• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul Peta Tematik

Dalam dokumen Buku Ajar KArtografi Tematik (Halaman 46-57)

KOMPONEN PETA TEMATIK

1. Judul Peta Tematik

Judul peta pada peta tematik berbeda dengan judul peta pada peta rupabumi. Pada peta rupabumi judul peta merupakan nama daerah atau wilayah yang tergambarkan pada lembar peta tertentu dan diletakkan di atas peta pada sisi tengah. Nama judul dan posisinya pada peta sudah baku atau bersifat konvensional, sehingga tidak dapat diubah-ubah lagi.

Pada peta tematik judul peta disesuaikan dengan tema peta yang akan dibuat. dan posisi judul dapat diubah-ubah sedemikian rupa sesuai dengan bentuk wilayah dan aspek 3S serta kepentingan tertentu. Judul peta tematik harus memuat tiga hal yaitu :

1. Tema peta

2. Nama lokasi wilayah yang dipetakan 3. Tahun pembuatan peta.

Tema pada judul peta dibuat sesuai dengan isi peta, informasi dominan yang tergambar dalam peta, ataupun data-data statistik yang disimbolisasikan dalam peta tematik. Penentuan tema peta tematik diutamakan satu macam saja yang paling mewakili dan dominan tergambar pada peta tematik. Namun apabila dikehendaki dan dianggap penting, dapat ditampilkan dua tema secara bersamaan dalam satu peta. Contoh judul peta yang memuat dua tema secara bersamaan, yaitu : peta kepadatan dan jumlah penduduk, peta potensi wilayah dan basis pengembangan, peta pergerakan transportasi angkutan kota dan jumlah penumpang.

Lokasi pada judul peta berupa nama daerah baik wilayah administrasi maupun bukan wilayah administrasi, yang mencerminkan wilayah yang dipetakan sesuai dengan batas wilayah terluar yang digambarkan. Penamaan lokasi peta dengan batas wilayah administrasi meliputi lokasi desa, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya. Lokasi wilayah bukan administrasi antara lain batas daerah aliran sungai (DAS), batas daerah pengaliran

sungai (DPS), batas pulau atau kepulauan, batas tanah, dan batas kondisi fisik lainnya.

Tahun pada judul peta disesuaikan dengan tahun informasi atau tahun data yang dipetakan. Peta tematik yang menggambarkan atau memetakan data statistik, informasi tahun harus dicantumkan karena data statistik selalu mengalami perubahan. Peta tematik yang memetakan informasi wilayah yang bersifat tetap seperti kondisi fisik wilayah, maka informasi tahun peta dapat diabaikan.

Beberapa contoh pembuatan judul peta, yang memuat tema peta, lokasi peta dan tahun pembuatan peta dapat dilihat seperti di bawah ini. Amatilah apakah semua judul peta di bawah ini memuat tiga hal tersebut ? carilah alasannya.

 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Semarang Tahun 1998

 Peta Produksi Polowijo Propinsi Jawa Tengah Tahun 1999

 Peta Kemiringan Lereng DAS Kali Babon Hulu  Peta Lokasi Desa Watutunggul

 Peta Persebaran Industri di Kabupaten Purbalingga Tahun 1999

 Peta Areal Genangan Banjir di Kota Semarang Tahun 2000

 Peta Hidrogeologi Kabupaten Pekalongan

 Peta Potensi dan Pengembangan Pariwisata di Pantai Utara Jawa.

Posisi judul peta pada peta tematik dapat diletakkan didalam bingkai garis tepi peta pada bagian tengah, kiri, atau kanan, sesuai dengan aspek selaras serasi dan seimbang (lihat gambar 3). Namun posisi Judul peta dapat diatur sedemikian rupa, dapat diletakkan pada sisi kiri atau sisi kanan (lihat gambar 4). Posisi judul peta seperti pada gambar 3 dan gambar 4 merupakan peta lepas yang disusun secara tersendiri dilipat dan dimasukkan pada suatu map tertentu atau dengan kata lain berfungsi sebagai peta lampiran. Pada penyusunan- buku, skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian, peta-peta ini diletakkan pada lampiran atau dimasukkan dalam map dan dijilid.

Ada satu model penempatan judul peta (lihat gambar 6) yaitu judul peta diletakkan di luar bingkai atau garis tepi peta, tepatnya di bagian bawah bingkai peta. Judul peta ditulis di bawah peta karena peta tersebut berfungsi sebagai gambar dan bukan peta lampiran.

Gambar 6. Model Penempatan Judul Peta di Luar Bingkai Peta

Model penempatan judul peta seperti ini khusus dibuat untuk peta yang diletakkan di dalam halaman buku, skripsi, atau laporan, berupa gambar bukan peta lepas. Memang tidak ada aturan baku yang mengaturnya, tapi menurut pedoman penulisan karya ilmiah penempatan suatu peta yang berupa gambar dalam halaman isi laporan atau skripsi merupakan bagian dari gambar.

Judul peta dibuat dengan menggunakan huruf kapital yang ditulis sebagai huruf tegak dengan jenis huruf standar seperti jenis roman. Tinggi huruf

tergantung pada besar kecilnya peta, semakiri anda sering membuat peta maka semakiri mudah dalam memperkirakan tinggi huruf suatu peta. Tebal huruf juga dapat dibuat variasi jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis, sesuaikan dengan lebar kertasnya.

Model Judul Peta

A PETA ADMINISTRASI B

PETA PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN SUKABUMI

TAHUN 2004

C KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN 2004 PETA DAERAH RAWAN LONGSOR D PETA KEMIRINGAN LERENG DAERAH ALIRAN SUNGAI WAY BESAI TAHUN 2004 E KABUPATEN MUARA BUNGO PETA RUPABUMI

Gambar 7. Model Pembuatan Judul Peta

Judul peta dapat dibuat dalam satu baris, dua baris, atau sampai tiga baris. Apabila tidak memungkirikan dibuat dalam satu baris maka aturlah pemenggalan yang tepat, bedakan antara tema peta tahun peta dan wilayah pemetaan. Kalau judul dibuat dalam dua atau tiga baris maka aturlah spasinya, jangan terlalu rapat juga jangan terlalu lebar, tebal dan tinggi huruf dapat dibuat bervariasi (lihat gambar 7). Amatilah perbedaan beberapa model judul peta pada gambar 7,

bagaimana penerapannya pada peta yang akan anda buat ?

Judul peta memuat informasi yang padat yaitu memuat tema, lokasi daerah dan tahun data dibuat, sehingga penulisan harus dirancang seefisien mungkiri, beberapa model pembuatan judul peta dapat dilihat pada tabel 1. Model B dan E merupakan contoh penulisan judul peta yang disusun secara memusat (center). Model C merupakan contoh penulisan judul peta secara rapi kanan (align right) dan model A dan model D merupakan contoh penulisan secara rapi kiri (align left).

Apabila ruangan memungkirikan untuk membuat judul peta dalam satu baris maka buatlah dalam satu baris seperti model A. Model B sampai E merupakan contoh penulisan judul yang dibuat dalam dua sampai tiga baris, dengan mengatur tinggi huruf dan mempertimbangkan aspek ruang. Model C tidak mempunyai perbedaan tebal huruf, pada baris 1 dan 2 tebal huruf sama dan tinggi hurufberbeda sedikit. Model A, B, D, dan E mempunyai perbedaan pada tinggi dan tebal huruf.

Amatilah tinggi dan tebal huruf pada bans pertama sampai ketiga, baris pertama paling tinggi makiri ke bawah makiri pendek. Perbedaan ini

menambah cantik penampilan judul peta, tema peta pada bans pertama dibuat dengan penampilan lebih menonjol dari pada lokasi wilayah dan tahun pembuatan peta pada baris kedua dan ketiga.

Kesan adanya tingkatan jenis huruf, tebal huruf maupun tinggi huruf dalam menampilkan judul peta, akan memberikan arti tersendiri tentang makna judul peta. Gunakan jenis huruf yang sama, namun penampilan tebal/tipis huruf dan tinggi/rendah huruf boleh berbeda. Masih banyak model judul peta yang dapat anda ciptakan dan kembangkan sendiri.

2. Skala

Skala adalah perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan jarak sebenarnya dari dua titik di peta. Jarak sebenarnya disebut jarak horisontal kedua titik tersebut di permukaan bumi. Skala peta harus selalu dicantumkan pada peta, karena dapat digunakan untuk mernperkirakan atau menghitung ukuran sebenarnya di permukaan bumi.

Berdasarkan bentuknya ada dua macam skala peta (lihat contoh pada gambar 8), yaitu:

a Skala angka (skala numeris), merupakan skala yang ditampilkan dalam ujud besaran angka. Contoh skala

1 : 25.000 artinya satu cm pada peta sama dengan 25.000 cm atau 0,25 km di lapangan.

b. Skala garis (skala grafis), merupakan skala yang ditampilkan dalam bentuk garis seperti petunjuk penggaris (sebagai satuan cm) dan keterangan skalanya dalam kilometer (sebagai jarak sebenarnya). Skala garis dapat dibuat dengan panjang sekitar 3 atau 4 cm, pada setiap satu centimeter diberikan tanda misalnya dengan garis penggalan vertikal (lihat contoh gambar 8. Setiap satu atau dua centimeter diberikan keterangan jarak sebenarnya (dalam km), dicantumkan di atas garis penggalan cm.

Idealnya pada setiap peta harus selalu dicantumkan skala angka dan skala garisnya. Apabila tidak memungkirikan maka skala garis lebih mutlak untuk dicantumkan, karena apabila peta tersebut diperbesar atau diperkecil maka dapat dihitung perubahan skalanya. Berdasar pedoman pada skala garis satu satuan garis(dalam cm) sama dengan satu kilometer

di lapangan, sehingga perubahan skala dapat

diperhitungkan pemakaiannya. Tidak ada aturan baku komposisi peta harus dengan model tertentu, berhematlah dengan biaya kertas dan waktu pembuatan peta. Model-model komposisi peta di atas dapat

dijadikan sebagai pedoman atau panduan dalam membuat peta tematik.

Skala 1 : 100.000 Skala 1 : 75.000

0 1 2 3 4 5 6 km 0 1 2 3 4 5 6 km Gambar 8. Model Skala Angka dan Skala Garis pada

Peta Tematik

Gambar 8. Model skala angka dan skala garis pada peta tematik Penampilan skala peta rupabumi tidak sama dengan skala peta tematik. Skala peta rupabumi sudah

mempunyai ketentuan-ketentuan yang bersifat

menyeluruh dalam arti setiap unsur yang ada pada peta rupabumi mempunyai perbandingan dengan keadaan sebenarnya di muka bumi. Sehingga penyajian skala peta rupabumi berbeda dengan peta tematik. Pada peta rupabumi penampilan skala peta harus jelas bahwa satu centimeter di peta mewakili setiap kilometer di lapangan, jadi penampilan satuan centimeter dan kilometer mutlak harus ditampilkan semuanya (lihat gambar 9).

Skala peta tematik umumnya menunjukkan referensi ketelitian dari peta dasar yang digunakan. Simbol dan unsur-unsur tertentu dalam peta umumnya

tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan skala petanya. Pada peta tematik penampilan skala peta dapat lebih praktis dan sederhana, sehingga penampilan/tulisan centimeter tidak harus dicantumkan (lihat gambar 8). Di Indonesia pedoman skala garis setiap satu bagian pasti satu centimeter, pasangan cm adalah km. Secara internasional inchi berpasangan dengan mil (inch to miles).

1 2 3 4 5 km 0 2 4 6 8 km

Skala 1 : 200.000

Gambar 9. Model skala garis dan skala angka pada peta rupabumi

Penempatan skala peta selalu berada di dalam bingkai peta dan diletakkan dibawah judul peta. Posisi skala peta mengikuti posisi judul peta seperti tampak pada gambar 3, gambar 4, dan gambar 5. Ada juga posisi skala peta yang tidak mengikuti judul yaitu untuk peta yang berfungsi sebagai gambar (lihat gambar 6), posisi judul peta berada di luar bingkai peta dan letak skala peta tetap di dalam bingkai peta.

Pada pembuatan skala peta yang mengikuti atau berada di bawah judul peta, maka tinggi huruf pada skala peta lebih pendek dari judul peta. Urutan penempatan pada peta yaitu judul peta diletakkan paling atas diikuti dengan skala angka baru skala garisnya, lihat contoh pada gambar 10. Beberapa alat atau cara yang digunakan untuk merubah skala peta atau memperbesar dan memperkecil skala peta yaitu:

1. Square Method atau Ngedam atau dengan kotak-kotak 2. Alat Pantograf

3. Alat Map 0-Graph

4. Alat Fotocopy atau cara Fotografis

Dalam dokumen Buku Ajar KArtografi Tematik (Halaman 46-57)

Dokumen terkait