KENAMPAKAN DASAR PETA TEMATIK
2. Simbol-simbol Dasar Peta Tematik
2. Simbol-simbol Dasar Peta Tematik
Simbol peta memegangperanan sangat penting, karena simbol peta merupakan media komunikasi gratis antara pembuat peta (map made} dengan pengguna peta (map users). Robinson (1969) mengatakan bahwa Simbol adalah suatu alat yang berfungsi untuk menggambarkan keadaan medan dan letaknya di dalam peta. Simbol yang baik adalah simbol yang mudah dikenal dan mudah digambar. Secara lengkap syarat simbol yang baiksecara umum adalah:
a. Sederhana b. Mudah digambar c. Mudah dibaca
d. Dapat mencerminkan data dengan teliti
e. Bentuknya seragam dalam satu peta maupun dalam peta seri
f. Bersifat umum.
Bahkan dalam peta-peta tematik simbol
merupakan informasi utama untuk menunjukkan tema suatu peta. Perancangan gambar suatu simbol di dalam peta sangat tergantung dan data yang ada dan informasi yang ingin diperoleh. Desain simbol secara tepat bagi penyajian suatu informasi sangat diperlukan. Tahapan yang perlu dilakukan dalam mendesam simbol antara lain:
a. Amati jenis data yang akan ditampilkan, sehingga akan dapat ditentukan jenis datanya kualitatif atau kuantitatif. Sifat simbol secara umun, dapat ditentukan simbol kualitatif atau simbol kuantitatif. b. Berdasar sifat simbol tersebut, tentukan bentuk
simbol yang akan dibuat simbol titik, simbol garis atau simbol luas.
c. Rancang bentuk simbol tersebut secara benar dan sesuaikan dengan pengguna peta (map users) masyarakat umum, perencana, atau anak sekolah, hal ini terkait dengan kelengkapan dan kedetilan simbol.
d. Perancangan simbol harus disesuaikan dengan teknis dan pembiayaan. Bentuk simbol yang rumit akan mengalami kesulitan
e. kesulitan dalam teknis pembuatan dan pencetakan. Simbol dengan banyak warna memertukan biaya pencetakan yang lebih mahal.
Berkaitan dengan kenampakan dasar peta tematik, maka yang akan dibahas pada bab ini berupa betuk simbol-simbol dasar yang digunakan dalam peta tematik saja. Simbol-simbol dasar yang biasa digunakan pada peta tematik antara lain berupa kenampakan lalan, sungai, batas administrasi, dan penggunaan lahan. Selain itu juga akan dibahas tentang bentuk dan warna dari simbol dasar tersebut.
1). Jalan
Pada umumnya jalan digambarkan dengan bentuk garis lurus, satu garis atau dua garis, tergantung dari kelas jalan. Skala peta tematik tidak digunakan untuk menskalakan lebar jalan, akan tetapi dalam pembuatan simbol jalan dua garis harus diperhitungkan dengan kondisi di lapangan dan skala peta. Pembuatan simbol jalan dua garis tidak boleh terlalu lebar (lebih dari 5 mm), atau diperhitungkan dengan skala peta yang digunakan. Pada skala besar pembuatan lebar jalan harus
memperhitungkan skala peta, dengan cara mengalikan jarak dua garis jalan tersebut dengan skala. Hasil perkalian jarak di peta dengan skala tersebut disesuaikan dengan kondisi sebenarnya, mungkirikan lebar jalan sekian meter tersebut?
Usahakan dalam membuat simbol garis
menggunakan penggaris, dan gambar jalan pada peta dengan rapi. Untuk jalan yang berliku gambar jalan dengan menggunakan penggaris lengkung atau gambar jalan tanpa penggaris dengan rapi. Buatlah jalan dengan garis yang tidak terputus, terpaksanya harus putus maka sambungan garis dibuat yang rapi. Pembuatan jalan dengan dua garis dibuat secara sejajar dengan jarak sama.
Pada peta tematik yang mempunyai batas wilayah administrasi, penggambaran jalan boleh memotong batas administrasi (lihat gambar 15). Jalan merupakan ujud kenampakan alami yang benar-benar ada di muka burmi, maka penggambaran jalan boleh memotong batas administrasi karena mencerminkan keadaan sebenarnya di lapangan.
Sistem pewarnaan simbol jalan pada peta tematik dengan peta rupabumi berbeda. Pada peta rupabumi warna simbol jalan adalah merah, sedangkan pada peta
tematik boleh berwarna merah atau hitam karena tidak ada aturan baku untuk peta tematik. Namun untuk membedakan dengan kenampakan simbol garis lainnya, maka sebaiknya simbol jalan diberi warna merah.
Sistem pewarnaan simbol jalan pada peta tematik dengan peta rupabumi berbeda. Pada peta rupabumi warna simbol jalan adalah merah, sedangkan pada peta tematik boleh berwarna merah atau hitam karena tidak ada aturan baku untuk peta tematik. Namun untuk membedakan dengan kenampakan simbol garis lainnya, maka sebaiknya simbol jalan diberi warna merah.
Kenampakan jalan mempunyai tingkatan atau rangkirig atau kelas jalan, dibedakan dalam beberapa kelompok. Misalnya kelompok berdasarkan kelas jalan meliputi jalan kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan seterusnya. Kelompok berdasarkan fungsi jalan seperti jalan raya, jalan kampung, jalan setapak, dan seterusnya. Kelompok jalan menurut bentuk seperti jalan aspal, jalan batu, jalan tanah. Masih banyak lagi pengelompokan kelas jalan berdasarkan kriteria tertentu. Contoh pembuatan simbol jalan dapat dilihat pada contoh berikut ini :
=== : Jalan raya
—— : Jalan kampung atau gang ... : Jalan setapak.
2). Sungai
Kenampakan simbol sungai pada peta tematik sama seperti pada peta rupabumi, demikian pula dalam hal warna. Penggunaan warna pada peta tematik boleh menggunakan warna biru atau hitam, namun untuk membedakan dengan kenampakan simbol garis yang lain sebaiknya gunakan warna biru untuk simbol sungai.
Seperti pada simbol jalan, sungai dapat digambarkan dengan satu atau dua garis, lebar simbol sungai dengan dua garis digambarkan tidak terlalu lebar. Sungai-sungai besar boleh menggunakan simbol sungai dengan simbol dua garis, namun untuk sungai-sungai kedl sebaiknya menggunakan simbol satu garis saja (lihat gambar 16-a dan 16-b). Pada peta pola aliran yang menampilkan informasi sungai secara lengkap maka simbol sungai dapat digambarkan secara lebih lengkap lagi seperti dapat dilihat pada gambar 16-c. Bagi sungai-sungai besar, perhitungkanlah skala peta untuk menentukan lebar simbol sungai
Seperti pada simbol jalan, sungai dapat digambarkan dengan satu atau dua garis, lebar simbol sungai dengan dua garis digambarkan tidak terlalu lebar. Sungai-sungai besar boleh menggunakan simbol sungai dengan simbol dua garis, namun untuk sungai-sungai kecil sebaiknya menggunakan simbol satu garis saja. Perhitungkanlah skala peta tematik untuk menentukan lebar simbol sungai.
3). Batas Administrasi
Batas administrasi merupakan kenampakan abstrak, artinya tidak dijumpai secara nyata di muka bumi. Penggambaran simbol batas administrasi pada peta rupabumi yang bersifat baku berbeda dengan penggambaran pada peta tematik, karena tidak ada aturan baku untuk penggambaran batas administrasi pada peta tematik.
Sistem pewarnaan simbol batas administrasi pada peta rupabumi menggunakan warna merah, sedangkan untuk peta tematik boleh menggunakan warna merah atau hitam. Supaya warna peta tematik tidak didominasi oleh warna merah maka simbol batas administrasi dapat menggunakan warna hitam, pembuat peta dapat
merancang peta dengan baik sehingga dihasilkan peta bermutu.
Bentuk simbol garis untuk batas administrasi dapat dibuat bertingkat sesuai dengan tingkat wilayah
secara administatif, seperti dukuh, kelurahan,
kecamatan, kabupaten, propinsi, atau negara. +-+-+-+ -+- Batas Negara atau Batas Propinsi +..+..+..+. Batas Propinsi atau Batas Kabupaten
+•+•+•+•+ Batas Kabupaten atau Batas Kecamatan
-..-..-..-... Batas Kecamatan atau Batas Desa -•-•-•-•-• Batas Desa/Kelurahan atau Batas Dukuh
Gambar 17. Model simbol batas administrasi
Ada pedoman dalam membuat simbol batas administrasi, ditinjau dan urutan gambar simbol garis batas ini bersifat tetap urutannya yaitu mulai dan garis plus-minus-plus sebagai tingkatan administrasi tertinggi dan garis minus-titik-minus sebagai simbol tingkatan administrasi terendah. Nama wilayah administrasi menyesuaikan dengan tingkatan simbol garis (lihat gambar 17).
Pembuatan simbol batas administrasi pada peta tematik dapat dibuat dengan beberapa pedoman. Pada gambar 18 ada dua contoh model penggambaran batas
administrasi, terutama batas administrasi yang
Model A menggambarkan peta wilayah kecamatan Tugu yang berbatasan dengan tiga kecamatan di luar wilayahnya yaitu kecamatan Duku, kecamatan Miati, dan kecamatan Pringgowaru. Pada model ini batas kecamatan di luar wilayah Kecamatan Tugu tidak digambarkan karena peta tematik yang digambarkan khusus untuk kecamatan Tugu. Batas administrasi merupakan kenampakan abstrak yang tidak dijumpai sebenarnya di lapangan jadi untuk simbol diluar wilayah tidak perlu digambar, sedangkan untuk jalan boleh digambarkan melebihi dan memotong batas administrasi dengan pertimbangan bentuk jalan mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Model A Model B
Kec. Dukuh Kec. Dukuh
Kec. Mlati Kec. Mlati
Kec. Tugu Kec. Tugu
Kecamatan Pringgodani Kecamatan Pringgodani
Gambar 18. Model simbol batas administrasi di luar wilayah peta
Sebaliknya pada Model B justru menggambarkan kenampakan batas administrasi di luar wilayah
kecamatan Tugu dengan pertimbangan untuk
membedakan batas administrasi antara kecamatan Duku dan Miati. Model B menunjukkan penampilan peta lebih lengkap.
Pembuat peta dapat memilih model A atau B tergantung pada kreasi atau argumentasi dengan mempertimbangkan tujuan pemetaan dan siapa pengguna peta. Ditinjau dan aspek ketelitian maka model B dapat diterapkan karena menggambarkan juga informasi di luar peta (kecamatan Tugu). Namun ditinjau dari aspek keindahan peta dan keserasian maka model A adalah lebih baik, karena bentuk wilayah Kecamatan Tugu menjadi lebih jelas dan tidak merubah bentuk kecamatan, informasi yang ditampilkan khusus untuk wilayah sesuai dengan judul peta. Model B kalau ditinjau dari aspek bentuk wilayah dapat dikatakan merubah bentuk wilayah kecamatan Tugu.
4) Penggunaan Lahan
Simbol penggunaan lahan untuk peta tematik dengan peta rupabumi berbeda. Pada peta rupabumi simbol penggunaan lahan sudah bersifat baku, sebagian besar simbol penggunaan lahan disimbolkan dengan
simbol yang bersifat abstrak dan piktorial (dengan gambar), supaya mudah diingat oleh si pengguna peta. Pada peta tematik penggambaran simbol penggunaan lahan, sebaiknya dibuat secara simpel dan sederhana misalnya dengan warna, yang penting simbol mudah dibaca dan dipahami.
Gunakanlah simbol huruf, simbol warna, atau simbol abstrak untuk menggambarkan penggunaan lahan. Gunakanlah warna garis hitam untuk memberi garis batas antara penggunaan lahan satu dengan yang lain. Simbol penggunaan lahan termasuk kelompok simbol luas (area), sehingga dalam legenda keterangan simbol ini harus diberi kotak (lihat contoh peta penggunaan lahan gambar 19 dan gambar 20).
Ada dua contoh pembuatan legenda penggunaan lahan yaitu menggunakan simbol huruf (gambar 19) dan simbol warna (gambar 20). Pembuat peta dapat memilih mana yang lebih baik dan lebih praktis untuk diterapkan. Pemilihan simbol warna akan dapat menghasilkan peta yang indah, menarik, dan memerlukan biaya pencetakan lebih mahal, sedangkan pemilihan simbol huruf lebih praktis menghemat biaya pencetakan warna.
Pk : Permukiman Sw : Sawah
Tg Kc Kc : Kebun Campuran Tg : Tegalan Sw
Gambar 19. Model simbol peta penggunaan lahan dengan menggunakan simbol huruf
Pilihlah jenis simbol sesual dengan tujuan dan kegunaan peta, peta untuk tujuan komersial untuk ditampilkan atau dipublikasikan secara luas sebaiknya digunakan simbol warna. Peta-peta yang dibuat untuk tujuan praktis dan tidak dipublikasikan secara umum dapat digunakan simbol huruf atau simbol arsir atau simbol abstrak. Pemilihan kedua bentuk simbol tersebut sangat berkaitan dengan biaya pembuatan dan pencetakan peta.
Simbol warna dapat diganti dengan simbol abstrak yang berfungsi untuk memberikan rona atau kesan pengisian suatu simbol area atau luasan tertentu. Simbol abstrak tersebut dapat berupa arsir dengan berbagai bentuk dan arah arsir yang berbeda. Beberapa bentuk arsiran yang dapat diterapkan antara lain arsir dengan arah garis mendatar, arah garis tegak, arah garis miring ke kanan atau ke kiri, arah garis kotak-kotak tegak atau grid, arah garis kotak-kotak miring atau trellis, dan
sebagainya. Arsir tersebut dimaksudkan untuk memberikan identitas simbol luasan, untuk membedakan suatu kenampakan dengan kenampakan yang lain.
Pembuat peta dapat berkreasi dalam membuat simbol abstrak ini. Simbol arsir yang berupa garis dapat dikreasikan dengan bentuk titik yang disusun sesuai dengan arah garis tertentu. Misalnya simbol garis dengan arah mendatar dapat dibuat bentuk lain yaitu dengan mengganti garis mendatar dengan menyusun titik-titik berupa dengan arah seperti garis yang mendatar, dan seterusnya. LEGENDA: : Sawah : Tegalan : Kebun Campuran : Pemukiman
Gambar 20. Model simbol peta penggunaan lahan dengan menggunakan simbol warna
Setelah mempelajari informasi dasar dan simbol-simbol dasar pada peta tematik, maka simbol-simbol-simbol-simbol khusus peta tematikjuga perlu untukdiketahui. Simbol khusus pada peta tematik merupakan simbol pokok yang
dibuat secara khusus sesuai dengan tema peta yang akan dibuat.
Pada hakekatnya dengan pemetaan simbol-simbol, pengguna peta dapat membaca peta dengan mudah. Seperti telah dipelajari pada bab sebelumnya, simbol peta tematik ada dua macam yaitu simbol dasar dan simbol khusus. Simbol dasar meliputi kenampakan dasar peta yang meliputi jalan, sungai, dan batas administrasi. Simbol khusus adalah simbol yang dirancang sesuai dengan tema peta yang akan dibuat dan data yang dipetakan.
Secara garis besar simbol-simbol yang digunakan dalam peta tematik, mempunyai ketentuan sesuai dengan tema peta yang dibuat. Menurut artinya simbol dibedakan atas dua yaitu simbol kualitatifdan simbol kuantitatif. Menurut bentuknya simbol dibedakan menjadi tiga yaitu simbol titik, simbol garis, dan simbol luas (Lukman Aziz, 1985).
Dua perbedaan pokok simbol menurut artinya yaitu simbol kualitatif dan simbol kuantitatif dijelaskan seperti berikut.
a. Simbol kualitatif, adalah simbol yang berbentuk titik, garis, maupun luas yang melukiskan keadaan asli suatu unsur dan tidak mempunyai nilai atau kuantitas
dari unsur yang diwakili. Simbol yang dipetakan hanya menampilkan identitas suatu obyeksaja.
b. Simbol kuantitatif, merupakan simbol baik berbentuk titik, garis, maupun luas yang selain melukiskan keadaan asli dari suatu unsur juga menunjukkan adanya nilai atau kuantitas dari unsur yang diwakilinya.
Berikut ini akan dibahas lebih lanjut tentang bentuk simbol khusus yang banyak digunakan pada peta-peta tematik. Bentuk-bentuk simbol seperti simbol titik, simbol garis, dan simbol luas yang dibedakan menurut simbol kualitatif dan simbol kuantitatif dapat dilihat pada gambar 21,22 dan 23.
Pada simbol kualitatif baik bentuk titik garis maupun luas, tampak bahwa simbol tersebut tidak mengandung unsur kuantitas atau jumlah sama sekali. Ada satu simbol tingkatan atau data yang bertingkat tapi tidak mengandung unsur jumlah, maka dalam penggambarannya dimasukkan sebagai simbol kualitatif. Unsur yang dimaksud di atas meliputi simbol batas administrasi (propinsi, kabupaten dan kecamatan), simbol jalan (jalan raya utama, jalan raya, dan jalan setapak), simbol industri berat dan industri ringan, disini
juga tidak mengandung jumlah atau angka tertentu sehingga dimasukkan golongan kualitatif.
Pada simbol kuantitatif, semua simbol memuat unsur nilai atau jumlah baik simbol titik, jalan maupun luas. Simbol jalan di atas yang termasuk kualitatif, dapat masuk kelompok kuantitatif apabila mengandung nilai atau jumlah seperti contoh gambar 22. Tipe jalan kelas 1 sampai kelas 4 dibedakan menurut kekuatan jalan terhadap beban yaitu lebih dari 19 ton sampai kurang dan 2 ton. Pada simbol titik, setiap titik mengandung nilai seperti ketinggian, tenaga kerja, maupun satu satuan titik mempunyai nilai tertentu, dan sebagainya.
Simbol luas mewakili setiap satu satuan luas obyek tertentu di peta, obyek tersebut dibatasi oleh garis tertutup atau poligon. Pembuatan simbol luas pada legenda harus diberi batas berupa kotak lonjong, segi sembarang dan sebagainya. (lihat contoh gambar 23). Simbol yang digunakan dapat berupa simbol gambar tertentu, simbol abstrak dengan tanda khusus, maupun dengan warna. Penggunaan warna pada simbol kuantitatif harus bertingkat (gradasi warna), sedangkan simbol arsir juga harus bertingkat kerapatannya.
Daftar Pertanyaan
secara kualitatif dan kuantitatif peta tematik ?
2. Informasi dasar apa saja yang terdapat pada peta tematik ?
Daftar Pustaka
Bos, E.S, 1973, Cartographic Principles in Thematic Mapping, The Netherland, ITC, Lecture Note, Enschede.
Basuki Sudihardjo, 1986, Peta, Sejarah, dan Kegunaannya, Makalah Pidato Pengukuhan, Guru Besar, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.
Endang Saraswati, 1979, Kartografi Dasar, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.
Erwin Raiz, 1984, General Cartography, Mc Graw-Hill Company, New York.
Ischak, 1987, Berbagai Jenis Peta dan Kegunaannya, Liberty, Yogyakarta.
Juhadi, dkk, 2001, Desain dan Komposisi Peta Tematik, Indoprint, Semarang.
Keates, J.S, 1978, Cartographic Design and Production, Second Edition, Longman Group Ltd, London.
Lukman Azis, dkk, 1985, Kartografi Tematik, Teknik Geodesi ITB, Bandung.
Sukwarjono, dkk, 1993, Pengetahuan Peta, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.