain jang mau memupunja. Djika dapat meme- liharanja sendiri, lebih baik.
sil^ H n H Un pertaniaaJn'P ertanjaan kami hanja sedikit memberikan ha- t e n t a n r a ^ r r ’aUan W ada. diu9a memberikan pendjelasan
1 Baqi orann me.n9aPa oran9 mgin mempunjai keturunan : dikalangan o v a l a T anak' a,nak merupakan prestige s o s ia l Lebih-lebih Sekarang djelas sekdfba H ° neSia terPeladj ar hal ini nampak sekali. tentanq bahasa RpI rl T oran9 ' oran9 Indonesia bahw a p engetahuan bagi orang tua tidak mempuniai non’ l ^ 9 membenkan kemuliaan. O rang-
£ ^ ^ ^ tnr bat,B m£nUliS merU"ak3n
anak jang terpeladiar (biasa 3 ' i ^ itU’ dan karena itu seorang
M S dapat ^ „S“ >a ,anak lakWaki) miUk
mau mengeluarkan biaja baniak Jf n9 untuk memandaikan anaknja
anaknja dikota. Malahan ada .0ran9"oran9 desa menjekolahkan
anaknja ke Indonesia djika munok^93 m9in menjekolahkan
anak-2. Bagi orang tua anak-p i i_
ada jang akan memelihara mereka c rti bahwa pada hari tuanja terakan bahwa ditengah djalan ia’W * * 9 m a n i umPa®anja
mentjeri-tano513 , itepi diakn dekat Paslr d £ seor4 orang
In-terhani ‘ ^ r i n g diatas
akan Ho -v- ,ennja 0rang tadi uanr, j angat kelaparan. Ia sangat daPatdr klan^ U9a na*ib^saja dTn9 S e W a rn ia- *a berkata: „Kelak
- T a s u d a H - ^ S u 7 nam e- S a ja tid ak m9 m 9 a t h a l itu b a 3 a - a ™ s a ja sebab toi orana " ^ 3 n a k = a » a k a » 9 k a t
3 - A nak^ X L T l i f " 9 tidak b eran ak Ja * * di In d ° n e s i a .” O le h dan ada orana ■ * ^ a sesudah m a r m en 9 am b il a n a k a n g k a t.
minta sepotonq ka9 3 “ ® en 9 ubur. Seo ran a” " 9 tid a k a k a n d ilu p a k a n ,
punja anak jana H m ?U Untuk kam kaf ° j an9 peremPuan tu a h an ja
k e h i d u p a x s o s i a l
rp ,han anak. „Siapa jang • tidak diben Tuhan a
puan lainnja berkata bahwa ia ^ ?” c„nranq saudagar
akan memberi selamatan dji a gi ^arta benda. untuk mentjari
4. A nak-anak dapat kelak me ^ kemungkinan ^ >Untuk apa
kaja bertanja kepada kami apa berdua. Ia e r ' . saja ingin
penghidupan di Indonesia bagi mereka ^ ^ karena
saja harus b e rh e m a t. S a ja ti a ' nendapat
orang-ke Indonesia.” . rrVan sedikit tentang beberapa
Baiklah sambil lalu kami . Kam i bertanja P a fflCreka
orang Indonesia mengenai ha mewarisi h arta ben jang ada
orang Indonesia siapa jang h a rta benda ial ^ipekaranga .
meninggal. ]ang dimaksud denga emuanja jang 3 eka tidak per'
didalam dan dUuar rumah, termasuk se b a h w a m e r e k ^ kanu ketjuali tanahnja. B e b e ra p a oran ^ mempunjai ap djawaban jafl9
nah memikirkan hal itu. dapat d i b e r d * * ^ ^
ber-tinggalkan kepada ahli-waris. D j * ( jM engaPa buka
tegas, djaw aban itu selalu : ana lagi< Oleh
tanja kami. D jaw ab n ja : , i(j ak akan h1 menumpang e
a. D jik a isteri sudah tua, * toh Ibunja daPat
karena itu lebih baik untuk ana Dengan deim
padanja. . Van segera kawm 1 9 tetapi
anak-b. D jik a isteri masih muda, ia a memeliharanj3- . baik langsun kian ia akan mempunjai ora^9 J a itu hartanja
anaknja akan terlantar. Oleh karena ^ ^ aka
diberilcan kepada anak. mrlanc['undan9 & onahendaki Rern
Djika kami berkata. bahwa undang^ ffle„ghe
mereka berkata, bahwa oleh se p j aVtra.
(peraturan) lain, seperti jang a diniuka
b . T j a r a - t j a r a p e r n i k a h a n men u ru t dua ^ ^
Orang-orang Indonesia apa1 ^ Bnrget^ 27 Djandang-un'
penghulu nikah atau d i m u k P 9 pad*L ta ^ angan u»d^ a9kilan 1. D IM U K A P E N G H U L U i ^ buah ra Jp eWan Pe^ nerni.
Gubernur Kielstra menga<dju Asia kepa katjau didala ma
dang pernikahan bagi oran?'” daan jang sang g mengan1 a affla
dengan maksud mengachiri e orang' 013119 . ng ®en9an“ , :ang
kahan, ja itu : rantjangan A untuk rang ^ hir milah )
Hindu, dan rantjangan B
Islam. Untuk o r a n g - o r a n g Ind dua kah, aka
penting. . ditolak samp dengan o stuur
Didalam Dewan r a n t ja n g a n m p e r a t u r a n^ ^ g e l van B ^ Gubernur Kielstra m e n d ja l a n a ^ A lg em *er\n40 no. l 49^
tusan, dan disahkan d e n g a n
kesempatan bagi orang-orang Indonesia untuk : pertama menges3^1^ _ semua perkawinan sebelum berlakunja peraturan tadi dengan me11^ tatkannja didalam daftar-daftar jang sudah ditentukan untuk keper*u itu sampai tahun 1942 ; kedua kawin setjara Islam dimuka pega'va*’"^na gawai nikah (kaum) jang diangkat oleh Pemerintah, perkawinan ^ ^ kemudian harus dimasukkan didalam daftar-daftar perkawinan uotu
mengesahkannja. _ . ^
Didalam peraturan perkawinan tadi pertjeraian sementara (ta 'j, dimasukkan, sedang aturan tiga kali talak, diselingi oleh dua kali rudju masih dipertahankan. Pemutusan perkawinan jang ditjatat didalam da tar-daftar hanja dapat dilakukan oleh hakim, sedang sesudah pertjera*an sementara berlaku pasal-pasal 12 s/d 16 dari peraturan tersebut. S e^an, djutnja perkawinan dengan lebih dari seorang isteri bersama-sama diizinkan. Berapa perkawinan jang terdjadi sesudah berlakunja peraturan tadi, tidak dapat kami tentukan dengan pasti. Oleh karena usaha-usa untuk mengetahui djumlah jang sebenarnja dengan tjatatan pegaV/al nikah mendjumpai banjak kesulitan, djuga karena rintangan-rintan9an dari pihak tertentu dikalangan orang-orang Indonesia, kami terpaks3 memakai angka-angka jang diberikan oleh instansi-instansi resmi kepa kami. Seorang pegawai kantor imigrasi di Paramaribo m en jan g k al k e mungkinan bahwa pegawai-pegawai nikah tidak melapurkan pernikahaf1' pernikahan, oleh karena menurut pendapatnja dengan adanja sisti111 pemeriksaan tidak mungkin kaum-kaum tadi akan lalai melakukan keWa djibannja. Djika pernjataan ini benar, maka angka-angka jang d ib e rik a n menundjukkan kemadjuan jang pesat, jang dapat dilihat dari d aftar
jang berikut, jang memuat angka-angka dari masa antara 1930 l9 3 o dan antara 1945 — 1948. Disampingnja kami muatkan djumlah pendu- duk didalam tahun-tahun tersebut:
Tahun Djumlah penduduk Djumlah perkawinan
INDONESIA PADA PANTAI LAUTAN ATL.ANTIK
1930 30.576 2 2 1931 30.841 19 1932 31.354 2 0 1936 31.990 23 1937 32.087 32 1938 32.488 39 1945 34.272 720 1946 34.542 578 1947 34.915 708 1948 35.863 1.041
Arti daripada angka-angka ini tidak dapat kami katakan dengan pasti. Akan tetapi kami mempunjai alasan untuk mempertjajai pernjataan p e gawai kantor imigrasi tersebut diatas tentang kebenaran angka-angka
KEHIDUPAN SOSIAL
tad i. K etik a kami memeriksa daftar-daftar tempat
kaum-kaum
tadi men- t ja t a t perkawinan-perkawinan, ternjata bahwa ada diantaranja jang tidak m e n tja ta t beberapa perkawinan. Di Nickerie orang mentjeriterakan kepa- d a kam i, bahw a ada seorang kaum menikahkan lagi seorang, jang su d ah k aw in dan belum lagi bertjerai dengan isterinja, dengan p e re m p u a n lain . Pem berita-pem berita kami, jang memandang aturan perkawinan tid a k memuaskan, berkata bahwa banjak lagi terdjadi hal-hal jang demi k ia n itu. H al itu dapat terdjadi, karena tidak adanja koordinasi antara p ekerd jaan -p ekerd jaan pegawai-pegawai nikah. Bagi mereka itu tiap- tiap perkaw inan berarti tambahnja penghasilannja, jang tidak seberapa itu. B aran g k ali oleh kelalaian beberapa kaum itulah bahwa seorang ang g o ta D ew an Perwakilan dapat berkata, bahwa banjak orang-orang Indo n e s ia ,,kehilangan anak”.O ra n g -o ra n g Indonesia lebih suka menikah menurut aturan-aturan a g a m a :
( a ) karena kebiasaan, (b ) karena batas umur jang rendah, dan (c) k a re n a dengan aturan ini mereka lebih mudah dapat bertjerai.
( a ) . Perkaw inan merupakan salah satu saat penting didalam penghi d u p an orang Indonesia. Peristiwa ini bagi mereka berarti, bahwa mereka te lah m entjapai kedudukan sebagai anggota masjarakat jang sudah balig. L eb ih -leb ih dipedalaman perkawinan mempunjai kedudukan jang dihar- g ai dan orang memberikan perhatian jang besar sekali kepadanja. Djuga b ag ian penduduk bangsa Indonesia jang tidak terpeladjar didalam kota m em and angn ja sebagai kedjadian jang luar biasa, jang harus disertai d e n g a n pesta. Berapa besarnja pesta-pesta ini tergantung daripada ke- k a ja a n m ereka jang n g g a d a h darnel (mempunjai hadjat). Seluruh upa- tja r a pernikahan, mulai dari persiapan-persiapan sampai perkawinannja
s e n d i r i , tidak b an jak berbeda daripada adat di Djaw a. Hanja generasi m uda ja n g sudah mempunjai sedikit pengetahuan, tidak lagi menurutinja.
( b ) . O ran g-orang Indonesia biasanja kawin muda, lebih-lebih gadis- g a d isn ja . G adis jang berumur 20 tahun dan belum kawin disebut praw an
k a s e p (peraw an kasip ). Salah satu sebab mengapa gadis-gadis dikawin- kan m uda-m uda ialah karena orang tuanja chawatir kalau-kalau mereka itu s e sa t d jalan n ja. Seorang berkata : „Gadis-gadis berumur 12 tahun se k a ra n g sudah bergaul dengan orang-orang laki-laki dewasa. Oleh ka re n a itu lebih baik mereka itu kawin muda.” Kawin paksa ini, dimana tid ak terd apat pilihan bebas, banjak terdjadi didaerah pedalaman. Ditem p a t lain telah kami tjeriterakan, bahwa seorang bapa jang chawatir b ah w a an ak n ja akan kawin dengan salah seorang daripada gadis-gadis ja n g selalu m enggodanja, pergi kepada orang tua seorang gadis, jang d iin g in in ja sebagai menantu, untuk membitjarakan hal perkawinannja. W a la u p u n gadis tadi baru berumur 12 tahun, anak tadi toh dikawinkan.
akan tetapi dengan perdjandjian bahwa mereka tidak boleh berkumpul sebelum berumur 14 tahun (kawin gantung). Pernah djuga terdjadi, bah wa seorang bapa mengawinkan anaknja perempuan muda sekali, hanja untuk mempunjai alasan mengadakan tajub. Untuk mengadakan pesta ini diperlukan izin dari Komisaris. distrik. Lambat laun tajub ini mendjadi usaha jang semata-mata ditudjukan untuk mendapatkan keuntungan.
Keinginan untuk mengawinkan gadis muda-muda menjebabkan bahwa orang-orang lebih suka kepada perkawinan agama daripada di- muka Burgerlijke Stand. Umur minimum jang ditetapkan oleh kitab undang-undang sipil adalah 18 tahun untuk laki-laki dan 15 tahun untuk perempuan. Dalam perkawinan menurut agama batas-batas ini rnasing- masing 15 dan 13 tahun.
( c ). Menurut pendapat kebanjakan orang di Suriname penghidupan keluarga pada orang-orang Indonesia adalah jang masih paling tertib. Dipandang dari sudut ini boleh dikatakan keadaannja masih baik. D jika dipandang tersendiri, maka kesimpulan kami ialah bahwa masih banjak kekurangan-kekurangannja pada penghidupan keluarga. Bahwa tali per kawinan ini tidak begitu kuat, dapat dibuktikan oleh banjaknja pertje- raian. Seorang berkata : „D jika ada orang dapat tahan 2 tahun dengan satu perempuan tentu orang-orang heran.” Berbagai-bagai keadaan me njebabkan banjaknja pertjeraian. Perbandingan jang pintjang antara
laki-laki dan perempuan umpamanja telah menjebabkan bahwa sering terdjadi „pertukaran" isteri. Djuga milieu di Suriname rupa-rupanja mempengaruhi djuga hal mudahnja terdjadi pertjeraian-pertjeraian. K e tika kami bertanja kepada seorang orang Indonesia terkemuka berhubung dengan suatu pertjeraian, apakah hal itu tidak menimbulkan amarah pada orang-orang Indonesia ia mendjawab : ,,Oh, kami sudah biasa akan hal demikian. Lain daripada itu, demikian itu adalah sesuai dengan tja ra - tjara di Suriname.”
Tadi sudah kami katakan bahwa orang-orang Indonesia tidak puas akan aturan perkawinan jang ada. Seorang orang Indonesia berkata : „Memang untuk pernikahan diadakan peraturan, akan tetapi pertjeraian tidak diatur.” Ia selandjutnja berkata : ,.Pernah terdjadi, bahwa suami isteri seminggu sesudah perkawinan dilakukan belum menerima s era t
kawin (surat kawin). Tidak lama kemudian mereka bertjerai dan dalam hal ini tidak dapat diperbuat apa-apa.” Seorang orang lain bertanja : „Mengapa permintaan bertjerai tidak diperiksa baik-bclik lebih d a h u lu ?” Seorang lain lagi berkata : ,,Para kaum tidak akan mentjoba mendamai- kan kedua pihak karena untuk tiap-tiap pertjeraian ia menerima uang.” Dari pernjataan-pernjataan tadi kita dapat mengambil dua kesimpulan. Pertama bahwa peraturan tadi tidak memuaskan karena orang-orang Indonesia tidak memahaminja. Didalam peraturan tadi sesungguhnja ada aturan tentang pertjeraian. Memang mungkin terdjadi, bahwa ahli-ahli
jang ditundjuk oleh hakim untuk memeriksa permintaan pertjeraian tidak mendjalankan tugasnja sebaik-baiknja. D jika kekurangan pengertian tentang maksud daripada peraturan jang mendjadi sebab ketidakpuasan tadi, maka hal ini disebabkan oleh kurangnja penerangan. Bagi orang- orang Indonesia, jang hanja sedikit atau samasekali tidak mengetahui bahasa Belanda, susunan kata-katanja memang terlampau sulit. Kesim pulan lainnja ialah bahwa para kaum memang tidak mentjatat beberapa perkawinan, sehingga suatu pertjeraian, jang kemudian diikuti oleh suatu perkawinan jang lain dengan orang-orang lain dapat terdjadi. Djumlah pertjeraian dikalangan orang-orang Indonesia banjak djuga. D jika kita selidiki angka-angka jang diberikan tentang djumlah tentang pertjeraian maka akan djelas kepada kita bahwa prosentasenja dapat dikatakan ting
gi. Dibawah ini kami muat djumlah-djumlah perkawinan dan pertjeraian didalam tahun 1945 — 1949 :
A ' EH ID U PAN SOSIAL
T a h u n D jum lah perkaw inan D jum lah pertjeraian %
1945 7 2 0 22 5 3 1 .25
1946 5 7 8 23 8 4 1 .17
1947 70 8 151 21.32
1948 1.041 25 0 23.95
D jika angka-angka ini dibandingkan dengan djumlah perkawinan dan pertjeraian sebagai jang diberikan oleh kantor imigrasi di Paramaribo, maka ternjata bahwa prosentasenja dikota lebih tinggi daripada dipe dalaman :
T a h u n D jum lah perkaw inan D jum lah pertjeraian %
1945 4 9 21 4 2 .8 6
1946 31 27 87.09
1947 3 0 18 6 0 .—
1948 77 22 28.57
1949 61 22 3 6 .0 6
Untuk tahun 1949 ditjatat sebuah rudjuk. Haruslah diingat bahwa angka-angka tadi hanja mengenai pertjeraian menurut aturan-aturan agama Islam. Pertjeraian jang diputuskan oleh kitab undang-undang sipil bagi orang-orang India dan Indonesia dapat diberikan tersendiri. Apakah alasan-alasan orang untuk bertjerai ? Kebanjakan oleh karena
mereka saling tidak nienjukai lagi. Sering djuga karena suaminja m em
punjai nafsu poligami, orang-orang perempuan mempunjai alasan untuk bertjerai. Achir-achir ini pertentangan politik djuga mendjadi sebab pertjeraian. Sering terdjadi, bahwa orang perempuan jang mendjadi a n g gota K .T .P .I. meninggalkan suaminja, dan sebaliknja. Kadang-kadang ada djuga paksaan. Di Nickerie kami diminta pertolongan oleh
INDONESIA PADA PANTAI LA U TA N A TLA N TIK
bahasa untuk menggunakan pengaruh kami agar suatu tuntutan untuk bertjerai ditjabut kembali.
Seorang jang mendjadi anggota K .T .P .I. telah memaksa anaknja pe rempuan jang telah kawin dengan seorang anggota P .B .I.S . untuk me- ninggalkan suaminja. Ia mengeluarkan antjam an-antjam an kepada me- nantunja, akan tetapi menantu tidak suka menuruti kehendak mertuanja. Peristiwa ini masih dapat didamaikan, akan tetapi orang mengatakan kepada kami bahwa pertjeraian karena pertentangan politik sering se kali terdjadi.
2. D 1M U KA P E G A W A I N IK A H . Kemungkinan bagi orang-orang Indonesia untuk kawin dimuka pegawai B u g crlijk e S tan d sudah lama ada. Djika dahulu orang-orang boleh dikatakan tidak pernah mempergu