• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1.1 Paradigma Konstruktivisme

Paradigma yang digunakan di dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap perilaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial mereka (Hidayat, 2003:

21).

Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya.

Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2008: 107).

Paradigma konstruktivisme merupakan paradigma yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Para ahli filsafat menyatakan bahwa suatu realitas terbentuk karena ada hasil konstruksi seseorang melalui kemampuan berpikirnya. Realitas digambarkan sebagai hasil dari aktivitas manusia yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terus berkembang. Paradigma penelitian kualitatif memandang bahwa kenyataan dibangun secara sosial, karenanya bersifat komplek, saling terkait dan tidak bisa diukur secara matematis. Sebaliknya, memerlukan pendekatan dari dalam (emik) dalam prosesnya (Ardianto & Q-Anees, 2007: 151).

Paradigma konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri, oleh karenanya pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas).

Pengetahuan bukanlah gambaran dari kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat ditransfer kepada individu lain yang pasif. Karena itu konstruksi harus dilakukan sendiri olehnya terhadap pengetahuan itu, sedangkan lingkungan adalah sarana terjadinya konstruksi itu. Pada proses ini seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan, sehingga suatu pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia yang secara terus menerus dialaminya (Wibowo, 2013: 198).

Peneliti konstruktivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari konstruksi tersebut bagi kehidupan mereka dengan yang lain. Dalam konstruktivis, setiap individu memiliki pengalaman yang unik.

Dengan demikian, penelitian dengan strategi seperti ini menyarankan bahwa setiap cara yang diambil individu dalam memandang dunia adalah valid, dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut. Paradigma konstruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigma lainnya, yaitu ontologi, epistemologi dan metodologi (dalam Patton, 2002: 96-97).

Level ontologi, paradigma konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk dan maknanya berbeda bagi tiap orang.

Dalam epistemologi, peneliti menggunakan pendekatan subjektif karena dengan

cara itu bisa menjabarkan pengkonstruksian makna oleh individu. Dalam metodologi, paradigma ini menggunakan berbagai macam jenis pengkonstruksian dan menggabungkannya dalam sebuah konsensus.

Proses ini melibatkan dua aspek: hermeunetik dan dialetik. Hermeunetik merupakan aktivitas dalam merangkai teks – percakapan, tulisan atau gambar.

Sedangkan dialetik adalah penggunaan dialog sebagai pendekatan agar subyek yang diteliti dapat ditelaah pemikirannya dan membandingkannya dengan cara berpikiri peneliti. Dengan begitu, harmonitas komunikasi dan interaksi dapat dicapai dengan maksimal (Hidayat, 2003: 22)

Penelitian kualitatif berlandaskan paradigma konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu bukan hanya merupakan hasil pengalaman terhadap fakta, tetapi juga merupakan hasil konstruksi pemikiran subjek yang diteliti. Pengenalan manusia terhadap realitas sosial berpusat pada subjek dan bukan pada objek, hal ini berarti bahwa ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman semata, tetapi merupakan juga hasil konstruksi oleh pemikiran (Arifin, 2012: 140). Guba dan Lincoln melakukan pemetaan sistem penelitian yang menggunakan paradigma konstruktivisme, menggunakan asumsi sebagai berikut (Arifin, 2012: 141) :

1. Ontologis: Relativist: Peneliti dengan paradigma konstruktivis meyakini bahasa realitas dibentuk berdasarkan pengalaman seseorang.

Artinya, konstruksi realitas seseorang belum tentu sama dengan orang lain.

2. Epistemologis: Transactional and Subjectivist: Peneliti dan objek penelitian memiliki kedekatan sehingga peneliti dapat menemukan informasi dari interaksi yang tercipta antara peneliti dan yang diteliti.

3. Metodologis: Hermeneutical and Dialectical: Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan peneliti kepada objek yang diteliti. Interaksi keduanya akan menimbulkan pemikiran individu akan konstruksi yang dibentuk dalam dirinya.

Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita akan menjadi tahu sesuatu. Pada penjelasan ontologi

paradigma konstruktivis, realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun demikian kebenaran suatu realitas sosial bersifat terukur yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Ardianto & Q-Anees, 2007: 80).

Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistimologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material.

Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna. Keberagaman pola konseptual atau kognitif merupakan hasil lingkungan historis, kultural dan personal yang digali secara terus-menerus (Ardianto & Q-Anees, 2007: 152).

Dengan memahami paradigma penelitian konstruktivisme di atas, bukan saja membantu kita untuk memahami cara kerja dalam melakukan penelitian kualitatif, melainkan juga memberikan pengetahuan terhadap perkembangan paradigma penelitian ini di tengah paradigma penelitian lainnya. Jensen (1991) (dalam Mulyana, 2007: 9) mengemukakan dua alasan historis yang memicu perkembangan paradigma penelitian kualitatif, yakni; pertama, kondisi internal dalam komunitas ilmiah yang mempertanyakan daya eksplanatori pendekatan empiris konvensional dalam komunitas ilmiah yang mempertanyakan daya eksplanatori pendekatan empiris dalam ilmu-ilmu sosial. Kedua, kondisi eksternal di luar komunitas ilmiah yang terkait dengan perubahan dan dinamika sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya yang memerlukan daya adaptasi, termasuk pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

2.2 Kajian Pustaka