• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah Batang Per Rumpun

Dalam dokumen TRI BAKTI OKTAVIANTI A (Halaman 40-45)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pertumbuhan Tanaman

4.1.2 Jumlah Batang Per Rumpun

Pengaruh pemberian AgriPower (slag) terhadap jumlah batang per rumpun padi ditunjukkan pada Tabel 3. Berdasarkan uji statistik Duncan dengan selang kepercayaan 5%, di Tanah Latosol Atang Sendjaja perbedaan yang nyata terjadi pada umur tanaman 2 dan 8 MST. Perlakuan NPK + 1000 kg memiliki jumlah batang yang nyata lebih banyak dibanding dengan perlakuan NPK pada 2 dan 8 MST. Hal ini disebabkan karena penambahan AgriPower (slag) dapat meningkatkan kandungan Fe pada tanah dan hasilnya akan lebih terlihat pada tanah dengan kandungan Fe yang lebih rendah. Sedangkan, di Tanah Latosol Cihideung Ilir tidak terlihat adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan dari umur 2 MST sampai 8 MST. Selama fase pertumbuhan vegetatif, jumlah batang per rumpun dan tinggi tanaman bertambah dengan cepat. Maka dari itu pada fase ini banyak dibutuhkan hara guna menunjang pertumbuhannya. Unsur-unsur yang terkandung dalam AgriPower baik unsur makro maupun mikro membantu stimulasi pertumbuhan fase vegetatif pada tanaman padi.

Tabel 3. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap jumlah batang per rumpun umur 2-8 MST di Tanah Latosol Atang Sendjaja dan Tanah Latosol Cihideung Ilir.

PERLAKUAN

Jumlah Batang Per Rumpun Tanah Latosol Atang Sendjaja

(Fe rendah)

Tanah Latosol Cihideung Ilir (Fe sedang)

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 2 MST 4 MST 6 MST 8 MST NPK 5.30 a 9.80 a 18.90 a 16.75 a 8.50 a 26.80 a 33.20 a 21.50 a NPK + 500 kg 6.05 ab 11.15 a 20.45 a 17.85 ab 8.40 a 26.10 a 35.00 a 21.60 a NPK + 1000 kg 6.70 b 13.35 a 21.95 a 19.95 b 9.40 a 30.90 a 37.20 a 23.60 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata

pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan.

Gambar 6 memperlihatkan pertumbuhan klimaks jumlah batang per rumpun di kedua lokasi terjadi pada umur 6 MST dan mulai berkurang di umur 8 MST. Hal ini disebabkan karena pada umur 8 MST sudah banyak batang tua yang mati. Pertumbuhan jumlah batang per rumpun di Tanah Latosol Cihideung Ilir lebih cepat dibandingkan dengan Tanah Latosol Atang Sendjaja. Lebih lambannya pertumbuhan jumlah batang per rumpun di Tanah Latosol Atang Sendjaja disebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif akibat

serangan hama. Hal tersebut juga menyebabkan perbedaan jumlah batang per rumpun kedua lokasi pada saat pertumbuhan klimaks. Tetapi, secara keseluruhan dengan penggunaan aplikasi AgriPower pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman dan jumlah batang per rumpun menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan NPK saja.

(a)

(b)

Gambar 6. Pengaruh AgriPower terhadap jumlah batang per rumpun umur 2-8 MST di Tanah Latosol (a) Atang Sendjaja dan (b) Cihideung Ilir.

4.2 Produktivitas

Faktor yang mempengaruhi potensi hasil pada tanaman padi antara lain jumlah batang produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot 1000 butir gabah, dan bobot gabah kering panen. Jumlah batang produktif berhubungan dengan jumlah batang per rumpun saat fase vegetatif. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap jumlah batang produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, persentase jumlah gabah hampa, dan bobot 1000 butir di Tanah Latosol Atang Sendjaja disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap produktivitas di Tanah Latosol Atang Sendjaja.

Perlakuan Jumlah Batang Panjang Malai Jumlah Gabah Jumlah Gabah Jumlah Gabah Gabah Hampa Bobot 1000 Produktif (cm) Per

Malai Isi Hampa (%) butir NPK 8. 90 a 21.18 a 102.50 a 73.09 a 29.42 a 28.40 a 28.11 a NPK + 500 kg 9.30 a 21.26 a 100.92 a 79.70 ab 21.22 a 20.51 a 28.21 a NPK + 1000 kg 10.50 a 21.73 a 106.58 a 80.89 b 25.70 a 24.06 a 28.29 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata

pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan.

Berdasarkan Tabel 4, aplikasi AgriPower tidak berpengaruh nyata pada semua perlakuan terhadap jumlah batang produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah hampa, dan bobot 1000 butir di Tanah Latosol Atang Sendjaja. Tetapi pada jumlah gabah isi, perlakuan NPK + 1000 kg nyata meningkatkan jumlah gabah isi dibandingkan dengan perlakuan NPK. Jumlah gabah isi dipengaruhi oleh unsur N yang terpenuhi dalam pembentukan asimilat pada saat proses pengisian biji. Panjang malai dan jumlah gabah per malai pada perlakuan NPK + 1000 kg memiliki nilai yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000) kandungan N dan P dapat meningkatkan jumlah gabah per malai. Unsur N dan K yang tersedia bagi tanaman padi akan meningkatkan panjang malai serta jumlah gabah per malai (Jones et al., 1982). Data persentase gabah hampa juga menunjukan bahwa perlakuan NPK memiliki persen gabah hampa tertinggi. Perlakuan NPK + 1000 kg tetap memiliki nilai yang tertinggi pada bobot 1000 butir. Hal ini menunjukan

perlakuan dengan penambahan AgriPower terbukti meningkatkan pengisian biji pada fase reproduktif.

Pada Tabel 5, yaitu data produktivitas di Tanah Latosol Cihideung Ilir menunjukan perbedaan yang nyata pada panjang malai untuk perlakuan NPK + 1000 kg terhadap perlakuan NPK. Jumlah batang produktif, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, dan bobot 1000 butir tidak menunjukan perbedaan yang nyata pada semua perlakuan. Pada jumlah gabah hampa, perlakuan NPK + 1000 kg memiliki nilai tertinggi dibanding perlakuan lainnya, tetapi persentase gabah hampa tetap menunjukan bahwa perlakuan NPK tetap memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan dua perlakuan dengan aplikasi AgriPower. Secara keseluruhan perlakuan NPK + 1000 kg masih memiliki nilai yang paling besar bila dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya. Tabel 5. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap produktivitas di Tanah Latosol

Cihideung Ilir. Perlakuan Jumlah Batang Panjang Malai Jumlah Gabah Jumlah Gabah Jumlah Gabah Gabah Hampa Bobot 1000 Produktif (cm) Per

Malai Isi Hampa (%) butir NPK 14.05 a 21.24 a 102.80 a 75.73 a 27.07 a 26.55 a 26.24 a NPK + 500 kg 14.05 a 21.91 ab 102.80 a 77.05 a 25.07 a 25.32 a 26.27 a NPK + 1000 kg 15.30 a 22.46 b 115.37 a 87.25 a 28.12 a 24.91 a 27.30 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan

Pemberian slag (silicat fertilizer) pada tanaman padi dapat menambah tinggi tanaman, jumlah batang, berat basah, dan berat kering tanaman. Apabila pada masa reproduksi pemberian Si dihentikan maka jumlah butir tiap malai dan persentase biji yang masak berkurang (Leiwakabessy et al., 2003).

Semua faktor yang mempengaruhi komponen produksi akan menentukan produksi gabah. Pupuk silikat merangsang pertumbuhan tanaman padi dan parameter panen secara signifikan. Hal ini bisa terjadi karena nutrisi an-organik seperti Si, Ca, P, Mg, Fe, dll. yang berasal dari pupuk silikat. Dengan meningkatkan luas permukaan daun, rata-rata asimilasi CO2 dan produksi kering, pupuk silikat berkontribusi secara signifikan untuk menaikan pertumbuhan

tanaman padi, seperti biomasa akar, volume akar, dan porositas akar. (Ali et al., 2008).

Data bobot gabah kering panen dan gabah kering giling di Tanah Latosol Atang Sendjaja disajikan pada Tabel 6. Walaupun tidak ada perbedaan yang nyata pada setiap perlakuan, bila dilihat dari persentase kenaikan bobot gabah perlakuan NPK + 1000 kg tetap memiliki nilai persentase yang paling tinggi dibandingkan dua perlakuan lainnya dalam menaikan bobot gabah. Perlakuan NPK + 1000 kg meningkatkan data GKP sebesar 4.72% dan data GKG sebesar 7.47% dibanding dengan perlakuan NPK sebagai kontrol.

Tabel 6. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap bobot gabah kering panen dan gabah kering giling di Tanah Latosol Atang Sendjaja.

Perlakuan

Gabah Kering

Panen Kenaikan

Gabah

Kering Giling Kenaikan

(ton/ha) (%) (ton/ha) (%)

NPK 7.20 a 0 6.02 a 0

NPK + 500 kg 7.50 a 4.16 6.38 a 5.98

NPK + 1000 kg 7.54 a 4.72 6.47 a 7.47

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan.

Tabel 7. Pengaruh pemberian AgriPower terhadap bobot gabah kering panen dan gabah kering giling di Tanah Latosol Cihideung Ilir.

Perlakuan GabahKering Panen Kenaikan GabahKering Giling Kenaikan (ton/ha) (%) (ton/ha) (%) NPK 7.89 a 0 6.37 a 0 NPK + 500 kg 8.44 a 6.97 6.92 a 8.63 NPK + 1000 kg 8.77 a 11.15 7.23 a 13.5

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan.

Tabel 7, juga menampilkan pengaruh pemberian AgriPower terhadap bobot GKP dan GKG di Tanah Latosol Cihideung Ilir. Hal yang sama terjadi di Tanah Latosol Cihideung Ilir, perlakuan NPK + 1000 kg mampu menaikan persentase GKP sebesar 11.15% dan persentase GKG naik sebesar 13.5% dibanding dengan kontrol (NPK). Perbedaan data GKP dan GKG yang terdapat pada dua lokasi disebabkan gangguan pertumbuhan pada fase vegetatif yang terjadi di Tanah Latosol Atang Sendjaja akibat serangan hama, sehingga data

produktivitas padi di Tanah Latosol Atang Sendjaja lebih kecil dibandingkan data produktivitas di Tanah Latosol Cihideung Ilir. Tetapi secara keseluruhan berdasarkan data GKP dan GKG yang berada pada kedua lokasi penelitian, telah membuktikan bahwa aplikasi AgriPower efektif dalam meningkatkan produktivitas dan bobot gabah padi.

Berdasarkan penelitian Ali et al., (2008), penggunaan pupuk silikat secara signifikan meningkatkan pertumbuhan produksi padi pada musim tanam tahun 2006–2007. Pertumbuhan produksi padi dari plot kontrol (6222 kg/ha) merupakan hasil yang maksimal sekitar 13% dan 18% dengan aplikasi 4 ton/ha pupuk silikat yang diaplikasikan pada tahun 2006 dan 2007. Dilaporkan juga bahwa penggunaan aplikasi slag dengan dosis 1.5–2 ton/ha di lahan rendah kandungan Fe dapat meningkatkan produksi padi sekitar 5-15% dan produksi kering juga meningkat pada kisaran 6-9 ton/ha.

Dalam dokumen TRI BAKTI OKTAVIANTI A (Halaman 40-45)

Dokumen terkait