Babakan penting dalam sejarah sastra Melayu Nusantara mengambil waktu pada peralihan abad ke-16 – 17 M. Pada masa ini bahasa Melayu telah mantap kedudukannya sebagai bahasa pergaulan utama di kepulauan Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan intelektual menggunakan bahasa Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan dan falsafah. Melalui cara yang demikian itu bahasa Melayu diperkaya dengan kosakata dan istilah-istilah Arab dan Persia, yang pada abad ke-13 – 15 M merupakan bahasa intelektual dan keilmuan yang penting di dunia.11
Cepatnya perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan utama di bidang perdagangan dan intelektual bisa terjadi karena pusat-pusat utama penyebaran agama Islam seperti Samudra Pasai (1272-1450), Malaka (1400- 1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) merupakan kota-kota dagang dan pelabuhan utama di Selat Malaka. Di kota-kota inilah kapal-kapal asing singgah untuk mengambil barang dagangan, sehingga dengan cepatnya pula kota-kota ini maju dan makmur, yang dengan demikian mudah pula berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan. Ketiga kerajaan ini pula sejak lama penduduknya menggunakan bahasa Melayu yang diwarisi dari pendahulunya yaitu kerajaan Sriwijaya.12
Pada masa ini bahasa Melayu telah mantap kedudukannya sebagai bahasa pergaulan utama di kepulauan Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam
yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan
intelektual menggunakan bahasa
Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran
agama, ilmu-ilmu keagamaan dan
Pada awal abad ke-16 M dengan ditalukkannya Malaka oleh Portugis (1511) serta merta kegiatan penulisan sastra Melayu mandeg untuk beberapa waktu lamanya. Tetapi tidak lama kemudian, pada tahun 1516 M, sebuah kerajaan Islam yaitu Aceh Darussalam muncul tidak jauh dari bekas tapak kerajaan Samudra Pasai. Dengan munculnya Aceh kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Melayu berkembang pesat. Karya-karya Melayu yang ditulis di Pasai dan Malaka disalin kembali dalam jumlah besar. Majunya perkembangan penulisan kitab itu terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ala’uddin Riayat Syah (1589- 1604) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).13 Pada periode ini terjadi
gelombang kedua dalam sejarah intelektual Islam di Nusantara.
Gelombang pertama mengambil masa pada abad ke-14-16 M, yaitu sejak munculnya Samudra Pasai hingga berkembangnya Malaka dan Aceh. Pada periode yang sangat gencar dilakukan ialah pengenalan asas-asas kosmopolitan dari ajaran Islam. Karya-karya Arab dan Persia disadur dalam jumlah besar ke dalam bahasa Melayu, dan dengan demikian Islam hadir sebagai realitas dunia baru dalam pikiran bangsa-bangsa Nusantara. Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas secara besar-besaran. Islam dipakai sebagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Karya-karya dari zaman Hindu Buddha disadur dan ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam. Zaman ini menandakan berakhirnya zaman peralihan dari tradisi Hindu-Budhha ke tradisi Islam, dan bermulanya penulisan karya-karya yang benar-benar bercorak Islam baik secara estetik maupun isi yang dikandungnya. Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu Nusantara yang telah berhasil diislamkan.
Memang, kapan berakhirnya masa peralihan ini tidak dapat diberi batas dengan jelas oleh karena karya-karya yang dihasilkan pada zaman peralihan masih disalin dan digubah hingga abad ke-19 M. Tidak sedikit pula dari karya-karya tersebut digubah menjadi versi-versi yang beraneka ragam dalam bahasa-bahasa Nusantara lain yang ikut mengalami proses islamisasi seperti Jawa, Sunda, Aceh, Madura, Mandailing, Minangkabau, Sasak, Bugis, Makassar, Banjar dan lain-lain. Gubahan-gubahan baru ini pada umumnya semakin jelas hubungannya dengan realitas Islam yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Tetapi bagaimana pun juga proses islamisasi realitas dan kebudayaan Melayu terjadi pada peralihan abad ke-16 dan 17 M. Mantapnya kedudukan bahasa Melayu, kejayaan Aceh Darussalam sebagai pusat kegiatan intelektual Islam dan peranan aktif lembaga-lembaga pendidikan Islam, merupakan faktor yang menentukan dalam mempercepat proses Islamisasi ini. Tidak diragukan lagi, tasawuf merupakan faktor lain yang menentukan. Sejak abad ke-13 M, khususnya sejak jatuhnya kekhalifatan Baghdad oleh serbuan tentara Mongol pada tahun 1256 M, tasawuf memainkan peranan penting, terutama dalam membentuk pandangan hidup (way of life) dan pandangan dunia
(weltsanschauung) masyarakat Muslim. Pandangan hidup dan pandangan dunia itu meliputi pemikiran dan dasar-dasar keyakinan yang berkenaan dengan metaisika, epistemologi, etika, sosiologi dan estetika.14
Dalam gelombang kedua pemikiran Islam ini ada dua gejala dominan yang saling berkaitan muncul. Gejala pertama ialah kecenderungan yang memusatkan diri pada renungan-renungan bercorak tasawuf secara mendalam dan personal. Ini dilakukan untuk menjawab persoalan berkenaan dengan hubungan manusia dengan Yang Abadi. Gejala kedua dari gelombang kedua pemikiran Islam tersebut ialah ikhtiar untuk membangun tatanan kehidupan sosial politik berdasarkan cara pandang Islam, yang dengan itu sebuah kehidupan masyarakat religius dan beradab dapat diselenggarkan. Kecenderungan kedua ini memunculkan hasrat menyusun etika politik dan teori pemerintahan yang ideal, yang dengan itu kesadaran bersama dan solidaritas kemasyarakatan dapat direalisasikan. Gejala pertama tampak dalam kegiatan tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani dan murid-muridnya di Sumatra. Mereka adalah pemikir sui dan ulama terkemuka pada zamannya yang banyak melahirkan karya-karya bercorak tasawuf, khususnya syair-syair tasawuf, risalah kesuian dan ulasan mengenai sastra kerohanian. Gejala kedua tampak dalam usaha Bukhari al- Jauhari dalam menyusun karya bercorak adab, yaitu Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja, 1603 M), yang kemudian dillanjutkan oleh Nuruddin al-Raniri (w. 1648 M), keduanya di Aceh.
Kebaruan karya para penulis Melayu abad ke-16 dan 17 itu, terutama syair- syair tasawufnya, terletak pertama-tama pada keberanian pengarang untuk mengekspresikan pengalaman dan pengetahuan pribadinya secara lebih bebas dan merdeka. Ini dimungkinkan karena mereka berkarya berdasarkan estetika sui dan ilmu tasawuf, yang dalam ajarannya memang menekankan bahwa karya seni yang bertanggungjawab mestilah pertama-tama didasarkan pada pengalaman pribadi dan kesaksian langsung penulisnya terhadap realitas yang ingin disampaikan. Pengalaman kesuian sendiri bersifat personal, namun dapat dibagi dengan pengalaman personal orang lain melalui media sastra.
Sastra sui penting terutama karena berfungsi meneguhkan pentingnya sinthesa antara pengetahuan rasional empiris dan makrifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh oleh seseorang yang telah menyucikan kalbunya. Dalam sastra sui itulah kearifan-kearifan lokal dan nasional bersumber. Sarjana-sarjana sastra Melayu berkeyakinan bahwa karangan para penulis sui Melayu itu berhasil mempengaruhi dan ikut membentuk pandangan hidup (way of life) dan gambaran dunia (Weltanschaung) masyarakat Melayu.
Sejak abad ke-13 M, khususnya sejak jatuhnya kekhalifatan Baghdad oleh serbuan tentara Mongol pada tahun 1256 M, tasawuf
memainkan peranan penting, terutama dalam membentuk pandangan hidup
(way of life) dan pandangan dunia (weltsanschauung) masyarakat Muslim. Pandangan hidup dan
pandangan dunia itu meliputi pemikiran dan
dasar-dasar keyakinan yang berkenaan dengan metafisika, epistemologi, etika, sosiologi dan estetika.