• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Panen dan Pasca Panen

Manajemen adalah rangkaian dalam beberapa kegiatan yang dilaksanakan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Manajemen dapat juga diartikan sebagai perpaduan antara ilmu dan seni. Sebagai ilmu dapat dipelajari, dipahami, diteliti, ditingkatkan, dan dibuktikan kebenarannya. Sebagai seni berupa kekuatan pribadi yang kreatif ditambah dengan keterampilan (skill) yang timbul dari pengalaman sebagai hasil pengamatan dalam pelaksaan pekerjaan (Wachjar, 2010).

Manajemen atau pengelolaan panen dan pasca panen merupakan semua kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan panen dan pasca panen. Pengelolaan panen dapat dilaksanakan dengan melakukan pembentukan organisasi panen, penentuan jumlah kebutuhan tenaga kerja panen dan pasca panen, penetapan kriteria panen, dan pengelolaan pengangkutan (Sulaiman, 2007).

Kegiatan yang berhubungan dengan manajemen pasca panen, yaitu: Perencanaan

Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Fungsi perencanaan sudah termasuk di dalamnya penetapan budget. Budget produksi adalah target produksi yang ingin dicapai pada tahun tertentu. Sebelum menetapkan budget, kebun akan memperkirakan terlebih dahulu potensi produktivitas/ha tanaman ubi kayu terhadap kondisi yang ada. Oleh karena itu lebih tepat bila perencanaan dirumuskan sebagai penetapan tujuan, kebijakan, prosedur, budget, dan program dari suatu organisasi.

Perencanaan panen dan pasca panen dilakukan sebelum pelaksanaan panen dan pasca panen. Kegiatan ini dilakukan untuk mencapai keberhasilan panen dan pasca panen. Persiapan panen dan pasca panen yang harus dilakukan mencakup persiapan sarana dan prasarana panen dan pasca panen, perencanaan pengadaan panen dan pasca panen, pengangkutan, serta kesediaan pabrik dalam menerima

hasil panen. Perencanaan panen dan pasca panen harus dilakukan dengan baik untuk mencapai target produk ubi kayu yang berkualitas.

Pengorganisasian dan Administrasi

Pengorganisasian atau organizing dimaksud mengelompokkan kegiatan yang diperlukan, yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi, serta menetapkan kedudukan dan sifat hubungan antara masing-masing unit tersebut. Organisasi atau pengorganisasian dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivitas yang berdayaguna dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Kegiatan panen dan pasca panen harus terorganisasi dengan baik supaya berjalan lancar dan mencapai target produksi yang diinginkan perusahaaan. Mandor panen bertanggung jawab kepada mandor besar agar ubi kayu yang dipanen sesuai dengan kriteria panen; mandor besar bertanggung jawab kepada asisten divisi. Produksi umbi yang dihasilkan menjadi tanggung jawab asisten divisi. Alat panen disiapkan oleh setiap pemanen.

Administrasi panen dilakukan oleh mandor panen. Administrasi panen yang dilakukan berupa pelaporan nota pengiriman ubi kayu dan buku-buku yang bersangkutan dengan panen dan pasca panen.

Penggerakan

Penggerakan adalah tindakan menggerakan karyawan atau bawahan agar dapat bekerja sama dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien dalam kondisi tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Misalnya, mandor yang dipilih untuk mengawasi para karyawan harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang dapat menggerakkan, mempengaruhi dan memotivasi karyawan.

Tenaga Panen

Tenaga kerja panen dan pasca panen sebaiknya tenaga kerja tetap agar memiliki spesialisasi sebagai pemanen. Hal ini bertujuan agar dapat memanen sesuai kriteria panen (tidak rusak). Kebutuhan tenaga kerja pemanen dihitung

berdasarkan luas area yang akan dipanen, dengan memperhitungkan kapsitas rata-rata pemanen.

Pengawasan

Pengawasan (controlling) sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud mencapai tujuan yang sudah digariskan semula.

Pengangkutan

Pengangkutan tergantung pada faktor kondisi jalan, kapasitas pabrik, ketersediaan truck pengangkut, jarak dengan pabrik.

Sejarah dan Botani Ubi Kayu

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) berasal dari Brazil, Amerika Selatan, menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Meksiko

ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubi kayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika (Isnanimurti, 2008).

Dalam sistematika tanaman, ubi kayu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kelas : Dicotyledoneae Sub Kelas : Arhichlamydeae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Sub Famili : Manihotae Genus : Manihot

Spesies : Manihot esculenta Crantz

(Direktorat budidaya kacang-kacangan dan umbi-umbian, 2007).

Kesesuaian Lahan untuk Ubi Kayu

Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia, dan mudah diolah.

Derajat kemasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ubi kayu berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. Umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0 – 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ubi kayu (BPP IPTEK, 2000).

Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ubi kayu 10 - 700 m dpl, sedangkan toleransinya 10 – 1 500 m dpl (BPP IPTEK, 2000). Pada ketinggian sampai 300 m dpl tanaman ubi kayu dapat menghasilkan umbi dengan baik, tetapi tidak dapat berbunga. Namun, di ketinggian tempat 800 m dpl tanaman ubi kayu dapat menghasilkan bunga dan biji (Prihandana et al., 2008). Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ubi kayu 1 500 – 2 500 mm/tahun (Bank Indonesia, 2004). Kelembaban udara optimal untuk tanaman ubi kayu antara 60 – 65 %, dengan suhu udara minimal bagi tumbuhnya sekitar 10 oC (Prihandana et al., 2008). Jika suhunya di bawah 10 0C, pertumbuhan tanaman akan sedikit terhambat. Selain itu, tanaman menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ubi kayu sekitar 10 jam/hari, terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya (BPP IPTEK, 2000).

Budidaya Ubi Kayu

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah. Tanah yang baik untuk budi daya ubi kayu seharusnya memiliki struktur remah atau gembur (BIP Irian Jaya, 1995), sejak fase awal pertumbuhan tanaman hingga panen (Bank Indonesia, 2004; Roja, 2009). Pengolahan tanah juga bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma. Hal ini dilakukan agar ubi kayu tidak bersaing dengan berbagai gulma dalam mengambil hara tanah, pupuk dan air. Selain itu pengolahan tanah pada ubi kayu juga bertujuan untuk menerapkan sistem konservasi tanah yaitu memperkecil peluang terjadinya erosi. Hal ini penting dilakukan agar kesuburan tanah tetap lestari, karena sentra ubi kayu didominasi lahan-lahan yang relatif peka erosi.

Pangkal stek dipotong rata atau runcing (BIP Irian Jaya, 1995; Roja. 2009). Pangkal stek yang dipotong miring akan berdampak pada pertumbuhan akar yang tidak merata. Stek ditanam dalam posisi vertikal. Stek yang ditanam dalam posisi lain (miring 450 dan horizontal), akarnya tidak terdistribusi secara merata. Volume akar di tanah dan penyebarannya berpengaruh pada jumlah hara yang dapat diserap tanaman, selanjutnya berdampak pada produksi. Kedalaman tanam 15 cm, pada musim hujan maupun musim kemarau (Onwueme, 1978; Prihandana et al., 2008; Roja. 2009). Hal ini terkait dengan kelembaban tanah untuk menjaga kesegaran stek. Disarankan menanam dalam keadaan tanah gembur dan lembab.

Waktu tanam yang tepat bagi tanaman ubi kayu, secara umum adalah musim penghujan atau pada saat tanah tidak berair agar struktur tanah tetap terpelihara. Tanaman ubi kayu dapat ditanam di lahan kering, beriklim basah, waktu terbaik untuk bertanam yaitu awal musim hujan atau akhir musim hujan (November – Desember dan Juni – Juli). Tanaman ubi kayu dapat juga tumbuh di lahan sawah apabila penanaman dilakukan setelah panen padi. Di daerah-daerah yang curah hujannya cukup tinggi dan merata sepanjang tahun, ubi kayu dapat ditanam setiap waktu.

Permasalahan budi daya ubi kayu di Indonesia adalah saat tanam serentak, yakni sebagian besar pada awal musim hujan. Hal ini mengakibatkan waktu panen yang serentak pula. Masalah ini dapat diatasi dengan cara mengatur setiap wilayah dengan menanam ubi kayu berdasarkan umur panen, yaitu genjah (7 - 9 bulan), sedang (8 - 11 bulan), dan dalam (10 - 12 bulan). Petani tidak akan menderita karena harga yang merosot karena panen raya ubi kayu. Cara lain adalah dengan mengatur suatu wilayah dengan pembagian kelompok tanam, yakni kelompok Oktober, kelompok November, kelompok Desember, kelompok Januari, Kelompok Februari, dan seterusnya.

Waktu penyulaman dilakukan saat ubi kayu mulai berumur 1 - 3 minggu (Bank Indonesia, 2004). Bila penyulaman dilaksanakan sesudah umur 5 minggu, tanaman sulaman akan tumbuh tidak sempurna karena ternaungi tanaman sekitarnya.

Gulma harus dikendalikan karena gulma merupakan pesaing bagi tanaman ubi kayu khusunya untuk mengambil hara, pupuk dan air. Penelitian menunjukkan

kompetisi dengan gulma menurunkan produktivitas ubi kayu hingga 7,5 % (Roja, 2009).

Tanaman ubi kayu memerlukan pupuk dalam penanaman, karena unsur hara yang diserap oleh ubi kayu per satuan waktu dan luas lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan yang berproduktivitas tinggi. Berikut adalah dosis pupuk yang berimbang untuk budi daya ubi kayu :

- Pupuk Organik : 5 – 10 ton/ha setiap musim tanam - Urea : 150 – 200 kg/ha

- SP36 : 100 kg/ha

- KCl : 100 – 150 kg/ha

Tehnik pemberian dosis pupuk untuk tanaman ubi kayu adalah, pupuk organik + 1/3 Urea + 1/3 KCl diberikan sebagai pupuk dasar pada saat pembuatan guludan. Lalu sisa dosis diberikan pada bulan ketiga atau keempat (BIP Irian Jaya, 1995; Roja, 2009).

Penyakit utama tanaman ubi kayu adalah bakteri layu (Xanthomonas campestris pv. manihotis) dan hawar daun (Cassava Bacterial Blight/CBB) (BIP Irian Jaya, 1995). Kerugian hasil akibat CBB diperkirakan sebesar 8 % untuk varietas yang agak tahan, dan mencapai 50 – 90 % untuk varietas yang agak rentan dan rentan. Varetas Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5 tahan terhadap kedua penyakit ini.

Hama utama ubi kayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae) (BIP Irian Jaya, 1995; Roja. 2009). Hama ini menyerang hanya pada musim kemarau dan menyebabkan rontoknya daun, tetapi petani hanya menganggap keadaan tersebut sebagai akibat kekeringan. Penelitian menunjukkan penurunan hasil akibat serangan hami ini dapat mencapai 20 – 53 %, tergantung umur tanaman dan lama serangan. Bahkan berdasarkan penelitian di rumah kaca, serangan tungau merah yang parah dapat mengakibatkan kehilangan hasil ubi kayu hingga 95 %. Tungau dapat menyebabkan kerusakan tanaman ubi kayu dengan cara mengurangi luas areal fotosintesis dan akhirnya mengakibatkan penurunan hasil panen ubi kayu. Kerusakan tanaman dapat diperparah oleh kondisi musim kering, kondisi tanaman stress air, dan kesuburan tanah yang rendah.

Pengendalian tungau merah sebaiknya dilakukan dengan menanam ubi kayu pada awal musim hujan untuk mencegah terjadinya serangan tungau, dengan tenggang waktu maksimum 2 bulan. Jika terlambat ditanam, peluang terjadinya serangan lebih lama sehingga kehilangan hasil yang ditimbulkan semakin tinggi. Namun cara yang paling praktis, stabil dan ekonomis adalah dengan menanam varietas yang tahan tungau. Varietas Adira-4 dan Malang-6 cukup tahan tungau, sedangkan UJ-5 dan UJ-3 peka tungau. Sebaiknya UJ-3 dan UJ-5 ditanam di daerah-daerah yang mempunyai bulan basah cukup panjang (seperti Lampung) sehingga serangan tungau yang dialami tidak berat. UJ-3 dan UJ-5 kurang bagus ditanam di daerah yang mempunyai musim kering relatif panjang (Wargiono at al., 2006).

Panen Ubi Kayu

Hasil panen bervariasi tergantung dari beberapa faktor seperti kultivar yang digunakan, cara budidaya, tingkat kesuburan, jenis tanah, jarak tanam, dan iklim (Onwueme, 1978). Kriteria utama umur panen ubi kayu fleksibel. Ubi kayu dapat dipanen pada saat tanaman berumur 7 - 9 bulan dimana kadar pati dalam keadaan optimal (Prihandana et al., 2008). Ciri tanaman yang sudah bisa dipanen yaitu saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok (BPP IPTEK, 2000).

Penundaan umur panen hanya dapat dilakukan di daerah beriklim basah dan tidak sesuai di daerah beriklim kering. Di daerah beriklim basah, pemanenan ubi kayu dapat ditunda sampai dengan 12 bulan, karena kadar pati cenderung stabil pada umur 7 - 9 bulan (Prihandana et al., 2008). Hal ini disebabkan bobot hasil panen ubi kayu tidak tergantung pada berapa umur tanaman, tapi lebih tergantung pada berapa bulan pertumbuhan yang vigor berlangsung (Onwueme, 1978).

Panen ubi kayu dilakukan secara manual dengan cara mencabut. Jika dalam mencabut tersebut dirasakan susah, maka sebelumnya tanah disekitar batang ubi kayu sebagian terlebih dahulu digali dengan cangkul, baru setelah itu batang dicabut sampai umbinya terangkat semuanya. Ubi kayu yang tertinggal, karena patah/putus pada waktu pencabutan, maka sisa umbi tadi diambil dengan

digali dengan cangkul. Cara lain yaitu dengan menggunakan tali/tambang yang dililitkan pada batang, lalu diungkit (Bank Indonesia, 2004 ; Sutrisno, 2007 ).

Pasca Panen Ubi Kayu

Penanganan pasca panen pada ubi kayu merupakan kegiatan yang sangat penting dalam usaha ubi kayu. Hal ini disebabkan ubi kayu memiliki daya simpan yang pendek, sementara kebutuhan sangat mendesak.

Pada kegiatan pasca panen, hasil panen sebaiknya dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. Setelah itu perlu dilakukan pemilahan dan penyortiran. Pemilihan atau penyortiran umbi ubi kayu sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi kayu dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi. Penyimpanan dapat dilakukan dengan cara menyimpan di dalam tanah yang diberi alas dan penutup dari jerami atau daun-daun (BPP IPTEK, 2000).

Pengemasan umbi ubi kayu bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar (BPP IPTEK, 2000).

Penyimpanan ubi kayu jarang dilakukan dalam bentuk segar. Susut selama penyimpanan cukup tinggi terutama disebabkan oleh jamur dan serangga (Tengah, 1996). Masalah utama yang dihadapi petani ubi kayu adalah kepoyongan, yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan warna ubi kayu setelah panen. Pada awal busuk ubi kayu akan berwarna biru dan lama kelamaan akan berubah menjadi warna kecoklatan atau coklat kehitaman (Both and Wholley, 1978). Salah satu penyebab reaksi pencoklatan ini di duga karena aktivitas enzim fenolase (Winarno, 1980). Selama penyimpanan metabolisme dalam umbi ubi kayu masih berlangsung terus sehingga perombakan karbohiadrat/pati menjadi senyawa gula yang lebih sederhana tetap berlangsung. Hal ini mengakibatkan selama penyimpanan, rendemen pati ubi kayu menurun. (Tengah at al., 1996).

Batang ubi kayu setelah panen sebagian disiapkan sebagai bibit untuk penanaman selanjutnya, sedangkan batang ubi kayu yang tidak dijadikan bibit, hendaknya dipotong- potong/dicincang untuk dikembalikan lagi ke dalam tanah/ dibenamkan agar lapuk dan terurai menjadi hara tanah dan memperbaiki struktur tanah, sehingga kesuburan tanah relatif dapat dipertahankan. Karena ubi kayu diambil hasilnya yang berupa umbi, maka dengan dicabutnya umbi tidak ada bagian tanaman yang berupa bahan organik tertinggal di dalam tanah. Oleh karena itu sangat dianjurkan diadakannya upaya mengembalikan sisa-sisa tanaman yang ada ke dalam tanah dengan terlebih dahulu dicacah. Upaya lain dengan menghentikan kegiatan tanam setelah lahan dipergunakan untuk tanaman ubi kayu lebih dari dua kali, lahan bisa ditanami dengan tanaman kacang-kacangan atau diberakan untuk memulihkan kesuburannya (Bank Indonesia, 2009).

Produksi dan Produktivitas Ubi Kayu

Indonesia termasuk sebagai negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga (13 300 000 ton) setelah Brazil (25 554 000 ton), dan Thailand (13 500 000 ton), disusul negara-negara seperti Nigeria (11 000 000 ton), dan India (6 500 000 ton) dari total produksi dunia sebesar 122 134 000 ton/tahun (Bigcassava, 2007).

Peningkatan produksi ubi kayu tahun 2005 – 2011 mencapai 4.42 %, sedangkan sasaran indikatif produksi dan produktivitas ubi kayu pada tahun 2011 pada setiap wilayah tertera pada Tabel 1. Dimana sasaran rata-rata produktivitas Indonesia adalah 185 ku/ha dengan luasan 1 264 900 ha.

Pemanfaatan Ubi Kayu

Ubi kayu merupakan bahan makanan penting di Indonesia setelah padi dan jagung. Lebih kurang 60 % dari produksi ubi kayu di Indonesia digunakan sebagai bahan makanan, sedangkan 32 % digunakan sebagai bahan industri dalam negeri, dan 8 % diekspor dalam bentuk gaplek. Dibidang industri, ubi kayu menghasilkan bioethanol, yang dapat dijadikan bahan bakar nabati karena ramah lingkungan. Ubi kayu merupakan tanaman pangan dan perdagangan (cash crop). Sebagai tanaman perdagangan, ubi kayu menghasilkan starch, gaplek, tepung ubi kayu,

(Depperin, 2007). Ubi kayu dapat menghidupi berbagai industri hulu dan hilir. Skema pohon industri ubi kayu dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Sasaran Indikatif Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Per Provinsi Tahun 2011

No Provinsi Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Produktivitas (ku/ha) Produksi (ton) 1 N. Aceh 3 954 3 765 128 48 256 2 Sumatera Utara 44 029 41 934 202 845 105 3 Sumatera Barat 5 877 5 597 202 112 803 4 Riau 6 411 6 106 114 69 417 5 Jambi 2 992 2 850 141 40 052 6 Sumatera Selatan 14 158 13 484 156 210 440 7 Bengkulu 7 480 7 124 121 86 141 8 Lampung 338 729 322 610 248 7 987 217 9 Bangka Belitung 1 923 1 832 146 26 694 10 Kepulauan Riau 1 282 1 221 110 13 379 Sumatera 426 836 406 524 232 9 439 504 11 D.K.I. Jakarta 53 51 120 610 12 Jawa Barat 119 677 113 982 192 2 185 809 13 Jawa Tengah 205 161 195 398 181 3 527 670 14 D.I. Yogyakarta 68 387 65 133 155 1 009 709 15 Jawa Timur 243 628 232 035 165 3 830 583 16 Banten 12 823 12 212 145 176 699 Jawa 649 729 618 810 173 10 731 079 17 Bali 12 609 12 009 151 181 201

18 Nusa Tenggara Barat 9 083 8 650 124 107 282

19 Nusa Tenggara Timur 90 826 86 504 110 947 654

Bali dan NT 112 518 107 163 115 1 236 136 20 Kalimatan Barat 17 417 16 588 149 246 874 21 Kalimatan Tengah 9 296 8 854 121 107 061 22 Kalimantan Selatan 9 189 8 752 151 132 061 23 Kalimantan Timur 8 548 8 142 159 129 579 Kalimantan 44 451 42 336 145 615 575 24 Sulawesi Utara 6 625 6 310 134 84 773 25 Sulawesi Tengah 4 808 4 580 166 76 201 26 Sulawesi Selatan 32 270 30 734 175 536 807 27 Sulawesi Tenggara 14 319 13 637 171 232 549 28 Sulawesi Barat 4 488 4 274 145 61 845 29 Gorontalo 1 603 1 527 124 18 932 Sulawesi 64 113 61 062 166 1 011 108 30 Maluku 11 754 11 195 132 148 091 31 Maluku Utara 11 754 11 195 125 139 992 32 Papua Barat 2 671 2544 117 29 713 33 Papua 4 274 4 071 120 48 803

Maluku dan Papua 30 454 29 004 126 366 598

Gambar 1. Pohon Industri Ubi Kayu Sumber: Depperin.go.id

Tapioka

Ubi Kayu yang digunakana sebagai bahan baku tapioka adalalah ubi kayu yang dipanen setelah berumur 7 sampai 10 bulan. Ubi kayu yang dipanen pada umur 7 - 10 bulan akan menghasilkan tapioka berkualitas baik (Bank Indonesia, 2004). Selain itu, varietas ubi kayu yang dikembangkan untuk industri tapioka biasanya memiliki kadar HCN (asam sianida) yang tinggi (Hafsah, 2003). Pada Lampiran 1 ditunjukkan kadar HCN beberapa jenis ubi kayu yang telah dilepas di Indonesia. UBI BATANG DAUN BIJI UMBI KULIT DAGING BIBIT PAPAN KERAJINAN BRIKET ARANG MAKANAN FARMASI PAKAN MINYAK PAKAN TAPIOKA GAPLEK TEPUNG UBI KAYU ONGGOK MAKANAN RINGAN TAPIOKA DEKSTRIN MALTOSA BAHAN MAKANAN PELLET BAHAN MAKANAN PAKAN ASAM/Ca GLUKOSA FRUKTOSA ALKOHOL ASAM SORBITOL SENYAWA PAKAN PEREKAT

Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa faktor (Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2009) yaitu :

1. Tepung; tepung tapioka yang baik berwarna putih.

2. Kandungan air; tepung harus dijemur sampai kering benar sehingga kandungan air nya rendah. Tepung tapioka yang dihasilkan sebaiknya mengandung kadar air 15 – 19 %.

3. Banyaknya serat dan kotoran; ubi kayu yang digunakan harus yang berumur kurang dari 1 tahun karena serat dan zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih tinggi.

4. Tingkat kekentalan; daya rekat tapioka diusahakan tetap tinggi dengan menghindari penggunaan air yang berlebih dalam proses produksi.

Adapun cara pembuatan tepung tapioka adalah sebagai berikut:

1. Pengupasan; pengupasan dilakukan dengan cara manual, bertujuan untuk memisahkan daging ubi kayu dari kulitnya. Selama pengupasan, sortasi juga dilakukan untuk memilih ubi kayu berkualitas tinggi dari ubi kayu lainnya. Ubi kayu yang kualitasnya rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan pakan ternak.

2. Pencucian; pencucian dilakukan dengan cara manual yaitu dengan meremas-remas ubi kayu di dalam bak yang berisi air, yang bertujuan memisahkan kotoran pada ubi kayu.

3. Pemarutan; parut yang digunakan ada dua jenis yaitu :

a. Parut manual, dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia sepenuhnya.

b. Parut semi mekanis, digerakkan dengan generator.

4. Pemerasan/ekstraksi; pemerasan dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Pemerasan bubur ubi kayu yang dilakukan dengan cara manual menggunakan kain saring, kemudian diremas dengan menambahkan air di mana cairan yang diperoleh adalah pati yang ditampung di dalam ember.

b. Pemerasan bubur ubi kayu dengan saringan goyang (sintrik). Bubur ubi kayu diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. Pada saat saringan tersebut bergoyang, kemudian ditambahkan air

melalui pipa berlubang. Pati yang dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan.

5. Pengendapan; pati hasil ekstraksi diendapkan dalam bak pengendapan selama 4 jam. Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan dikeringkan.

6. Pengeringan; sistem pengeringan menggunakan sinar matahari dilakukan dengan cara menjemur tapioka dalam nampan atau widig atau tambir yang diletakkan di atas rak-rak bambu selama 1 - 2 hari (tergantung dari cuaca). Dengan kualitas bahan baku yang baik, 1 ton ubi kayu dapat menghasilkan 200 - 250 kg tapioka. (Direktorat Budidaya Kacang‐kacangan dan Umbi‐umbian, 2007).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ubi kayu merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki peranan cukup penting. Ubi kayu tidak hanya sebagai sumber bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri, etanol, dan pakan temak (Kasim, 2009; Puspitasari, 2009; Costa, 2010).

Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak dan akan membusuk dalam 2 - 5 hari (Barrett dan Damardjati, 1984). Selain daya simpan yang singkat, susut saat panen dan pasca panen yang tinggi menjadi masalah. Diperkirakan susut pada saat panen ubi kayu sebesar 7 % dan susut pasca panen lebih dari 24 % . Susut yang terjadi pada ubi kayu dapat disebabkan oleh faktor fisik, fisiologis, hama dan penyakit. Susut fisik dapat terjadi akibat kerusakan mekanis selama pemanenan dan penanganan, dan akibat perubahan suhu. Susut fisiologis terutama disebabkan oleh air, enzim dan respirasi. Sedangkan faktor hama dan penyakit mencakup mikro-organisme (jamur, bakteri, dan virus), insek, tikus, dan hama (Barret dan Damardjati, 1984). Sistem panen juga menjadi masalah, dimana kadang terdapat ubi kayu yang sangat melimpah di pasaran dan kadang kebutuhan tidak tercukupi.

Kebutuhan ubi kayu setiap tahun selalu meningkat, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Pada tahun 2004 sampai 2006 ekspor ubi kayu Indonesian semakin meningkat dari 53 304 ton menjadi 139 096 ton

Dokumen terkait