• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

4.6 Jumlah Penggunaan Obat Berdasarkan Paritas

Berdasarkan 86 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan pada tahun 2014didapatkan rata–rata jumlah penggunaan obat yang diresepkan pada ibu hamil berdasarkan paritas yaitu pada kehamilan primigravida rata–ratapenggunaan obat 1,69obat perpasien, kehamilan secundagravida rata–rata 1,5obat perpasien, dan kehamilan multigravida rata–rata 1,73 obat perpasien.Data dapat dilihat pada Tabel 4.6

39

Tabel 4.6 Jumlah penggunaan obat berdasarkan paritas

Paritas Jumlah Pasien Jumlah Obat Rata - Rata Primigravida Secundagravida Multigravida 36 24 26 61 36 45 1,69 1,5 1,73 Jumlah 86 142 1,65

Berdasarkan penelitian dapat dilihat bahwa rata–rata jumlah penggunaan obat berdasarkan paritas yang paling tinggi adalah pada pasien multigravida (kehamilan anak ketiga). Dengan rata keseluruhan 1,65obat untuk ibu hamil selama kehamilan.

Penelitian yang dilakukanVela (2014) diperoleh rata–rata jumlah penggunaan obat yang diresepkan pada tiap ibu hamil berdasarkan paritasyaitu pada kehamilan primigravida penggunaan obat rata–rata 1,55 obat, pada kehamilan secundagravida penggunaan obat rata–rata 1,84 obat dan pada kehamilan multigravida penggunaan obat rata–rata 1,52 obat. Dengan rata keseluruhan 1,61 obat untuk ibu hamil selama kehamilan. Hal ini menunjukkan rata–rata penggunaan obat di RSUP Haji Adam Malik Medan dan di RSUD dr. Pirngadi Medan masih tergolong baik karena rata–rata penggunaan obat cukup sedikit.

Secara umum, hingga 86% ibu hamil dilaporkan menggunakan beberapa jenis obat selama kehamilan dengan rata–rata penggunaan obat adalah 2,9 obat tiap pasiennya (Sukandar, 2013).

40

4.7 Golongan Obat Yang Diresepkan Selama Kehamilan

Berdasarkan 86 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan pada tahun 2014 didapatkan golongan obat yang diresepkan pada ibu hamil yaitu golonganobatantianemia sebanyak 121 (85,21%), obat kardiovaskular 7 (4,93%), obat antibakteri 4 (2,82%), obat gastrointestinal 3 (2,11%), obat antiemetik 1 (0,70%), obat antifungi 1 (0,70%), obat respiratori1 (0,70%), obat antitrombotik 1 (0,70%), dan obat hormonal 3 (2,11%). Data dapat dilihat pada Tabel 4.7

Table4.7 Golongan obat yang diresepkan selama kehamilan

No. Golongan Obat Jumlah Kategori Persentase (%) I. Obat Antianemia 121 85,21 1. Roborantia 2. Vitamin B Compleks 3. Vitamin C 4. Vitamin B6 5. Lactas calsicy 6. Sulfa Ferrous 7. Asam Folat 8. Obimin AF 9. Folavit 10.Sohobion 11.Vibrion 12.Vitamin E 84 14 2 1 1 8 4 2 2 1 1 1 A A A A A A A A A A A A 59,16 9,86 1,41 0,70 0,70 5,63 2,82 1,41 1,41 0,70 0,70 0,70

II. Obat Kardiovaskular 7 4,93

1. Nifedipine 2. Metildopa 6 1 C B 4,23 0,70

III. Obat Antibakteri 4 2,82

1. Amoxicillin Tab 2. Cefadroxil Tab 3. Cotrimoxazole Tab 2 1 1 B B C 1,41 0,70 0,70

IV. Obat Gastrointestinal 3 2,11

1. Ranitidine Tab 2. Ulsicral Syr 2 1 B B 1,41 0,70 V. Obat Antiemetik 1 0,70 1. Metoclopramide Tab 1 B 0,70

41

No. Golongan Obat Jumlah Kategori Persentase (%)

VI. Obat Antifungi 1 0,70

1. Flagystatin Ovula 1 C 0,70

VII. Obat Respiratori 1 0,70

1. OBH 1 A 0,70

VIII. Obat Antitrombotik 1 0,70

1. Transamin 1 B 0,70

IX. Obat Hormonal 3 2,11

1. Duphaston 2. Lynoral 3. Premaston 1 1 1 C C C 0,70 0,70 0,70 Jumlah 142 100

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa golongan obat yang paling banyak diresepkan pada pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan tahun 2014 adalah obat untuk mengobati antianemia, diikuti kardiovaskular dan antibakteri.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Vela (2014) bahwa golongan obat yang paling banyak diresepkan pada pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUP Haji Adam Malik Medan yaitu obat golongan anemia 410 (76,20%), diikuti kardiovaskular 32 (5,93%) dan antibakteri 23 (4,26%).

Pada penelitian yang dilakukan di Civil Hospital mendapatkan hasil yang sama yaitu obat yang banyak diresepkan untuk ibu hamil adalah golongan obat antianemia termasuk preparat besi dan vitamin serta suplemen mineral sebesar 74,9%. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan ibu hamil akan vitamin dan nutrisi mengalami peningkatan untuk menunjang pertumbuhan janin (Carissa, 2014).

42

4.8 KategoriObat Berdasarkan Kategori Resiko Terhadap Janin

Berdasarkan 86 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan pada tahun 2014,bahwamayoritas kategori obat yang digunakan berdasarkan resiko terhadap janin adalah kategori A122 (85,92%), kategori B 9 (6,33%), kategori C 11 (7,75%), kategori D dan X tidak terdapat obat yang diresepkan pada pasien ibu hamil. Dari hasil penelitian ini, bahwa kategori obat yang banyak diresepkan adalah kategori A, diikuti oleh kategori C dan B.Data dapat dilihat pada Tabel 4.8

Tabel 4.8Kategori obat berdasarkan kategori resiko terhadap janin

Kategori Jumlah Obat Persentase (%)

A B C D X 122 9 11 0 0 85,92 6,33 7,75 0 0 Jumlah 142 100

Keadaan ini tidak berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Vela (2014) di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUP Haji Adam Malik Medan didapatkan kategori A sebanyak 428 (79,40%), kategori B 25 (4,63%), kategori C 79 (14,65%), kategori D 7 (1,29%), dan pada kategori X tidak terdapat obat yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian Vela (2014) juga diperoleh kategori obat yang banyak diresepkan yaitu kategori A, diikuti oleh kategori Cdan B.

43 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 86 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan tahun 2014 dapat disimpulkan bahwa:

a. Jumlah penggunaan obat–obatan pada pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi di RSUD dr. Pirngadi Medan tahun 2014 dengan rata keseluruhan 1,65 jenis obat selama masa kehamilan.

b. Golongan obat yang digunakan pada pasien ibu hamil paling banyak pada golongan obat antianemia 121 (85,21%).

c. Peresepan obat yang paling banyak di gunakan pada pasien ibu hamil berdasarkan kategori FDA adalah kategori A 122 (85,92%).

5.2 Saran

Berdasarkan pelaksanaan dan hasil penelitian disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di sarana kesehatan lain mengenai profil penggunaan obat selama kehamilan.

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kehamilan

Kehamilan adalah fase penting yang akan dialami dalam kehidupan wanita. Proses kehamilan dimulai dari proses pembuahan satu sel telur yang bersatu dengan satu sel spermatozoa di tuba fallopii dan hasilnya akan terbentuk zigot. Zigot mulai membelah diri dari satu sel menjadi dua sel, dari dua sel menjadi empat sel dan seterusnya.Pada hari ke empat zigot tersebut menjadi segumpal sel yang sudah siap untuk menempel/nidasi pada lapisan dalam rongga rahim (endometrium). Kehamilan dimulai sejak terjadinya proses nidasi ini. Wanita hamil istilah medisnya disebut gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).Seorang wanita yang hamil untuk pertama kali disebut primigravida (gravida 1), dan wanita yang belum pernah hamil disebut sebagai gravida 0 (Depkes RI, 2006).

Kebanyakan manusia, kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari).Kehamilan yang berlangsung antara 20-38 minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan jika lebih dari 42 minggu disebut kehamilan postterm.Menurut usianya, kehamilan dibagi menjadi 3 yaitu (Depkes RI, 2006):

a. Trimester pertama (0 – 12 minggu)

Dimulai dari proses konsepsi sampai usia kehamilan tiga bulan.

7 b. Trimester kedua (12 – 28 minggu)

Dari bulan keempat sampai usia kehamilan enam bulan. c. Trimester ketiga (28 – 40 minggu)

Dari bulan ketujuh sampai usia kehamilan sembilan bulan. 2.2 Gangguan Pada Kehamilan

Walaupun kehamilan merupakan proses yang membahagiakan, namun terkadang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani. Sebab, selama 9 bulan menjalani proses ini, volume rahim akan meningkat sebanyak 1000 kali. Jadi, kehamilan tidak akan luput dari keluhan ringan yaitu (Musbikin, 2005):

a. Mual dan Muntah

Adanya perubahan hormon di dalam tubuh menyebabkan timbulnya rasa mual dan muntah pada pagi hari (morning sickness).Biasanya terjadi pada bulan pertama kehamilan sampai akhir triwulan pertama.

b. Sakit Kepala

Penyebab sakit kepala bisa karena perubahan hormon yang terjadi pada tubuh yang kemudian memicu timbulnya perubahan tekanan darah.Pada umumnya, keluhan ini banyak muncul pada trimester pertama.Namun, beberapa ibu hamil cenderung lebih mudah terserang sakit kepala ketika mengalami kelelahan, tekanan (stress), hidung tersumbat dan lapar.

c. Kaki Bengkak

Adanya hambatan aliran cairan tubuh dan juga darah di dalam tubuh, akibat tekanan oleh rahim yang membesar serta adanya gaya gravitasi, akan menyebabkan terjadinya pembengkakan pada kaki. Biasanya, ketika bangun pagi,

8

pembengkakan pada kaki akan hilang dengan sendirinya. Tangan dan wajah juga ikut sedikit membengkak.

d. Nyeri Bagian Tubuh

Memasuki trimester ketiga, tubuh mulai merasakan nyeri pada bagian belakang, terutama bagian bawah punggung atau seputar panggul.Rasa nyeri dikarenakan berat tubuh janin yang terus bertambah, mulai menekan tulang panggul serta sistem persarafan yang ada di sekitarnya.Rasa nyeri ini juga timbul di seluruh punggung, daerah sekitar bokong serta paha.

e. Anemia

Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan (Wasnidar, 2007).

Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah: keguguran (abortus), kelahiran prematur, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (< 4 gr %) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan (Saifudin, 2006).

Defisiensi zat besi akan mengakibatkan anemia sehingga menurunkan jumlah maksimal oksigen yang dibawa oleh darah. Wanita yang mengalami anemia biasanya tampak sangat letih, kehilangan selera makannya dan merasa

9

tidak mampu untuk mengatasi berbagai masalah.Bila tidak diobati, anemia dapat berlanjut pada keadaan gagal jantung.Oleh sebab itu, kita harus menyadari bahwa gejala sesak napas dan takikardia dapat disebabkan oleh anemia dan tidak selalu berhubungan dengan kehamilan ibu (Jordan, 2004).

f. Sering Berkemih (Miksi)

Sering berkemih merupakan gejala umum pada kehamilan trimester pertama dan ketiga.Hal ini terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar. Gejala ini akan hilang pada trimester kedua. Dan gejala ini kembali pada trimester ketiga kehamilan karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin (Mochtar, 2004).

g. Preeklampsia

Preeklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda edema, hipertensi dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.Penyakit ini umunya terjadi pada trimester ketiga kehamilan, tetapi bisa terjadi sebelumnya, misalnya pada molahidatidosa.Preeklampsia yang terjadi pada ibu hamil dapat menjadi eklampsia yaitu dengan tambahan gejala kejang dan diikuti dengan koma (Prawiroharjo, 2010).

Preeklampsia menyebabkan perubahan anatomi-patologik yang terjadi pada plasenta dan uterus yaitu cairan darah ke uterus menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin karena kekurangan oksigen dan dapat pula terjadi gawat janin. Plasenta yang tidak baik akan berdampak pada gangguan pertumbuhan janin sehingga berat badan janin yang dilahirkan rendah. Preeklamsia juga dapat menyebabkan peningkatan tonus

10

uterus dan kepekaannya terhadap rangsang sehingga terjadi partus prematurus (Prawiroharjo, 2010).

2.3 Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan atau antenatal caremerupakan pemeriksaan yang sangat penting dilakukan untuk memeriksa kehamilan ibu dan bayinya secara berkala, dalam upaya memantau kemajuan kehamilan, mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar serta mengenali secara dini adanya ketidaknormalan yang mungkin terjadi pada kehamilan sehingga dapat tercapai kesehatan yang optimal (Prawiroharjo, 2010).

Maka itu sangat penting ibu hamil melakukan kunjungan ke bidan atau dokter sedini mungkin guna mendeteksi adanya komplikasi dini yang terjadi pada kehamilan. Selama melakukan kunjungan asuhan antenatal, para ibu hamil akan mendapatkan serangkaian pelayanan yang terkait dengan upaya memastikan ada tidaknya kehamilan dan penelusuran berbagai kemungkinan adanya penyulit atau gangguan kesehatan selama kehamilan yang mungkin dapat mengganggu kualitas dan luaran kehamilan (Prawiroharjo, 2010).

Kunjungan Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) yang dianjurkan kepada ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan antara lain: kehamilan trimester pertama (< 14 minggu) satu kali kunjungan, kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36) dua kali kunjungan. Meskipun demikian disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal

11

sebagai berikut: sampai dengan kehamilan 28 minggu periksalah empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36-40 minggu setiap satu minggu sekali dan apabila terdapat keluhan-keluhan tertentu (Pantikawati, 2009).

Pemeriksaan umum selama kunjungan biasanya mencakup (Ramaiah, 2007):

a. Memeriksakan tekanan darah dan berat badan b. Memeriksa pergerakan bayi

c. Menentukan pertumbuhan bayi melalui ketinggian rahim

d. Memeriksakan posisi bayi di dalam rahim. Beberapa minggu sebelum kelahiran, sebagian besar bayi memutar sehingga kepala berada di ujung bawah rahim. Ini adalah posisi normal. Jika bayi tidak memutar dan pantat berada di ujung bawah rahim, bayi dikatakan berada dalam posisi sungsang.

e. Memeriksa perubahan-perubahan dalam leher rahim dengan melakukan pemeriksaan vagina mendekati tanggal persalinan. Ini untuk mengetahui seberapa besar bayi telah membesar dan seberapa besar bayi telah mengembang.

2.4 Penggunaan Obat Pada Kehamilan

Pemakaian obat bebas dan obat resep perlu diperhatikan selama kehamilan sampai masa nifas.Penggunaan obat pada wanita hamil perlu berhati-hati karena banyak obat yang dapat melintasi plasenta.Beberapa obat dapat memberi resiko pada kesehatan ibu dan janin.Selama trimester pertama, obat dapat menyebabkan cacat lahir (teratogenesis), dan resiko terbesar terjadi pada kehamilan 3-8

12

minggu.Pada trimester kedua dan ketiga, obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fungsional pada janin atau dapat meracuni plasenta (Depkes RI, 2006).

Dalam upaya mencegah terjadinya efek yang tidak diharapkan dari obat-obatan yang diberikan selama kehamilan, maka Australian Drug Evaluation Commitee maupun Food and Drug Administration (FDA-USA), telah menyiapkan klasifikasi resiko obat-obatan dikategorikan menjadi 5 yaitu kategori A, kategori B, kategori C, kategori D, kategori X. Kategori-kategori ini menjelaskan tentang boleh dan tidak boleh diberikan obat selama kehamilan, dimana uraian tersebut sampai saat ini masih dipakai sebagai rujukan atau acuan di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Australian Drug Evaluation Commitee maupun Food and Drug Administration (FDA-USA) membuat kategori obat menurut tingkat bahayanya terhadap janin sebagai berikut:

a. Kategori A

Studi terkontrol pada wanita tidak memperlihatkan adanya resiko bagi janin pada trimester pertama kehamilan dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester kedua dan ketiga.Contohnya asam folat, nystatin vagina, pyridoxine, thyroxine Na (Thyrax®) (Lacy et al, 2008).

b. Kategori B

Studi pada reproduksi hewan percobaan tidak menunjukkan bukti bahwa obat berbahaya pada janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil atau sistem reproduksi hewan percobaan yang menunjukkan efek samping, dimana tidak ada penegasan dengan studi kontrol pada wanita saat trimester pertama dan tidak ada bukti resiko janin pada trimester berikutnya. Contohnya beberapa

13

antibiotika seperti amoksisilin, eritromisin, bisacodyl (Dulcolax®), paracetamol (Sanmol®), Terbutaline (Bricasma®) (Lacy et al, 2008).

c. Kategori C

Studi pada hewan percobaan menunjukkan adanya efek samping pada janin (teratogenik) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil.Obat kategori ini hanya boleh diberikan kepada ibu hamil jika manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang mungkin terjadi pada janin. Contohnya asam mefenamat, aspirin, salbutamol (Ventolin® ), ketotifen (Zaditen® ), clonidin (Catapres® ) (Lacy et al, 2008).

d. Kategori D

Terbukti adanya resiko terhadap janin manusia, tapi manfaat penggunaan obat pada wanita hamil dapat dipertimbangkan (misalnya terjadi situasi yang dapat mengancam jiwa ibu hamil, dimana obat lain tidak dapat digunakan atau tidak efektif). Contohnya karbamazepin (Tegretol®), propylthiouracil, dan phenitoin serta beberapa anti kanker (Doxorubicin, cisplatin,) atau kemoterapi (Lacy et al, 2008).

e. Kategori X

Studi pada hewan percobaan atau manusia telah menunjukkan adanya kelainan janin (abnormalitas) atau terbukti beresiko terhadap janin.Resiko penggunaan obat pada wanita hamil jelas lebih besar dari manfaat yang diperoleh.Obat kategori X merupakan kontraindikasi bagi wanita hamil. Contohnya danazol (Azol®), simvastatin (Esvat®), warfarin Na (Simarc-2®), methotrexate (Emthexate Combipar®), ribavirin (Rebetol®) (Lacy et al, 2008).

14 2.5 Mekanisme Kerja Obat Pada Kehamilan

Perubahan fisiologi selama kehamilan dapat berpengaruh terhadap kinetika obat pada ibu hamil yang akan berdampak terhadap perubahan respon ibu hamil terhadap obat yang diminumnya. Dengan demikian, perlu pemahaman yang baik mengenai obat apa saja yang relatif tidak aman sehingga harus dihindari selama kehamilan agar tidak merugikan ibu dan janin yang dikandung (Depkes, RI., 2006).

Plasenta adalah organ yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan kehamilan, karena fungsi plasenta bukan hanya sebagai alat pemberi makanan pada janin (nutritif), tetapi juga sebagai alat yang mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi), sebagai alat pemberi zat asam (O2) dan mengeluarkan CO2 (respirasi), sebagai alat membentuk hormon, sebagai alat menyalurkan antibodi ke janin dan plasenta dapat pula dilewati kuman-kuman dan obat tertentu (Prawiroharjo, 2010).

Perpindahan obat melalui plasenta umumnya berlangsung secara difusi sehingga konsentrasi obat di darah ibu serta aliran darah plasenta akan sangat menentukan perpindahan obat lewat plasenta. Plasenta memiliki sifat selektif untuk mentransfer obat secara perlahan atau secara cepat dari ibu ke janin tergantung pada variabel, seperti kualitas aliran darah uteroplasenta, berat molekul dari substansi dalam obat (bahan yang berat molekulnya lebih kecil dapat melintasi plasenta lebih mudah), kadar ionisasi dari molekul-molekul obat (obat yang tidak terionisasi akan mudah melewati plasenta), dan derajat kemampuan ikatan obat dengan protein plasma plasenta (obat-obat yang mudah berikatan tidak mudah menembus plasenta) melawan kemampuannya untuk berikatan dengan plasma protein janin. Selain itu, plasenta juga memiliki aktivitas enzimatik

15

tersendiri dalam biotransformasi suatu obat yang dapat mempengaruhi janin (Depkes, RI., 2006).

2.6 Obat Yang Digunakan Pada Kehamilan

Selama kehamilan, seorang ibu dapat mengalami berbagai keluhan atau gangguan kesehatan yang membutuhkan obat.Obat sebaiknya diresepkan pada ibu hamil jika keuntungan yang diharapkan lebih besar daripada resiko bagi janin sehingga ibu dapat melahirkan bayi yang sehat dengan selamat (Depkes RI, 2006). a. Zat Besi

Zat besi merupakan mineral yang diperlukan oleh semua sistem biologi di dalam tubuh.Besi merupakan unsur esensial untuk sintesis hemoglobin, sintesis katekolamin dan produksi panas.Zat besi disimpan dalam hepar dan sumsum tulang.Sekitar 70% zat besi yang ada di dalam tubuh berada dalam hemoglobulin dan 3% nya dalam mioglobin (simpanan oksigen intramuskuler) (Jordan, 2004).

Ekstrak zat besi diperlukan selama kehamilan.Kebutuhan besi meningkat dari 1,25 mg /hari pada saat tidak hamil menjadi 6,6 mg /hari selama kehamilan yang disebabkan karena besi digunakan dalam pembentukan janin dan cadangan dalam plasenta serta untuk sintesis Hb ibu hamil. Kebutuhan total besi selama kehamilan mempunyai distribusi yang tidak merata. Pada trimester pertama kebutuhan zat besi turun karena tidak terjadi haid.Dan pada trimester kedua kebutuhan besi mulai meningkat, dan peningkatan ini berlanjut sampai akhir kehamilan.Kebutuhan zat besi meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan besi bagi janin. Berikut kebutuhan zat besi pada kehamilan dengan janin tunggal yaitu:

16

200 – 600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sel darah merah; 200 – 370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya; 150 – 200 mg untuk kehilangan eksternal;

30 – 170 mg untuk tali pusat dan plasenta;

90 – 310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan (Jordan, 2004).

Dengan demikian, kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580 – 1340 mg, dan 440 – 1050 mg diantaranya akan hilang dalam tubuh ibu pada saat melahirkan (Jordan, 2004).

Untuk mengatasi kehilangan zat besi, ibu hamil memerlukan rata-rata 3,5– 4 mg zat besi per hari. Kebutuhan ini akan meningkat secara signifikan dalam trimester terakhir, yaitu dari rata-rata 2,5 mg/hari pada awal kehamilan menjadi 6,6 mg/hari. Zat besi yang tersedia dalam makanan berkisar dari 0,9 hingga 1,8 mg/hari dan ketersediaan ini bergantung pada kecukupan dietnya. Karena itu, pemenuhan kebutuhan pada kehamilan memerlukan mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorpsi zat besi. Meskipun, absorbsi zat besi meningkat cukup besar selama kehamilan, namun bila kehamilan yang satu dengan yang lain memiliki jarak yang cukup dekat dan/atau bila simpanan zat besinya rendah, maka asupan zat besi yang cukup hanya dapat dipenuhi lewat suplementasi. Hanya pada keadaan yang sangat ekstrem, bayi akan lahir dengan defisiensi zat besi. Defisiensi zat besi selama kehamilan berkaitan dengan berat badan bayi rendah, kelahiran prematur, kematian janin, kematian ibu, pre eklampsia, kerentanan terhadap infeksi dan gangguan fungsi kognitif bayi (Jordan, 2004).

17 b. Asam Folat

Satu-satunya suplemen yang dianggap esensial bagi semua ibu hamil di Inggris (UK) adalah asam folat yang menurunkan insidens defek neural tube sebesar 50-70%. Pemberian asam folat berdasarkan bukti dari sejumlah penelitian penting yang meliputi beberapa uji-klinis terkontrol acak (Jordan, 2004)

Pada manusia, asam folat merupakan unsur esensial dalam pembentukan timidin yang merupakan komponen DNA. Tanpa asam folat akan terjadi gangguan pembelahan sel yang mempengaruhi embrio dan pembentukan sel-sel darah. Selama kehamilan, kebutuhan terhadap asam folat meningkat dua kali lipat dan tetap tinggi pada masa laktasi (Jordan, 2004).

Untuk membantu mencegah kejadian pertama defek neural tube, kepada semua wanita harus dianjurkan untuk minum suplemen 400 mikrogram asam folat per hari sejak saat mereka berencana untuk hamil (sedikitnya 12 minggu sebelum pembuahan) hingga akhir trimester pertama. Memulai suplementasi sebelum minggu ketujuh akan memberikan keuntungan yang signifikan. Wanita yang belum meminum suplemen dan melanjutkan pemakaiannya paling tidak sampai kehamilan minggu ke-12 (Jordan, 2004).

Diperkirakan suplementasi asam folat akan mencegah terjadinya sekitar seribu kasus defek neural tube setiap tahun. Suplementasi asam folat prakonsepsi dalam bentuk tablet sudah dianjurkan bagi semua wanita di Inggris (UK) sejak tahun 1993, karena pemberian bentuk tablet ini merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketersediaan asam folat di dalam tubuh (Jordan, 2004).

18 c. Vitamin

Selama kehamilan vitamin merupakan faktor utama dalam mempertahankan kesehatan dan untuk melahirkan janin yang sehat.Ibu hamil membutuhkan vitamin A untuk pertumbuhan, vitamin B1, B2 dan niasin untuk

Dokumen terkait