• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah Kerjasama dengan lembaga multilateral, bilateral, dan regional yang efektif

AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2011

Sasaran 4: Membangun pencitraan positif negara Indonesia di mata Internasional

1) Jumlah Kerjasama dengan lembaga multilateral, bilateral, dan regional yang efektif

4 6 7 4 6 7 100 % 100 % 100 %

1) Jumlah Kerjasama dengan lembaga multilateral, bilateral, dan regional yang efektif

Kegiatan Pengembangan Kemitraan Pelayanan Informasi Internasional memiliki 4 (empat) indikator kinerja.

(1) Indikator pertama adalah pelaksanaan kerjasama layanan informasi dengan lembaga media asing, kantor berita, perwakilan negara asing, organisasi lembaga internasional, masyarakat asing. Dari target 5 paket, yang terealisasi adalah 4 paket kegiatan, yaitu Kunjungan Jurnalistik wartawan asing dan lokal ke Denpasar dalam rangka sosialisasi Keketuaan Indonesia ASEAN; Pelaksanaan pertukaran budaya oleh Kelompok Informasi Masyarakat Indonesia dengan Malaysia; Chief Editor Meeting terkait Keketuaan Indonesia ASEAN; dan Dialog dengan TKI di Hongkong bekerjasama dengan Dompet Dhuafa dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial.

B A B III (2) Indikator kedua adalah pengelolaan komunikasi publik dan layanan

informasi publik untuk masyarakat asing yang terdiri dari 5 paket kegiatan yaitu Pembuatan Handbook of Indonesia 2011; Pembuatan dan penerbitan Friends of Indonesia; Pencetakan pamphlet dan leaflet terkait Keketuaan ASEAN; Pembuatan dan penayangan PSA; serta Advertorial. (3) Indikator selanjutnya adalah pelaksanaan diseminasi/penyebaran

informasi publik langsung ke masyarakat asing dan telah dilakukan 3 kegiatan sesuai target yang ditetapkan, yaitu pelaksanaan forum dialog di Mesir, Belanda, dan Korea Selatan.

(4) Indikator terakhir adalah Jumlah Kerjasama dengan lembaga multilateral, bilateral, dan regional yang efektif. Hingga saat ini belum ada MoU yang dihasilkan, namun demikian bentuk kerjasama lainnya yang telah dilaksanakan adalah pelaksanaan Joint Performance Art antara Indonesia dengan Singapura.

Matrik Kinerja Kegiatan Kerjasama Bidang MUltilateral WTO (World Trade Organization)

 Pengaturan domestik/domestic regulations, pembahasan draft/konsep peraturan di WTO) sebagaimana diatur pada artikel 6 GATS (General Agreement on Trade in Services)

 IMR (International Mobile Roaming) charges yang tinggi UPU (Universal Postal Union)

Kerjasama Exchange Program Kurikulum antara Politeknik dan UPU ITU (International Telecommunication Union)

Kerjasama dengan negara2 ITU dalam hal tarif, interkoneksi, dan interferensi frekuensi

WSIS (World Summit Information Society)

Implementasi WSIS khususnya yang terkait dengan ICT

UNIDROIT (United Nation – International Institute for the Unification of Private Law)

Mengkaji kemungkinan penyatuan hukum privat (perdata) khususnya hokum perdagangan internasional (commercial law) termasuk pengaturan benda-benda angkasa (satelit).

Kegiatan Kerja Sama Indonesia sebagai Proponent Country di Fora Regional pada forum Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) Dalam meningkatkan kerjasama tingkat ASEAN, Indonesia melalui Kerjasama Indonesia di fora Regional telah menyampaikan beberapa program kerja / proyek yang telah disetujui untuk didukung pelaksanaannya oleh ASEAN maupun Mitra Wicaranya seperti Jepang, Korea. Adapun keluaran dari program kerja / proyek dimaksud dapat dijadikan referensi ataupun rekomendasi kebijakan negara – negara anggota ASEAN. Beberapa program kerja Indonesia yang telah dilaksanakan pada forum ASEAN dimaksud antara lain:

(1) Dissemination Tsunami Alert System using Virtual Phone

Proyek ini dikembangkan untuk mencari alternatif dari sistem layanan telekomunikasi yang dirancang untuk menghadapi kelemahan dari

B A B III penyelenggaraan infrastruktur telekomunikasi konvensional khususnya

menyangkut aspek ekonomi. Dalam penggunaannya, VIPO memiliki karakteristik layanan dengan biaya investasi murah dan terminal access yang terjangkau untuk digunakan di daerah pedalaman.

(2) Strategic ASEAN Policy : Promoting and Dissemating Green ICT Action Proyek ini dilakukan untuk menanggapi isu climate change dan perlindungan lingkungan yang dihasilkan dari GHG (Green House Gasses) emisi dari penggunaan TIK. Berdasarkan hal tersebut maka negara ASEAN bersepakat untuk membuat proyek yang menghasilkan rekomendasi dari implementasi Green TIK. 3 (tiga) strategi yang dihasilkan dari proyek ini adalah green of ICT (membangun high-efficiency, green BTS dan data center, serta membangun dan menggunakan infrastruktur dan produk ramah lingkungan), green by ICT (mengoptimalkan sistem TIK dan pengembangan green system, mempromosikan dan meningkatkan penggunaan green aplication) dan aksi pendukung lainnya.

(3) ASEAN Internet Exchange

Proyek ini bertujuan untuk membuat panduan dan kerangka pembangunan ASEAN Internet Exchange, serta membuat rekomendasi untuk implementasi yang efektif, terjangkau dan berkapasitas tinggi untuk jaringan AIX diantara negara - negara anggota ASEAN untuk digunakan layanan elektronik antara e-government, e-commerce, dan e-society.

Kegiatan Kerja Sama Indonesia sebagai Proponent Country di Fora Regional pada forum Asia Pacific Telecommunity (APT)

Dalam meningkatkan kerjasama tingkat APT, Indonesia melalui Kerjasama Regional telah menyampaikan beberapa program kerja / proyek yang telah disetujui untuk didukung pelaksanaannya oleh APT. Adapun keluaran dari program kerja / proyek dimaksud dapat dijadikan referensi ataupun rekomendasi kebijakan negara – negara anggota APT. Beberapa program kerja Indonesia yang telah diusulkan pada forum APT dimaksud antara lain: (1) Exploration of ICT's Potential in Peatland Environmental Conservation

to Address Climate Change.

Proyek ini merupakan feasibility study untuk membangun sistem monitoring jarak jauh menggunakan ICT di daerah terpencil. Sistem monitoring jarak jauh yang menggunakan ICT tersebut memonitor bendungan dan lahan gambut sehinggi para peneliti dapat melihat visual image dan mendapatkan informasi dari jarak jauh yaitu data center di Universitas Palangka Raya tentang tingkat air.

(2) Promoting Agricultural Commodity Market through the Implementation of Mobile Marketplace.

Proyek ini bertujuan untuk menstimulasi para petani didaerah pedalaman untuk menggunakan TIK yang berisi informasi dan content yang dibutuhkan melalui layanan aplikasi mobile. Proyek ini juga akan memfinalisasi dokumen yang berisi spesifikasi design dan sistem yang dibutuhkan untuk aplikasi mobile marketplace.

B A B III (3) Emergency Broadband Access Network for Disaster Relief in Indonesia

Phase-2

Emergency Broadband Access Network for Disaster Relief ini merupakan proyek yang dikembangkan menggunakan EBAN mesh networking (EBAN M-Net), peningkatan EBAN Sky Station, aplikasi telemedecine, dan memperluas penggunaan EBAN, serta menyebarkan konsep dari sistem EBAN badan penanggulangan bencana didaerah-daerah Indonesia.

Peran Aktif Indonesia pada Fora Regional

Didalam keikutsertaan Indonesia pada fora – fora kawasan regional, Indonesia telah berperan aktif sebagai Chairman/Chair pada sidang – sidang sebagai berikut :

(1) Asia Pacific Telecommunication and ICT Development Forum (ADF). (2) ASEAN Telecommunication Senior Officials’ Meeting Joint Working

Group and Dialogue Partners’, dan;

(3) ASEAN Telecommunication Regulators’ Council. Matrik Kinerja Kegiatan Kerjasama Bidang Bilateral

Nota Kesepahaman dan atau setingkat hasil kesepakatan yang telah dicapai dan ditandatangai selama tahun 2011.

(1) Arrangement dan Agreed Minutes RI – Korea Utara ditandatangani tanggal 25 Maret 2011 di Pyongyang, Korea Utara.

Kerjasama di bidang ICT, penyiaran dan Media

(2) MoU antara Balitbang SDM dengan PT. Huawei. ditandatangani tanggal 13 April 2011 di Jakarta

(3) Agreed Minutes WLTF (Working Level Task Force) ke-1 antara RI – Korea ditandatangani tanggal 18 Mei 2011di Bali

(4) Record of Discussion Sub Committee on Communication and Information pada saat Persidangan Joint Border Committee (JBC) antara Indonesia dan Papua Nugini ditandatangani tanggal 23 Juni 2011 di Batam, Indonesia.

(5) MoU antar Balitbang Kominfo dengan ETRI (Electronic and Telecommunication Research Institute) ditandatangani tanggal 24 Juni 2011 di Seoul, Korea Selatan

(6) MoU PT. Pos Indonesia dengan Pos Iran ditandatangani tanggal 28 Juni 2011 di Ulaanbaatar, Mongolia, pada saat penyelenggaraa Asia-Pacific Postal Union Executive Council

(7) Agreed Minutes WLTF (Working Level Task Force) ke-2 antara RI – Korea ditandatangani tanggal 24 Oktober 2011, di Seoul, Korea Selatan Hasil kesepakatan frekuensi perbatasan dan bidang informasi adalah sebagai berikut :

(1) 9th Trilateral Tecnical Coordination Meeting, pertemuan di tingkat administrasi telekomunikasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura, telah disepakati beberapa hal yang tertuang dalam minutes of meeting, a.l :

B A B III a) Penyelesaian Penggunaan frekuensi 790 - 880 untuk co-chanel

antara system CDMA 200 dengan EGSM melalui Long Term Study.

b) Koordinasi penggunaan kanal 40 untuk Digital TV diwilayah

Batam/Bintan, Singapura dan Johor Baru c) Koordinasi penggunaan BWA di 2.3 GHz dan 3.3 GHz - 3.4 GHz d) Pembahasan AWF 700 MHz Band Plan (2) Joind Border Committee ke-28 antara Indonesia dengan Papua Nugini,

telah disepakati beberapa hal yang tertuang dalam Record of Discussion antara lain :

a) Mengaktifkan kembali Sub-Committee on Information and Communication

b) Indonesia mengusulkan Term of Reference (ToR) untuk

koordinasi pengguna frekuensi di perbatasan. (3) Information Communication Joint Committee (ICJC) ke-2 antara

Indonesia dan Singapura, pertemuan setingkat eselon 1, telah disepakati beberapa hal yang tertuang dalam Minutes of Meeting, antara lain :

a) Melanjutkan kerjasama dibidang informasi antara Indonesia dengan Singapura, antara lain co-Production dan Joint Performance Art .

b) Saling tukar menukar informasi terkait dengan standarisasi perangkat telekomunikasi maupun aplikasi infomatika antara Indonesia dan Singapura.

c) Kerjasama dalam bentuk conten exchange berupa feature dan

informasi kebudayaan. (4) Joint Communication Committee (JCC) ke-9, pertemuan di level

administrasi telekomunikasi Indonesia dan Malaysia, telah menyepakati beberapa hal yaitu :

a) Pembahasan interferensi broadcasting di wilayah perbatasan

Indonesia dengan Malaysia terutama di wilayah Kalimantan. b) Koordinasi parameter teknis untuk pemancar di daerah

perbatasan Indonesia dengan Malaysia. c) Pembahasan Long Term Study penggunaan frekuensi 790 - 880

MHz untuk system CDMA 2000 dan sistem ESGM. d) Koordinasi penggunaan frekuensi 380 - 430 MHz dan 450 - 480

MHz untuk di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. e) Koordinasi frekuensi 2,5 GHz untuk penggunaan stasiun bumi dan

BWA.

(5) Border Communication Committee Meeting (BCCM) ke-12, pertemuan di level administrasi telekomunikasi Indonesia dan Singapura, telah menyepakati beberapa hal yang tertuang dalam Minutes of Meeting, antara lain :