• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA. A. JUSTICE COLLABORATOR DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI 1. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TELAAH PUSTAKA. A. JUSTICE COLLABORATOR DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI 1. Pengertian Tindak Pidana Korupsi"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II

TELAAH PUSTAKA

A. JUSTICE COLLABORATOR DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI 1. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Tindak pidana yang pada mulanya di Indonesia juga dikenal dengan istilah “strafbaar feit” dalam bahasa Belanda, merupakan istilah yang terdapat dalam Wetboek van Strafrecht Hindia Belanda (KUHP), Tetapi meskipun begitu tidak terdapat penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri. Maka para ahli hukum berusaha memberi arti dan isi dari istilah tersebut. Berikut ini beberapa pengertian strafbaar feit dari para sarjana :

a. Menurut Moeljatno, tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.1

b. Menurut Marshall, tindak pidana adalah perbuatan atau omisi yang dilarang oleh hukum untuk melindungi masyarakat dan dapat dipidana berdasarkan prosedur hukum yang berlaku.2

c. Menurut Pompe, secara teoritis tindak pidana dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja maupun tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan hukum.3

d. Menurut Simons, perbuatan pidana adalah kelakuan (handeling) yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang

1 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm. 97.

2 Ibid, hlm. 98.

3 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 182.

(2)

8 berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.4

e. Menurut Kanter dan Sianturi, tindak pidana adalah suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu, yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu bertanggung jawab).5

Beberapa pengertian tindak pidana tersebut dapat disimpulkan bahwa tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang dan menimbulkan sanksi. Sama halnya dengan korupsi yang merupakan suatu tindakan atau perbuatan yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.6

Korupsi merupakan gejala masyarakat yang dapat dijumpai di mana-mana. Sejarah membuktikan bahwa hampir setiap negara dihadapkan pada masalah korupsi termasuk di Indonesia.

Istilah korupsi selalu berkembang dan berubah sesuai dengan kondisi zaman, dan cara penanggulangnya juga berkembang.7 Istilah korupsi berasal dari kata latin “ corruptio” atau “corruptus”, kemudian muncul dalam bahasa Inggris dan Perancis “ corruption” dalam bahasa Belanda “ corruptive”, dan selanjutnya dalam bahasa Indonesia dengan sebutan “korupsi”. Korupsi secara harafiah berarti jahat atau busuk. Oleh karena itu, tindak pidana korupsi berarti suatu delik akibat perbuatan buruk, busuk, jahat, atau rusak, menyimpang dari kesucian.8

Menurut Ridwan Zachrie Wijayanto, kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus, yang dari bahasa Latin itulah turun

4 Mahrus Ali, Op.cit, hlm. 98.

5 Ibid, hlm. 99

6 http://repository.unpas.ac.id/36983/6/BABII.pdf

7 Martiman Projomahidjojo, 2001, Penerapan Pembuktian Terbaik dalam Delik Korupsi (UU Nomor 31Tahun 1999), Mandar Maju, Bandung, hlm. 7.

8 Darwan Prins, 2002, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Citra Aditya Bakti, Bndung, hlm.1.

(3)

9 ke banyak bahasa Eropa seperti dalam bahasa Inggris : Corruption (corrupt), dalam bahasa Belanda : corruptie, yang kemudian turun ke bahasa Indonesia menjadi “korupsi”.9

Perbuatan korupsi sehubungan dengan konsep hukum materiel adalah perbuatan yang diatur dalam perundang-undangan tentang korupsi itu sendiri atau perbuatan yang dirumuskan dalam suatu undang-undang yang di tetapkan oleh pemerintah yang isinya tentang perbuatan yang di sebut sebagai korupsi. Ada suatu kepentingan yang harus di lindungi oleh pembuat undang-undang sehingga larangan terhadap perbuatan korupsi dirumuskan dalam perundang-undangan tersebut. Barang siapa menyalahi ketentuan dari makna yang dirumuskan dalam perundang- undangan itu berarti telah melakukan perbuatan melawan hukum.10

Korupsi dapat didefinisikan sebagai tindakan penyalahgunaan kekuasaan (Abouse of power) oleh pejabat Negara yang mendapatkan amanah dari rakyat untuk mengelola kekuasaan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Objek korupsi politik dan administrasi. Seorang pejabat yang menggunakan kewenangan administratif dan atau politik secara melawan hukum untuk keuntungan pribadi atau orang lain dapat dikategorikan tindakan korupsi.11

Secara harafiah, arti dari ”korupsi” adalah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, dan sebagainya. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pengertian “korupsi” adalah “Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.12

9 Ridwan Zachrie Wijayanto, Korupsi Mengorupsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009, hlm. 5.

10 IGM. Nurdjana, 2005. Korupsi Dalam Praktik Bisnis. Pemberdayaan Penegakan Hukum, Progam Aksi Dan Strategi Penanggulangan Masalah Korupsi. Gramedia Pustaka Utama, Jakart, hlm.28.

11 Ikhwan Fahrojih, dkk,2005, Mengerti dan melawan Korupsi, Yappika dan Malang Corruption Watch (MCM), Jakarta, hlm.8.

12 Ronny Rahman Nitibaskara, 2000, Tegakkan Hukum Gunakan Hukum, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta, hlm. 26.

(4)

10 Dalam Ensiklopedi Indonesia disebut “korupsi” (dari bahasa Latin : corruption = penyuapan; corrupture = merusak) gejala di mana para pejabat, badan-badan Negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan lainnya. Adapun arti harfiah dari korupsi dapat berupa :

a. Kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggris- Indonesia, Indonesia-Inggris).

b. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan yang sogok, dan sebagainya. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Indonesia).

c. Korupsi juga bisa diartikan sebagai :

1) Korup (busuk; suka menerima uang suap/uang sogok; memakai kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan sebagainya);

2) Korupsi (perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebaginya);

3) Koruptor (orang yang korupsi).13

Komariah Emong Sapardjaja membuat definisi tentang korupsi dengan pengertian sebagai berikut : Korupsi adalah perbuatan yang secara materiel bertentangan dengan norma apapun. Perbuatan korupsi apapun motifasinya tetaplah merupakan perbuatan yang tercela. Jadi secara meterilpun melawan hukum. 14

Robert Klitgaard, Ronald Maclean-Abaroa, H. Lindsey Parris sebagaimana dikutip oleh Yudi Kristiana, menyatakan bahwa :

Korupsi berarti memungut uang bagi pelayanan yang sudah seharusnya diberikan, atau menggunakan wewenang mencapai tujuan yang tidak

13 Evi Hartanti, 2005. Op. Cit, hlm 8-9.

14 Komariah Emong Sapardjaja, 2002, Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia, Studi kasus penerapan dan perkembangannya dalam Yurisprudensi, Alumni, Bandung, hlm.128.

(5)

11 sah. Korupsi adalah tidak melaksanakan tugas karena lalai atau sengaja, korupsi mencangkup kegiatan yang sah dan tidak sah. Korupsi dapat terjadi di dalam tubuh organisasi (misalnya pemerasan). Korupsi kadang- kadang membawa dampak positif di bidang social, namun pada umumnya korupsi menimbulkan inefisiensi, ketidak-adilan dan ketimpangan.15

Meningkatnya tindak pidana korupsi baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang begitu rapi telah menyebabkan terpuruknya perekomonian Indonesia. Untuk itu diperlukan upaya penegakan hukum secara sungguh-sungguh dan bersifat luar bisaa. Berdasarkan Pasal 2 dan 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menjelaskan mengenai pengertian korupsi yaitu sebagai berikut :

a. Setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekomonian Negara (pasal 2 ayat (1).

b. Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau (pasal 3). 16

Dalam ilmu Akutansi, korupsi merupakan bagian dari kecurangan (fraud) namun secara oprasional istilah korupsi lebih terkenal dibandingkan kecurangan. Kecurangan adalah segala cara yang dapat dilakukan orang untuk berbohong, menjiplak, mencuri, memeras, memanipulasi, kolusi dan menipu orang lain dengan cara melawan hukum. Kecurangan dapat terjadi dalam berbagai bentuk organisasi baik di sektor pemerintah maupun ekstern organisasi. Secara umum kecurangan berkaitan dengan beberapa hal berikut ini :

15 Ibid, hlm. 198.

16 Suradi,2006. Korupsi dalam sector pemerintahan dan swasta. Gava Media, Yogyakarta, hlm.1.

(6)

12 a. Ketidakjujuran (dishonesty);

b. Penipuan (deceit);

c. Pelanggaran kepercayaan (breach of trust);

d. Pencurian (theft);

e. Maksud berbuat salah (intention to do wrong);

f. Rencana untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan dengan merugikan pihak lain.17

Tindak pidana korupsi di Indonesia hingga saat ini masih menjadi musuh besar dalam penegakan hukum dan merupakan masalah yang sulit untuk diberantas keberadaannya walaupun telah diatur kedudukannya dalam peraturan perundang-undangan. Sebelum membahas mengenai tindak pidana korupsi, penulis akan membahas secara rinci mengenai tindak pidana korupsi.

Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi, dapat diklarisifikasikan menjadi faktor internal dan faktor eksternal, yaitu :

a. Faktor internal

Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang dalam diri seorang pemegang kekuasaan demi keuntungan pribadi dan/atau kelompok, baik keuntungan secara ekonomi maupun keuntungan secara politik. Faktor internal ini bisa terjadi karena orang dalam keadaan terpaksa, karena gaji tidak mencukupi kebutuhan.

Namun juga dapat terjadi karena kerakusan untuk menumpuk-numpuk materi.

Dorongan untuk menyalahgunaan kekuasaan/korupsi karena kerakusan tersebut dapat disebabkan karena renggangnya nilai-nilai social keagamaan dan budaya masyarakat, yang tergantikan dengan nilai-nilai hedinisme,metarilisme, pragmatism dan konsumerisme.

Ukuran kehormatan bagi masyarakat dengan nilai-nilai seperti ini

17 Ibid, hlm 2.

(7)

13 adalah sesuatu yang dapat menyenangan secara lahiriah, misalnya kekayaan, jabatan, dan lain-lain. Orang juga tidak banyak memperhatikan asal muasal kekayaan yang diperoleh oleh otang lain dalam hal ini adalah pejabat, semaki kaya seorang pejabat semakin ia anggap berhasil oleh masyarakat, terlepas dari apakah kekayaan tersebut diperoleh dengan cara wajar atau tidak. Pejabat dengan karakter seperti ini sangat berpotensi untuk menggunakan kekuasaan yang dipegangnya untuk memperkaya diri sendiri, pejabat dengan karakter seperti ini juga tidak akan pernah puas dengan gaji yang diterima, walaupun sudah ada kenaikan gaji yang sangat tinggi.

Pejabat dengan karakter seperti ini bahkan sangat berpotensi pula untuk mempertahankan dan memperkuat kekuasaanya dengan cara menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk mengumpulkan uang demi membiayai praktik-praktik politiknya. Ketika orang melakukan inventasi tersebut, baik keuntungan secara politik maupun ekonomi yaitu terpeliharanya kekuasaan dengan praktik-praktik korupsinya dan keuntungan secara ekonomi yaitu tambahnya kekayaan pribadi karena praktik-praktik korupsi.

b. Faktor eksternal

Yang dimaksud dengan faktor eksternal ini adalah adanya system pemerintahan yang memang memberikan kesempatan kepada pemegang kekuasaan untuk melakukan korupsi. 18

Dari faktor internal dan eksternal penyebab korupsi diatas, dapat disimpulkan bahwa akibat dari tindak pidana korupsi sangat luas dan mengakar.

Adapun akibat dari korupsi adalah sebagai berikut : 19 a. Berkurangnya kepercayaan terhadap pemerintah

18IkhwaFahrojih, dkk, Op.Cit, hlm. 11-13.

19 Ibid, hlm. 16-17.

(8)

14 Apabila pejabat pemerintah nelakukan korupsi mengakibatkan kurangnya kepercayaan terhadap pemerintahah tersebut. Disamping itu, Negara lain juga lebih mempercayai Negara yang pejabatnya bersih dari korupsi, baik dalam kerja sama di bidang politik, ekonomi, ataupun dalam bidang lainya. Hal ini mengakibatkan pembangunan di segala bidang akan terhambat khususnya pembangunan ekonomi serta mengganggu stabilitas perekomian Negara dan stabilitas politik.

b. Berkurangnya kewajiban pemerintah dalam masyarakat

Apabila banyak dari pejabat pemerintah yang melakukan penyelewengan keuangan Negara, masyarakat akan bersikap apatis terhadap segala anjuran dan tindakan pemerintah. Sifat apatis masyarakat tersebut mengakibatkan ketahanan nasional akan rapuh dan mengganggu stabilitas keamanan Negara. Hal ini pernah terjadi pada tahun 1998 yang lalu, masyarakat sudah tidak mempercayai lagi pemerintah dan menuntut agar Pesiden Soeharto mundur dari jabatannya karena dinilai tidak lagi mengemban anamat rakyat dan melakukan berbagai tindakan melawan hukum menurut kacamata rakyat.

c. Menyusutnya pendapatan Negara

Penerimaan Negara untuk pembangunan didapatkan dari dua sector, yaitu dari pungutan dan penerimaan pajak. Pendapatan Negara dapat berkurang apabila tidak diselamatkan dari penyeludupan dan penyelewengan oleh oknum pejabat pemerinth pada sector-sektor penerimaan Negara tersebut.

d. Rapuhnya keamanan dan ketahanan negara

Keamanan dan ketahanan Negara akan menjadi rapuh apabila para pejabat pemerintah mudah disuap karena kekuatan asing yang hendak memaksakan ideology atu pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia akan menggunakan penyuapan sebagai suatu sarana untuk

(9)

15 mewujudkan cita-citanya. Pengaruh korupsi juga dapat mengakibatkan berkurangnya loyalitas masyarakat terhadap Negara.

e. Perusakan mental pribadi

Seseorang yang sering melakukan penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang mentalnya akan menjadi rusak. Hal ini mengakibatkan segala sesuatu dihitung dari materi dan akan melupakan segala sesuatu yang menjadi tugasnya serta hanya melakukan tindakan ataupun perbuatan yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya ataupun perbuatan yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya ataupun orang lain yang dekat dengan dirinya.

Yang lebih berbahanya lagi, jika tindakan korupsi ini ditipu atau dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Apabila hal tersebut terjadi maka cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sulit untuk dicapai.

f. Hukum tidak lagi di hormati

Negara kita merupakan Negara hukum di mana segala sesuatu harus di dasarkan pada hukum. Tanggung jawab dalam hal ini bukan hanya terletak pada penegak hukum saja namun juga pada seluruh warga Negara Indonesia.

Cita-cita menggapai tertib hukum tidak akan terwujud apabila para penegak hukum melakukan tindakan korupsi sehingga hukum tidak dapat ditegakkan, ditaati, serta tidak diindahkan oleh masyarakat.

Ada beberapa pendapat dari para ahli hukum maupun dalam perumusan perundang-undangan tentang pengertian tindak pidana korupsi, sehingga dapat dijadikan pemahaman tentang pengertian tindak pidana korupsi. Untuk mendapatkan pemahaman mengenai tindak pidana korupsi tersebut, maka di bawah ini dikemukakan pendapat para ahli hukum maupun perumusan dalam perundang-undangan tentang pengertian tindak pidana korupsi sebagai berikut :

(10)

16 a. Pengertian tindak pidana korupsi menurut para ahli hukum

1) Baharuddin Lopa

Tindak pidana korupsi menurut definisi yang dikemukakan oleh Baharuddin Lopa, adalah sebagai berikut :

“Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana penyuapan dan pembuatan melawan hukum yang merugikan Negara atau dapat merugikan keuangan atau perekomonian Negara, merugikan keuangan atau perekomonian Negara korupsi dibidang politik dapat berwujud manipulasi pemungutan suara dengan cara penyuapan, intimidasi, paksaan dan atau campur tangan yang dapat mempengaruhi kebebasan memilih, komersialisasi pemungutan suara pada lembaga legislative atau pada keputusan yang bersifat administrasi dibidang pelaksanaan pemerintah”.20

2) Andi Hamzah

Delik korupsi Pasal 1 ayat (1) sub a Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) urutannya sebagai berikut :

a) Melawan Hukum

b) Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan.

c) Yang secara langsung atau yang tidak langsung merugikan keuangan Negara dan perekomonian Negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan Negara atau perekomonian Negara.

Dalam hukum pidana sering delik itu di bagi menjadi dua, yaitu perbuatan dan pertanggungjawaban. Pada perumusan delik di atas perbuatan adalah “ memperkaya diri dan seterusnya”, disusul dengan “melawan hukum” yang dapat diartikan dalam delik ini sebagai “tanpa hak untuk menikmati hasil korupsi”

tersebut selaras dengan putusan HR tanggal 30 Januari 1911,

20 Baharuddin Lopa, 1997, Masalah Korupsi dan Pemecahannya, Kipas Putih Aksara, Jakarta, hlm. 4.

(11)

17 yang mengartikan “melawan hukum”itu”tidak mempunyai hak untuk menikmati keuntungan” itu dalam delik penipuan (pasal 378 KUHP).21

Delik korupsi tercantum dalam pasal 1 ayat (1) sub b Undang-Undang Pemberantarasan Tindak Pidana Korupsi yang unsur-unsurnya sebagai berikut:

a) Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau badan;

b) Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan;

c) Yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan Negara atau perekomonian Negara. 22

3). Alatas (1981)

Menurut pendapat Alatas bahwa korupsi mengandung ciri- ciri sebagai berikut :

a) Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari satu orang.

b) Korupsi pada umumnya melibatkan kerahasiaan, kecuali dimana ia telah begitu merajalela dan berurat berakar sehingga individu yang perkasa atau mereka yang berada dalam lingkungannya tidak tegoda untuk menyembunyikan perbuatan mereka.

c) Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbale balik, yang tidak senantiasa berupa uang.

d) Koruptor berusaha menyelubungi perbuatan mereka dengan berlindung di balik pembenaran hukum.

e) Mereka yang terlibat dalam korupsi menginginkan berbagai keputusan yang tegas dan mereka mampu mempengaruhi keputusan itu.

f) Korupsi mengandung penipuan pada badan public atau masyarakat umum.

21 Evi Hartanti, 2005. Op.cit,hlm.17.

22

Ibid, hlm.18.

(12)

18 g) Korupsi adalah suatu bentuk pengkhianatan.

h) Setiap pelakukorupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan tindakan itu.

i) Korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggung- jawaban dalam tatanan masyarakat, Ia didasarkan atas niat kesengajaan untuk menempatkan kepentingan umum dibawah kepentingan khusus. 23

4) Selo Soemardjan (1999)

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) adalah satu nafas karena ketiganya melanggar kaidah dan norma hukum. Adapun faktor-faktor social pendukung KKN adalah sebagai berikut:

a) Desintegrasi (anomie) social karena perubahan social terlalu cepat sejak revolusi nasional dan melemahnya batas milik Negara dan milik pribadi;

b) Fokus budaya bergeser, nilai utama orientasi sosial beralih menjadi orientasi harta, kaya tanpa harta menjadi kaya dengan harta;

c) Pebangunan ekonomi menjadi panglima bukan pembangunan social budaya;

d) Penyalahgunaan kekuasaan Negara sebagai shortcut mengumpulkan harta;

e) Paternalisme, korupsi tingkat tinggi, menurut, menyebar, meresap dalam kehidupan masyarakat. Bodoh kalau tidak menggunakan kesempatan menjadi kaya;

f) Pranata-pranata social control tidak efektif lagi. 24

Tindak pidana korupsi merupakan masalah yang sangat serius, karena tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan negara dan masyarakatnya, membahayakan pembangunan sosial dan

23 Evi Hartanti, 2005. Loc. Cit.

24 Ibid, hlm.20.

(13)

19 ekonomi masyarakat, politik, bahkan dapat pula merusak nilai-nilai demokrasi serta moralitas bangsa karena dapat berdampak membudayanya tindak pidana korupsi tersebut.

b. Pengertian tindak pidana korupsi menurut Undang-undang Adapun pengertian tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam rumusan pasal-pasal Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi adalah sebagai berikut :

1) Undang-Undang Nomor : 3 Tahun 1971

Pengertian tindak pidana korupsi menurut Undang- Undang Nomor : 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana tercantum dalam Pasal-Pasal sebagai berikut :

a) Pasal 1 ayat (1) huruf a :

“Barang siapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atausuatu badan, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan dan atau perekomonian Negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan Negara atau perekomonian Negara”;

b) Pasal 1 ayat (1) huruf b :

“Barang siapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan, meyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya, karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan Negara atau perekomonian Negara”;

c) Pasal 1 ayat (1) huruf d :

“Barang siapa memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri seperti dimaksud dalam pasal 2 dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau suatu wewenang yang melekat pada jabatannya atau kedudukannya atau oleh si pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan itu”;

d) Pasal 1 ayat (1) huruf e :

“Barang siapa tanpa alasan yang wajar, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya setelah menerima pemberian atau janji yang diberikan kepadanya, seperti yang tersebut dalam pasal- pasal 418, 419 dan 420 KUHP tidak melaporkan pemberian janji tersebut kepada yang berwajib”;

(14)

20 e) Pasal 2 :

“Pegawai negeri yang dimaksud dalam Undang-Undang ini, meliputi juga orang-orang yang menerima gaji atau dari keuangan Negara atau daerah atau yang menerima bantuan dari keuangan Negara atau daerah, atau badan hukum lain yang mempergunakan modal dan kelonggaran-kelonggaran dari Negara atau masyarakat”.

2) Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999

Menurut perspektif hukum, definisi tindak pidana korupsi secara rinci telah dijelaskan dalam 13 (tiga belas) buah pasal dalam Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berdasarkan Pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal dimaksud menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan penjara karena korupsi. 25

Ketiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan sebagai berikut :

a) Kerugian Negara (1) Pasal 2;

(2) Pasal 3;

b) Suap – menyuap

(1) Pasal 5 ayat (1) huruf a ; (2) Pasal 5 ayat (1) huruf b;

(3) Pasal 5 ayat (2);

(4) pasal 6 ayat (1) huruf a;

(5) Pasal 6 ayat (1) huruf b;

25 Komisi Pemberantasan Korupsi, 2006, Buku Saku Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi, KPK, Jakarta, hlm.19.

(15)

21 (6) Pasal 6 ayat (2);

(7) Pasal 11.

(8) Pasal 12 huruf a;

(9) Pasal 12 huruf b;

(10) Pasal 12 huruf c;

(11) Pasal 12 huruf d;

(12) Pasal 13

c) Penggelapan dalam jabatan (1) Pasal 8;

(2) Pasal 9;

(3) Pasal 10 huruf a;

(4) Pasal 10 huruf b;

(5) Pasal 10 huruf c:

d) Pemerasan

(1) Pasal 12 huruf e;

(2) Pasal 12 huruf f;

(3) Pasal 12 huruf g;

e) Perbuatan Curang

(1) Pasal 7 ayat (1) huruf a;

(2) Pasal 7 ayat (1) huruf b;

(3) Pasal 7 ayat (1) huruf c;

(4) Pasal 7 ayat (1) huruf d;

(5) Pasal 7 ayat (2);

(6) Pasal 12 huruf h.

f) Benturan kepentingan dalam pengadaan Pasal 12 huruf I.

g) Grantifikasi Pasal 12 B jo, Pasal 12 C. 26

Selain definisi tindak pidana korupsi yang telah dijelaskan di atas, masih ada tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Jenis tindak pidana lain itu tertuang dalam Pasal

26 Ibid., hlm. 20-21.

(16)

22 21, 22, 23 dan 24 Bab III Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

Jenis tindak pidana lain yang dikaitkan dengan tindak pidana korupsi terdiri dari :

a) Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi : Pasal 21;

b) Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar : Pasal 22 jo. Pasal 28;

c) Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka : pasal 22 jo. Pasal 29;

d) Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu : Pasal 22 jo. Pasal 35;

e) Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan palsu : Pasal 22 jo.

Pasal 26;

f) Saksi yang membuka identitas pelapor : Pasal 24 jo. Pasal 31.27

2. Ruang Lingkup Tindak Pidana Korupsi

Jenis tindak pidana dapat dibedakan berdasarkan sumbernya yaitu, tindak pidana umum dan tindak pidana khusus, tindak pidana umum ialah semua tindak pidana yang dimuat dalam KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materil. Sedangkan, tindak pidana khusus adalah tindak pidana yang tidak termuat dalam KUHP yang mencakup perbuatan-perbuatan yang merugikan masyarakat dan patut diancam dengan pidana sesuai dengan perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan yang dinilai tidak cukup efektif dengan hanya menambahkannya pada kodifikasi (KUHP). Salah satu contoh dari Tindak pidana khusus adalah UU No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak

27 Ibid.

(17)

23 Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah oleh UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Tindak Pidana Korupsi.

Menurut perspektif hukum, defenisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk atau jenis tindak pidana korupsi.

Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi.28

Ketiga puluh bentuk atau jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :29

1. Kerugian Negara

a. Melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara (pasal 2).

b. Menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara (pasal 3).

2. Suap – menyuap

a. Menyuap pegawai negeri (pasal 5 ayat 1 huruf a dan b).

b. Memberi hadiah kepada pegawai karena jabatannya (pasal 13).

c. Pegawai negeri menerima suap (pasal 5 ayat 2, pasal 12 huruf a dan b).

d. Pegawai negeri menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatannya (pasal 11).

e. Menyuap hakim (pasal 6 ayat 1 huruf a).

f. Menyuap advokat (pasal 6 ayat 1 huruf b).

g. Hakim dan advokat menerima suap (pasal 6 ayat 2).

h. Hakim menerima suap (pasal 12 huruf c).

i. Advokat menerima suap (pasal 12 huruf d).

28 repository.unpas.ac.id/36983/6/BAB II.pdf , hlm 41.

29 Ibid, hlm 42-44.

(18)

24 3. Penggelapan dalam jabatan

a. Pegawai negeri menggelapkan uang atau membiarkan penggelapan (pasal 8).

b. Pegawai negeri memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi (pasal 9).

c. Pegawai negeri merusak bukti (pasal 10 huruf a).

d. Pegawai negeri membiarkan orang lain merusak bukti (pasal 10 huruf b).

e. Pegawai negeri membantu orang lain merusak bukti (pasal 10 huruf c).

4. Pemerasan

a. Pegawai negeri memeras (pasal 12 huruf e dan g).

b. Pegawai negeri memeras pegawai negeri yang lain (pasal 12 huruf f).

5. Perbuatan curang

a. Pemborong berbuat curang (pasal 7 ayat 1 huruf a).

b. Pengawas proyek membiarkan perbuatan curang (pasal 7 ayat 1 huruf b).

c. Rekanan TNI atau Polri berbuat curang (pasal 7 ayat 1 huruf c).

d. Pengawas rekanan TNI atau Polri membiarkan perbuatan curang (pasal 7 ayat 1 huruf d).

e. Penerima barang TNI atau Polri membiarkan perbuatan curang (pasal 7 ayat 2).

f. Pegawai negeri menyerobot tanah negara sehingga merugikan orang lain (pasal 12 huruf h).

6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

Pegawai negeri turut serta dalam pengadaan yang diurusnya (pasal 12 huruf i).

7. Gratifikasi

Pegawai negeri menerima gratifikasi dan tidak lapor KPK (pasal 12 B jo pasal 12 C).

(19)

25 3. Bentuk-bentuk Tindak Pidana Korupsi

Dewasa ini praktek Tindak Pidana Korupsi terjadi dalam berbagai macam dan bentuk. Dengan memperhatian ketentuan-ketentuan- ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi baik yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian diubah dan ditambah dengan Undang- Undang No 20 Tahun 2001, setidaknya terdapat tujuh macam bentuk tindak pidana korupsi. 30 Ketujuh bentuk tersebut meliputi :

Pertama, perbuatan yang merugikan negara.

Perbuatan yang merugikan negara, dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu mencari keuntungan dengan cara melawan hukum dan merugikan negara serta menyalahgunakan jabatan untuk mencari keuntungan dan merugikan Negara.

Kedua, Suap.

Suap adalah semua bentuk tindakan pemberian uang atau menerima uang yang dilakukan oleh siapa pun baik itu perorangan atau badan hukum (korporasi).

Ketiga, gratifikasi.

Yang dimaksud dengan korupsi jenis ini adalah pemberian hadiah yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Gratifikasi dapat berupa uang, barang, diskon, pinjaman tanpa bunga, tiket pesawat, liburan, biaya pengobatan, serta fasilitas-fasilitas lainnya.

Keempat, penggelapan dalam jabatan.

Kategori ini sering juga dimaksud sebagai penyalahgunaan jabatan, yakni tindakan seorang pejabat pemerintah yang dengan kekuasaaan yang dimilikinya melakukan penggelapan laporan keuangan, menghilangkan barang bukti atau membiarkan orang lain menghancurkan barang bukti yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dengan jalan merugikan negara. Penggelapan dalam jabatan ini bisaanya banyak

30 Dwi Siska Susanti, //kliklegal.com/ini-tujuh-kelompok-jenis-tindak-pidana-korupsi/

(20)

26 memang khusus pegawai negeri karena yang bisa melakukan ini adalah yang memiliki kewenangan.

Kelima, pemerasan.

Pemerasan adalah tindakan yang dilakukan oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaaannya dengan memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.

Keenam, perbuatan curang.

Perbuatan curang ini bisanya terjadi di proyek-proyek pemerintahan, seperti pemborong, pengawas proyek, dan lain-lain yang melakukan kecurangan dalam pengadaan atau pemberian barang yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau keuangan Negara.

Ketujuh, benturan kepentingan dalam pengadaan.

Pengadaan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghadirkan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh instansi atau perusahaan.31

Adapun menurut Flora Dianti, definisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan di dalam 13 pasal Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan dalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi.

Ketigapuluh bentuk tersebut kemudian dapat disederhanakan ke dalam tujuh kelompok besar, yaitu kerugian keuangan negara, suap-menyuap,

31 Ibid.

(21)

27 penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.32

4. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Salah satu tantangan di bidang hukum yang dihadapi negara-negara di dunia khususnya di negara Indonesia yaitu tindak pidana korupsi yang tergolong dalam Organized Crime atau tindak pidana yang terorganisir.

Menurut Light, Keller, dan Calhoun kejahatan terorganisir yaitu :33

“Kejahatan terorganisir (organized crime). Pelaku kejahatan merupakan komplotan yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum.

Misalnya, komplotan korupsi, penyediaan jasa pelacur, perjudian gelap, penadah barang curian, atau peminjaman uang dengan bunga tinggi (rentenir).”

Menurut Lilik Mulyadi kejahatan terorganisir adalah : 34

“Suatu kejahatan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang melalui sebuah persengkomgkolan atau permufakatan bersama untuk bertindak jahat sesuai dengan peran dan tugas masing-masing (notabene telah terbagi) yang kemudian hasil dari kejahatan tersebut dibagi-bagi. Adapun permufakatan dan persekongkolan yang dimaksud termasuk didalamnya melakukan, membantu, turut serta, menyuruh, menganjurkan, memfasilitasi, konsultasi, dan lain-lain yang terkait dengan aktivitas manajerial dalam oprerasionalisasi kejahatan”.

Meningkatnya kasus tindak pidana korupsi baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang begitu rapih dan masif telah menyebabkan terpuruknya perekomonian Indonesia. Untuk itu diperlukan upaya penegakan hukum secara sungguh-sungguh dan bersifat luar biasa.

32 Flora Dianti, LKBH PPS FH UI, https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5e6247a037c3a /bentuk-bentuk-tindak-pidana-korupsi/

33 http://eviana19.blogspot.com, Perilaku Menyimpang.

34 Lilik Mulyadi, 2015, Perlindungan Hukum terhadap whistleblower dan justice collaborator dalam upaya penanggulangan organized cirme, PT. Alumni, Bandung, hlm.37.

(22)

28 Dikemukakan oleh Sudarto bahwa penegakan hukum dengan pengertian perhatian dan pengharapan perbuatan-perbutan yang melawan hukum yang sungguh-sungguh terjadi (onrech in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potentie).

Sedangkan Satjipto Rahardjo mengemukakan bahwa penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep menjadi kenyataan. Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Yang disebut keinginan-keinginan hukum di sini tidak lain adalah pikiran- pikiran pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan hukum itu. 35

Dalam rangka penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi Joseph Goldstein sebagaimana dikutip oleh Nyoman Sarikat Putra Jaya menawarkan 3 (tiga) konsep dalam law enforcement, yaitu sebagai berikut :

1. Total enforcement;

2. Full enforcement;

3. Actual enforcement;

Khusus konsep Full enforcement, Joseph Goldstein memberikan penjelasan bahwa pada penegakan hukum ini para penegak hukum diharapkan menegakan hukum secara maksimal. Penegakan hukum secara Full Enforcement ini, menurut Joseph Goldstein, merupakan harapan yang tindak realities (non realistic expectation), terdapat kendala-kendala dalam pelaksanaanya berupa batas waktu personil, alat- alat investigasi, dana dan sebagainya, sehingga mengharuskan adanya diskresi, dengan demikian yang tersisa adalah apa yang disebut dengan actual enforcement. 36

35 Nyoman Sarikat Putra Jaya, 2006. Penegakan Hukum Undang-Undang Korupsi dalam Rangka Kebijakan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia. Makalah Seminar 27 April 2006, Semarang. hlm.5.

36 Ibid., hlm.9.

(23)

29 Sehubungan dengan masalah diskresi ini, bahwa diskresi bisa di lihat sebagai hal yang positif untuk mengambil suatu keputusan, sebab discretio dapat didefinisikan sebagai the ability to choose between two or more courses of behavior, pada saat harus memecahkan masalah dan sebagainya. Diskresi sering di lihat sebagai balancing justice for the individual against justice for the group. Namun harus di ingat bahwa diskresi yang diambil tanpa akutabilitas akan membuka pintu untuk terjadinya perilaku yang tidak etis (open the door for unethical decision), sebagai contoh dalam rumus terjadinya korupsi berupa : C = M+D-A (Corruption=Monopoli+Discretion-Accountability). 37

Dengan demikian, diskresi dalam system peradilan dapat menimbulkan ketidakadilan dan dapat disalahgunakan, kecuali dilakukan secara bijaksana, objektif, dan etis sehingga diskresi merupakan suatu elemen untuk memperlembut hukum dengan kemanusiaan (tempering law with humanity), bahkan apabila dipantau dengan baik dapat menjadi masukan bagi pembaharuan hukum, 38

Sehubungan dengan semakin kronisnya tindak pidana korupsi, maka dalam penanganan pemberantasan tindak pidana korupsi dimana ketentuan-ketentuan yang tidak lagi kondusif bagi usaha pemberantasan korupsi, perlu direformasi dengan tetap memperhatikan asas-asas hukum sebagai suatu refleksi Negara hukum. Reformasi hukum di Indonesia, untuk menanggulangi korupsi ditandai dengan pembentukan Undang- Undang Nomor: 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai pengganti Undang-Undang Nomor : 3 Tahun 1971, Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 memiliki satu kemajuan atau progesifitas yang sangat mendasar yang secara ilmiah menjadi ajang diskusi akademik. Aspek yang mendasar tersebut adalah terdapatnya ajaran sifat melawan hukum materiel (materiel wederrchtelijkheid), yang

37 Ibid., hlm.10.

38 Ibid..

(24)

30 sejak semula cenderung dianggap bersinggung dengan asas legalitas sebagai suatu asas fundamental dalam hukum pidana.39

Menurut Bambang Purnomo, bahwa pola perilaku kejahatan korupsi termasuk golongan kejahatan yang pengembangannya mempunyai potensi tinggi untuk sulit dijangkau rumusan hukum dan pertumbuhannya meningkatkan kemungkinan pola kejahatan menjadi semakin nisbi, sehingga hukum pidana harus dikembangkan dan dibentuk secara khusus untuk menanggapi kejahatan korupsi.40

5. Sistem Peradilan Pidana dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi

a. Sistem Peradilan Pidana

Pengertian system menurut Kamus Besar Indonesia adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.41 Sehubungan dengan pengertian system, maka system peradilan pidana (SPP) menurut Muladi, sebagai suatu system pada dasarnya merupakan suatu open system, suatu system di dalam geraknya mencapai tujuan baik tujuan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan bidang-bidang kehidupan manusia, maka SPP dalam geraknya akan selalu mengalami interfase (interaksi, interkoneksi, dan interdepensi) dengan lingkungannya dalam peringkat-peringkat, masyarakat, ekonomi, politik, pendidikan dan

39 Jon Effreddi, 2005.Fungsi Positif Melawan Hukum Materiel dalam Tindak Pidana Korupsi.

Varia Peradilan, Majalah Hukum Tahun ke-XX No. 240, September 2005, Jakarta, hlm.38-39.

40 Bambang Purnomo, 1983, Potensi Kejahatan Korupsi di Indonesia. Bina Aksara ,Yogyakarta, hlm.21.

41 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996, Kamus Besar Bahas Indonesia Edisi Kedua, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 950.

(25)

31 teknologi serta subsistem-subsistem dari SPP itu sendiri (subsystem of criminal justice system).42

Sistem peradilan pidana di Indonesia adalah suatu system peradilan pidana yang terpadu. Hal ini telah diutarakan dalam Hukum Acara Pidana Nasional Indonesia yang berlaku sejak tahun 1981. Rangkaian proses peradilan pidana merupakan suatu rangkaian proses yang dapat diibaratkan sebagai suatu ban berjalan. Dimulai dari penyelidikan, penyidikan, pendakwahan, pemeriksaan di depan siding pengadilan, pelaksanaan keputusan hakim, pembinaan narapidana kembali ke masyarakat. 43

Sistem peradilan merupakan suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materiil, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana. Namun demikian kelembagaan substansial ini harus di lihat dalam kerangka atau konteks social.

Sifatnya yang terlalu formal apabila dilandasi hanya untuk kepentingan kepastian hukum saja akan membawa bencana berupa ketidakadilan. Dengan demikian demi apa yang dikatakan sebagai precise justice, maka ukuran-ukuran yang bersifat materiil, yang nyata-nyata dilandasi oleh asa-asas keadilan yang bersifat umum benar-benar harus diperhatikan dalam penegakan hukum.44

Lebih lanjut Muladi mengemukakan bahwa system peradilan pidana (SPP) merupakan bentuk suatu system yang unik karena perbedaannya dengan system-sistem social yang lain. Perbedaan ini terletak pada kesadarannya untuk memproduksi segala sesuatu yang bersifat unwelfare dalam skala yang besar, guna mencapai tujuan yang sifatnya walfare (rehabilitasi pelaku tindak pidana

42 Muladi, 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. hlm. vii.

43 Loebby Loqman 2002. Pidana dan Pemidanaan. Datacom, Jakarta, hlm.25.

44 Muladi, 1995. Op.cit., hlm 4.

(26)

32 pengendalian dan penekanan tindak pidana dan kesejahteraan social). Segala sesuatu yang unwelfare tersebut dapat berupa perampasan harta benda, bahkan kadang-kadang hilangnya nyawa manusia atau di beberapa Negara berupa derita fisik (misal pemukulan dengan rotan).

Sehubungan dengan itu dapat di kaji pula, bahwa sebenarnya dalam operasionalisasinya, sistem peradilan pidana melibatkan manusia, baik sebagai subjek maupun objek, sehingga dapat di katakana bahwa pesyaratan utama agar sistem peradilan pidana tersebut dapat bersifat rasional, system tersebut harus dapat memahami dan memperhitungkan dampaknya terhadap manusia atau masyarakat manusia, baik yang berada dalam kerangka sistem maupun yang berada di luar sistem. 45

Sebagai suatu sistem, peradilan pidana mempunyai perangkat struktur atau sub-sistem yang seharusnya bekerja secara koheren, koordinatif dan integrative agar dapat mencapai efisiensi dan efektivitas yang maksimal. Sub-sub sistem ini berupa polisi, jaksa, pengadilan dan lembaga koreksi baik yang sifatnya institusional maupun yang non institusional. Dalam hal ini mengikat peranannya yang semakin besar, penasihat hukum dapat dimasukin sebagai quasi sub-system. Kombinasi antara efisiensi dan efektivitas dalam sistem sangat penting, sebab belum tentu efisiensi masing-masing sub- sistem dengan sendirinya menghasilkan efektivitas. Fragmentasi fungsional pada sub-sistem akan mengurangi efektivitas sistem tersebut, bahkan dapat menjadikan sistem tersebut secara keseluruhan disfungsional. 46

Sistem Peradilan Pidana (SPP) mempunyai dimensi fungsional ganda. Di satu pihak berfungsi sebagai sarana masyarakat untuk menahan dan mengendalikan kejahatan pada tingkatan tertentu

45 Ibid, hlm.21

46 Ibid.

(27)

33 (crime containment system). Di lain pihak sistem peradilan pidana juga berfungsi untuk mencegahnya. Sebagai suatu jaringan (network), sistem peradilan pidana mengoperasikan hukum pidana sebagai sarana utamanya. Dalam hal ini dapat berupa hukum pidana materiil, hukum pidana formil dan hukum pelaksanaan pidana.

Ada beberapa asas utama yang harus dihayati dalam mengoperasionalkan hukum pidana, sebab individu harus benar- benar merasa terjamin bahwa mekanisme system peradilan pidana tidak akan menyentuh mereka tanpa landasan hukum tetulis yang ada lebih dahulu (legality principle). Disamping itu dasar yang jelas-jelas dibenarkan oleh undang-undang, hukum acara pidana mengenal apa yang dinamakan asas kegunaan atau asas kelayakan (expendiency principle) yang perpangkal tolak pada kepentingan masyarakat (social desireability) yang dapat ditafsirkan sebagai kepentingan tertib hukum (the interest of the legal order). Atas dasar ini penuntutan memperoleh ligitimasinya. Asas kelayakan ini bisa bersifat negative (negative expediensi principle), apabila penekanan diletakan pada bentuk peringatan terhadap asas legalitas dan dapat bersifat positif apabila tekanan diarahkan pada kewajiban untuk menuntut, kecuali dalam beberapa perkecualian. 47

Asas ketiga yang tidak kalah pentingnya dengan sistem peradilan pidana adalah asas prioritas (priority principle) yang didasarkan pada semakin beratnya beban sistem peradilan pidana.

Hal ini bisa berkaitan dengan berbagai kategori tindak pidana dan bisa juga berbagai tindak pidana dalam kategori yang sama. Prioritas ini dapat juga berkaitan dengan pemilihan jenis-jenis pidana atau tindakan yang dapat diterapkan pada pelaku tindak pidana. Sebagai contoh dapat di kemukakan di sini berkembangnya lebih kurang 22 alternatif pidana kemerdekaan (alternative to custoday) di Eropa Barat.

47 Ibid, hlm.22.

(28)

34 Peranan perundang-undangan pidana dalam system peradilan sangat penting, karena perundang-undangan tersebut memberikan kekuasaan pada pengambiilan kebijakan dan memberikan dasar hukum pada kebijakan yang diterapkan. Lembaga legislatif berpartisipasi dalam menyiapkan kebijakan, dan memberikan kerangka hukum untuk memformulasikan kebijakan dan menerapkan progam kebijakan yang telah ditetapkan. Jadi semua merupakan bagian dari politik hukum, yang pada hakikatnya berfungsi dalam tiga bentuk: pertama, politik tentag pembentukan hukum; kedua tentang penegakan hukum; dan ketiga politik tentang pelaksanaan kewenangan dan kompetensi.48

Kerangka pemahaman ini sangat penting, karena politik sebenarnya mengandung penentu pilihan atau mengambil sikap terhadap tujuan-tujuan yang dianggap paling baik termasuk didalamnya usaha-usaha untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Secara oprasional undang-undang pidana mempunyai kedudukan strategis terhadap system peadilan pidana, sebab dirumuskan sebagai tindak pidana, mengendalikan usaha-usaha pemerintahan untuk memberantas kejahatan dan pemidanaan si pelaku, memberikan batasan tentang pidana yang dapat diterapkan untuk setiap kejahatan.

Dengan perkataan lain perundang-undangan pidana dan menciptakan legislated environment yang mengatur segala produser dan tata cara yang harus dipatuhi di dalam pelbagai peringkat sistem peradilan pidana.49

Mengenai pengertian sistem peradilan pidana, menurut pendapat yang dikemukakan oleh Hagan, seperti dikutip oleh Romli Atmasasmita membedakan antara pengertian criminal justice process dan criminal justice system. Pengertian criminal justice process adalah setiap tahap dari suatu putusan yang mengedepankan

48 Ibid.

49 Ibid, hlm. 22-23.

(29)

35 seorang tersangka kedalam proses yang membawanya kepada penentu pidana baginya. Pengertian criminal justice system adalah interkoneksi antara keputusan dari setiap instansi yang terlibat dalam proses peradilan pidana. Istilah criminal justice system atau system peradilan pidana (SPP) menunjukkan mekanisme kerja dalam penanggulangan kejahatan dengan mempergunakan dasar pendekatan system.50

Remington dan Ohlin sebagaimana dikutip Romli Atmasasmita mengemukakan : criminal justice system dapat di artikan sebagai pemakaian pendekatan system terhadap mekanisme administrasi peradilan pidana. Sebagai suatu system, peradilan pidana merupakan hasil interaksi antara peraturan perundang- undangan, praktik administrasi dan sikap atau tingkah laku social.

Pengertian system itu sendiri mengandung implikasi suatu proses interaksi yang dipersiapkan secara rasional dan dengan cara efisien untuk memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya. 51

Menurut Mardjono Reksodipoetro sebagaimana di kutip oleh Romli Atmasasmita memberikan definisi system peradilan pidana adalah system pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga- lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Selanjutnya Mardjono Reksodipoetro, mengatakan bahwa system peradilan pidana adalah system dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi kejahatan. Menanggulangi diartikan sebagai mengendalikan kejahatan agar berbeda dalam batas-batas toleransi masyarakat.52

Di dalam system peradilan pidana (criminal justice system), kekuasaan yudikatif harus dilindungi dengan prinsip-prinsip umum

50 Romli Atmasasmita, 1996, System Peradilan Pidana, Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme, Binacipta, Bandung, hlm . 14.

51 Ibid.

52 Ibid., hlm 15.

(30)

36

“the independent of the judiciary” yaitu pengadilan yang independen/ merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan manapun juga.

Pengadilan yang independen/merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan manapun juga. Pengadilan yang independen adalah hal yang esensi dari demokrasi, tetapi sebagai sub sistem dari peradilan pidana, independensi pengadilan harus didukung oleh elemen lain dari sistem peradilan pidana, seperti polisi dan lembaga kejaksaan dengan sifat independennya dari proses politik campur tangan pihak lain. Hal ini perlu perhatian serius karena kejaksaan dalam sistem kekuasaan ada di wilayah executive branch yang memiliki hubungan dekat dengan executive power.53

Mardjono Reksodipoetro mengemukakan bahwa tujuan dari

“sistem peradilan pidana” adalah :

1. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan;

2. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakan dan yang bersalah di pidana, dan

3. Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya. 54

Bertitik tolak dari tujuan sistem peradilan pidana di atas, Mardjono Reksodipoetro mengemukakan bahwa empat komponen dalam sistem peradilan pidana (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan) diharapkan dapat bekerja sama dan dapat membentuk suatu “integrated criminal justice system”.

Apabila keterpaduan dalam bekerjanya system tidak dilakukan, menurut Mardjoko Reksodipoetro diperkirakan akan terdapat tiga kerugian sebagai berikut :

53 Kuat Puji Prayitno, 2008, Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System), Materi Kuliah Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, hlm.23.

54 Nyoman Serikat Putrajaya, Loc. Cit, hlm. 12.

(31)

37 1. Kesukaran dalam menilai sendiri keberhasilan atau kegagalan masing-masing instansi, sehubungan dengan tugas mereka bersama;

2. Kesulitan dalam memecahkan sendiri masalah-masalah pokok masing-masing instansi (sebagai sub-sistem peradilan pidana);

3. Karena tanggug jawab masing-masing instansi sering kurang jelas terbagi, maka setiap instansi tidak terlalu memperhatikan efektivitas menyeluruh dari system peradilan pidana.55

Sistem peradilan pidana harus dilihat sebagai “The network of courts and tribunal ehich deal with criminal law and its enfoecement”. Sistem peradilan pidana di dalamnya mengandung gerak sistemik dari subsistem-subsistem pendukungnya ialah kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga koreksi/

pemasyarakatan, yang secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang berusaha mentransformasikan masukan (“input”) menjadi keluaran (“output”) yang menjadi tujuan system peradilan pidana yang terdiri dari :

1. Tujuan jangka pendek berupa ressosialisasi pelaku tindak pidana:

2. Tujuan jangka menengah berupa pencegahan kejahatan; dan 3. Tujuan jangka panjang berupa kesejahteraan sosial.56

Berbicara mengenai system peradilan pidana terpadu, tidak bisa lepas dari pendekatan system (“system opproach”). Sistem peradilan pidana dengan embel-embel terpadu, menurut Muladi sangat berlebihan (“overboding”), sebab tidak ada system yang tidak terintegrasi atau terpadu. Segala sesuatu yang dinamakan system akan selalu mengandung karakteristik terpadu dengan indikator- indikator sebgai berikut :

55 Ibid, hlm 13.

56 Ibid.

(32)

38 1. Berorientasi pada tujuan (“purposive behavior”);

2. Menyuruh dari pada sekedar penjumlahan bagian-bagiannya (“wholism”);

3. Sistem selalu berinteraksi dengan system yang lebih besar (“openness”);

4. Opesasionalisasi bagian-bagian menciptakan system nilai tertentu (“transformation”);

5. Antar bagian system harus cocok satu sama lain (“interrelatedness”); dan

6. Adanya mekanisme control dalam rangka pengendalian secara terpadu (“control mechanism”).57

Sistem peradilan pidana dalam operasionalisasinya/

konkritisasinya melibatkan manusia, baik sebagai subjek hukum maupun sebagai sasaran atau objek hukum, sehingga persyaratan utama supaya system peradilan pidana itu bersifat rasional, harus dapat memahami dan memperhitungkandampaknya terhadap manusia dan masyarakat manusia, baik yang berada dalam kerangka system maupun yang berada di luar system.

Sistem peradilan pidana di samping dapat dipandang sebagai

“ physical system” juga dapat dipandang sebgai “ abstract system”.

Sebagi “physal system” (system fisik), system peradilan pidana terdiri dari beberapa elemen/komponen yang secara terpadu bekerja untuk mencapai tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Sedangkan “abstract system” (system abstrak), system peradilan pidana penuh muatan-muatan berupa gagasan-gagasan atau ide-ide atau konsep-konsep yang merupakan susunan yang teratur satu sama lain berada dalam silang ketergantungan.58

57 Ibid, hlm. 14.

58 Ibid, hlm. 15

(33)

39 Sistem peradilan pidana tidak dapat dipandang sebagai

“deterministic system” yang bekerjanya dapat ditentukan secara pasti namun harus di pandang sebagai “probalistic system” yang hasilnya secara tidak pasti dapat di duga, seperti apa yang dikemukakan oleh Hulsman, bahwa tujuan system peradilan pidana yang positif berupa resoliasasi terpidana sering justru berakibat menimbulkan “condition of unwelfare” yang berupa penderitaan.

Disamping itu, perlu juga adanya sinkronisasi yang mengandung makna kesepakatan dan keselarasan baik sinkronisasi yang mengandung makna keserempakan dan keselarasan baik sinkronisasi struktual (“structural syschronization”), sinkronisasi substansial (“substantial synchronization”) dan sinkronisasi cultural (“cultural syschonization”),

1. Sinkronisasi struktual menurut keserempakan dan keselarasan dalam mekanisme adminitrasi peradilan pidana (”the administration of criminal justice”) dalam kerangka hubungan antar penegak hukum;

2. Sinkronisasi substansial menurut keserempakan dan keselarasan baik vertical maupun horizontal dalam hubungannya dengan hukum positif yang berlaku;

3. Sinkronisasi cultural mengandung arti usaha untuk selalu serempak dalam menghayati pandangan-pandangan, sikap-sikap dan falsafah yang secara menyeluruh mendasari jalnnya system peradilan pidana.59

b. Teori-teori dalam Penegakan Hukum Pidana

1) Teori Sistem Hukum dan Teori Bekerjanya Hukum.

Pendapat Lawrence Meir Friedman yang disunting oleh Ahmad Ali mengemukakan tentang tiga unsur sistem hukum

59 Ibid, hlm. 17.

(34)

40 (three elements of legal system) yang mempengaruhi bekerjanya hukum, yaitu :60

a) Struktur Hukum (Legal Structure);

b) Substansi Hukum (Legal Subtance);

c) Kultur Hukum (Legal Culture).

Ketiga unsur sistem hukum tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dan mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan satu persatu. Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang menggerakkan sistem hukum yang ada agar berjalan dengan lancar. Sebagai perumpamaan, struktur hukum (Legal Structure) merupakan mesin yang menghasilkan sesuatu, Substansi Hukum (Legal Subtance) merupakan produk yang dihasilkan mesin dan kultur/budaya hukum (Legal Culture) merupakan orang yang memutuskan untuk menjalankan mesin serta membatasi penggunaan mesin.61 Apabila satu dari ketiga unsur sistem hukum ini tidak berfungsi, menyebabkan subsistem lainnya terganggu.62

Menurut Lawrence Meir Friedman berhasil atau tidaknya penegakan hukum bergantung pada Substansi Hukum, Struktur Hukum/Pranata Hukum, dan Budaya Hukum. Friedman kemudian mengidentifikasi unsur-unsur sebuah sistem hukum, yakni sebagai berikut, pertama-tama sistem hukum harus mempunyai struktur. Struktur sistem hukum ini merupakan kerangkanya, yang merupakan bagian yang bertahan paling lama yang memberikan bentuk tertentu dan batasan-batasan keseluruhan sistem hukum.

struktur sistem hukum merupakan komponen yang menentukan bisa atau tidaknya hukum itu dilaksanakan dengan baik. Struktur

60 Ahmad Ali, 2002, Keterpurukan Hukum di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 7-9.

61 Marlina, 2009, Peradilan Pidana Anak di Indonesia : Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Juctice, PT. Refika Aditama, Bandung, hlm. 14.

62 Ibid, hlm. 15.

(35)

41 sistem hukum merupakan kelembagaan yang diciptakan oleh sistem hukum yang mempunyai fungsi untuk mendukung bekerjanya sistem hukum itu sendiri. Apabila komponen struktural sistem hukum ini dipahami dari perspektif institusi penegakan hukum dalam kaitannya melakukan fungsi penegakan hukum maka pihak atau institusi yang berwenang harus memiliki legitimasi yang sah dalam melaksanakan tugas tersebut.63

Unsur kedua dari sistem hukum menurut Friedman adalah substance. Komponen substance mencakup segala sesuatu yang merupakan hasil dari structure, di dalamnya termasuk norma hukum, baik yang berupa peraturan perundang-undangan, keputusan maupun doktrin-doktrin.

Sistem hukum menurut Friedman mengandung maksud bahwa hukum tidak hanya dalam bentuk tertulis (undang-undang atau peraturan perundang-undangan) sebagai produk resmi dari perintah, tetapi juga berupa aturan-aturan atau hukum yang berasal di luar undang-undang. Terdapat dua cara untuk memandang hukum yakni hukum resmi yang berasal dari pemerintah dan yang lainnya harus dilihat secara lebih luas.

Terhadap hal tersebut, ada suatu garis pembatas antara undang- undang dan aturan-aturan dan badan-badan (institusi-institusi) yang memengaruhi manusia, dan menurut Friedman dalam pengertian inilah yang dimaksud dengan sistem hukum.

Friedman mengatakan bahwa unsur sistem hukum bukan hanya terdiri atas struktur dan substansi saja. Melainkan masih ada yang lainnya yang merupakan unsur ketiga, yaitu budaya hukum (legal culture). Budaya hukum mencakup sikap masyarakat atau nilai yang mereka anut yang menentukan kegiatan atau aktifitas sistem hukum yang bersangkutan. Sikap dan nilai inilah yang akan

63 Soerjono Soekanto, 2010, Faktor – Faktor Yang Memengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, hlm. 30.

(36)

42 memberikan pengaruh baik yang positif maupun yang negatif terhadap tingkah laku yang berkaitan dengan hukum sehingga budaya hukum merupakan perwujudan dari pemikiran masyarakat dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum tersebut digunakan, dihindari atau dilecehkan. Setiap masyarakat, setiap daerah, setiap kelompok memiliki budaya hukum. Mereka memiliki sikap dan pandangan terhadap hukum yang tidak selalu sama.

Dengan kata lain ide, pandangan, dan sikap masyarakat terhadap hukum dipengaruhi oleh sub-culture seperti suku, atau etnik, usia, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, kebangsaan, pekerjaan dan pendapatan, kedudukan dan kepentingan, lingkungan agama.

Budaya hukum sebagai perwujudan dari pemikiran masyarakat terhadap hukum akan berubah sesuai perubahan sikap, pandangan serta nilai yang dihayati oleh anggota masyarakat, karena itu pemahaman akan budaya hukum suatu masyarakat harus juga memperhatikan secara menyeluruh aspek kemasyarakatan dari masyarakat yang bersangkutan dan proses perubahan serta perkembangan yang terjadi di dalamnya.64

Menurut Chaerudin, Syaiful Ahmad Dinar dan Syarif Fadillah, struktur hukum meliputi : (i) struktur institusi penegakan hukum (kepolisian, kejaksaan dan pengadilan) termasuk aparat- aparatnya (polisi, jaksa dan hakim) dan (ii) hirarki lembaga peradilan yang bermuara pada Mahkamah Agung. Dikaitkan dengan program pembangunan hukum dewasa ini, kedua unsur di atas merupakan bagian dari reformasi di bidang hukum, yaitu enforcement apparatus reform dan judicial reform.65

Sedangkan yang dimaksud substansi hukum, Chaerudin, Syaiful Ahmad Dinar dan Syarif Fadillah yang juga menyunting pendapat L.M. Friedman menyatakan bahwa substansi hukum

64 Ibid, hlm.34.

65 Chaerudin, Syaiful Ahmad Dinar, Syarif Fadillah, 2007, Stategi Pencegahan & Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, PT. Refika Aditama, Bandung, hlm.62.

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan formulasi peringanan pidana bagi saksi pelaku yang bekerjasama (Justice Collaborator) dalam mengungkap tindak pidana korupsi di masa mendatang dapat

Kedudukan seoarang Justice Colllaborator dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi adalah sebagai pelaku yang dijadikan sebagai saksi yang mau bekerjasama dengan

Maka dengan model kejahatan besar seperti mafia dll, tentu tidaklah mudah untuk membongkar dalang dibalik perbuatan korupsi tersebut, guna Justice Collaborator inilah yang

Kebijakan formulasi peringanan pidana bagi saksi pelaku yang bekerjasama (Justice Collaborator) dalam mengungkap tindak pidana korupsi di masa mendatang dapat

seorang yang akan menjadi justice collaborator harus mengakui kejahatan yang dilakukannya, tindak pidana tertentu yang bersifat serius dan tindak pidana lainnya

Dalam penelitian yang berjudul Analisis Yuridis Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Terdakwa Sebagai Justice Collaborator dalam Pengungkapan Kasus Tindak Pidana

Dalam penegakan tindak pidana korupsi melahirkan ide-ide baru yang dikenal dengan istilah Justice Collaborator yang merupakan salah satu bentuk upaya luar biasa yang dapat

Kedudukan Hukum Tentang Pemberian Remisi Terhadap Juctice Collaborator Dalam Perkara Pidana Korupsi Narapidana adalah Terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga