• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. KABUPATEN TEBO 6.1. Kondisi Geografis

7. KABUPATEN MUARO BUNGO 1. Kondisi Geografis

Secara geografis Kabupaten Bungo berada pada posisi antara 01008’

sampai 01055’ Lintang Selatan dan antara 101027’ sampai 102030’ Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Dharmasraya (Provinsi Sumatera Barat), sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Merangin, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Kerinci, serta sebelah Timur dengan Kabupaten Tebo. Posisi demikian menempatkan Kabupaten Bungo sebagai daerah perlintasan dari Propinsi Jambi ke Propinsi Sumatera Barat juga sebagai penghubung antara Kabupaten-kabupaten di wilayah Jambi bagian timur (Kota Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Muara Jambi dan Batanghari), dengan bagian barat (Tebo, Bungo, Sarolangun, Merangin dan Kerinci).

Di masa mendatang aksesibiltas ini harus termanfaatkan secara lebih baik sehingga dapat mendorong pusat pertumbuhan wilayah yang nyata, khususnya di Sumatera Bagian Tengah. Keberadaan pusat pertumbuhan ini ke depan menjadi penting, mengingat keunggulan bersaing Kabupaten Bungo dalam menyediakan sarana transportasi berupa transportasi udara lebih baik dibanding dengan kabupaten lain.

Luas Kabupaten Bungo adalah 7.160 km2 dengan topografi datar, berbukit bukit hingga curam dengan ketinggian antara 100 hingga lebih dari 1.000 m dpl. Merupakan daerah beriklim tropis dengan curah hujan 2.577 mm/tahun (138 hari/tahun) dengan jenis tanah yang mendominasi adalah latosol, podsolik, komplek latosol dan andosol. Kondisi lahan di Kabupaten Bungo secara umum adalah morfologi datar, bertekstur agak kasar dengan ketersediaan air yang cukup karena dilalui 4 buah sungai besar. Lahan bergelombang dengan kemiringan tanah kurang dari 40%

yang mencapai 80% dari luas wilayah. Kondisi ini sangat cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan. Sedangkan sisanya sebanyak 20%

luas wilayah dengan kemiringan lebih dari 40% termasuk dalam kawasan lindung.

7.2. Kondisi Demografis

Berdasarkan data demografis hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Bungo sebanyak 302.558 orang yang terdiri dari 155.213 orang laki-laki dan 147.345 perempuan dengan sex ratio sebesar 105,34. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 251.096 orang maka laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bungo sebesar 3,80%.

Angka pertumbuhan penduduk yang mencapai 3,80% cukup tinggi, merupakan dampak dari kemajuan pembangunan yang sangat signifikan

untuk menarik orang datang ke Kabupaten Bungo. Pemerintah Kabupaten Bungo merespon pertumbuhan jumlah penduduk tersebut dengan melakukan pemekaran kecamatan dari 6 kecamatan pada tahun 2000 menjadi 17 Kecamatan pada tahun 2008 sehingga pelayanan terhadap masyarakat bisa lebih baik. Laju pertumbuhan paling tinggi terdapat di Kecamatan Bungo Dani sebesar 6,36%, dilanjutkan dengan Kecamatan Pasar Muara Bungo 5,19%, dan Bathin II Babeko sebesar 5,17%.

Sedangkan kecamatan yang paling rendah laju pertumbuhan penduduknya adalah Kecamatan Jujuhan Ilir sebesar 1,02%.

Komposisi umur merupakan faktor yang sangat penting dalam demografi, terutama dalam berbagai analisis kependudukan. Menurut komposisi umur penduduk, yang dimaksud dengan penduduk tua adalah bila penduduk berumur kurang dari 15 tahun maksimal 30 persen dan penduduk umur 65 tahun keatas minimal 10 persen dari penduduk pada suatu wilayah. Sementara, penduduk muda adalah bila penduduk berumur kurang dari 15 tahun maksimal 40 persen dan penduduk umur 65 tahun keatas maksimal 5 persen.

Komposisi penduduk Kabupaten Bungo menunjukkan bahwa 31,01 persen penduduk berusia muda (umur 0-14 tahun), 65,24 persen berusia produktif (umur 15-64 tahun), dan hanya 3,75 persen yang berumur 65 tahun lebih, sehingga berdasarkan angka mutlaknya diperoleh angka ketergantungan sebesar 53,27. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 53 orang penduduk usia tidak produktif.

Semakin besar angka ketergantungan, maka semakin besar pula beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif, berarti semakin besar hambatan atas upaya perkembangan daerah. Secara umum penduduk Kabupaten Bungo masih bergantung kepada pertanian dalam arti luas. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Bungo terlihat bahwa 59,99% dari jumlah penduduk bekerja dibidang pertanian.

Berturut-turut persentase bidang pekerjaan adalah bidang perdagangan 16,32%, bidang jasa kemasyarakatan 11,57, bidang industri pengolahan 0,91% dan lainnya sebesar 11,22%.

Gejala lain yang teramati adalah adanya konsentrasi atau pertambahan kelompok penduduk di usia semakin tua. Hal ini dikarenakan bertambahnya kualitas kependudukan berkat perbaikan kualitas gizi sehingga membuat meningkatnya angka harapan hidup. Angka harapan hidup masyarakat Kabupaten Bungo masih berkisar usia 67 tahun.

7.3. Pertumbuhan Ekonomi

Bidang ekonomi menjadi bidang krusial dalam merencanakan dan mengevaluasi pembangunan, termasuk dalam mengukur keberhasilan otonomi daerah. Karena salah satu ukuran daripada otonomi daerah adalah adanya peningkatan pendapatan masyarakat. PDRB selama lima tahun terakhir menunjukkan trend peningkatan seiring peningkatan pendapatan masyarakat. Namun bila dibandingkan dengan standar Bank Dunia, perekonomian di Kabupaten Bungo masih di bawah tingkat garis kemiskinan yang ditentukan. Dalam kaitan ini, struktur perekonomian, pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder bahkan tersier menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan.

Hasil evaluasi kinerja perekonomian biasanya didukung oleh peran dan kontribusi Usaha Mikro, Industri Kecil dan Koperasi. Peran bidang ini pada perekonomian menjadi penting karena digerakkan dan menggerakan masyarakat yang ternyata dapat menopang kehidupan masyarakat dalam menghadapi krisis yang pernah terjadi.

Hasil pembangunan Kabupaten Bungo juga melihat kondisi pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita serta tingkat inflasi sebagai indikator makronya. Hingga tahun 2009, perekonomian Kabupaten Bungo masih didominasi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB Bungo yaitu

sebesar 29,19 persen. Sektor kedua yang cukup berperan adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu 18,43 persen lalu disusul sektor perdagangan, hotel dan restauran sebesar 16,51 persen.

Pendapatan perkapita masyarakat Kabupaten Bungo pun meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp. 6.130.247,25 per tahun dan kini meningkat mencapai Rp.

11.755.863,20 pada tahun 2009. Grafik peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Kabupaten Bungo dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

7.4. Peluang Investasi

Sektor ini sangat prospektif untuk dikembangkan karena Kabupaten Bungo memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif, antara lain ketersediaan bahan untuk industri pengolahan. Bidang-bidang potensial untuk dikembangkan antara lain :

o Industri Batik di Kecamatan Pelepat dan Muara Bungo o Industri Bricket Batubara di Kecamatan Rantau Pandan

o Industri Perkayuan/Moulding di Kecamatan Muara Bungo, Pelepat, Tanah Tumbuh, Jujuhan dan Rantau Pandan.

o Industri Pngolahan CPO di Kecamatan Tanah Tumbuh dan Pelepat o Industri Pengalengan Buah-buahan termasuk pemasarannya.

o Industri Sarung Tangan dari karet o Industri Tusuk Gigi dari bambu.

7.5. Potensi Daerah

Pada dasarnya tujuan yang ingin dicapai pada Bidang Pertanian adalah peningkatan pendapatan petani melalui upaya pemberdayaan petani yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan dan melakukan berbagai upaya memperkecil kendala yang masih dihadapi antara lain

rendahnya motivasi petani untuk mengembangkan usahataninya karena terbatasnya tingkat pengetahuan dan keterampilan serta peluang pasar yang sangat terbatas. Dari beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada sub bidang tanaman pangan dan hortikultura mulai dari tahun 2006 sampai tahun 2010 telah mencapai keberhasilan yang cukup berarti. Indikasi keberhasilan ini terlihat dari peningkatan luas tanam, luas panen dan produksi serta produktivitas padi, palawija dan hortikultura, sebagaimana pada tabel dan grafik berikut ini :

Tabel 3.6: Luas Tanam Padi dan Palawija di Kab Bungo Tahun 2006 – 2010.

No Komoditi Luas Tanam (Ha)

2006 2007 2008 2009 2010 (%)

1. Padi Sawah 3.868 6.271 5.126 8.001 6.550 14,07

2. Padi Gogo/Ladang 2.433 3.038 2.520 3.440 3.491 9,45

Jumlah Padi 6.301 9.309 7.646 11.441 10.041 12,35

1. Jagung 878 1.016 1.098 1.510 1.007 3,49

2. Ubi Kayu 276 320 355 301 278 0,18

3. Ubi Jalar 51 63 60 57 81 12,26

4. Kacang Tanah 215 243 246 284 216 0,12

5. Kedele 97 329 332 458 234 24,63

6. Kacang Hijau 89 81 81 86 98 2,44

Jumlah 1.606 2.052 2.172 2.696 1.914 4,48

Sumber Data : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultuta Kabupaten Bungo.

Pembangunan bidang perkebunan selain merupakan upaya melanjutkan dan mempertahankan serta meningkatkan hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya juga diarahkan pada upaya menciptakan iklim yang kondusif bagi masuknya investor yang bergerak di bidang perkebunan, dengan titik berat kepada upaya mendukung peningkatan produktivitas dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya komoditas unggulan

Bidang perkebunan merupakan salah satu andalan perekonomian di Kabupaten Bungo. Saat ini perkebunan kelapa sawit dan karet telah tersebar di semua kecamatan yang ada, di mana total areal perkebunan karet sampai tahun 2010 diperkirakan sekitar 96.707 Ha dan areal perkebunan kelapa sawit seluas 48.100 Ha.

Kontribusi bidang perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Bungo cukup signifikan. Hal ini dapat dimaklumi, karena sebagian besar penduduk Kabupaten Bungo bermatapencarian dari hasil perkebunan (karet dan kelapa sawit), di mana tanaman karet tersebut sudah menjadi komoditas utama sejak zaman penjajahan Belanda. Angka-angka statistik menunjukkan besarnya peran sub sektor perkebunan bagi masyarakat.

Kondisi ini mengharuskan pemerintah Kabupaten Bungo untuk menangani setiap masalah dan menciptakan peluang-peluang pengembangan dan investasi serta meningkatkan peran sub bidang perkebunan dalam perekonomian makro Kabupaten Bungo, melalui sistem pembangunan perkebunan yang berkelanjutan dengan penggunaan bibit unggul dan melaksanakan peremajaan kebun karet tua.

Sejalan dengan itu maka kebijakan yang telah dilakukan pemerintah Kabupaten Bungo selama periode 2006 s.d 2010 di bidang perkebunan adalah melakukan intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi, peremajaan kebun serta penggunaan bibit unggul sesuai potensi dan komoditas unggul yang dimiliki masing-masing wilayah/dusun dalam Kabupaten Bungo.

Pelaksanaan kegiatan sub bidang perkebunan dari tahun 2006 sampai tahun 2010, secara kumulatif memperlihatkan kenaikan baik dari luas areal maupun produksi, terutama untuk tanaman karet dan kelapa sawit. Perkembangan luas lahan dan produksi komoditi perkebunan di Kabupaten Bungo dari Tahun 2006 s.d 2010 tertera pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 3.7: Luas Lahan Komoditi Perkebunan di Kabupaten Bungo

Sumber Data : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bungo.

Di samping pembangunan kebun rakyat, juga dilaksanakan kegiatan pembangunan perkebunan melalui perusahaan perkebunan swasta nasional yang aplikasinya dalam bentuk pengembangan perkebunan Pola PIR Trans dan Pola Kemitraan (KKPA). Realisasi pembangunan kebun oleh perusahaan perkebunan untuk komoditi kelapa sawit digambarkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.8: Perusahaan Swasta yang Mengelola Perkebunan di Kab Bungo

No Nama Perusahaan Lokasi Pola

Tanah Sepenggal PIR-KKPA 1.326 1.146 2.372

4. PT. SMA. Limbur Lb. Mengkuang PIR-KKPA 4.639 1.406 6.045

5. PT. SAL II, III Pelepat Ilir Trans/KKPA - 8.991 8.991

6. PT. Mega Sawindo Pelepat & Pelepat Ilir PIR-KKPA - 4.460 4.460

7. PT. Aman Pratama Rantau Keloyang PIR-KKPA - 500 500

8. PT. Mitra Tata Lestari Pelepat PIR - 1.700 1.700

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bungo.

Pembangunan Bidang Pertambangan Kabupaten Bungo diarahkan untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam tambang secara hemat dan optimal bagi pembangunan daerah demi kesejahteraan rakyat,

dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup serta ditujukan untuk menyediakan bahan baku bagi industri dalam negeri dan menjadi salah satu komoditas ekspor di Kabupaten Bungo dan sangat strategis untuk memberikan kontribusi bagi peningkatan penerimaan pendapatan asli daerah serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan kerja.

Strategi pembangunan pertambangan difokuskan kepada upaya peningkatan produksi, penganekaragaman hasil tambang, pengelolaan usaha pertambangan secara efektif dan efisien dengan memperhatikan keseimbangan daya dukung lingkungan. Pemerintah Kabupaten Bungo selama ini telah mendorong pihak swasta untuk melakukan eksplorasi bahan tambang.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bungo selama periode 2006 - 2010 di Bidang Pertambangan telah dilakukan melalui tahapan identifikasi, revitalisasi dan pemanfaatan potensi sumber daya pertambangan yang berwawasan lingkungan, yang selanjutnya dapat menjamin tersedianya peluang lapangan kerja disamping sebagai potensi andalan sumber Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah Kabupaten Bungo sementara ini masih terbatas pada upaya pengembangan sumber daya mineral khususnya untuk jenis pertambangan batu bara karena tingginya minat pihak swasta untuk berinvestasi melalui usaha pertambangan batu bara.

Tingginya minat investor untuk berinvestasi di bidang pertambangan, dimana selama periode 2006 s.d 2010 investor yang berinvestasi untuk bahan galian golongan A (batubara) sebanyak 93 investor, bahan galian golongan B (Emas) sebanyak 14 pengusaha, sedangkan untuk bahan galian golongan C (Sirtu) selama periode 2006 s.d. 2010 investor yang berminat sebanyak 32 perusahaan. Terhadap prospek pengembangan potensi sumber daya mineral selain batu bara seperti bahan galian golongan B dan golongan C, Pemerintah Kabupaten Bungo senantiasa melakukan pembinaan yang pada gilirannya akan menjadi potensi

sumber pendapatan asli daerah yang handal disamping pertambangan batu bara. Pemerintah Kabupaten Bungo sejak tahun 2006 - 2010 telah mengeluarkan izin bidang pertambangan seperti tertera pada tabel berikut :

Tabel 3.9: Jumlah Penerbitan Izin Kp Bahan Galian Golongan A,B dan C di Kab Bungo Tahun 2006 - 2010

No Sektor Investasi Jumlah Perusahaan Jumlah (Buah) 2006 2007 2008 2009 2010

1 Bahan galian golongan A (Batubara) 2 Bahan Galian Golongan B

(Emas)

4 3 4 - 3 14

3 Bahan galian Golongan C

(Sirtu) 6 9 10 6 3 29

Sumber Data : Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kebijakan yang ditetapkan dari tahun 2006 s.d 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo tidak lagi menerbitkan izin baru dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP), tetapi menertibkan, perpanjangan atau peningkatan izin yang sudah dikeluarkan, dimana pada tahun 2010 Perusahaan yang memiliki izin KP penyelidikan umum atau eksplorasi dan KP Produksi, dilanjutkan dengan izin usaha pertambangan (IUP) yang telah diterbitkan sebanyak 34 buah, disamping itu ada KP Penyelidikan Umum bahan galian B yang telah ditingkatkan menjadi IUP Eksplorasi sebanyak 3 perusahaan dan bahan galian golongan C (sirtu) pada tahun 2010 telah dikeluarkan izin IPR sebanyak 3 izin usaha.

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang punya potensi cukup baik untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan pembangunan ekonomi Kabupaten Bungo, dikarenakan daerah ini mempunyai potensi bahan tambang dan mineral. Beberapa diantara bahan tambang dan mineral tersebut masih perlu dilakukan penelitian kandungan, deposit dan mutunya. Pemerintah Kabupaten Bungo selalu mendorong pihak swasta untuk melakukan eksplorasi bahan tambang yang ada. Selain itu, kegiatan penelitian dan inventarisasi potensi pada sektor pertambangan dan penggalian terus dilakukan.

Tabel 3.10 : Potensi dan Penyebaran Bahan Galian di Kab Bungo

No. Jenis Bahan

3. Pasir dan Kerikil Muara Bungo, Muko-Muko, Rantau Pandan, Pelepat, Tanah Sepenggal, Jujuhan.

Belum diketahui

4. Pasir Kuarsa Muara Bungo, Muko-Muko, Pelepat

Luas 500 Ha BJ 2,65, bentuk kristal heksagonal, ukuran 0,006-2 mm

5. Andesit Pelepat Belum diketahui

6. Granit Pelepat, Rantau Pandan Luas 50.000 Ha 7. Koalin Limbur Lbk. Mengkuang Belum diketahui 8. Mineral Logam Rantau Pandan Belum diketahui 9. Batu Sueseiki Limbur Lbk. Mengkuang Belum diketahui 10. Tanah Putih Muara Bungo Kadar kosetirit

0,5 – 24,5 gr/m2

13. Oker Tanah Tumbuh Belum diketahui

14. Obsidium/Perilit Tanah Tumbuh Terindikasi 60 juta m3

Realisasi investasi dalam bentuk eksploitasi dan eksplorasi terhadap bahan tambang/galian oleh investor dari beberapa perusahaan swasta di Kabupaten Bungo sudah terlaksana. Pada umumnya investasi yang

dilakukan adalah terhadap bahan tambang/galian batu bara.

Sumber : Potret Ekonomi dan Potensi Daerah Kabupaten Bungo.

Peningkatan kinerja pembangunan ekonomi pada sektor industri merupakan salah satu tolak ukur kemajuan perekonomian suatu daerah.

Secara teoritis, kemajuan pada sektor industri diharapkan menjadi sumber lapangan pekerjaan bagi tercapainya peningkatan pendapatan masyarakat.

Pembangunan sektor industri di Kabupaten Bungo dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang tersedia sebagai bahan baku, mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut dalam rangka memanfaatkan peluang pasar. Untuk itu, peningkatan kinerja pemerintah daerah untuk mengupayakan dukungan lintas sektoral yang meliputi penyediaan bahan baku dari area kawasan sentra produksi bagi berkembangnya sektor industri merupakan hal yang pokok.

Tabel 3.12: Banyaknya Unit Usaha, Investasi, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Kelompok Industri Besar di Kabupaten Bungo

No. Cabang Industri Unit

Sumber : Bungo Dalam Angka, BPS * Dinas Perkebunan

Pada saat ini investasi pada sektor industri di Kabupaten Bungo oleh beberapa perusahaan industri yang berskala besar sudah ada.

Banyaknya unit usaha, investasi, tenaga kerja dan nilai produksi kelompok industri besar di Kabupaten Bungo. Industri Crumb Rubber mempunyai nilai investasi dan nilai produksi serta menyerap tenaga kerja paling banyak. Industri Air Minum dalam kemasan mempunyai nilai investasi dan jumlah tenaga kerja paling kecil.

Selain keberadaan kelompok industri besar, keberadaan industri kecil di Kabupaten Bungo layak menjadi perhatian pemerintah daerah sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada, khususnya dalam upaya meningkatkan perkembangan perekonomian masyarakat atau sering disebut dengan ekonomi kerakyatan. Keberadaan industri kecil di Kabupaten Bungo sangat beragam, antara lain kerajinan rotan, kerajinan kayu, pengolahan ijuk, pembuatan batik, kerajinan bordir, kerajinan songket, pengolahan nata de coco, pengolahan pisang sale, pembuatan kerupuk lanting dan pengolahan emping melinjo.

Tabel 3.13: Banyaknya Unit Usaha, Investasi, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Kelompok Industri Kecil di Kabupaten Bungo

No. Cabang Industri Unit

153 1.227.313,23 633 1.497.111,04

4. Tekstil, Elektronika dan

Aneka 120 445.481,07 365 3.535,53

JUMLAH TOTAL 792 5.161.487,67 3.376 28.966.623,83

Sumber : Bungo Dalam Angka, BPS

Dari Tabel di atas dapat dilihat, bahwa industri kecil pada cabang industri agro dan hasil hutan mempunyai jumlah unit usaha, nilai investasi, jumlah tenaga kerja dan nilai produksi yang paling besar.

Kondisi ini sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada di Kabupaten Bungo, dimana bahan baku pada sektor pertanian dalam arti luas memang lebih dominan tersedia.

Tabel 3.14 : Persentase Perbandingan Jumlah Nilai Investasi, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Industri Besar dan Kecil Terhadap Total Keseluruhan di Kabupaten Bungo

No. Cabang

1. Industri Kecil 792 5.161.487,67 3.376 28.966.623,82

2. Industri Besar 6 12.202.00 503 419.553.117,50

JUMLAH 798 17.363.487,67 3.879 448.519.741,32

*% Industri Kecil 99,25 35,49 87,03 6,46

*% Industri Besar 0,75 64,51 12,97 93,54

Total nilai investasi dan produksi industri kecil adalah 35,49 % dan 6,46 % dari total nilai investasi dan produksi industri di Kabupaten Bungo, jauh lebih kecil dibandingkan total nilai investasi dan produksi industri besar, yaitu 64,51 % dan 93,54 %. Akan tetapi industri kecil mampu menyerap tenaga kerja sebesar 87,03 % dari total tenaga kerja yang terserap oleh kegiatan industri di Kabupaten Bungo.

Pada dasarnya pengembangan sektor perdagangan di daerah bertujuan untuk mampu mendukung perkuatan daya saing, baik pada tingkat regional, nasional maupun global, sehingga diharapkan dapat memperkuat posisi daerah dalam aktivitas perdagangan regional, nasional maupun global. Disamping itu, berkaitan dengan kelancaran distribusi barang kebutuhan masyarakat, serta distribusi produk-produk yang dihasilkan sehingga mendapat tempat dipasaran, merupakan hal yang penting dan strategis dari peranan sektor pedagangan di daerah. Oleh karenanya, aktivitas kegiatan pada sektor perdagangan harus ditunjang dengan tersedianya berbagai sarana dan prasarana pendukung berjalannya aktivitas kegiatan perdagangan.

8. KABUPATEN MERANGIN