TEORI JUAL BELI DALAM ISLAM
B. Macam-Macam Jual Bel
Jual beli dapat ditinjau dari beberapa segi. Ditinjau dari segi hukumnya, jual beli ada dua macam, yakni jual beli yang sah menurut hukum dan batal menurut hukum. Dari segi objek jual beli dan segi pelaku jual beli.
Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek jual beli dapat dikemukakan pendapat Imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk:
1. Jual beli benda yang kelihatan, ialah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang diperjual belikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim dilakukan masyarakat banyak dan boleh dilakukan, seperti membeli beras di pasar.
2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual beli salam (pesanan). Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah untuk jual beli yang tidak ada tunai (kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya ialah perjanjian yang
31
menyerahkan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu.
3. Jual beli yang tidak ada serta tidak dapat dilihat ialah jual beli yang dilarang oleh agama karena barangnya tidak tentu atau masih gelap sehingga dikhawatirkan barang tersebut diperoleh dari curian atau barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak (Suhendi, 2014: 75).
Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi tiga bagian, dengan lisan, dengan perantara, dan dengan perbuatan:
1. Akad jual beli yang dilakukan dengan lisan adalah akad yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Bagi orang bisu diganti dengan isyarat karenan isyarat merupakan pembawaan alami dalam menampakkan kehendak. Hal yang di pandang dalam akad adalah maksud atau kehendak dan pengertian, bukan pembicaraan dan pernyataan.
2. Penyampaian akad jual beli melalui utusan, perantara, tulisan, atau surat menyurat sama halnya ijab kabul dengan ucapan, misalnya via Pos dan Giro.
3. Jual beli dengan perbuatan (saling memberikan) atau dikenal dengan istilah mu‟athah yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan kabul (Suhendi, 2014: 77).
32 C. Dasar Hukum Kebolehan Jual Beli
Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW (Ghazali, 2010: 66). Orang yang sedang melakukan transaksi jual beli tidak dilihat sebagai orang yang sedang membantu saudaranya. Bagi penjual, ia sedang memenuhi kebutuhan pembeli. Sedangkan bagi pembeli, ia sedang memenuhi kebutuhan akan keuntungan yang sedang dicari oleh penjual. Atas dasar inilah aktifitas jual beli merupakan aktifitas mulia, Islam memperkenanya (Afandi, 2009: 54).
Jual beli telah disahkan oleh Al-Quran, sunnah, dan ijma‟. Adapun dalil dari Al-Quran yaitu firman Allah SWT:
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
(QS.Al-Baqarah(2): 275)”
Riba adalah haram dan jual beli adalah halal. Jadi tidak semua akad jual beli adalah haram sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang berdasarkan ayat ini. Hal ini dikarenakan huruf alif dan lam dalam ayat tersebut untuk menerangkan jenis, dan bukan untuk yang sudah dikenal karena sebelumnya tidak disebutkan ada kalimat al-bai‟yang dapat dijadikan referensi, dan jika ditetapkan bahwa jual beli adalah umum, maka ia dapat dikhususkan dengan apa yang telah kami sebutkan berupa riba dan yang lainya dari benda yang dilarang untuk diakadkan seperti
33
minuman keras, bangkai, dan yang lainya dari apa yang disebutkan dalam
sunnah dan ijma‟ para ulama akan larangan tersebut (Azzam, 2010: 26).
Di tempat lain, Allah berfirman dalam Q.S An-Nisa‟ ayat 29 yang berbunyi:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu”
Allah telah mengharamkan memakan harta oranglain dengan cara batil yaitu tanpa ganti dan hibah, yang demikian itu adalah batil berdasarkan ijma umat dan termasuk di dalamnya juga semua jenis akad
yang rusak yang tidak boleh secara syara‟ baik karena ada unsur riba atau
jahalah (tidak diketahui), atau karena kadar ganti yang rusak seperti
minuman keras, babi, dan yang lainya dan jika yang diakadkan itu adalah harta perdagangan, maka boleh hukumnya, sebab pengecualian dalam ayat di atas adalah terputus karena harta perdagangan bukan termasuk harta yang tidak boleh dijual-belikan. Ada juga yang mengatakan istitsna‟ (pengecualian) dalam ayat bermakna lakin (tetapi) artinya, akan tetapi,
34
makanlah dari harta perdagangan, dan perdagangan merupakan gabungan antara penjualan dan pembelian.
Adapun dalil sunah diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW beliau bersabda:”sesungguhnya jual beli itu atas
dasar saling ridha”. Ketika ditanya tentang usaha apa yang paling utama, Nabi Muhammad SAW menjawab:”usaha seseorang dengan tanganya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur.” Jual beli yang mabrur adalah setiap jual beli yang tidak ada dusta dan hianat, sedangkan dusta itu adalah menyembunyikan aib barang dari penglihatan pembeli. Adapun makna hianat ia lebih umum dari itu sebab selain menyamarkan bentuk barang yang dijual, sifat, atau hal-hal luar seperti dia menyifatkan dengan sifat yang tidak benar atau memberi tahu harga yang dusta (Azzam, 2010: 27).
Sedangkan para ulama telah sepakat mengenai kebolehan akad jual
beli. Ijma‟ ini memberikan hikmah bahwa kebutuhan manusia
berhubungan dengan sesuatu yang ada dalam kepemilikan orang lain, dan kepemilikan sesuatu itu tidak akan diberikan dengan begitu saja, namun harus ada kompensasi sebagai imbal baliknya. Sehingga dengan disyariatkannya jual beli tersebut merupakan salah satu cara untuk merealisasikan keinginan dan kebutuhan manusia, karena pada dasarnya, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dan bantuan orang lain (Djuawaini, 2008: 73).
35 D. Rukun dan Syarat Jual Beli
Di kalangan fuqaha terdapat perbedaan mengenai rukun jual beli. Menurut fuqaha kalangan Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan kabul. Sedangkan menurut jumhur ulama, rukun jual beli terdiri dari akad (ijab
dan kabul), „aqid (penjual dan pembeli), ma‟qud alaih (objek akad). Akad adalah kesepakatan (ikatan) antara pihak pembeli dengan pihak penjual. Akad ini dapat dikatakan sebagai inti dari proses berlangsungnya jual beli, karena tanpa adanya akad tersebut, jual beli belum dikatakan sah. Disamping itu akad ini dapat dikatakan sebagai bentuk kerelaan (keridhaan) antara dua belah pihak. Kerelaan memang tidak dapat dilihat, karena ia berhubungan dengan hati (batin) manusia, namun indikasi adanya kerelaan tersebut dapat dilihat dengan adanya ijab dan kabul antara dua belah pihak (Huda, 2011: 55).
Adanya kerelaan tidak dapat dilihat sebab kerelaan berhubungan dengan hati, kerelaan dapat diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, tanda yang jelas menunjukan kerelaan adalah ijab dan kabul, Rasulullah SAW bersabda :
َّنَق َتَْ َيَ َلَ َل اَق م ص ُّ ِبَِّنلا ِنَع ضر َةَرْي َرُه ِبِ َأ ْنَع
ْنَع َّلَٕا ِن اَنْث ِا
)يذمتَلا و دواد وب ا هور( ٍض ا َرَت
“dari abi hurairah R.A. dari Nabi SAW bersabda: janganlah dua orang
yang jual beli berpisah, sebelum saling meridhai” (Riwayat Abu Daud
36
ُّ ِبَِّنلا َلاَق
ص
ْنَع ُعْيَبْلا اَمَّهِا م
)ةامج نباةاور( ٍضاّرَت
“Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya jual beli hanya sah dengan
saling merelakan” (Riwayat Ibn Hibban dan Ibn Majah).
Jual beli yang menjadi kebiasaan, misalnya jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan ijab dan kabul, ini adalah pendapat jumhur. Menurut fatwa ulama syafiiyah, jual beli barang-barang yang kecilpun harus ijab dan kabul, tetapi menurut imam Al-Nawawi dan
ulama mutaakhirin Syafi‟iyah berpendirian bahwa boleh jual beli barang- barang yang kecil dengan tidak ijab dan qabul seperti membeli sebungkus rokok (Suhendi, 2014: 70).
Oleh karena perjanjian jual beli ini merupakan perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terjadinya peralihan hak atas sesusatu barang dari pihak penjual kepada pihak pembeli, maka dengan sendirinya dalam perbuatan hukum ini haruslah dipenuhi rukun dan syarat syahnya jual beli. Adapun yang menjadi rukun dalam perbuatan hukum jual beli terdiri dari :
1. Adanya pihak penjual dan pembeli 2. Adanya uang dengan benda, dan 3. Adanya lafaz.
37
Dalam suatu perbuatan jual beli, ketiga rukun ini hendaklah dipenuhi, sebab andai kata salah satu rukun tidak terpenuhi, maka perbuatan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan jual beli.
Agar jual beli yang dilakukan oleh pihak penjual dan pihak pembeli sah, haruslah dipenuhi syarat-syarat yaitu :
1. Penjual dan Pembeli.
a. Baligh berakal agar tidak mudah ditipu orang. Batal akad anak kecil, orang gila, orang bodoh, sebab mereka tidak pandai mengendalikan harta. Oleh karena itu, anak kecil, orang gila dan orang bodoh tidak boleh menjual harta sekalipun miliknya, Allah berfirman:
ُثْؤُث َلَ َو
)ة:ءٓآسنلا( ْ ُكَُلاَوْمَا َءٓآَهَف ُّسلاا ؤ
“Dan janganlah kamu berikan hartamu kepada orang-
orang yang bodoh” (Al-Nisa:5)
Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa harta tidak boleh
diserahkan kepada orang bodoh. „Illat larangan tersebut
ialah karena orang bodoh tidak cakap dalam mengendalikan harta, orang gila dan anak kecil juga tidak cakap dalam mengelola harta sehingga orang gila dan anak kecil juga tidak sah melakukan ijab qabul.
b. Kehendak sendiri (bukan pksaan)
Tidak sah jika ada unsur pemaksaan terhadap hartanya tanpa kebenaran karena tidak ada kerelaan darinya.
38
c. Tidak mubazir (pemborops), sebab harta orang yang mubazir itu ditangan walinya.
d. Beragama Islam, syarat ini khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu, misalnya seseorang dilarang menjual hambanya yang beragama selain Islam sebab besar kemungkinan pembeli tersebut akan merendahkan abid yang beragama Islam, sedangkan Allah melarang orang- orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan mukmin, firman-Nya:
“Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang
kafir untuk menghina orang mukmin” (Al-Nisa:141)
(Suhendi, 2014: 74-75).
2. Ma‟qud „Alaih (barang atau harga).
Menurut Aziz (2010: 47) bahwa al-ma‟uqud alaih adalah harga dan barang yang dihargakan. Untuk melengkapi keabsahan jual beli, barang atau harga harus memenuhi syaratnya yaitu:
a. Suci atau mungkin untuk disucikan sehingga tidak sah penjualan benda-benda seperti anjing, babi dan yang lainnya.
39
b. Memberi manfaat menurut syara‟, maka dilarang jual beli benda-benda yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut
syara‟, seperti menjual babi, kala, cicak dan yang lainnya.
c. Jangan ditaklikan, yaitu dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal lain, seperti jika ayahku pergi, kujual motor ini kepadamu.
d. Tidak dibatasi waktunya, seperti kujual motor ini kepada Tuan selama satu tahun, maka penjualan tersebut tidak sah sebab jual beli merupakan salah satu sebab pemilikan secara penuh yang tidak dibatasi apapun kecuali ketentuan
Syara‟.
e. Dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat. f. Milik sendiri.
g. Diketahui (dilihat).
3. Lafaz shighat (Aziz, 2010: 29). a. Pengertian Lafadz shighat
Shighat adalah ijab dan qabul. Ijab diambil dari kata anjaba yang artinya meletakkan, dari pihak penjual yaitu pemberian hak milik, dan qabul yaitu orang yang menerima hak milik(Aziz, 2010: 29).
40
a) Jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.
b) Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab
dan qabul.
c) Beragam Islam, syarat khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu, misalnya seseorang dilarang menjual hambanya yang beragama Islam kepada pembeli yang tidak beragama Islam, sebab besar kemungkinan pembeli tersebut akan merendahkan abid yang beragama Islam, sedangkan Allah melarang orang-orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan mukmin.