• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.6 Ekonomi Masyrakat

4.6.1 Jumlah Angkatan Kerja di Desa Perumnas Simalingkar 44

Pada tabel 10 berikut ini akan digambarkan angka pengganguran berdasarkan jumlah usia : Tabel 10

Jumlah angka pengganguran berdasarkan umur

No. USIA ANGKATAN KERJA JUMLAH

(Orang) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18 tahun- 56 tahun)

Jumlah penduduk usia 18 tahun - 56 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja.

Jumlah penduduk usia 18 tahun - 56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga.

Jumlah penduduk usia 18 tahun - 56 tahun yang bekerja penuh. Jumlah penduduk usia 18 tahun - 56 tahun yang bekerja tidak tentu. Jumlah penduduk usia 18 tahun - 56 tahun yang cacat dan tidak bekerja.

Jumlah penduduk usia 18 tahun – 56 tahun yang cacat dan bekerja

4107 475 1810 559 92 - 5 Jumlah 5859

Sumber Kantor Kepala Desa Perumnas Simalingkar, 2012

Berdasarkan tabel 10 dapat dilihat bahwa di Desa Perumnas Simalingkar masih rentan dengan angka pengganguran dimasa produktif. Sulitnya lapangan kerja dan keterbatasan sumber daya manusia menjadi pemicu tingginya angka pengangguran.

4.6.2 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Desa Perumnas Simalingkar

Pada tabel 11 berikut ini akan digambarkan tingkat kesejahteraan keluarga :

Tabel 11

Tingkat kesejahteraan keluarga :

No. TINGKAT KESEJAHTERAAN JUMLAH

(Keluarga) 1. 2. 3. 4. 5. Keluarga Prasejahtera Keluarga Sejahtera 1 Keluarga Sejahtera 2 Keluarga Sejahtera 3 Keluarga Sejahtera 3 Plus

1317 90 112 135 43

Jumlah Kepala Keluarga 1696

Sumber Kantor Kepala Desa Perumnas Simalingkar, 2012

Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa masih banyaknya masyarakat pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) sebagai keluarga sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.

Indikator Keluarga Sejahterapada dasarnya berangkat dari pokok pikiran yang terkandung didalam undang-undang no. 10 Tahun 1992 disertai asumsi bahwa kesejahteraan merupakan variabel komposit yang terdiri dari berbagai indikator yang spesifik dan operasional. Karena indikator yang yang dipilih akan digunakan oleh kader di desa, yang pada umumnya tingkat pendidikannya relatif rendah, untuk mengukur derajat kesejahteraan para anggotanya dan sekaligus sebagai pegangan untuk melakukan melakukan intervensi, maka indikator tersebut selain harus memiliki validitas yang tinggi, juga dirancang sedemikian rupa, sehingga cukup sederhana dan secara operasional dapat di pahami dan

dilakukan oleh masyarakat di desa.(http://www.bkkbn-jatim.go.id/bkkbn-jatim/html/indi kasi .htm. Diakses pada tanggal 10 Maret 2013).

  Atas dasar pemikiran tersebut, maka indikator dan kriteria keluarga sejahtera yang ditetapkan adalah sebagai berikut :

a. Keluarga Pra Sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) Sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.

b. Keluarga Sejahtera Tahap I adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu :

 Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga.

 Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih.

 Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah bekerja/sekolah dan bepergian.

 Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah

 Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa kesarana/petugas kesehatan.

c. Keluarga Sejahtera tahap II adalah keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera I, harus pula memenuhi syarat sosial psykologis yaitu :

 Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.

 Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk.

 Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per tahun.

 Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.

 Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap

 Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.

 Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun bersekolah pada saat ini.

 Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil).

d. Keluarga Sejahtera Tahap III adalah keluarga - keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera tahap II, harus pula memenuhi syarat pengembangan keluarga yaitu :

 Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.

 Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga untuk tabungan keluarga.

 Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.

 Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

 Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.

 Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah.

 Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat.

e. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus adalah keluarga - keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera tahap III , harus pula memenuhi syarat kriteria pengembangan keluarganya yaitu :

 Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.

 Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

BAB V

ANALISIS DATA

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan melalui teknik wawancara mendalam dengan informan, peneliti berhasil mengumpulkan informasi mengenai remaja pengguna narkoba yakni sebanyak 10 informan dengan komposisi 6 orang informan kunci dan 4 orang informan tambahan. Melalui wawancara dengan informan kunci, diperoleh data mengenai sebab – sebab merebaknya pengguna narkoba di kalangan remaja khususnya remaja di Desa Perumnas Simalingkar.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara mendalam dan observasi langsung ke lapangan itu juga diperoleh berbagai data-data untuk dapat di analisis melalui pendekatan kualitatif. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari data yang telah terkumpul, penulis coba membagi dalam beberapa bagian poin-poin terkait permasalahan yang ingin diuraikan dengan memasukkan petikan wawancara dari informan serta narasi penulis tentang data-data tersebut.

Dokumen terkait