Dengan semakin masifnya kasus tindak pidana korupsi baik yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan maupun Kepolisian Republik Indonesia serta semakin rumitnya modus operandi yang dilakukan oleh para pelaku tindak pidana korupsi, sehingga diperlukan upaya-upaya semaksimal mungkin untuk menanggulanginya. Upaya yang akhir-akhir ini digunakan untuk menanggulangi tindak pidana korupsi yang dilakukan secara terorganisir yaitu salah satunya dengan adanya pelaku yang berkerjasama sebagai saksi atau dapat juga disebut dengan istilah Justice Collaborator.
Istiah Justice Collaborator berasal dari bahasa Inggris yang diadopsi dari Amerika yang tidak ditemui dalam KUHAP, namun istilah tersebut belakangan sudah dipakai pada praktek hukum di Indonesia. Sampai saat belum ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur mengenai Justice Collaborator di Indonesia.
Pengaturan mengenai justice collaborator selama ini diatur secara bervariasi, limitatif dan tersebar di berbagai ketentuan perundang-undangan. Pasal 10 ayat (2) UU RI No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, merupakan landasan penggunaan peran justice collaborator di Indonesia secara limitatif, yang berbunyi :
“
Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata75 Maria Alfons, 2010, “Implementasi Perlindungan Indikasi Geografis Atas Produk-produk Masyarakat Lokal Dalam Perspektif Hak Kekayaan Intelektual”, Ringkasan Disertasi Doktor, Universitas Brawijaya, Malang, hlm, 18.
48 terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana.”
Dalam Surat Keputusan Bersama antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kejaksaan Agung, Kepolisian Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Mahkamah Agung, Justice Collaborator adalah seorang saksi, yang juga merupakan pelaku, namun mau bekerjasama dengan penegak hukum dalam rangka membongkar suatu perkara bahkan mengembalikan aset hasil kejahatan korupsi apabila aset itu ada pada dirinya.76
Justice collaborator adalah pelaku yang bekerja sama yaitu orang baik dalam status saksi, pelapor atau informan yang memberikan bantuan kepada penegak hukum misalnya dalam bentuk pemberian informasi penting, bukti-bukti yang kuat atau keterangan / kesaksian di bawah sumpah, yang dapat mengungkap suatu tindak pidana, dimana orang tersebut terlibat di dalam tindak pidana yang dilaporkannya tersebut atau bahkan suatu tindak pidana lainnya.77
Konsep dasar Justice Collaborator adalah upaya bersama untuk mencari kebenaran dalam rangka mengungkap keadilan yang hendak disampaikan kepada masyarakat. pencarian kebenaran secara bersama-sama itulah konteks collaborator dari dua sisi yang diametral berlawanan : penegak hukum dan pelanggar hukum. Untuk menjadi seorang Justice collaborator mempunyai syarat antara lain pelaku bukan pelaku utama dalam kasusnya, yang bersangkutan mengembalikan asset yang diperoleh, dan keterangan yang diberikan haruslah jelas dan memiliki korelasi yang dinilai layak untuk ditindaklanjuti.
76 LH Manulang, http://duniahukumonline.blogspot.co.id/2013/06/justice-collaborator.html.
77 Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Perlindungan Terhadap Pelaku Yang Bekerjasama (Justice Collaborator), : Usulan Dalam Rangka Revisi UU Perlindungan Saksi dan Korban, Jakarta : Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, 2011, hlm 3.
49 Istilah Justice collaborator dapat disebut juga sebagai pembocor rahasia atau peniup peluit yang mau bekerja sama dengan aparat penegak hukum atau participant whistleblower. Si pembocor rahasia haruslah orang yang ada di dalam organisasi yang dapat saja terlibat atau tidak terlibat di dalam tidak pidana yang dilaporkan itu.78
Pengaturan tentang Justice collaborator secara komprehensif diatur dalam point 9 SEMA No. 4 Tahun 2011 tanggal 10 Agustus 2011 tentang Perlakuan terhadap Pelapor Tindak Pidana (whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerja Sama (justice collaborator) adalah sebagai berikut 79:
a. Yang bersangkutan merupakan salah satu dari pelaku tindak pidana tertentu sebagaimana dimaksud dalam SEMA ini, mengakui kejahatan yang dilakukannya, bukan pelaku utama dalam kejahatan tersebut serta memberikan keterangan sebagai saksi di dalam proses peradilan;
b. Jaksa penuntut umum di dalam tuntutannya menyatakan bahwa yang bersangkutan telah memberikan keterangan dan bukti-bukti yang sangat signifikan sehingga penyidik dan/atau penuntut umum dapat mengungkap tindak pidana dimaksud secara efektif, mengungkap pelaku-pelaku lainnya yang mempunyai peran lebih besar dan/atau mengembalikan aset-aset/hasil suatu tindak pidana;
c. Atas bantuannya tersebut, maka terhadap saksi yang bekerjasama sebagaimana dimaksud di atas, hakim dapat menentukan pidana yang akan dijatuhkan dapat mempertimbangkan hal-hal penjatuhan pidana sebagai berikut :
78 Firman Wijaya, Whistle Blower dan Justice Collaborator Dalam Perspektif Hukum, Penaku, Jakarta, 2012, hlm 11.
79 Mahkamah Agung Republik Indonesia, Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2011, tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) Dan Saksi Pelaku Yang Bekerjasama (Justice Collaborator) di Dalam Perkara Pidana Tertentu.
50 i. Menjatuhkan pidana percobaan bersyarat khusus dan/atau ii. Menjatuhkan pidana penjara berupa pidana penjara yang
paling ringan diantara terdakwa lainnya yang terbukti bersalah dalam perkara yang dimaksud.
SEMA ini juga bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi publik guna mengungkap tindak pidana yang bersifat terorganisir dengan cara menciptakan iklim yang kondusif dengan cara memberikan perlindungan hukum serta perlakuan khusus kepada setiap orang yang mengetahui, melaporkan, atau menemukan suatu hal yang dapat membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap dan menangani tindak pidana terorganisir secara efektif, mengingat belum adanya peraturan perndang-undangan yang memberikan pengaturan yang memadai tentang peranan saksi pelapor dan saksi pelaku yang bekerjasama (Justice collaborator) dalam peradilan pidana.
Syarat untuk seseorang dapat dikatakan sebagai justice collaborator yaitu : Tindak pidana yang diungkap merupakan tindak pidana yang serius dan atau terorganisir seperti korupsi, pelanggaran HAM berat, narkoba, terorisme, tindak pidana pencucian uang (TPPU), traficing, kehutanan. Jadi untuk hal tindak pidana ringan tidak mengenal istilah ini. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dinyatakan sebagai justice collaborator adalah : 1. Keterangan yang diberikan signifikan, relevan dan andal.
Keterangan yang diberikan benar-benar dapat dijadikan petunjuk oleh aparat penegak hukum sehingga memudahkan kinerja aparat penegak hukum.
2. Orang yang berstatus justice collaborator bukanlah pelaku utama dalam perkara tersebut karena kehadirannya sebagai justice collaborator adalah untuk mengungkapkan siapa pelaku utama dalam kasus tersebut. Dia hanya berperan sedikit didalam
51 terjadinya perkara itu tetapi mengetahui banyak tentang perkara pidana yang terjadi itu.
3. Dia mengakui perbuatannya di depan hukum dan bersedia mengembalikan asset yang diperolehnya dengan cara kejahatan itu secara tertulis.
4. Jaksa Penuntut Umum di dalam tuntutannya menyatakan bahwa yang bersangkutan telah memberikan keterangan dan bukti yang signifikan sehingga penyidik/penuntut umum dapat mengungkap tindak pidana yang dimaksud secara efektif, mengungkap pelaku-pelaku lainnya yang memiliki peran lebih besar dan/atau mengembalikan asset-aset/hasil suatu tindak pidana.80
b. Kedudukan Justice Collaborator Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi di Indonesia.
1) Kedudukan Justice Collaborator dalam peraturan