BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Jurnalis adalah orang yang melakukan pekerjaan kewartawananan dan tugas-tugas jurnalistik secara rutin, atau dalam definisi lain, jurnalis dapat dikatakan sebagai orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat di media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. Jurnalis dapat dikatakan sebagai “roh” nya jurnalistik atau pers. Jurnalis menjadi pemain kunci dalam aktivitas jurnalistik. Jurnalis yang profesional adalah wartawan yang melaksanakan tugas-tugas jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) (Dewan Pers, 2013: 29).
Untuk menjadi seorang jurnalis yang profesional, sangat penting bagi jurnalis untuk menjadi bagian dari sebuah organisasi jurnalis. Hal ini dikarenakan organisasi berperan sebagai penguji secara berkala kemampuan profesional yang dimiliki seorang jurnalis (Willy, 2012: 40). Peran dalam suatu lembaga berkaitan dengan tugas dan fungsi, yaitu dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaan pekerjaan oleh seseorang atau lembaga dan dalam penelitian ini berkaitan dengan peran Aliansi Jurnalis Indpenden (AJI) Kota Medan dalam meningkatkan profesionalismejurnalis.
Komunikasi juga menjadi hal yang sangat penting dalam organisasi. Agar peran AJI Kota Medan dapat terlaksana dengan baik, mereka menjalankan proses komunikasinya dengan dua tahap yaitu proses komunikasi secara primer dan sekunder (Effendy, 2009: 11-18). Proses komunikasi secara primer dilakukan oleh pengurus AJI Kota Medan maupun anggotanya dengan menggunakan bahasa maupun isyarat, yaitu dilakukan secara langsung seperti ketika sedang melakukan rapat, diskusi, saling berbagi informasi dan lainnya dalam keadaan tatap muka.
Sedangkan proses komunikasi sekunder juga dilaksanakan oleh AJI Kota Medan menggunakan media yaitu yang biasa digunakan adalah grup whatsapp, biasanya mereka juga saling berbagi informasi maupun membicarakan hal penting melalui grup whatsapp.
Selain itu, AJI Kota Medan juga telah menjalankan fungsi organisasinya dengan baik. Menurut Sendjaja (1994: 132) beberapa fungsi komunikasi dalam organisasi yaitu:
1. Fungsi Informatif, di mana setiap anggota AJI Kota Medan sudah mampu memberi dan menerima informasi dengan baik, hal ini juga berimbas pada keberhasilan pengurus maupun anggota AJI dalam menjalankan setiap tanggung jawabnya.
2. Fungsi Regulatif, yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang ada dalam organisasi. Sejauh ini anggota AJI Kota Medan telah mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di AJI, baik itu Kode Etik maupun Kode Perilaku AJI yang selama ini menjadi pedoman yang berlaku di AJI.
3. Fungsi Persuasif, dalam hal ini, ketua AJI Kota Medan telah memberikan perintah kepada setiap anggotanya untuk menjalankan tugas dengan cara persuasif atau menggunakan cara yang halus, sehingga koordinator divisi maupun anggota setiap divisi bisa menerima perintah dengan baik dan melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab yang besar.
4. Fungsi Integratif, yaitu berkaitan dengan penyediaan saluran sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dalam hal ini AJI Kota Medan telah menyediakan beberapa program seperti pelatihan dan sertifikasi agar anggotanya bisa menjadi seorang jurnalis yang professional.
Aliansi Jurnalis Kota Medan memiliki visi dan misi yang salah satunya bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme wartawan di Kota Medan.
Menurut Syamsul Romli (2005: 33) bahwa jurnalis profesional memiliki beberapa karakteristik yang menjadi standar atas profesinya yaitu menguasai keterampilan jurnalistik, menguasai bidang liputan (beat) dan yang paling penting jurnalis harus memahami serta mematuhi etika jurnalistik. Maka dari itulah AJI Kota Medan memiliki peran untuk meningkatkan tiga hal tersebut tentunya melalui program-program yang telah dilaksanakan AJI Kota Medan. Adapun jaringan komunikasi organisasi yang dilakukan oleh AJI Kota Medan merupakan jaringan komunikasi formal dalam bentuk komunikasi ke bawah, di mana setiap informasi maupun pesan mengalir dari atasan atau pimpinan kepada bawahannya. Contohnya saja jika ada informasi mengenai seminar, pelatihan, sosialisasi dan lain sebagainya,
Ketua AJI menyampaikan langsung kepada anggotanya agar pesan atau informsi dapat tersampaikan dengan benar.
Berikut merupakan peran AJI Kota Medan dalam Meningkatkan Profesionalisme Jurnalis di Kota Medan:
1. Sebagai Wadah untuk Meningkatkan Keterampilan Jurnalis
Seorang jurnalis, harus memiliki keahlian menulis berita sesuai dengan kaidah jurnalistik. Ia harus menguasai teknik menulis berita, feature serta artikel.
Oleh karenanya, seorang jurnalis sejatinya adalah orang yang pernah menempuh pendidikan kejurnalistikan secara khusus atau setidaknya pernah mengikuti pelatihan dasar jurnalistik. Ia harus terlatih dengan baik dalam keterampilan jurnalistik yang meliputi teknik pencarian berita dan penulisannya, di samping pemahaman yang baik tentang makna sebuah berita. Ia juga harus memahami apa itu berita, nilai berita, macam-macam berita, bagaimana mencarinya dan kaidah umum penulisan berita (Romli, 2005: 34).
Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan sebagai organisasi wartawan yang telah diakui Dewan Pers tentunya sudah memiliki beberapa bentuk program yang telah dijalankan, khususnya dalam peningkatan profesionalisme jurnalis di Kota Medan. Menurut Liston Damanik selaku Ketua AJI Kota Medan, ada dua yang sangat diperioritaskan oleh AJI, yaitu pertama peningkatan kapasitas anggota dan memberikan perhatian kepada calon jurnalis seperti kelompok pers mahasiswa yang ada di Kota Medan karena kedepannya mereka yang akan menggantikan posisi wartawan yang ada saat ini.
Sebelum masa pandemi seperti ini, AJI lebih aktif datang ke kampus-kampus memberi pemahaman seperti mengundang mahasiswa untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh AJI. Namun, ketika masa pandemi AJI Kota Medan melakukannya dengan cara viritual seperti melakukan diskusi-diskusi umum atau melakukan pelatihan dengan organisasi-organisasi kampus yang ada di Kota Medan. Hal ini dilakukan untuk melatih keterampilan dimulai sejak dini agar terbiasa dan saat kelak sudah menjadi seorang jurnalis tidak akan ada kecanggungan lagi dan sudah mengerti tentang keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis.
Pada tahun 2020 lalu, AJI Kota Medan membuka kelas jurnalistik menulis feature dan opini yang diikuti oleh anggota AJI Kota Medan dan beberapa mahasiswa yang ada di Kota Medan. Demi menyiapkan mahasiswa untuk menjadi calon-calon jurnalis yang berkompeten, Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan membuat kelas jurnalistik di Sekretariat AJI Medan. Selain itu, kelas ini juga digelar untuk mengasah minat dan potensi anak muda di bidang jurnalistik.
Melihat perkembangan yang sangat dinamis, AJI Medan akan menghadirkan kelas-kelas dengan materi termutakhir mengenai isu-isu digital seperti mobile journalism, jurnalisme data, atau mungkin pembuatan video yang saat ini sangat diminati kaum milenial yang tentunya akan dibawakan oleh pemateri yang berpengalaman dalam bidangnya.
AJI Kota Medan telah berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kapasitas di bidang keterampilan anggotanya. Adapun dalam meningkatkan keterampilan anggotanya, AJI Kota Medan melakukannya dengan cara mengadakan pelatihan dan workshop mengenai penulisan berita yang baik, bagaimana cara mengolah data menjadi suatu informasi dan ini tentu sangat penting bagi para jurnalis maupun calon jurnalis karena akan meningkatkan nilai pada diri jurnalis serta menjadi tahu bagaimana caranya menulis dengan teks yang panjang.
Sri Wahyuni yang merupakan sekertaris AJI Kota Medan juga mengatakan bahwa sebenarnya bagi Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan, siapapun yang tergabung di AJI dianggap sudah memiliki keterampilan ini, karena saat perekrutan anggota AJI harus bisa melewati seleksi-seleksi penerimaan anggota baru, yang salah satunya harus mengirimkan contoh kerja-kerja jurnalistiknya dalam bentuk tulisan. Maka, dari tulisan yang dikirimkan itulah AJI akan mempertimbangkan dia layak atau tidak bergabung menjadi anggota.
Dalam menulis berita, jurnalis harus memberikan dampak terhadap pembaca, tentu bukan tulisan biasa, yang dibuat dalam penulisan berita harus ada nilai, keterampilan yang terdapat pada jurnalis yaitu keterampilan mengambil isu ataupun keterampilan dalam mengambil sudut pandang. Dari wawancara yang dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwa banyak orang maupun wartawan yang bisa menulis tetapi tidak banyak yang bisa menulis berdasarkan sudut pandang
dan memberikan nilai yang terkandung dalam tulisan tersebut. Dalam hal ini AJI Medan terus mendorong anggotanya untuk terus belajar dengan mengikuti pelatihan yang diadakan AJI Medan maupun AJI Indonesia.
Menurut Ketua AJI Kota Medan, keterampilan yang harus dimiliki jurnalis bukan hanya keterampilan menulis saja, karena jurnalis ini ada yang berasal dari TV dan radio. Maka, AJI Kota Medan membuat program berdasarkan isu, seperti keterampilan jurnalis dalam memahami suatu isu. AJI Kota Medan yang dibantu oleh AJI Pusat membuat suatu program dengan tema bagaimana jurnalisme investigasi yang baik, bagaimana menangkal bahaya digital atau bagaiamana melakukan liputan khusus yang baik.
Ibu Yani selaku anggota AJI Kota Medan juga menceritakan bahwa pada tahun 2019 AJI Kota Medan pernah menjadi penggagas sekaligus eksekusi program yang paling besar mengenai anti hoaks dan pada saat itu bekerja sama dengan Bank Sumut. Dalam program tersebut, peserta tidak hanya datang dari anggota AJI Medan saja, melainkan mahasiswa yang akan menjadi calon-calon jurnalis. Acara ini dibuat karena mengingat jurnalis itu paling dekat dengan informasi dan mengantisipasi agar jangan sampai jurnalis menjadi korban hoax.
Akurasi merupakan suatu hal yang wajib dari sebuah berita karena dalam pemberitaan tidak boleh mengandung unsur kebohongan, berita harus memiliki data dan fakta yang jelas. Maka dari itu, AJI Kota Medan juga mengadakan pelatihan jurnalisme data di mana jurnalis diajarkan menulis berita berbasis data.
Pada era sekarang ini khususnya media online banyak sekali pewarta menuliskan berita tanpa data yang belum jelas dan langsung diunggah.
2. Sebagai Wadah Bagi Jurnalis untuk Menguasai Bidang Liputan
Idealnya, seorang jurnalis harus menjadi seorang yang memahami dan menguasai segala hal, sehingga mampu menulis dengan baik dan cermat tentang apa saja. Namun tetap saja, hal yang paling penting ialah harus menguasai bidang liputan dengan baik. Jurnalis politik misalnya, ia harus menguasai istilah-istilah politik. Jurnalis kriminal, ia harus menguasai dan memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kriminalitas, seperti istilah-istilah kasus kriminal, sebutan-sebutan di bidang kriminalitas dan lain sebagainya. Jika seorang lulusan
ekonomi ditugaskan untuk meliput peristiwa olahraga, maka langkah pertama yang harus dilakukan oleh yang bersangkutan adalah mempelajari dunia olahraga serta istilah-istilah yang berlaku di dunia itu (Romli, 2005: 36).
Menguasai bidang liputan hal yang lumrah bagi seorang jurnalis, banyak jurnalis di kota Medan yang latar belakang pendidikannya bukan berasal dari jurusan Jurnalistik, melainkan ada yang dari jurusan ekonomi, hukum dan lain sebagainya. Sehingga menguasai bidang liputan haruslah dipahami oleh setiap jurnalis.
Liputan memiliki beberapa jenis, yaitu liputan sraight news, merupakan liputan yang dilakukan secara langsung dan beritanya di tulis apa adanya serta diinformasikan secara cepat. Kedua depth news, yaitu peliputan secara mendalam dan penulisan berita lebih fokus serta mendalam. Ketiga peliputan investigation, yaitu liputan yang dilakukan berdasarkan penelitian jurnalis dari berbagai sumber (Romli, 2005: 12).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Daniel selaku anggota AJI Kota Medan, dalam memberikan pemahaman terhadap jurnalis yang tergabung dalam anggota, Aliansi Jurnalis Independen pernah bekerja sama dengan Australia Embassy dan Permata Bank menggelar Banking Journalist Workshop (BJW) di mana hal ini termasuk dalam pelatihan yang mengajarkan jurnalis membutuhkan pengetahuan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu. Dalam meliput isu-isu ekonomi, pengetahuan mendalam menjadi sangat penting. Pengetahuan yang baik selaras dengan munculnya perspektif bagi jurnalis. Sehingga memunculkan kesadaran atau sensitivitas untuk menuliskan isu ekonomi yang penting dan bermanfaat bagi publik.
AJI melihat adanya kebutuhan jurnalis akan pelatihan spesifik bertemakan ekonomi. Apalagi tidak semua perusahaan media memberikan pelatihan untuk mengasah kemampuan jurnalisnya dalam peliputan ekonomi. BJW diharapkan memberi pengetahuan dan keterampilan lebih baik pada jurnalis. Pengetahuan yang kemudian menimbulkan perspektif. Perpaduan dari pengetahuan dan keterampilan diyakini bisa menghasilkan karya jurnalistik yang bermanfaat. BJW juga penting dilakukan bagi jurnalis agar bisa menghasilkan karya jurnalistik yang tepat dan akurat.
3. Sebagai wadah bagi Jurnalis untuk Memahami dan Mematuhi Kode Etik Jurnalistik
Jurnalis yang profesional memegang teguh etika jurnalistik. Di Indonesia sendiri, etika jurnalistik tersebut sudah terangkum dalam Kode Etik Jurnalistik yang sudah ditetapkan Dewan Pers sebagai Kode Etik Jurnalistik bagi seluruh jurnalis di Indonesia.
Kebutuhan pada kode etik merupakan salah satu ciri profesionalisme, di samping keahlian, keterikatan dan kebebasan. Dengan pedoman kode etik, diharapkan jurnalis tidak mencampuradukkan fakta dan opini dalam penulisan beritanya, tidak menulis berita fitnah, sadis dan cabul, serta yang paling utama adalah tidak menyalahgunakan kebebasannya dengan menerima amplop (Romli, 2005: 37).
Namun, semakin majunya teknologi, semakin kurang pula kesadaran jurnalis dalam mematuhi kode etik seperti dalam penulisan berita media online, jurnalis cenderung mengutamakan kecepatan berita daripada akurasi suatu berita.
Hal ini termasuk juga dalam sikap tidak profesional yang tidak mematuhi kode etik jurnalistik yang dilakukan oleh jurnalis, maka jurnalis belum bisa dikatakan profesional. Untuk itu, sudah menjadi tugas AJI Kota Medan untuk memberikan pemahaman kode etik sebagai pengingat pentingnya kode etik di dunia jurnalistik.
Menurut Ketua AJI Kota Medan, Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan terus melakukan hal yang mendorong kesadaran para jurnalis terhadap kode etik jurnalistik dengan membuat program Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ), program ini merupakan program yang sangat penting dan menjadikan jurnalis lebih berkompeten serta dapat diakui profesinya. Bagi anggota yang terdaftar di AJI Kota Medan, sudah menjadi suatu kewajiban untuk mengikuti program UKJ ini, sehingga menurut Sekretaris AJI Kota Medan hampir semua anggota AJI Kota Medan telah mengikuti program UKJ dan sudah disertifikasi.
UKJ ini merupakan program kolaborasi AJI dengan Dewan Pers di mana AJI bekerja sama dengan dewan pers untuk mensertifikasi anggotanya. UKJ biasanya dilakukan setahun sekali ataupun dua tahun sekali, tergantung dengan kebutuhan setiap anggotanya. Pelaksanaannya dilakukan selama tiga hari, dalam tiga hari tersebut peserta UKJ digali pemahamannya soal kode etik jurnalistik,
profesionalisme dan hukum pers. Peserta diminta memperdalam teknik wawancara, mulai dari jumpa pers, doors stop hingga wawancara khusus kepada narasumber.
Simulasi penyusunan struktur redaksi hingga rapat redaksi juga menjadi materi yang diuji. Ada banyak sekali materi yang harus dilalui dan dikuasai peserta. Setelah dinyatakan berkompeten, anggota AJI Kota Medan harus tetap memperdalam pengetahuan tentang jurnalistik, terutama pemahaman dan menerapkan kode etik dalam menjalani profesinya.
Selain itu Sekretaris AJI Kota Medan mengatakan bahwa UKJ juga berguna untuk mengukur kemampuan jurnalis sesuai tingkatannya. Adapun UKJ memiliki tiga tingkatan, yang pertama jurnalis muda, syaratnya sudah dua tahun menjadi seorang jurnalis dan setahun menjadi anggota AJI. Kedua, jurnalis madya, tingkatan ini berada pada posisi redaktur dan editor, serta yang terakhir jurnalis utama, yaitu tingkatan pemimpin redaksi.
Selanjutnya Bapak Iskandar sebagai Ketua Majelis Etik AJI Kota Medan juga memaparkan bahwa selain Kode Etik Jurnalistik, AJI juga memiliki Kode Etik dan Kode Perilaku sendiri yang terus disosialisasikan oleh AJI Kota Medan terhadap anggotanya melalui forum diskusi di kantor maupun di lapangan.
Bahkan, saat masih menjadi calon anggota AJI Kota Medan, mereka telah diberikan pembekalan kode etik dan kode perilaku AJI yang disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Etik Nasional. Karena menurut AJI, siapapun yang ingin bergabung menjadi seorang Anggota AJI maka mereka harus siap berkomitmen untuk mematuhi serangkaian kode etik dan kode perilaku AJI dalam menjalankan profesinya.
Majelis Etik sendiri dibentuk untuk penegakan kode etik dan kode perilaku AJI. Majelis Etik melakukan penegakan masalah etik bagi Anggota AJI, serta akan memeriksa apakah itu terbukti melanggar etik atau tidak. Jika terbukti, Majelis Etik akan memberikan sanksi sesuai kategori pelanggaran yang dilakukan, mulai dari sanksi yang paling ringan, yaitu hanya panggilan dan teguran saja, kedua ada sanksi sedang yaitu mendapatkan surat peringatan dan yang ketiga sanksi terberat yaitu pemberhentian dari anggota AJI. Dari hasil wawancara peneliti dengan Ketua Majelis Etik AJI Kota Medan, pada dua periode terakhir ini
terdapat tiga kasus yang salah satu kasusnya mendapat sanksi berat dan mengharuskan untuk diberhentikan dari AJI Kota Medan secara tidak hormat.
Selanjutnya, untuk memberi wawasan mengenai kode etik jurnalistik, AJI Kota Medan juga melaksanakan workshop etik dan profesionalisme jurnalis.
Menurut Yani, yang merupakan salah satu anggota AJI Kota Medan, banyak sekali masyarakat yang dibuat bingung dengan banyaknya produk jurnalistik yang kurang memperhatikan mutu, apalagi kode etik jurnalistik. Workshop ini juga menekankan pentingnya jurnalis memahami payung hukum yang melindungi profesinya, yaitu UU Pers No. 40 Tahun 1999.
Banyak program-program yang telah dilakukan oleh AJI Kota medan yang tentunya membawa pengaruh kepada anggota-anggotanya dan kemudian menghasilkan jiwa-jiwa jurnalis yang profesional. Rata-rata anggota AJI Kota Medan sudah mengerti dan lebih memahami bagaimana menjadi jurnalis yang profesional. Dari hal yang dipaparkan di atas, dapat dikatakan bahwa AJI Kota Medan telah menjalankan perannya dengan sangat baik untuk meningkatkan profesionalitas jurnalis anggotanya.
Jurnalis yang profesional dalam menjalankan profesionya dapat dilihat dari bagaimana jurnalis menjalankan kegiatan jurnalistiknya. Apakah sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu sesuai dengan kode etiknya, apakah dia bertugas sudah dengan mementikan kepentingan publik atau apakah tulisan yang dibuat sudah mengandung kebenaran.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa AJI juga memiliki kode etik dan kode perilaku sendiri. Hal ini sangat ditekankan kepada anggota AJI Kota Medan, karena media sekarang tidak memprioritaskan peran profesi jurnalis dan tidak juga memberi pelatihan, hanya saja jika mereka sudah mampu menulis berita saja maka akan diterima di media tersebut. Untuk itu, AJI Kota Medan sangat berperan besar tentunya dalam hal profesionalisme yang merupakan menjadi salah salah satu visi misi AJI.
Dalam menjalankan perannya, AJI Kota Medan tentu tidak lepas dari yang namanya kendala. Kendala merupakan hambatan yang terjadi dalam mencapai target yang diinginkan. Sesuai dengan wawancara peneliti, sejauh ini AJI Kota Medan belum memiliki hambatan yang begitu besar, hanya saja dalam
menjalankan perannya untuk meningkatkan profesionalisme jurnalis, persoalan atau hambatan yang sering terjadi ada pada anggotanya sendiri dan biaya pelaksanaan programnya. Berikut hambatan yang dihadapi AJI Kota Medan dalam meningkatkan profesionalisme wartawan di Kota Medan:
1. Biaya
Menurut Bapak Liston, AJI Kota Medan tidak bisa terlalu sering membuat kegiatan besar dan mengundang ahli dari luar kota maupun luar negeri. Hal ini dikarenakan dalam menjalankan programnya AJI Kota Medan memakai uang pribadi dari setiap pengurus dan anggotanya, tidak boleh memakai uang dari pemerintah maupun uang instansi lain. Karena bekerja sama dengan pemerintah maupun instansi lain ditakutkan akan merusak independensi AJI.
2. Anggota AJI Memiliki Tanggung Jawab di Medianya Masing-masing Seseorang dikatakan sebagai seorang wartawan karena ia telah bekerja di suatu media dan memiliki tanggung jawab di sana. Terkadang jurnalis harus melewatkan jika ada pelatihan atau workshop yang diadakan oleh AJI Kota Medan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya di media tempat dia bekerja, sehingga ia tidak selalu bisa mengikuti segala program yang dilakukan oleh AJI Kota Medan.
Yani yang merupakan salah satu anggota AJI Kota Medan mengaku saat ini merasa kurang aktif dalam mengikuti program-program AJI yang ada di Kota Medan. hal ini dikarenakan kantor atau media tempatnya bertugas dipindahkan ke Kota Pematang Siantar dan dapat dikatakan jauh dari Kota Medan, sehingga menyulitkannya untuk mengatur waktu jika ada program-program yang dilaksanakan oleh AJI Kota Medan
3. Latar Belakang Pendidikan
Sri Wahyuni mengatakan bahwa, pendidikan memang menjadi hal utama bagi setiap jurnalis maupun calon jurnalis karena dapat mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan di bidang jurnalistik. Hal ini juga menjadi salah
satu kendala bagi AJI Kota Medan untuk meningkatkan profesionalisme jurnalis.
Karena yang telah disebutkan juga di atas bahwa tidak semua anggota AJI berasal dari latar belakang pendidikan jurnalistik. Maka dari itu, AJI Kota Medan harus selalu mendorong agar anggotanya terus mendalami dunia jurnalistiknya, berbeda dengan yang sudah berlatar belakang jurnalistik, sedikit banyak pasti mereka telah memahaminya.
4. Kuota Terbatas
Yani dan Daniel mengatakan sebagai anggota AJI Mereka pernah tidak mengikut program yang dilaksanakan AJI dikarenakan jumlah kuota yang terbatas. Dalam menjalankan programnya, AJI Kota Medan tidak hanya untuk anggotanya saja, melainkan untuk seluruh jurnalis di Kota Medan dan mahasiswa.
Namun, persoalannya, kuota yang terbatas ini tentu tidak sebanding dengan jurnalis yang dan mahasiswa yang ada di Kota Medan. Jumlah jurnalis di Kota
Namun, persoalannya, kuota yang terbatas ini tentu tidak sebanding dengan jurnalis yang dan mahasiswa yang ada di Kota Medan. Jumlah jurnalis di Kota