• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

G. Jumlah uang yang beredar (JUB)

Perkembangan uang beredar di Indonesia di pengaruhi oleh beberapa factor, antara lain : sector luat negeri, sector pemerintah, sector swasta domestic. dan sector lainnya. Transaksi-transaksi dari sector-sektor tersebut dicatat dalam neraca system moneter yang memperlihatkan besarnya jumlah uang yang beredar dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.

48

Uang adalah suatu benda yang dapat dipertukarkan dengan benda lain; dapat digunakan untuk menilai benda lain atau sebagai alat hitung; dan dapat digunakan sebagai alat penyimpan kekayaan (Veithzal Rivai, 2007:3).

Uang adalah suatu alat yang dapat dipakai dan diterima oleh masyarakat umum sebagai alat pembayaran terhadap pembelian barang dan jasa (Zakaria, 2009:78).

Uang adalah sesuatu yang secara umum diterima dalam pembayaran barang dan jasa atau pembayaran atas hutang (Mishkin. 2008:68).

Uang adalah alat pembayaran yang sah yang diterbitkan oleh pemerintah (bank sentral) baik berbentuk kertas maupun logam yang memiliki nilai atau besaran tertentu yang tertera pada kertas atau logam yang di maksud yang penggunaanya diatur dan dilindungi dengan undang- undang (Putong dan Andjaswati, 2010:107).

Sehingga uang dapat diartikan sebagai alat tukar yang dapat berupa benda atau apapun yang diakui dan diterima oleh masyrakat luas sebagai alat pembayaran dalam proses pertukaran barang maupun jasa dan fungsi utamanya sebagai alat tukar dan satuan hitung.

Pada umumnya jumlah uang yang beredar bias ditentukan secara langsung oleh penguasa moneter tanpa mempersoalkan hubungannya

49

dengan uang inti, yang terdiri dari uang kartal ditambah dengan cadangan yang dimiliki oleh bank-bank umum. Perilaku seperti ini berlandaskan pada analisis penentuan JUB secara mekanis, dimana JUB dihubungkan dengan uang inti lewat angka pengganda. Besarnya angka pengganda ini ditentukan oleh rasio cadangan perbankan dan rasio antara uanga kartal dengan uang giral.

Perubahan jumlah uang yang beredar di tentukan oleh hasil interaksi antara masyarakat, lembaga keuangan dan bank sentral. Jumlah uang yang beredar adalah hasil kali uang primer (monetary base) dengan pengganda uang atau money multiplier.

Ahli-ahli ekonom sebelum Keynes, terutama ahli ekonomi Klasik, menumpukkan analisis mereka kepada efek dari perubahan-perubahan penawaran uang ke atas tingkat harga.

Teori permintaan uang terbagi menurut pandangan klasik dan pandangan keynessian.

a. Teori permintaan uang klasik

Menurut pandangan ekonomi klasik, fungsi uang hanyalah sebagai alat tukar. Karenanya jumlah uang yang diterima berbanding proporsional dengan tingkat output atau pendapatan. Bila tingkat output meningkat, maka permintaan uang meningkat, begitu juga sebaliknya. Jumlah uang yang dipegang masyarakat bukanlah semata-mata nilai nominalnya, tetapi

50

juga daya belinya, yaitu nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga

(real modey balances) ( Ekawan dan fechruddiansyah, 2010:93).

Karena hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral, dalam arti uang hanya mempengaruhi tingkat harga. Menurut pandangan Klasik, teori keuangan ini dibedakan menjadi dua bentuk yaitu teori kuantitas ( Quantity Theory of Money ) dan teori sisa tunai ( Cash Balance Theory ).

Dalam uraian yang akan dibuat, dengan nyata akan dapat dilihat bahwa kedua teori tersebut mempunyai bentuk yang berbeda. Akan tetapi pandangan pokok teori tersebut adalah sama, yaitu : perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama persentasinya dengan tingkat harga. Kenaikan penawaran uang akan menaikkan harga pada tingkat yang sama dan penurunan penawaran uang akan menurunkan harga juga pada tingkat yang sama ( Sadono Sukirno, 2010:296).

1). Teori kuantitas uang

Teori ini dikembangkan oleh Irving Fisher dengan menggunakan persamaan pertukaran. Persamaan tersebut dinyatakan sebagai berikut:

MV = PT

Dimana :

M = jumlah uang yang beredar

V = velositas uang (laju peredaran uang) P = tingkat harga umum

51

T = jumlah unit transaksi

Velositas uang merupakan konsep menunjukkan berapa kali dalam setahun uang berputar di dalam suatu perekonomian. Dalam jangka pendek, kecepatan uang beredar dianggap tetap.

Kesulitan dari model ini adalah pengukuran unit tranasaksi (T) yang memungkinkan kesulitan tersebut, maka nilai untuk T yang digunakan adalah nilai output riil (GDP riil).

Pandangan teori kuantitas uang dapat diringkas sebagai berikut: perubahan dalam penawaran uang yang akan menimbulkan perubahan yang sama tingkatnya ke atas harga-harga dan perubahan kedua variabel tersebut adalah kea rah yang sama. Apabila penawaran uang bertambah sebanyak lima persen, maka harga-harga bertambah sebanyak lima persen dan apabila penawaran uang berkurang sebanyak lima persen maka harga- harga juga akan berkurang lima persen ( Sadono Sukirno, 2010:297).

2). Teori sisa tunai

Teori ini dikembangkan oleh Alfred Marshall dari Cambridge, adalah orang pertama yang menerangkan teori kuantitas uang yang meneliti hubungan antara JUB dengan inflasi. Teori ini juga menerangka sifat hubungan di antara penawaran uang dan tingkat harga. Teori sisa tunai mempunyai pandangan yang sama dengan teori kuantitas uang. Teori ini juga berependapat bahwa perubahan dalam penawaran uang akan

52

menimbulkan perubahan harga-harga yang sama tingkatnya. Teori ini diterangkan dalam persamaan berikut (Putong dan Andjaswati, 2010:116):

M = kPT

Di mana M, P, dan T mempunyai arti yang sama dengan M, P, dan T dalam persamaan MV = PT. Dalam teori sisa tunai k adalah pendapatan masyarakat yang tetap dipegang dalam bentuk tunai. Sekiranya 20 persen dari pendapatan akan dipegang masyarakat dalam bentuk tunai, maka k =1/5. Dalam teori sisa tunai M = kPT atau M/k = PT. Sedangkan dalam persamaan teori kuantitas uang MV = PT. Dengan demikian M/k = MV, atau k = 1/V.

b. Teori permintaan uang Keynes

Di pasar uang, penawaran akan uang bertemu dengan permintaan akan uang dan menetukan “harga” dari uang. Menurut Keynes, “harga” uang adalah harga yang harus dibayar untuk penggunaan uang, yang tidak lain adalah tingkat bunga. Penawaran akan uang dianggap ditentukan oleh penguasa moneter sehingga identik dengan jumlah uang yang beredar.

Dalam analisis Keynes masyarakat meminta (memegang uang) untuk tiga tujuan yaitu :

1). Permintaan uang untuk transaksi

Memegang uang untuk membayar transaksi merupakan tujuan memegang uang yang paling penting. Uang sangat penting peranannya

53

untuk melancarkan kegiatan ekonomi dan transaksi. Sebagian besar dari uang yang diterima masyarakat dari pekerjaanya digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya seperti makanan, pakaian, dan pengeluaran lainnya.

2). Permintaan uang untuk berjaga-jaga

Di samping untuk membiayai transaksi, uang diminta pula oleh masyarakat untuk menghadapi keadaan kesusahan atau masalah penting lain di masa depan. Masa depan adalah keadaan yang tidak bias diramalkan. Ada kalanya keadaan masa depan bertambah baik, tetapi ada kalanya masalah-masalah buruk akan di hadapi. Untuk mengahadapi masa depan yang tidak pasti, terutama untuk mengahadapi masa kesusahan, sebagian uang yang di minta masyarakat digunakan untuk menghadapi masa kesusahan di masa yang akan datang. Di samping itu uang digunakan pula untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga yang lebih baik, yaitu untuk membeli rumah, membiayai persekolahan anak-anak dan untuk pergi melancong.

3). Permintaan uang untuk spekulasi

Masyarakat menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi yaitu disimpan dan digunakan untuk membeli surat-surat berharga seperti obligasi pemerintah, saham perusahaan dan treasury bill. Dalam menggunakan uang untuk tujuan spekulasi ini, suku bunga atau dividen yang diperoleh dari memiliki surat-surat berharga tersebut sangat penting

54

dalam menetukan besarnya permintaan uang. Apabila suku bunga atau dividen surat-surat berharga itu tinggi, masyarakat akan menggunakan uang untuk membeli surat-surat berharga tersebut. Apabila suku bunga dan tingkat pengembalian modal rendah, masyarakat akan lebih suka menyimpan uangnya dari pada membeli surat-surat berharga.

Jumlah uang yang beredar juga mempunyai keterkaitan dengan suku bunga depsito. Semakin banyak jumlah uang yang beredar di masyarakat, investasi menjadi lebih menarik bila dibandingkan dengan menyimpan didalam bentuk tabungan.

Pengertian uang beredar yang umum digunakan di Indonesia dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu uang beredar dalam arti sempit atau disebut juga narrow money (M1) dan uang beredar dalam arti luas atau

broad money (M2). M1 terdiri dari semua uang kartal yang beredar di masyarakat ( tidak termasuk uang kartal yang ada di bank) di tambah tabungan dan deposito berjangka atau disebut juga uang kuasi atau (quasi

money) (Dahlan Siamat, 2005:93).

a. Uang dalam arti sempit (M1)

M1 diartikan sebagai uang tunai (uang kartal dan uang uang logam) yang dipegang oleh masyarakat, tidak termasuk uang yang ada di kas bank serta kas negara. Uang tersebut dikenal dengan uang kartal. Kemudian ditambah dengan uang yang berada di rekening giro perbankan

55

yang langsung dapat digunakan dengan menggunakan cek dan biasa disebut dengan uang giral, sehingga persamaan M1 adalah:

M1 = C + DD

Dimana :

M1 = uang dalam arti sempit C = currency, uang kartal DD = Demand deposit, uang giral

Pengertian uang giral (DD) diatas hanya mencakup saldo rekening Koran atau giro milik masyarakat umum yang disimpan di bank dan belum digunakan pemiliknya untuk berbelanja atau membayar.

b. Uang dalam arti luas (M2)

M2 merupakan perluasan dari defines M1 dengan uang kuasi. Uang kuasi adalah bentuk kekayaan yang paling likuid yang terdiri dari deposito berjangka atau rekening tabungan pada bank, sehingga persamaan M2 adalah :

M2 = M1 + TD + SD

Dimana :

M2 = uang dalam arti luas M1 = uang dalam arti sempit

TD = time deposits (deposito berjangka)

56

Orang menempatkan uangnya dalam TD atau SD karena simpanan ini memberikan bunga. M2 juga disebut uang yang beredar dalam arti luas. Di Indonesia, M2 biasanya mencakup semua TD dan SD rupiah pada bank-bank (tidak tergantung besar kecilnya simpanan), tetapi tidak mencakup TD dan SD mata uang asing (dollar).

Dokumen terkait