Serat Menak
menjadi 25 judul terdiri 46 jilid, tentu saja
merupakan jumlah
Tokoh utama Menak yang bernama Wong Agung Menak adalah Hamzah paman Nabi Muhammad s.a.w. Dalam banyak sumber disebutkan bahwa Hamzah adalah seorang pejuang yang mati terbunuh oleh seorang pemuda berkulit hitam bernama Wahsi dalam Perang Uhud. Tetapi dalam hikayat Persia tokoh Amir Hamzah dicampur-aduk dengan tokoh Persia yang juga bernama Hamzah. Hamzah yang terakhir adalah seorang pemimpin pemberontak yang hidup pada abad ke-9 M dalam zaman kehalifatan Abbasiyah di Baghdad. Berdasar dua sumber ini kemudian diciptakan epos terkenal dalam bahasa Persia.
Siklus cerita Amir Hamzah atau Menak tersebar luas di Nusantara dan sangat digemari di Jawa. Di Jawa misalnya secara khusus dipentaskan dalam wayang
thengul dan di tanah Sunda dalam bentuk wayang golek, disebut wayang Golek Purwa.62 Dalam wayang golek cepak dari Cirebon ditampilkan lakon-
lakon yang bersumber dari Serat Menak seperti“Rengganis”,“Jayenggrana”, “Umarmaya”dan”gugurnyaNurserwan”.CeritainibiasanyaberbahasaJawa
dialek Cirebon.63
Naskah Serat Menak dijumpai dalam hampir semua museum atau pepustakaan yang menyimpan naskah-naskah Jawa, Sunda, Madura dan Sasak. Museum Sana Pustaka Surakarta misalnya menyimpan naskah cerita Menak 17 judul, Perpustakaan Mangkunegaran 18 judul, Museum Radya Pustaka 3 judul. Sedangkan di Yogyakarta, kraton Yogyakarta menyimpan koleksi naskah cerita Menak 6 judul, Pura Pakualaman 6 judul, dan Museum Sanabudaya 15 judul. Salah satu koleksi Sanabudaya berjudul Menak Lari yang ditulis oleh Sastrasudarma tahun 1882, dengan kode koleksi 61307 (PBA 9) berupa naskah tulisan tangan berisi cerita Menak, yaitu ketika Nabi Muhammad bertanya kepada baginda Abas tentang kisah Ambyah, paman Nabi. Naskah ini berakhir hingga pertemuan Ambyah dengan Muninggar dan Klana Jayadimurti.64
Naskah cerita Menak di daerah Sunda dikenal dengan judul-judul yang agak berbeda dengan di Jawa. Di Sunda ada naskah Wawacan Kendit Birayung
berbentuk puisi (wawacan) berhuruf pegon, bahasa Sunda. Ceritanya mengenai permusuhan antara Prabu Nursewan dan Patih Bestak dengan kerajaan Arab yang dipimpin baginda Hamzah dan tokoh-tokoh lain seperti Maktal, Umarmaya, Umarmadi, dan Lamdahur. Ada lagi naskah berjudul Wawacan Raden Bagus, ceritanya tentang Raden Bagus yang kemudian dipelihara dan diasuh oleh Siti Muninggar. Sedangkan tokoh lainnya ialah Umar Sahid anak Umarmaya. Cerita ini berhuruf Arab berbahasa Sunda-Melayu (dialek Krawang) yang menceritakan tokoh Umarmaya, orang Arab yang sakti yang dapat Menaklukan Raja Wajib.65
Perwatakan dalam Serat Menak Jawa agak berbeda dengan versi Melayu. Dalam Serat Menak, perwatakan Amir Hamzah dilukiskan sebagaimana perwatakan Arjuna dalam kisah pewayangan. Kita lihat misalnya perwatakan dalam Menak Kanin yang diolah dengan teliti. Contohnya perwatakan tokoh Wong Agung Menak, tokoh dalam Menak Kanin. Dalam cerita ini dilukiskan
Perwatakan dalam
Serat Menak Jawa agak berbeda dengan versi
Melayu. Dalam Serat Menak, perwatakan
Amir Hamzah dilukiskan sebagaimana
perwatakan Arjuna dalam kisah
ketika Wong Agung pingsan karena mabuk darah, melihat banyak darah, pada hal Umarmaya sedang tidak disampingnya. Dengan mudah raja Bahman melukai Wong Agung di bagian kepala di atas telinga. Wong Agung yang telah terluka dan pingsan tergeletak diatas punggung kuda. Kuda sakti Sekardwijan membawa lari wong Agung menjauh dari peperangan, sampai di bukit. Kuda Sekardwijan haus sehingga tiba di sungai menunduk untuk minum air sungai. Wong Agung jatuh ke sungai, di temukan oleh pemuda Sahsiyar warga bukit Surukan. Oleh Sahsiyar, Wong Agung dirawat selama satu minggu, setiap hari dipotongkan seekor kambing unuk dimakan otaknya. Wong Agung berjanji akan mengganti lebih banyak kambing. Akhirnya Sahsiyar tahu bahwa Wong Agung adalah putera raja Arab, Umarmaya pun akhirnya menemukan Wong Agung dalam keadaan selamat. Sahsiyar kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah itu.
Perwatakan Wong Agung Menak: Kutipan-kutipan berikut dipilih yang khusus memuat lukisan perwatakan Wong Agung baik isik, psikis, ataupun sosiologis, secara langsung ataupun tak langsung. Dalam Pupuh I: 12, dikatakan “Kalih wulan prapta kalih wengi, Sang Jayengpalugon, amarengi enjing ing praptane...”
(‘Perjalanan dua bulan ditempuh hanya dua malam oleh Sang Jayengpalugon yaitu Wong Agung, dan ia tiba pada pagi hari...’). Kutipan ini menunjukkan kesaktian Wong Agung. Jarak menuju kaos yang dalam perjalanan biasa ditempuh dua bulan, ternyata Wong Agung hanya memerlukan waktu 2 malam saja. Dalam lukisan tersebut tidak terdapat kata-kata (pengarang) bahwa Wong Agung itu sakti, tetapi pembaca dapat menyimpulkan sendiri betapa sakti Wong Agung dengan kemampuanya menempuh jarak panjang dalam waktu yang sangat singkat.
Wong Agung banyak ditakuti oleh musuhnya. Kutipan berikut menunjukkan betapa Raja Bahman, sekutu Prabu Hirman, merasa tak mampu berperang
melawanWongAgungyaituAmirHamzah.“Raja Bahman tumungkul prihatin, pamuwutiara lon, heh Sang Prabu Hirman amba mangke, tan kawawa miyat Jayengmurti...” (Raja Bahman menunduk takut-takut katanya lirih, “Hai
Sang Prabu Hirman, saya kini tak mampu lagi memandang Jayengmurti...’) Sebetulnya yang merasa takut berhadapan dengan Wong Agung bukan hanya Bahman, tetapi juga semua prajurit kecil dari ihak kair. Tampak seperti dalam
P.I.b.19:“Wadya kair waspada ningali, ing Jayengpalugon, estu lamun puniku praptane, samya kekes...” (“PrajuritkairjelasmelihatkepadaJayengpalugon, ternyatabenardatang,semulamerasangeri...”)Dariduakutipandiatastampak
perwatakan Wong Agung sebagai tokoh sakti yang ditakuti pihak lawan. Lukisan tersebut bersifat tak langsung, yaitu lewat kesan yang diberikan oleh tokoh lain. Dalam pertarungan, sering Wong Agung Menak atau Amir Hamzah mengalami kekalahan. Namun kekalahan yang dia alami sering berisfat sementara, karena seperti juga dalam cerita lain yang serupa, biasanya bilamana tokoh protagonist kalah akan segara muncul tokoh lain sebagai penyelamat yang menolongnya. Dalam Menak Kanin ini Wong Agung yang sedang terluka ditolong oleh Sahsiyar,
Dalam lukisan tersebut tidak terdapat kata-
kata (pengarang) bahwa Wong Agung itu
sakti, tetapi pembaca dapat menyimpulkan sendiri betapa sakti Wong Agung dengan
kemampuanya menempuh jarak panjang dalam waktu
Setelah terlihat contoh-contoh lukisan perwatakan Wong Agung, baik secara langsung ataupun tidak, yaitu lewat kesan tokoh lain terhadap Wong Agung, ternyata ada pula lukisan berupa ucapan Wong Agung mengenai apa dan siapa dirinya. Misalnya dalam kutipan P II, b.16-17): “...Payo ingsun papagena. Wruhanira ingsun Amir, putra dipati Mekah, Suraya Jayengpalugon, lesing jagad pramudita, kasub kaonang-onang, sinembah ing para ratu, peksa sudira wasesa. (‘...Ayo hadapilah aku. Ketahuilah, aku ini Amir, putra raja Mekah, bergelar Jayengpalugon, paling sakti di dunia, terkenal, disembah para raja, berani dan berkuasa ).
Sebagai salah satu karya sastra Jawa Islam, Serat Menak menampilkan tokoh utama Wong Agung Menak atau Jayengrana atau Jayengpalugon. Wong Agung Menak mengadakan peperangan dengan orang kair, dalam hal ini Prabu Hirman. Sebagai manusia biasa Wong Agung bukan tidak pernah kalah, walaupun akhirnya mendapat pertolongan. Wong Agung pernah pula terluka parah hingga pingsan, itulah yang terjadi pada cerita Menak Kanin. Wong Agung ditolong oleh pemuda Sahsiyar sampai akhirnya bertemu kembali dengan Umarmaya, pendampingnya yang sakti, kemudian kembali ke Arab. Salah satu bagian dari serial Serat Menak yang menarik dibahas ialah Serat Rengganis. Poerbatjaraka menyebutkan bahwa naskah Rengganis digubah oleh Rangga Janur, seorang pujangga di kraton Kartasura.66 Serat Rengganis
disebutkan sebagai naskah Menak yang paling masyhur dan banyak dibaca orang. Bersamaan dengan penyebaran agama Islam ke Pulau Jawa, sastra Melayu Islam juga tersebar di Jawa. Induk naskah Menak berasal dari kesusastraan Persia, yang kemudian disadur ke dalam bahasa Melayu menjadi Hikayat Aamir Hamzah. Garis besar isi cerita tentang permusuhan antara Wong Agung Menak dan Prabu Nursewan, raja di negara Medayin. Keyakinan Wong Agung Menak agama Islam, sedangkan Nursewan dianggap masih kair. Padahal Wong Agung Menak menikah dengan Dewi Muninggar, Putri Raja Nursewan. Naskah Menak yang dianggap paling tua ditulis tahun 1639 tahun Jawa. Naskah itu ditulis atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, permaisuri Sinuwun Paku Buwana I (Pangeran Puger) di Kerajaan Kartasura. Karya itu disalin dari naskah induk yang lebih tua oleh Ki Carik Narawita, menantu Ki Carik Walandana.
Salah satu versi Serat Rengganis, karena sudah dibumbui suasana dan kejadian lokal ialah yang disebut Geguritan Kendit Birayung. Geguritan ini ditulis oleh Ida Nyoman Alit dari Gria Tengah Budha Keling pada tahun 1912 Saka. Kejelian penulis mengamati dan merekam persoalan penyebaran agama Islam di tanah Jawa menjadikan kisah cerita itu terpapar. Secara umum dinyatakan bahwa penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara cukup baik, berarti persahabatan bangsa Arab dan penduduk Nusantara terpelihara dengan baik. Namun, jika terdapat perselisihan di suatu daerah tertentu, peristiwa peperangan yang terjadi itu dinyatakan satu tanpa perkecualian dan cukup beralasan dan perlu diamati keberadaannya .
Salah satu versi Serat Rengganis, karena
sudah dibumbui suasana dan kejadian lokal ialah yang disebut
Geguritan Kendit Birayung. Geguritan ini ditulis oleh Ida Nyoman Alit dari Gria Tengah
Budha Keling pada tahun 1912 Saka. Salah satu bagian dari
serial Serat Menak yang menarik dibahas ialah Serat Rengganis.
Poerbatjaraka menyebutkan bahwa
naskah Rengganis digubah oleh Rangga
Janur, seorang pujangga di kraton
Penulis menghadirkan tokoh sejarah atau tokoh yang telah melegenda dan dibantu oleh tokoh iksi, latar sejarah dan latar iktif, beserta tema cerita yang universal, yakni kisah kepahlawanan yang memiliki nilai didaktis dan kisah kepahlawanan. Mereka disebut tokoh sejarah kerena tokoh Amir Hamzah, Umarmaya, Dewi Rengganis adalah tokoh sejarah berasal dari negeri Arab. Perhatikan kutipan berikut yang berasal dari Ensiklopedi Indonesia I67 ”Amir
Hamzah adalah tokoh sejarah, paman Nabi Muhamad saw yang pada mulanya tidak bersimpati dengan perjuangan Nabi, akan tetapi kemudian jadi pembela
nabiyanggigihkeberaniannyaamatterkenal,tewasdalampeperanganUhud.”
Ringkasan Cerita: Di Nusantara ada seorang raja besar bernama Kendit Birayung. Ia seorang raja yang bijaksana, dan sakti mandraguna. Dalam setiap peperangan ia selalu mengalahkan musuh-musuhnya. Dia mempunyai adik perempuan yang cantik jelita bernama Dewi Ambarawati. Selain cantik ia sangat sakti. Banyak orang terpesona akan kecantikannya. Kerajaan Nusantara ini menjadi masyhur ke seluruh dunia. Seorang raja Amir bernama Samir Amsyah berkinginan menaklukan raja Kendit Birayung. Namun ia ragu bisa mengalahkannya. Karena itu ia menggunakan siasat yang ternyata jitu.
Amir Amsyah pun mempunyai seorang adik perempuan bernama Dewi Rengganis. Gadis cantik itu pun sangat sakti dan perkasa. Maka, tanpa ragu-ragu Amir Amsyah memohon kepada adiknya agar mau menemui Dewi Ambarawati di kerajaan Nusantara. Tugas Dewi Rengganis adalah membujuk Dewi Ambarawati agar mau diboyong ke tanah Arab, jika kesulitan terpaksa harus menculiknya. Wanita yang patuh itu dengan senang hati menerima tugas berat itu dari kakaknya, Amir Amsyah.
Dengan kesaktiannya Dewi Rengganis terbang ke angkasa menuju kerajaan di Nusantara. Sampai di kerajaan Kendit Birayung tengah malam, Rengganis segera menggunakan kesaktian sasirep Mayit agar seluruh penghuni Istana tertidur lelap. Namun karena Dewi Ambarawati seorang putri yang sakti, ia tidak terkena ajian yang dibuat oleh Rengganis. Gadis itu segera keluar istana mencari penjahat yang datang ke rumahnya. Ternyata musuhnya seperti dirinya, yakni wanita cantik yang sakti tiada tanding. Rengganis mencoba beramah tamah, ia mengatakan bahwa dirinya bukan pencuri dan ia ingin mengenal dengan baik kepada Dewi Ambarawati. Namun, gadis itu sudah tahu gelagat Muninggar yang berniat jahat. Maka pertempuran sengit tidak terelakkan, mereka saling menjegal, Dewi Muninggar terbang ke angkasa menghindari serangan lawannya. Akan tetapi, Dewi Ambarawati segera mengejarnya. Dewi Ambarawati membentangkan panah, namun Rengganis segera mengelaknya sehingga panah tidak mengenai sasaran.
Rengganis segera mengulangi memperkenalkan diri kepada Dewi Ambarawati bahwa dirinya berasal dari Haldamas. Ia hanya ingin bersahabat kepada Dewi Ambarawati yang terkenal di seluruh dunia, tetapi agamanya tidak jelas dan
tidak henti-hentinya mengalami penderitaan. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar Dewi Ambarawati masuk agama Islam. mendengar pernyataan itu, Dewi Ambarawati merasa terhina, ia menjadi sangat murka dan menantang Dewi Rengganis untuk mengadu kesaktian. Jika Ambarawati kalah barulah ia mau bertekuk lutut di hadapan Dewi Rengganis. Maka, pertempuran sengit kembali terjadi, kesakitan mereka seimbang pertempuran tidak dapat diputus. Dewi Ambarawati mengeluarkan dua bilah keris dan dua bilah pedang, ia membagikan kepada Dewi Rengganis seorang satu. Ambarawati memerintahkan agar Rengganis menusuk dirinya dengan dua senjata itu namun Rengganis menolak. Karena dendam dengan ucapan Rengganis, maka Ambarawati segera menusuk ke dada Rengganis, tetapi lawannya tidak terluka sedikitpun karena kesaktiannya. Kedua wanita itu terbang ke angkasa, mereka berkejaran dan saling berkelit. Tiba-tiba keris dan pedang mereka hancur berkeping-keping, pertempuran tetap berlangsung tanpa ada yang mau mengalah. Setelah merasa lelah mereka beristirahat sejenak dan pertempuran kembali berlangsung dengan sengitnya. Namun, akhirnya tiba pula saat berakhir, Ambarawati lengah dalam keadaan lelah. Rengganis berhasil memegang pinggang Ambarawati dan memutar-mutar ke angkasa kemudian melempar lawannya itu hingga jatuh pingsan.
Dewi Rengganis segera membawa lawannya ke atas tempat tidur, Rengganis merawatnya sambil membelai dan menciumi gadis cantik itu hingga siuman dari pingsannya. Nafasnya secara perlahan mulai terengah-engah dan matanya terbuka, ketika sadar, ia segera duduk di bawah, Rengganis segera mencium kembali gadis itu. Kemudian, Ambarawati menyerahkan diri untuk memeluk agama islam. Pada suatu hari, setelah malam tiba, Dewi Ambarawati beserta Rengganis melarikan diri menuju Mukadam. Maka, keesokkan harinya Raja Kendit Birayung bersama seisi istana menjadi gempar karena kehilangan Dewi Ambarawati. Raja mengetahui bahwa semua ini adalah ulah para prajurit Arab yang sudah berada di perbatasan. Oleh karena itu, Raja Kendit Birayung segera memerintahkan untuk menyerang prajurit Arab yang berada di perbatasan itu. Pertempuran segera terjadi banyak prajurit yang gugur dalam pertempuran itu. raja menjadi murka, Raja kendit Birayung segera turun tangan, ia ingin berhadapan langsung dengan Raja Arab, Amir Amsyah. Setelah berhadapan, kedua raja itu saling mencaci, sementara pertempuran terus berlangsung. Tentara Arab yang dipimpin Amir Amsyah semakin terdesak. Setelah malam hari, barulah pertempuran itu berhenti dan mereka beristirahat kembali ke kemah masing-masing.
Di negeri Mukadam, orang-orang istana belum tidur, sementara itu Raden Arya Banjaransari atau Raja Putra termenung memikirkan saudaranya, Dewi Renggansi yang sudah lama pergi dan hingga saat itu belum juga kembali. Tidak lama kemudian, wanita yang ditunggu-tunggu tiba-tiba berada di hadapan Raden Arya Banjaransari, Dewi Rengganis dan Putri Ambarawati menghadap Raden Arya. Raja muda itu terkesima memandang kecantikkan Putri Ambarawati. Tanpa sadar
ia segera menyambut dengan senang hati dan penuh sanjungan kepada gadis rupawan itu. Putri Ambarawati tersipu malu sambil menundukkan wajahnya yang memarah.
Sementara itu, di Nusantara keluarga raja sedang bersedih karena putri Ambarawati menghilang dari istana. Tidak lama kemudian, pengasuh dan para dayang menemukan sepucuk surat terbungkus sutra kuning yang ditinggalkan oleh Putri Ambarawati. Surat itu segera dihaturkan kepada Raja kendit Birayung. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Putri Ambarawati bersama Dewi Rengganis pergi ke istana Mukadam menemui Raja Arab bernama Raja Putra atau Raden Banjaransari. Setelah membaca surat itu Raja Kendit Birayung sangat marah, wajahnya merah padam dan hatinya bagaikan terbakar api. Raja Nursiwan mencoba menenangkan kemarahan Raja dan mengingatkan bahwa suatu ketika mereka akan bertemu kembali. Mereka mengira bahwa kejadian itu disebabkan ulah Amir Amsyah. Para pembesar Istana Nusantara bersepakat untuk menantang perang kepada Raja Amir Amsyah. Raja Arab itupun setuju akan usul Kendit Birayung. Raja Nusantara segera mengutus Kontal dan Tebih ke negeri Mekah untuk menghadap kepada Sultan Arab.
Perang tidak dapat dielakkan, prajurit Arab melawan prajurit kerajaan Nusantara. Kekuatan mereka seimbang. Konon dikatakan bahwa Ki Malang Sumirang melarikan Umarmaya dan menahan serta membenamkannya di kaki Gunung Waja. Para prajurit belum menyadari bahwa rajanya menghilang, mereka sangat bersedih ketika sadar bahwa Umarmaya tidak ada lagi, langkahnya semakin terdesak. Para prajurit Mekah banyak yang menderita luka parah bahkan ada yang tewas di medan perang. Terdengar berita bahwa Amir Amsyah mengalami luka parah. Sementara itu pula, Raden Banjaransari yang berada di istana terkejut dan bersedih mendengar berita yang diterima dari Dewi Rengganis.
Dewi Rengganis dengan ditemani Putri Ambarawati pergi ke Aldhamas melaporkan berita itu kepada Pandita. Namun ternyata Raja Pandita sudah mengetahui berita itu dan ia berpendapat memang akan seperti itu karena ia mengetahui bahwa Kendit Birayung sangat sakti. Tiga orang pendampingnya bernama Malang Sumirang dan Macan Sumantri, dan Srepabhumi amat tengguh dan setia kepada rajanya. Kemudian, Raja Pandita segera mengutus Rengganis agar mencari pamannya Umarmaya yang merintih kesaktian di dasar Gunung Waja. Dewi Rengganis tidak tinggal diam, ia membantu dan mengajak Raja Pandita menghadap sang Raja Pandita di Aldhamas. Rengganis dapat melakukan tugasnya yakni menyelamatkan Umarmaya dari dasar gunung. Umarmaya merasa bahwa dirinya selalu menghadapi kesulitan sehingga ia mendapat nama baru Pakuwaji dengan harapan tidak mengalami musibah lagi. Setelah itu, ia mendapat tugas pergi ke gunung Indra Giri untuk menghadap Himan Sumantri, seorang pertapa yang sangat dikasihi para dewa, ia bertapa dalam gua di Gunung Ardindra. Hanya dialah yang dapat menolong dan dapat memberikan senjata untuk membunuh Raja Kendit Birayung.
Pakuwaji bersama Dewi Rengganis melaksanakan tugasnya. Setelah itu, Man Sumantri memberikan dua batang bambu masing-masing dipakai untuk membunuh Kendit Birayung dan Malang Sumirang. Di samping itu, dia juga memberikan air suci untuk membunuh Serpabhumi dan obat untuk menyembuhkan Sultan Arab, Amir Amsyah serta para prajurit yang terluka.
Dengan segala usahanya itu, kerajaan Arab berhasil melumpuhkan para prajurit Nusantara. Raja Nursiwan beserta Jaladara dan semua prajurit dan punggawa Nusantara menyerah dan terpaksa masuk agama Islam. Para prajurit Arab yang terluka parah dalam pertempuran semua sembuh dan sehat seperti sedia kala. Demikian juga Amir Amsyah. Dia menobatkan Jaladara menjadi raja yang memerintah Nusantara berkat jasa-jasanya. Setelah itu Amir Amsyah segera kembali pulang ke negeri Mukadam.68