DAFTAR LAMPIRAN
2.4 Pengujian Sinbiotik secara In Vivo
3.1.4 Konversi Pakan
3.1.5.4 Kadar Hematokrit
3.1.5.5.2 Jumlah Monosit
Perbedaan rata-rata jumlah monosit benih ikan patin yang diamati pada akhir perlakuan disajikan pada Gambar 11 berikut.
49 64 71 54 0 10 20 30 40 50 60 70 80 K A B C Ju m la h L im fo s it ( % ) Perlakuan
19 Gambar 11. Jumlah monosit benih ikan patin selama perlakuan sinbiotik; K. kontrol; A. sinbiotik 0,5 dosis; B. sinbiotik 1 dosis; C. sinbiotik 2 dosis.
Berdasarkan data yang ditunjukkan oleh Gambar 11 di atas, diketahui bahwa rata-rata jumlah monosit benih ikan patin tertinggi terdapat pada kontrol dengan nilai sebesar 26%. Nilai terendah dari jumlah monosit terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 12%. Sedangkan jumlah monosit pada perlakuan A adalah sebesar 16% dan pada perlakuan C adalah sebesar 22%.
3.1.5.5.3 Jumlah Trombosit
Rata-rata jumlah trombosit (%) yang berbeda-beda dari masing-masing perlakuan pada akhir pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 12 berikut.
Gambar 12. Jumlah trombosit benih ikan patin selama perlakuan sinbiotik; K. kontrol; A. sinbiotik 0,5 dosis; B. sinbiotik 1 dosis; C. sinbiotik 2 dosis. 26 16 12 22 0 5 10 15 20 25 30 K A B C Ju m la h M o n o s it ( % ) Perlakuan 10 6 3 9 -1 1 3 5 7 9 11 13 15 K A B C Ju m la h T ro m b o s it ( % ) Perlakuan
20 Seperti halnya dengan jumlah limfosit dan jumlah monosit, jumlah trombosit pada setiap perlakuan memiliki nilai yang berbeda. Nilai tertinggi dari jumlah trombosit terdapat pada kontrol yaitu sebesar 10%. Nilai terendah terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 3%. Sedangkan pada perlakuan A sebesar 6% dan pada perlakuan C sebesar 9%.
3.1.5.5.4 Jumlah Neutrofil
Rata-rata jumlah neutrofil (%) yang terhitung dari masing-masing perlakuan pada akhir pemeliharaan disajikan pada Gambar 13 berikut.
Gambar 13. Jumlah neutrofil benih ikan patin selama perlakuan sinbiotik; K. kontrol; A. sinbiotik 0,5 dosis; B. sinbiotik 1 dosis; C. sinbiotik 2 dosis.
Data pada Gambar 13 di atas menunjukkan bahwa rata-rata jumlah neutrofil pada beberapa perlakuan menghasilkan nilai yang relatif sama. Jumlah neutrofil pada kontrol dan perlakuan C sebesar 15%, sedangkan pada perlakuan A dan B sebesar 14%.
3.1.5.6 Aktivitas fagositosis
Persentase aktivitas fagositosis yang dihasilkan oleh masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 14 berikut.
15 14 14 15 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 K A B C Ju m la h N e u tr o fi l (% ) Perlakuan
21 Gambar 14. Aktivitas fagositosis benih ikan patin selama perlakuan sinbiotik; K. kontrol; A. sinbiotik 0,5 dosis; B. sinbiotik 1 dosis; C. sinbiotik 2 dosis.
Persentase aktivitas fagositosis yang dihasilkan oleh masing-masing perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda. Nilai persentase tertinggi terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 37%. Persentase terendah terdapat pada kontrol dengan nilai 16%. Sedangkan persentase aktivitas fagositosis pada perlakuan A dan C adalah sebesar 29% dan 30%.
3.1.6 Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati pada penelitian ini terdiri dari suhu, DO, pH, dan TAN. Adapun kisaran dari parameter kualitas air tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Kualitas air selama perlakuan sinbiotik
Parameter Perlakuan Referensi (SNI 2000)
K A B C Suhu (˚C) 24 – 30 24 – 30 24,5 – 30 24 – 30 24 – 30 DO (ppm) 5,3 – 7,5 5,8 – 7,5 5,5 – 7,5 6,2 – 7,5 > 4 pH 6,70 – 7,49 6,63 – 7,49 6,68 – 7,49 7,18 – 7,49 6,5 – 7,5 TAN (ppm) 0,05 – 0,60 0,05 – 0,09 0,05 – 0,51 0,05 – 0,94 < 1 Keterangan:
K. kontrol; A. sinbiotik 0,5 dosis; B. sinbiotik 1 dosis; C. sinbiotik 2 dosis. 16 29 37 30 0 5 10 15 20 25 30 35 40 K A B C A k ti v it a s F a g o s it o s is ( % ) Perlakuan
22 Berdasarkan data yang ditunjukkan pada Tabel 3, kisaran suhu, DO, pH, dan TAN air selama pemeliharaan masih berada pada batas toleransi benih ikan patin.
3.2 Pembahasan
Penggunaan probiotik dalam kegiatan akuakultur saat ini mulai banyak diterapkan untuk meningkatkan produksi. Ada beberapa fungsi probiotik dalam akuakultur seperti meningkatkan nilai nutrisi pakan, meningkatkan sistem imun, dan memperbaiki kualitas air media pemeliharaan. Dari beberapa keuntungan tersebut, fungsi probiotik yang paling diandalkan saat ini adalah potensinya untuk meningkatkan sistem imun pada ikan (Nayak 2010). Sedangkan prebiotik merupakan salah satu bahan penyusun makanan yang tidak dicerna oleh saluran pencernaan dan dapat menstimulasi pertumbuhan serta aktivitas bakteri flora normal di dalam saluran pencernaan hewan inang (Ringo et al. 2010). Kerjasama antara penggunaan probiotik dan prebiotik biasa disebut dengan sinbiotik. Penggunaan sinbiotik dalam dosis yang tepat mampu meningkatkan pertumbuhan serta sistem imun pada ikan.
Kelangsungan hidup ikan dalam penelitian ini adalah sebesar 100% pada semua perlakuan. Hal ini menandakan bahwa semua ikan dalam keadaan sehat. Namun dilihat dari pertumbuhan dan sistem imun ikan dari masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda. Dimana dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan sistem imun pada benih ikan patin.
Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran baik bobot maupun panjang dalam suatu periode atau waktu tertentu. Pertumbuhan ikan dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi keturunan, umur dan penyakit ikan sedangkan faktor luar meliputi pakan, padat penebaran dan lingkungan (Effendie 1997). Penggunaan sinbiotik pada pakan dengan dosis berbeda menghasilkan kinerja pertumbuhan benih ikan patin yang berbeda pula. Berdasarkan hasil yang didapat, laju pertumbuhan harian benih ikan patin tertinggi terdapat pada perlakuan B (sinbiotik 1 dosis) yaitu sebesar 3,56% dan yang terendah terdapat pada perlakuan C (sinbiotik 2 dosis) yaitu sebesar 2,24%.
23 Selain itu, pertumbuhan panjang benih ikan patin yang paling tinggi juga didapat pada perlakuan B yaitu sebesar 4,54 cm. Sedangkan nilai terendah juga terdapat pada perlakuan C yaitu sebesar 3,62 cm. Hasil yang didapat tersebut menunjukkan bahwa dosis optimal pemberian sinbiotik untuk meningkatkan pertumbuhan benih ikan patin adalah 1 dosis (1% probiotik dan 2% prebiotik). Semakin tinggi pemberian dosis sinbiotik menyebabkan semakin menurunnya kinerja pertumbuhan pada benih patin bahkan menghasilkan pertumbuhan yang lebih kecil dibandingkan kontrol. Hasil penelitian Li et al. (2009) menyebutkan bahwa pengaruh optimal pemberian sinbiotik pada udang vaname terdapat pada dosis 0,2% isomaltooligosaccharides (IMO) yang ditambahkan 108 CFU/gram pakan bakteri Bacillus OJ (PB). Selanjutnya, efek positif tersebut menurun secara signifikan ketika dosis pemberian PB ditingkatkan menjadi 1010 CFU/gram pakan. Dalam penelitian ini, pada perlakuan B diduga dosis sinbiotik yang diberikan merupakan dosis yang paling efektif untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan pada benih ikan patin. Pada perlakuan ini, diduga bahwa pemberian sinbiotik mampu meningkatkan kecernaan pakan yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan. Menurut Putra (2010), gabungan pemberian bakteri NP5 sebagai probiotik dan oligosakarida dari ekstrak ubi jalar sebagai prebiotik menunjukkan pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi cukup baik, sehingga protein digunakan secara optimal untuk proses pertumbuhan.
Konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) merupakan suatu ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan daging ikan kultur (Effendi, 2004). Menurut Mahyuddin (2008), konversi pakan (FCR) dapat digunakan untuk mengetahui kualitas pakan yang diberikan terhadap pertumbuhan ikan. Apabila nilai konversi pakan rendah, kualitas pakan yang diberikan baik (analog dengan pertumbuhan ikan baik). Namun jika konversi pakannya tinggi, berarti kualitas pakannya kurang baik atau jumlah pakan yang diberikan tidak efektif untuk pertumbuhan berat badan ikan. Berdasarkan hasil yang didapat, nilai konversi pakan terendah terdapat pada perlakuan B, sedangkan yang tertinggi terdapat pada perlakuan C. Hasil ini juga menunjukkan bahwa semakin tinggi pemberian dosis sinbiotik, semakin tidak efisien pemanfaatan pakan yang diberikan. Hasil penelitian Son et al. (2009) menyatakan bahwa
24 pemberian probiotik Lactobacillus plantarum dengan dosis 108 CFU/kg pakan pada ikan kerapu lumpur Epinephelus coioides menunjukkan hasil terbaik dibandingkan dosis 106 dan 1010 CFU/kg pakan terhadap peningkatan nilai efisiensi pakan. Pada perlakuan B, terlihat bahwa pemanfaatan pakan yang diberikan menunjukkan hasil yang paling efisien dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena adanya peningkatan aktivitas enzim amilase dan enzim protease yang mampu meningkatkan kecernaan karbohidrat dan protein pada pakan sehingga pemanfaatan pakan menjadi lebih efektif. Hasil penelitian Putra (2010) menunjukkan pada perlakuan sinbiotik terjadi peningkatan aktivitas enzim amilase dan enzim protease dalam pencernaan ikan nila yang kemudian mampu meningkatkan nilai kecernaan karbohidrat dan protein dalam pakan. Dengan demikian protein dan energi nutrien pakan yang diserap oleh usus untuk dimanfaatkan tubuh menjadi lebih tinggi, sehingga pemanfaatan pakan menjadi lebih optimal.
Darah ikan tersusun atas cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah (Randal 1970 dalam Affandi dan Tang 2002). Darah ikan berfungsi utuk mengedarkan nutrien yang berasal dari pencernaan makanan ke sel-sel tubuh, membawa oksigen ke sel-sel tubuh (jaringan), serta membawa hormon dan enzim ke organ tubuh yang memerlukannya (Lagler et al. 1977).
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Gambar 5, jumlah sel darah merah yang paling tinggi terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 1,74 x 106 sel/mm3, dan terendah pada perlakuan C dengan nilai 0,53 x 106 sel/mm3. Tingginya nilai sel darah merah pada perlakuan B diduga karena fungsi ginjal pada ikan dalam keadaan baik, sehingga jumlah sel darah merah yang diproduksi pun dalam jumlah yang baik untuk keadaan ikan yang sehat. Sedangkan rendahnya total eritrosit pada perlakuan C menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis pemberian sinbiotik tidak memberikan pengaruh yang baik terhadap respon imun benih ikan patin. Li et al. (2009) menyatakan bahwa pengaruh peningkatan dosis bakteri probiotik tidak selalu berimplikasi positif terhadap peningkatan respon imun. Pemberian dengan dosis tinggi mungkin tidak mampu meningkatkan respon imun, bahkan mungkin dapat menghambat respon imun. Hasil penelitian
25 Li et al. (2009) menunjukkan bahwa pada perlakuan sinbiotik dengan dosis prebiotik IMO 0,2%, menghasilkan penurunan nilai aktivitas fagositosis dan
phenoloxidase ketika dosis probiotik PB ditingkatkan dari 108 menjadi 1010 CFU/gram pakan.
Menurut Chinabut et al. (1991) leukosit terdiri atas dua bagian yaitu agranulosit dan granulosit. Agranulosit terdiri dari limfosit, trombosit, dan monosit. Sedangkan granulosit terdiri dari neutrofil, eosinofil, dan basofil. Jumlah leukosit pada benih ikan patin di akhir pemeliharaan menunjukkan nilai yang berbeda-beda. Nilai leukosit terendah terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 6,78 x 105 sel/mm3, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada kontrol yaitu sebesar 10,29 x 105 sel/mm3. Rendahnya nilai leukosit pada perlakuan B ini dapat disebabkan karena kondisi ikan yang sehat. Menurut Angka et al. (1985), ikan yang sehat memiliki jumlah sel darah putih yang lebih rendah dibandingkan dengan ikan yang sakit. Sedangkan tingginya nilai sel darah putih pada kontrol diduga karena pada kontrol tidak diberikan perlakuan sinbiotik yang mampu membentuk sistem kekebalan tubuh pada ikan, sehingga menyebabkan ikan kontrol memiliki kondisi yang rentan terhadap serangan penyakit akibat tidak adanya respon imun yang terbentuk untuk mengatasi serangan penyakit. Marthen (2005) menyatakan bahwa peningkatan jumlah leukosit mengindikasikan adanya respon dari tubuh ikan terhadap infeksi bakteri atau stres.
Kadar hemoglobin dan hematokrit memiliki kaitan yang erat terhadap sel darah merah (Fujaya 2004). Menurut Lagler et al. (1977), hemoglobin merupakan protein dalam eritrosit yang tersusun atas protein globin tidak berwarna dan pigmen heme. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen kemudian digunakan dalam proses katabolisme untuk menghasilkan energi. Kemampuan darah untuk mengangkut oksigen bergantung pada kadar hemoglobin dalam darah. Kadar hemoglobin tertinggi pada akhir perlakuan terdapat pada perlakuan B dengan nilai 6,8 gram%, dan yang terendah terdapat perlakuan C sebesar 3,4 gram%. Tingginya kadar hemoglobin pada perlakuan B menunjukkan hasil yang berkorelasi positif terhadap jumlah sel darah merah. Rendahnya kadar hemoglobin yang terjadi pada perlakuan C juga menandakan korelasi yang positif terhadap jumlah sel darah merah. Hemoglobin merupakan indikator anemia atau dengan
26 kata lain penurunan kadar hemoglobin adalah indikator ikan terserang anemia (Blaxhall 1971).
Hematokrit merupakan perbandingan antara sel darah merah dan plasma darah, serta berpengaruh terhadap pengaturan sel darah merah (Hesser 1960
dalam Marthen 2005). Hal ini dapat diartikan bahwa kadar hematokrit memiliki korelasi positif terhadap jumlah sel darah merah. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Gambar 8, terlihat bahwa kadar hematokrit terendah terdapat pada kontrol dan perlakuan C dengan nilai 12,5%. Sedangkan kadar hematokrit tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan nilai 22,5%. Tanbiyaskur (2011) menyatakan bahwa pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik pada ikan nila memberikan pengaruh yang baik terhadap kadar hematokrit darah. Tingginya kadar hematokrit pada perlakuan B diduga karena pakan perlakuan B memiliki kandungan nutrisi yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena adanya peningkatan aktifitas enzim amilase dan enzim protease akibat pemberian sinbiotik yang mampu meningkatkan kecernaan karbohidrat dan protein di dalam pakan. Sedangkan rendahnya kadar hematokrit pada kontrol dan perlakuan C diduga karena nilai nutrisi pakan kedua perlakuan masih belum cukup optimal bagi ikan patin. Pada kontrol, rendahnya nilai nutrisi pakan ini diduga karena tidak adanya penambahan sinbiotik yang mampu meningkatkan nilai nutrisi pakan. Menurunnya kadar hematokrit dapat dijadikan petunjuk mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan mendapat infeksi sehingga nafsu makan menurun (Wedemeyer dan Yasutake 1977).
Sel limfosit mampu menerobos jaringan organ lunak dan mempunyai peranan dalam pembentukan antibodi (Dellmann dan Brown 1989). Jumlah limfosit yang dihasilkan pada masing-masing perlakuan menunjukkan presentase yang paling banyak dibandingkan dengan jenis-jenis leukosit lainnya. Berdasarkan hasil yang didapat, persentase jumlah limfosit terbanyak terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 71%. Sedangkan persentase jumlah limfosit terendah terdapat pada kontrol dengan nilai 49%. Tingginya persentase jumlah limfosit pada perlakuan B diduga karena pemberian sinbiotik mampu merangsang organ pembentuk limfosit untuk menghasilkan limfosit dalam jumlah yang lebih
27 banyak sebagai respon adanya peningkatan respon imun. Menurut Moyle dan Cech (1988), limfosit berfungsi sebagai penghasil antibodi untuk kekebalan tubuh dari gangguan penyakit. Fujaya (2004) menyatakan bahwa limfosit yang bersirkulasi dalam darah dan jaringan berasal dari timus dan organ limfoid perifer seperti ginjal dan limpa. Apabila terjadi kerusakan pada organ penghasil ini maka dapat menghambat pembentukkan limfosit. Kekurangan limfosit dapat menurunkan konsentrasi antibodi dan dapat meningkatkan serangan penyakit.
Monosit berfungsi sebagai fagosit terhadap benda-benda asing termasuk agen penyakit (Moyle dan Cech 1988). Berdasarkan hasil penelitian, presentase jumlah monosit yang paling tinggi terdapat pada kontrol dengan nilai 26%, sedangkan yang paling rendah terdapat pada perlakuan B dengan nilai 12%. Menurut Hurriyani (2011), rendahnya jumlah monosit pada larva patin yang diberi imunostimulan tanpa diuji tantang disebabkan karena kondisi larva yang baik, sehingga monosit akan menembus dinding kapiler, masuk ke jaringan dan berdiferensiasi menjadi sel makrofag yang terikat pada jaringan dan menjadi ekstravaskuler.
Nabib dan Pasaribu (1989) menyatakan bahwa trombosit berperan penting dalam proses pembekuan darah dan juga berfungsi mencegah kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan. Berdasarkan hasil penelitian, persentase nilai trombosit masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang cukup rendah. Persentase nilai trombosit paling rendah terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 3%. Rendahya nilai trombosit ini diduga karena semua ikan dalam keadaan sehat dengan tingkat kelangsungan hidup 100%. Angka et al. (2004) menyatakan bahwa trombosit diproduksi agar darah membeku untuk mencegah terjadinya lebih banyak pendarahan. Menurut Fujaya (2004), trombosit tidak umum terdapat dalam darah pada kondisi normal. Tetapi apabila terjadi sesuatu yang mengejutkan, jumlah trombosit dapat meningkat tajam.
Neutrofil adalah sel darah putih yang mengandung vakuola yang berisi lisozim untuk menghancurkan organisme yang dimakannya (Chinabut et al. 1991). Hasil penelitian menunjukkan persentase nilai neutrofil yang hampir sama. Nilai neutrofil yang didapat dari masing-masing perlakuan berkisar 14-15%. Keseragaman nilai neutrofil pada semua perlakuan diduga karena tidak adanya
28 serangan bakteri pada semua perlakuan. Hal ini menyebabkan tidak adanya perbedaan signifikan dari jumlah neutrofil dari masing-masing perlakuan. Dellman dan Brown (1989) menyatakan bahwa pada saat terjadi infeksi bakteri biasanya jumlah neutrofil dalam darah akan meningkat, hal ini disebabkan karena limfoid perlu melepas leukosit untuk melawan infeksi.
Fagositosis merupakan pertahanan pertama dari respon selular yang dilakukan oleh monosit (makrofag) dan granulosit (netrofil) (Tizard 1988). Menurut Secombes (1996), proses fagositosis terjadi dalam beberapa tahap yang terdiri dari pergerakkan (kemotaksis), pelekatan partikel (antigen) pada permukaan sel, penelanan yang kemudian terjadi pembentukan fagosom, pemusnahan dan pencernaan. Berdasarkan hasil yang ditunjukan pada Gambar 14, nilai aktivitas fagositosis yang paling tinggi terjadi pada pelakuan B yaitu sebesar 37%, sedangkan yang paling rendah terdapat pada kontrol yaitu sebesar 16%. Rendahnya nilai aktivitas fagositosis pada kontrol diduga karena kontrol tidak diberikan pakan sinbiotik yang mampu membentuk sistem kekebalan tubuh pada benih ikan patin. Menurut Pirarat et al. (2006), pemberian bakteri probiotik
Lactobacillus rhamnosus selama 2 minggu dalam pakan mampu meningkatkan nilai aktivitas fagositosis pada ikan nila. Carver (1994) menyatakan bahwa peningkatan kekebalan tubuh dapat diketahui dari peningkatan aktivitas sel fagositik.
Parameter kualitas air yang diamati selama penelitian meliputi suhu, DO, pH, dan TAN. Berdasarkan data yang ditunjukkan pada Tabel 3, kisaran suhu, DO, pH, dan TAN air selama pemeliharaan masih berada pada batas toleransi benih ikan patin. Hal ini juga dapat menjadi salah satu penyebab tidak adanya kematian ikan selama proses pemeliharaan.
29 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan sinbiotik 1 dosis (probiotik 1% + prebiotik 2%) melalui pakan pada benih ikan patin memberikan pengaruh yang paling baik dibanding perlakuan lainnya. Perlakuan ini menunjukkan hasil laju pertumbuhan harian yang paling tinggi yaitu sebesar 3,56% dengan nilai konversi pakan yang paling rendah yaitu sebesar 1,07. Selain itu perlakuan sinbiotik 1 dosis juga menunjukkan adanya peningkatan terhadap respon imun benih patin yang ditunjukkan dengan tingginya nilai aktivitas fagositosis, yaitu sebesar 37%.
4.2 Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui waktu yang optimal dalam pemberian sinbiotik pada benih ikan patin disertai dengan adanya uji tantang.
30 DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R. dan Tang, U.M., 2002. Fisiologi hewan air. Unri Press, Pekanbaru. 213 hlm.
Amlacher, E., 1970. Textbook of fish disease. DA Conroy, RL Herman (Penerjemah). New York: TFH Publ. Neptune. 302 hlm.
Anderson, D.P. and Siwicki A.K., 1993. Basic haemotology and serologi for fish health program. Paper Presented In Second Symposium on Disease in Asian Aquaculture ”Aquatic Animal Health and The Eviroment” Phuket, Thailand. 25-29th October 1993.
Angka,S.L., Priosoeryanto, B.P., Lay, B.W., Harris, E., 2004. Penyakit Motile Aeromonad Septicemia pada ikan lele dumbo Clarias sp.: upaya pencegahan dan pengobatannya dengan fitofarmaka. Forum Pascasarjana Vol. 27: 339-350. Angka, S.L., Wongkar, G.T., Karwani, W., 1985. Blood picture and bacteria isolated from ulcered and crooked back Clarias batrachus. Biotrop Special Publishing (2). Biotrop, Bogor. 129 hlm.
Anonim, 2010. KKP genjot produksi lima komoditas utama. http:Bataviase.co.id/detailberita.html. [14 Oktober 2011].
Apriyantono, A., Fardiaz, D., Puspitasari, N.L., Sedarnawati, Budiyanti, 1989. Petunjuk laboratorium pengujian pangan. IPB Press, Bogor.
Blaxhall, P.C., 1971. The haematological assesment of the health of fresh water fish. A Review of Selected Literature. Journal of Fish Biology 4: 593-608. Blaxhall, P.C. and Daisley, K.W., 1973. Routine haematological methods for use
with fish blood. Journal of Fish Biology 5: 577-581.
Carver, J.D., 1994. Dietary nucleotides: celluler immune, intestinal and hepatic system effects. Journal of Nutrition 124.
Chinabut, S., Limsuwan, C., Sawat, P.K., 1991. Histology of the walking catfish
Clarias batrachus. Thailand: Department of Fisheries. 96 hlm.
Dellman, H.D. dan Brown, E.M., 1989. Buku teks histologi veteriner 1. Hartono (Penerjemah). UI Press, Jakarta.
Effendi, I., 2004. Pengantar akuakultur. Penebar Swadaya, Depok.
Effendie, M.I., 1997. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta. Ferinaldy, 2008. Produksi perikanan budidaya menurut komoditas utama.
31 Fujaya, Y., 2004. Fisiologi ikan: dasar pengembangan teknologi perikanan.
Rineka Cipta, Jakarta.
Huisman, E.A., 1987. Principles of fish production. Department of Fish Culture and Fisheries, Wageningen Agriculture University. Wageningen. Netherland.170p.
Hurriyani, Y., 2011. Peningkatan resistensi larva ikan patin (Pangasius hypophthalmus) melalui Artemia yang diperkaya dengan ekstrak paci-paci (Leucas lavandulaefolia) terhadap infeksi Aeromonas hydrophila. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lagler, K.F., Bardach, J.E., Miller, R.R., Passino, D.R.M., 1977. Ichthyology. John Wiley and Sonc Inc. New York-London.
Li, J., Beiping T., Kangsen M., 2009. Dietary probiotic Bacillus OJ and isomaltooligosaccharides influence the intestine microbial populations, immune responses and resistance to white spot syndrome virus in shrimp (Litopenaeus vannamei). Journal of Aquaculture 29: 35–40.
Lisal, J.S., 2005. Konsep probiotik dan prebiotik untuk modulasi mikrobiota usus Besar. Jurnal Medical Nusantara 26: 256-262.
Mahious, A.S., Getesoupe, F.J., Hervi, M., Metailler, R., Ollevier, F., 2006. Effect of dietary inulin and oligosaccharides as prebiotics for weaning turbot,
Psetta maxima (Linnaeus, C.1758). Journal of Aquaculture International 14 (3): 219-229.
Mahyuddin, K., 2008. Panduan lengkap agribisnis lele. Penebar Swadaya, Jakarta. Marthen, D.P., 2005. Gambaran darah ikan nila Oreochromis sp. yang diberi
pakan lemak patin sebagai sumber lemak dalam pakan. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Moyle, P.B. and Cech Jr, J.J., 1988. Fishes: an introduction to ichthyology. Prentice Hall, Inc. USA. 559 p.
Muchtadi, D., 1989. Evaluasi nilai gizi pangan. Depdikbud, Dirjen Dikti. PAU IPB.
Nabib, R. dan Pasaribu, F.H., 1989. Patologi dan Penyakit Ikan. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nayak, S.K., 2010. Probiotics and Immunity: a fish perspective. Journal of Fish and Sellfish Immunology 29: 2-14.
32 Pirarat, N., Kobayashi, T., Katagiri, T., Maita, M., Endo, M., 2006. Protective effects and mecanism of probiotic bacterium Lactobacillus rhamnosus
against experimental Edwardsiella tarda infection in tilapia (Oreochromis niloticus). Journal of Immunology Immunopathology 113: 47-339.
Putra, A.N., 2010. Kajian probiotik, prebiotik dan sinbiotik untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). [Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Radyo, H.B.W., 2009. Kalsium hidroksida dan tingkat kelangsungan hidup serta pertumbuhan benih ikan patin (Pangasius sp.) pada media bersalinitas 3 ppt. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ringo, E., Dalmo, R.A., Olsen, R.E., Gifstad, T.O., Amlund, H., Hemre, G.I., Bakke, A.M., 2010. Probiotics in aquaculture. Journal of Aquaculture Nutrition 16: 117-136.
Secombes, C.J., 1996. The nonspesific immune system: cellular defenses. Di dalam: Iwama G, editor. The fish immune system: organism, pathogen an environmental. Acadenic Press, San Diego California USA. hlm 63-95. SNI [Standar Nasional Indonesia]. 2000. Produksi induk ikan patin siam
(Pangasius hypopthalmus) kelas induk pokok (parent stock). Badan Standarisasi Nasional.
Son, V.M., Changa, C.C., Wu, M.C., Guu, Y.K., Chiu, C.H., Cheng, W., 2009. Dietary administration of the probiotic, Lactobacillus plantarum, enhanced the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper
Epinephelus coioides. Journal of Fish Shellfish Immunology 26: 691-698. Tizard, I., 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Edisi kedua. Partodirejo M,
Hardjosworo S, penerjemah. Airlangga Universitas Press, Surabaya. Terjemahan dari: An Introduction to Veterinary Immunology.