MEMUNGKINKAN TERJADINYA HAL ITU DAN YANG LEBIH PENTING, TRADISI YANG BELUM MELAHIRKAN BUDAYA POLITIK YANG SEHAT.
C. K H ABDURRAHMAN WAHID, MILITER DAN DEMOKRATISAS
Kehadiran militer secara institusional serta personal di'kawasan'sipil telah banyak di persoalkan selama ini. Pertanyaan akan hal itu telah menjadi kecenderungan umum, dan lazimnya dipahami sebagai bagian dari satu persoalan besar, yakni demokratisasi. Bisa melihat berbagai manifestasi doktrin militerisme, antara lain sakralisasi negara yang mesti dibela sampai mati, serta penciptaan kondisi darurat yang membenarkan tindakan kekerasan. Etika militerisme bersifat meniadakan dialog, mematikan alternatif dan mengagungkan agresi. Secara
organisasional, militerisme pada umumnya muncul dalam pola pengorganisasian yang hierarkhis, sentralistik, dan dikendalikan oleh komando.
Perwujudan nilai-nilai militerisme seperti itu dalam perilaku ditandai oleh kecenderungan pada tindakan penyeragaman, kekerasan, disiplin buta, dan penerapan hukuman yang bersifat fisik serta menghina. Ujung- ujungnya, semua ini bisa bernuansa pada pemujaan simbol-simbol militer sebagai pengakuan atas supremasi militer. Jelaslah bahwa mileterisme merupakan jalinan yang amat rumit dari prinsip, etika, organisasi, hingga perilaku yang merambah ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Militerisme sangat berkaitan dengan format kenegaraan yang militeristik, disamping juga berkaitan dengan terjadinya militerisasi politik. Akan tetapi, 'Militerisme','militeristik' merujuk pada watak penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang didominasi oleh militer yang disertai oleh pola yang amat militer, sedangkan 'militerisasi' merujuk pada tampilnya lembaga dan atau individu militer menguasai lembaga-lembaga non –militer. Sementara itu, militerisme disini dimaknai sebagai ekspansi prinsip, cara berfikir, bersikap dan bertindak dalam logika militer diluar organisasi kemiliteran. Nilai-nilai militer itu sendiri bukan sesuatu yang mesti dimaknai buruk, dan dengan demikian persoalannya bukan terletak pada makna militer itu, melainkan pada penerapan nilai itu diluar ranah (bidang tata tertib/disiplin) semestinya.
Sejarah indonesia modern adalah sejarah yang penuh dengan aroma dan gejolak revolusi, yang didalamnya militer banyak memegang posisi penting. Sekalipun militer termasuk organ yang 'agak lambat' dipikirkan oleh
para founding fathers, namun selama tahun-tahun awal kemerdekaan justru kalangan inilah yang banyak berperan dan berinteraksi langsung dengan rakyat banyak. Kalangan militer sendiri dengan sangat manis menyebut peran mereka selama masa revolusi sebagai sumbangsih dari kaum 'pejuang prajurit dan prajurit pejuang'. Ketika penguasa sipil akhirnya menyerah pada tentara pendudukan Belanda pada tahun1948, kalangan militer justru memilih untuk bergerilya di hutan, menjaga eksistensi negara selama proses diplomasi internasional berjalan.
Memang fakta sejarah menunjukkan bahwa kekalahan Belanda di Indonesia tahun1949 lebih banyak ditentukan oleh strategi diplomasi Indonesia yang berjalan simultan dengan tekanan internasional terhadap Belanda. Namun rakyat
banyak tak melihat semua perjuangan ditingkat Internasional itu. Yang mereka lihat adalah para tentara yang berbaur bersama mereka di desa-desa, berjuang hingga akhirnya para pemimpin sipil dibebaskan dan kemerdekaan bangsa diakui. Selam masa dimana administrasi sipil mengalami kelumpuhan, praktis para tentaralah yang menjadi penjaga kelangsungan tata praja. Kesan manis dikalangan rakyat ini kemudian diimbuhi oleh centang perenangnya para politisi sipil ditahun 1950-an, yang menghasilkan situasi politik yang amat awam 'pemulihannya' baru bisa dilakukan oleh penguasa militer Orde Baru.142
Pengalaman panjang sejak Soeharto melihat intervensi militer dalam struktur politik secara membabi buta, telah menyulitkan gerak bandul mengarah pada supremasi sipil. Bahkan kerusakan kian terasa, seperti, 1) lahirnya rezim politik yang berwatak otoriter, 2) lemahnya kekuatan rakyat karena tidak tersedia ruang kontrol dan partisipasi, 3) hilangnya profesionalisme militer. Ketiga akibat itu mengalami kelembagaan secara permanen, dimana kenyataan rezimentasi militer dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi kian bergeser dari dominasi menjadi hegemoni. Tak pelak lagi jika militerisasi sebagai penyakit menahun ini akhirnya mentransformasikan diri dalam bentuk
militerisme, yakni sebagai karakter, kultur dan ideologi yang bekerja efektif dalam ranah politik Indonesia. Fakta mengenai dominasi militer atas birokrasi, kendali terhadap parpol dan parlemen, penguasaan pada Ormas, maraknya premanisme ekonomi, bisnis kekerasan serta membelukarnya institusi teritorial, bahkan sampai penguasaan pada arena pendidikan tidak bisa dielakkan sebagai fakta-fakta objek mengenai problem militerisasi dan militerisme itu. Munculnya tradisi kontemporer sebagai efek langsung militerisme adalah reproduksi konflik dan kekerasan horisontal, yang ditandai oleh menjamurnya milisi sipil bergerak dalam setiap sengketa di masyarakat.
Problemnya adalah, langkah-langkah membendung bertahan dan bercokolnya rezim "serdadu" selalu berbenturan dengan kelompok status quo yang masih eksis dalam struktur politik Indonesia. Jalan demiliterisasi pernah ditempuh pemerintahan Gus Dur melalui tindakan nyata dengan mengurangi jabatan-jabatan politik oleh militer. Mengurangi porsi menteri yang dimonopoli tentara, jabatan-jabatan eksekutif di daerah seperti Gubernur dan Bupati, serta institusi-institusi ekonomi strategis yang dikuasai militer, lalu diberikan kepada sipil. Demikian halnya kebijakan pemisahan militer dan kepolisian yang dilandasi oleh pembedaan antara peran pertahanan dan keamanan. Pemisahan kelembagaan keduanya secara tegas tentu penting dipahami sebagai bagian reformasi hubungan sipil militer di Indonesia dalam rezim demokratik. Semangatnya adalah, agar keduanya bisa profesional, serta mengurangi derajat kekacauan peran mereka, sebagaimana pengalaman masa lalu. Sayangnya langkah itu berhadapan dengan
bongkahan batu sandungan.143
Ketentuan yang memisahkan tugas pertahanan dan keamanan, pada awalnya, bahkan untuk sebagian sampai sekarang, telah menimbulkan persoalan kompetisi dan hubungan kelembagaan yang diwarnai oleh beban psikologis. Sulit di hindarkan munculnya kesan bahwa sejak keluarnya kedua Tap MPR itu telah terjadi persaingan yang kurang sehat antara TNI dan Polri. Sebagai contoh, beberapa masalah dapat di kemukakan disini.
Pertama, semua TNI dan Polri berada dibawah satu institusi yang bernama angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI) yang dipimpin oleh menhankam/pangab (Menteri pertahanan/panglima angkatan bersenjata) dan Polri berada pada posisi yang paling lemah diantara tiga angkatan lainnya yaitu Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Setelah keluarnya dua Tap MPR tersebut, kedudukan Polri menjadi sejajar dengan TNI dan seorang Kapolri berkedudukan sejajar dengan seorang panglima TNI dalam jabatan setingkat menteri.
Kedua, setelah keluarnya dua Tap MPR tersebut, Polri mandiri penuh, sebagai aparat negara setingkat departemen, dalam menentukan bidang kebijakan dan anggaran; sedangkan TNI, meskipun juga mandiri setingkat dengan departemen, kebijakan pertahanan dan anggarannya masih bergantung kepada departemen pertahanan. Panglima TNI hanya mempunyai kewenangan operasional dan komando kemiliteran. Diam-diam, hal ini menimbulkan kecemburuan dikalangan TNI karena Polri, yang semula berada di bawah angkatan-angkatan militer, sekarang bukan saja menjadi sejajar secara struktural tetapi juga menjadi lebih kuat kemandiriannya di banding dengan TNI. Pernah ada pemikiran agar masalah kebijakan dan anggaran untuk Polri ini di serahkan kepada salah satu menteri teknis yang lain, seperti menteri dalam negeri, menteri pertahanan, menteri kehakiman, atau kejaksaan agung. Namun, gagasan ini tidak terealisasikan, sampai akhirnya Polri berhasil menggolkan sebuah undang-undang tentang Polri yang menguatkan kemandirian dalam kelembagaan dan anggaran.
Ketiga, adanya tugas berhimpit antara pertahanan dan keamanan dalam apa yang disebut sebagai grey
areas (wilayah abu-abu) sehingga tidak jelas siapa yang berwenang menanganinya. Dalam masalah ini, ada kasus- kasus yang terjadi di dalam negeri (dengan sifat ancaman keamanan) tetapi bercampur dengan unsur campur tangan luar negeri (denga sifat ancaman pertahanan). Dalam keadaan seperti ini, ada resiko bahwa kedua aparat ini bisa saling berebutan karena masing-masing itu menganggap lahannya, atau sebaliknya saling berpangku tangan karena merasa itu bukan tugasnya. Kasus pengeboman yang terjadi di beberapa tempat (seperti kasus Bursa Efek Jakarta) bisa disebut sebagai contoh. Karena terjadi didalam negeri, kejadian itu dapat dilihat sebagai masalah keamanan, tetapi, karena tidak jarang sifatnya di duga melibatkan unsur asing yang mengancam integrasi, hal itu dapat dilihat juga sebagai masalah pertahanan. Baik saling berebutan maupun saling berpangku tangan sama jeleknya bagi
keadaan pertahanan keamanan (Hankam). Sebab, jika saling berebutan bisa terjadi konflik, tapi jika saling berpangku tangan masalahnya bisa tak terurus.
Pemisahan antara Polri dan TNI seperti itu merupakan bagian dari agenda reformasi yang sejak lama menginginkan Polri dijadikan aparat sipil. Tetapi, beban psikologis yang ditinggalkan oleh keterlanjuran menyatunya Polri dan TNI yang cukup lama sepanjang Orde Baru telah secara tiba-tiba menimbulkan rivalitas yang memerlukan waktu agak lama pula untuk di sembuhkan.144
Indonesia, sampai hari ini masih dalam proses transisi, dalam pengertian mungkin secara fisik mereka ikut saja, secara pemikiran berbeda. Dalam hal ini jasa Gus Dur adalah menempatkan sipil dalam menteri pertahanan dan itu jasa yang harus diakui. Karena kalau tidak ada keberanian untuk melakukan hal semacam itu, militer sulit dikontrol. Perkembangannya, ditentara itu dari politik menuju keprofesional, tapi ini transisi. Mungkin dibawah bisa diatur, artinya profesionalisme bisa dipertahankan. Tapi, diatas (elite militer) tidak segampang seperti yang dibawah. Ambil contoh begini, ketika Gus Dur masih berada dalam tataran pemikiran dekrit, mereka membicarakan dengan kepala staf dan panglima. Tapi, kemudian yang terjadi adalah melakukan tindakan reaktif dengan mengumpulkan pangdam kemudian ramai-ramai menolak dekrit, lalu Kostrad buat apel siaga, padahal hal itu di gulirkan baru berupa wacana. Kalau mereka memang profesional mereka sampaikan kepada Presiden dan bilang akan mengundurkan diri karena menolak dekrit. Tapi, ternyata tidak, karena kepentingan militer masih sangat besar untuk menuju kesikap yang profesional masih dalam tahap transisi.145
Pengikisan sejumlah hak istimewa militer seringkali menciptakan dilema. Disatu sisi, supremasi sipil memang mengharuskan pengurangan wewenang militer dan membatasi militer pada misi profesionalnya yang lebih spesifik, yaitu pertahanan. Disisi lain, agar tercipta stabilitas politik, maka konflik sipil-militer harus ditekan sekecil
mungkin. Mengurangi wewenang dan kekuasaan militer hampir selalu memunculkan konflik antara sipil-militer. Apa yang dilakukan Gus Dur selama ini, dengan sejumlah kebijakannya, tidaklah diterima begitu saja oleh pihak militer. Beberapa keputusan tersebut telah memunculkan konflik laten antara Gus Dur dengan militer.146
Konflik yang semakin mengeras antara Gus Dur dengan parlemen ternyata secara politis sangat mengganggu posisi TNI dan Polri. Ketika legitimasi Gus Dur di mata parlemen turun drastis, perlawanan TNI semakin terbuka. Mobilisasi para pangdam yang dilakukan oleh KSAD untuk menolak pergantiannya, perlawanan sejumlah perwira Polri terhadap rencana pencopotan Kapolri, dukungan resmi MPR terhadap penolakan-penolakan ini, pernyataan resmi Pangab yang menolak dekrit Presiden, dukungan TNI terhadap rencana percepatan sidang istimewa MPR, dan tindakan show of force di Monas oleh Pangkostrad merupakan bukti bahwa pengakuan TNI terhadap Gus Dur betul- betul terkikis.147
Walaupun banyak kalangan berpendapat bahwa kejatuhan Gus Dur dari jabatan Presiden di sebabkan oleh kasus dugaan penyelewengan dana Yanatera Bulog dan sumbangan dari sultan Brunei. Namun, sebetulnya faktor kuat di balik kejatuhannya adalah hubungannya dan konfliktual dengan militer dan penolakan kuat dari parlemen karena kebijakannya yang banyak merugikan partai politik.148
Dalam banyak hal usaha Gus Dur untuk "menjinakkan" militer merupakan salah satu dari suksesnya yang terbesar, tetapi dengan demikian ia menjadi bermusuhan dengan lebih banyak perwira yang berkuasa dan merupakan ancaman bagi kepentingan bisnis banyak perwira lain. Reformasi yang dilakukan Gus Dur dalam tubuh tentara mendapatkan perlawanan dari unsur-unsur garis keras di dalam tubuh militer dan Polri. Terlebih lagi, militer sayap ultra nasionalismenjadi marah oleh karena pendekatan kemanusiaan yang diambil oleh Gus Dur untuk memecahkan konflik di Aceh dan Irian Jaya. Tak ayal lagi bagi banyak orang Megawati yang dikenal sebagai seorang nasionalis yang konservatif merupakan alternatif yang menarik untuk mengganti Gus Dur.149
Upaya reformasi disektor pertahanan seharusnya menggariskan basis umum pertahanan baru yang memang sesuai dengan tantangan dan kapasitas negara. Persoalan yang juga begitu penting adalah bagaimana mengembangkan prinsip-prinsip dasar kesatuan tentara yang juga menggariskan model-model organisasi pertahanan. Ini tidak saja berlandas pada kebutuhan perubahan atas organisasi yang sudah ada, akan tetapi mencapai aspek doktriner pertahanan yang akan berpengaruh langsung atas organisasi itu.150
Selama lebih dari 30 tahun TNI pernah berkuasa di negeri Indonesia. Wajarlah kalau sekarang kecurigaan selalu diarahkan kepadanya. Segala macam hal yang menunjukkan pada melemahnya pemerintahan dan tereduksinya kebebasan bagi masyarakat sipil (civil society), selalu dianggap sebagai “upaya TNI” untuk berkuasa kembali. Dalam hal ini, K. H. Abdurrahman Wahid berpendapat hendaknya berhati-hati dengan tidak melakukan generalisasi atas TNI sebagai lembaga. Memang ada oknum yang mengejar ambisi pribadi, seperti memandang peranan TNI dalam politik sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup bangsa ini. Namun kenyataannya, peranan seperti itu tidak akan pernah bisa. Karena struktur serta hirarki TNI sendiri, yang bertopang atas ketundukan mutlak kepada atasan, tidak memungkinkan TNI untuk berperan demokratis tanpa kehadiran pihak sipil dalam pengendalian keadaan. Oleh karena itulah demokratisasi itu sendiri haruslah dilakukan bangsa ini bersama, termasuk ditopang oleh kemauan TNI sebagai institusi.
Menurut seorang purnawirawan perwira tinggi TNI ada beberapa doktrin yang dikembangkan ABRI (sekarang TNI) yang memerlukan koreksi, karena di dalamya ada dominasi kaum militer atas pihak sipil. Bahkan kini pun masih cukup banyak kaum militer yang beranggapan mereka lebih baik daripada pihak sipil. Ini jelas merupakan pandangan individual, karena TNI sendiri sebagai institusi telah menerima dihapusnya Fraksi TNI-Polri dari DPR- RI tahun 2004 dan dari MPR-RI tahun 2009. Karena mereka harus tunduk kepada Undang-Undang Dasar 1945, yang tidak membeda-bedakan golongan manapun, maka dengan sendirinya sebagai institusi mereka harus tunduk kepada proses demokratisasi. Impian beberapa perwira tinggi TNI untuk berkuasa sendiri tidak perlu dikhawatirkan. Tentu saja pandangan ini adalah pemikiran ideal yang harus dilihat bagaimana pelaksanaan dalam kenyataannya. Peledakan bom dari satu tempat ke tempat lain, menunjukkan adanya keterlibatan langsung atau tidak langsung beberapa orang Perwira Tinggi TNI secara perorangan/individual. Salah satu motivasinya adalah mempertahankan “secara sia-sia” peranan politik TNI dalam lingkungan negara Indonesia. Mereka mencoba menegakkan militerisme (paham serba militer) yang oleh banyak kalangan masyarakat sipil dianggap mencurigakan. Namun masyarakat sipil secara keseluruhan juga mempunyai banyak perbedaan, ada yang berpandangan ideal seperti K.H. Abdurrahman Wahid dan ada yang bersikap curiga kepada TNI. Hal itu merupakan hal wajar yang menghasilkan sikap teliti dan waspada untuk menjaga keselamatan negara dan bangsa Indonesia.
Walaupun mengemukakan pandangan yang “tidak mencurigai” peranan politik TNI ini, namun K. H. Abdurrahman Wahid minta kepada kalangan yang “mencurigai” TNI untuk tetap berhati-hati terhadap individu yang ingin menegakkan kembali kekuasaan politik TNI. Sikap tidak mencurigai digabungkan dengan sikap berhati-hati dan waspada akan menjamin tegaknya demokrasi di negeri Indonesia. Di sinilah terletak arti kepemimpinan yang diharapkan di masa-masa yang akan datang, walaupun pada saat ini justru kepemimpinan itulah yang tidak ada dikalangan pemerintahan Indonesia.
K.H. Abdurrahman Wahid berharap adanya rasa saling mencurigai antara kawan-kawan TNI dengan pihak sipil itu dapat dikurangi. Biarkan sejarah mengambil kesimpulannya sendiri di masa yang akan datang. Kerja-kerja kongkrit seperti pemilu yang akan datang sangat bergantung kepada timbulnya rasa saling mendukung. Meskipun ini tidak berarti harus lalai dan tidak menerapkan prosedur hukum jika terjadi kesalahan oleh salah satu pihak, guna menjamin hasil-hasil yang benar-benar jujur. Hanya dengan kejujuranlah pemerintahan yang memenuhi tujuan konstitusi, masyarakat adil dan makmur dapat ditegakkan di negeri ini.151
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis terhadap konsep demokrasi menurut K. H. Abdurrahman Wahid secara umum dapat disimpulkan. Bahwa pemikiran demokrasi K. H. Abdurrahman Wahid identik dengan pemikiran Fazlur Rahman.
Corak pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid yang liberal dan inklusif secara nyata sangat dipengaruhi oleh penelitiannya yang panjang terhadap berbagai khasanah pemikiran Islam tradisional yang kemudian menghasilkan reinterpretasi dan kontekstualisasi, termasuk terhadap pemikiran hukum Islam. Kontribusi fiqih terhadap gagasan inklusivisme dan pluralisme adalah karena fiqih merupakan pengembangan gugusan hukum agama yang tidak pernah berhenti berkembang.Pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid tentang demokrasi tidak hanya menggunakan produk-produk pemikiran Islam tradisional, tetapi juga menekankan pada penggunaan metodologi (manhaj), teori hukum (us}u>l fiqh), dan kaidah-kaidah hukum (Qawa>id Fiqhiyah) dalam kerangka pembuatan suatu sintesa untuk melahirkan gagasan baru sebagai upaya menjawab perubahan-perubahan aktual di masyarakat.
Dalam pandangan Fazlur Rahman, sesuatu yang lebih ini berkaitan dengan kembali mempelajari Islam klasik dan mengkombinasikan hal ini dengan unsur-unsur terbaik modernisme agar supaya dapat dihasilkan sintesa antara
Islam Klasik dengan pemikiran barat modern. Dengan cara ini, demikian argumennya, kebenaran utama Islam dapat dihargai kembali serta diterapkan dengan lugas dan kreatif pada masyarakat modern, dengan demikian akan menghasilkan spiritualitas yang lebih dalam, lebih halus, juga Islam lebih Welas-asih dan toleran. Untuk gerakan ini Fazlur Rahman membuat istilah baru : neomodernisme.
K. H. Abdurrahman Wahid mengartikan demokrasi sebagai kondisi dimana kebebasan pendapat benar-benar dijamin undang-undang, sebab menurutnya kebebasan berpendapat merupakan salah satu esensi demokrasi. Setiap warga masyarakat diberi hak dan kebebasan mengekspresikan pendapatnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang bijak dan memperhatikan Al-Akhla>q Al-Kari>mah dan dalam rangka Amr ma’ruf nahy munkar, tidak ada alasan bagi penguasa untuk mencegahnya.
Bahkan yang harus diwaspadai adalah adanya kemungkinan tidak adanya lagi pihak yang berani melakukan kritik dan kontrol sosial bagi tegaknya keadilan. Jika sudah tidak ada lagi kontrol dalam suatu masyarakat, arogansi dan kedzaliman akan semakin merajalela.Sehingga tidak ada lagi pihak yang merasa lebih tinggi dari pada yang lain yang dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat, berlaku otoriter, dan eksploitatif. Egaliter (persamaan) penting dalam suatu pemerintahan untuk memunculkan sifat Tawadhu’ (humbel) dan menghindari hegemoni penguasa atas rakyat. Karena penguasa tidak di tempatkan pada posisi sebagai sayyid al-ummah (penguasa umat), melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat).
B. SARAN-SARAN
1. Menguatnya arus besar politik Islam pasca Reformasi, dengan penampilannya yang multi-wajah di harapkan para politisi Islam dapat mengedepankan politik populis. Yaitu politik yang dapat menghargai perbedaan pandangan dan agenda politik masing-masing tanpa harus saling menjatuhkan dan memfitnah. Dan bagi masyarakat sub politik, partisipasi dalam menentukan proses politik merupakan bagian dari penguatan terhadap posisi masyarakat sipil, kendati demikian, koridor demokrasi hendaklah di perhatikan. 2. Untuk semua kalangan dalam menggali pemikiran tokoh hendaklah tidak membatasi disiplin ilmu, tokoh
dan kelompoknya, sehingga tidak membuka ruang konflik yang membodohkan. Tetapi lebih
mengembangkan sikap toleran dan saling memahami sehingga sikap mengklaim diri paling benar dapat terhindarkan.
3. Penelitian ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak penelitian tentang pemikiran demokrasi K. H. Abdurrahman Wahid, karena itu untuk pengkajian lebih jauh tentang hal tersebut hendaknya membaca buku-buku yang membahas tentang pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid.
4. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penyusun, walaupun telah berusaha dengan semaksimal mungkin, tentunya hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga masih membutuhkan saran, tegur sapa, nasehat, motivasi dan kritik yang membangun/manfaat. Akhirnya Walla>hu a’lamu bi as- s}awa>b wal hamdu lilla>h Al-Rabbil 'Alami>n.
DAFTAR PUSTAKA