BAB II PENGATURAN TRANSAKSI E-COMMERCE DALAM
B. Jual Beli Menurut Hukum Perdata Indonesia
Istilah perjanjian jual beli berasal dari terjemahan contract of sale.
Perjanjian jual beli dapat dilihat pengaturannya dalam Pasal 1457 sampai dengan Pasal 1540 KUH Perdata. Menurut Pasal 1457 KUH Perdata, jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jual beli adalah persetujuan saling mengikat antara penjual, yakni pihak yang menyerahkan barang dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga barang yang dijual.92 Di sini dapat diambil unsur essensialia dari jual beli, yaitu penjual menyerahkan barang (obyek jual beli), dan pembeli membayar harga.
Jual beli adalah suatu kontrak dimana 1 (satu) pihak, yakni yang disebut dengan pihak penjual, mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda, sedangkan pihak lainnya, yang disebut dengan pihak pembeli, mengikatkan dirinya untuk membayar harga barang atau jasa tersebut sebesar yang telah disepakati bersama. Pada setiap jual beli sekurang-kurangnya terdapat 2 (dua) pihak, yaitu pihak penjual yang berkewajiban menyerahkan barang atau jasa obyek, dan pihak pembeli yang berkewajiban membayar harga permintaan.93
92 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000, hal. 366
93 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, Cetakan III, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008, hal. 25
2. Momentum Terjadinya Jual Beli
Perjanjian jual beli terjadi berawal sejak adanya penawaran. Penawaran adalah pernyataan dari satu pihak mengenai usul dari suatu ketentuan perjanjian atau usul untuk menutup perjanjian kepada pihak lainnya yang menerima penawaran.94 Penawaran tersebut dapat berasal dari penjual maupun pembeli.
Penawaran dapat dilakukan baik secara eksplisit maupun implisit kemudian disampaikan kepada pembeli. Pernyataan kehendak secara implisit dapat dituangkan secara simbol atau diam-diam. Apabila pembeli menerima penawaran tersebut, maka terjadilah kata sepakat. Kata sepakat itu kemudian dituangkan dalam bentuk pernyataan kehendak. Pernyataan kehendak tersebut harus merupakan bahwa yang bersangkutan menghendaki timbulnya hubungan hukum. Kehendak itu harus nyata bagi orang lain, dan harus dapat dimengerti oleh pihak lain.95 Pada saat terjadi kata sepakat, perjanjian jual beli sudah mengikat kedua belah pihak. Dengan adanya kata sepakat tersebut, pada saat itu pula lahir perjanjian jual beli.
Menurut Idris Zainal, adanya persamaan kehendak sebenarnya adalah kurang tepat, yang tepat adalah yang mereka kehendaki adalah sama dalam kebalikannya, misalnya yang satu ingin melepaskan hak milik atas suatu barang asalkan diberikan sejumlah uang tertentu sebagai gantinya. Sedangkan yang lainnya ingin memperoleh hak milik atas barang tersebut dan bersedia memberikan sejumlah uang kepada pemilik barang.96
94 Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia... Op.cit, hal. 169
95 J. Satrio, Dari Perjanjian Buku I... Op.cit, hal. 175
96Idris Zainal, Segi-Segi Hukum Pada Perjanjian Jual-beli, FH USU, Medan, 1996, hal. 49-50
Proses terjadinya jual beli dalam Pasal 1458 KUH Perdata, antara lain : 97 a. Apabila kedua belah pihak telah sepakat mengenai harga dan barang,
walaupun barang tersebut belum diserahkan dan harganyapun belum dibayar, perjanjian jual beli ini dianggap sudah jadi.
b. Jual beli yang memakai masa percobaan dianggap terjadi untuk sementara.
Sejak disetujuinya perjanjian jual beli secara demikian, penjual terus terikat, sedang pembeli baru terikat kalau jangka waktu percobaan itu telah lewat dan telah dinyatakan setuju.
c. Sejak diterima uang muka dalam pembelian dengan pembayaran uang muka.
Kedua belah pihak tak dapat membatalkan perjanjian jual beli itu, meskipun pembeli membiarkan uang muka tersebut pada penjual, atau penjual membayar kembali uang muka itu kepada pembeli.
Sejak terjadi kata sepakat antara para pihak atau sejak pernyataan sebelah-menyebelah bertemu yang kemudian diikuti sepakat, kesepakatan itu sudah cukup secara lisan saja.98 Kesepakatan itu penting diketahui karena merupakan awal terjadinya perjanjian. Untuk mengetahui kapan kesepakatan itu terjadi ada beberapa macam teori / ajaran, yaitu :99
a. Teori Pernyataan, mengajarkan bahwa sepakat terjadi saat kehendak pihak yang menerima tawaran menyatakan bahwa ia menerima penawaran itu, misalnya saat menjatuhkan bolpoin untuk menyatakan menerima.
97 C.S.T.Kansil, Hukum Perdata I (Termasuk Asas – Asas Hukum Perdata, PT. Pradnya Paramita, Jakarta,1991, hal. 236.
98 Ibid, hal. 229.
99 Salim HS., Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,2003, hal. 30-31.
Kelemahannya sangat teoretis karena dianggap terjadinya kesepakatan secara otomatis.
b. Teori pengiriman, mengajarkan bahwa sepakat terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima tawaran.
Kelemahannya adalah bagaimana hal itu bisa diketahui? Bisa saja walaupun sudah dikirim tetapi tidak diketahui oleh pihak yang menawarkan.
c. Teori Pengetahuan, mengajarkan bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima (walaupun penerimaan itu belum diterimanya dan tidak diketahui secara langsung). Kelemahannya, bagaimana ia bisa mengetahui isi penerimaan itu apabila ia belum menerimanya.
d. Teori Penerimaan, mengajarkan kesepakatan terjadi pada saat pihak yang menawarkan menerima langsung jawaban dari pihak lawan.
Perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus didasarkan pada konsensus atau kesepakatan. Dengan asas konsensualisme, perjanjian dikatakan telah lahir jika ada kata sepakat atau persesuaian kehendak di antara para pihak yang membuat perjanjian tersebut.100
Memperoleh hak milik atas suatu benda tidak dapat dilakukan dengan cara selain dengan pemilikan, perlekatan, daluarsa, pewarisan, dan penunjukan atau penyerahan (Pasal 584 KUH Perdata). Menurut Subekti, di dalam sistem hukum KUH Perdata, suatu perjanjian jual beli belumlah membuat hak milik atas benda berpindah jika tanpa disertai dengan perbuatan levering.101
100 Ridwan Khairandy, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Tesis, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, hal. 27.
101 Subekti. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Cet XXXV, Intermasa, Jakarta, 2013, hal. 71
Oleh karena itu setelah terjadinya persetujuan untuk mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian jual beli sebagaimana dalam pengertian Pasal 1457 KUHPerdata, maka terdapat dua kewajiban:
1. kewajiban pihak penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli 2. kewajiban pihak pembeli membayar harga barang yang dibeli kepada penjual.
3. Pihak-Pihak Dalam Jual Beli
Pada pasal 1319 KUHPerdata, perjanjian dibedakan menjadi dua macam yaitu perjanjian bernama (nominaat) dan tidak bernama (innominaat). Jual beli termasuk bagian dari perjanjian bernama (nominaat).
Jual beli merupakan suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu hak kebendaan, dan pihak lain membayar sesuai harga yang diperjanjikan (1457 KUHPerdata).
Pada dasarnya dalam sebuah perjanjian apakah itu perjanjian yang bernama atau tidak bernama pihak yang terkait di dalamnya dapat dibagi atas pihak pertama (kreditur), pihak kedua (debitur) dan pihak ketiga. Pihak-pihak dalam perjanjian diatur secara sporadis di KUHPerdata yaitu dalam Pasal 1315, 1340,1317, dan 1318.
Adapun bunyi dari pasal-pasal tersebut sebagai berikut:
Pasal 1315 KUHPerdata, berbunyi:
Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.
Pasal 1317 KUHPerdata, berbunyi:
Dapat pula diadakan perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung syarat semacam itu. Siapa pun yang telah menentukan suatu syarat, tidak boleh menariknya kembali, jika pihak ketiga telah menyatakan akan mempergunakan syarat itu. (KUHPerd.
1323, 1338, 1669 dst., 1688, 1778, 1823.) Pasal 1318 KUHPerdata, berbunyi:
Orang dianggap memperoleh sesuatu dengan perjanjian untuk diri sendiri dan untuk ahli warisnya dan orang yang memperoleh hak daripadanya, kecuali jika dengan tegas ditetapkan atau telah nyata dari sifat perjanjian itu bahwa bukan itu maksudnya. (KUHPerd. 175, 178, 807-1?, 833, 955, 1575, 1612, 1743, 1784, 1813, 1826.)
Pasal 1340 KUHPerdata, berbunyi:
Persetujuan hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya.
Persetujuan tidak dapat merugikan pihak ketiga; persetujuan tidak dapat memberi keuntungan kepada pihak ketiga selain dalam hal yang ditentukan dalam pasal 1317. (KUHPerd. 1178, 1523, 1815, 1818, 1857;
F. 152.)
Berdasarkan ketentuan pasal-pasal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perjanjian tidak dapat terjadi seorang diri. Jual beli dalam hukum perdata melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli dan dapat pula melibatkan pihak ketiga.
Perjanjian jual beli adalah perjanjian yang terjadi antara dua pihak, yaitu pihak pertama sebagai penjual, sedangkan pihak kedua sebagai pembeli. Dalam perjanjian jual beli, tiap-tiap pihak memikul hak dan kewajiban. Pihak kedua berhak menerima barang, sedangkan pihak pertama berhak menerima uang sebagai pengganti barang. Pihak kedua berkewajiban membayar harga barang dengan uang, sedangkan pihak pertama berkewajiban menyerahkan barang yang sudah dibeli.
Untuk terjadinya perjanjian ini cukup jika kedua belah pihak sudah mencapai persetujuan tentang barang dan harganya sesuai dengan asas konsensual. Dengan asas konsensualisme, perjanjian dikatakan telah lahir jika ada kata sepakat atau persesuaian kehendak diantara para pihak yang membuat perjanjian tersebut. Namun demikian perjanjian tersebut belum memindahkan hak kebendaan atas barang yang diperjualbelikan. Kesepakatan jual beli hanya membentuk hak dan kewajiban sesuai asas obligatoir, yaitu meletakkan kepada penjual kewajiban untuk menyerahkan hak milik atau barang yang dijualnya, sekaligus memberikan kepadanya hak untuk menuntut pembayaran harga yang telah disetujui, dan di sebelah lain meletakkan kewajiban kepada pembeli untuk membayar harga barang sebagai imbalan haknya untuk menuntut penyerahan hak milik atas barang yang telah dibelinya. Untuk memindahkan hak kebendaan atas barang yang dijualbelikan diperlukan tindakan hukum kebendaan yaitu penyerahan (levering). Levering pada jual beli online tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan terjadinya kesepakatan dan terdapat peran pihak ketiga dalam levering, yaitu pihak jasa pengiriman barang.
4. Kewajiban Para Pihak
Setiap perjanjian jual beli akan menimbulkan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian itu. Hak dan kewajiban ini adalah: 102 a. Hak yang diberikan kepada penjual untuk medesak pembeli membayar harga,
tetapi penjual juga berkewajiban menyerahkan barangnya kepada pembeli.
102 C.S.T.Kansil, Modul Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 2010, h 238
b. Hak yang diberikan pembeli untuk mendesak kepada penjual menyerahkan barangnya yang telah dibeli, tetapi pembeli juga berkewajiban membayar harga pembelian tersebut.
Di dalam hubungan transaksi jual beli, kedua belah pihak yaitu produsen dan konsumen, dibebankan hak-hak serta kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur masing- masing di dalam Pasal 1513-1518 KUHPerdata untuk pembeli dan Pasal 1474-1512 KUHPerdata untuk penjual. Sebagaimana terdapat pada Pasal 1474 KUHPerdata, kewajiban utama penjual adalah menyerahkan barang dan menanggungnya.103
Menyerahkan barang artinya memindahkan penguasaan atas barang yang dijual dari tangan penjual kepada pembeli. Penyerahan itu dapat dilakukan bersamaan dengan terjadinya kesepakatan, dengan diikuti pembayaran dari pembeli, atau dalam jangka waktu tertentu dengan syarat penyerahan bisa atau disepakati dilakukan pada waktu berbeda dengan saat tercapainya kesepakatan.
Perjanjian jual beli menurut hukum perdata Indonesia merupakan perjanjian obligator bukan perjanjian kebendaan. Untuk itu penjual masih wajib menyerahkan barang jualannya kepada pembeli.
Sedangkan, maksud menanggung (Pasal 1474 KUHPerdata), merupakan kewajiban penjual untuk memberi jaminan atas ketentraman dan jaminan dari kemungkinan adanya cacat tersembunyi (hidden defects). Penjual itu wajib untuk menjamin bahwa pembeli tidak akan terganggu dengan orang lain dalam hal memakai atau mempergunakan barang yang dibelinya. Ini merupakan
103 Hillary Ayu Sekar Gusti, Wanprestasi Penjual Dalam Perjanjian Jual Beli E-Commerce, Tesis Program Studi Magister Ilmu Hukum, Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, 2018, hal.62
konsekuensi dari jaminan yang diberikan oleh penjual kepada pembeli bahwa barang yang dijualnya adalah benar-benar miliknya sendiri, bebas dari sesuatu beban maupun tuntutan sesuatu pihak.104
Ketika debitur melakukan wanprestasi terhadap perjanjiannya dengan kreditur, disitulah muncul kewajiban tanggung jawab debitur selaku konsumen.
Tanggung jawab tersebut lahir karena seorang kreditur menderita kerugian akibat debitur tidak memenuhi prestasinya.
Pasal 1267 KUHPerdata mengatur mengenai hak-hak kreditur yang merupakan alternatif upaya hukum untuk mendapatkan hak-haknya kembali. Isi pasal tersebut adalah :105
1) Meminta pelaksanaan perjajian, atau 2) Meminta ganti rugi, atau
3) Meminta pelaksanaan perjanjian sekaligus meminta ganti rugi, atau
4) Dalam perjanjian timbal balik dapat dimintakan pembatalan perjanjian sekaligus meminta ganti rugi.
Selain itu, apabila kreditur dirugikan akibat debitur yang lalai berprestasi, kreditur dapat mengajukan pembatalan perjanjian yang dimintakan kepada hakim.
Namun sebelum itu, kreditur selaku pelaku usaha harus membuktikan terlebih dahulu kesalahan debitur (kesalahan tidak berprestasi), kerugian yang diderita, dan hubungan kausual antara kerugian dan wanprestasi.
Apabila hal-hal tersebut dapat membuktikan bahwa benar debitur lalai berprestasi maka menurut isi Pasal 1266 ayat (1) KUHPerdata, menentukan
104 Ibid, hal.63
105 Ridwan Khairady, Hukum Kontrak Indonesia : dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama), UII Press, Jakarta, 2013, hal. 282.
perjanjian dapat dibatalkan.106 Kesalahan debitur disini tidak dapat serta merta dijatuhkan sanksi karena debitur memiliki hak membela diri dari sanksi akibat ia dinyatakan lalai. Debitur dapat mengajukan beberapa alasan untuk membebaskan dirinya dari sanksi, alasan tersebut berupa :107
1) Mengajukan alasan bahwa tidak berprestasinya debitur karena adanya keadaan yang memaksa (overmacht, force majeur);
2) Mengajukan alasan bahwa tidak berprestasinya debitur karena kreditur selaku pelaku usaha telah lalai (exceptio non adimpleti contractus);
3) Mengajukan alasan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi.
Kewajian dari penjual dapat dijumpai pada Pasal 1474 KUHPerdata yang pada pokoknya mewajibkan penjual untuk:
1). Menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli
2). Memberi tanggungan atau jaminan bahwa barang yang dijual tidak mempunyai sangkutan apapun baik berupa tuntutan atau pembebanan.
C. Pengaturan Transaksi E-Commerce Dalam Hukum Indonesia