A. Latar Belakang
Semenjak dilahirkan di dunia, maka manusia telah mempunyai hasrat untuk hidup secara teratur. Hasrat untuk hidup secara teratur tersebut dipunyainya sejak lahir dan selalu berkembang di dalam pergaulan hidupnya. Namun, apa yang dianggap teratur oleh seseorang, belum tentu dianggap teratur juga oleh pihak-pihak lainnya. Oleh karena itu, maka manusia sebagai makhluk yang senantiasa hidup bersama dengan sesamanya, memerlukan perangkat patokan, agar tidak terjadi pertentangan kepentingan sebagai akibat dari pendapat yang berbeda-beda mengenai keteraturan tersebut. Patokan-patokan tersebut, tidak lain merupakan pedoman untuk berperilaku secara pantas.1
Patokan-patokan untuk berperilaku secara pantas tersebut, dikenal dengan sebutan norma atau kaidah. Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat beberapa norma yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan juga norma hukum. Norma hukum bertujuan agar tecapai kedamaian di dalam kehidupan bersama.
2
Keadilan adalah kebajikan utama dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran. Suatu teori, betapapun elegan dan ekonomisnya, harus ditolak atau direvisi jika ia tidak benar; demikian juga hukum
1Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers,
Jakarta, 2014. Hal. 1
2
dan institusi, tidak peduli betapapun efisien dan rapinya, harus direformasi atau dihapuskan jika tidak adil.
Dalam masyarakat yang adil, kebebasan warga negara dianggap mapan; hak-hak yang dijamin oleh keadilan tidak tunduk pada tawar-menawar politik atau kalkulasi kepentingan sosial. Satu-satunya hal yang mengijinkan kita untuk menerima teori yang salah adalah karena tidak adanya teori yang lebih baik; secara analogis, ketidakadilan bisa dibiarkan hanya ketika ia butuh menghindari ketidakadilan yang lebih besar. Sebagai kebajikan utama umat manusia, kebenaran dan keadilan tidak bisa diganggu gugat.3
R. W. M. Dias di dalam bukunya “Jurisprudence” berpandangan bahwa secara umum keadilan itu, didasarkan pada pengertian equality (persamaan). Di bidang perlakuan terhadap hukum harus diberikan perlakuan yang sama bagi setiap orang. Dalam kebijakan publik tidak dibenarkan adanya diskriminasi berdasarkan gender, status sosial, atau keyakinan agama. 4
Indonesia adalah negara hukum hal ini secara jelas dicantumkan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Indonesia sebagai negara hukum berpikir secara hukum bagaimana keadilan dan ketertiban dapat terwujud, yaitu dengan pengakuan dan pengukuhan hak asasi manusia.5
3John Rawls, Teori Keadilan Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, Hal. 3-4
4
R. W. M. Dias, Jurisprudence, (dalam) Taufiqurrohman Syahuri, Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum, Kencana, Jakarta, 2011, Hal.97
5Masyhur Effendi, Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, Ghalia
mengenai kedudukan dan perlindungan yang sama bagi semua orang dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Beberapa diantaranya yaitu:
Pasal 27 ayat (1) menyatakan:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”
Pasal 28 G ayat (1) menyatakan:
“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.”
Pasal 28 I ayat (1) menyatakan:
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”
bahwa “corruption is way of live in Indonesia”, yang berarti korupsi telah menjadi pandangan dan jalan kehidupan bangsa Indonesia6
Hal yang memperparah perilaku dan tindakan korupsi semakin menggurita adalah acuh tak acuhnya lingkungan terhadap praktik tersebut. Orang-orang yang mengetahui praktik-praktik korupsi yang terjadi disekelilingnya seringkali membiarkannya. Pembiaran atau kurang responnya ketika melihat perilaku dan tindakan korupsi bisa jadi disebabkan karena hal itu tidak terkait dengan kepentingannya. Bisa jadi dikarenakan dia juga mendapatkan “keuntungan” dari praktik korupsi yang ada pada lingkungan kerjanya, atau ada belenggu yang kuat sehingga mereka melakukan gerakan silent terhadap praktik haram tersebut.7
Tindak pidana korupsi adalah salah satu jenis kejahatan extra ordinary
crime, yaitu merupakan tindak pidana yang termasuk dalam kategori kejahatan
luar biasa dikarenakan adanya implikasi buruk multidimensi kerugian ekonomi dan keuangan negara. 8 Kategori extraordinary crime (kejahatan luar biasa) bagi tindak pidana korupsi jelas membutuhkan extraordinary measures / extraordinary
enforcement (penanganan yang luar biasa).9
6Elwi Danil, Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya, Rajawali Pers,
Jakarta, 2014, Hal. 64
7Kata Pengantar dari Redaksi, “Penerapan Whistleblower dan Justice Collaborator dalam
Prespektif Pengawasan” Majalah Fokus Pengawasan, edisi 38 Triwulan II, 2013, Hal. 4
8
Lilik Mulyadi, Perlindungan Hukum Whistleblower & Justice Collaborator Dalam Upaya Penanggulangan Organized Crime, PT Alumni, Bandung, 2015, Hal. 37
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bukanlah suatu hal yang mudah. Dari segi represif, kesukaran memberantas korupsi terletak pada kesulitan dalam hal membuktikan kejahatan korupsi disidang pengadilan.10
Upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap organized crime yang dikerjakan oleh pemerintah tentu tidak sedikit. Upaya-upaya yang telah dikerjakan yaitu mulai dari penguatan kompetensi aparat penegak hukum, pendirian lembaga negara baru bersifat khusus, hingga rekonstruksi sistem hukum pidana. Selain melakukan upaya penegakan hukum secara institusional dalam rangka optimalisasi pembaruan sistem pencegahan dan penanggulangan organized crime, sangat penting juga diatur mengenai peran serta masyarakat. Dalam upaya menumbuhkembangkan partisipasi publik guna mengungkap tindak pidana terorganisir, harus diciptakan iklim kondusif antara lain dengan cara memberikan perlindungan hukum serta perlakuan khusus kepada setiap orang yang mengetahui, melaporkan dan/atau menemukan suatu hal yang dapat membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap dan menangani organized crime tersebut.
11
Upaya Pemerintah untuk memberantas korupsi dengan cara menumbuhkembangkan partisipasi publik salah satunya yang masih baru dikenal adalah menggunakan peran Justice Collaborator. Justice Collaborator atau yang disebut juga saksi pelaku yang bekerjasama dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban adalah tersangka, terdakwa, atau
10Ibid, Hal. 12.
terpidana yang bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana dalam kasus yang sama.12
Justice Collaborator merupakan langkah baru yang dimunculkan untuk
memudahkan mengungkapkan perilaku dan tindakan korupsi. Hal ini dikarenakan perkembangan modus perilaku korupsi semakin canggih dan bervariatif. Untuk itu perlu didorong upaya yang lebih mengena dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Dengan peran dari Justice Collaborator diharapkan akan membantu pihak penegak hukum dalam mengungkap praktik dan modus korupsi dari orang-orang terdekat pelaku tersebut. Sehingga informasi, data, modus serta praktik korupsi dapat diungkapkan.13
Dilakukannya perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 menjadi Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban tentu masih memiliki beberapa kekurangan, salah satunya mengenai pemberian reward bagi seorang Justice Collaborator , pemerintah belum memberikan stimulus dan
iming-iming yang “besar” bagi orang-orang yang rela menjadi pahlawan
pemberantasan korupsi dengan menjadi Justice Collaborator. Perang melawan korupsi sudah seharusnya ditabuh oleh semua masyarakat Indonesia bukan hanya oleh penegak hukum. Sehingga peran serta masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dapat terwujud. Memang belum ada peraturan yang
12Pasal 1 angka 2 Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
13
memadai terkait dengan Justice Collaborator. Oleh karena itu perlu didorong peraturan yang mewadahi hal tersebut sehingga akan memaksimalkan peran
Justice Collaborator sebagai langkah preventif dan represif. Langkah preventif
dimaksudkan bahwa orang punya niat korupsi akan takut karena apabila lingkungannya mengetahui akan dilaporkan kepada penegak hukum. Sedangkan langkah represif diartikan apabila orang sudah terjerat hukum terkait dengan perbuatan pidana korupsi “harus” mengungkapkan bagaimana perbuatan tersebut terjadi dan siapa saja yang terlibat.14
Peran sebagai Justice Collaborator tentu bukanlah suatu keputusan yang mudah untuk diambil oleh seorang pelaku tindak pidana. Suatu pengungkapan atau kesaksian kebenaran dalam suatu scandal crime ataupun Serious Crime oleh
Justice Collaborator jelas merupakan ancaman nyata bagi pelaku kejahatan.
Pelaku kejahatan akan menggunakan berbagai cara untuk membungkam dan melakukan aksi pembalasan sehingga kebijakan perlindungan seharusnya bersifat
prevensial (mencegah sebelum terjadi). Kehadiran Justice Collaborator memang
sulit dibantah dapat menjadi alat bantu, sekalipun seorang Justice Collaborator berani mengambil resiko yang sangat berbahaya bagi keselamatan fisik maupun psikis dirinya, dan keluarganya, resiko terhadap pekerjaan dan masa depannya.15
Ancaman yang ditujukan terhadap diri seorang Justice Collaborator maupun keluarganya merupakan suatu konsekuensi logis yang akan diterima oleh seorang Justice Collaborator dari rekan sekerjanya dalam suatu tindak pidana.
14Ibid
15Firman Wijaya, Whistle Blower dan Justice Collaborator dalam Perspektif Hukum,
Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya perlindungan yang dijamin kepastiannya oleh Pemerintah dan juga peraturan perundang-undangan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk baik kepada diri seorang Justice Collaborator maupun keluarganya.
Negara Indonesia sudah mengatur mengenai pemberian perlindungan kepada seorang tersangka, terdakwa, ataupun terpidana dari suatu tindak pidana. Hal ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya SEMA No. 4 Tahun 2011. Menyusul setelah itu dilakukannya perubahan terhadap Undang-Undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan saksi dan korban menjadi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014.
Perubahan peraturan perundang-undangan mengenai Perlindungan Saksi dan Korban tentu bukan tanpa sebab. Dalam konsideran Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban disebutkan bahwa untuk meningkatkan upaya pengungkapan secara menyeluruh suatu tindak pidana, khususnya tindak pidana transnasional yang terorganisasi, perlu juga diberikan perlindungan terhadap saksi pelaku, pelapor dan ahli. Dimana dalam peraturan yang lama belum ada diatur secara khsusus mengenai perlindungan terhadap saksi pelaku.
Perlindungan pada semua tahap proses peradilan pidana. Ketentuan mengenai subjek hukum yang dilindungi dalam Undang-Undang ini diperluas selaras dengan perkembangan hukum di masyarakat, dimana selain Saksi dan Korban, ada pihak lain yang juga memiliki kontribusi besar untuk mengungkap tindak pidana tertentu, yaitu Saksi Pelaku (Justice Collaborator), Pelapor
(Whistle-Blower), dan ahli, termasuk pula orang yang dapat memberikan keterangan yang
berhubungan dengan suatu perkara pidana sehingga terhadap mereka juga perlu diberikan perlindungan. Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban kelemahan yang sebelumnya terdapat dalam peraturan yang lama telah diperbaiki salah satunya yaitu perluasan subjek perlindungan.
Justice Collaborator dalam peranannya sebagai pengungkap fakta dalam
mengungkap suatu tindak pidana tentu perlu dilindungi dan harus benar-benar menjamin keamanan dan kenyamanan mereka dan hal itu harus dituangkan secara jelas didalam undang-undang, sehingga mereka tidak takut dan berani untuk mengungkap fakta. Melihat betapa urgent hal tersebut sehingga penulis merasa perlu dibahas untuk melihat bagaimana penerapan jaminan yang diberikan oleh undang-undang tersebut kepada para saksi pelaku pengungkap fakta dan sejauh mana undang-undang memberikan perlindungan kepada Justice Collaborator tersebut.
B. Perumusan Masalah
materi yang ada dan lebih terarah maka penulis membatasi lingkup pembahasan dalam skripsi ini dengan tujuan agar lebih mudah dipahami dan dimengerti.
Oleh karena itu, penulis membatasi ruang lingkup kajian permasalahan yang ada sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan Justice Collaborator dalam penyelesaian tindak pidana korupsi di Indonesia?
2. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap terdakwa tindak pidana korupsi dalam kedudukannya sebagai Justice Collaborator?
3. Bagaimanakah penerapan Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi pada putusan Nomor:161/Pid.Sus/TPK/2015/PN.Jkt.Pst? C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah yang penulis telah kemukakan di atas, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan jawaban dan arah atas permasalahan yang ada, yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum di Indonesia mengatur tentang peran Justice Collaborator untuk mengungkap kasus korupsi dalam penyelesaian tindak pidana korupsi.
2. Untuk mengetahui perlindungan hukum yang diberikan oleh negara terhadap terdakwa tindak pidana korupsi yang berkedudukan sebagai Justice
Collaborator.
Selain tujuan tersebut, penulis dalam menulis Skripsi ini mengharapkan diperoleh manfaat dan kegunaan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teoritis, hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah informasi, kontribusi pemikiran, dan ilmu pengetahuan dibidang ilmu hukum pidana, dan bisa menjadi landasan bagi ilmu pengetahuan pada umumnya. Secara khusus, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam kajian mengenai bagaimana mengatasi masalah tindak pidana korupsi dan penyelesaiannnya melalui peran Justice Collaborator. b. Hasil penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat menjadi literatur untuk
penulisan selanjutnya, khususnya mengenai bagaimana mengatasi masalah tindak pidana korupsi dan penyelesaiannnya melalui peran Justice
Collaborator.
2. Manfaat Praktis
D. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi dengan judul “Penerapan Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi (Studi Putusan Nomor: 161/Pid.Sus/TPK/2015/PN.Jkt.Pst) merupakan suatu judul yang sebelumnya belum pernah ditulis dalam bentuk skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, hal ini dapat dibuktikan dimana judul skripsi ini telah diperiksa sebelumnya oleh Perpustakaan Universitas Cabang FH USU / Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum FH USU, pada tanggal 22 Juni 2016. Kalaupun ada beberapa redaksi yang mirip dengan beberapa skripsi sebelumnya atau karya tulis lainnya, hal tersebut tidak lain untuk menunjang perbendaharaan dari materi skripsi ini.
Dalam proses pembuatan skripsi ini, penulis memulainya dengan mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan korupsi, kemudian bahan-bahan yang berkaitan dengan Justice Collaborator. Dan setelah itu penulis merangkai sendiri menjadi sebuah karya ilmiah yang disebut dengan skripsi. Oleh karena itu, penulis berkeyakinan bahwa skripsi ini murni dibuat sendiri oleh penulis dan dapat dipertanggungjawabkan.
E. Tinjauan Kepustakaan
Secara universal, masyarakat dunia mengakui bahwa setiap manusia mempunyai sejumlah hak yang menjadi miliknya sejak keberadaannya sebagai manusia diakui, sekalipun manusia itu belum dilahirkan ke dunia ini.16
Di dalam suatu masyarakat, bangsa dan negara, hak dan kewajiban merupakan sesuatu yang melekat dan menyatu dalam diri hukum. Artinya, hak dan kewajiban itu diatur oleh hukum. Hal ini dimaksudkan agar hak dan kewajiban manusia sebagai individu di dalam suatu masyarakat, bangsa dan negara dapat terlaksana dengan baik dan tertib, sehingga hak dan kewajiban individu sering diartikan sebagai hak dan kewajiban masyarakat. 17
Indonesia sebagai negara hukum menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Hal ini dapat dilihat dari pengaturan dalam konstitusinya yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Walaupun dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak ada secara khusus disebutkan kata Hak Asasi Manusia dalam kalimat: “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa....”, tetapi dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 sudah diatur konsep perlindungan hukum terhadap hak-hak setiap warga negaranya.18
16
O. C. Kaligis, Perlindungan Hukum Atas Hak Asasi Tersangka, Terdakwa dan Terpidana dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, PT Alumni, Bandung 2006, Hal. 49
17Ibid, Hal. 113 18Ibid, Hal. 18-19
Beberapa diantaranya yaitu: Pasal 27 ayat (1) menyatakan:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”
“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.”
Pasal 28 G ayat (2) menyatakan:
“Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia...”
Pasal 28 I ayat (1) menyatakan:
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”
Pasal 28 I ayat (2):
“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”
Pasal 28 J menyatakan:
“Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”
Pasal 28 J ayat (2) menyatakan:
maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan ntuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrasi.”
Setiap ketentuan yang telah diatur dan termuat dalam setiap pasal dari UUD tersebut telah memberikan jaminan kepada setiap warga negara yang kesemuanya itu bermuara pada prinsip equality before the law. Sebagai latar belakang filosofis dan pengaturan persamaan kedudukan di hadapan hukum, dinyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dilengkapi dengan hak-haknya. Oleh karena itu, hak-hak tersebut melekat pada jati diri manusia sebagai hak yang sangat mendasar atau asasi. Hak asasi yang sangat funndamental adalah manusia dilahirkan merdeka dan memiliki hak-hak yang sama.19
Perlindungan hukum merupakan sesuatu yang diberikan dan dijamin oleh negara untuk menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukan hak-hak asasi manusia berdasarkan undang-undang dan peraturan hukum.20
a. Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Republik Indonesia Nomor M.HH-11.HM.03.02.th.2011, Nomor PER-045/A/JA/12/2011, Nomor 1 Tahun
Beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia memberikan definisi mengenai perlindungan, yaitu:
19Ibid, Hal. 21
2011, Nomor KEPB-02/01-55/12/2011, Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlindungan bagi Pelapor, Saksi Pelapor, dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama
Pasal 1 angka 5 menyebutkan bahwa:
“Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak, dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman dan penghargaan kepada Pelapor, Saksi Pelapor dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.”
b. Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Pasal 1 angka 8 menyebutkan:
“Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.”
c. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat.
Pasal 1 angka 1, menyebutkan:
tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
d. Peraturan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelayanan Permohonan Perlindungan pada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Pasal 1 angka 4 menyebutkan:
Perlindungan adalah suatu bentuk pelayanan dan tindakan untuk pemenuhan hak dan pemberian bantuan serta memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Dari beberapa pengertian mengenai perlindungan yang telah disebutkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perlindungan merupakan suatu pelayanan pemenuhan hak yang diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman baik secara fisik maupun mental kepada saksi maupun korban dari tindakan berupa ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun, yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
2. Pengertian dan Ruang Lingkup Tindak Pidana Korupsi
Menurut Fockema Andreae kata korupsi berasal dari bahasa Latin
corruptio atau corruptus (Webster Student Dictionary: 1960). Selanjutnya
Inggris, yaitu Corruption, corrupt; Prancis, yaitu corruption; dan Belanda, yaitu
corruptie (korruptie). Dari bahasa Belanda inilah kata itu turun ke bahasa
Indonesia, yaitu “korupsi” yang memiliki arti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.21
Dalam Black’s Law Dictionary, disebutkan bahwa: Corruption an act is
done with an intention to give someone advantage inconsistent with official duty
and the rights of others. The act of an official or fiduciary person who unlawfully
and wrongfully uses his station or character to procure some benefit for himself
or for another person, contrary to duty and the rights of others. (Korupsi
merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan beberapa keuntungan yang bertentangan dengan tugas dan hak orang lain. Perbuatan seorang pejabat atau seorang pemegang kepercayaan yang secara bertentangan dengan hukum, secara keliru menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, bertentangan dengan tugas dan hak orang lain)22
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) korupsi bermakna penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk kepentingan pribadi atau orang lain.23
Pendapat dari beberapa pakar mengenai korupsi juga dapat dijelaskan sebagai berikut seperti Juniadi Suwartojo (1997) yang dikutip Yogi Suwarno
21
Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, Hal. 4-5
menyatakan bahwa korupsi ialah tingkah laku atau tindakan seseorang atau lebih yang melanggar norma-norma yang berlaku dengan menggunakan dan/atau menyalahgunakan kekuasaan atau kesempatan melalui proses pengadaan, penetapan pungutan penerimaan atau pemberian fasilitas atau jasa lainnya yang dilakukan pada kegiatan penerimaan dan/atau pengeluaran uang atau kekayaan, penyimpanan uang atau kekayaan serta dalam perizinan dan/atau jasa lainnya dengan tujuan keuntungan pribadi atau golongannya sehingga langsung atau tidak langsung merugikan kepentingan dan/atau keuangan negara/masyarakat. Sementara Brooks memberikan pengertian korupsi yaitu: “Dengan sengaja melakukan kesalahan atau melalaikan tugas yang diketahui sebagai kewajiban, atau tanpa hak menggunakan kekuasaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang sedikit banyak bersifat pribadi.” Selanjutnya Alfiler menyatakan bahwa korupsi adalah: “Purposive behavior which may be deviation from an expected
norm but is undertake nevertheless with a view to attain materials or other
rewards.”24
Korupsi itu merusak, dan alasannya sederhana saja, yakni, karena keputusan-keputusan penting yang diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya bagi publik. Jika tidak dapat dikendalikan, korupsi dapat mengancam lembaga-lembaga demokrasi dan ekonomi pasar. Dalam lingkungan yang korup, sumber daya akan disalurkan ke bidang-bidang tidak produktif -kelompok penindas- karena kelompok elite
24Yogi Suwarno, Penelitian: Strategi Pemberantasan Korupsi, Dosen Tetap STIA LAN
akan selalu berusaha melindungi diri mereka, kedudukan dan harta kekayaan mereka.25
Untuk mengetahui adanya tindak pidana korupsi dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:26
a. Unsur/ elemen yang terdapat dalam rumusan pasal-pasal dari Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Unsur-unsur tersebut meliputi: 1) Perbuatan melawan hukum
yakni tindakan atau perbuatan yang melanggar atau bertentangan dengan peraturan perundangan, peraturan pelaksana undang-undang, melanggar keputusan presiden, peraturan menteri, atau peraturan direksi bagi suatu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) 2) Menyalahgunakan wewenang, kedudukan, dan sarana
Dalam implementasinya di lapangan, sering terjadi berbagai penyimpangan antara lain:
a) Penyimpangan yang dimulai dari tingkat perencanaan suatu proyek yang disebut korupsi berencana, yakni kedekatan atau adanya hubungan khusus antara rekanan pemborong dengan pejabat-pejabat di daerah dan pejabat-pejabat di kementrian maupun di lembaga DPR di tingkat daerah dan pusat. Konspirasi ini meliputi harga yang di mark up maupun proses disetujuinya proyek itu oleh pihak pengambil keputusan di daerah dan pusat.
25Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi: Elemen Sistem Integritas Nasional,
b) Menyimpan uang negara pada rekening pribadi. Perbuatan ini dilakukan dengan memindahkan uang negar di bawah tanggung jawabnyadari rekening instansi yang secara struktural di bawah kendali pejabat tersebut ke rekening pribadinya, sehingga bunganya dapat dengan leluasa dipakainya.
3) Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi
Konstruksi yuridis dalam undang-undang pemberantasan korupsi yang dianut di Indonesia sangat meluaskan jangkauannya. Walalupun pelaku tindak pidana tidak mendapat sesuatu keuntungan sama sekali tetapi harus mempertanggungjawabkan kerugian keuangan negara yang timbul karenanya. Beberapa negara selalu mengaitkan dengan adanya suap yang diterima oleh si pelaku.
4) Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
Besarnya jumlah kerugian negara harus ditentukan oleh hasil audit yang dilakukan oleh instansi yang berwenang dalam hal ini adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b. Modus operandi korupsi
Dari berbagai kasus yang ditandatangani kejaksaan dan instansi penegak hukum lainnya, ditemukan bentuk-bentuk cara melakukan korupsi menggunakan modus:
pembangunan proyek fisik, sepeeti gedung, lahan, jalan, reboisasi, pengerukan sungai, dan berbagai pekerjaan yang memerlukan adanya berita acara pada saat pencairan dana proyek.
2) Pemalsuan kuitansi, biasanya terjadi pada tanda terima sejumlah uang yang diisikan berbeda dengan besar jumlah fisik dana yang sebenarnya.
3) Menggelapkan uang/ barang milik negara atau kekayaan negara. 4) Penyogokan atau penyuapan biasanya terjadi antara seseorang yang
memberikan hadiah kepada seorang pegawai negeri dengan maksud agar pegawai negeri tersebut berbuat atau menalpakan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya.
5) Gratifikasi, setiap pemberian dalam arti luas yang nilainya Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan Cuma-Cuma, fasilitas lainnya baik yang diterima di dalam negeri maupun luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik)27
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk sebagai berikut:28 a. Tindak Pidana Korupsi yang dikaitkan dengan Merugikan Keuangan Negara
atau Perekonomian negara
1) Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yaitu melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
2) Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunkan kewenangan, kesempatan atau saranna yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
b. Tindak Pidana Korupsi Terkait Suap-menyuap
1) Pasal 5 Ayat (1) huruf a: menyuap pegawai negeri dengan memberikan janji-janji karena jabatannya;
2) Pasal 5 Ayat (1) huruf b: menyuap pegawai negeri dengan memberikan hadiah karena jabatannya;
3) Pasal 5 Ayat (2): pegawai negeri yang menerima hadiah atau janji;
4) Pasal 6 Ayat (1) huruf a: memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada Hakim;
5) Pasal 6 Ayat (1) huruf b: memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada Advokat;
28
6) Pasal 6 Ayat (2): bagi Hakim dan Advokat yang menerima hadiah atau janji.
c. Tindak Pidana Korupsi yang Beraitan dengan Pembangunan, Leveransir, dan Rekanan
1) Pasal 7 Ayat (1) huruf a: pemborong, ahli bangunan yang melakukan perbuatan curang;
2) Pasal 7 Ayat (1) huruf b: setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bangunan yang membiarkan perbuatab curang;
3) Pasal 7 Ayat (1) huruf c: seorang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan TNI dan/atau Kepolisian RI melakukan perbuatan curang;
4) Pasal 7 Ayat (1) huruf d: setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan barang keperluan TNI dan/atau Kepolisian RI membiarkan perbuatan curang;
5) Pasal 7 Ayat (2): orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan TNI dan/atau Kepolisian RI membiarkan perbuatan curang.
d. Tindak Pidana Korupsi Penggelapan
2) Pasal 9: pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu memalsukan buku-buku atau daftar-daftar administrasi;
3) Pasal 10 huruf a: pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang bukti;
4) Pasal 10 huruf b: pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang bukti;
5) Pasal 10 huruf c: pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang bukti;
6) Pasal 11: pegawai negeri tau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan jabatannya;
7) Pasal 12 huruf a: pegawai negeri tau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji yang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan jabatannya;
9) Pasal 12 huruf c: hakim yang menerima hadiah atau janji; 10) Pasal 12 huruf d: advokat menerima hadiah atau janji. e. Tindak Pidana Korupsi Kerakusan (Knevelarij)
1) Pasal 12 huruf e: pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri menyalahgunakan kewenangannya memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri;
2) Pasal 12 huruf f: pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima, meminta, atau memotong pembayaran ;
3) Pasal 12 huruf g: pegawai negeri atau penyelenggara negara meminta, menerima pekerjaan, atau penyerahan barang;
4) Pasal 12 huruf h: pegawai negeri atau penyelenggara negara menggunakan tanah negara yang diatasnya terdapat hak pakai, telah merugikan orang yang berkah;
5) Pasal 12 huruf i: pegawai negeri atau penyelenggara negara turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan.
f. Tindak Pidana Korupsi tentang Gratifikasi29
1) Pasal 12B: gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara;
29
2) Pasal 12C: penerima wajib melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK.
g. Tindak Pidana Korupsi Pemberian Hadiah
Pasal 13: setiap orang yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri.
3. Pengertian Justice Collaborator
Istilah Justice Collaborator merupakan istilah yang belum lama dikenal dalam hukum Indonesia. Lahirnya Justice Collaborator ditenggarai karena sulitnya mengungkapkan suatu tindak kejahatan karena sulitnya mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan memadai. Bagaimana mungkin aparat penegak hukum bisa mengumpulkan bukti-bukti jika orang-orang yang terlibat atau yang mengetahui tindak kejahatan tersebut tidak mau dan tidak berani memberikan informasi karena ancaman balasan terhadap dirinya dan juga keluarganya.30
Karena latar belakang inilah peran Justice Collaborator lahir, dan perannya begitu penting. Keberadaan Justice Collaborator dianggap sangat penting karena sulit dan/atau besarnya sumberdaya yang harus dikeluarkan untuk mengungkap tindak pidana berat/serius, seperti korupsi atau mafia hukum tanpa adanya informasi dari “orang dalam”. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain: (1) tindak pidana semacam ini kerap dilakukan secara terorganisir; (2) para pelaku sama-sama diuntungkan dengan adanya tindak pidana sehingga sulit mengharapkan adanya laporan dari pihak yang dirugikan; (3) pelaku tindak pidana tidak jarang melibatkan pihak yang memiliki kekuatan (kekuasaan/jabatan,
finansial, dsb) sehingga orang yang mengetahui tindak pidana tersebut takut untuk melaporkan ke aparat penegak hukum; (4) pelaku mengetahui cara dan semakin canggih dalam menyembunyikan tindak pidana (transaksi dilakukan tunai, melakukan money laundring, melalui perantara, menghindari percakapan agar tidak terekam, dan sebagainya) sehingga tidak mudah untuk menemukan bukti-bukti tindak pidana tersebut.31
a. Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Republik Indonesia Nomor M.HH-11.HM.03.02.th.2011, Nomor PER-045/A/JA/12/2011, Nomor 1 Tahun 2011, Nomor KEPB-02/01-55/12/2011, Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlindungan bagi Pelapor, Saksi Pelapor, dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Pasal 1 angka 3):
Berikut beberapa defini mengenai Justice Collaborator, yaitu:
“Saksi Pelaku yang Bekerjasama adalah saksi yang juga sebagai pelaku suatu tindak pidana yang bersedia membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana atau akan terjadinya suatu tindak pidana untuk mengembalikan aset-aset atau hasil suatu tindak pidana kepada negara
31Buku Perlindungan Terhadap Pelaku yang Bekerjasama, diakses melalui
dengan memberikan informasi kepada aparat penegak hukum serta memberikan kesaksian di dalam proses peradilan.”
b. Council of Europe Committee of Minister
Collaborator of justice adalah seseorang yang juga berperan sebagai
pelaku tindak pidana, atau secara meyakinkan adalah merupakan bagian dari tindak pidana yang dilakukan secara bersama-sama atau kejahatan terorganisir dalam segala bentuknya, atau merupakan bagian dari kejahatan terorganisir, namun yang bersangkutan bersedia untuk bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk memberikan kesaksian mengenai suatu tindak pidana yang dilakukan bersama-sama atau terorganisir, atau mengenai berbagai bentuk tindak pidana yang terkait dengan kejahatan terorganisir maupun kejahatan serius lainnya.32
c. Reccomendation Rec(2005)9 of the Commitee of Ministers to member states on the protection of witnesses and collaborators of justice (Adopted by the Committee of Ministers on April, 20th , 2005 at the 924th meeting of the Minister`s Deputies
“Collaborator of Justice” means any person who faces criminal charges,
or has been convicted of taking part in criminal association or other criminal organisation of any kind, or in offences of organised crime, but who agrees to coorporate with criminal justice authorities, particularly by giving testimon about a criminal association or organisation, or about any
32Abdul Haris Semendawa, Penanganan dan Perlindungan Justice Collaborator dalam
offence connected with organised crime or other serious crimes33
d. Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
(Terjemahan bebas: Justice Collaborator adalah setiap orang yang menghadapi tuntutan criminal atau sudah ditetapkan untuk ambil bagian dalam asosiasi tindak pidana atau organisasi tindak pidana lainnya atau khususnya korupsi, tetapi dia setuju untuk bekerjasama dengan pejabat-pejabat peradilan pidana dengan memberikan kesaksian mengenai asosiasi atau organisasi tindak pidana atau tentang segala tindak pidana yang berhubungan dengan tindak pidana korupsi dan kejahatan-kejahatan serius lainnya).
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban menyebutkan: “Saksi Pelaku adalah tersangka, terdakwa, atau terpidana yang bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana dalam kasus yang sama.”
e. Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum
Justice Collaborator sebagai pelaku yang bekerja sama yaitu (baik dalam
status saksi, pelapor, atau informan) yang memberikan bantuan kepada penegak hukum dalam bentuk, misalnya pemberian informasi penting, bukti-bukti yang kuat, atau keterangan/kesaksian di bawah sumpah, yang dapat mengungkapkan suatu tindak pidana dimana orang tersebut terlibat di
33Abdul Haris Semendawai, Eksistensi Justice Collaborator dalam Perkara Korupsi
dalam tindak pidana yang dilaporkannya tersebut (atau bahkan suatu tindak pidana lainnya)34
F. Metode Penelitian
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Justice Collaborator atau yang disebut juga saksi pelaku yang bekerjasama adalah seorang tersangka, terdakwa, atau terpidana yang bukan pelaku utama, mau bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk memberikan bantuan melalui kesaksiannya untuk membongkar suatu tindak pidana yang ia terlibat di dalamnya.
1. Penelitian
Penelitian Skripsi ini merupakan penelitian hukum normatif (Juridis
normative) yaitu penelitian yang menekankan pada penggunaan norma-norma
hukum secara tertulis. Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif mengenai perlindungan terhadap terdakwa tindak pidana korupsi dalam kedudukannya sebagai Justice
Collaborator dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia
yang ditinjau dari perspektif Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Peraturan bersama tentang Perlindungan bagi Pelapor, Saksi Pelapor, dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama, SEMA Nomor 4 Tahun 2011 dan beberapa peraturan lainnya. Hal ini ditempuh dengan melakukan penelitian kepustakaan.
34
Oleh karena tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan. Pendekatan Perundang-undangan dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.35
2. Jenis Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini maka pendekatan tersebut melakukan pengkajian peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penerapan status Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi dalam kedudukannya sebagai Justice Collaborator dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.
Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder yang diperoleh dari: a. Bahan Hukum Primer:
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunya otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.36
Bahan hukum primer dalam tulisan ini berupa dokumen peraturan perundang-undangan yang tertulis yang ada dalam ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan dalam kerangka hukum nasional Indonesia, yakni diatur dalam Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, United
Nations Convention Against Corruption (UNCAC), Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborator) di dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu, Putusan Pengadilan, Peraturan Bersama, dan sebagainya.
b. Bahan Hukum Sekunder:
Bahan hukum sekunder merupakan semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. 37
c. Bahan Hukum Tertier:
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang berkaitan erat dengan bahan hukum primer dan dapat digunakan untuk menganalisis dan memahami bahan hukum primer yang ada serta memberikan petunjuk kepada penulis di dalam memulai penulisan. Adapun bahan hukum sekunder yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini yaitu semua dokumen yang dapat menjadi sumber informasi dalam penulisan skripsi ini, yaitu buku-buku ilmu hukum, jurna-jurnal ilmu hukum, skripsi, tesis, laporan penelitian ilmu hukum, artikel ilmiah hukum, dan bahan seminar, lokakarya, dan juga sumber-sumber lain yakni internet dan situs-situs terpercaya yang memiliki relevansi dengan apa yang penulis bahas dalam penulisan skripsi ini.
Bahan hukum tertier meliputi semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan ketertangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus, artikel, ensiklopedi dan lain-lain.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan dikenal juga dengan istilah library
research (penelitian kepustakaan), yaitu dengan melakukan penelitian terhadap
berbagai literatur untuk memperoleh bahan teoritis ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar analisis terhadap substansi pembahasan dalam penulisan skripsi ini. Atau sering juga disebut sebagai telaah pustaka, yaitu sumber inspirasi bagi penulis untuk merumuskan permasalahan penelitiannya.
Adapun tujuan dari penelitian kepustakaan ini adalah untuk memperoleh data-data sekunder yang meliputi peraturan perindang-undangan, buku-buku, surat kabar, artikel para sarjana dan berita-berita yang penulis dapatkan dari internet yang terpercaya yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.
4. Analisis Data
penerapan Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia yang akan dibahas dalam skripsi ini.
G. Sistematika Penulisan
Dengan maksud memudahkan dalam menelaah penulisan skripsi dengan judul “Penerapan Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi (Studi Putusan Nomor:161/Pid.Sus/Tpk/2015/Pn.Jkt.Pst)”, maka penulis menguraikan terlebih dahulu sistematika yang merupakan gambaran isi dari skripsi ini sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan pustaka yang meliputi: Pengertian Perlindungan Hukum, Pengertian dan ruang lingkup Tindak Pidana Korupsi, Pengertian Justice Collaborator, metode penelitian, dan terakhir sistematika penulisan.
BAB II: PENGATURAN JUSTICE COLLABORATOR DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA Pada bab ini penulis memaparkan tentang sejarah lahirnya Justice
Collaborator, penulis juga akan membahas mengenai bagaimana
penulis akan memaparkan upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan oleh Pemerintah dan seluruh aparatur negara dalam rangka pemberantasan/penanggulangan tindak pidana korupsi di Indonesia. Dan yang terakhir, penulis akan memaparkan tentang bagaimana pengaturan mengenai Justice Collaborator dalam mengungkap kasus korupsi di Indonesia.
BAB III: PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERDAKWA
TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM KEDUDUKANNYA SEBAGAI JUSTICE COLLABORATOR
Mahkamah Agung Nomor 04 tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborator) di dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu
BAB IV: PENERAPAN JUSTICE COLLABORATOR TERHADAP
TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI PUTUSAN NOMOR: 161/PID.SUS/TPK/2015/PN.JKT.PST)
Dalam Bab ini akan dibahas mengenai analisa kasus dari putusan Nomor: 161/Pid.Sus/TPK/2015/PN.Jkt.Pst, yang dimulai dari pemaparan Kronologis Kasus, Dakwaan, Fakta Hukum, Tuntutan Pidana, dan Putusan Pengadilan. Lalu dari uraian tersebut akan dianalisis bagaimana bagaimana penerapan Justice Collaborator terhadap terdakwa tindak pidana korupsi yang terdapat dalam putusan tersebut.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN