BAB III IMPLEMENTASI RENCANA TINDAK
B. Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar, yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli, Badung, dan Kota Denpasar, adalah sebuah daerah yang paling kaya dengan warisan seni pertunjukan. Gianyar adalah suatu daerah yang hingga kini masih dipandang sebagai gudang seni hingga kini mewarisi berbagai jenis kesenian wali dan bebeali. Berdasarkan hasil Pemetaaan Kesenian dan Budaya Bali tahun 2015, yang diadakan oleh Listibiya Provinsi Bali, tercatat Kabupaten Gianyar memiliki 2811 buah kesenian. Dalam jumlah ini tercakup 794 buah kesenian wali, 1691 buah kesenian bebali, dan 812 kesenian balih-balihan (PPKD Bali,2018).
Di Kabupaten Gianyar hingga kini masih terpelihara dengan baik berbagai jenis kesenian wali, terutama tari baris upacara dan tari rejang. Di sektor seni bebali, Kabupaten Gianyar memiliki berbagai jenis tari barong (terutama barong ket). Selain disakralkan, tari-tarian ini juga menunjukkan
tari, iringan, dan tata busana yang digunakan penarinya.
Kabupaten Gianyar adalah daerah Kabupaten di Bali yang melahirkan berbagai jenis kesenian klasik dan kesenian ciptaan baru. Di awal abad XIX di daerah ini lahir tari legong keraton, yang kemudian menjadi salah satu kesenian klasik yang berkembang ke seluruh Bali. Di tahun 1930- an di Bedulu Gianyar lahir tari Kecak Ramayana. Paket pertunjukan seni wisata yang bertajuk “tari legong” juga lahir di Kabupaten ini melalui lawatan grup kesenian dari Ubud Gianyar ke World Colonial Exposition di Paris pada tahun 1931. Pada tahun 1948 di Desa Singapadu lahir dramatari Barong Kuntisraya. Pada tahun 1966 di daerah ini lahir sebuah seni drama, yaitu drama gong, yang mengalami masa jayanya antara tahun 1970-1980.
Gambar 3.4. Generasi Muda di Kabupaten Gianyar semangat melestarikan Tarian Tradisional Bali
Sumber: Dokumentasi Penelitian 2019
Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gianyar selaku pihak yang diberikan amanah dalam melindungi dan mengembangkan kebudayaan di Kabupaten Gianyar belum mengetahui tentang rencana tindak (action plan) yang harus diimplementasikan sebagai tindak lanjut dari penetapan tiga genre tari tradisi Bali dalam Representative List ICH UNESCO. Oleh karena
itu, pihak Disbud juga tidak mengetahui bahwa pihaknya diberikan tugas khusus untuk membina dan melestarikan Tari Gambuh sebagaimana yang tercantum dalam rencana tindak itu. Dalam rencana tindak tersebut, Kabupaten Gianyar diberikan amanah untuk melestarikan tarian yang termasuk dalam kategori tari sakral (wali) itu. Walaupun demikian, upaya-upaya untuk melestarikan seni tari tradisi Bali yang ada di Kabupaten Gianyar telah dilakukan oleh Disbud, antara lain dengan menyelenggarakan “Parade Gambuh”. Kegiatan itu merupakan salah satu upaya Disbud mengenalkan generasi muda kepada seni tari tradisi Bali, khususnya Tari Gambuh ini. Sebagai tarian sakral (wali), Gambuh hanya dipentaskan pada saat upacara keagamaan di pura. Seniman atau penari Gambuh umumnya adalah generasi-generasi tua. Sementara itu, generasi muda sudah jarang yang menggeluti tarian ini karena termasuk salah satu tarian yang sulit dipelajari. Tari Gambuh sulit dipelajari oleh generasi muda karena dalam tarian tersebut banyak menggunakan sastra Bali kuno yang “asing” bagi mereka saat ini. Kegiatan itu telah dimulai sejak tahun 2010 dengan menyasar anak-anak sekolah dan murid-murid di sejumlah sekaa yang ada di Kabupaten Gianyar. Sebagai bagian dari upacara keagamaan, pihak Disbud menggarisbawahi bahwa tari sakral ini masih jauh untuk dikatakan terancam punah karena tarian ini akan tetap hadir di setiap kegiatan keagamaan di pura. Namun, pihaknya juga mengatakan bahwa upaya-upaya pelestarian tetap perlu dilakukan, terutama pengenalan kepada generasi muda, sebagai upaya menjaga Tari Gambuh tetap ada ketika suatu saat seniman-seniman Gambuh saat ini telah tiada.
Tidak hanya Tari Gambuh saja, Disbud Kabupaten Gianyar juga mengembangkan jenis tari tradisi lain karena banyak tari tradisi yang ada di Kabupaten Gianyar. Oleh karena itu, selain “Parade Gambuh’, pihaknya juga tengah mempersiapkan program parade kebudayaan tari tradisi yang akan dipentaskan pada perayaan hari-hari besar nasional, di antaranya adalah Hari Ulang Tahun Kabupaten Gianyar, Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Sumpah Pemuda, dan Hari Ibu. Kegiatan lain yang sudah
Bulan Aktivitas Peningkatan Kreativitas Seni Pemuda yang bekerja sama dengan SMK Negeri 3 Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Selain itu, Disbud juga melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga budaya dan adat setempat, misalnya dengan Majelis Tinggi Pertimbangan Budaya (Listibiya) dan Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP). Kerjasama yang dilakukan tersebut bertujuan membentuk Kader Pelestari Budaya yang ditempatkan di tiap-tiap banjar yang ada di Kabupaten Gianyar dan juga tengah mengupayakan terwujudnya sebuah unit yang bisa menjadi pusat dokumentasi berbagai kebudayaan yang ada di Kabupaten Gianyar.
Di satuan pendidikan di Kabupaten Gianyar, tari tradisi Bali sudah masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler di jenjang SD dan SMP, sedangkan untuk mata pelajaran sudah terangkum dalam mata pelajaran Seni dan Budaya. Saat ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar telah mencanangkan “Sekolah Berbasis Budaya”. Sejauh ini sudah ada dua SD (SD Negeri 2 Gianyar dan SD negeri 2 Sukapadu) dan dua SMP (SMP Negeri 2 Sukawati dan SMP Negeri 2 Ubud) yang sudah melaksanakan program tersebut. Sekolah-sekolah tersebut mendapat fasilitas pendukung kegiatan kesenian, misalnya peralatan berkesenian, salah satunya kostum pemain. Tidak hanya tari tradisi tertentu saja yang diajarkan di sekolah-sekolah tersebut. Berbagai tari tradisi Bali yang berkembang di Kabupaten Gianyar ikut diajarkan, seperti tari Pucuk, yang merupakan salah satu ikon Kabupaten Gianyar. Sebetulnya, sejak Paud/TK anak-anak sudah diajarkan menari tari tradisi Bali. Setiap ada acara di Kabupaten Gianyar, biasanya siswa-siswa Paud/TK diberikan kesempatan menampilkan tariannya.
Terkait dengan perkembangan tari Gambuh, ada beberapa masalah yang dihadapi, misalnya minat generasi muda yang rendah. Pernah ada inisiatif dari mantan Bupati untuk mengembangkan Tari Gambuh, tetapi peminatnya hanya seniman-seniman Tari Gambuh saja. Animo masyarakat, khususnya generasi muda justru pada tari kreasi. Selain itu, Tari Gambuh merupakan tarian yang sulit untuk dipelajari. Sulitnya mengembangkan Tari Gambuh karena harus menguasasi beberapa keahlian, di antaranya sastra, vokal, dan karawitan. Apalagi anak-anak sudah jarang yang bisa
berbahasa Bali dengan baik. Jika memang tidak ada minat atau keinginan untuk mempelajari Tari Gambuh dengan sunguh-sungguh, maka sulit untuk bisa menguasainya. Selain itu, menurut senimana Tari Gambuh di Desa Batuan, pewarisan Tari Gambuh yang sifatnya turun-temurun juga membuat perkembangan tari ini menjadi tidak masif. Tari Gambuh merupakan tari sakral bagian sari pelaksanaan upacara keagamaan. Oleh karena itu, para pemainnya menganut konsep “ngayah”, sehingga aspek ekonomi (penghasilan) tidak tampak. Kebanyakan pemain Gambuh itu bukan penari profesional. Mereka bisa dari kalangan mana saja karena pada prinsipnya tari ini adalah sebagai wujud persembahan manusia untuk para dewa (Tuhan). Oleh karena itu, Tari Gambuh ini tetap lestari walaupun sangat sedikit peminatnya karena bagian dari upacara keagamaan. Selama masih ada orang Bali, masih ada agama Hindu, selama itu juga kesenian tradisi akan tetap lestari.
Gambar 3.5. Pementasan Dramatari di salah satu Pura di Gianyar Sumber: Dokumentasi Penelitian 2019
Terkait hal tersebut, tari sakral seperti Gambuh ini ibarat mata air yang mengalir. Kita hanya bisa bermain di alirannya saja. Artinya tari sakral seperti itu tidak boleh ada modifikasi di dalamnya. Memang risikonya adalah tidak ada dampak secara ekonomi bagi para pemainnya. Untuk itu, perlu adanya usaha-usaha yang kreatif dan inovatif supaya tari tradisi ini tetap seperti semula tetapi juga bisa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Beberapa seniman senior Kabupaten Gianyar juga mengkritisi penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) saat ini yang terlalu glamor. Menurut mereka, PKB sekarang divisualisasikan sebagai ajang yang mahal dan rumit. Pengunjung yang datang ke PKB terlalu dimanjakan dengan penampilan luar para penari, sehingga ruh yang ada dalam sebuah tarian tidak bisa dirasakan. Selain itu, PKB juga kesannya seperti pertandingan seni antarkabupaten/kota di Bali, sehingga unsur kompetisi lebih terasa daripada penampilan seni tari itu sendiri.