• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Karakteristik Keluarga

2.5.4. Jumlah Anggota Keluarga

Hubungan antara laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi terlihat nyata pada masing-masing keluarga. Sumber pangan keluarga terutama mereka yang miskin akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makannya jika yang harus dilayani jumlahnya sedikit. Besar keluarga mungkin berpengaruh terhadap distribusi makanan dalam keluarga. Keadaan demikian juga dapat mengakibatkan perhatian ibu terhadap perawatan anak menjadi berkurang, karena perhatian ibu dalam merawat dan membesarkan anak balita dapat terpengaruh bila banyak anak yang dimiliki. Bila besar keluarga bertambah maka porsi makanan untuk setiap anak berkurang.24

Keadaan ekonomi yang lemah dalam keluarga besar dapat menyebabkan anak-anak menderita karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.

Semakin banyak jumlah anggota keluarga, tentunya akan semakin bervariasi aktivitas, pekerjaan dan seleranya, sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan.

Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh, karena tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama.14

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1. Kerangka Teori

Gambar 3.1. Kerangka Teori Status Gizi

Langsung Tidak Langsung

Biokimia Klinis Antropometri Biofisik Survei

Konsumsi Makanan

Statistik Vital

BB/U TB/U BB/TB

Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih

Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi

Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk

 Pendidikan ibu

 Pekerjaan ibu

 Pendapatan keluarga

 Jumlah anggota keluarga

3.2. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka sebagai kerangka konsep penelitian tentang status gizi pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan sebagai berikut:

Gambar 3.2. Kerangka Konsep Penelitian Pengukuran Antropometri

a. Indikator BB/U

b. Indikator BB/TB

Status Gizi Anak Balita a.Gizi buruk

b.Gizi kurang c.Gizi baik d.Gizi lebih a. Sangat kurus b. Kurus c. Normal d. Gemuk Karakteristik Ibu balita a. Umur

b. Pendidikan c. Pekerjaan d. Pendapatan

e. Jumlah anggota Keluarga

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional untuk mengetahui gambaran status gizi anak balita berdasarkan Antropometri di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 sampai dengan November 2016.

4.2.2. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan. Alasan pemilihan lokasi penelitian karena kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan yang memiliki anak balita dengan status gizi buruk dan kurang yang relatif masih tinggi di Kota Medan.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah anak balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan. Berdasarkan data Puskesmas Sentosa Baru, jumlah populasi anak balita pada saat penelitian adalah sebanyak 13.541 anak balita.

4.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah anak balita yang memiliki ibu dengan usia balita 1-5 tahun. Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus sampel Cross Sectional, sebagai berikut :

2 P = Perkiraan proporsi 0,69 q = 1 – p

Kriteria inklusi pemilihan sampel sebagai berikut : a. Balita yang memiliki ibu dengan usia balita 1-5 tahun b. Berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru

c. Ibu balita yang datang ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru d. Bersedia menjadi responden.

Kriteria eksklusi, yaitu tidak bersedia mengikuti penelitian (menolak menandatangani Informed Consent).

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

4.4.1. Data primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dari ibu balita melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh berupa data umur balita, berat badan balita, tinggi badan balita dan karakteristik ibu balita (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga) serta status gizi balita.

4.4.2. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari Puskesmas Sentosa Baru berupa profil puskesmas dan KMS anak balita.

4.5. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penjelasan variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional, sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian. Adapun definisi operasional dari variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran Antropometri

a. Definisi : pengukuran pada dimensi tubuh manusia.

b. Cara ukur : melakukan variabel pengukuran BB, TB, dan umur kemudian dilakukan perhitungan BB/TB dan BB/U.

c. Alat ukur : timbangan untuk mengukur BB, microtoise/papan pengukur untuk mengukur TB, serta data balita untuk mengetahui umur balita.

d. Skala pengukuran : numerik.

2. Berat Badan Balita

a. Definisi : berat badan balita saat dilakukan penelitian.

b. Cara ukur : pastikan timbangan injak diletakkan di lantai yang datar, lihat posisi jarum harus menunjuk ke angka 0 (nol), anak sebaiknya memakai baju yang tipis dan tidak memegang atau mengantongi sesuatu. Kemudian anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegang. Kemudian baca angka yang ditunjukkan oleh jarum. Balita yang belum dapat berdiri menggunakan timbangan bayi (baby scale). Timbangan bayi diletakkan pada bidang datar. Pastikan posisi jarum menunjuk ke angka 0 (nol).

Kemudian letakkan balita di atas timbangan dan baca angka yang ditunjukkan oleh jarum.

c. Alat ukur : balita yang belum dapat berdiri diukur dengan baby scale (timbangan bayi), sedangkan untuk balita yang telah dapat berdiri digunakan timbangan injak.

d. Skala pengukuran : numerik.

3. Umur Balita

a. Definisi : usia balita saat dilakukan penelitian.

b. Cara ukur : Umur dihitung dalam bulan yang ditentukan

i. Pembulatan ke atas dilakukan bila lebih dari 15 hari dan sebaliknya.

ii. Bila tidak ingat tanggal lahir maka tanggal lahir ditentukan pada tanggal 15.

iii. Bila tidak ingat bulan lahir maka bulan lahir ditentukan pada bulan ke 6

c. Alat ukur : data balita.

d. Skala ukur : numerik.

4. Tinggi Badan Balita

a. Definisi : tinggi badan balita saat dilakukan penelitian.

b. Cara ukur : bagi balita yang telah dapat berdiri dilakukan pengukuran dengan microtoise. Posisikan badan dengan berdiri tegak menghadap ke depan, tumit menempel pada dinding. Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun, kemudian baca angka pada batas tersebut. Pastikan anak tidak memakai sandal atau sepatu. Bagi balita yang belum dapat berdiri dilakukan pengukuran dengan papan pengukur.

Alat diletakkan pada permukaan yang rata. Lepaskan tutup kepala bayi misalnya topi, hiasan rambut, dan kaos kaki bayi. Letakkan bayi dengan kepala menempel pada bagian kepala atau head board. Luruskan tubuh bayi sejajar dengan bidang papan pengukur. Luruskan tungkai bayi bila dengan cara lutut bayi secara lembut agar lurus. Dorong bagian kaki atau foot board sehingga menempel dengan tumit bayi.

c. Alat Ukur : balita yang telah dapat berdiri diukur dengan microtoise, sedangkan balita yang belum dapat berdiri digunakan papan pengukur.

d. Skala pengukuran : numerik.

5. Status Gizi Anak Balita

a. Definisi : keadaan fisik anak balita yang ditentukan dengan melakukan pengukuran antropometri.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri yaitu berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS menggunakan indikator BB/U dan BB/TB.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/U dan BB/TB.

d. Skala pengukuran : ordinal.

6. Gizi buruk

a. Definisi : status kondisi seseorang dengan nutrisinya di bawah standar rata-rata (Z-score < -3,0).

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/U kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/U.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/U.

d. Skala pengukuran : ordinal.

7. Gizi kurang

a. Definisi : status kondisi menunjukkan kekurangan gizi dengan nilai standar Z-score ≥ -3,0 sampai dengan Z-score <-2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/U kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/U.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/U.

d. Skala pengukuran : ordinal.

8. Gizi Baik

a. Definisi : status kondisi yang menunjukkan keseimbangan nutrisi dengan nilai standar Z-score ≥-2,0 sampai dengan Z-score ≤ 2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/U kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/U.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/U.

d. Skala pengukuran : ordinal.

9. Gizi Lebih

a. Definisi : status kondisi yang menunjukkan dengan lebih dari normal dan nilai standar Z-score > 2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/U kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/U.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/U.

d. Skala pengukuran : ordinal.

10. Sangat Kurus

a. Definisi : Keadaan gizi balita dengan nilai standar Z-score < -3,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/TB kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/TB.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/TB.

d. Skala pengukuran : ordinal.

11. Kurus

a. Definisi : Keadaan gizi balita dengan nilai standar Z-score ≥ -3,0 sampai dengan Z-score < -2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/TB kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/TB.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/TB.

d. Skala pengukuran : ordinal.

12. Normal

a. Definisi : Keadaan gizi balita dengan nilai standar Z-score ≥ -2,0 sampai dengan Z-score ≤ 2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/TB kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/TB.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/TB.

d. Skala pengukuran : ordinal.

13. Gemuk

a. Definisi : Keadaan gizi balita dengan nilai standar Z-score > 2,0.

b. Cara ukur : melakukan pengukuran antropometri BB/TB kemudian diintepretasikan berdasarkan standar WHO-NCHS dengan indikator BB/TB.

c. Alat ukur : Grafik WHO-NCHS berdasarkan BB/TB d. Skala pengukuran : ordinal.

14. Karakteristik Ibu Balita

a. Definisi: Umur ibu balita, pendidikan ibu balita, pekerjaan ibu balita, pendapatan, jumlah anggota keluarga.

b. Cara ukur : wawancara.

c. Alat ukur : kuisioner.

d. Kategori :

I. Pendidikan ibu i. Tamat SD ii. Tamat SMP iii. Tamat SMA iv. Tamat D3

v. Tamat S1 II. Pekerjaan ibu

i. Ibu rumah tangga ii. PNS

iii. Pegawai swasta iv. Wiraswasta/berdagang v. Bertani/berkebun III. Pendapatan

i. < Rp 2.037.000,00 ii. ≥ Rp 2.037.000,00 IV. Jumlah anak dalam keluarga

i. 1-2 orang ii. >2 orang

V. Skala pengukuran : ordinal.

4.6. Pengolahan dan Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisa univariat, yaitu analisis data dalam bentuk distribusi frekuensi dan dihitung persentasenya, yaitu umur balita, berat badan balita, tinggi badan balita dan karakteristik ibu balita (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga) serta status gizi balita. Selanjutnya analisis statistik akan dilakukan dengan bantuan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) dan kemudian data-data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi lokasi penelitian

Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru yang terletak di Jalan Sentosa Baru No. 22 Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan, dengan Wilayah

a. Sebelah Utara : Kecamatan Medan Tembung dan Medan Timur b. Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Tembung

c. Sebelah Barat : Kecamatan Medan Area dan Medan Kota d. Sebelah Timur : Kecamatan Medan Timur

Wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru meliputi 9 (sembilan) kelurahan yaitu:

a. Kelurahan Sei Kera Hilir 1 b. Kelurahan Sei Hilir II c. Kelurahan Sei Kera Hulu d. Kelurahan Pahlawan e. Kelurahan Pandan Hilir f. Kelurahan Sidorame Barat I g. Kelurahan Sidorame Barat II h. Kelurahan Tegal Rejo i. Kelurahan Sidorame Timur

Wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru terdapat 2 buah Puskesmas Pembantu (Pustu), yaitu Pustu Sidorame Timur terletak di Jalan Permai Lorong Kerto dan Pustu Sei Rengas terletak di jalan Madung Lubis. Sedangkan untuk Posyandu terdapat 64 posyandu dengan jadwal pelaksanaan setiap hari Senin sampai Kamis yang pelaksanaannya didampingi oleh petugas kesehatan dari Puskesmas.

5.1.2. Sosio demografi

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru berjumlah 151.795 jiwa, yang terdiri dari atas 23.779 Kepala Keluarga.

5.1.3. Tenaga kesehatan

Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Sentosa Baru berjumlah 32 orang yang terdiri dari:

a. Dokter Umum 4 orang

b. Dokter Gigi 2 orang

c. Sarjana Kesehatan Masyarakat 2 orang

d. Perawat 2 orang

e. SPK 4 orang

f. SPRG 1 orang

g. SPRA 1 orang

h. Akper 5 orang

i. DIII Gizi 2 orang

j. LCPK 1 orang

k. DIII Bidan 5 orang

l. DIII Analisis 2 orang

m. DIV Bidan 1 orang

5.2. Karakteristik Anak Balita

Karakteristik anak balita pada penelitian ini terdiri dari jenis kelamin, umur, berat badan dan tinggi badan.

1. Jenis kelamin Balita

Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan jenis kelamin lebih banyak perempuan, yaitu sebanyak 48 orang (58,5%).

Tabel 5.1. Karakteristik Balita Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

Laki-laki 34 41,5

Perempuan 48 58,5

Total 82 100

2. Umur Balita

Umur balita tertinggi adalah 59 bulan dan terendah 13 bulan.

Berdasarkan umur balita, lebih banyak umur 13-24 bulan sebanyak 38 orang (46,3%).

Tabel 5.2. Karakteristik Berdasarkan Umur Balita Umur (Bulan) Jumlah Persentase (%)

13-24 38 46,3

Hasil penelitan menunjukkan berat badan tertinggi adalah 16,5 Kg dan terendah adalah 6,0 Kg. Berdasarkan berat badan balita, lebih banyak pada kelompok 9-11 Kg yaitu sebanyak 47 orang (57,3 %).

Tabel 5.3. Karakteristik Berdasarkan Berat Badan Balita Berat Badan (Kg) Jumlah Persentase (%)

6-8 23 28,1

9-11 47 57,3

12-14 11 13,4

15–17 1 1,2

Total 82 100

4. Tinggi Badan Balita

Tinggi badan balita tertinggi adalah 107,5 Cm dan terendah adalah 65 Cm. Berdasarkan tinggi badan balita, lebih banyak pada kelompok 76-86 Cm yaitu sebanyak 39 orang (47,6%).

Tabel 5.4. Karakteristik Berdasarkan Tinggi Badan Balita Tinggi Badan (Cm) Jumlah Persentase (%)

65-75 15 18,2

76-86 39 47,6

87-97 24 29,3

98-108 4 4,9

Total 82 100

5.3. Karakteristik Ibu Balita

Karakteristik ibu pada penelitian ini terdiri dari umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan jumlah anak dalam keluarga.

1. Umur ibu balita

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu balita dengan umur terbanyak 30-35 tahun, yaitu sebanyak 49 orang (59,8%).

Tabel 5.5. Karakteristik Berdasarkan Umur Ibu Umur Jumlah Persentase (%)

< 20 tahun 2 2.4

20-35 tahun 49 59,8

< 35 tahun 31 37,8

Total 82 100

2. Pendidikan ibu balita

Pada tabel 5.6 dapat dilihat pendidikan ibu balita lebih banyak tamat SLTA, yaitu sebanyak 57 orang (69,5%)

Tabel 5.6 Karakteristik Berdasarkan Pendidikan Ibu Balita Pendidikan Jumlah Persentase (%)

Tamat SD 2 2,4

Tamat SLTP 14 17,1

Tamat SLTA 57 69,5

Akademi/S1 9 11,0

Total 82 100

3. Pekerjaan ibu balita

Berdasarkan pekerjaan, pekerjaan ibu balita lebih banyak sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), yaitu sebanyak 69 orang (84,1%).

Tabel 5.7 Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan Ibu Balita Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

Ibu Rumah Tangga 69 84,1

PNS 3 3,7

Pegawai Swasta 6 7,3

Wiraswasta/Pedagang 4 4,9

Total 82 100

4. Pendapatan keluarga

Dari hasil penelitian, pendapatan keluarga lebih banyak < Rp 2.037.000 (UMK Kota Medan), yaitu sebanyak 43 orang (52,4%).

Tabel 5.8 Karakteristik Berdasarkan Pendapatan Keluarga Pendapatan Keluarga Jumlah Persentase (%)

< Rp 2.037.000 43 52,4

≥ Rp 2.037.000 39 47,6

Total 82 100

5. Jumlah anak

Berdasarkan jumlah anak dalam keluarga lebih banyak 1-2 orang, yaitu sebanyak 63 orang (76,8%).

Tabel 5.9. Karakteristik Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Jumlah Anggota

Keluarga

Jumlah Persentase (%)

1-2 orang 63 76,8

> 2 orang 19 23,2

Total 82 100

5.4. Status Gizi

Parameter yang digunakan dalam penilaian status gizi menggunakan indeks antropometri, yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U) dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) sesuai dengan tabel standar WHO/NHCS.

5.4.1 Gambaran status gizi balita

Gambaran status gizi balita berdasarkan BB/U ditemukan terbanyak dengan status gizi kurang yaitu 47 orang (57,3%) dan gambaran status gizi balita berdasarkan BB/TB ditemukan terbanyak dengan status gizi kurus yaitu 45 orang (54,9%). Distribusi berdasarkan status gizi anak balita dapat dilihat pada tabel 5.10.

Tabel 5.10. Distribusi Berdasarkan Status Gizi Anak Balita Indeks Antropometri Kategori Jumlah Perentase

(%) penilaian status gizi dengan indeks BB/U secara umum terdapat jumlah penderita gizi buruk dan kurang masih tinggi. Hal ini sesuai dengan latar belakang yang dikemukan sebelumnya. Puskesmas Sentosa Baru merupakan daerah perkotaan dengan tingkat ketersediaan pangan yang tinggi. Pengaruh ketersediaan pangan tidak memberikan jaminan terhadap risiko penderita gizi buruk dan kurang di Kota Medan.

5.4.2. Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Balita

Hasil penelitian didapatkan berdasarkan jenis kelamin, status gizi balita indeks BB/U ditemukan perempuan lebih banyak mengalami status gizi kurang 28 orang dibandingkan laki-laki 19 orang dan berdasarkan indeks BB/TB ditemukan secara klinis perempuan lebih banyak tampak kurus dibanding laki-laki.

Tabel 5.11. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Status Gizi Jumlah

Buruk Kurang Baik Lebih

Berdasarkan umur, status gizi balita indeks BB/U ditemukan kelompok umur 13-24 bulan yaitu sebanyak 16 orang yang lebih banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis tampak kurus.

Tabel 5.12 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Umur Balta

Umur (Bulan) Status Gizi Jumlah

BB/U Buruk Kurang Baik Lebih orang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus

Tabel 5.13. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Berat Badan Berat Badan ditemukan kelompok dengan tinggi badan 76-86 Cm terbanyak mengalami status gizi kurang sebanyak 18 orang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus.

Tabel 5.14 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Tinggi Badan

Tinggi Badan (Cm) Status Gizi Jumlah

Buruk Kurang Baik Lebih

n % n % n % % n %

BB/U

65-75 1 6,7 11 73,3 3 20,0 0 0,0 15 100,0

76-86 1 2,6 18 46,2 19 48,7 1 2,6 39 100,0

87-97 0 0,0 16 66,7 8 33,3 0 0,0 24 100,0

98-109 0 0,0 2 50,0 2 50,0 0 0,0 4 100,0

Sangat Kurus

Kurus Normal Gemuk Jumlah

BB/TB

65-75 1 6,7 11 73,3 3 20,0 0 0,0 15 100,0

76-86 1 2,6 18 46,2 19 48,7 1 2,6 39 100,0

87-97 0 0,0 16 66,7 8 33,3 0 0,0 24 100,0

98-108 0 0,0 2 50,0 2 50,0 0 0,0 4 100,0

5.4.3. Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Ibu Balita

Tabel 5.15 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Ibu Balita

Karakteristik Ibu

Berdasarkan tabel 5.15, umur dengan jumlah responden terbanyak adalah 20-35 tahun dengan status gizi balitanya indeks BB/U termasuk gizi kurang sebanyak 32 orang dan secara klinis termasuk kurus. Pendidikan ibu balita lebih banyak tamat SLTA dengan status gizi balita kurang sebanyak 30 orang dan secara klinis kurus. Pekerjaan ibu balita lebih banyak sebagai Ibu Rumah Tangga dengan status gizi kurang sebanyak 43 orang dan secara klinis tampak kurus. Pendapatan keluarga lebih banyak < Rp 2.037.000 dengan status gizi balita kurang sebanyak 31 orang dan klinis tampak kurus. Jumlah anak lebih banyak 1-2 orang dengan status gizi balita baik sebanyak 33 orang dengan klinis tampak normal.

5.5. Pembahasan

5.5.1. Distribusi status gizi berdasarkan karakteristik balita

Berdasarkan jenis kelamin, status gizi balita indeks BB/U ditemukan perempuan lebih banyak mengalami status gizi kurang dibandingkan laki-laki dan berdasarkan indeks BB/TB ditemukan secara klinis perempuan lebih banyak tampak kurus dibanding laki-laki. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sri (2014) dimana proporsi balita perempuan lebih besar (52%) dibandingkan jenis kelamin laki-laki (48%). Hal ini dapat dipengaruhi oleh jumlah anak balita perempuan yang berdasarkan data puskesmas memang lebih banyak dibandingkan anak balita laki-laki di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru. Hal ini mengindikasikan bahwa baik anak balita laki-laki maupun perempuan, mempunyai kemungkinan relatif sama mengalami status gizi kurang. Pada hasil penelitian sebelumnya juga ditemukan balita jenis kelamin paling banyak mengalami gizi buruk dan kurang karena di kehidupan sehari-hari masih banyak keluarga yang memberikan porsi lebih banyak kepada laki-laki daripada perempuan dan mengutamakan makanan terlebih dahulu pada anak balita laki-laki setelah itu baru perempuan.38

Berdasarkan umur, status gizi balita indeks BB/U ditemukan kelompok umur 13-24 bulan lebih banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini dapat terjadi karena anak balita dengan umur 13-24 bulan adalah anak balita termasuk dalam kelompok

masa pertumbuhan yang cepat sehingga memerlukan kebutuhan gizi yang paling banyak dibandingkan dengan masa-masa selanjutnya.39 Umur balita bukan merupakan faktor risiko gizi kurang pada anak balita. Namun demikian, hal ini dapat mempengaruhi tumbuh kembang.40 41

Berdasarkan berat badan, status gizi balita BB/U, ditemukan kelompok berat badan 9-11 Kg lebih banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Status gizi balita berdasarkan indikasi BB/U lebih mencerminkan status gizi anak saat ini (current nutritional status) bersifat umum dan tidak spesifik.21 Berat badan menggambarkan jumlah protein dan lemak, air serta mineral pada tulang yang sangat sensitif terhadap perubahan mendadak, seperti terserang penyakit infeksi, penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Hal ini menunjukkan balita mengalami gangguan pertumbuhan yang serius, yaitu balita menglami ketidakseimbangan asupan protein dan energi, namun tidak memberikan indikasi apakah masalah kekurangan gizi tersebut bersifat akut atau kronis. Oleh karena itu, setiap gangguan kesehatan terutama memperlihatkan adanya gejala muntah, diare, atau turunnya selera makan anak, segera bawa ke pelayanan terdekat.

Berdasarkan tinggi badan pada status gizi balita indeks BB/U ditemukan kelompok dengan tinggi badan 76-86 Cm banyak mengalami status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/TB secara klinis lebih banyak tampak kurus. Status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB menggambarkan status gizi bersifat akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit. Dalam keadaan demikian, berat badan anak akan cepat turun, sehingga tidak proporsional dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Besarnya masalah kekurusan (kurus dan sangat kurus) pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat adalah jika prevalensi kekurusan >5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kekurusan antara 10,1% -15% dan dianggap kritis bila prevalensi kekurusan sudah diatas 15%.22

5.5.2. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Ibu Balita

Umur ibu balita, lebih banyak pada umur 20-35 tahun. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan berdasarkan indeks BB/U secara klinis lebih banyak tampak kurus. Hal ini menunjukkan bahwa ibu balita lebih banyak pada kategori usia produktif.

Kurangnya pengetahuan tentang gizi, kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu penyebab kejadian gangguan kurang gizi.24

Ketidaktahuan ibu balita akan kebutuhuan gizi balita bisa mengakibatkan asupan gizi pada anak tidak terpenuhi dengan baik, sehingga proses tumbuh kembang anak akan terhambat dan anak dapat mengalami kekurangan gizi. Anak yang mengalami defisiensi gizi pada usia muda, kemungkinan besar akan mengalami hambatan pertumbuhan dan kapasitas intelektualnya rendah.34

Pendidikan ibu balita lebih banyak SLTA. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan secara klinis

Pendidikan ibu balita lebih banyak SLTA. Berdasarkan pengukuran indeks BB/U ditemukan anak balita lebih banyak status gizi kurang dan secara klinis

Dokumen terkait