AKUNTABILITAS KINERJA
KABUPATEN KARAWANG
dimana persentase realisasi anggaran mencapai 92,45%
Kebijakan Umum Pengelolaan Keuangan Daerah menjabarkan mengenai pelaksanaan kinerja pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Karawang pada tahun 2019 dengan memberikan penekanan pada analisis kinerja pengelolaan keuangan, baik pada aspek pendapatan, belanja, maupun pembiayaan.
Terdapat sejumlah aspek mendasar dalam uraian Bab III yang perlu mendapat perhatian, sehingga penjabaran yang disusun tentang keuangan daerah tahun anggaran 2019 dapat dipahami dengan kerangka pikir yang sama:
1. Komponen Pendapatan terdiri atas: (1) Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah; (2) Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus;
serta (3) Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah yang berasal dari Pendapatan Hibah, Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus, Bantuan 3.4.2. AKUNTABILITAS KEUANGAN APBD
KABUPATEN KARAWANG
119
Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya dan Bagi Hasil Retribusi dari Propinsi dan Pemerintah Lainnya.
2. Komponen belanja terdiri atas: (1) Belanja Tidak Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa, Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa dan Partai Politik, serta Belanja Tidak Terduga; (2) Belanja Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, dan Belanja Modal.
3. Komponen pembiayaan terdiri atas: (1) Penerimaan Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri atas Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya, Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman dan Penerimaan Piutang Daerah; (2) Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri atas Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah dan Pembayaran Pokok Utang.
A. Pengelolaan Pendapatan Daerah
1) Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah
Sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana amanat UU Nomor 23 Tahun 2014, maka kebijakan pengelolaan pendapatan diarahkan pada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah sebagai barometer tingkat kemandirian daerah dalam menjalankan amanat otonomi daerah. Namun demikian, PAD sebagai penerimaan daerah yang dapat dikendalikan (controllable) masih relatif kecil memberikan kontribusi terhadap APBD.
Sebagaimana diketahui, porsi realisasi dana transfer dalam neraca APBD Kabupaten Karawang masih menjadi sumber pendapatan utama. Dalam periode 2013-2017, proporsi realisasi dana perimbangan terhadap total pendapatan secara rata-rata sebesar 48,58 persen menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Karawang masih menggantungkan pembiayaan dari sumber Dana Perimbangan. Namun demikian jika melihat kecenderungan prosentase dana perimbangan yang semakin menurun, maka Pemerintah Daerah mempunyai potensi untuk memperkecil tingkat ketergantungan dengan pemerintah pusat dilihat dari proporsi PAD terhadap total pendapatan selama lima tahun rata-rata sebesar 29,57 persen dengan kecenderungan meningkat. Kondisi kapasitas fiskal Kabupaten Karawang berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2019 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah berada pada kategori sangat tinggi, dengan nilai 2,880.
Namun demikian, meskipun kondisi kapasitas Fiskal daerah Kabupaten Karawang berada pada kategori sangat tinggi, akan tetapi untuk pemenuhan kebutuhan pencapaian target RPJMD Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang harus terus berupaya untuk meningkatkan PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah secara
120
wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah perlu terus diupayakan melalui proses analisa dan perencanaan yang matang tanpa menimbulkan high cost economy terhadap perkembangan arus investasi. Upaya peningkatan PAD juga harus dilakukan dengan memperhatikan aspek biaya – manfaat yang dihasilkan, yaitu harus memperhitungkan rasio tingkat biaya pemungutan dengan tingkat realisasi penerimaan, oleh sebab itu efisiensi dan efektifitas pengelolaan pajak dan retribusi daerah oleh SKPD yang berkompeten harus dilakukan secara akuntabel. Kebijakan lain terkait peningkatan pendapatan asli daerah yang akan dilaksanakan adalah pendayagunaan kekayaan atau aset-aset daerah yang idle baik secara langsung maupun melalui bentuk kerjasama dengan pihak ketiga.
2) Kebijakan Pendapatan Daerah Tahun 2019
Rencana pendapatan daerah Kabupaten Karawang tahun anggaran 2019 dilakukan dengan mengacu pada potensi dan obyek pendapatan baik yang bersumber dari PAD, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, merupakan perkiraan yang terukur secara rasional, memiliki kepastian dan dasar hukum penerimaannya. Pendapatan daerah Kabupaten Karawang pada anggaran pendapatan tahun 2019 sangat bergantung dengan kondisi perekonomian Nasional, Regional dan lokal, serta ekonomi global.
Pelaksanaan Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, secara legal formal, dituangkan dalam UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UUNo 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat danPemerintahan Daerah. Selain itu, terdapat juga UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mengatur hal-hal mengenai kewenangan Pemerintah Daerah dalam melakukan pemungutan kepada masyarakat daerah guna mendapatkan sumber pendanaan bagi pembangunan daerah.
Dalam prakteknya, instrumen utama yang digunakan adalah pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak (taxing power) dan transfer ke daerah. UU Nomor 28 Tahun 2009 yang dikeluarkan dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2010 merupakan salah satu wujud upaya penguatan taxing power daerah, yaitu dengan perluasan basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada, penambahan jenis pajak daerah dan retribusi daerah, peningkatan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah, dan pemberian diskresi penetapan tarif pajak. Adapun optimalisasi pendapatan daerah melalui :
a) Optimalisasi pendapatan asli daerah yang diarahkan pada :
(1) Penyesuaian berbagai peraturan dalam rangka pelaksanaan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
(2) Pendekatan ekstensifikasi untuk perluasan basis pajak serta intensifikasi dalam bentuk perubahan regulasi guna
121
peningkatan basis pajak tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
(3) Peningkatan kepatuhan dan ketaatan wajib pajak dan pembayar retribusi daerah yang dibarengi dengan penerapan akuntabilitas dan pemantapan kelembagaan dan kinerja pelayanan unit pemungut dan pengelola pendapatan dalam bentuk insentif, pembinaan, pengawasan dan pengendalian serta perbaikan sistem dan prosedur kerja.
(4) Perbaikan kinerja dan pengelolaan BUMD yang efisien dan efektif dalam rangka peningkatan kontribusi laba terhadap pendapatan asli daerah.
(5) Peningkatan tarif retribusi daerah yang dipungut oleh Perangkat Daerah disertai peningkatan pengawasan pemungutannya (6) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan BLUD;
(7) Meningkatkan penerimaan daerah yang berasal dari deviden BUMD sebagai hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;
(8) Upaya peningkatan PAD juga harus dilakukan dengan memperhatikan aspek biaya – manfaat yang dihasilkan, yaitu harus memperhitungkan rasio tingkat biaya pemungutan dengan tingkat realisasi penerimaan, oleh sebab itu efisiensi dan efektifitas pengelolaan pajak dan retribusi daerah oleh SKPD yang berkompeten harus dilakukan secara akuntabel melalui proses analisa dan perencanaan yang matang tanpa menimbulkan high cost economy terhadap perkembangan investasi.
(9) Kebijakan lain terkait peningkatan pendapatan asli daerah yang akan dilaksanakan adalah pendayagunaan kekayaan atau aset-aset daerah yang idle baik secara langsung maupun melalui bentuk kerjasama dengan pihak ketiga;
(10) Penghimpunan data obyek dan subyek pajak daerah dan retribusi daerah, penentuan besarnya pajak daerah dan retribusi daerah yang terhutang sampai dengan kegiatan penagihan pajak daerah dan retribusi daerah kepada wajib pajak daerah dan retribusi daerah serta pengawasan penyetorannya.
b) Konsep revenue sharing atas perimbangan keuangan Pusat dan Daerah memerlukan langkah-langkah proaktif Pemerintah Kabupaten Karawang dalam : (a) Melakukan pemantauan, pendataan dan analisa terhadap wajib pajak seperti sumber daya alam dan kontribusi penerimaan yang disetorkan ke Pusat maupun Propinsi, dan (b) Berkoordinasi serta melakukan analisis perhitungan untuk menilai akurasi perhitungan terhadap formula bagi hasil dan dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi, sehingga alokasi yang diterima sesuai dengan kontribusi yang diberikan.
c) Upaya untuk memperoleh alokasi DAK diarahkan pada meningkatkan penyediaan data-data teknis, koordinasi
122
pengelolaan DAK secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah, sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai APBN dan APBD, serta meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. Berdasarkan kebijakan DAK, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, terdapat beberapa bidang yang memiliki potensi memperoleh alokasi DAK Fisik yang meliputi : (1) Pendidikan; (2) Kesehatan dan Keluarga Berencana; (3) Air Minum, (4) Sanitasi;
(5) Perumahan dan Permukiman; (6) Pasar; (7) Industri Kecil dan Menengah; (8) Pertanian; (9) Kelautan dan Perikanan; (10) Pariwisata; (11) Jalan. Sedangkan pada DAK Penugasan, peluang memperoleh alokasi, meliputi bidang : (1) pendidikan SMK; (2) Kesehatan RS Rujukan/Pratama (3) Air Minum (4) Sanitasi, (5) Jalan; (6) Pasar; (7) Irigasi; (8) Energi skala kecil dan menengah;
(9) Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dan DAK Affirmasi, meliputi bidang : (1) Kesehatan (Puskesmas); (2) Perumahan dan Permukiman; (3) Transportasi; (4) Pendidikan; (5) Air Minum; dan (6) Sanitasi.
d) Dana Insentif Daerah, dialokasikan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah tertentu berdasarkan kriteria tertentu dengan tujuan untuk memberikan penghargaan atas perbaikan kinerja tertentu di bidang tata kelola keuangan daerah, pelayanan dasar publik dan kesejahteraan masyarakat.
e) Kebijakan Dana Desa yang merupakan amanat dari UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang dialokasikan dalam APBD yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui APBD Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan, pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat yang dialokasikan untuk Desa dengan komposisi perhitungan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
3) Rencana dan Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2019
Pemerintah Kabupaten Karawang telah menetapkan anggaran Pendapatan Daerah tahun anggaran 2019 sebesar Rp.
4,830,299,290,668.00 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.26
RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN