i
B U P A T I K A R A W A N G
Dengan mengucap puji dan syukur kepada Allah SWT, kami telah menyelesaikan Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang Tahun 2019.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) disusun mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review atas laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan juga sebagai pertanggungjawaban terhadap anggaran yang sudah dipergunakannya.
LAKIP Tahun 2019 ini kami jadikan sebagai salah satu media komunikasi kami kepada publik dan para pemangku kepentingan lainnya untuk menyampaikan informasi kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang dalam memenuhi harapan akan terwujudnya Good Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik.
Dalam laporan ini pula kami menyajikan informasi terkait capaian kinerja berdasarkan target kinerja yang ditetapkan untuk periode Tahun 2019, yang mencakup keberhasilan maupun hambatan yang kami alami, sebagai cerminan dari kesungguhan kami untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja yang lebih transparan. Secara umum Lakip ini telah menggambarkan keseluruhan capaian kinerja dan program-program yang dilaksanakan sebagai upaya mencapai dan memenuhi target yang telah ditetapkan.
Akhir kata, Kami berharap Laporan Kinerja ini dapat dipahami dengan baik dan memenuhi harapan segenap pemangku kepentingan sehingga dapat menjadi media evaluasi dalam mengukur dan menilai kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang dalam mendukung perbaikan akuntabilitas kinerja di masa yang akan datang.
ii
aporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang Tahun 2019 ini merupakan laporan capaian kinerja (performance results) selama tahun 2019. Dengan kata lain Laporan Kinerja ini bermaksud untuk menyajikan satu informasi yang utuh atas upaya pelaksanaan pembangunan yang telah dilakukan dilihat dari tingkat capaian dan target sasaran strategis, selain itu juga mengungkapkan keberhasilan dan/atau kegagalan pelaksanaan program, kegiatan, hambatan-hambatan/kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan maupun strategi pemecahan masalah yang akan dilaksanakan di masa mendatang agar sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai yang direncanakan.
Berdasarkan hasil pengukuran atas seluruh target kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja (PK), Secara garis besar terlihat bahwa capaian kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang dapat dinyatakan sangat berhasil. Hal ini dapat dilihat dari nilai pencapaian kinerja dari 18 (Delapan Belas) sasaran strategis dan 23 indikator kinerja Utama Bupati Karawang sebagai ukuran keberhasilan pencapaian visi misi Bupati-Wakil Bupati Karawang Periode 2016-2021 sebagai kesimpulan pencapaian misi tahun 2019, terdapat 3 IKU (13%) belum mencapai target, 2 IKU (9%) belum memperoleh hasil pengukuran dari instansi yang berwenang, 1 IKU (4%)belum ada data dari BPS, dan 17 (74%) sudah mencapai target.
Dalam pelaksanaan pencapaian target indikator kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang juga didukung dengan adanya alokasi anggaran belanja daerah dalam APBD Pemerintah Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2019 anggaran sebesar Rp. 4,987,193,761,183.82 dan sampai dengan Desember 2019 dapat terealisasi Rp. 4,674,294,242,449.30 atau mencapai 93,73%. Sedangkan Berdasarkan Perjanjian Kinerja Bupati 2019
L
IKHTISAR EKSEKUTIF
iii
anggaran tahun 2019 sebesar Rp. 3.015.980.072.797,82 dengan realisasi anggaran Rp. 2.788.163.723.940,30 atau dicapai persentase realisasi anggaran 92,45%.
Keberhasilan capaian kinerja Tahun 2019 tidak terlepas dari adanya solusi untuk mengatasi hambatan dan kendala yang bersifat internal maupun eksternal. Terhadap berbagai target capaian maupun yang tidak tercapai Pemerintah Kabupaten Karawang akan melakukan langkah yang konstruktif dan kongkrit melalui analisis dan evaluasi agar dapat dilakukan perbaikan dan penanganan di masa mendatang. Kekurangan yang terjadi selama 2019 menjadi catatan yang tentunya akan menjadi bahan evaluasi penyusunan kebijakan guna memperbaiki kinerja tahun mendatang, sasaran program yang belum tercapai seratus persen akan dievaluasi, sehingga seluruh sasaran program tahun mendatang nantinya dapat dicapai lebih baik dari tahun sebelumnya. Evaluasi juga akan dilakukan terhadap capaian dari pembangunan jangka menengah, agar kendala yang dihadapi dan resiko kegagalanya dapat ditekan dan diperbaiki sedini mungkin dan dicari solusi untuk mengatasinya.
Demikian laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang Tahun 2019 ini. Secara ringkas seluruh capaian kinerja tersebut di atas, telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Pemerintah Kabupaten Karawang untuk meningkatkan kinerja di masa-masa mendatang.
iv
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
IKHTISAR EKSEKUTIF ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
BAB I : PENDAHULUAN1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Gambaran Umum Kabupaten Karawang 3
1.2.1. Kondisi Geografis 3
1.2.2. Gambaran Umum Demografi 4
1.2.3. Kondisi Ekonomi 10
1.3 Indikator Makro 19
1.4 Kedudukan, Kewenangan dan Struktur Organisasi 29
1.4.1. Kedudukan dan kewenangan 29
1.4.2. Struktur Organisasi 30
1.5 Isu-Isu Strategis 33
1.6 Dasar Hukum 34
1.7 Sistematika Pelaporan 36
BAB II : PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA 37
2.1 Indikator Kinerja Utama 37
2.2 Visi dan Misi Kabupaten Karawang 40
2.3 Perjanjian Kinerja Tahun 2019 54
2.4 Kebijakan Prioritas Pembangunan Tahun 2019 68 2.5 Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun 2018 71
BAB III : AKUNTABILITAS KINERJA 72
3.1 Kerangka Pengukuran Kinerja 73
3.2 Capaian Indikator Kinerja Utama 75
3.3 Pengukuran Kinerja Sasaran Tahun 2018 89
3.4 Akuntabilitas Keuangan 120
BAB IV : PENUTUP 153
LAMPIRAN :
Perjanjian Kinerja 2019 Capaian Kinerja Tahun 2019
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Karawang Tahun 2016- 2019
6 Tabel 1.2 Komposisi Penduduk Kabupaten Karawang Menurut
Struktur Usia Tahun 2012-2019
7 Tabel 1.3 Komposisi Penduduk 15 Tahun keatas yang bekerja di
Kabupaten Karawang Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012-2019
9
Tabel 1.4 Persentase Penduduk 15 Tahun keatas Kabupaten Karawang menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Tahun 2012-2016
10
Tabel 1.5 Jenis Komoditas dan Luas Tanam Tanaman Padi
sawah,Palawija, dan Holtikultura Kabupaten Karawang Tahun 2016-2019 (Ha)
11
Tabel 1.6 Jenis Komoditas dan Produktivitas Tanaman Padi Sawah, Palawija, dan Holtikultura Kabupaten Karawang Tahun 2016-2019 (Kw/Ha)
12
Tabel 1.7 Nama Kawasan Industri di Kabupaten Karawang 13 Tabel 1.8 Data Perkembangan Investasi di Kabupaten Karawang
Tahun 2016-2019
14 Tabel 1.9 Rekapitulasi Produksi dan Nilai Produksi (dalam Ton) 15 Tabel 1.10 Potensi Wisata di Kabupaten Karawang 15 Tabel 1.11 Peranan PDRB Kabupaten Karawang ADHB Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2016-2019 (juta rupiah/persen)
19 Tabel 1.12 Indikator Makro Pembangunan Kabupaten Karawang
Tahun 2017-2019 Berdasarkan RPJMD Kab. Karawang 2016-2021
20
Tabel 1.13 IPM dan Komponennya Tahun 2017-2019 21 Tabel 1.14 Peranan PDRB Kabupaten Karawang ADHB Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2016-2019 (juta rupiah/persen)
23 Tabel 1.15 Struktur Ekonomi Kabupaten Karawang Tahun 2016-
2019 atas Dasar Harga Berlaku (persen)
24 Tabel 1.16 Angka Agregatif PDRB Kabupaten Karawang, PDRB
Perkapita, LPE sektor Migas, Tingkat Inflasi tahun 2016- 2019
26
Tabel 1.17 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karawang menurut Lapangan Usaha Tahun 2016-2019 (Persen)
27 Tabel 1.18 Perkembangan dan Nilai Pendapatan Perkapita Kabupaten
Karawang Tahun 2016-2019
28 Tabel 1.19 Jumlah Penduduk dan LPP Kabupaten Karawang Tahun
2018-2019
29 Tabel 1.20 Data Ketenagakerjaan Kabupaten Karawang tahun 2018-
2019
30
v
Tabel 1.21 Pencari Kerja yang Sudah Ditempatkan di Kabupaten Karawang tahun 2016-2019 (orang)
31 Tabel 2.1 Target Indikator Kinerja Utama Kabupaten Karawang
Tahun 2019
43 Tabel 2.2 Visi RPJPD, RPJMN, dan RPJMD Provinsi Jawa Barat 47 Tabel 2.3 Perjanjian Kinerja Kabupaten Karawang Tahun 2019 45 Tabel 3.1 Capaian Indikator Kinerja Utama Kabupaten Karawang
Tahun 2018
74 Tabel 3.2 Nilai evaluasi Laporan Kinerja Pemkab 86 Tabel 3.3 Opini BPK terhadap laporan keuangan Daerah 87
Tabel 3.4 Skor dan Status LPPD 88
Tabel 3.5 Nilai Indeks Reformasi Birokrasi 91
Tabel 3.6 Indeks Kesehatan 92
Tabel 3.7 Laju Pertumbuhan Penduduk 93
Tabel 3.8 Indeks Pendidikan 94
Tabel 3.9 Indeks pembangunan Gender 95
Tabel 3.10 Nilai Evaluasi Kota Layak Anak 96
Tabel 3.11 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 97
Tabel 3.12 Nilai Tukar Petani 98
Tabel 3.13 Peningkatan Produktivitas Tanaman Padi 98
Tabel 3.14 Skor PPH 99
Tabel 3.15 Persentase Pendapatan masyarakat perikanan (dalam %) 100
Tabel 3.16 Jumlah Wisatawan 101
Tabel 3.17 Persentase penyelesaian pelanggaran perda dan perbup di Kab. Karawang
102 Tabel 3.18 Angka Partisipasi Pilpres/Pileg/Pilgub 103 Tabel 3.19 Panjang Jaringan Jalan Kabupaten Dalam Kondisi
Baik(dalam persen)
104 Tabel 3.20 Panjang Saluran Irigasi Kabupaten Yang Kondisinya
Baik(dalam persen)
105
Tabel 3.21 Rasio rumah layak huni 106
Tabel 3.22 Persentase penanganan sampah perkotaan 107 Tabel 3.23 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 109 Tabel 3.24 Persentase Desa Dengan Status Desa Tertinggal 110 Tabel 3.25 Capaian Kinerja Kabupaten Karawang Tahun 2019 111 Tabel 3.26 Ringkasan Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Daerah
Tahun Anggaran 2019
118
Tabel 3.27 Pajak Daerah Tahun 2019 120
Tabel 3.28 Retribusi Daerah Tahun 2019 121
Tabel 3.29 Lain-lain PAD yang sah Tahun 2019 121 Tabel 3.30 Rencana dan Realisasi Belanja Tidak Langsung
Pemerintah Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2019
141 Tabel 3.31 Rencana dan Realisasi Belanja Langsung Pemerintah Kab.
Karawang
Tahun Anggaran 2019
142
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dinamika perkembangan skala global, regional, maupun nasional, saat ini, setiap pemerintahan menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari semua pihak.
Paradigma Good Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik, merupakan bagian dari paradigma baru yang berkembang terutama pasca krisis multi dimensi seiring dengan tuntutan era reformasi.
Situasi dan kondisi ini menuntut adanya pemerintahan, yang diharapkan mampu menjawab tantangan dimasa yang akan datang.
Salah satu upaya pemerintah dalam memasyarakatkan penerapan paradigma Kepemerintahan yang baik (Good Governance) yang memberikan peran dan fungsi yang seimbang antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pembangunan, antara lain dengan mengimplementasikan dengan prinsip- prinsip mendasarinya konsep good governance transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Apabila keseimbangan peran dari ketiga aktor tersebut dapat diterapkan, maka prinsip dasar dari Good Governance tersebut dapat dirasakan oleh pihak-pihak yang terkait. Hal ini juga memudahkan Institusi Pemerintah dalam melaksanakan pemerintahan dan mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada masyarakat secara transparan, partisipasi dan akuntabilitas kebijakan publik.
Selain implementasi Good Governance, tuntutan dalam era reformasi adalah mewujudkan reformasi birokrasi yang mampu mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang akuntabel serta masyarakat yang menuntut kesungguhan pemerintah dalam menanggulangi korupsi,
2
kolusi, dan nepotisme sehingga tercipta pemerintahan yang bersih dan mampu menyediakan pelayanan publik (public goods dan public service). Agar Good Governance dan reformasi birokrasi di atas menjadi kenyataan diperlukan komitmen yang tinggi dari semua pihak terutama yaitu pemerintah yatu menjalankan suatu sitem pemerintahan yang berdasarkan integritas, akuntabilitas, transparansi serta profesionalitas, dan etos kerja (kinerja) yang tinggi. Untuk hal itu perlu dikembangkan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas dan nyata, sehingga pemerintah dan pembangunan berlangsung secara berhasil guna, berdaya guna, bersih, bertanggung jawab, dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Sejalan dengan tututan masyarakat, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menetapkan Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Ketetapan ini ditindaklanjuti oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang menetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Dalam rangka melaksanakan Ketetapan MPR RI tersebut Presiden Republik Indonesia menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diperbaharui oleh Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2015 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang salah satunya mengamanatkan bahwa Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah untuk menyusun Pelaporan Kinerja. Pada tingkat kebijakan pelaksanaan, telah ditetapkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diperbaharui oleh Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan Kinerja dibuat dalam rangka perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada setiap Instansi Pemerintah, berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. Laporan Kinerja juga berperan sebagai alat kendali, alat penilai kinerja dan alat pendorong terwujudnya good governance.
Selanjutnya Sebagaimana pelaksanaan pada tahun sebelumnya, maka dokumen Laporan Kinerja yang tertuang dalam buku ini akan memuat berbagai informasi berkaitan dengan hasil pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selama tahun anggaran 2019.
3
Kabupaten Karawang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, dimana secara geografis terletak antara 1070,02’ - 1070,40’ BT dan 50,56’ - 60,34’ LS, termasuk daerah dataran yang relatif rendah, dengan variasi ketinggian wilayah antara 0 - 1.279 meter di atas permukaan laut dan kemiringan wilayah 0 - 20, 2 - 150, 15 - 400, dan diatas 400.
Kabupaten Karawang memiliki luas wilayah 1.753,27 Km2 atau 175.327 Ha, dan laut seluas 4 Mil x 84,23 Km, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Laut Jawa
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Subang - Sebelah Tenggara : Berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta - Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kab. Bogor dan Kab.Cianjur - Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Bekasi
1.2. GAMBARAN UMUM KABUPATEN
KARAWANG 1.2.1. KONDISI GEOGRAFIS
4
Topografi di Kabupaten Karawang sebagian besar berbentuk dataran yang relatif rendah (25 m dpl) terletak pada bagian utara mencakup Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Tirtajaya, Pedes, Rengasdengklok, Kutawaluya, Tempuran, Cilamaya, Rawamerta, Telagasari, Lemahabang, Jatisari, Klari, Karawang, Tirtamulya, sebagian Telukjambe, Jayakerta, Majalaya, sebagian Cikampek dan sebagian Ciampel. Hanya sebagian kecil wilayah yang bergelombang dan berbukit - bukit dibagian selatan dengan ketinggian antara 26 – 1.200 dpl. Daerah perbukitan tersebut antara lain : Gunung Pamoyanan, Dindingsari, Golosur, Jayanti, Godongan, Rungking, Gadung, Kuta, Tonjong, Seureuh, Sinalonggong, Lanjung dan Gunung Sanggabuana. Terdapat pula Pasir Gabus, Cielus, Tonjong dengan ketinggian bervariasi antara 300 - 1.200 m dpl dan tersebar di Kecamatan Tegalwaru, sebagian kecil Kecamatan Pangkalan dan Kecamatan Ciampel.
Kabupaten Karawang dilalui oleh beberapa sungai yang bermuara di Laut Jawa. Sungai Citarum merupakan pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi, Sungai Cilamaya merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang, sedangkan Sungai Cibeet yang menyatu dengan Sungai Citarum di Kecamatan Telukjambe Barat merupakan batas pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi dan Bogor di wilayah selatan. Selain sungai, terdapat 3 buah saluran irigasi yang besar, yaitu : Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah, dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik.
Sesuai dengan bentuk morfologinya Kabupaten Karawang memiliki temperatur udara rata - rata 27°C dengan tekanan udara rata - rata 0,01
5
milibar. Penyinaran matahari 66% dan kelembaban nisbi 80%. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.100 – 3.200 mm/ tahun. Pada bulan Januari sampai dengan April bertiup angin Muson Laut dan sekitar bulan Juni bertiup angin Muson Tenggara. Kecepatan angin antara 30 - 350km/jam, lamanya tiupan rata - rata 5 - 7 jam.
Penduduk Kabupaten Karawang Tahun 2019 diproyeksikan berjumlah 2.353.915 jiwa, dengan rata - rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 0,77 % dan tingkat kepadatan penduduknya terus menunjukkan trend meningkat, dari sebelumnya hanya 1.309 jiwa per km2 di tahun 2016 naik pada tahun 2019 menjadi 1.343 jiwa per km2.
Komposisi penduduk Kabupaten Karawang adalah sebagai berikut:
a) Komposisi Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk laki - laki di Kabupaten Karawang pada tahun 2019 sebanyak 1.205.186 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 1.148.729 jiwa. Laju Pertumbuhan Penduduk tahun 2019 turun menjadi 0,77% dibanding tahun 2018, akan tetapi tingkat kepadatannya meningkat 11 poin pada tahun 2019. Sementara rasio jenis kelamin sebesar 1,05 %, artinya setiap 100 orang perempuan berbanding dengan 105 orang laki-laki.
Tabel 1. 1
Jumlah Penduduk Kabupaten Karawang Tahun 2016 – 2019
No Uraian Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019 (proyeksi) 1. Jumlah Penduduk 2.295.778 2.316.489 2.336.009 2.353.915 2. Komposisi menurut Jenis Kelamin:
a. Pria 1.177.310 1.187.274 1.196.692 1.205.186 b. Wanita 1.118.468 1.129.215 1.139.317 1.148.729 3. Pertumbuhan (LPP
%)
0,98 0,90 0,84 0.77
4. Tingkat Kepadatan Penduduk (per km2)
1.309 1.321 1.332 1.343 Sumber : Proyeksi Penduduk Kabupaten Karawang 2010 - 2020 berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2010 BPS Kabupaten Karawang
1.2.2. GAMBARAN UMUM DEMOGRAFIS
6
b) Komposisi Penduduk berdasarkan Struktur Usia
Komposisi penduduk Kabupaten Karawang berdasarkan usia pada tahun 2019 terdiri atas penduduk berusia 5 – 9 tahun berjumlah 205.140 jiwa atau sekitar 8,71 % dan 10 -14 tahun berjumlah 208.833 jiwa atau sekitar 8,87 %.
Penduduk Kabupaten Karawang usia produktif atau usia 15 – 64 tahun pada tahun 2019 berjumlah 1.609.501 jiwa atau sekitar 68,37 %. Berdasarkan komposisi penduduk dapat dilihat angka beban ketergantungan (dependency ratio) yaitu perbandingan antara penduduk usia non-produktif dengan penduduk usia produktif. Pada tahun 2019 nilai dependency ratio menunjukan angka 46,3 % yang berarti bahwa dari 100 orang usia produktif menanggung beban sekitar 46 orang yang tidak produktif. Pada tahun 2016 – 201 terjadi trend peningkatan angka beban ketergantungan (dependency ratio), dari sebelumnya 46,18 di tahun 2016 terus meningkat menjadi 46,3 di tahun 2019 artinya beban penduduk usia produktif menanggung penduduk usia tidak produktif terus bertambah.
7
Tabel 1. 2
Komposisi Penduduk Kabupaten Karawang menurut Struktur Usia
Tahun 2016 - 2019 Struktur Usia
(dalam tahun)
Tahun 2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019 (proyeksi) 5 – 9 200.119 201.907 203.593 205.140 10 – 14 203.436 205.349 207.162 208.833 15 – 64 1.570.527 1.584.440 1.597.522 1.610.501 Angka Beban
Ketergantungan (Dependency Ratio)
46,18 46,2 46,23 46,3
Sumber : Proyeksi Penduduk Kabupaten Karawang 2010 - 2020 berdasar Hasil SP2010 BPS Kabupaten Karawang
c) Komposisi Penduduk berdasarkan Lapangan Usaha
Jumlah penduduk bekerja berdasarkan lapangan usaha di Kabupaten Karawang pada tahun 2018 sebanyak 1.026.586 orang. Dari jumlah tersebut, sebesar 165.031 orang atau sekitar 16,15% bekerja pada lapangan usaha pertanian dan perikanan.
Pada lapangan usaha perdagangan besar, rumah makan dan hotel memberikan kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja sebesar 290.834 orang atau sekitar 28.33%. Sedangkan pada lapangan usaha industri pengolahan menyerap tenaga kerja sebesar 255.942 orang atau sekitar 24,93%.
Mencermati trend serapan tenaga kerja jenis usaha jasa kemasyarakatan cenderung mengalami kenaikan pada tahun 2017 sebesar 135.674 dan meningkat di tahun 2018 sebesar 156.566 atau naik 8,66% sementara sektor perdagangan cenderung menguat pada tahun 2017 yaitu sebesar 334.873 orang dibandingkan tahun 2015 sebesar 237.360. Artinya bahwa permintaan tenaga kerja sektor perdagangan telah menjadi salah satu kunci untuk mengurangi tingkat pengangguran masyarakat
8
Karawang, pada saat sektor industri pengolahan mengalami pelambanan serapan tenaga kerja akibat melemahnya perekonomian global. Di sisi lain, serapan tenaga kerja sektor pertanian dan perikanan mengalam kenaikan dari tahun 2017 sebesar 143.337 menjadi 165.031 pada tahun 2018, yang menunjukkan transisi tenaga kerja pada sektor primer ke sektor- sektor lainnya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kondisi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Karawang secara berkelanjutan karena minat tenaga kerja di sektor pertanian dan perikanan masih cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Tabel 1. 3
Komposisi Penduduk 15 Tahun keatas yang Bekerja
di Kabupaten Karawang menurut Lapangan Usaha Tahun 2016 – 2019
Lapangan Usaha
Tahun 2016N/A
Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019N/A Jumlah
Naker
% Jumlah Naker
% Jumlah Naker
% Juml ah Nake
r
%
Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan
Perikanan
N/A N/A 143.337 14,18 165.031 16,08 N/A N/A
Industri Pengolahan
N/A N/A 261.977 25,92 255.942 24,93 N/A N/A Perdaganga
n Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel
N/A N/A 334.873 33,13 290.834 28,33 N/A N/A
Jasa
Kemasyarak atan
N/A N/A 135.674 13,42 156.566 15,25 N/A N/A
Lainnya N/A N/A 134.967 13,35 158.213 15,41 N/A N/A TOTAL N/A N/A 1.010.828 100,0
0
1.026.586 100,0 0
N/A N/A Sumber : Data Hasil Survey Angkatan Kerja Nasional, BPS Kab. Karawang Keterangan : *) = angka sementara
N/A) = data belum tersedia
9
d) Persentase Penduduk 15 Tahun keatas berdasarkan Tingkat Pendidikan
Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Karawang secara umum masih relatif rendah atau masih dalam taraf pendidikan sekolah dasar. Berdasarkan data Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Barat, BPS Provinsi Jawa Barat, tahun 2019 yang sekolah SD kebawah terdapat 44,59 % lebih baik dibanding dengan tahun 2018 yang sekolah SD kebawah sebesar 45,93 % berdasarkan usia penduduk 15 tahun keatas. Jumlah persentase penduduk yang sekolah SD sebanyak 44,59 % pendidikan SLTP 21,25 % dan SLTA 29,48 %.
Peningkatan yang signifikan yaitu pada pendidikan Sarjana pada tahun 2019 sebesar 3,07 % dibandingkan pada tahun 2018 yang hanya 1,47 %, hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat akan pendidikan lanjutan makin meningkat mengingat Kabupaten Karawang yang merupakan daerah yang berkembang pesat maka sumber daya masyarakat Karawang harus lebih siap menjawab tantangan salah satunya dengan pendidikan. Program Beasiswa Karawang Cerdas merupakan salah satu program yang membantu warga masyarakat Karawang untuk dapat meningkatkan rata-rata lama sekolah, terbukti dengan adanya peningkatan tingkat pendidikan SLTA dan Sarjana di tahun 2019 lebih tinggi dibanding dengan tahun 2018. Perubahan yang cukup positif terjadi pada penduduk yang berpendidikan SMP keatas yang terus meningkat diiringi dengan penurunan jumlah penduduk berpendidikan SD kebawah secara kontinu.
Tabel 1. 4
Persentase Penduduk 15 Tahun keatas Kabupaten Karawang menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Tahun 2016 – 2019 No. Tingkat Pendidikan 2016 2017 2018 2019 1. Tidak Tamat SD 19,69 13,62 21,12 16,14
2. SD 38,08 35,42 24,81 28,45
3. SLTP 15,55 22,37 22,64 21,25
4. SLTA 15,24 25,20 18,18 29,48
5. Diploma I - II 7,67 0,28 7,20 0,17
6. Diploma III 0,36 1,16 0,20 1,43
7. Diploma IV/S1 1,19 1,94 1,47 3,07
Sumber : BPS Kabupaten Karawang Keterangan : *) = angka sementara
10 a. Potensi Unggulan Daerah
1) Potensi Pertanian
Kabupaten Karawang merupakan lumbung padi Jawa Barat dan salah satu daerah yang dapat memberikan kontribusi kebutuhan beras nasional setiap tahunnya mencapai 32,4 Juta ton/tahun.
Tabel 1. 5
Jenis Komoditas dan Luas Tanam
Tanaman Padi Sawah, Palawija, dan Hortikultura Kabupaten Karawang Tahun 2016 - 2019 (Ha) No Uraian Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019 1 Padi Sawah 200.168 195.184 181.720 176.602
2 Kedelai 1.162 1.575 3.955,5 -
3 Kacang Hijau
193 345 324 -
4 Jagung Pipilan Kering
806 457 1.052,5 555
5 Ketela Pohon
173 106 120 47
6 Ubi Jalar 7 77 1 40
Sumber :Dinas Pertanian Kabupaten Karawang 1.2.3. KONDISI EKONOMI
11
Tabel 1. 6
Jenis Komoditas dan Produktivitas
Tanaman Padi Sawah, Palawija, dan Hortikultura Kabupaten Karawang Tahun 2016 – 2019 (Kw/Ha)
No Uraian Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019
1 Padi Sawah 75,39 69,01 78,40 74,53
2 Kedelai 15,70 15,48 12,98 15,66
3 Kacang Hijau 13,84 10,59 10,13 9,67
4 Jagung Pipilan Kering 60,20 56,69 59,03 59,73
5 Ketela Pohon 167,07 129,95 178,05 145
6 Ubi Jalar 147,48 129,95 110 -
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karawang 2) Potensi Industri
Industri di Kabupaten Karawang dikembangkan di lahan seluas 13.718 Ha atau 7.85% dari luas Kabupaten Karawang, terdiri atas:
a. Kawasan Industri seluas 36.757,5 Ha (terdiri atas Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Ciampel, Klari dan Kecamatan Cikampek).
b. Kawasan Industri Terpadu seluas 743 Ha di Kecamatan Telukjambe Barat.
c. Kota Industri seluas 1000 Ha di Kecamatan Cikampek.
d. Zona Industri seluas 5.217,6 Ha (Kecamatan Klari, Kecamatan Purwasari, Kecamatan Cikampek, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Ciampel, Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Telukjambe Barat, Kecamatan Karawang Barat, Kecamatan Karawang Timur, Kecamatan Rengasdengklok).
Sampai saat ini pengembangan kegiatan industri di Kabupaten Karawang dialokasikan pada bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Klari, Cikampek, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Purwasari, Karawang, Jatisari, Pangkalan dan Cikampek. Walaupun begitu tidak semuanya berkembang, terutama yang diperuntukan untuk Kawasan Industri terpadu di Kecamatan Telukjambe Barat seluas kurang lebih 743 Ha, 200 Ha fungsinya sudah dikembalikan pada semula sebagai lahan Perhutani. Lambatnya perkembangan kegiatan industri tersebut diakibatkan terbitnya Undang - Undang Nomor 3 Tahun 2014 yang mengharuskan kegiatan industri dilakukan di kawasan sehingga mengurangi daya tarik investasi. Kegiatan industri yang relatif berkembang diantaranya Kota Industri di bagian timur (Kota Bukit Indah City) Kecamatan Cikampek, Kawasan Industri (Kecamatan Telukjambe Timur dan Pangkalan), Zona Industri (Kecamatan Telukjambe Timur, Klari, Cikampek dan Karawang).
12
Kawasan industri di Kabupaten Karawang yang sudah beroperasi sampai dengan tahun 2018 sebanyak 23 kawasan, dengan rincian sebagaimana yang terlampir pada Tabel 1. 7.
Tabel 1. 7
Nama Kawasan Industri di Kabupaten Karawang No Kawasan
Industri
Luas Lahan *)
Terpa kai
Lahan Tersedi
a
Status Izin
Lokasi/Ke camatan
1 PT Mitra
Karawang Jaya
500 500 0 Izin
Usaha
Ciampel 2 PT Hutan Pertiwi
Lestari
200 0 200 Izin
Prinsip
Telukjamb e Barat 3 PT Kawasan
Industri Kujang Cikampek KIKC)
100 100 0 Izin
Usaha
Cikampek
4 PT. Maligi Permata
Industrial Estate
400 381.5 18.5 Izin Usaha
Telukjamb e Barat 5 PT. Suryacipta
Swadaya
1,400 1100 300 Izin Usaha
Ciampel
6 PT. Karawang Jabar Industrial Estate
400 362 38 Izin Usaha
Telukjamb e Barat 7 PT. Hab & Son 350 347 3 Izin
Usaha
Telukjamb e Barat 8 PT. Karawang
Tata Bina
300 275.5 24.5 Izin Usaha
Telukjamb e Barat 9 PT. Rasindo
Perkasa
83 83 0 Izin
Usaha
Telukjamb e Barat 10 PT. Karawang
Cipta Persada
180 0 180 Izin
Usaha
Telukjamb e Barat 11 PT. Daya
Kencanasia
135 0 135 Izin
Usaha
Telukjamb e Barat 12 PT. Indotaisei
Indah
Development
500 500 0 Izin
Usaha
Cikampek
13 PT. Mandala Pratama Permai
302 202 100 Izin Usaha
Cikampek 14 PT. Canggih
Bersaudara Muliajaya
300 0 300 Izin
Usaha
Telukjamb e Barat 15 PT. Bintang
Puspita Dwikarya
400 300 100 Izin Usaha
Telukjamb e Barat 16 PT. Persada 300 0 300 Izin Ciampel
13 Nusa
Makmurindo
Lokasi 17 PT. Intan Bhakti
Buana
170 0 170 Izin
Lokasi
Ciampel
18 PT. Juishin Indonesia
345 0 345 Izin
Lokasi
Pangkalan 19 PT. Minriko
Touvel
200 0 200 Izin
Lokasi
Telukjamb e Barat 20 PT. Mas Putih
Belitung
400 0 400 Izin
Lokasi
Pangkalan 21 PT. Karawang
Sukses Makmur
134 0 134 Izin
Lokasi
Telukjamb e Timur 22 PT. Buana
Makmur Indah
285,223 0 134 Izin Prinsip
Telukjamb e Barat
23 PT. CFLD 205 0 205 Izin
Prinsip
Telukjamb e Barat Sumber : Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Karawang Tahun 2019
Tabel 1. 8
Data Perkembangan Investasi di Kabupaten Karawang Tahun 2016 – 2019
No Tahun Jumlah Investasi (Rp. Trilyun)
1. 2016 27.348
2. 2017 29.418
3. 2018 20.023
4. 2019 24,296
Sumber : Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Karawang
3) Potensi Perikanan
Sumber perikanan di Kabupaten Karawang berasal dari:
14 Tabel 1. 9
Rekapitulasi Produksi dan Nilai Produksi (dalam Ton) Sumber : Dinas Perikanan Kabupaten Karawang
a. Perikanan tangkap (laut dan perairan umum) dengan produksi 8.981,98 Ton pada tahun 2019 atau terdapat kenaikan sebesar 1,25% dibandingkan produksi perikanan pada tahun 2018 sebesar 8.871,39 Ton.
b. Perikanan budidaya (tambak, kolam dan sawah) dengan produksi 44.477,89 Ton pada tahun 2019 atau naik sebesar 1,03 % dibandingkan produksi pada tahun 2018 sebesar 44.024,95 Ton
c. Produk olahan hasil perikanan (pindang, ikan asin, terasi dan krupuk) dengan produksi 37.049,50 Ton pada tahun 2019 atau naik sebesar 1,44 %dibandingkan tahun 2018 sebesar 36.525,08 Ton
d. Produk garam dengan produksi 11.876,00 Ton
Produksi garam memang sangat melimpah hal ini dibuktikan dengan produksi yang mengalami peningkatan
NO URAIAN JUMAH RTP REKAPITULASI TAHUN 2019
2017 2018 2019 TARGET CAPAIAN % I Produksi Ikan
1. Perikanan Budidaya
44.208,14 44.477,89 100,61 a. Tambak 3.391 3.391 3.391 40.701,82 40.962,48 100,64 b. Kolam 3.937 3.937 3.937 2.920,03 2.947,85 100,95 c. Sawah/
Minapadi
953 953 953 305,75 284,29 92,99 d. Jaring
Apung/ KJA
115 115 115 280,57 283,27 100,96 2. Perikanan
Tangkap
8.940,86 8.981,98 100,46 a. Laut 1.559 1.559 1.689 8.845,00 8.902,21 100,65 b. Perairan
Umum
95,86 79,77 83,21
Sungai 710 710 710 30,81 25,11 81,49
Bekas Galian C
440 440 440 56,76 50,46 88,89
Rawa 140 140 140 8,28 4,20 50,70
II Produksi Hasil Olahan Ikan
36.198,57 37.049,50 102,35 1. Pindang 4.501 4.501 4.501 30.392,59 31.163,11 102,54 2. Ikan Asin 240 240 240 4.237,52 4.292,60 101,30 3. Terasi 264 264 264 305,85 313,50 102,50 4. Kerupuk 44 44 44 1.262,61 1.280,29 101,40 III Produksi Garam 109 109 180 1.020,62 11.876,00 1.163,61
15
sebesar 198,27 % dibandingkan tahun 2018 sebesar 3.981,69 Ton.
4) Potensi Pariwisata
Potensi pariwisata di Kabupaten Karawang sangat menjanjikan untuk dibangun. Karawang memiliki jenis tujuan wisata yang bervariasi, lebih dari 35 tujuan wisata tersebar di wilayah Kabupaten Karawang yang dapat dikategorikan kedalam wisata budaya, wisata sejarah, wisata tirta, wisata alam, wisata keagamaan dan wisata kuliner.
Tabel 1. 10
Potensi Wisata di Kabupaten Karawang Potensi
Wisata Objek Wisata Lokasi
Objek Wisata Budaya
a. Situs dikelola oleh BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Banten 1. Situs Batujaya
Terdiri dari atas situs segaran 1 s/d 8 dan situs Telagajaya 1 s/d 8
Kecamatan Batujaya
2. Kawasan Candi Batujaya Kecamatan Batujaya 3. Situs Cibuaya
Terdiri atas Situs Lanang dan Situs Wadon
Kecamatan Batujaya
4. Situs Kebonjambe Kecamatan
Tegalwaru b. Kawasan Cagar Budaya
1. Makam Mantan Bupati Karawang Kecamatan cilamaya kulon
2. Kawasan Kuta Tandingan Kecamatan Ciampel 3. Patilasan Tubagus Rangin Kecamatan
Rawamerta 4. Patilasan Joko Tingkir Kecamatan Rawamerta
5. Makam Syekh Quro Kecamatan
Lemahabang Objek
Wisata Sejarah
1. Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok
Kecamatan Rengas dengklok
2. Rumah Djiouw Ki Siong Kecamatan Rengas dengklok
3. Monumen Rawa gede Kecamatan
Rawamerta 4. Monumen Suroto kunto Kecamatan
Karawang Timur 5. Monumen Resimen V Cikampek Kecamatan
Cikampek
16 Potensi
Wisata Objek Wisata Lokasi
6. Taman Makam Pahlawan Kecamatan Purwasari 7. Peristiwa Gunung Goong Kecamatan
Pangkalan 8. Peristiwa Rawasikut Kecamatan
Telagasari
9. Peristiwa Karawang Kecamatan
Karawang dan sekitarnya
Objek Wisata Tirta, berupa danau buatan dan kolam renang
1. Situ Kamojing Kecamatan
Cikampek 2. Kolam Renang Tirtasari Kecamatan
Cikampek
3. Bendungan Perisdo Walahar Kecamatan Klari
4. Situ Gembol Kecamatan
Karawang Barat 5. Kolam Renang Sportif Kecamatan
Karawang Barat 6. Kolam Renang Tirta Angsana Kecamatan
Karawang Barat 7. Kolam Renang PD Prakasa Kecamatan
Karawang Barat 8. Kolam Renang Permata Rubi Kecamatan
Karawang Barat
9. Situ Cipule Kecamatan Ciampel
10. Danau San Diego Hills Kecamatan
Telukjambe Barat 11. Kolam Renang PT. Bukit Muria Jaya
Resinda
Kecamatan
Telukjambe Timur 12. Kolam Renang Mutiara Kecamatan
Karawang Timur 13. Kolam Renang DG’S Pool Waterboom Kecamatan Rengas
dengklok 14. Kolam Renang PKPRI KGL Kecamatan
Lemahabang
15. Kolam Renang Tirtakencana Kecamatan Jatisari 16. Kolam Renang Tirta Ilani Kecamatan Cilamaya
Kulon 17. Wahana Bermain Batu Tumpang
Adventure Camp
Kecamatan Tegalwaru 18. Kampung Wisata Curug Cigentis Kecamatan
Pangkalan 19. Waterpark Wonderland Kecamatan
Telukjambe Timur
17 Potensi
Wisata Objek Wisata Lokasi
20. Kampung Budaya Gerbang Karawang Kecamatan
Telukjambe Timur Objek
Wisata Alam, berupa alam pegunung an dan pantai
1. Curug Bandung Kecamatan
Tegalwaru
2. Curug Peuteuy Kecamatan
Tegalwaru
3. Curug Cigentis Kecamatan
Tegalwaru
4. Curug Lalay Kecamatan
Tegalwaru
5. Curug Cipanundaan Kecamatan
Tegalwaru
6. Curug Santri Kecamatan
Tegalwaru
7. Curug Cikoleangkak Kecamatan
Tegalwaru
8. Gunung Sanggabuana Kecamatan
Tegalwaru
9. Pantai Tanjungpakis Kecamatan Pakisjaya 10. Pantai Samudra Baru Kecamatan Pedes 11. Pantai Tanjung Baru Kecamatan Cilamaya
Kulon
12. Pantai Pasir Putih Kecamatan Cilamaya Kulon
13. Buana Wisata Cikeong Kecamatan Tirtajaya
14. Green Canyon Kecamatan
Pangkalan 15. Wisata Puncak Sempur Kecamatan
Tegalwaru
16. Wisata Pohon Pinus Kecamatan
Tegalwaru 17. Pantai Tangkolak dan Eko Wisata
Mangrove
Kecamatan Cilamaya Wetan
Objek Wisata Keagama an, berupa tempat- tempat peribadat an
1. Mesjid Agung Karawang (tempat beribadah agama Islam)
Kecamatan Karawang Barat 2. Vihara Sian Jin Ku Poh (tempat
peribadatan agama Konghucu/ umat Budha)
Kecamatan Karawang Barat
3. Gereja Sion (tempat peribadatan agama Kristen Katolik)
Kecamatan Karawang Barat 4. Gereja Imanuel (tempat peribadatan
Kristen Protestan)
Kecamatan Karawang Barat
5. Candi Jiwa Kecamatan
PakisJaya
18 Potensi
Wisata Objek Wisata Lokasi
6. Makam Syeh Quro (tempat/ makam/
petilasan penyebaran agama Islam)
Kecamatan Lemahabang 7. Gereja Kristus Raja Karawang (tempat
peribadatan agama Katolik)
Kecamatan Karawang Barat Objek
Wisata Kuliner
1. Bolu Kijing Kecamatan
Kutawaluya 2. Opak Kawung, Nasi Tangkar, Telor
Asin, Semprong Mondy
Kecamatan Karawang Barat
3. Pemancingan Rio Kecamatan
Karawang Barat 4. Pepes Jambal Walahar Kecamatan Klari 5. Sorabi Hijau, Kerupuk Udang, dan
Kue Semprong
Kecamatan Rengas dengklok
6. Saung Beureum Kecamatan Rengas
dengklok 7. Kupat Tahu, Sangu Tahu/ Sangtau Kecamatan
Karawang Timur 8. Pemancingan dan Restoran Saung
Endah
Kecamatan Karawang Timur
9. Saung Kabayan Kecamatan
Karawang Timur 10. Restoran Alam Ceria Kecamatan
Karawang Timur 11. Restoran Alam Sari Interchange Kecamatan
Karawang Timur
12. Pemancingan Ajo Kecamatan
Telukjambe Barat
13. Rumah Makan Cibiuk Kecamatan
Telukjambe Timur 14. Rumah Makan Sindang Reret Kecamatan
Telukjambe Timur 15. Restoran Lebak Sari Indah Kecamatan
Telukjambe Timur 16. Restoran Danau Bukit Indah Alamsari Kecamatan
Cikampek
17. Opak Cibuaya Kecamatan Cibuaya
18. Telaga Resto Kecamatan
Telukjambe Timur Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang
19 b. Pertumbuhan Ekonomi/ PDRB
Tabel 1. 11
Peranan PDRB Kabupaten Karawang
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menurut Lapangan Usaha Tahun 2016 – 2019 (juta rupiah/ persen)
No Lapangan Usaha Tahun 2016
Tahun 2017*
Tahun 2018*
Tahun 2019 1. Primer
(Pertanian dan Pertambangan)
10.071.142,8 (5,22%)
9.939.733,1 (5,04%)
11.138.076,2 (5,12%)
N/A
2. Sekunder (Industri, Listrik, Air dan
Bangunan)
139.736.207,7 (76,57%)
151.260.242, 3 (76,76%)
166.843.258,5 (76,74%)
N/A
3. Tersier (Perdagangan, Angkutan, Komunikasi dan Jasa)
32.695.851,1 (17,92%)
35.857.338,0 (18,20%)
39.422.836,2 (18,13%)
N/A
PDRB 182.503.201,7 (100,00%)
197.057.313 ,4 (100,00%)
217.404.170,9 (100,00)
N/A
Sumber : BPS Kabupaten Karawang Keterangan : *) = Angka sementara
N/A)= Data belum tersedia di BPS Karawang
20
Visi yang bersifat abstrak dijabarkan menjadi suatu yang konkrit melalui penetapan indikator makro. Pencapaian indikator makro merupakan sinergitas kinerja antara Pemerintah Kabupaten Karawang, Masyarakat dan Swasta dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Karawang.
Tabel berikut ini mencantumkan capaian indikator makro hasil kinerja Pemerintah Kabupaten Karawang pada Tahun 2019 :
Tabel 1.12
Indikator Makro Pembangunan Kabupaten Karawang Tahun 2017-2019 Berdasarkan RPJMD Kab. Karawang 2016-2021
No Indikator Makro
Pembangunan 2017 2018 2019
Target Capaian 1 Indeks Pembangunan Manusia
(IPM)
69,17 69,89
69,6 70,86
AHH (thn) 71,64 71,81 71.62 71,98
EYS (thn) 11,96 12,07 12,08
MYS/RLS (thn) 7,34 7,35 8,29 7,65
Pengeluaran (Rp 000/kapita) 10.705 11.277 11.856
2 LPE (%) 3-6 N/A 3-6 N/A
3 PDRB
Harga Konstan (Juta Rp) 148.885.3 09,5
217.404.1 71**
N/A
Per Kapita (ADHK) ( Juta Rp)
64,27 159.186.8 24**
N/A
4 Inflasi (persen) 3,49 3,59 3,13
5 Jumlah Penduduk (jiwa) 2.316.489 2.436.000 2.353.915 2.353.91 5*
6 LPP (%) 0,90 0,84 0,77*
7 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Usia 15 tahun + (%)
9,55 9,05 9,5 9,61
Sumber : Bappeda, Dinas Pendidikan, dan BPS Kabupaten Karawang, Indikator Makro 2019
*)= angka sementara perhitungan sendiri N/A = Data Belum Tersedia
Berikut ini penjelasan mengenai capaian indikator makro Pemerintah Kabupaten Karawang tahun 2019:
1. Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia merupakan salah satu indikator pemantau pencapaian pembangunan manusia di suatu wilayah.
1.3. INDIKATOR MAKRO
21
IPM menjadi strategis sebagai indikator yang menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan yang bersifat non fisik. IPM dapat menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Hal ini selaras dengan tujuan utama pembangunan, yaitu menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif.
Penghitungan IPM di tahun 2019 sudah mengikuti metode baru, dengan beberapa keunggulan dibandingkan IPM metode lama, yaitu mampu digunakan sebagai indikator yang lebih tepat dan dapat membedakan dengan baik (diskriminatif). Beberapa komponen IPM berubah, diantaranya angka melek huruf pada metode lama diganti dengan angka harapan lama sekolah (expected years of schooling/EYS) dan metode agregasi IPM diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.
Secara rinci komponen IPM berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017-2019 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.13
IPM dan Komponennya Tahun 2017-2019
Indikator Tahun
2017 2018 2019
IPM 69,17 69,89 70,86
AHH (tahun) 71,64 71,81 71,98
EYS (tahun) 11,96 12,07 12,08
MYS/RLS (tahun) 7,34 7,35 7,65
Pengeluaran (Rp 000) 10.703 11.277 11.856 Sumber:Bappeda Kabupaten Karawang, IPM Metode Baru
*)= angka sementara perhitungan sendiri
Sumber: BPS Kabupaten Karawang
Secara umum pembangunan manusia Kabupaten Karawang terus mengalami peningkatan. Pada periode 2018-2019 IPM Kabupaten
22
Karawang tumbuh 1.9 persen. Tahun 2019 IPM Kabupaten Karawang pertama kalinya masuk dalam kategori “tinggi” karena telah mencapai 70,86.
Di tingkat Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2019 IPM seluruh Kabupaten/Kota mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Tahun 2018. Pada periode ini tercatat tiga kabupaten/kota dengan peningkatan pembangunan manusia paling tinggi yaitu Kabupaten Karawang (1.39 persen), Kabupaten Bogor (1,38%), dan Kabupaten Sukabumi (1.25%). Peningkatan IPM Kabupaten Karawang oleh perbaikan dimensi standar hidup layak.
Komponen Pembentuk IPM Kabupaten Karawang Tahun 2016- 2019
Sumber: BPS Kabupaten Karawang
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator ekonomi yang paling sering digunakan untuk menggambarkan perekonomian suatu daerah. PDRB Kabupaten Karawang tahun 2018 atas dasar harga berlaku (ADHB) adalah sebesar Rp.
217.404.170,9 sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp.
159.186.823,5 Nilai tersebut mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2017 dimana PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp. 197.057.313,4 dan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 148.885.309,5.
Struktur perekonomian suatu wilayah dapat menggambarkan sektor-sektor yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah (engine growth). Di Kabupaten Karawang yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan adalah sektor industri pengolahan, hal tersebut terbukti dari peranan sektor industri yang mendominasi perekonomian di Kabupaten Karawang dari tahun ke tahun.
23 Tabel I. 14
Peranan PDRB Kabupaten Karawang
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menurut Lapangan Usaha Tahun 2016 – 2019 (juta rupiah/ persen)
No Lapangan Usaha Tahun 2016
Tahun 2017*
Tahun 2018*
Tahun 2019 1. Primer
(Pertanian dan Pertambangan)
10.071.142,8 (5,22%)
9.939.733,1 (5,04%)
11.138.076,2 (5,12%)
N/A
2. Sekunder
(Industri, Listrik, Air dan Bangunan)
139.736.207, 7 (76,57%)
151.260.24 2,3 (76,76%)
166.843.258,5 (76,74%)
N/A
3. Tersier (Perdagangan, Angkutan, Komunikasi dan Jasa)
32.695.851,1 (17,92%)
35.857.338, 0 (18,20%)
39.422.836,2 (18,13%)
N/A
PDRB 182.503.201 ,7 (100,00%)
197.057.31 3,4 (100,00%)
217.404.170,9 (100,00)
N/A
Sumber : BPS Kabupaten Karawang Keterangan : *) = Angka sementara
N/A)= Data belum tersedia di BPS Karawang
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator ekonomi yang paling sering digunakan untuk menggambarkan perekonomian suatu daerah. PDRB Kabupaten Karawang tahun 2018 atas dasar harga berlaku (ADHB) adalah sebesar Rp.
217.404.170,9 sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp.
159.186.823,5 Nilai tersebut mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2017 dimana PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp. 197.057.313,4 dan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 148.885.309,5.
Struktur perekonomian suatu wilayah dapat menggambarkan sektor-sektor yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah (engine growth). Di Kabupaten Karawang yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan adalah sektor industri pengolahan, hal tersebut terbukti dari peranan sektor industri yang mendominasi perekonomian di Kabupaten Karawang dari tahun ke tahun.
Tabel I. 15
Struktur Ekonomi Kabupaten Karawang Tahun 2016 - 2019 atas Dasar Harga Berlaku (persen)
No Lapangan Usaha Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018*
Tahun 2019 1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan 4,15 3,74 3,83 N/A
2. Pertambangan dan Penggalian 1,37 1,30 1,29 N/A
24
3. Industri Pengolahan 71,64 71,76 71,72 N/A 4. Pengadaan Listrik dan Gas 0,99 0,98 0,90 N/A 5. Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah dan Daur Ulang
0,06 0,07 0,07
N/A
6. Konstruksi 3,87 3,95 4,05 N/A
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
9,85 9,89 9,77
N/A
8 Transportasi dan Pergudangan 1,88 1,90 1,87 N/A 9. Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 0,92 0,96 1,00 N/A
10. Informasi dan Komunikasi 0,89 0,93 0,89 N/A 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 1,16 1,19 1,20 N/A
12. Real Estate 0,20 0,21 0,21 N/A
13. Jasa Perusahaan 0,03 0,03 0,04 N/A 14. Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
1,08 1,04 1,00
N/A
15. Jasa Pendidikan 0,87 0,95 1,04 N/A 16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 0,28 0,29 0,29 N/A
17. Jasa lainnya 0,76 0,81 0,84 N/A
PDRB DENGAN MIGAS 100,00 100,00 100,00 N/A Sumber: BPS Kabupaten Karawang, PDRB menurut Lapangan Usaha
Keterangan : *) = Angka sementara
N/A)= Data belum tersedia di BPS Karawang
Kontribusi/ pangsa sektor primer atas dasar harga berlaku (ADHB) pada tahun 2018 mengalami kenaikan, yaitu dari 5,04 % pada tahun 2017 menjadi 5,12 %. Begitupun di sektor sekunder terjadi peningkatan pangsa ekonomi yang signifikan, dari peranan PDRB atas harga dasar berlaku menurut lapangan usaha pada
25
sektor sekunder yaitu Rp. 151.260.242,3 di tahun 2017 menjadi Rp. 166.843.258,5 pada tahun 2018. Sama halnya untuk ekonomi sektor tersier, relatif bergerak mengalami kenaikan, yaitu dari Rp.
35.857.338,0 pada tahun 2017 menjadi Rp. 39.442.836,2 pada tahun 2018. Distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara sektoral menunjukkan peranan masing-masing sektor dalam pembentukan PDRB secara keseluruhan. Semakin besar persentase suatu sektor maka semakin besar pula pengaruh sektor tersebut dalam perkembangan ekonomi. Kontribusi sektor sekunder yang relatif terus membesar memperlihatkan bahwa Kabupaten Karawang telah berkembang menjadi salah satu daerah basis industri utama di Jawa Barat, sekaligus menjadi salah satu daerah yang mampu bertahan sebagai lumbung padi Nasional di tengah berbagai kemajuan ekonomi di sektor sekunder dan tersier perdagangan dan jasa.
Analisis sektor menunjukkan bahwa peranan sektor industri pengolahan pada tahun 2018 tetap merupakan sektor terunggul dan terbesar kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kabupaten Karawang yaitu sebesar 71,72 %. Disusul kemudian oleh sektor perdagangan dan pertanian yang masing-masing menyumbang sebesar 9,77% dan 3,83 %. Sedangkan 2 (dua) sektor penyumbang terkecil dalam pembentukan PDRB Kabupaten Karawang tahun 2018 adalah sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang dan Jasa Perusahaan.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) merupakan indikator makro ekonomi yang diturunkan dari PDRB atas dasar harga konstan (ADHK). Dengan memperhatikan LPE dan sektor-sektor yang membentuk PDRB, dapat diketahui sektor atau lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yang cepat dalam suatu perekonomian daerah. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kabupaten Karawang tahun 2018 dengan memperhitungkan kontribusi sektor migas diperkirakan mencapai angka 6,46 % dengan tingkat inflasi tingkat produsen sebesar 3,59 %.
Tabel I. 16
Angka Agregatif PDRB Kabupaten Karawang, PDRB Perkapita, LPE Sektor Migas, Tingkat Inflasi Tahun 2016 - 2019
No Uraian Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018*
Tahun 2019
N/A 1. PDRB ADHB (Juta Rp) 182.503.201,7 197.057.313,4 217.404.170,9 N/A 2. PDRB ADHK (Juta Rp) 140.782.536,8 148.885.309,5 159.186.823,5 N/A 3. PDRB ADHB (Rp) 79.495.144 85.067.235 93.066.176,7 N/A 4. PDRB Perkapita ADHK
(Rp) 61.322.365 64.271.969
68.144.548,4
N/A
5. LPE Migas (%) 6,29 5,76 6,46% N/A
6. Inflasi (%) 3,63 3,49 3,59% 3,13%
26
Sumber : BPS Kabupaten Karawang, Keterangan : *) = Angka sementara
N/A)= Data belum tersedia di BPS Karawang
Bila dicermati secara lebih detail, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karawang pada tahun 2016 hanya sedikit melambat dibandingkan keadaan tahun 2017, dengan seluruh sektor bertumbuh sangat variatif. Hal yang menggembirakan adalah terus bertumbuhnya sektor industri pengolahan dikisaran 7,13 % di tahun 2018 terdapat kenaikan dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 6,42 % sebagai akibat peningkatan pertumbuhan perekonomian nasional maupun global. Sektor yang mampu bertumbuh lebih dari 2 (dua) digit di tahun 2018 adalah sektor Informasi dan Komunikasi yang mencapai 10,62 %, Jasa realestate 11,38 % sebesar dan sektor Jasa Pendidikan sebesar 10,33 %.
Sektor Jasa Perusahaan dan Jasa Kontruksi masing-masing bertumbuh 8,99 % dan 8,21 %, diikuti sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum bertumbuh 9,50 %, Jasa keuangan dan asuransi sebesar 6,05 % sementara sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar 5,93 %, begitupun sektor sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang mengalami kenaikan sebesar 1,33
% bergerak positif dibandingkan dengan tahun 2017 yang mengalami penurunan. Sektor yang mengalami penurunan adalah Pertambangan dan Penggalian, yaitu mengalami penurunan sebesar 2,33 % dan Pengadaan Listrik dan gas sebesar 5,35 % pada tahun 2018.
Tabel I. 17
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karawang menurut Lapangan Usaha Tahun 2016 - 2019 (Persen) No. Lapangan Usaha Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018*
Tahun 2019N/A 1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan 3,12 -4,13 1,33 N/A
2. Pertambangan dan Penggalian 5,04 -2,49 -2,33 N/A 3. Industri Pengolahan 6,33 6,42 7,13 N/A 4. Pengadaan Listrik dan Gas -4,25 2,40
-5,35 N/A 5. Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah dan Daur Ulang
6,61 7,25
5,42
N/A
6. Konstruksi 8,95 7,36 8,21 N/A
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
4,82 4,76 4,50
N/A
8. Transportasi dan Pergudangan 8,83 5,61 5,93 N/A
27 No. Lapangan Usaha Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018*
Tahun 2019N/A 9. Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 9,30 8,56 9,50 N/A
10. Informasi dan Komunikasi 14,20 11,97 10,62 N/A 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 10,87 5,40 6,05 N/A
12. Real Estate 6,45 9,43 11,38 N/A
13. Jasa Perusahaan 8,78 8,54 8,99 N/A
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
3,53 0,31
1,61
N/A
15. Jasa Pendidikan 11,22 11,80 10,33 N/A 16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 9,24 8,50 8,27 N/A
17. Jasa lainnya 8,93 9,90 9,45 N/A
LPE dengan Migas 6,29 5,76 6,46 N/A
LPE tanpa Migas 6,33 5,98 6,68 N/A
Sumber : BPS Kabupaten Karawang, Keterangan : *) = Angka sementara
N/A)= Data belum tersedia di BPS Karawang Indikator yang dipakai untuk menggambarkan tingkat kemakmuran masyarakat secara makro adalah pendapatan perkapita (percapita income). Semakin tinggi pendapatan yang diterima penduduk di suatu wilayah maka tingkat kemakmuran di wilayah yang bersangkutan dapat dikatakan bertambah baik. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai tambah domestik bruto per penduduk secara nominal, sedangkan PDRB perkapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui nilai tambah nyata serta pertumbuhan nyata perkapita. Angka tersebut diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.
PDRB perkapita Kabupaten Karawang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari jumlah penduduk sebanyak 2.336.009 jiwa pada tahun 2018, PDRB perkapita ADHB Kabupaten Karawang sebesar Rp. 93.066.177- hal tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan sebesar 2,39 % dibandingkan dengan PDRB perkapita di tahun 2017 yang berada pada nilai Rp 85.067.235-.
Tabel I. 18
Perkembangan dan Nilai Pendapatan Perkapita Kabupaten Karawang Tahun 2016 - 2019
Tahun
Pendapatan perkapita
ADHB
Pertumbuhan ADHB
(%)
Pendapatan perkapita
ADHK
Pertumbuhan ADHK
(%) 2016 79.495.144 8,15% 61.322.365 5,26%
2017 85.067.235 7,01% 64.271.969 4,81%
28 Tahun
Pendapatan perkapita
ADHB
Pertumbuhan ADHB
(%)
Pendapatan perkapita
ADHK
Pertumbuhan ADHK
(%) 2018 93.066.177 9,40% 68.144.548 6,03%
2019 N/A N/A N/A N/A
Sumber : BPS Kabupaten Karawang,
Keterangan : *) = Data belum tersedia di BPS Karawang Inflasi Kabupaten Karawang Tahun 2017-2019
Kendati demikian peningkatan PDRB perkapita tersebut masih belum menggambarkan secara riil kenaikan daya beli masyarakat Kabupaten Karawang secara umum, walaupun indeks daya beli menunjukkan peningkatan, karena PDRB perkapita yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku masih mengandung faktor inflasi yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, terutama masyarakat yang berada pada tingkat menengah ke bawah.
3. Penduduk
Kabupaten Karawang merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Jumlah penduduk yang besar seringkali menjadi beban dalam proses pembangunan jika berkualitas rendah. Jumlah penduduk Karawang terus meningkat baik akibat kelahiran maupun karena migrasi.
Peningkatan penduduk harus ditangani dengan baik dan komprehensif. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan, Pemerintah Kabupaten Karawang secara terus menerus melakukan upaya pengendalian jumlah penduduk, dengan menciptakan tatanan keluarga kecil yang sehat dan berkualitas sebagai upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di masa yang akan datang.
Tabel 1.19
Jumlah Penduduk dan LPP Kabupaten Karawang Tahun 2018-2019
No Indikator Tahun
2018 2019
1 Jumlah Penduduk (jiwa) 2 336 009 2 353 915 2 Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP %) 0,84 0.77
29 Sumber : BPS Kab. Karawang * = angka sementara
Persoalan kependudukan seperti pertumbuhan penduduk dan tingkat fertilitas yang masih tinggi akan berdampak dalam penyediaan infrastruktur yang besar dan memadai serta lapangan pekerjaan yang cukup di masa mendatang. Menurut data proyeksi, laju pertumbuhan penduduk (LPP) di Kabupaten Karawang dari tahun ke tahun cenderung menurun. Pada periode tahun 2011 LPP mencapai 2,09%, pada periode tahun 2012 LPP mencapai 1,25%, pada tahun 2013 LPP mencapai 1,18%, sedangkan pada tahun 2014 LPP mencapai 1,11%, sedangkan pada tahun 2015 mencapai 1,04
%, pada tahun 2016 mencapai 0,98 % , pada tahun 2017 mencapai 0,90%, pada tahun 2018 mencapai 0,84%, dan pada tahun 2019 mencapai 0,77%.
Salah satu penyebab peningkatan laju pertumbuhan penduduk selain berasal dari pertumbuhan penduduk alami (kelahiran), juga disebabkan oleh pendatang dari wilayah lain (migrasi). Kabupaten Karawang memiliki daya tarik tersendiri bagi pendatang, karena pembangunan di sektor industri. Pendatang yang mencari pekerjaan di Kabupaten Karawang akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertambahan jumlah penduduk di Kabupaten Karawang, yang pada akhirnya mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk.
4. Ketenagakerjaan
Di era pasar global, industry di Kabupaten Karawang menjadi salah satu sector andalan, yang tentunya mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karawang. Pasar global juga akan mengalirkan tenaga kerja dari luar Kabupaten Karawang ke wilayah Kabupaten Karawang, dan memunculkan satu fenomerna baru terjadinya persaingan ketat memperebutkan pasar kerja yang jumlahnya terbatas. Oleh karena itu perlu disadari bahwa investasi substansial dan berkelanjutan dalam upaya pembangunan manusia, merupakan jalan utama meningkatkan kualitas dan produktivitas SDM. Kualitas penduduk yang tinggi diantaranya akan meningkatkan daya saing tenaga kerja Kabupaten Karawang dengan tenaga kerja pendatang, maupun meningkatkan daya tawar tenaga kerja Kabupaten Karawang di pasar global.
Tabel 1.20
Data Ketenagakerjaan Kabupaten Karawang Tahun 2018-2019 TPAK DAN TPT (Persen)
TPAK* TPT*
2018 2019 2018 2019
64.77 63.62 9.05 9.61
Sumber : BPS Kabupaten Karawang
30
*Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) = Persentase jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja
*Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) = persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja
Indikator pencari kerja yang ditempatkan menggambarkan banyaknya pencari kerja yang memperoleh pekerjaan. Pencari kerja yang sudah ditempatkan terus mengalami peningkatan selama periode tahun 2016-2019. Pencari kerja yang sudah ditempatkan tertinggi sebesar 36.380 orang di tahun 2019, terendah sebesar 31.988 orang di tahun 2016.
Tabel 1.21
Pencari Kerja yang Sudah Ditempatkan di Kabupaten Karawang Tahun 2016-2019 (orang)
No Uraian 2016 2017 2018 2019
1 Pencari Kerja yang Ditempatkan 20.150 29.440 31.125 36.380 2 Pencari Kerja terdaftar 31.988 37.388 40.898 42.558
Sumber: Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Karawang
Semenjak digulirkannya kebijakan otonomi daerah kurang lebih 15 (Empat belas) tahun silam, yang ditandai dengan diberlakukannya Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang terakhir kali diubah menjadi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2015, telah membawa perubahan yang cukup berarti bagi daerah-daerah dan juga bagi hubungan pusat dan daerah. Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah memberi warna baru dalam penyelenggraan pemerintahan daerah di Indonesia.
Melalui penitik-beratan otonomi daerah di level Pemerintah Kabupaten/Kota dengan pemberian kewenangan secara luas, nyata dan bertanggungjawab, setiap pemerintah daerah diharapkan mampu menjadikannya sebagai dasar guna peningkatan keberdayaan, kesejahteraan dan daya saing daerahnya masing-masing. Dalam kaitan ini, untuk melaksanakan kewenangan tersebut perlu dibentuk organisasi perangkat daerah sesuai koridor hukum yang berlaku.
Di Kabupaten Karawang, berpijak pada Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota serta Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, sejak tahun 2012 hingga disusunnya dokumen ini, telah membentuk organisasi perangkat daerah Kabupaten Karawang melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kabupaten Karawang Nomor 10 Tahun 2008
1.4. KEDUDUKAN, KEWENANGAN, DAN STRUKTUR ORGANISASI
1.4.1. KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN