Pendahuluan
Lahan pertanian menyumbangkan emisi GRK melalui beberapa proses. Proses-proses tersebut menurut IPCC 2006 adalah (i) emisi CH4 dari fermentasi enterik pada ternak, (ii) emisi CH4 dan N2O dari pengelolaan kotoran ternak, (iii) emisi CH4 dari pengelolaan lahan sawah, (iv) emisi CO2 akibat penggunaan pupuk urea dan (v) emisi N2O langsung dan tidak langsung dari lahan yang dikelola sebagai akibat dari input N. Dalam laporan Komunikasi Nasional Indonesia ke-2 hasil inventarisasi, disebutkan bahwa sektor pertanian secara keseluruhan menyumbangkan sekitar 5% dari total emisi nasional pada tahun 2000.
Kegiatan inventarisasi di negara China bahkan sudah dimulai sejak tahun 1990an, hal ini sesuai yang dilaporkan oleh komunikasi Nasional terkait Perubahan Iklim di China ( Initial National Communication on Climate Change of
China/INCCCC 2004 dalam Cao et al, 1995 dan Chen dan Bo Zhang, 2010)
bahwa tahun 1994 besaran emisi gas rumah kaca di China hasil inventarisasi adalah 3650 Gg CO2e. Hasil penelitian Chen dan Bo Zhang 2007 (Chen dan Bo Zhang, 2010), total gas rumah kaca di China tahun 2007 adalah sebesar 7456,12 Gg CO2e dengan emisi CH4 dari lahan padi sawah dan peternakan sebesar 831,45 Gg CO2e (atau sekitar 9% dari total). Emisi tersebut jauh lebih tinggi dari emisi sektor terkait energi dari beberapa negara maju pada tahun inventori yang sama, yaitu Inggris yang hanya sebesar 523 Gg CO2e, Kanada 572,9 Gg CO2e dan Jerman 798,4 Gg CO2e. Hal ini menunjukkan bahwa di beberapa negara, kontribusi sektor pertanian terhadap emisi GRK, patut diperhitungkan.
Hasil studi inventarisasi gas rumah kaca di negara Eropa, oleh Freibauer tahun 2003 menyebutkan bahwa pada tahun 1995 besarnya emisi GRK kegiatan pertanian di Eropa adalah sebesar 840±190 Gg N2O; 810±200 Gg CH4 dan 39.000±2.500 Gg CO2 dengan jumlah sumbangan sebesar 470.000±8.000 Gg CO2e atau 11% dari emisi GRK secara keseluruhan. Hasil penelitian Neufeldt et al, 2006 di German menunjukkan bahwa total emisi GRK dari lahan sawah adalah lebih rendah ( 0,026 – 0,034 Gg CO2e/ha) dibandingkan dengan emisi dari peternakan (0,052 – 0,053 Gg CO2e/ha ). Hal ini selaras dengan hasil penelitian Weiss dan Leip, 2012 besarnya emisi GRK dari sektor pertanian, di antara negara negara Uni Eropa tahun 2010, 80% adalah berasal dari kegiatan peternakan (enterik fermentation, pengelolaan kotoran, produksi daging) yaitu sebesar 623.000 – 852.000 Gg CO2e.
Kegiatan inventarisasi GRK di Amerika Serikat tahun 1990-2008 seperti dilaporkan dalam oleh USDA (United States Department of Agriculture) tahun 2011 menunjukkan hasil bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap emisi GRK total di AS adalah sebesar 6% atau setara dengan 462.000 Gg CO2e yang berasal dari peternakan, padang rumput dan lahan sawah. Kontributor emisi GRK pertanian adalah emisi gas N2O dari pertanian tanaman pangan dan padang rumput (214.000 Gg CO2e), emisi CH4 dari fermentasi enterik (141.000 Gg CO2e),
7
7 emisi CO2 dari penggunaan energi untuk kegiatan pertanian (72.000 Gg CO2e) dan emisi CH4 dari pengelolaan kotoran (45.000 Gg CO2e).
Beberapa negara dengan tingkat konsumsi daging yang tinggi (seperti Uni Eropa dan AS) cenderung memberikan sumbangan emisi GRK dari peternakan yang tinggi. Sementara negara-negara Asia, seperti China dan Indonesia dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, sumbangan emisi GRK dari lahan sawah akan cenderung lebih tinggi.
Komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK-nya sebesar 26% sampai tahun 2020 telah menjadi kegiatan wajib dengan disyahkannya Peraturan Presiden (Perpres) No 61 tahun 2011 (Perpres 61, 2011) dan Peraturan Presiden No 71 tahun 2011 (Perpres 71, 2011). Pelaksanaan Perpres 61/2011, melibatkan keikutsertaan daerah secara aktif, karena dalam Perpres tersebut pemerintah daerah diharuskan menyusun RAD Penurunan Emisi GRK. Masing-masing daerah berkewajiban memberikan kontribusi terhadap penurunan emisi secara nasional. Perencanaan aksi-aksi untuk penurunan emisi GRK, perlu mengetahui secara pasti besaran emisi dan serapan GRK, Berbagai perencanaan ditingkat nasional telah dilakukan untuk mencapai target tersebut, akan tetapi partisipasi daerahlah yang akan sangat menentukan.
Dalam skala global dan nasional, perhitungan besaran emisi telah banyak dilakukan, baik dalam bentuk studi ilmiah maupun laporan nasional terkait status emisi di suatu negara (Chen dan Bo Zhang, 2010). Kegiatan inventarisasi dalam skala wilayah yang lebih sempit, diharapkan dapat memudahkan kompilasi dalam skala wilayah yang lebih luas (Neufeldt et al, 2006), sehingga perencanaan penurunan emisi dapat lebih tepat. Hal yang masih menjadi kendala utama dalam inventarisasi GRK di Indonesia adalah ketersediaan data aktivitas. Pembangkitan data aktivitas dalam skala kabupaten akan menjadi kunci dalam penyusunan basis data di tingkat nasional untuk menghasilkan inventarisasi yang berkualitas. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pedoman bagi daerah dalam melakukan kegiatan inventarisasi, dimulai dari pembangkitan data aktivitas, melakukan perhitungan serta membandingkan estimasi emisi antara metode IPCC 2006 dan modifikasi IPCC 2006 untuk Sektor Pertanian tahun 2006-2011. Metode IPCC 2006 adalah metode yang telah disepakati secara internasional untuk perhitungan emisi GRK. Hasil perhitungan akan sangat berguna sebagai acuan dalam penentuan aksi mitigasi yang akan dilakukan. Kabupaten Grobogan merupakan salah satu kabupaten dengan luas lahan pertanian yang besar di Propinsi Jawa Tengah, begitu juga Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Propinsi Jambi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status emisi GRK Sektor Pertanian di Kabupaten Grobogan Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi melalu inventarisasi dan identifikasi kategori kunci
(key categories analysis) terhadap sumber-sumber emisi GRK dan pendugaan
emisi N2O langsung dari tanah yang di kelola dengan metode IPCC 2006 dan modifikasinya serta menyusun BAU baseline.
Perhitungan emisi N2O langsung dari tanah yang dikelola memerlukan masukan data aktivitas berupa jumlah N anorganik dan organik yang dimasukkan ke dalam tanah setiap tahunnya. Data aktivitas ini relatif sulit didapat dan harus menggunakan perhitungan yang kompleks serta membangun asumsi-asumsi, karena itu modifikasi metode IPCC 2006 pada persamaan perhitungan emisi N2O
8
8
langsung dari tanah yang dikelola, dilakukan untuk menyederhanakan dalam pengumpulan data aktivitas dan juga perhitungannya.
Bahan dan Metode Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Grobogan Propinsi Jawa Tengah mewakili ekosistem dengan tanah mineral dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi mewakili ekosistem dengan tanah gambut. Kedua kabupaten ini mempunyai areal pertanian terluas di Propinsi Jawa Tengah dan Jambi. Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jambi adalah 2 propinsi yang pada awal tahun 2012 telah menerbitkan Peraturan Gubernur mengenai RAD GRK yaitu Pergub Jambi No. 36 tahun 2012 dan Pergub Jateng No. 43 tahun 2012. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juni 2013.
Pengumpulan Data Aktivitas
Data aktivitas adalah besaran kuantitatif kegiatan atau aktivitas manusia yang dapat melepaskan dan/atau menyerap GRK. Tahapan ini dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari hasil-hasil penelitian, data statistik dari BPS dan laporan tahunan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah terutama data aktivitas yang berhubungan dengan inventarisasi GRK sektor pertanian dan upaya-upaya mitigasinya. Apabila data aktivitas tidak tersedia, maka survey dan wawancara langsung untuk mendapatkan expert judgement bisa dilakukan. Data aktivitas dan sumber-sumber emisi yang telah diperoleh kemudian ditabulasi. Sektor pertanian mencakup beberapa sub-sektor yaitu pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Berikut adalah data aktivitas sektor pertanian dan sumber datanya.
Tabel 2.1 Daftar data aktivitas dan sumber data
Data Aktivitas Sumber data
Luas panen sawah BPS (2006-2011), Dinas Pertanian Jenis pengairan BPS (2006-2011), Dinas Pertanian Jenis Varietas BPS (2006-2011), Dinas Pertanian Jenis tanah Dinas Pertanian, hasil penelitian Jumlah penggunaan bahan
organik
Dinas Pertanian, Perkebunan, expert judgement
Jumlah/dosis pupuk Dinas Pertanian, Perkebunan, expert judgement
Jenis Pupuk Dinas Pertanian, Perkebunan
Jumlah ternak BPS (2006-211), Dinas Pertanian, Peternakan
Jenis ternak BPS (2006-2011), Dinas Pertanian, Peternakan
Cara pengelolaan kotoran ternak
9
9
Metode Perhitungan
Penelitian ini menggunakan metode IPCC Guidelines 2006 dengan pendekatan tier 1 dan 2. Tier 1 adalah penghitungan emisi GRK dengan menggunakan persamaan dasar (basic equation) dan default EF (emission factor) yang disediakan dalam IPCC Guidelines, sedangkan tier 2 merupakan metoda yang lebih detail, persamaan yang sedikit kompleks, faktor emisi lebih spesifik lokasi berdasarkan hasil-hasil penelitian.
Perhitungan emisi GRK meliputi emisi CH4 dari budidaya padi sawah, emisi N2O dan CO2 dari pemupukan, emisi N2O dari pengelolaan tanah. Subsektor peternakan yang dihitung adalah emisi CH4 dari sendawa ternak (enteric
fermentation) dan kotoran ternak serta emisi N2O dari pengelolaan kotoran. Emisi
N2O langsung dari tanah sawah irigasi selain dihitung dengan menggunakan metode perhitungan IPCC 2006, juga menggunakan metode modifikasi IPCC 2006.
Perhitungan emisi dengan metode IPCC 2006 adalah sebagai berikut:
1. Pengelolaan lahan sawah (Rice cultivation)
Dekomposisi bahan organik secara anaerob di lahan sawah menimbulkan emisi CH4 yang terlepas ke atmosfer melalui jaringan tanaman. Emisi CH4
tahunan dari sejumlah luas lahan tertentu di suatu wilayah merupakan fungsi dari masa tanam dan umur tanaman padi. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap emisi CH4 dari lahan sawah adalah jenis tanah, pengairan dan juga varietas padi (IPCC, 2006). Persamaan untuk menduga emisi CH4 dari pengelolaan lahan sawah di suatu wilayah adalah sebagai berikut :
Emisi CH4 = Σ (EF * t * A * 10^-6
)*CF*SF
Dimana :
Emisi CH4 = emisi metan dari pengelolaan lahan sawah (Gg CH4/tahun)
EF rice = Faktor emisi metana dari lahan sawah (nilai lokal Indonesia adalah
1,61 kg CH4/ha/hari)
A = Luas panen (ha) t = umur tanam padi (hari)
CF = faktor koreksi untuk jenis tanah dan varietas padi (jika tersedia) SF = faktor skala untuk rejim pengairan (jika tersedia)
Faktor koreksi rejim pengelolaan air, jenis tanah dan sebagian varietas padi yang umum digunakan disajikan pada Tabel 2.2, 2.3 dan 2.4. Faktor emisi default dalam IPCC 2006 diperoleh dari hasil-hasil penelitian tentang sumber emisi terkait di dunia.
10
10
Tabel 2.2 Faktor emisi dan faktor skala rejim air pengelolaan lahan sawah
Kategori Sub-kategori 1 SF (faktor skala) (berdasarkan IPCC Guidelines 1996) SF (berdasarkan riset di Indonesia)* Kisaran** Dataran
tinggi Tidak ada 0
Dataran rendah Irigasi Tergenang terus menerus 1 1 Pengairan berselang Single Aeration 0,5 (0,2-0,7) 0,46 0,38-0,53 Multiple Aeration 0,2 (0,1-0,3)
Tadah hujan Rawan banjir 0,8 (0,5-1,0) 0,49 0,19-0,75 Rawan kekeringan 0,4 (0-0,5)
Air dalam
Kedalaman air 50-100
cm 0,8 (0,6-1,0)
Kedalaman air < 50 cm 0,6 (0,5-0,8)
Sumber : *Setyanto et al, 2011 dan 1 IPCC 2006
**angka kisaran merupakan nilai dari standart deviasinya
Tabel 2.3 Faktor koreksi jenis tanah pengelolaan lahan sawah
Kategori Sub-kategori CF (faktor koreksi) dari jenis tanah di Indonesia* Kisaran
Jenis tanah Inceptisol 1,12 1,0-1,23 Oksisol 0,29 0,1-0,47 Entisol 1,02 0,94-1,09 Vertisol 1,02 0,46-1,99 Alfisol 0,84 0,32-1,59 Histosol 2,39 0,92-3,86 Mollisol - -Andisol 1,02 1,02 Ultisol 0,29 0,29
11
11 Tabel 2.4 Faktor koreksi berbagai varietas padi di Indonesia
No Varietas Rata-rata emisi
(kg CH4/ha/musim) Faktor koreksi 1 Gilirang 496,9 2,46 2 Fatmawati 365,9 1,81 3 Aromatic 273,6 1,35 4 Tukad Unda 244,2 1,21 5 IR 72 223,2 1,10 6 Cisadane 204,6 1,01 7 IR 64* 202,3 1,00 8 Margasari 187,2 0,93 9 Cisantana 186,7 0,92 10 Tukad Petanu 157,8 0,78 11 Batang Anai 153,5 0,76 12 IR 36 147,5 0,73 13 Memberamo 146,2 0,72 14 Dodokan 145,6 0,72 15 Way Apoburu 145,5 0,72 16 Muncul 127,0 0,63 17 Tukad Balian 115,6 0,57 18 Cisanggarung 115,2 0,57 19 Ciherang 114,8 0,57 20 Limboto 99,2 0,49 21 Wayrarem 91,6 0,45 22 Maros 73,9 0,37 23 Mendawak 255 1,26 24 Mekongga 234 1,16 25 Memberamo 286 1,41 26 IR42 269 1,33 27 Fatmawati 245 1,21 28 BP360 215 1,06 29 BP205 196 0,97 30 Hipa4 197 0,98 31 Hipa6 219 1,08 32 Rokan 308 1,52 33 Hipa 5 Ceva 323 1,60 34 Hipa 6 Jete 301 1,49 35 Inpari 1 271 1,34 36 Inpari 6 Jete 272 1,34 37 Inpari 9 Elo 359 1,77
Sumber : Hasil-hasil penelitian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian dan Konsorsium Perubahan Iklim (Tahun 2003, 2004, 2005, 2008, 2009)
12
12
2. Pemupukan urea
Penambahan urea pada lahan pertanian, menyebabkan terlepasnya CO2 yang digunakan selama proses pembuatan urea tersebut di pabrik dan emisi ini dihitung sebagai rosot di sektor industri. Urea (CO(NH)2)2) terlepas menjadi ammonium (NH4+), ion hidroksil (OH-), dan bikarbonat (HCO3-) dengan adanya air dan enzim urease. Pendekatan perhitungan emisi CO2 dari penggunaan pupuk urea di suatu wilayah harus mengetahui terlebih dulu jumlah penggunaan urea pertahunnya (data aktivitas) yang kemudian dikalikan dengan faktor emisi. Persamaan untuk menghitungnya adalah sebagai berikut :
Emisi CO2 = (M x EF) x 44/12
Dimana :
Emisi CO2 = emisi karbondioksida dari penggunaan urea (tCO2/ha) M = jumlah penggunaan urea (t/th)
EF = faktor emisi, tC/t urea
3. Emisi N2O langsung dari tanah yang dikelola (Direct N2O from managed soil)
Penambahan input N ke dalam tanah, akan menyebabkan peningkatan proses nitrifikasi-denitrifikasi yang kemudian meningkatkan pula emisi N2O. Pendekatan perhitungan N2O langsung dari tanah yang dikelola, memerlukan masukan data aktivitas jumlah seluruh pupuk N baik organik maupun anorganik yang diaplikasikan di tanah pertanian, dan harus dibedakan antara penggunaan untuk lahan kering dan lahan basah atau lahan sawah, hal ini dilakukan karena faktor emisi N2O sebagai hasil proses nitrifikasi dan denitrifikasi, berbeda besarannya antara yang dihasilkan di tanah dalam kondisi kering dan basah. Persamaan untuk menghitungnya adalah sebagai berikut :
Direct N2O = (((FSN + FON)MS x EF1MS ) + ((FSN + FON)FRx EFFR)))x 44/28
Keterangan :
N2O langsung = emisi N2O langsung dari pupuk N anorganik yang diberikan pada tanah dikelola dan lahan sawah irigasi (kg N2O/th)
FSNMS = jumlah pupuk N anorganik yang digunakan pada tanah dikelola (kg N/th)
FONMS = jumlah pupuk organik N yang digunakan pada tanah dikelola (kg
N/th)
FSNFR = jumlah pupuk N anorganik yang digunakan pada tanah sawah irigasi (kg N/th)
FONFR = jumlah pupuk N organik yang digunakan pada tanah sawah irigasi (kg N/th)
EF1MS = faktor emisi N2O dari N yang digunakan pada tanah dikelola (kg N2O-N/kg N input)
EF1FR = faktor emisi N2O dari N yang digunakan pada tanah sawah irigasi (kg N2O-N/kg N input)
13
13 Tabel 2.5 Faktor emisi N2O langsung dari tanah dikelola (Default direct N2O
emission factor from managed soil)
Faktor emisi Satuan Nilai Kisaran
Input N untuk lahan kering kg N2O-N per N input 0,01 0,003-0,03 Input N untuk sawah irigasi kg N2O-N per N input 0,003 0,000-0,006
Sumber : IPCC 2006 (angka kisaran adalah nilai standart deviasi)
4. Emisi N2O tidak langsung dari tanah yang dikelola (Indirect N2O from
managed soil)
Perhitungan emisi N2O tidak langsung dari tanah yang dikelola, tidak perlu membedakan penggunaannya di lahan kering maupun lahan sawah, karena besarnya fraksi deposisi N yang tervolatilisasi hanya berbeda pada jenis pupuk N, yaitu N anorganik dan organik. Pemberian pupuk N dalam tanah, selain secara langsung menghasilkan N2O pada tanah yang ditambahkan pupuk N, juga menghasilkan emisi N2O tidak langsung dari volatilisasi NH3 dan NOx dari tanah yang kemudian gas-gas ini dan produknya yang berupa nitrat dan nitrit diendapkan kembali ke dalam tanah dan air. Persamaan untuk menghitungnya adalah sebagai berikut :
Emisi N2O = ((FSN x FracGASF) + (FON x FracGASM)) x EF4 x 44/28
Keterangan :
Emisi N2O = emisi N2O dari deposisi N yang divolatilisasi dari tanah (kg N2O/th) FSN = jumlah pupuk N anorganik yang diberikan ke tanah ( kg N/th)
FracGASF = Fraksi pupuk N anorganik yang divolatilisasi menjadi NH3 dan NOx
FON = jumlah pupuk kandang yang diberikan ke tanah (kg N/th)
FracGASM = Fraksi pupuk N organik yang divolatilisasi menjadi NH3 dan NOx EF4 = faktor emisi N2O dari N atmosferik tanah dan permukaan air FracGASF = 0,10 dan FracGASM = 0,20
Tabel 2.6 Faktor emisi N2O tidak langsung dari tanah dikelola (Default
indirect N2O emission factor from managed soil)
Faktor emisi Satuan Nilai Kisaran
Dari deposit N pada tanah dan permukaan air
kg N2O-N per NH3-N + NOX-N
tervolaltilisasi
0,01 0,002-0,05
FracGasF volatilisasi dari pupuk sintetis
kg N2O-N per NH3-N + NOX-N per kg N yang digunakan
0,1 0,03-0,3
FracGasF volatilisasi dari semua pupuk N organic kg N2O-N per NH3-N + NOX-N per kg N yang digunakan 0,2 0,05-0,5 Sumber : IPCC 2006
14
14
5. Emisi GRK dari kegiatan peternakan
Emisi GRK dari kegiatan peternakan berasala dari 3 sumber yaitu emisi CH4 dari fermentasi enterik, emisi CH4 dari pengelolaan kotoran serta emisi N2O dari pengelolaan kotoran. Perhitungan emisi dari peternakan tentu saja yang paling utama adalah harus mengetahui jenis dan jumlah populasi ternak yang kemudian dikalikan dengan faktor emisi masing-masing sumber.
Gas CH4 diproduksi oleh herbivora sebagai hasil samping dari proses fermentasi enterik yaitu proses memecah karbohidrat oleh mikro-organisme menjadi molekul yang lebih kecil agar mudah dicerna. Emisi CH4 yang ditimbulkan terutama dipengaruhi oleh jenis alat pencernaan, umur dan jenis pakan. Persamaan untuk menghitung emisi CH4 dari fermentasi enterik adalah sebagai berikut :
CH4 Enterik = EF (T) x N(T) x 10-3
CH4 Enterik = emisi metana dari fermentasi enterik (tCH4/th)
EF (T) = faktor emisi fermentasi enterik dari jenis ternak tertentu (kg CH4/ekor/th)
N(T) = jumlah populasi ternak tertentu di suatu wilayah Tabel 2.7 Faktor emisi CH4 dari fermentasi enterik hewan
No Jenis ternak Faktor emisi CH4
(kg/ekor/tahun) 1 Sapi pedaging 47 2 Sapi perah 61 3 Kerbau 55 4 Domba 5 5 Kambing 5 6 Babi 1 7 Kuda 18 Sumber : IPCC 2006
Penyimpanan kotoran hewan dalam kondisi anaerob akan menyebabkan timbulnya emisi CH4 dan sebaliknya, apabila penyimpana secara aerob akan menimbulkan emisi N2O. Perhitungan emisi CH4 lebih mudah dibandingkan perhitungan emisi N2O-nya, karena data yang diperlukan hanyalah jumlah populasi ternak dan faktor emisinya (default IPCC), sedangkan untuk perhitungan emisi N2O, diperlukan juga data jumlah kotoran ternak dari jenis ternak tertentu di suatu wilayah dan berapa fraksi kotoran yang disimpan dengan sistem penyimpanan tertentu. Berikut ini adalah persamaan untuk menghitung emisi CH4
dan N2O dari pengelolaan kotoran ternak :
CH4 pengelolaan kotoran = EF (T) x N(T) x 10-3
15
15 EF (T) = faktor emisi pengelolaan kotoran dari jenis ternak tertentu (kg CH4/ekor/th)
N(T) = jumlah populasi ternak tertentu di suatu wilayah Tabel 2.8 Faktor emisi CH4 dari pengelolaan kotoran ternak
No Jenis ternak Faktor emisi CH4
(kg/ekor/tahun) 1 Sapi pedaging 1 2 Sapi perah 31 3 Kerbau 2 4 Domba 0,2 5 Kambing 0,22 6 Babi 7 7 Kuda 2,19 8 Ayam buras 0,02 9 Ayam ras 0,02 10 Ayam petelur 0,02 11 Bebek 0,02 Sumber : IPCC 2006
N2O Pengelolaan Kotoran = [ΣS [ΣT (N(T) xNex(T) x MS(T,S))] x EF3(S) ] x 44/28
N2O pengelolaan kotoran = emisi N2O dari pengelolaan kotoran di suatu wilayah (kg N2O/th)
N(T) = jumlah populasi ternak tertentu di suatu wilayah
Nex(T) = jumlah kotoran ternak per jenis ternak di suatu wilayah (kg N/ekor/th)
MS(T,S) = fraksi dari kotoran ternak yang disimpan dengan cara tertentu di suatu
wilayah
EF = faktor emisi N2O dari cara pengelolaan kotoran tertentu (kg N2O-N/kg N pada cara pengelolaan tertentu)
Perhitungan emisi dengan metode IPCC 2006 untuk emisi N2O langsung dari
tanah dikelola
Modifikasi metode IPCC 2006 digunakan untuk menduga besaran emisi N2O dari tanah sawah irigasi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengumpulan data aktivitas dan proses perhitungannya. Asumsi perhitungan bisa didekati dengan cara yang sama seperti perhitungan emisi CH4 dari lahan sawah, yaitu dengan menggunakan data aktivitas berupa luas lahan sawah, umur tanaman serta faktor emisinya. Dalam hal ini, faktor emisi N2O langsung diperoleh dengan cara yang sama faktor emisi CH4 dari lahan sawah, yaitu dengan mengkompilasi berbagai data hasil penelitian mengenai emisi N2O dari tanah sawah irigasi di Indonesia dengan berbagai macam cara budidaya dan kemudian mencari reratanya.
16
16
Hasil perhitungan dengan metode ini dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan persamaan IPCC 2006. Berikut adalah persamaan modifikasinya :
Emisi N2O langsung dari tanah dikelola = ((FSN + FON)MS x EF1MS x 44/28)+(A
x EFN2O)
A = luas panen sawah irigasi (ha),
EF N2O = faktor emisi N2O dari tanah sawah irigasi (0,0027 kg N2O/ha/hari atau sama dengan 0,297 kg N2O/ha/musim (Setyanto et al, 2011) dengan asumsi rerata umur tanam adalah 110 hari)
Setelah dipeoleh besaran emisi N2O langsung dari tanah yang dikelola dengan metode IPCC 2006 dan modifikasinya, maka untuk melihat apakah ada perbedaan antara 2 metode perhitungan tersebut adalah dengan menggunakan uji t pada taraf kepercayaan p=0,05. Uji t ini biasa digunakan untuk menentukan perbedaan masing-masing nilai tengah dari hasil 2 pengukuran yang berbeda.
Tabel dibawah ini adalah beberapa istilah yang terdapat dalam metode perhitungan emisi GRK dengan IPCC 2006 :
Hasil
Karakteristik Wilayah Kabupaten Grobogan
Kabupaten Grobogan secara geografis terletak di provinsi Jawa Tengah dengan posisi 110º15’ BT - 111º25’ BT dan 7º LS - 7º30’ LS dengan landform
berupa daerah pegunungan kapur, perbukitan dan dataran di bagian tengahnya. Wilayahnya terletak di antara dua Pegunungan Kendeng yang membujur dari arah barat ke timur, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Demak, sebelah utara dengan Kabupaten Kudus, Pati dan Blora. Sebelah timur dengan Kabupaten Blora serta sebelah selatan dengan Kabupaten Ngawi, Sragen dan Boyolali. Secara administratif terdiri dari 273 desa dan 7 kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan dengan ibu kota kabupaten di Purwodadi.
FSNMS : Synthetic N fertilizer applied to manage soil FONMS : Organic N fertilizer applied to manage soil FSNFR : Synthetic N fertilizer applied to flooded rice FONFR : Organic N fertilizer applied to flooded rice
FracGASF : fraction of syinthetic fertilizer N that volatilizes as NH3 and NOx
FracGASM : fraction of applied organic N fertilizer material that volatilizes as NH3 and NOx
17
17 Kabupaten Grobogan memilki luas wilayah 197.586 km² dengan bentang dari barat ke timur sejauh 83 km, sedangkan dari utara ke selatan sejauh 37 km. Wilayahnya merupakan pegunungan kapur dan perbukitan serta dataran rendah di bagian tengahnya:
1. Daerah dataran rendah berada pada ketinggian sampai 50 meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan 0o-8o meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Gubug, Tegowanu, Godong, Purwodadi, Grobogan sebelah selatan dan Wirosari sebelah selatan.
2. Daerah perbukitan berada pada ketinggian antara 50-100 meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan 8o-150o meliputi 4 kecamatan yaitu Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan sebelah utara dan Wirosari sebelah utara. 3. Daerah dataran tinggi berada pada ketinggian 100-500 meter di atas permukaan
air laut dengan kelerengan lebih dari 15o, meliputi wilayah kecamatan yang berada di sebelah selatan dari wilayah Kabupaten Grobogan.
Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten yang tiang penyangga perekonomiannya berada pada sektor pertanian dan merupakan daerah yang cenderung cukup sulit mendapatkan air bersih. Hasil laporan statistik tahunan (BPS, 2010) menyebutkan bahwa luas wilayah Kabupaten Grobogan seluruhnya adalah 197.586 ha yang terdiri dari sawah seluas 64.790 ha dimana 20.278 ha diantaranya atau 1/3 adalah sawah tadah hujan, perkebunan rakyat seluas 5.190 ha, hutan nasional seluas 68.633 ha dan sisanya adalah penggunaan lainnya (pemukiman, padang gembala, serta tambak/kolam).
Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Kabupaten Tanjung Jabung Timur terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 54 Tahun 1999 jo Undang-undang No. 14 Tahun 2000 dengan luas 5.445 km2 atau 10,2 % dari luas wilayah Propinsi Jambi, namun sejalan dengan berlakunya undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk perairan dan 30 pulau kecil (termasuk pulau berhala, 11 diantaranya belum bernama) mencapai 13.102 km2 (BPS, 2010). Disamping itu, memiliki panjang pantai sekitar 191 km atau 90,5 % dari panjang pantai Propinsi Jambi. Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang terletak di pantai timur Pulau Sumatera ini