HASIL DAN PEMBAHASAN
11. Jumlah Hasil Tangkapan Nelayan Setiap Hari
Jumlah hasil tangkapan nelayan setiap harinya itu sebanyak 1-5 kg/hari sebesar 63.7%, 6-10 kg/hari sebesar 27.3%, 11-15 kg/hari sebesar 9.1% dan 16-20 kg/ hari sebesar 0%. Distribusi jumlah hasil tangkapan nelayan setiap hari dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Jumlah Hasil Tangkapan Nelayan Setiap Hari Jumlah Hasil
31
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan
Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan masyarakat nelayan di Desa Asam Jawa Raya Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan maka ditawarkan (6) variabel independen yang diperkirakan berpotensi mempengaruhi variabel dependen. Adapun ke enam variabel tersebut diantaranya adalah tingkat pendidikan, jumlah alat tangkap, jumlah hasil tangkapan, lama bekerja sebagai nelayan, curahan waktu kerja setiap hari, luas lokasi penangkapan. Data-data tersebut didapatkan dari responden yang berjumlah 11 nelayan yang menggunakan alat bantu kuisioner dalam melakukan wawancara di lokasi penelitian.
Kemudian data data tersebut di olah dengan menggunakan Program SPSS.
Hasil analisis kontribusi pendapatan masyarakat nelayan Desa Asam Jawa Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 12. Hasil Analisis regresi linear pendapatan nelayan Desa Asam Jawa
Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan
No Variabel Koefisien t-
Hitung
Sig. Keterangan
Konstanta -19344,107
1. Pendidikan 392699,105 9,999 0,01 Berpengaruh nyata 2. Jumlah alat tangkap -5024,532 -0,189 0,85 Tidak berpengaruh 3. Jumlah hasil tangkapan 73255,484 9,670 0,01 Berpengaruh nyata 4. Lama bekerja sebagai
nelayan
16349,294 2,699 0,54 Tidak berpengaruh
5. Curahan waktu kerja setiap hari
135819,419 7,095 0,02 Berpengaruh nyata
6. Luas lokasi
penangkapan
12465,720 1,484 0,21 Tidak Berpengaruh
Model regresi linier pendapatan nelayan di Desa Asam Jawa diperoleh sebagai berikut: Y = -19344,107 + 392699,10 X1 -5024,53 X2 + 73255,48 X3 + 16349,29 X4 + 135819,41 X5 + 12465, 72 X6
Pada hasil analisis regresi tersebut diperoleh 3 variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan Desa Asam Jawa Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Dimana variabel yang berpengaruh nyata yaitu variabel pendidikan,jumlah hasil tangkapan, dan curahan waktu kerja setiap hari.
Nilai koefisien bertanda responden positif (+) berarti bahwa semakin tinggi variabel tersebut meningkatkan nilai Y.
Variabel pendidikan memiliki nilai sig. 0.01 artinya bahwa variabel pendidikan berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan, variabel jumlah hasil tangkapan memiliki nilai sig. 0.01 artinya bahwa variabel jumlah hasil tangkapan berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan.
Variabel curahan waktu kerja memiliki nilai sig. 0.02 artinya bahwa variabel curahan waktu kerja berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan, sementara untuk variabel jumlah alat tangkap, lama waktu bekerja sebagai nelayan dan luas lokasi penangkapan memiliki nilai sig <0.05 yang berarti bahwa variabel tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan.
Pembahasan
1. Organisasi Masyarakat Nelayan
Dalam kehidupan bermasyarakat nelayan Sungai Barumun dalam penelitian ini tidak pernah ada kegiatan organisasi antara masyarakat nelayan hal ini disebabkan oleh kesadaran kolektif masyarakat rendah dan menganggap bahwa organisasi antar masyarakat nelayan tidak penting untuk diikuti padahal sesama masyarakat nelayan dapat berbagi informasi dan saling bertukar pikiran. Hal ini sesuai dengan Rakhamanda et.al (2018) mengatakan pembentukan kelompok nelayan merupakan hasil penyikapan terhadap tekanan-tekanan kehidupan yang
33
selalu mereka hadapi setiap saat. Dengannya, dapat dihimpun dan dikembangkan potensi kreasi, tanggung jawab kolektif, dan prinsip swadaya dari masyarakat nelayan. Sementara Cahyandi et.al (2018) mengatakan jaringan sosial pada suatu masyarakat menunjukkan berbagai tipe hubungan sosial yang terikat atas dasar identitas kekerabatan, ras, etnik, pertemanan, ketetanggaan, ataupun atas dasar kepentingan tertentu. Kehidupan organisasi sosial masyarakat di permukiman nelayan dapat diketahui dengan melihat keterlibatan masyarakat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Keberadaan organisasi kemasyarakatan sangat penting terutama di dalam pembangunan. Melalui organisasi ini masyarakat dapat berpartisipasi aktif untuk membangun dan mengembangkan wilayahnya
2. Status Sosial di Lingkungan Masyarakat
Sebesar 81,8 % masyarakat nelayan asli bercampur dengan masyarakat pendatang yang menandakan bahwa masyarakat nelayan asli memiliki sifat solidaritas tanpa membeda-bedakan dengan masyarakat pendatang sehingga mereka dapat hidup berdampingan dalam lingungan masyarakat dengan para pendatang melakukan interaksi yang dapat dilihat dari hubungan kerjasama dalam melaksanakan aktifitas. Hal ini sesuai dengan Anughrah (2016) yang menyatakan Masyarakat nelayan secara umum memiliki pola interaksi yang sangat mendalam, pola interaksi yang dimaksud dapat dilihat dari hubungan kerjasama dalam melaksanakan aktivitas, melaksanakan kontak secara bersama baik antara nelayan dengan nelayan maupun dengan masyarakat lainnya, mereka memiliki tujuan yang jelas dalam melaksanakan usahanya serta dilakukan dengan sistem yang permanen, sesuai dengan kebudayaan pada masyarakat nelayan. Watung (2013) mengatakan Masyarakat nelayan dapat di pandang debagai suatu lingkungan hidup dari satu
individu atau satu keluarga nelayan. Dengan kata lain masyarakat nelayan dibentuk oleh sejumlah rumah tangga nelayan dan tiap rumah tangga merupakan lingkungan hidup bagi yang lainnya.
3. Status Keluarga Nelayan
Hasil penelitian menunjukan kualitas pernikahan nelayan berada pada kategori tinggi Sebanyak 81.8% nelayan bertastus menikah sedangkan 18,2%
nelayan berstatus duda. Ketahanan keluarga memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kualitas pernikahan. Hal ini menunjukan bahwa semakin baik ketahanan yang dimiliki keluarga akan mengoptimalkan kualitas pernikahan keluarga tersebut.
Hal ini sesuai dengan penelitian Masri et.al (2011) di Sungai Limau dimana tingkat status perkawinan masyarakat nelayan Sungai Limau bervariasi ada yang kawin atau menikah, duda dan cerai serta belum kawin, tetapi kebanyakan berstatus kawin dengan banyak mempunyai anak. Kiewisch (2015) mengatakan ketahanan berfokus pada kemampuan individu atau rumah tangga untuk mengatasi guncangan dan tekanan dengan mengakses sumber daya dan mengatasi sumber stres.
Kondisi Ekonomi Masyarakat Nelayan
1. Tingkat Pendidikan Masyarakat Nelayan
Sebanyak 90,9 % sampel nelayan dalam peneltian ini memiliki tingkat pendidikan terakhir hanya sampai tamat Sekolah Dasar (SD) sementara untuk masyarakat yang tamat SLTP/SMA hanya sebesar 9,1 % hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat nelayan Sungai Barumun tergolong rendah dikarenakan kesadaran masyarakat nelayan akan pentingnya pendidikan rendah. Di
35
kalangan nelayan profesi ini dianggap menjadi cara untuk hidup yang diwariiskan secara turun temurun. Hal ini sesuai dengan Siregar (2016) yang mengatakan bahwa kesadaran masyarakat nelayan terhadap pendidikan rendah karena kurang memahami arti pentingnya pendidikan formal itu. Ihsan (2005) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuanya, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainya di dalam masyarakat di mana ia hidup.
2. Luas Lokasi Penangkapan Ikan
Luas lokasi penangkapan nelayan di Sungai Barumun masih dalam kategori sangat sempit hingga sedang. Hal ini akan mempengaruhi jumlah hasil tangkapan ikan yang didapat, dimana semakin luas lokasi penangkapan ikan maka jumlah hasil tangkapan juga akan meningkat. Hal ini sesuai dengan Indara et.al (2017) yang menyatakan semakin jauh jarak yang ditempuh nelayan, maka akan menghasilkan tangkapan yang lebih banyak, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan.
Masyuri (1998) mengatakan Penangkapan yang dilakukan dalam waktu yang lebih jauh lama dan lebih jauh dari daerah sasaran tangkapan ikan mempunyai lebih banyak kemungkinan memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih banyak dan tentu memberikan pendapatan lebih besar di bandingkan dengan penangkapan ikan dekat pinggiran.