• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TRANSAKSI E-COMMERCE DALAM

B. Pihak-Pihak Dalam Kontrak Dagang Elektronik

Pada transaksi jual beli online (e-commerce), para pihak yang terkait didalamnya melakukan hubungan hukum yang dituangkan melalui suatu bentuk perjanjian atau kontrak yang dilakukan secara elektronik dan sesuai dengan Pasal

139 Hasim Purba, Kontrak Elektronik, op.cit., hal. 1

140 Taryana Soenandar, dkk. Op.cit, hal. 283

141 Andika Wijaya, Pengantar Hukum Dagang,Setara Press, Malang, 2017, HAL. 96

(1) butir 17 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) disebut sebagai kontrak elektronik yakni perjanjian yang dimuat dalam dokumen elektronik atau media elektronik lainnya.

Beberapa unsur dari e-commerce, yaitu:

a. Ada kontrak dagang;

b. Kontrak itu dilaksanakan dengan media elektronik;

c. Kehadiran fisik dari para pihak tidak diperlukan;

d. Kontrak itu terjadi dalam jaringan publik;

e. Sistemnya terbuka, yaitu dengan internet;

f. Kontrak itu terlepas dari batas, yuridiksi nasional;

Dengan mengacu pada ketentuan Pasal 1315, 1317, 1318 dan 1340 KUHPerdata dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, maka dalam sebuah proses jual beli dalam dunia e-commerce terdapat beberapa pihak yaitu, merchant/pelaku usaha yang melakukan penjualan dan buyer/customer/

yang berperan sebagai pembeli. Selain pelaku usaha dan konsumen, dalam transaksi jual beli melalui media internet juga melibatkan provider sebagai penyedia jasa layanan jaringan internet dan bank sebagai sarana pembayaran maupun perusahaan jasa pengiriman barang.

Adapun mekanisme terjadinya jual beli online antara lain sebagaimana pada skema berikut :

Gambar 2. Proses Pengiriman Barang

Sumber:http://bajuonlinemalang.blogspot.com/2012/11/resellerwelcome.html?m=

1

Gambar 3. Skema Dropship Sumber :http://www.tokome.id/skema-dropship

Berdasarkan beberapa skema kegiatan jual beli melalui media internet, yang peneliti lampirkan diatas, maka berikut peneliti uraikan beberapa pihak yang terlibat dalam perjanjian juali beli melalui media internet sebagai berikut:

a). Pihak penjual/seller/merchant/marketplace/pengusaha

Penjual merupakan pihak yang menawarkan produk melalui internet oleh karena itu seorang penjual wajib memberikan informasi secara benar dan jujur atas produk yang ditawarkan kepada pembeli atau konsumen. Di samping itu penjual juga harus menawarkan produk yang diperkenankan oleh undang-undang, maksudnya barang yang ditawarkan tersebut bukan barang yang bertentangan dengan peraturan perunfang-undangan, tidak rusak ataupun mengandung cacat tersembunyi, sehingga barang yang ditawarkan tersebut adalah barang yang layak untuk diperjualbelikan. Dengan demikian transaksi jual beli tidak menimbulkan kerugian bagi siapapun yang membelinya.

Pengaturan kewajiban dari pihak merchant dalam KUHPerdata sama halnya dengan pengaturannya kewajiban penjual pada umumya. Umumnya dalam hal jual beli, pihak penjual mempunyai kedudukan lebih kuat dibanding dengan kedudukan pembeli yang lebih lemah.

Berdasarkan Pasal 1474 KUHPerdata, pada intinya kewajiban penjual menurut pasal tersebut terdiri dari dua:

1) Kewajiban penjual untuk menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli;

2) Kewajiban penjual untuk menanggung atau menjamin (vrijwaring) atas barang yang dijual.

Kemudian dalam Pasal 1491 KUHPerdata menyebutkan bahwa Penanggungan yang menjadi kewajiban penjual terhadap pembeli adalah untuk menjamin dua hal, yaitu: pertama penguasaan barang yang dijual itu secara aman dan tentram; kedua, tidak adanya cacat yang tersembunyi pada barang tersebut, atau yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan alasan untuk pembatalan pembelian yang dikarenakan penjual tidak memenuhi prestasi yang telah di perjanjikan sebelemunya dalam pelaksanaan jual beli melalui perantara.

Apabila transaksi jual beli dilakukan dengan sistem pesanan maka pelaku usaha atau penjual harus menyepakati kesepakatan yang telah dibuat dengan konsumen atau pembeli sehingga tidak melampaui batas waktu yang telah diperjanjikan.

Bagi para pelaku usaha atau penjual yang menawarkan produknya melalui suatu iklan, tidak diperkenankan mengelabui konsumen mengenai kualitas, kwantitas, bahan, kegunaan, harga barang atau jasa, jaminan garansi atas barang dan/atau jasa, dan tidak diperbolehkan memberikan informasi yang salah mengenai barang dan/atau jasa yang ditawarkan termasuk resiko pemakaian serta hal lain yang dianggap melanggar etika periklanan.

Pasal 49 ayat (1) PP PSTE menegaskan bahwa Pelaku Usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik wajib menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan. Lebih lanjut ditegaskan lagi bahwa Pelaku Usaha wajib memberikan kejelasan informasi tentang penawaran kontrak atau iklan.

Sedangkan marketplace adalah sebuah website atau aplikasi online yang memfasilitasi proses jual beli dari berbagai toko. Sebenarnya online marketplace memiliki konsep yang kurang lebih sama dengan pasar tradisional. Pada dasarnya, pemilik marketplace tidak bertanggung jawab atas barang-barang yang dijual karena tugas mereka adalah menyediakan tempat bagi para penjual yang ingin berjualan dan membantu mereka untuk bertemu pelanggan dan melakukan transaksi dengan lebih simpel dan mudah. Transaksinya sendiri memang diatur oleh marketplacenya. Kemudian setelah menerima pembayaran, penjual akan mengirim barang ke pembeli. Salah satu alasan mengapa marketplace terkenal adalah karena kemudahan dan kenyamanan dalam penggunaan. Banyak yang menggambarkan online marketplace seperti department store.

Adapun beberapa marketplace di Indonesia sendiri antara lain Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Blibli.com, Shopee, JD.ID, Elevenia, Bhinneka dan lainnya dimana masing-masing marketplace memiliki berbagai macam penawaran dan perbedaan syarat-syarat transaksinya.142

b) Reseller

Reseller ialah sebuah kelompok “perusahaan” atau individu “perorangan”

yang membeli barang atau jasa dengan tujuan untuk menjualnya kembali. Bukan untuk dikonsumsi atau digunakan sendiri, namun untuk dijual kembali, guna untuk memperoleh keuntungan dari hasil penjualannya tersebut.

Sebagai penyalur barang dan jasa dalam sistem perdagangan, keagenan dan distributor memiliki berbagai macam hubungan kerja dengan berbagai pihak,

142 www.dewaweb.com,, diakses pada tanggal 10 Mei 2020 pukul 15.08 WIB

terutama dengan mitra kerja utamanya pengecer (retailer) dan khususnya, produsen. Jika pengecer-pengecer dapat dimasukkan pula sebagai agen/distributor, maka kedudukan agen / distributor berada di tengah-tengah antara produsen dan konsumen.143

Agen adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan hukum dan menciptakan akibat hukum untuk kepentingan orang lain. Hal ini berbeda dengan asas hukum yang berlaku umum bahwa seseorang melakukan suatu perbuatan hukum dengan maksud untuk memperoleh atau untuk menciptakan akibat hukum untuk dirinya sendiri.144

Pada dasarnya KUH Perdata sama sekali tidak mengatur tentang keagenan.

Namun demikian, beberapa penulis agaknya sepakat bahwa Pasal 1792 KUH Perdata yang mengatur tentang pemberian kuasa dianggap sebagai ketentuan umum (lex generalis) yang mengakomodiasi dasar hukum hubungan keagenan.

Pasal 1792 KUH Perdata menyatakan bahwa, “Pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan”. Prof.

Asikin menyamakan pemberian kuasa ini dengan pemberian tugas, yaitu mengandung kewajiban bahwa pihak yang menerima tugas (apdracht) wajib melakukan tugas tersebut.145

Hubungan antara prinsipal dengan agen pada prinsipal didasarkan pada suatu kesepakatan (consent), yaitu agen setuju untuk melakukan suatu perbuatan

143 Ezra Ridel Moniung, “Perjanjian Keagenan Dan Distributor Dalam Perspektif Hukum Perdata”, Lex Privatum, Nomor.1, Maret 2015, h. 127.

144 Ibid. h. 129.

145 Ibid.

hukum bagi prinsipal dan pada sisi lain prinsipal setuju atau perbuatan hukum yang dilakukan oleh agen tersebut. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka tanggung jawab atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh agen dibebankan kepada prinsipal.146

Jika diperhatikan lebih mendalam, maka akan terlihat perbedaan yang spesifik antara agen dan distributor, yaitu :147

a. Agen :

1. Pihak yang menjual barang atau jasa untuk dan atas nama prinsipal.

2. Pendapatan yang diterimanya berupa komisi berdasarkan jumlah barang atau jasa yang dijualnya kepada konsumen.

3. Barang dikirimkan langsung dari prinsipal ke konsumen jika antara agen dengan konsumen mencapai suatu persetujuan.

4. Pembayaran atas barang yang telah diterima konsumen langsung kepada prinsipal bukan melalui agen.

b. Distributor :

1. Perusahaan yang bertindak untuk dan atas nama sendiri.

2. Membeli dari prinsipal yang menjual kembali kepada konsumen kepentingannya sendiri

3. Prinsipal tidak selalui mengetahui konsumen akhir dari produk-produknya 4. Bertanggung jawab atas keamanan pembayaran barang-barangnya untuk

kepentingan sendiri.

146 Ibid.,

147 Ari Wahyudi Hertanto, “Aspek – Aspek Hukum Perjanjian Distributor Dan Keagenan (Suatu Analisis Keperdataan)”,Jurnal Hukum dan Pembangunan, No. 3, Juli – September 2007, h.

391.

Kendati terdapat perbedaan konsep, terkandung ciri menonjol dalam diri agen/distributor, yakni peranannya sebagai “pintu keluar” barang dan jasa menuju konsumen. Karakter ini menyebabkan ia mempunyai hubungan hukum yang sangat dekat dengan penghasilan barang (fabricant). Pola hubungan hukum ini dapat berupa pemberian kuasa sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1792 KUHP dan seterusnya seperti pada sole distributor (distributor tunggal), atau pola-pola lain yang sepenuhnya bebas dari ikatan hubungan yang bersifat agency yang menumbuhkan hubungan hukum yang bersifat sub ordinate (adanya hubungan hukum atas bawah).

Perjanjian keagenan / distributor secara khusus tidak dikenal dalam KUH Perdata dan KUHD. Sehingga perjanjian itu dapat digolongkan dalam perjanjian innominat (perjanjian tidak bernama) serta keberadaannya dimungkinkan berdasarkan asas konsensualisme.

Jadi bila dilihat maka peran reseller dalam jual beli online sama halnya dengan peran agen dalam jual beli konvensional.

Seorang reseller membeli barang dari mana saja, bisa dari pihak produsen, supplier, distributor, agen, toko grosir, reseller lain dan lain sebagainya.

Kemudian seorang reseller menstok berbagai barang atau persediaan yang akan ia jual kembali. Barang tersebut di promosikan kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi dari harga awal yang dibeli oleh reseller sebelumnya.148 c). Pihak buyer /pembeli

148 www.dosenpendidikan.co.id, diakses pada tanggal 30 April 2020 pukul 22.12

Selain itu kewajiban pembeli yang terdapat dalam KUHPerdata Pasal berikut:

1. Pasal 1513, Kewajiban utama pembeli adalah membayar harga pembelian pada waktu dan di tempat yang ditetapkan dalam persetujuan.

2. Pasal 1514, Jika pada waktu membuat persetujuan tidak ditetapkan hal-hal itu, pembeli harus membayar di tempat dan pada waktu penyerahan.

3. Pasal 1515, Pembeli walaupun tidak ada suatu perjanjian yang tegas, wajib membayar bunga dari harga pembelian, jika barang yang dijual dan diserahkan memberi hasil atau pendapatan lain.

4. Pasal 1516, Jika dalam menguasai barang itu pembeli diganggu oleh suatu tuntutan hukum yang didasarkan hipotek atau suatu tuntutan untuk memperoleh kembali barang tersebut, atau jika pembeli mempunyai suatu alasan yang patut untuk khawatir akan diganggu dalam penguasaannya, maka ia dapat menangguhkan pembayaran harga pembelian sampai penjual menghentikan gangguan tersebut, kecuali jika penjual memilih memberikan jaminan atau jika telah diperjanjikan bahwa pembeli wajib membayar tanpa mendapat jaminan atas segala gangguan.

5. Pasal 1517, Jika pembeli tidak membayar harga pembelian, maka penjual dapat menuntut pembatalan jual beli itu menurut ketentuan-ketentuan Pasal 1266 dan 1267.

6. Pasal 1518, Meskipun demikian, dalam hal penjualan barangbarang dagangan dan perabot rumah, pembatalan pembelian untuk kepentingan penjual terjadi demi hukum dan tanpa peringatan, setelah lewatnya waktu yang ditentukan untuk mengambil barang yang dijual.

Dalam jual melalui media internet pada dasarnya aturan-aturan dalam KUHPerdata tentang kewajiban dari pembeli tersebut tidak dapat sepenuhnya diterapkan misalnya dalam hal penundaan pembayaran, dengan penerapan standard kontrak oleh merchant mustahil pembeli dapat meminta penundaan pembayaran atau pembayaran yang sebagian, karena sifat dari perjanjian batu yang “take it or leave it”.149

d) Dropshipper

Dropshipping adalah suatu sistem jual beli di mana dropshipper menjual produk yang tidak dimilikinya. Dropshipper hanya bermodalkan sampel foto dari

149 Ibid

barang milik supplier, biasanya berupa foto, yang kemudian dipasarkan kepada konsumen dengan harga yang ditentukan oleh dropshipper, jika terjual maka dropshipper membeli barang dari supplier dengan meminta tolong kepada supplier untuk mengirimkan barangnya kepada konsumen atas nama toko dropshipper.150 Dengan demikian dalam pelaksanaan transaksi jual beli dropshipping melibatkan para pihak yaitu supplier, dropshipper, dan pembeli.

Dalam sistem ini, dropshipper hanya menjadi perantara untuk konsumen dengan pihak penjual atau supplier yang sebenarnya. Dropshipper tidak pernah menyetok dan menyediakan tempat penyetokan barang melainkan hanya mempromosikan melalui toko online dengan memasang foto serta kriteria barang dan harga.

Dropshipper atau disebut juga Reseller Dropshipper adalah pihak yang mengiklankan barang, menjual barang tanpa memiliki barang tersebut melalui toko online miliknya, yang kemudian mengorganisasi agar barang yang dipesan dikirim langsung dari supplier kepada konsumen. 151

Hubungan hukum antara reseller dropship dengan konsumen adalah hubungan hukum penjual dengan pembeli. Setelah konsumen melakukan pembayaran kepada pihak penjual selanjutnya konsumen melakukan konfirmasi terkait pembayaran tersebut kepada pihak Penjual. Penjual akan segera memproses pesanan dari pihak konsumen tersebut hingga barang diterima oleh konsumen

150 Catur Hadi Purnomo, Jualan Online dengan Dropshipping, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2012, hal. 65.

151 Rico Huang dan Seno Aji Airlangga, Menjual Barang Tanpa Tatap Muka Dropship Mastery, PT. Alona Indonesia Raya, Jakarta, 2015, hal. 22.

Adapun hubungan hukum tercipta antara pihak reseller dropship dengan pihak supplier. Dalam hal ini hubungan hukum yang tercipta adalah hubungan hukum jual beli, dimana pihak supplier sebagai pihak penjual dan reseller dropship sebagai pihak pembeli. Setelah reseller dropship menerima pesanan dan pembayaran dari pihak konsumennya, maka selanjutnya adalah reseller dropship membeli barang dari supplier dengan meminta supplier untuk mengirimkan pesanannya tersebut ke alamat konsumennya dengan mengatas namakan pihak reseller dropship.

Dropshiper selaku pelaku usaha yang telah membuat perjanjian dengan konsumen harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh konsumen.

Konsumen yang dirugikan tersebut mendapat ganti kerugian karena adanya wanprestasi dari pihak dropshiper akibat tidak dipenuhinya kewajiban utama, dalam hal ini dropshiper telah berprestasi tidak sebagaimana mestinya.152

Apabila barang yang diterima oleh konsumen cacat saat penerimaan dan tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan maka dropshiperlah yang bertanggung jawab kepada konsumen, karena konsumen melakukan perjanjian dengan pihak dropshiper bukan dengan supplier. Supplier bertanggung jawab kepada dropshiper dan dropshiper bertanggung jawab kepada konsumen. Dropshiper dalam mengiklankan barang juga mempunyai kewajiban yang telah diatur oleh UUPK yaitu dalam Pasal 7 huruf b mengatakan bahwa pelaku usaha kewajiban untuk memberikan informasi yang benar, jelsa dan jujur mengenai kondisi dan

152 Bima Prabowo, “Tanggung Jawab Dropshipper Dalam Transaksi E- Commerce Dengan cara Dropship Ditinjau Dari Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”, Diponegoro Law Journal, No. 3, Tahun 2016, h. 10-12.

jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.153

Pasal 7 huruf f UUPK menyebutkan bahwa, Pelaku usaha berkewajiban untuk memberikan kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan konsumen tidak sesuai dengan perjanjian.154

e). Pihak ketiga

Perjanjian jual beli melalui media internet merupakan bagian dari e-commerce yang multi aspek. Dalam e-e-commerce terdapat banyak pihak yang terkait di dalamnya. Misalnya Internet Service Provider (ISP), jasa pengiriman, jasa keuangan dan lain-lain.

ISP sebagai penyedia layanan ke internet juga memiliki beberapa peran, berikut peran dari ISP dalam pengaksesan ke dalam internet :

a. Sebagai media yang memberikan jasa untuk berhubungan dengan internet.

b. Menghubungkan pelanggan ke gateway internet terdekat.

c. Menyediakan modem untuk dial-up.

d. Menghubungkan seorang user ke layanan informasi World Wide Web (www).

e. Memungkinkan seorang user menggunakan layanan surat elektronik (e-mail).

f. Memungkinkan seorang user melakukan percakapan suara melaui internet.

g. Memberi tempat untuk homepage.

h. ISP melakukan proteksi dari penyebaran virus dengan menerapkan sistem antivirus untuk pelanggannya.155

Akses seseorang kepada internet dapat diakhiri seketika oleh access provider (ISSP) yang bersangkutan apabila seseorang melanggar syarat-syarat

153 Ibid.

154 Ibid.

155 www.dosenpendidikan.co.id, diakses pada 29 April 2020

perjanjian. Di samping syarat-syarat perjanjian tersebut, terdapat pula ketentuan-ketentuan yang menyangkut sopan santun berkomunikasi melalui internet yang disebut Netiquette, yaitu code of conduct dari internet.

Perusahaan yang memiliki alur distribusi mandiri biasanya juga menerapkan konsep satu pintu dalam layanan belanja online. Maksud satu pintu ini yakni menjadikan halaman situs perusahaannya sebagai platform memajang produk sekaligus tempat transaksi langsung yang didukung jasa pengiriman.

Jadi begitu pembeli menyelesaikan transaksinya, barang yang dipesan akan langsung dikemas dan diproses tim pengiriman ke alamat tujuan.

Dalam hal penyerahan barang berlaku ketentuan bahwa biaya penyerahan dipikul oleh si penjual / seller, sedangkan biaya pengambilan dipikul oleh si pembeli, jika tidak diperjanjikan sebaliknya (Pasal 1476 KUH Perdata). Dalam transaksi jual beli dengan cara dropship ini yang dilakukan oleh para narasumber yaitu dari supplier maupun dari pihak reseller dropship mensyaratkan bahwa biaya pengiriman barang akan ditanggungkan kepada pihak pembeli, karena ketentuan pada pasal 1476 memberikan kebebasan bagi para pihak untuk menentukan perjanjian, hal tersebut tidak merupakan masalah. Karena ketika konsumen telah setuju membeli barang pihak penjual akan memberi tahu terlebih dahulu bahwa harga yang tercantum dalam iklan adalah harga yang belum termasuk ongkos kirim barang tersebut.

Jenis transaksi jual beli online yang terakhir adalah dengan menggunakan rekening bersama atau yang juga disebut dengan istilah escrow. Cara pembayaran ini sedikit berbeda dengan proses pembayaran melalui transfer bank. Jika dalam

transfer bank, pihak ketiga nya adalah bank, sedangkan dengan sistem Rekber yang menjadi pihak ketiga adalah lembaga pembayaran yang telah dipercaya baik oleh pihak penjual maupun pembeli.

Dalam hal ini peran lembaga pembayaran sangatlah penting. Prosesnya yaitu pertama pembeli mentransfer dana ke pihak lembaga Rekber. Setelah dana dikonfirmasi masuk, lalu pihak Rekber meminta penjual mengirim barang yang sudah disepakati. Dan jika barang sudah sampai baru dana tersebut diberikan pada sang penjual.

Dengan sistem ini dana yang diberikan oleh pembeli bisa lebih terjamin keamanannya. Karena dananya hanya akan dilepas jika barang benar benar sudah di tangan.